Kampung Berseri Astra Baktijaya, Depok: Berbakti pada Diri, Negeri dan Bumi sebagai Ikon Wisata Hijau dan Kampung Layak Anak Kota Depok

Seorang perempuan tengah menyapu sampah dedaunan kering di Jl. Samintem III atau yang lebih dikenal sebagai Gang Toga/Gang Hijau di Kampung Berseri Astra, RW 16 kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, kota Depok, Jawa barat


"The greatness of a community is most accurately 
measured by compassionate actions of its members."
-Coretta Scott King-


Langit perlahan berubah gelap dan awan kelabu setia menggantung, seolah mengabarkan bahwa hujan deras akan segera turun. Burung-burung beterbangan di udara, seakan bermain-main dengan gembira. Angin bertiup lumayan kencang dan aku harap-harap cemas, agar hujan tidak turun sebelum misi selesai. Bagaimanapun juga Aku sudah mandi, berpakaian rapi, berdandan cantik dan baru saja memesan ojek online untuk mengantarkan Aku ke tempat tujuan sejauh 4 km dari tempat tinggalku. Pada hari yang baik ini, Aku hendak menutup tahun 2019 dengan pengalaman indah dan penuh inspirasi, agar seluruh diriku memasuki tahun yang baru dengan suka cita. 

Tak lama kemudian, Abang driver ojek online tiba dan kami segera meluncur ke lokasi dengan gerimis tipis memupuri. Karena tampaknya driver ojek online ini tidak tahu lokasi, dia berkali-kali bertanya di mana alamat tepatnya Kelurahan Baktijaya itu. Lha, aku juga nggak tahu. Aku kan kesana karena ingin tahu seperti apa sih kampung yang mendapat penghargaan sebagai Kampung Berseri Astra sejak 2015 tersebut. Gerimis nan romantis mulai berubah menjadi gerimis deras dan nyaris hujan deras dan misiku bisa batal. Untungnya, lokasi yang kutuju tidak terlalu jauh. Maka sampailah aku di RW 16 Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya, kota Depok disambut gerimis. Tak jauh dari gerbang masuk kampung yang bertuliskan keterangan sebagai Kampung Berseri Astra, ada seorang lelaki paruh baya sedang duduk, sepertinya seorang juru lalu lintas kampung ini. Beliau melambaikan tangan memanggilku.

Selfie dulu berlatar belakang gerbang masuk KBA Baktijaya, Depok
"Sini, Mbak," lelaki itu melambaikan tangan. Hah, aku bakal dimarahi ya?
"Ya, Pak? Ada apa?" tanyaku.
"Mbak ke Gang Hijau saja. Ada pohon anggur. Banyak. Buahnya lebat juga," kata lelaki tersebut dengan wajah gembira, seakan-akan mengabarkan sesuatu yang paling berharga di tempat tinggalnya.
"Oh gitu ya, Pak. Di sebelah mana itu ya, Pak?" tanyaku lebih lanjut.
"Nanti Mbak kan jalan lurus trus ke kiri, ada lukisan besar di dinding, jalan terus ketemu Bank Sampah. Nah, didepan situ gang hijau yang banyak pohon anggurnya," katanya. 
"Anggurnya manis nggak, Pak?" tanyaku lagi.
"Kalau masih muda ya asam, Mbak," pungkasnya dengan senyum kocak.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada lelaki baik hati itu karena memberitahuku tentang sesuatu yang mungkin dibanggakan warga kampung ini, aku kembali berkeliling. 

Nah, saat sedang asyik berkeliling hujan turun dan aku harus legowo menunggu hujan reda di teras rumah warga. Sembari menunggu hujan, kuperhatikan sekeliling perumahan yang bersih dan hijau ini, dengan sejumlah tanda kalau aku benar-benar telah berada di Kampung Berseri Astra Baktijaya. Tak lama hujan reda seakan yang barusan jatuh ke bumi hanyalah canda segala yang menggantung di langit. Lalu aku kembali berkeliling. Nyaris tidak ada orang di luar karena suasana yang dingin. Saat berkeliling dan menikmati suasana hijau dan segar, aku bertemu dua orang perempuan yang sedang mengobrol di halaman depan rumah yang hijau dan asri. Aku memasuki halaman dengan sopan. Dengan senang hati keduanya menyambutku dan menerimaku dengan baik. Bahkan sang tuan rumah memberiku minuman gelas, karena mungkin mereka tahu bahwa aku kehausan meski suasana dingin setelah hujan, dengan angin semilir lembut. 

"Minum dulu, Neng," katanya memberiku minuman dan mempersilakanku duduk. 
"Saya Ika, Bu. Saya penulis dan tertarik belajar tentang Kampung Berseri Astra Baktijaya ini," kataku memperkenalkan diri. 
"Oh gitu," kata salah seorang perempuan berambut pendek sembari melipat jilbabnya. 
"Kalau ingin bertanya tentang kampung ini harus menemui siapa ya Bu?" tanyaku lagi. 
"Wah itu mah ke Pak RW lah, Pak Sumarno. Kan beliau yang tahu semua urusan warga RW 16 sini, apalagi soal Kampung Berseri Astra, beliau yang mengurus semua."
"Oh gitu, Bu. Maaf boleh dikasih tahu rumah Pak RW kira-kira yang mana ya, Bu," kataku lagi, meminta petunjuk. Soalnya nggak enak mengganggu aktivitas mengobrol mereka kalau aku meminta diantarkan ke rumah Pak RW.
"Ditelepon dulu Pak RWnya, ada nggak dia di rumah," saran perempuan lainnya, yang memakai daster warna merah muda dengan jilbab senada, yang duduk santai tak jauh dari jajaran pot bunga yang subur dan indah. 
"Halo, Pak. Ini ada tamu katanya mau tanya-tanya tentang kampung Astra kita," kata sang perempuan sembari mendekatkan ponselnya ke kuping kanan, berdiri di dekat pintu rumahnya. Aku menunggu dengan was-was, kalau-kalau Pak RW nggak bisa ditemui. Tak lama perempuan itu memberikan ponselnya kepadaku agar aku bicara langsung dengan Pak RW.
"Halo, Pak, selamat siang. Saya Ika, Pak. Saya penulis dan ingin mengobrol dengan bapak tentang RW 16 Baktijaya sebagai Kampung Berseri Astra ini. Apakah Bapak ada waktu?" tanyaku kepada Pak RW yang mendengarkan. 
"Wah maaf Mbak, saya lagi ada urusan. Begini saja, Mbak temui Ibu Dwi Hastuti saja. Beliau itu ketua PKK RW 16 dan aktif juga mengurus kampung Astra ini," kata Pak RW. 
"Oh, begitu ya Pak. Terima kasih atas informasinya ya, Pak. Selamat sore." 
"Gimana Mbak?" tanya perempuan pemilik rumah. 
"Kata Pak RW saya sebaiknya menemui Ibu Dwi Hastuti ketua PKK RW 16. Rumah Ibu Dwi dimana ya, Bu?" tanyaku sembari was-was karena langit semakin gelap pertanda hujan deras akan menyerang. 
"Dari sini Mbak keluar gang, terus belok kanan, nanti ada jalan disamping warung, ada tulisan 'Jalur Evakuasi' kalau nggak salah ya. Terus aja jalan sampai ketemu gang Samintem III atau Gang Toga. Gang paling bagus didepan Bank Sampah. Disitu rumah Ibu Dwi disitu," katanya memberi petunjuk. 

Setelah berpamitan, aku menyempatkan waktu memotret sejumlah hal menarik, sementara kedua perempuan yang tadi kutemui melanjutkan obrolan mereka entah tentang apa. Aku sedang menikmati perasaanku sendiri yang mengagumi kampung ini yang memang sangat bersih, rapi, hijau dan sejuk saat suara gemuruh datang dari suatu tempat. Aku menengok ke belakang dan hujan sedang berlari mengejarku. Maka aku berlari sekencang mungkin mencari tempat berteduh meski gagal mencapai rumah Ibu Dwi Hastuti. Saat berteduh itulah aku memperhatikan selokan yang nampak bersih dan air yang mengalir sungguh bening. Saat kuperhatikan dengan seksama, ternyata selokan tersebut terbuat dari ketamik putih sehingga tidak ada tanah atau lumut arau kotoran lain yang mengendap. Semua terbawa aliran air. 


Hujan reda dan aku melanjutkan perjalanan menuju rumah Ibu Dwi Hastuti. Di perjalanan aku menyaksikan sejumlah dinding rumah yang dihiasi lukisan besar dah, sebagai pesan untuk menjaga bumi. Aku juga bertemu dengan seorang ibu yang sedang memperhatikan dua pekerja mengurus gerendel pagar rumahnya yang macet. Lalu aku melewati area Bank Sampah yang kebetulan sepi. Tapi di halaman Bang Sampah tampak puluhan (atau mungkin ratusan) polybag hitam berisi tanaman jahe merah. Setelah puas melihat-lihat lokasi Bank Sampah, aku menuju Gang Toga yang dari jauh saja terlihat sangat hijau dan rimbun, yang kuakui sebagai wilayah paling hijau di RW 16 Baktijaya ini. Di sini pula aku bertemu dengan Ibu Dwi Hastuti yang sedang melihat-lihat tanaman kelor dan bayam. Langsung saja aku merapat menuju Ibu Hastuti dan memperkenalkan diriku dan tujuanku berkunjung ke RW 16 Baktijaya, khususnya gang toga. Dengan senyum manis dan sikap ramah, Ibu Dwi Hastuti menyambutku dan memperkenalkan dirinya sebagai Ketua PKK RW 16 sekaligus sebagai warga yang aktif dalam pengembangan KBA Baktijaya. Setelah menjelaskan fungsi daun kelor bagi kesehatan dan pangan keluarga, Ibu Dwi Hastuti mengajakku semakin ke dalam, memasuki wilayah yang nyaman. 

Salah satu penampilan toga di RW 16 KBA Baktijaya, Depok

Di seantero RW 16 ini kulihat banyak sekali tong biru dan besar yang merupakan penampung air hujan, juta tong biru kecil untuk tempat sampah, dan ember entah untuk apa. Ibu Dwi Hastuti kemudian membawaku menuju sebuah kanopi dari besi yang dirambati tanaman anggur yang tengah berbuah lebat. Di bawah kanopi tersebut ada sebuah bangku panjang dari kayu yang dicat hijau, serta beberapa tong warna biru berbeda ukuran. Ibu Dwi Hastuti menjelaskan bahwa tong yang besar merupakan tempat penampungan air hujan, yang airnya bisa digunakan warga untuk mencuci motor atau menyiram tanaman. Ada juga ting biru kecil digunakan untuk menampung air cucian beras yang digunakan untuk menyiram tanaman.  
Tong penampungan air hujan (besar) dan penampung air cucian beras (kecil) di Gang Toga, RW 16 KBA Baktijaya

"Kalau air cucian beras ini hanya bisa bertahan 6 jam saja dalam tong. Kalau lebih dari 6 jam dia jadi bau. Air cucian beras ini digunakan untuk menyirami tanaman di sekitar sini," katanya dengan luas dan jelas. Kemudian Ibu Dwi Hastuti membawaku ke teras rumahnya. 
"Nah, ini ada komposter cair. Gunanya untuk menyiram tanaman juga. Ada juga komposter kering, lalu wadah untuk sampah anorganik dan ada ember khusus untuk sampah dapur/makanan," katanya lagi dan aku manggut-manggut. 

RW HIJAU 16 SEBAGAI IKON WISATA DAN RW LAYAK ANAK KOTA DEPOK
Menurut ibu Dwi Hastuti, pada tahun 1980an wilayah Baktijaya ini termasuk gersang. Ia yang berprofesi sebagai guru SD di Jakarta merasa kebetulan saja bisa membangun rumah di Depok, yang saat itu masih belum tertata pembangunannya. Seiring waktu kota Depok semakin padat dan sesak oleh perumahan warga, sampai-sampai tak ada ruang hijau untuk ruang bermain atau sekedar mengembangkan hobi bercocok tanam. Sebagai seorang yang senang bercocok tanam, Dwi Hastuti telah lama berusaha menghijaukan wilayah tempat tinggalnya. Namun, tanpa kerjasama dengan tetangganya mana mungkin semua bisa terwujud. Karena sekeras apapun orang-orang baik berusaha memuliakan lingkungan tempat tinggalnya, tanpa kerjasama dengan orang lain semua usaha mustahil berhasil.  
Ibu Dwi Hastuti bersama sejumlah anak bersantai sore di bawah kanopi anggur

Berbagai usaha telah dilakukan untuk membuat RW 16 Baktijaya semakin hijau seperti dengan penanaman tanaman obat-obatan dan sayuran, juga bunga-bunga di halaman rumah, serta memilah sampah agar sampah tidak berceceran dan mengotori lingkungan. Meski pelan, kerjasama antar warga mulai terbangun, terutama jika kerjasama dilakukan dalam mengincar juara pada lomba kebersihan yang diselenggarakan pemerintah kota Depok. Pada 2010 misalnya, RW 16 berhasil unjuk gigi dengan meraih Juara II Lomba RW Hijau tingkat Kota Depok, Juara I Lomba RW Hijau teduh tingkat Kota Depok pada 2011, serta mewakili kota Depok dalam penilaian Adipura, Kota Sehat dan Kampung Iklim.

Bersama anak-anak di Gang Toga. Foto: Ibu Dwi 
Mimpi warga seperti Ibu Dwi Hastuti untuk menjadikan kampungnya sebagai kampung hijau mendapat angin segar ketika pada 2014 menjalin kerjasama dengan PT. Astra International tbk melalui skema Kampung Berseri Astra (KBA). RW 16 dengan luas 4.25 ha yang terdiri dari 10 RT dan dihuni oleh 538 Kepala Keluarga (KK) ini akhirnya bersama-sama aktif mengurus kampung. Terlebih, karena skema KBA ini komprehensif, warga semakin antusias karena selain difasilitasi berbagai pelatihan, pendidikan, hingga pasar murah, juga ada program beasiswa bagi 33 anak setiap tahunnya dari level SD sampai SMU/SMK. Program ini tentu saja sangat menguntungkan bagi warga. 

"Astra ini kan ada beasiswa juga untuk anak-anak dari KBA, karena kan KBA ini ada empat pilar selain lingkungan, juga ada pendidikan, kewirausahaan dan kesehatan. Kita berusaha mencapai semua itu. Saya yang mengurusi. Setiap tahun kita punya jatah 33 anak dari SD-SMU/SMK. Nah, kalau ada lulusan SMU/SMK yang keterima PTN, langsung kita urus untuk mendapat beasiswa," ucapnya sembari bercengkerama dengan sejumlah anak yang sebelumnya sempat bermain-main denganku, dan kami sempat belajar fotografi juga.  

Melihat cara Ibu Dwi Hastuti bercerita, rasanya program KBA ini memang memberikan harapan dan semangat baru pada warga RW 16 Baktijaya, sehingga mereka pun menjadi sangat giat untuk membuktikan bahwa mereka warga yang bersedia dididik, diberdayakan dan menerima pengetahuan baru dari banyak pihak. Bahkan Ibu Dwi menjelaskan bahwa banyak sekali pihak yang membantu warga kampung ini berbenah diri, termasuk para mahasiwa dari Universitas Indonesia. 

Ibu Dwi Hastuti juga menyatakan bahwa tahun 2019 ini pihak RW 16 sudah mengajukan kepada Pemerintah Kota Depok agar Gang Toga dinobatkan sebagai Gang Layak Anak. Menurutnya, sangat pantas jika kerja kolaborasi warga selama ini membuahkan hasil bahkan sebagai tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk bermain. Gang Toga menurut ibu Hastuti terbilang sehat, bersih dan nyaman sehingga anak-anak memiliki ruang bermain meski tinggal di kota yang padat dan penuh polusi. Memang sih, selama kunjunganku sempat kulihat sejumlah anak hilir mudik mengendarai sepeda, kemudian asyik tertawa-tawa dengan sesamanya, mencuci tangan, atau berlari-lari gembira saat mengantarkan dagangan ibunya menuju rumah tetangga. Melihat itu semua aku tersenyum bahagia dan membenarkan sebutan publik atas kampung ini sebagai oase di tengah padatnya kota Depok dari tahun ke tahun. 

Oleh-oleh daun kelor. Foto: Pak RT
Sore hari saat udara mulai menghangat, banyak warga mulai bersantai di luar rumah dan sejumlah ibu membawa serta bayi mereka ke luar untuk menikmati udara sejuk selepas hujan. Ada seorang ibu keluar rumah dan membawa sapu lidi, kemudian menyapu dedaunan yang berguguran kemudian membawanya ke ember khusus untuk menampung sampah organik. Sejumlah anak mulai membawa sepedanya keluar dan bercengkerama dengan sesamanya mengenai ban sepeda. Seorang ibu asyik berjualan dan berkolaborasi dengan anak perempuannya untuk mengantarkan dagangannya ke tetangga yang memesan. Sementara ibu Ibu Dwi dan suaminya membawaku ke ujung gang, lalu ke luar dan ke kebun untuk memanen daun kelor. Suami Ibu Dwi Hastuti menebas satu bagian dahan daun pohon kelor yang telah menjulang tinggi, kemudian memotong-motong rantingnya dan menyerahkannya kepadaku. Kami kemudian berjalan kembali ke rumah Ibu Dwi dan sesekali menyapa warga yang sedang bersantai. Ibu Dwi memberiku kantong dari kain untuk wadah setumpuk daun kelor yang jadi buah tangan kunjunganku ke KBA Baktijaya, Depok. Selain membawa pulang ilmu, kebahagiaan, kegembiraan, pengetahuan dan semangat baru, aku pun membawa serta salah satu bahan pangan paling bergizi yang kini dikembangkan di berbagai belahan dunia untuk mengatasi masalah gizi dan kelangkaan pangan. 

***

Pembacaku yang baik, sebenarnya aku merasa waktu bercengkerama dengan warga RW 16 Baktijaya sebagai Kampung Berseri Astra di kota Depok belumlah cukup memberiku pembelajaran berharga tentang upaya merawat kehidupan. Namun, waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, langit kembali gelap dan gerimis mulai turun sat-satu, seakan menjadi pertanda bahwa kau harus pulang. Aku pun berpamitan dengan Ibu Dwi Hastuti dan suami beliau, dengan sejumlah warga yang sedang bersantai, dan sejumlah anak kecil yang sempat bermain-main denganku. Oh ya, karena aku belum pernah mengonsumsi daun kelor, maka Ibu Dwi Hastuti memberiku oleh-oleh sekantong daun kelor yang baru saja dipetik suaminya. Aku berterima kasih atas kebaikan mereka semua dan berharap bisa kembali ke kampung ini untuk belajar tentang merawat kehidupan dengan gembira dan sepenuh hati sebagaimana merawat diri sendiri. 

Langit gelap dan udara dingin. Jalanan macet. Aku kembali memesan ojek online untuk mengantarkanku kembali ke tempat tinggalku. Berhubung aku sudah sangat kelaparan, maka aku mampir ke warung padang dan membeli menu rendang. Kupikir akan sangat enak sore-sore setelah mandi menikmati nasi padang dengan rendang dan lalapan rebusan daun kelor. Oke, soal lalapan daun kelor ini sebenarnya ide yang muncul tiba-tiba saat membonceng ojek online. Karena setahuku orang-orang biasanya memasak daun kelor untuk sayur bening, lodeh atau campuran telur dadar. Kupikir, lalapan rebusan daun kelor tidak memerlukan banyak waktu dan aku bisa segera makan sebelum istirahat. 
Nah ini dia menu makan malamku sepulang dari Kampung Berseri Astra Baktijaya. Nasi Padang lauk rendang dengan lalapan rebusan pucuk daun kelor, oleh-oleh dari Ibu Dwi Hastuti. Enak lho. 

Jadi, daun kelor ini kan baunya khas dan tulang daunnya lumayan keras sehingga si daun harus dipisahkan dari tangkainya sebelum diolah menjadi sayur. Namun, aku punya segenggam pucuk kelor yang batangnya saja masih muda dan renyah. Maka bagian itu yang kurebus hanya 2 menit di air mendidih. Hasilnya? Ya enak dong. Apalagi dipadu padankan dengan nasi padang + rendang. Daun kelor itu rasanya netral dan tidak pahit sehingga sangat pas dijadikan lalapan, apalagi kalau ada cocolan sambal bawang atau terasi, makin mantap. Hm, nampaknya ini bisa dijadikan rekomendasi lalapan lho karena kelor ini dinyatakan sebagai superfood. Bagaimana, apakah pembaca mau mencobanya juga? 

TENTANG PROGRAM KAMPUNG BERSERI ASTRA
Nah, karena tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2019, maka kukira aku juga hendak membagi cerita tentang program Kampung Berseri Astra (KBA) kepada pembacaku yang baik. Kunjunganku ke KBA Baktijaya Depok saja sudah memberiku pembelajaran yang sangat berharga tentang merawat kehidupan, apatah lagi jika aku memiliki kesempatan berkunjung dan belajar ke lebih banyak di ratusan KBA lainnya di seluruh Indonesia. 

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program sosial berkelanjutan dari PT. Astra International tbk beserta sejumlah anak perusahaan. Program ini bertujuan untuk mengimplementasikan konsep pembangunan masyarakat melalui empat pilar, yaitu pendidikan, kewirusahaan, lingkungan dan kesehatan. Sejak 2013, Astra telah mengembangkan 370 KBA di 100 kabupaten di seluruh Indonesia menuju Desa Sejahtera. Hingga saat ini, mitra binaan Astra melalui program KBA ini mencakup 76 desa di daerah 3T, 49 desa di wilayah pesantren, 16 desa di wilayah pemenang Satu Indonesia Awards dan 159 desa di wilayah operasional Grup Astra dan yayasan. Desa-desa tersebut terbagi menjadi: 233 desa fokus pada pertanian dan peternakan; 76 desa bidang perikanan; 34 desa di sektor kreatif; dan 27 desa di sektor jasa dan wisata. Nah, agar desa-desa tersebut menjadi Desa Sejahtera secara berkelanjutkan, maka mereka mendapatkan pembinaan dan penguatan kapasitas di bidang pendidikan, lingkungan dan kesehatan, dalam skema Kampung Berseri Astra. 
Sebarang program CSR Astra, termasuk Kampung Berseri Astra per 2017

Tahun 2019 ini Astra sedang dalam proses penandatanganan kerjasama dengan 275 desa yang akan menjadi binaan baru program KBA, sehingga keseluruhan KBA akan menjadi 645 desa yang tersebar di 125 kabupaten. Sebagai bagian dari usaha tersebut, Astra juga menandatangani perjanjian kerjasama dengan 53 kabupaten, 9 perguruan tinggi, 9 perusahaan rintisan digital, 9 komunitas dan 9 pesantren. Kolaborasi Astra dengan berbagai pihak ini dimaksudkan sebagai kerja bersama dalam memberikan pendampingan, pendidikan, pelatihan, penguatan kelembagaan serta bantuan sarana dan prasarana akses pasar desa binaan Astra melalui skema KBA. Kolaborasi tersebut juga bertujuan membuat desa-desa KBA menjadi desa mandiri dan sejahtera, khususnya secara ekonomi sehingga menjadi panutan bagi desa sekitarnya. 

Depok, 31 Desember 2019

Bahan Bacaan:
https://www.satu-indonesia.com/kampungberseriastra/
https://www.astra.co.id/Media-Room/Press-Release/300-Kampung-Berseri-Astra-Menuju-Desa-Sejahtera
https://forumcsrdkijakarta.org/2018/05/02/kampung-berseri-astra/
https://autotekno.sindonews.com/read/1285777/120/kampung-berseri-astra-disebut-sebut-jadi-role-model-1519799403
https://money.kompas.com/read/2019/06/25/142439826/astra-kembangkan-kawasan-645-desa-sejahtera-di-seluruh-indonesia
https://indonesiancraft.co.id/main-craft/kampung-berseri-astra-untuk-kesejahteraan-masyarakat/
https://republika.co.id/berita/ptykoz423/peduli-lingkungan-lewat-festival-kampung-berseri-astra
https://republika.co.id/berita/ptykoz423/peduli-lingkungan-lewat-festival-kampung-berseri-astra
https://www.astra.co.id/Public/Files/astramagz-februarinew.pdf
https://www.astra.co.id/CSR
https://www.astra.co.id/Public/Files/Astra%20Magz%20Juli%202019.pdf
https://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/18/12/18/pjxy89438-dari-kampung-berseri-menuju-ikon-wisata-kota-depok




No comments:

Post a Comment