HUKUMAN MATI BAGI TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN DAN ANAK, SEPERTI PEMERKOSAAN TERENCANA

Ilustrasi tentang bahaya kekerasan seksual pada perempuan. Sumber: densho.org




Malam itu saya hampir terlelap ketika telepon seluler saya berdering. Seorang aktivis perempuan menelepon untuk menceritakan sebuah kasus, yaitu kasus pemerkosaan. Korbannya, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Pelakunya orang yang berteman dengan saya. Dia menceritakan kronologinya dan setelah itu meminta saran saya agar tim pendukung korban dapat dipertemukan dengan atasan si pelaku. Menurut saya, tindakan pertama yang harus dilakukan dalam kasus pemerkosaan adalah melaporkan pelaku kepada polisi, bukan kepada atasan pelaku. 

Dia sangsi polisi akan benar-benar membantu korban pemerkosaan. Sebagaimana kita ketahui bersama, pemerkosaan adalah tindak kejahatan pidana yang sangat mengerikan dan sangat khusus sifatnya, karena kerusakan dan kehancuran fisik maupun psikis yang terjadi terhadap korban sebenarnya tidak dapat diperbaiki. Korban juga harus didampingi pengacara yang memahami kasus ini dan membantunya berjuang untuk mendapatkan keadilan. Aktivis ini memperkirakan atasan pelaku akan membantu pelaku untuk mengalihkan isunya kepada isu bukan pelanggaran hukum. Beberapa bulan kemudian, saya juga hampir tertidur saat mendapat pesan singkat dari orang yang berbeda melalui telepon seluler bahwa korban dengan didampingi pengacaranya telah melaporkan pelaku kepada polisi.

Setelah itu sejumlah orang membentuk tim untuk mendukung korban. Saya memutuskan untuk mendukung tim itu, berpihak kepada korban, bukan kepada pelaku. Saya mengenal istri pelaku dan anak perempuan pelaku, yang berpihak kepada pelaku. Sikap mereka ini sama sekali tidak mengherankan. Berkaca dari hadits Islam yang menyatakan jihad terberat adalah melawan hawa nafsu, maka melawan diri sendiri adalah jihad yang terberat dalam praktiknya. Melawan diri sendiri dalam tataran ini bukanlah melawan diri Anda sendiri secara harafiah. Melawan diri sendiri artinya melawan orang-orang terdekat, anak, istri, suami, ayah, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibi, cucu, cicit, kekasih, teman sejawat, sanak keluarga, handai taulan, dan kroni Anda yang melakukan kejahatan atau perbuatan buruk. Karena itu perjuangan melawan diri sendiri amat berat. Banyak orang tidak mau dan tidak sanggup melakukannya.

Anak perempuan pelaku turut mengeluarkan pernyataan yang melecehkan dan ditujukan kepada korban bahwa bila kelak korban melahirkan, dia siap menerima anak itu sebagai adiknya dan siap mengurusnya dengan penuh kasih. Dia mengesankan anak yang akan dilahirkan itu muncul dari perbuatan serong ayahnya, bukan kejahatan seksual ayahnya yang telah menghancurkan korban yang juga seusia dirinya. Teman perempuan pelaku kemudian menulis artikel yang isinya membentuk opini untuk mengaburkan makna tindak kejahatan seksual dengan tindak kesepakatan seksual. 

Hal ini pun sama sekali tidak mengherankan kita. Harvey Weinstein, produser kenamaan Hollywood, juga memiliki ‘pelindung’ perempuan yang memihak kepadanya dan bukannya memihak perempuan yang menjadi korban. Salah seorang di antara mereka cukup ternama, yaitu Meryl Streep, bintang film pemenang Oscar. Jeffry Epstein (sekarang sudah pergi ke alam baka, menurut media), seorang pedofil yang menjadi pemasok anak-anak di bawah umur untuk menjadi mangsa seksual para pelanggannya (dan menurut pernyataan salah seorang korban yang selamat, Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris Raya turut terlibat dalam praktik kejahatan Epstein) juga memiliki ‘pelindung’ jenis ini, yaitu Ghislaine Maxwell, putri konglomerat media Robert Maxwell.

Melalui kesaksian-kesaksian dan bukti-bukti yang kuat dan sah secara hukum, pelaku lalu ditetapkan sebagai tersangka dan artinya siap disidangkan. Enam tahun berlalu dan sidang pengadilan itu tidak pernah terjadi. Terakhir kali saya membaca berita tentang pernyataan sikap sejumlah orang, termasuk dosen dan aktivis perempuan, yang berhasil meyakinkan sebuah festival untuk tidak mengundang pelaku.

Awal tahun ini saya menerima pesan pendek melalui telepon seluler saya dari seseorang yang jarang bertemu. Waktu itu juga sudah larut malam dan saya hampir tertidur. Dia mengatakan dia adalah korban kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Pelakunya juga orang yang berteman dengan saya. Dengan demikian, dua orang teman saya ternyata pelaku pemerkosaan dan kekerasan seksual. Karena dia bercerita kepada saya dan meminta saran, saya menyarankan untuk melakukan konsultasi hukum dan mencari pengacara. 

Kami kemudian pergi ke LBH Apik, lembaga bantuan hukum yang muncul di benak saya saat memikirkan ke mana harus pergi membawa korban kekerasan seksual. Itu pula pengalaman pertama saya pergi ke LBH Apik. Kantor lembaga ini terbilang sederhana dan sempat saya sangka sebuah taman kanak-kanak. Seekor kucing mondar-mandir di teras kantor yang terlihat sepi. LBH Apik tidak memiliki tenaga-tenaga psikolog atau pun psikiater sendiri. Dari segi jumlah aktivisnya sukar dibayangkan lembaga ini mampu menangani begitu banyak kasus yang dilaporkan. Apa jadinya kalau tidak ada LBH Apik? Nasib para korban jauh lebih terlantar lagi.

Saya juga bertanya kepada teman yang bekerja di Komnas Perempuan apa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk membantu perempuan korban kekerasan seksual yang mencari keadilan. Ternyata teman saya memberi saran untuk pergi ke lembaga bantuan hukum atau mencari pengacara untuk korban. Komnas Perempuan akan mencatat kasusnya, katanya. Bagi saya, ini belum sebuah titik terang penanganan kasus dan nasib korban. Tapi tanpa adanya pencatatan, orang-orang tidak tahu bahwa kekerasan terhadap perempuan terus terjadi dan tidak akan ada yang berjuang untuk mengakhirinya. LBH Apik menyarankan korban mencari psikolog ataupun psikiater untuk mengikis traumanya yang luar biasa.

Di bulan-bulan lalu saya pergi ke Ternate dan mendengar dari aktivis perempuan di sana bahwa ada kasus pembunuhan yang diawali dengan pemerkosaan di rute yang berkali-kali saya tempuh pulang-pergi dengan menumpang kendaraan umum di Halmahera. Rute itu berhutan di kanan kiri. Jarak antar kampung cukup jauh. Pelaku kejahatan itu, seorang residivis yang selepas dari penjara bekerja sebagai pengemudi angkutan umum, berhasil ditangkap. Bukti-bukti yang kuat dan sah menjeratnya sebagai tersangka. Dia disidangkan di Tidore dan mengakui perbuatannya dalam persidangan. Korbannya, perempuan usia 20-an yang hendak naik kapal cepat dari Sofifi ke Ternate untuk kuliah di Universitas Khairun. Dia dibawa pelaku ke suatu tempat sebelum Sofifi dan diperkosa. Setelah itu, dibunuh. Pelaku ingin menghilangkan jejak.

Jaksa menuntut pelaku dihukum seumur hidup, tapi majelis hakim memutuskan pelaku diganjar hukuman maksimal dalam hukum pidana Indonesia untuk tindak kejahatan pembunuhan terencana yang diawali pemerkosaan: hukuman mati. Ketua majelis hakim adalah juga ketua Pengadilan Negeri Tidore, seorang perempuan. Sejumlah orang kurang bersenang hati, karena mereka mendeklarasikan diri menentang hukuman mati terhadap pelaku.


Bagi saya, hakim telah melakukan penghukuman maksimal yang tersedia dan sah dalam hukum Indonesia terhadap kejahatan yang luar biasa keji itu dan dengan demikian, hakim sama sekali tidak melanggar hukum dalam menjatuhkan hukuman mati. Setuju atau tidak setuju terhadap hukuman mati dalam perkara ini, kita bisa memperdebatkan tentang alasan-alasan yang melandasinya, yang kelak mungkin dapat berguna untuk menghasilkan produk penghukuman yang lebih mutakhir dan memiliki efek jera terhadap para pelaku kejahatan dan yang paling bersesuaian dengan prinsip keadilan.

Jakarta, 19 Desember 2019


No comments:

Post a Comment