Atlas of Humanity, Ruang Belajar Mensyukuri Nikmat Sebagai Manusia

Boy with face paint stands among the leaves in Beja Flor, Brazil. Photo: David Lazar

"The human body is the best work of art."
-Jess C. Scott-

Manusia, entah sejak kapan menghuni bumi. Namun, pastinya manusia merupakan spesies yang menjadi penguasa bumi. Manusia mengambil, memakan, mengubah, merusak, membangun, membentuk, mencipta dan menjadi penguasa atas segala sesuatu yang ada di bumi. Segala hal yang dilakukan manusia tidak bisa dilakukan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Sehingga, manusia menjadi superior dan keinginannya menjadi semakin jauuuuhhhhhhh seperti menjadi abadi, menguasai planet lain, dan melakukan kontak dengan segala sesuatu yang mungkin dikontak di semesta raya. 

Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan superior manusia tidak hanya melingkungi spesies lain, melainkan dalam spesiesnya sendiri. Misalnya, sekelompok manusia dari suku tertentu merasa lebih baik dari manusia dari suku lain; manusia dari negara tertentu merasa lebih baik dari manusia dari negara lain; hingga manusia dari benua tertentu merasa lebih beradab dari manusia dari benua lain. Sejarah telah memberikan contoh nyata tentang penindasan antar manusia karena perbedaan warna kulit, kasta, etnik, bahkan jenis kelamin. Kita tentu tak akan lupa bagaimana misalnya Jerman saat rezim Hitler yang merasa ras Arya adalah ras pilihan Tuhan melakukan tindakan terstruktur memusnahkan etnis Yahudi secara besar-besaran dan terang-terangan. Kita juga tidak selayaknya lupa bagaimana orang-orang Afrika dijadikan budak dalam proses pembangunan Amerika Serikat selepas meraih kemerdekaan dari Inggris sebagai penguasa baru tersebut menghancurkan suku asli yaitu Indian. Kini, di masa modern kita juga dihadapkan oleh fakta penghapusan etnis Rohingya di Myanmar oleh pemerintah yang sah. Apakah manusia merasa berhak membuat dirinya merasa seragam dan menyeragamkan diri? 

Rasanya, meski zaman telah disebut post-modern, soal saling merendahkan dalam spesies manusia masih belum selesai. Mungkin juga itu semacam warisan psikologis, bahwa manusia dari kelompok tertentu memang lebih suka menaklukkan dan merendahkan manusia dari kelompok lain. Di Indonesia, yang sering jadi sasaran adalah orang-orang yang memiliki perawakan khas orang Tiongkok alias China dan mereka yang berasal dari wilayah Timur yang memiliki kekerabatan dengan suku aborigin. Orang-orang Indonesia yang biasanya merendahkan warga negara lainnya adalah mereka yang merupakan keturunan kesekian hasil kawin campur nenek moyangnya. Mereka lupa, justru praktek kawin campur itulah yang perlahan-lahan mengiris, mengikis, mengelupas dan memudarkan ciri khas suku tertentu. Sehingga, saat ini, hanya kelompok adat dan masyarakat yang masih memiliki kemurnian dalam tubuh mereka. 

Sebagai orang yang menyadari bahwa aku mungkin keturunan hasil kawin campur kesekian dan kesekian, aku selalu berusaha menyadarkan diriku bahwa aku hanyalah manusia, dan aku berbeda dengan seluruh manusia di bumi, sehingga aku tidak berhak menuntut persamaan atas apapun. Setiap kali pikiran soal persamaan ini menggangguku, aku membuka website atlasofhumanity.com dan memandangi foto-foto yang tersaji didalamnya dengan takjub. Disana tersaji ribuan photo manusia dari lebih 400 suku yang ada di dunia, yang menghadirkan perbedaan sebagai keindahan. Dengan melihat mereka semua, aku mendapatkan kekuatan baru untuk mengagumi karya cipta Tuhanku dengan terang benderang; tentang berapa kaya dunia manusia, yang berbeda dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan, sungguh tak masuk akal mereka yang menuntut manusia untuk menjadi sama dan seragam antara satu dengan yang lainnya. 

PERADABAN MANUSIA DARI WAKTU KE WAKTU
Sejujurnya, sebagai manusia terkadang kita merasa lebih memahami hal-hal lain dibanding memahami diri sendiri. Oleh karena itu, dengan belajar kepada situs ini aku terus berproses belajar sebagai manusia, ya satu manusia dari miliaran manusia yang pernah, masih dan akan hidup selagi Sang Pencipta mengizinkan. Situs ini sendiri tidak hanya menyajikan foto-foto dengan kualitas terbaik, melainkan juga informasi mengenai perkembangan peradaban manusia hingga pameran-pameran yang diselenggarakan di sejumlah kota di dunia. Ada hal menarik dalam sejarah peradaban manusia. Berdasarkan catatan sejarah, diperlukan waktu 200.000 tahun lamanya untuk manusia berjumlah 1 miliar. Tapi setelah itu hanya diperlukan hanya 200 tahun saja untuk jumlahnya berlipat ganda menjadi 7 miliar. Jadi, berikut adalah momen-momen besar dalam peradaban manusia: 

  • Manusia modern (Homo sapiens) berkembang di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu.
  • Sekitar 100.000 tahun yang lalu manusia mulai bermigrasi ke seluruh dunia. Selama periode ini, populasi manusia masih sedikit, dan diperkirakan kurang dari 1 juta orang.
  • Irigasi diperkirakan dikembangkan bersamaan dengan peradaban Mesir kuno dan Mesopotamia (sekarang Irak dan Iran) menggunakan aliran udara dari sungai Nil dan Tigris/Eufrat. Perkembangan di bidang pertanian berkontribusi pada pertumbuhan manusia
  • Pada 1 M, populasi dunia mencapai sekitar 170 juta orang. Kerajaan Romawi di Eropa / Mediterania / Timur Tengah dan Dinasti Han di Cina berada di puncaknya. Ke-4 - zaman keemasan India dimulai. Populasi manusia sekitar 180 juta.
  • Abad ke-6 - peradaban Maya berada di puncaknya: populasi dunia 177 juta.
  • Abad ke-7 - kelahiran Islam: populasi dunia 177 juta.
  • Abad ke-8 - cacar di Jepang (735-737): populasi dunia195 juta.
  • Abad ke-9 - bubuk mesiu ditemukan di Cina: populasi dunia 219 juta.
  • Abad ke-11 - kompas digunakan di Dinasti Song Cina oleh militer untuk navigasi: populasi dunia 289 juta.
  • Abad ke-13 - kebangkitan Kenangan Mongol: populasi dunia 364 juta.
  • Abad ke-14 - Kematian Hitam (Wabah Bubonic). Setelah lima tahun, 25 juta orang mati di Eropa - sepertiga dari orang-orang Eropa. Jumlah manusia sekitar 343 juta - Penurunan langka.
  • Akhir abad ke-15 - orang Eropa tiba di Amerika: populasi dunia 417 juta.
  • Abad ke-18 - revolusi industri dimulai: populasi dunia 804 juta.
  • Populasi 1 miliar untuk pertama kalinya pada 1804. Itu 123 tahun sebelum mencapai dua miliar pada tahun 1927, hanya perlu 33 tahun untuk mencapai tiga miliar pada tahun 1960.
  • Perang Dunia I (1914-1917). Populasi dunia sekitar 1,7 miliar.
  • Perang Dunia II (1938-1945). Populasi dunia sekitar 2,3 miliar.
  • Per Agustus 2016, populasi manusia 7,4 miliar.
  • Tahun 2100 estimasi populasi manusia 11,2 miliar.

Berdasarkan buku "Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia" karya Professor Yuval Noah Harari, sebenarnya sangat wajar jika angka harapan hidup manusia setelah revolusi pertanian dan revolusi sains meningkat, karena ketersediaan bahan pangan dan perkembangan ilmu kedokteran membantu manusia terbebas dari kematian akibat kelaparan dan wabah penyakit. Maka, jika kemudian ledakan penduduk terjadi karena pengaruh baik pangan, kesehatan, sanitasi, dan sumbangsih dunia kedokteran sangatlah wajar terjadi percepatan jumlah populasi manusia. Terlebih, jika kurang dari 100 tahun jumlah manusia mencapai 11.2 miliar dan angka harapan hidup sangat tinggi, maka populasi manusia hanya perlu beradaptasi dan mencari solusi menghadapi kelangkaan lahan, pangan dan air. Ini sebuah kenyataan yang seru, bukan? 

WARNA DIRI MANUSIA DI SELURUH DUNIA
Proyek atlasofhumanity.com ini dikembangkan tahun 2015, disusun dan dikuratori oleh Martin Vegas untuk DeFactory, sebuah organisasi nirlaba budaya yang berfungsi sebagai ruang pertemuan diskusi, pertukaran serta promosi kegiatan seni dan budaya. Tujuan dibuatnya proyek ini untuk memetakan populasi manusia yang menghuni planet bumi berdasarkan sudut pandang antropologi budaya dan etnologi, guna melihat dan membandingkan budaya berbeda dari kelompok etnis.

Martin membuat proyek ini karena terinspirasi dari deklarasi UNESCO tentang Keanekaragaman Budaya, untuk membantu melestarikan dan mempromosikan keragaman budaya di seluruh dunia. Ribuan foto yang ditampilkan di situs ini merupakan hasil karya ratusan fotografer yang mengirimkan karyanya, sehingga hingga Desember 2019 ini terbaca sebanyak 400 kelompok etnis dengan keragaman budaya serta ciri fisik yang mengagumkan, serta kisah mereka dalam mempertahankan kelompoknya ditengah arus globalisasi yang dengan cepat menikam segala yang tradisional ke dalam dunia modern. 
Halaman muka atlasofhumanity.com

Situs ini dikemas sangat sederhana. Halaman muka langsung menampilkan foto terbaru dan setiap foto akan membawa kita pada artikel khusus tentang foto tersebut, beserta sejumlah foto tambahan. Kita juga dimudahkan untuk mencari foto etnis atau negara tertentu dengan menelusuri bagian indeks, sekaligus memahami sudah sejauh mana proyek ini berhasil mengumpulkan informasi berharga tentang populasi manusia, dan kelompok mana saja yang belum terekam didalamnya.

Memandangi foto-foto manusia yang berbeda satu dengan yang lainnya, dari berbagai kelompok etnis di seluruh dunia, membuatku jatuh cinta kepada seni yang indah dalam penciptaan manusia. Sehingga, sangat keterlaluan jika kita mengharapkan keseragaman karena sesungguhnya perbedaan itu terkandung dalam tubuh manusia, dan kelahiran demi kelahiran akan melahirkan perbedaan lain dalam sosok manusia baru, yang mungkin lebih memukau dan membuat kita berdecak kagum. Seringkali, aku berterima kasih kepada penggagas proyek ini karena telah membuat sebuah karya yang membantu umat manusia menyadari bahwa kita semua indah dan mengagumkan, karya Sang Pencipta yang Maha Indah. 

Baca Juga: The Atlas of Beauty, Sebuah Cara Memandang Kecantikan dengan Indah

Terhadap keindahan dan perbedaan dalam dunia manusia, kurasa sangat tidak bijak jika kita meributkannya. Sebab, masalah terpenting yang akan dihadapi manusia lebih krusial, berkaitan dengan ketersediaan lahan, kelangkaan pangan dan air bersih, sebab luas bumi tidak bertambah sementara jumlah manusia terus bertambah dengan signifikan. Saat ini, dengan populasi hampir 8 miliar saja, manusia sudah kelimpungan menghadapi masalah krisis lingkungan, pangan, dan air bersih. Lantas bagaimana manusia menghadapi masalah serupa namun lebih pelik pada tahun 2100 saat populasi berjumlah 11 miliar orang? Bukankah pemerintah, arsitek, petani dam nelayan akan kebingungan bagaimana caranya memberi tempat tinggal, serta memberi makan dan minum kepada manusia sebanyak itu? 

Jakarta, 29 Desember 2019

No comments:

Post a Comment