Tentang Kisah Sedih #LayanganPutus dan Nasehat Percintaan bagi Para Lajang yang Kebelet Menikah

Ilustrasi perempuan yang patah hati. 


“Marriage is not just spiritual communion, 
it is also remembering to take out the trash.” 
-Joyce Brothers-


"Layangan Putus" adalah judul sekaligus tagar bagi sebuah kisah fiksi. Ditulis oleh seorang perempuan berusia 32 tahun yang menamakan dirinya Mommi ASF (entah apa makna ASF ituhhh aku nggak mudeng lho). Alur tulisan maju-mundur, ditulis dari sudut pandang Aku alias orang pertama. Kisah ini ditulis secara bersambung dalam 4 bagian (dan katanya masih ada lanjutannya) di sebuah komunitas menulis di Facebook. Viralnya di mana? Ya jelas di Twitter lah. Karena kisah fiksi ini based on true story, maka netizen pun kepo habis-habisan mengenai siapa para tokoh dalam kehidupan nyata. Sikap kepo netizen nggak salah sih, karena si penulis sengaja menebar remah-remah kunci pembuka kotak pandora dalam ceritanya. Maka tersebutlah siapa sebagai siapa. Urusan jadi panjang karena hasil penemuan menunjukkan bahwa....

Yeeeeee pembaca penasaran kan ya sama hasil kepo netizen?
Aku juga sih sebenarnya penasaran, karena dramatis banget ceritanya. 
Gila ya, yang maya bisa mengguncang hebat dunia nyata!

"Kasihan ya Mommi ASF. Yang tabah ya demi anak-anak."
"Yang lelakinya tuh kegatelan. Udah banyak duit lupa sama istri."
"Yang hijrah tuh kok kebablasan malah jadi pelakor sih, sinting!"
"Baca kisah ini aku jadi takut nikah."
"Yang menemani dari nol belum tentu setia, yang muda memang menggoda."
"Hijrah kok buat ambil suami orang!"
"Hah? Poligami buat jagain hijrah tuh cewek pelakor? Modus aja tuh suami ganjen!"
"Aku nangis bacanya. Nggak kuat huhuhu."
"Hijrah dijagain suami orang? Lha, elo aja berak sendirian masih hidup kok!"

Sudah ah! Sudahi saja kekesalan kita ini karena sebenarnya sikap kepo kita nggak akan pernah berhenti. Kepo memang menarik, terlebih bangsa kita kan memang diturunkan bakat untuk melakukan story telling. Itulah sebabnya aneka dongeng dari masa lampau yang kadang nggak jelas buktinya dalam perspektif sejarah tetap langgeng di belantara benak manusia Indonesia. Tanpa kepo sebagai teknik mengumpulkan bahan mentah yang hendak diramu jadi cerita, ya mana bisa mendongeng dan berkisah. Selow aja. Santai kayak di pantai. Yang penting tetaplah setia pada pasangan (jika punya pasangan) dan carilah pasangan yang hangat, jujur dan setia jika masih lajang seperti aku ini (eaaaaa)

#LAYANGANPUTUS: KISAH TRAGIS DALAM PERSPEKTIF MOMMI ASF
Informasi yang beredar di dunia maya bikin bingung. Terlebih Mommi ASF menghapus tulisannya. Makin sulit kan buat kepo. Selain itu, screenshoot tulisan Mommi ASF yang berserakan di jagat maya juga nggak berbasis kronologis dan tulisan tersebut memang menggunakan alur maju mundur. Kayaknya nih Mommi ASF memang sengaja membuat pembacanya penasaran setelah hatinya diaduk-aduk dengan rasa sedih, marah, jengkel dan ingin menjambak kepala jenis pasangan yang tidak setia. Pasangan jenis ini pantas dilempar ke neraka agar menjadi bulan-bulanan malaikat penjaga neraka!

Sebenarnya, aku melihat sejumlah kejanggalan dalam kisah #layanganputus tulisan Mommi ASF. Tulisan tersebut terkesan memaksakan suatu keadaan tertentu yang sebenarnya bisa dengan jujur diakui terjadi dalam pernikahan dan menjadi duri dalam daging. Profil Mommi ASF yang seorang dokter hewan pastilah cerdas dan bisa melihat mana hal baik dan hal buruk dari dirinya, suaminya dan pernikahan mereka selama 8 tahun itu. Dengan demikian, mari kita urai saja cerita Mommi ASF agar menjadi terang benderang dan kita nggak kebingungan sebab katanya kisah ini based on true story

1| Profil Mommi ASF
Perempuan berusia 32 tahun. Agama Islam. Berjilbab. Lulusan Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali. Tinggal di Bali sejak 15 tahun silam (sejak 2004? Karena mulai kuliah di jurusan Kedokteran Hewan sejak 2004). Menikah dengan Arif tahun 2011 dan kembali tinggal di Bali. Perbedaan umur Mommi ASF dengan Arif 7 tahun, berarti saat ini Arif berusia 39 tahun. Menikah dengan Arif hanya 8 tahun saja (2011-2019). 

Punya 4 orang Anak bernama Amir, Arya, Alman dan Abi (masih berusia 2 tahun). Sebenarnya punya anak kelima, tapi meninggal 4 bulan lalu (Juni 2019 kah anak kelima meninggal?). Sehari-hari merupakan ibu rumah tangga yang mengurusi suami, 4 orang anak dan segala keperluan rumah, yang dibantu seorang Mbak asisten rumah tangga. Pernah umrah. Bercita-cita mengunjungi Cappadocia di Turki. Sangat perhatian kepada keempat anaknya. Sangat cinta dan percaya penuh pada suami. Selalu berdoa untuk keluarga. Selalu berserah diri kepada Allah. Setelah mengetahui Arif menghilang selama 12 hari untuk menikahi perempuan lain, Ia memilih bercerai (sidang pada 19 September 2019) dan merawat keempat anaknya seorang diri tanpa nafkah dari Arif untuk anak-anaknya. Ia mengalami kesulitan finansial hingga harus menunggak listrik berbulan-bulan lamanya, tapi masih mengendarai mobil kemana-mana. Ia mencari nafkah dengan melanjutkan profesinya sebagai dokter hewan. 

2| Profil suami Mommi ASF yaitu Arif
Bernama Arif. Agama Islam. Stylish. Metroseksual. Mengelola channel dakwah di Youtube dengan nama Ammar Channel. Sering pulang kantor malam hari. Tidak suka suara tangis bayi. Tidak tidur bersama Mommi ASF dan anak-anak di kamar utama setelah kelahiran anak kedua. Lebih suka menyendiri di kamar yang hening dan tenang. 

3| Kondisi rumah tangga Mommi ASF dan Suami
Mommi ASF dan Arif sudah kenal lama dan mereka pacaran sejak 2005. Mereka menikah pada 2011 saat Mommi ASF berusia 24 tahun dan Arif 31 tahun. Mereka tinggal di Bali dan hidup sederhana. Mommi ASF menemani Arif dari nol hingga sukses dan menjadi lelaki ganteng dan stylishSejak kelahiran anak kedua sikap Arif berubah pada Mommi ASF. selain itu, Arief juga lebih sering tidur di sebuah kamar kecil, sendirian. Mommi ASF lebih sering tidur bersama anak-anak di kamar utama. Arif tidak suka dengan suara tangis bayi. Arif jarang sekali membantu Mommi ASF menenangkan anak mereka yang menangis. Mommi ASF mengatakan hubungannya dengan Arif sedang hangat dan kehidupan seks mereka sangat hidup. Mereka sering berolahrga bersama agar selalu fit. Jika kehidupan mereka harmonis, mengapa Arif menghindar dari tidur satu kasur dengan istri dan anak-anaknya. Hm, jangan-jangan sebenarnya pernikahan Mommi ASF dan Arif sexless sejak kelahiran anak kedua? 

4| Kondisi finansial keluarga Mommi ASF 
Sepertinya Mommi ASF adalah tipe perempuan yang menyerahkan urusan keuangan keluarga pada suami. Ia juga percaya penuh pada segala perkataan dan tindak tanduk suaminya. Atau bisa jadi Mommi ASF juga tipe perempuan yang tergila-gila pada suaminya, sehingga pernikahan membuatnya sepenuhnya bergantung pada Arif, termasuk soal finansial. Hal ini digambarkan dalam cerita bahwa setelah bercerai Mommi ASF kesulitan membayar SPP dan biaya kursus anak-anaknya, bahkan sudah tidak bayar listrik beberapa bulan lamanya hingga nyaris diputus PLN. Tapi, Mommi ASF kemana-mana mengendarai mobil. Mengapa Mommi ASF nggak jual mobil itu dan menggunakan sebagia uang untuk membeli motor dan sisanya untuk biaya hidup? Soal pendidikan anak-anak juga berkaitan dengan tiadanya perencanaan keuangan khusus. Jika selama menikah Mommi ASF memiliki tabungan khusus untuk biaya pendidikan anak-anak, maka ia tak akan kerepotan soal SPP dan biaya kursus. 

5| Tragedi pernikahan Mommi ASF
Pada suatu subuh (12 February 2018) Mommi ASF mencari Arif di kamar, tapi tak ada. Mommi ASF mengira Arif belum pulang dari musholla usai shalat subuh. Tapi, Mommi ASF jadi bingung karena ranjang kamar sangat rapi, tak ada bekas pernah digunakan tidur. Mommi ASF pun mengira Arif menginap tapi kok nggak izin mau menginap. Nah, disini terlihat aneh karena menunjukkan semalaman mereka tidak bersama (padahal biasanya mereka bercengkerama di ruang tengah setelah Arif pulang bekerja). Ia berusaha menelepon Arif. Setelah ditelepon tak ada jawaban, Mommi ASF menelepon Selamet, sopir Arif di kantor. Tapi Mommi ASF malah kaget karena Selamet mengatakan bahwa semalam ia mengantar Arif ke Bandara. Nah, berarti betul bahwa Mommi ASF dan Arif tidak bersama semalaman. Maka Mommi ASF mengecek dokumen, kamera, paspor dan koper ukuran kabin di kamar Arif dan menemukan semua itu tak ada di tempatnya. 

Pada 24 Februari 2018, Arif pulang dan Mommi ASF menjemputnya di bandara. Hubungan mereka jadi awkward. Mommi ASF jadi serba salah. Setahun kemudian, yaitu 27 Februari 2019 Mommi ASF lancang membuka HP Arif dan menemukan ratusan photo honeymoon Arif di Cappadocia dengan istri barunya. Mommi ASF sudah mendengar pengakuan Arif sekaligus pujian Arif untuk istri keduanya yang muda dan cantik. Mommi ASF tidak tahu siapa perempuan itu selain bahwa dia seorang Selebgram yang baru hijrah. Mommi ASF memutuskan untuk bercerai. Setelah menjalani persidangan pada 19 September 2019, Mommi ASF memutuskan untuk tegar demi keempat anaknya. 

6| Benarkah suami Mommi ASF agamis dan taat? 
Keterangan tentang taat beragama Arif dijelaskan Mommi ASF melalui tiga informasi. Pertama bahwa Arif selalu shalat berjamaah di musholla. Kedua, Arif mengelola channel dakwah. Ketiga, Arif pernah berpikir untuk berjihad ke Suriah yaitu mendokumentasikan kondisi Suriah untuk membuka mata dunia tentang kondisi umat Islam disana. 

Dari proses penguraian ini aku menyimpulkan bahwa sebenarnya pernikahan Mommi ASF dan Arif tidak baik-baik saja. Pertama, Arif selalu pulang kantor pada malam hari yang bermakna Arif lebih suka mengurus pekerjaannya dan enggan menghabiskan waktu dengan keluarganya. Kedua, Arif tidak suka tangis bayi dan memilih tidur di kamar terpisah dengan anak-anaknya sejak Mommi ASF melahirkan anak kedua. Bisa dikatakan bahwa Arif enggan terlibat penuh dalam merawat anak-anaknya dan menyerahkan perawatan mereka sepenuhnya pada Mommi ASF. Arif memilih menyenangkan dirinya di kamar yang tenang dan hening agar bisa beristirahat, sementara Mommi ASF seringkali berjibaku dengan anak-anaknya yang sering terbangun malam hari dan menangis mencarinya. 

Ketiga, Mommi ASF tidak memiliki tabungan milik pribadi dan tidak ada kerjasama masalah finansial dalam keluarganya. Sehingga, ketika mereka bercerai Mommi ASF menjadi tumbang karena secara finansial ia mengalami kejatuhan seketika. Keempat, Arif tidaklah agamis apalagi taat hanya karena dia mengelola channel dakwah. Selain ia tidak terlalu care dengan istri dan anak-anaknya, Arif juga tidak jujur mengenai perubahan hatinya ketika hendak menikahi perempuan lain. Oh tidak! Bisa jadi topeng yang selama ini Arif kenakan terlepas dan terkuaklah karakter aslinya sebagai lelaki yang tidak setia pada pasangan.  Tidak pernah bisa disebut taat seorang suami yang menghilang selama 12 hari tanpa kabar dan menikah dengan perempuan tanpa sepengetahuan istrinya dan keluarga besarnya dan anak-anaknya. Dalam Islam pernikahan itu harus diumumkan, minimal diketahui oleh pihak keluarga pasangan yang menikah. Tujuannya agar dunia tahu bahwa si A dan si B sudah menikah, bukan lagi lajang, dan nggak available buat siapapun yang naksir dia.  

Selain itu, dalam konteks hukum negara, perempuan yang menjadi istri kedua namanya nggak bisa dicantumkan dalam Kartu Keluarga dan anak yang dilahirkannya tidak akan mendapatkan akta lahir normal sebagaimana anak dari pernikahan sah secara negara. Seorang lelaki soleh mana mungkin mangkir dari aturan agama dan negara secara bersamaan cuma demi cinta, bukan? Bukankah cinta tertinggi seorang manusia soleh adalah Allah dan RasulNya? Lantas mengapa bisa Arif takluk dibawah pesona perempuan yang bukan istrinya dan menikahinya dengan meninggalkan istri dan anak-anaknya? Padahal Islam memberikan aturan ketat tentang kewajiban seorang suami menjaga keluarganya dari api neraka dan menafkahi mereka dengan harta yang diperolehnya dari pekerjaan halal. 

Kelima, Mommi ASF baru mendapatkan informasi nyata tentang pernikahan kedua suaminya setahun kemudian saat nekat kepo ponsel suami. Pertanyaannya adalah selama setahun itu mereka berdua ngapain aja? Jika sebuah informasi baru diperoleh selama setahun, apa bisa kita sebut Arif tipikal lelaki soleh, taat atau agamis sementara dia tidak jujur pada keluarganya sendiri. Kisah ini sungguh menggelikan. Eh, tapi di awal kisah disebutkan bahwa bulan september 2019 itu adalah bulan 4 anak kelimanya meninggal dunia dan saat itu Abi, anak keempatnya berusia 2 tahun. Artinya, setelah tahu suaminya menikah lagi secara diam-siam, Mommi ASF dan Arif kembali bercinta dan bikin anak, namun sang anak meninggal dunia beberapa waktu sebelum Mommi ASF mengajukan cerai. Ini juga menandakan bahwa saat Arif pergi selama 12 hari untuk menikah lagi secara diam-diam, Abi masih bayi umur 5 bulan dan Mommi ASF masih dalam masa pemulihan paska melahirkan. Gila bener ya kisah ini. Sontoloyo!

Keenam, dan ini adalah kejanggalan lain. Jika pada September 2019 usia Abi 2 tahun (asumsi usia Abi 24 bulan) maka pada Februari 2018 usianya baru 5 bulan. Artinya Mommi ASF masih dalam tahap pemulihan pasca melahirkan. Jika Arif selalu pulang malam, maka Arif termasuk suami yang tidak care dengan istri dan tidak merasa bahagia punya bayi mungil. Karena setahuku ayah yang baik akan berusaha selalu bersama bayinya dan anak-anaknya. Diceritakan juga bahwa Mommi ASF dan Arif sedang giat berolahraga agar tubuh kembali fit, dan mereka pun sedang dalam suasana kasmaran. Mungkin sebagai semacam balas dendam setelah Mommi ASF melahirkan dan harus bebas dari urusan seksual 40 hari lamanya. Maka, jika pada Februari 2018 Arif menghilang untuk menikahi perempuan lain, berarti selama Mommi ASF hamil udah main hati dengan perempuan itu dong, makanya dia lebih suka menyendiri di kamar lain agar bisa komunikasi dengan selingkuhannya? Masa iya seseorang tiba-tiba menikah, dengan hadiah honeymoon ke Turki pula. Untuk menikah kan harus mengurus banyak surat dan Arif pastinya mengurus surat-surat itu. Artinya Arif memang selingkuh dari Mommi ASF bahkan dalam keadaan Mommi ASF punya bayi 5 bulan, bukan? Nah, apakah kondisi demikian dalam rumah tangga Mommi ASF dan Arif bisa menggambarkan bahwa Arif adalah lelaki yang taat dan soleh? Aku nggak tahu harus bilang Mommi ASF itu cinta buta sama Arif atau bego akut karena masih menganggap suami berhati dingin begitu sebagai baik dan soleh. 

7| Benarkah #layanganputus adalah cara Mommi ASF balas dendam? 
Dalam tulisan-tulisannya, Mommi ASF mengesankan dirinya sebagai perempuan yang lembut, murah hati, penyayang dan berserah diri kepada Allah. Bahkan setelah bercerai dengan Arif, ia masih mendoakan lelaki itu karena sadar bahwa yang ia minta kepada Allah adalah hubungan baik antara Arif dan keempat anak mereka. Ia juga menyatakan bahwa tulisan #layanganputus tidak dimaksudkan untuk menyudutkan mantan suaminya dan istri barunya, melainkan hanya curhat ala seorang ibu agar kesedihannya sedikit terobati. Namun demikian, bisa saja bahwa Mommi ASF sengaja menulis #layanganputus sebagai bentuk balas dendam kepada Arif dan istri barunya yang entah siapa namanya. 

Bagaimanapun Mommi ASF pernah sangat menyukai dunia tulis menulis saat SMU dan ia perempuan cerdas. Masa iya dokter hewan nggak cerdas, kan? Mommi ASF hidup di zaman ketika media sosial mampu menjungkirbalikan segala sesuatu dan tentu saja kekuatan kepo netizen tanah air. Bisa saja bahwa Mommi ASF menggunakan tangan orang lain di media sosial untuk memuluskan aksinya membalas dendam. Ia hanya perlu menulis kisahnya dan biarkan media sosial seperti Twitter, Facebook dan Instagram bekerja untuknya. Terbukti bahwa tagar #layanganputus sempat menjadi trending di Twitter. Jika ini adalah tujuan Mommi ASF maka tujuan tersebut telah tercapai. Tulisannya mengaduk-aduk perasaan netizen sampai-sampai mereka mau mendedikasikan waktu dan energi untuk melakukan kepo siapa Arif dan istri barunya di dunia nyata. Kabarnya, netizen telah menemukan siapa Arif dan istri barunya di dunia nyata, dan netizen pun mengobrak-abrik channel dakwah yang Arif kelola untuk menghukumnya. Hm, media sosial memang luar biasa dan jangan remehkan kekuatan sebuah tulisan!

NOTE PENTING: tulisan ini tidak kubuat untuk menyudutkan Mommi ASF ditengah pujian yang membanjir kepadanya karena kesabaran dan kelembutan hatinya. Sebagai orang yang berencana menikah, aku hanya ingin belajar dari kisah yang Mommi ASF tuliskan dengan tujuan melihat relevansi kisah tersebut dibandingkan dengan kisah itu sendiri. Maksudnya, aku ingin mencari tahu tentang apakah peristiwa tersebut bisa tiba-tiba saja terjadi dalam sebuah keluarga harmonis dengan kehidupan seks yang hangat? Ataukah sebenarnya ada masalah yang sengaja tidak dijelaskan Mommi ASF sehingga peristiwa itu menjadi puncak gunung es yang mengerikan? Dan memang, aku melihatnya ada kejanggalan dan itu terjadi sejak kelahiran anak kedua yaitu Arya. Artinya Arif memang sudah diam-diam berpaling pada perempuan lain selama sekian waktu tapi masih juga bikin anak dengan Mommi ASF. Sebagai perempuan cerdas kukira Mommi ASF menyadari kondisi rumah tangganya, tetapi bagian itu tidak diceritakan dalam tulisan-tulisannya demi memenangkan balas dendamnya.  

APAKAH KAMU JUGA JADI TAKUT MENIKAH? 
Ada banyak sekali cerita-cerita sedih terkait pernikahan, baik dari sudut pandang perempuan dan lelaki, bahkan anak-anak. Kisah #layanganputus Mommi ASF bukanlah cerita tersedih yang pernah aku dengar, karena ada cerita lain yang lebih pilu. Meski demikian, aku nggak bisa mengukur cerita siapa yang paling sedih dari cerita siapa, karena setiap orang memiliki kapasitas berbeda dalam menerima tragedi dalam hidupnya. Aku kenal dengan seorang perempuan yang ketika hamil anak pertamanya dikejutkan oleh tindakannya suaminya membawa selingkuhannya ke rumah mereka. Kejadian itu membuat temanku stress sehingga anaknya lahir prematur. Perempuan yang lain justru dengan jelas mengetahui siapa perempuan yang merupakan pacar suaminya. Saat ia melahirkan anaknya yang ketiga, suaminya bahkan mengancam akan bunuh diri jika sang pacar memutuskan hubungan mereka, karena dalam hal ini sepertinya si selingkuhan sadar bahwa perbuatannya sangat menjijikan. Sedihnya, si perempuan belum bisa bercerai karena ia tidak memiliki penghasilan.

Kisah-kisah tragis dalam pernikahan sebagaimana dalam #layanganputus memang membuat sebagian orang menjadi takut untuk menikah. Rasa takut itu bukan datang dar pernikahan itu sendiri, melainkan takut jika pasangan ternyata berpotensi selingkuh, menyakiti, tidak setia, membully dan sebagainya. Ketakutan pada pernikahan terjadi karena selama ini kita tidak pernah diberi tahu tentang resiko dari pernikahan. Kita hanya diberi iming-iming bahwa pernikahan merupakan sumber kebahagiaan, perlindungan atas finansial dan kunci surga. Pada akhirnya kita terobsesi untuk mendapatkan hal-hal yang tidak kita dapatkan selagi lajang melalui pernikahan. Kita menggantungkan mimpi-mimpi pada 'orang asing' yang kita anggap sebagai belahan jiwa. Padahal sejatinya setiap pribadi adalah sosok yang sempurna bagi dirinya dan kehadiran orang asing sebagai pasangan adalah teman seperjalanan dan rekan bekerjasama. Cinta buta, minimnya informasi dan 'ekspektasi' berlebihan membuat kita lupa bahwa kehidupan lajang dan pernikahan hanya dibedakan oleh selembar surat catatan pernikahan dan buku nikah. Kita dibutakan dengan terang-terangan oleh ekspektasi sendiri. 

Baca juga: Cinta itu Luka, Mahal dan Rasis

Jika ada seseorang mengatakan bahwa menikah adalah sebuah keputusan paling berani, kupikir pendapat itu betul. Karena kita berani mengambil keputusan untuk hidup dengan orang asing dan memikul tanggung jawab berat untuk bekerja sama menjalankan dan menjaga pernikahan untuk tetap sesuai dengan mimpi bersama. Banyak hal harus dikomunikasikan dan dikompromikan. Banyak kebiasaan harus diubah dan disesuikan dengan kebutuhan menjaga kebersamaan. Banyak tanggung jawab baru harus diemban sehingga menguras lebih banyak waktu, energi dan biaya. 

Buat siapapun yang saat ini merasa takut menikah karena membaca kisah #layanganputus atau kisah lain atau pernah mengalami hal traumatis, bersabarlah dalam proses belajar. Percaya atau enggak, menurutku menikah itu sama dengan bekerja. Sebagaimana bekerja, saat menikah kita masuk ke dalam sebuah sistem dengan aturan tertentu yang harus dijalani agar tujuan pernikahan tercapai dan kita mendapatkan bonus berupa kebahagiaan. Saat ini, setelah mengalami trauma dalam hubungan pacaran dan perceraian kedua orangtuaku 29 tahun silam, aku sedang berusaha meyakinkan bahwa pernikahan yang kelak akan kujalani bukan jenis pernikahan yang menakutkan dan berbahaya. Aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa karena aku telah berupaya menjadi pribadi yang baik, maka aku bisa mendapatkan pasangan yang baik dan pernikahan yang kelak kujalani bisa dijalani dan dirawat dengan baik. 

MENIKAH UNTUK BERPISAH? 
Nyaris semua orang terbius dengan sihir bahwa sekali menikah maka bahagia sampai selamanya, dan hanya maut yang memisahkan. Romantis sekali, bukan? Karena sihir cinta ini begitu kuatnya membelenggu pikiran dan hati umat manusia, nggak heran kalau kita masih enggan mengakui dan menerima fakta di lapangan bahwa nggak semua pernikahan itu happy ending atau happily ever after lho. Bahkan, banyak orang malah jadi miskin, stress, sengsara atau mati dibunuh pasangan. 

"Setelah baca thread #layanganputus Gua makin berambisi untuk menjadi wanita independent sepenuhnya, no one I can trust except God in this world, even the love one would still betray you no matter what." demikian tweet Alya di Twitter. 
"Don't judge people by her/his religion. Because Iman isn't stable. Me, You, He, and She can't guarantee our Iman every single second is always a good position. Don't trust people who love you but trust people when he/she hurt you." Kali ini tweet dari Araa. 
"Marriage is not easy. Make sure you choose your partner right since you have to spend the rest of your life with him. #layanganputus makes me wondering is he the right one for me to spend my whole life with?" Tweet dari Ai. 
"My trust issue getting worse after read #layanganputus. I can feel the pain. So? I am trying myself for being independent in many ways." tulis Mb Dhea.
"Marrying doesn't scare me. Marrying the wrong person does. For what reason, a person who cheating is sick." tweet FA. 
"My trust issue is getting worse after reading #layanganputus. To prepare for the worst, I won't stop working and saving." ujar Fireytika. 

Menurutku Indonesia dan orang Indonesia itu lucu. Disaat sekelompok orang begitu menggebu-gebu melakukan kampanye pernikahan dini agar anak-anak muda terhindar dari melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, disisi lain angka perceraian meningkat pesat. Data BPS menunjukkan bahwa sepanjang 5 tahun yaitu 2010-2015, angka perceraian di Indonesia naik 15-20% (dari 285.184 gugatan cerai pada 2010 naik menjadi 347.256 gugatan cerai pada 2015) dengan penggugat cerai 70% perempuan dan 30% lelaki. Artinya ada 40 sidang perceraian setiap jamnya! Perceraian ini dipicu 4 faktor, yaitu: hilangnya cinta dan hubungan yang sudah tidak harmonis; pasangan tidak bertanggung jawab; kehadiran pihak ketiga; dan persoalan ekonomi atau finansial. 
Lima alasan utama pasangan memilih bercerai. Ternyata cinta nggak abadi ya?

Pada 2017, Ditjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung menyatakan terdapat 364,163 gugatan cerai yang disebabkan oleh lebih dari 15 alasan mulai dari pasangan yang mabuk, berzina, berjudi, poligami, dipenjara, cacat tubuh, KDRT, percekcokan, pindah agama, kawin paksa dan sebagainya. Data lain malah menyebutkan bahwa angka perceraian tahun 2017 sangat tinggi, yaitu mencapai 415.898 kasus di mana faktor penyebab perceraian adalah masalah ekonomi. Pada 2018, angka perceraian naik lagi menjadi 419.268 kasus. Ini baru perceraian yang dicatat secara hukum karena dilakukan melalui persidangan. Kita nggak tahu jumlah perceraian yang dilakukan tanpa proses pengadilan atau perceraian hasil nikah siri yang banyak dilakukan orang Indonesia. 

NASEHAT PERCINTAAN BAGI PARA LAJANG YANG KEBELET MENIKAH
Pernikahan adalah sumber kebahagiaan. Prett! Nggak semua pernikahan mendatangkan kebahagiaan karena banyak pernikahan juga diawali dengan kebohongan, tipu muslihat, pemaksaan, transaksi jual beli calon pengantin, hingga pemerkosaan. Cerita-cerita indahnya pernikahan memang masih sangat layak dijadikan acuan agar kita memiliki pandangan positif bahwa pernikahan bukanlah sejenis hukum yang mengekang dua manusia, melainkan sebagai bentuk kerjasama yang berlandaskan kepercayaan, cinta dan kasih sayang. Pernikahan juga memiliki banyak landasan mulai dari agama hingga budaya. Maka tak heran jika banyak sekali faktor yang mempengaruhi pernikahan. 

"Akhirnya aku menikah, yeaaaa!"  adalah salah satu bentuk euforia berlebihan terhadap pernikahan. Terutama bagi perempuan yang sejak kecil dididik untuk menjadi perempuan baik-baik agar ada yang menikahi, seakan-akan menikah adalah tujuan tertinggi dari kehidupan. Padahal, peristiwa akad nikah misalnya adalah permulaan dari sebuah kerjasama panjang bernama pernikahan. Tujuan setiap manusia di muka bumi adalah mati dan bertemu Sang Pencipta, bukan menikah. Sebab menikah hanyalah salah satu fase hidup yang bisa dilewati oleh siapapun yang menginginkannya dan sanggup menjalaninya. Jangan menuhankan pernikahan, karena ia hanyalah alat, bukan tujuan. 

Kisah #layanganputus memberi kita pelajaran sangat berharga, bahwa lelaki yang tidak menyentuh perempuan sebelum pernikahan belum tentu setia saat menikah; bahwa perempuan yang menemani perjuangan sang lelaki dari nol dan memberinya anak-anak belum tentu tetap dicintai selamanya; bahwa cinta berbasis ridho Allah pun bisa pudar seiring waktu; bahwa cinta pasangan bisa ambyar saat hatinya terpaut sosok lain yang dianggapnya begitu mempesona; bahwa kehidupan pernikahan itu nggak seindah cerita-cerita dongeng yang sangat kita candui itu. Serem kali ya? 

"Tapi orangtua kita bisa langgeng tuh pernikahannya."
"Tapi orangtua zaman dulu bisa sampai kakek nenek tuh."
"Ah orang zaman sekarang mah manja, ada masalah dikit langsung cerai!"
"Inilah akibat pengaruh buruk budaya barat dan feminisme dan liberalisme!"
"Wah, pertanda kiamat ini. Dikit-dikit cerai, dikit-dikit selingkuh. Pusing ah!"

Pembaca nggak asing kan dengan komentar-komentar julid jenis demikian? Seakan-akan komentar tersebut menjadi tolak ukur bahwa moral manusia zaman sekarang jauh lebih rendah dan berbahaya dari moral manusia zaman bahuela. 

By the way, pembaca percaya ya bahwa pernikahan langgeng orang zaman dulu karena mereka saling cinta dan saling setia? Kalau aku sih nggak percaya. Cara berpikirnya sebenarnya sederhana aja: bahwa sejarah adalah peristiwa yang berulang. Bedanya hanya di waktu, pelaku dan instrumen yang mendukung peristiwa tersebut sesuai dengan masanya masing-masing. Coba deh ingat-ingat bahwa orang zaman dulu tuh istrinya banyak. Kalau lelaki itu seorang Kaisar atau Raja atau Khan maka istrinya nggak mungkin 1 melainkan 10-10.000 orang. Ingat kisah Nabi Sulaiman aja istrinya 1000 orang. 

Ingat kisah para Raja entah dari Jerman, Inggris, Mongolia, Cina, Jepang, Afrika dan Majapahit. Mana ada Raja yang setia sama permaisurinya kalau dia mengambil banyak selir dan tidur dengan budak perempuan. Seringkali posisi permaisuri atau ratu tuh dipertahankan karena itu jabatan politik. Sangat jarang posisi Ratu diberikan karena urusan cinta sang Raja yang seiring sejalan dengan dinamika politik. Kesetiaan dan cinta itu privilege, karena lelaki dimanjakan oleh hak istimewa atas akses kepada seks dan tubuh perempuan, kepemilikan harta, jabatan politik, status sosial dan kontrol atas hukum. 

Kalau zaman kakek dan nenek kita pernikahannya langgeng, ya bukan berarti karena cinta atau kesetiaan juga. Pembeda pada masa itu dan masa sekarang adalah soal tersedia dan tidak tersedianya akses pada perbedaan pendapat, hak perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri; hak perempuan pada sumber daya alam, alat produksi, modal dan pasar; kebijakan negara terkait hak-hak perempuan; hingga kendali lelaki atas hidup perempuan. Dulu, seorang anak perempuan dianggap sebagai 'milik' ayahnya dan saat menikah maka ia menjadi 'milik' suaminya. Kata 'milik' disini bisa bermakna bahwa si lelaki diperbolehkan melakukan tindakan apapun pada si perempuan mulai dari memperlakukannya sebagai Ratu dengan penuh cinta dan kelembutan, atau memperlakukannya sebagai budak seks semata, atau menjadikannya pelayan, hingga menjualnya untuk industri seks. 

Dulu, anak perempuan dijual ayahnya sendiri untuk menjadi gundik dan saat menjadi gundik seorang lelaki, maka sudah tamat riwayat si perempuan untuk membebaskan diri. Dulu, banyak perempuan bertahan bahkan dalam pernikahan abusive karena jika bercerai ia tak punya keterampilan, penghasilan dan rumah untuk tempat tinggal. Mereka bertahan bukan karena  setia, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain selain bertahan atau mati.

Baca juga: Merebut Tafsir Tentang Istri yang Menyembah Suami 

Sementara saat ini, ketika banyak kebijakan lahir dengan perspektif ramah perempuan, maka perempuan sudah bisa menentukan nasibnya sendiri mulai dari pendidikan, pernikahan, hingga pekerjaan. Perempuan sudah berdiri sejajar dengan lelaki dan boleh mengakses apa yang diakses lelaki, boleh memiliki apa yang dimiliki lelaki, boleh mempelajari apa yang dipelajari lelaki, boleh memiliki aset dan kekayaan seperti lelaki, boleh bekerja di bidang apa saja mulai dari petani, dokter, pengacara, hakim, pilot, hingga astronot yang bekerja di NASA. Di zaman ini perempuan mendapatkan haknya untuk setara sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang sama, yang telah menciptakan lelaki. 

Saat ini perempuan berhak menikah dengan lelaki manapun yang dia inginkan dan berhak bercerai jika pernikahan yang dijalaninya tidak bahagia atau membuatnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau diselingkuhi pasangannya dan alasan lainnya. Karena memiliki akses terhadap finansial, perempuan zaman sekarang tidak perlu takut tak punya rumah atau kelaparan setelah bercerai. Sebab, sebagai manusia, perempuan memiliki hak dan kewajiban yang 'alami' untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan apa yang Tuhan berikan di bumi ini. 

Jadi, buat siapapun yang saat ini dibutakan oleh cinta dan kebelet menikah, please deh pertimbangkan ulang. Pernikahan itu bukan peristiwa sederhana sebagaimana kita beli baju di mall yang gampang dibuang kalau merasa nggak cocok trus beli yang baru. Pernikahan adalah bentuk perjanjian kerjasama berbasis hukum. Sehingga, yang harus dipahami sebelum memutuskan untuk menikah adalah kesiapan bekerja sama dengan partner kita yaitu calon suami/istri, beserta rombongan di belakang yaitu keluarga besar masing-masing. Karena pernikahan adalah kerjasama, maka cara kerjanya nggak jauh beda dengan bentuk-bentuk kerjasama lainya entah di perusahaan maupun pemerintahan. Bedanya cuma satu, bahwa kerjasama bernama pernikahan memiliki legalitas untuk melakukan hubungan seksual, itu saja. Soal hal-hal lain seperti anggaran belanja, teknik komunikasi, risk management system, produk yang hendak dibuat dan dipelihara, peningkatan kapasitas harian, bulanan dan tahunan, dan masih banyak lagi. Kalau pernikahan hanya diasosiasikan dengan kegiatan seperti pelukan, ciuman mesra, bercinta, dan berdua-duan sepanjang waktu yang bosen juga kali.

Pernikahan bukan sesuatu yang dijalankan mengalir 'begitu saja' dan apa adanya selayaknya air sungai mengalir dari pegunungan ke samudera. Pernikahan adalah 'sesuatu' yang memerlukan energi, kecerdasan, waktu, biaya, tenaga, pemikiran, dan kerjasama dalam menjalankan, merawat dan menjaganya

Trus gimana dong kita mempersiapkan pernikahan? Kalau soal ini aku juga sedang belajar sih karena aku kan jomblooooooo. Kisah-kisah pernikahan yang pernah kudengar, dan kisah Mommi ASF dalam #layanganputus memberiku banyak pelajaran berharga. Bahwa kita benar-benar nggak bisa bergantung pada cinta karena hidup nggak melulu tentang cinta. Bahwa kita juga nggak bisa memaksa seseorang untuk tetap setia meski kita telah memberikan yang terbaik yang dimiliki, sebab mungkin yang dia butuhkan bukan pasangan baik-baik melainkan pasangan yang sama bejat dan sama nakal dengannya. Jadi, buat apa kebelet menikah jika kita nggak bisa memastikan bahwa cinta akan selamanya mengikat hati kita dan pasangan untuk tetap bersama dalam segala kondisi. Dalam hal ini aku jadi ingat sejumlah pasangan (diantaranya selebritis) yang menjadi idola publik karena pernikahan mereka yang terkesan bahagia dan langgeng. Tapi kemudian, mereka mengejutkan kita karena bercerai saat pernikahan menginjak usia senja seperti 30 atau 50 tahun. 

Lalu, apa sih yang sebenarnya harus dilakukan para lajang yang kebelet menikah untuk menghindari pernikahan yang dipaksakan karena banyak faktor seperti kebelet nikah? Berikut jawabannya berdasarkan pembelajaranku: 

  • Manusia itu dilahirkan sendiri. Artinya Tuhan mau kita mandiri dalam banyak hal, termasuk dalam memenuhi kebutuhan primer berupa pakaian, makanan, dan tempat tinggal, dan terakhir kuota internet. 
  • Kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita, bukan orang lain. Jangan pernah menjaminkan kebahagiaan pada pasangan apalagi pernikahan. Jangan pula menunggu menikah untuk bahagia. Kalau nanti ditakdirkan mati muda bahaya dong menghadap Tuhan tanpa pernah merasa bahagia. 
  • Sayangi diri sendiri terlebih dahulu sebelum membagi kasih sayang pada orang lain. Misalnya ya merawat pikiran dengan membaca dan berpikir kritis, merawat jiwa dengan berpikiran positif dan merawat raga dengan banyak cara seperti ke salon, olahraga, makan makanan enak lagi bergizi, tidur yang cukup dan banyak senyum. 
  • Merdeka finansial. Yah bisa diraih dengan bekerja, berwirausaha atau menjadi bos. Yang pasti jangan pernah menggantungkan cara mengisi perut kita kepada pasangan, karena perut kita adalah tanggung jawab kita. Jangan takut nggak ada yang nikahin karena kita pekerja atau lebih kaya, karena jodoh siapa yang tahu ukurannya. 
  • Kembangkan hobi, karena selain membuat kita relaks, bahagia dan sibuk melakukan hal-hal positif. Hobi yang ditekuni juga bisa menghasilkan rupiah lho. 
  • Jangan terbebani usia terkait pernikahan. Iya sih kita sekarang sedang diberondong ajakan menikah dini untuk menghindari zina. Padahal satu-satunya cara untuk tidak menghindari zina yang tidak berzina, bukan dengan menikah dini. Sebab fakta lapangan menunjukkan mereka yang menikah tidak kebal dari berzina kok, bahkan membeli pelacur dan menularkan penyakit menular seksual pada pasangan sah. Jangan pula sedih belum menikah karena usia tua, karena banyak kok yang mendapatkan pasangan sejati karena bersabar menunggu pasangan yang tepat. 
  • Jangan pernah mengcopy kisah hidup orang lain untuk menjadi kisah kita sendiri, karena setiap orang hidup dengan pengalaman dan tujuan berbeda. Hiduplah sebagai diri sendiri dan terus tingkatkan kualitas agar menjadi versi terbaik diri kita. Satu-satunya pihak yang harus mendapat penghambaan kita adalah Tuhan. 

Sisanya dan nasehat yang paling krusial, monggo tanya saja pada banyak pakar percintaan dan pernikahan ya, yang pernikahannya sudah terbukti sukses dunia akhirat. Soalnya aku kan masih jomblo. Aku aja masih berjuang dapat calon pendamping yang potensial menyayangiku hingga akhir hayatku. Kalau pembaca mau bantuin aku cariin jodoh juga boleh.

Depok, 13 November 2019
Bahan bacaan:
https://www.merdeka.com/khas/indonesia-darurat-perceraian-tren-perceraian-meningkat-1.html
http://www.harnas.co/2018/06/28/angka-perceraian-masih-tinggi
https://kumparan.com/kumparannews/menteri-agama-angka-perceraian-di-indonesia-meningkat-1544179658506355359
https://news.detik.com/berita/d-4495627/hampir-setengah-juta-orang-bercerai-di-indonesia-sepanjang-2018


2 comments:

  1. Nikah siri gak butuh kelengkapan apapun mb...cukup saksi, wali mahar dan orang yg akan menikahkan...1 jam jadi....tdk ada pengurusan surat apapun...intinya laki2 itu mengikuti nafsunya yg dinungkus dng alasan syariat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakin mereka menikah siri dan bukan nikah yang sah secara hukum negara? Gimana kalau si lelaki mengaku sudah cerai dengan istrinya untuk bisa menikahi perempuan muda itu sehingga mereka nikah dan pernikahannya dicatat penghulu dari KUA? Karena kan di cerita ini hanya dari satu pihak alias Mommi ASF dengan cerita nggak lengkap pula.

      Delete