Seni Mengizinkan dan Menerima Orang Lain Membenci Kita Apa Adanya

Menunggu kabar baik ya selfie dulu dong biar nggak manyun


"Saya pegang ajaran Multatuli, bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia."

-Pramoedya Ananta Toer-

Sejak kecil aku selalu diajarkan untuk selalu menyayangi, mengasihi dan menghormati orang lain. Walaupun ada sejumlah kejanggalan dalam nasehat itu. Misalnya, aku diajari untuk membenci mereka yang berbeda suku dan agama. Telingaku tidak asing menangkap ujaran kebencian pada orang dengan agama tertentu hingga dewasa. Ya, aku dibesarkan dengan pemahaman tersebut. Dulu aku sih menerima saja nasehat tersebut, toh di lingkunganku hanya segelintir saja orang berbeda agama. Kalau berbeda suku ya lumrah lah. Kecuali ada sejumlah guru di sekolah yang memang berbeda agama. Namun perbedaan tersebut tidak memberi pengaruh apa-apa, karena sebagai mayoritas hidupku happy dan baik-baik saja. 

Saat masuk SMA kemudian kuliah, berbagai pemahaman tentang anti perbedaan kembali menyapa hari-hariku. Kalau bullying antar suku sih udah makanan sehari-hari dan kami menganggapnya sebagai guyonan saja. Namun, jika berkaitan dengan keyakinan lain lagi. Hal ini dimulai ketika aku mengikuti kajian yang gurunya berasal dari partai dakwah A. Karena mengaji dengan mereka, aku mulai membaca buku dan majalah yang semakin mendekatkan pemahaman tentang Islam harus memenangkan kursi kepemimpinan dan dominan dalam membuat keputusan politik. Kami dicekoki berita-berita perang di luar negeri yang menggambarkan kondisi umat Islam yang mengenaskan. Kami juga dicekoki oleh cerita-cerita tentang perang pemikiran atau ghazwul fikri. Kami didoktrin oleh pemahaman bahwa siapapun yang buka orang Islam maka dia adalah musuh Islam. Jihad adalah cita-cita mulia yang ditanamkan di benak kami. 

"Aku bersumpah nggak akan pernah menginjakkan kaki di rumah orang Kristen! Nggak akan pernah pula aku mengizinkan orang Kristen masuk ke rumahku," ujar seorang kakak tingkatku geram. Aku syok mendengar pengakuan itu, tapi hanya mampu diam. Aku bingung harus berkata apa untuk membantahnya. 

Zaman itu, sekira 2003-2005 sedang gencar-gencarnya isu Kristenisasi melalui berbagai metode mulai dari pemberian sembako hingga mengirim jin kafir agar orang Islam kerasukan. Aku menyaksikan sendiri bagaimana teman-temanku terkapar di Musholla menyebut nama "Y" dan mengabarkan cerita tentang kehancuran umat Islam. Aku termasuk yang sering membantu teman-temanku diruqyah untuk terbebas dari sihir. Sampai-sampai ada seorang teman harus kutemani tinggal di kosannya karena katanya di bisa melihat hantu. Waktu itu aku belum paham bahwa hal-hal tersebut bisa ditangani secara psikologis. Anehnya waktu itu nggak ada Psikolog yang turun tangan. Sehingga aku percaya saja bahwa benar umat Islam sedang diserang dari mana-mana untuk dihancurkan. 

Tahun berganti dan sampailah aku pada masa sekarang di mana hoaks bertebaran di media sosial dan orang-orang dengan mudah mengumbar ujaran kebencian. Kini, kebencian bukan hanya ditujukan pada mereka yang berbeda suku, agama, cara berpakaian dan pilihan politik. Orang satu keyakinan pun saling bermusuhan jika berbeda pandangan atas sesuatu. Kasus Ahok, jenazah yang ditolak dishalatkan, kaum minoritas yang diusir dari kampung halamannya, ibadah kelompok lain yang dibubarkan paksa, saling mengkafirkan satu sama lain, hingga ancaman pembunuhan pada Presiden. Ngeriiiiii. 

Aku pun dibenci oleh sebagian kalangan karena mempromosikan pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Aku dituduh liberal, mendukung perzinahan, seks bebas dan LGBT; hingga dianggap tidak percaya hukum Allah. Pada awalnya aku sabar meladeni perdebatan demi perdebatan idiot dan melelahkan, karena mereka yang mengajakku berdebat dan membenciku sesungguhnya bukan tipe yang suka membaca dan mencari tahu. Melainkan kelompok yang multak mengugu dan meniru apa kata guru, padahal guru agama atau ustadz belum tentu paham perihal RUU PKS ini jika tidak pernah ambil bagian dalam pembahasannya. Yahhh, daripada aku jadi gila meladeni orang-orang malas membaca tapi hobi berdebat  dan menuduh orang lain kurang iman, aku depak saja mereka dari lingkaran pertemananku di jagat maya. Aku nggak butuh berdebat dengan orang sok pintar dalam beragama tapi nihil dalam proses belajar. Memangnya siapa yang tahu apa yang sebenarnya Tuhan mau. 

Aku tidak membenci mereka yang berbeda denganku, bahkan jika berbeda keyakinan. Jika Nabi Muhammad saja tidak bisa memaksakan orang lain untuk menerima Islam sebagai agamanya, lalu bagaimana manusia sepertiku merasa berhak memaksa orang lain sama keyakinan denganku? Selama melakukan banyak pekerjaan penelitian di lapangan, aku seringkali tinggal atau live in di rumah orang yang berbeda agama entah Kristen atau Hindu. Mereka menerimaku, memberiku makan, menjadi ojek harianku, menjadi pendamping lapangan, mengantarku kemana-mana, mengizinkan aku shalat di rumah mereka dan tidak segan bercerita ini itu tentang kehidupan mereka kepadaku. Tidak ada alasan bagiku untuk membenci mereka, sebab Tuhan pun memberi mereka kehidupan yang bahkan aku tak mampu memberikannya. 

Pada akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa aku nggak bisa menjadi pahlawan yang menyenangkan hati semua orang. Aku juga nggak bisa menyelesaikan masalah sosial yang bejibun dengan tanganku sendiri. Memangnya siapa aku, punya jabatan dan wewenang aja enggak. Aku kemudian berpikir untuk konsisten saja bersuara dengan tulisan karena tulisan bisa sampai kemana saja dan menyasar banyak kelompok. Aku berusaha melupakan hinaan, cacian dan prasangka yang dituduhkan kepadaku. Aku ingin fokus menjalani misiku agar sebagai manusia aku nggak merasa sebagai benalu di bumi ini. Aku ingin karyaku dan hasil kerjaku bermakna. Salah satu caranya adalah tidak ambil pusing terhadap segala hinaan dan cacian yang ditujukan padaku. Melainkan fokus pada potensi, kesempatan, karya dan kerja. 

Depok, 17 November 2019


1 comment: