Sejak Kecil Hingga Usia 23 Tahun Aku Diajarkan Membenci Agama Lain

Ilustrasi manusia dengan iman yang berbeda-beda


"Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" 
(Q.S. Yunus: 99)


Halo, selamat membuka hari dan apa kabar? Hari ini aku mau cerita pengalaman paling mengganggu terkait pandangan spiritualku. Aku lahir dari sebuah keluarga percampuran suku Jawa dan Sunda, tinggal di lingkungan heterogen dengan suku Sunda, Jawa, Minang, Semendo, hingga Batak; sebagian besar beragama Islam. Kampungku adalah kampung transmigrasi di Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Kampungku itu berbasis pertanian dan kehutanan, udaranya sejuk dan cenderung dingin kayak di puncak. Hidupnya di sana santuyyyyy. Aku tinggal di kampungku sejak berusia 0-18 tahun. Setelah lulus SMA aku merantau untuk melanjutkan kuliah dan bekerja, hingga saat tulisan ini dibuat. 

Dari banyak cerita mengenai hidupku, kali ini aku mau bicara soal iman dan agama, dan pengaruhnya dalam memandang mereka yang berbeda. Keluargaku sangat konservatif. Ayahku yang keluarga Sunda percaya bahwa nilai-nilai Sunda dan Islam adalah yang terbaik, sementara keluarga ibuku yang Jawa percaya bahwa nilai-nilai Jawa dan Islam adalah yang terbaik. Lingkungan belajarku identik dengan Islam meskipun aku nggak pernah belajar di Pesantren. Hanya sejumlah guru dan tetangga yang berbeda agama. Meski demikian nggak ada rumah ibadah agama lain di kampungku, hanya Masjid. 

Sebagai seorang Muslim sejak lahir, aku memang diajarkan bahwa Islam adalah agama yang benar dan sebagai penyempurna agama-agama yang pernah ada di bumi. Aku menerima itu dan berusaha menjadi Muslim yang baik. Namun, dalam proses pembelajaran itu juga aku diajarkan untuk membenci manusia lain dengan keimanan yang lain, misalnya Kristen, Hindu dan orang China. Aku dilarang untuk bergaul dengan mereka, makan makanan mereka, memeluk mereka dan main ke rumah mereka. Seakan-akan jika ada persentuhan dengan mereka aku akan menjadi kafir secara otomatis. Ya, aku sih menerima saja peraturan itu, meski ada setumpuk pertanyaan di kepala, pertanyaan kepada Tuhanku tentang mengapa manusia harus memiliki keimanan berbeda. Aku tidak bertanya kepada manusia, karena aku tahu mereka akan memberi jawaban yang membuatku semakin memiliki banyak pertanyaan daripada sebelumnya. 

Sejak kecil aku memiliki banyak pertanyaan tentang Tuhan. Misalnya, saat setiap pukul 5.30 WIB aku menjalankan tugasku menyapu halaman rumah, aku selalu terdiam, berhenti sejenak mengagumi perubahan warna langit. Sebagai anak kecil aku bertanya apakah Tuhan ada diatas ketinggian sana atau bagaimana? Aku mengagumi fajar di langit timur, yang menyembul diantara dua bukit yang berwarna biru gelap, kembali bertanya apa yang Tuhan lakukan atas warna langit yang berubah. Juga sebuah benda langit, sesekali bulan tidak sempurna dan saat lainnya adalah Venus. Aku sangat suka mendongak ke langit, menyapa Tuhanku dengan cara kekanakan yang sangat menyenangkan. Aku percaya, Tuhan pasti lah keren. 

Ketika aku diajarkan untuk tidak memakan makanan yang dimasak orang Kristen atau memasuki rumah orang Kristen, aku menurut saja. Lagipula orang Kristen yang kukenal adalah guru bahasa Inggris di sekolah semasa SMP yang tinggal di rumah fasilitas dari sekolah, juga guru olahraga semasa SMU. Tak ada guru atau siapapun lagi dengan agama lain. Ajaran ini membekas kuat dalam memoriku, hingga semakin parah saat aku kuliah. 

Saat itu, selain kuliah aku juga aktif di organisasi kampus berbasis Islam. Doktrin tentang kebencian pada mereka yang beragama lain atau bersuku China semakin intens dan menguat. Terlebih saat itu sedang booming isu Kristenisasi berbasis sihir, sehingga belasan temanku seringkali kesurupan dalam kondisi itu mereka memanggil-manggil Y sebagai Tuhan orang Kristen. Aku menyaksikan keadaan ini dan menolong temanku yang kesurupan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an di telinga kanan mereka. Aku merasa ini aneh dan aku terus bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban. Semua pernyataan dan ajaran tentang keimanan ini semakin membuat jarak antara pertanyaan pada jawaban semakin lebar saja, seperti dua bukit yang dipisahkan jurang nan dalam. Dalam keadaan ini aku hanya bisa bertanya kepada Tuhanku dalam hati dan pikiranku, aku membutuhkan jawaban bukan sebagai bentuk kebencian atas perbedaan iman atau ibadah atau lainnya; melainkan sebenar-benar logika perbedaan dalam kehidupan. Sebab, perbedaan itu kehendakNya. 

Aku kemudian memutuskan untuk keluar dari lingkaran 'seiman' dan masuk ke dunia yang sama sekali berbeda, yang sesungguhnya telah eksis sebelumnya sebelum aku mengurung diriku dalam dunia dengan doktrin homogen. Aku melakukan penelitian lapangan, menginap di rumah orang Kristen atau Hindu, dan memakan makanan yang mereka suguhkan dan shalat di rumah mereka. Aku diterima oleh mereka yang memiliki keimanan berbeda denganku dan mereka memenuhi kebutuhanku, dan kami tidak pernah membicarakan agama kami masing-masing. Aku pun beberapa kali ke Bali dan seringkali bercengkerama dengan orang Hindu dan mereka sering mengantarku ke tempat makanan halal dijual, atau tinggal di rumah teman Katolik yang mengizinkan aku shalat di rumahnya. Kurasakan perbedaan nggak berbahaya. 

"Aku bersumpah nggak akan menginjakkan kaki di rumah orang Kristen! Aku juga bersumpah nggak akan mengizinkan orang Kristen masuk ke rumahku!" kata seorang teman berapi-api, sekitar 12 tahun silam. Kata-katanya menjadi sumber perubahan besarku dalam memandang orang Kristen, karena meski keimanan mereka berbeda denganku, mereka adalah manusia. Aku nggak berhak membenci atau menyerang mereka hanya karena aku Muslim dan mereka Kristen. 

Namun, karena doktrin itu telah diberikan kepadaku sejak kecil, maka pemahaman itu masih menempel. Setiap kali aku bertemu teman-teman atau siapapun yang berbeda agama denganku, otomatis ingatanku lari ke masa-masa kecil di mana aku didoktrin untuk menganggap mereka kafir. Susah sekali untuk menolong diriku melepaskan diri 'racun' ini dan meyakinkan diriku bahwa perbedaan ini bukan tanggung jawabku, melainkan hak Tuhan. Susah sekali membuatku bisa menemukan kesadaran penuh bahwa mereka beda karena banyak faktor, mulai dari keturunan, suku bangsa, geografis dan banyak lagi. Doktrin masa kecil begitu hebatnya memenjara pikiranku. 

Meski demikian, aku sudah tidak lagi memiliki kebencian kepada mereka yang berbeda. Sudah bertahun-tahun aku menerima perbedaan yang paling ekstrem sekalipun. Sebab sekarang aku sedang belajar beragama dengan perasaan bahagia dan penuh syukur. Dan sekarang, aku ingin memeluk sebanyak mungkin orang untuk mempererat hubungan kemanusiaan. Aku ingin kita semua saling mengasihi, apapun perbedaan yang menjadi latar belakang setiap orang. Soal perbedaan iman, biarlah Tuhan yang menentukan akhir dari nasib manusia. Karena hanya Dia yang Maha Mengetahui apa yang manusia tidak ketahui. Tugasku dan tugas semua orang saat ini adalah tidak menjadikan iman masing-masing sebagai landasan menghakimi iman orang lain dengan penuh kebencian. 

Jakarta, 25 November 2019

No comments:

Post a Comment