QR Standar untuk Transaksi Lancar, Nyaman dan Bebas Phishing

Bayar lancar dengan QR Standar. Photo: engadget.com


"Any sufficiently advanced technology is equivalent to magic." 
-Arthur C. Clarke-


Beberapa meter dari kosanku ada sebuah restoran Korea Selatan bernama blablabla. Asyik kan kalau aku lapar tinggal lari aja, pesan makanan plus minuman, makan enak di tempat dan kenyang. Kalau kenyang kan hati senang. Nggak perlu terbang ke Korea Selatan kalau ingin menikmati kuliner mereka yang kas dan sehat. Tapi sayangnya, sistem pembayaran masih manual; pesanan ditulis di nota dan pelanggan bayar dengan uang tunai. Boro-boro bisa dapat casback atau diskon selayaknya kalau aku pesan makanan via layanan pesan antar online yang sekarang sedang naik daun. Karenanya aku menjadi terheran-heran bukan kepalang, bagaimana bisa sebuah rumah makan modern di era Industri 4.0 ini masih menggunakan sistem pembayaran dan transaksi tradisional yang bahkan sudah mulai ditinggalkan pedagang di pasar tradisional dan warung kelontong. Bukankah sistem pembayaran tradisional malah menyulitkan manajer keuangan dalam melakukan pembukuan, rawan korupsi dan harus bolak-balik ke bank untuk setor tunai? I think it's so yesterday!

"Mas, kok nggak diadain pembayaran pakai Go-pay sih? Ribet amat nulis pesanan." iseng aku bertanya pada seorang pekerja yang menjadi kasir, petugas membuat minuman dan sekaligus pengantar makanan. Kerja keras sekali dia. 
"Enggak tahu, Mbak. Kita mah apa kata Bos aja," jawabnya sederhana, sembari menghitung uang kembalian. 
"Tapi itu yang pake Go-Food bisa?" aku mengalihkan pandangan pada dua orang berjaket Go-Jek yang sedang menunggu pesanan pelanggan. Sementara pelanggan lain sedang asyik menikmati makanan dan minuman mereka. 
"Mereka bayarnya cash juga, Mbak. Kita belum kerjasama untuk bayar pakai Go-Pay," jawabnya. 
"Wah, kasihan juga kalau pesanan mereka banyak trus uang cash udah habis," ujarku.
"Ya gitu deh, Mbak. Kita kan hanya kerja. Soal begitu mah urusan Bos," pungkasnya.  

Padahal di sejumlah warung kecil di sebuah food-court tak jauh dari restoran Korea Selatan blablabla tersebut, mereka sudah menerima pembayaran menggunakan Go-Pay lho. Bayangkan saja aku membeli sepiring lontong sayur dan segelas es teh dengan total harga Rp. 28.000 bayarnya pakai Go-Pay, dapat cashback pula Rp. 5.000. Pokoknya, sejak menggunakan Go-pay aku jarang pegang uang tunai dan bolak-balik ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk menarik uang. Nah, untuk mengisi saldo Go-Pay pun aku langsung mentransfernya dari ponselku karena aku menggunakan mobile-banking, 5 menit beres deh. Sebagai orang yang malas merepotkan diri untuk urusan-urusan yang bisa diselesaikan dengan cara mudah, tentu saja aku mulai melatih diriku untuk beradaptasi dengan kecanggihan teknologi baik untuk transfer, pembayaran, belanja, dan lain-lain. Transaksi lancar dan nyaman begini membuat hemat waktu dan energi. 

Omong-omong, Go-pay merupakan satu-satunya dompet virtual yang kugunakan. Aku biasa menggunakan Go-Pay untuk membayar Go-Jek, Go-Car, Go-Food, Go-Send dan Go-Pulsa. Aku termasuk orang yang berhati-hati terkait transaksi digital karena alasan keamanan. Aku tidak mau jika menggunakan sejumlah dompet virtual demi mengejar diskon, data pribadiku terancam dicuri pihak yang tidak bertanggung jawab. Sekali dataku dicuri, habis aku!

Hal ini diperparah dengan semakin massivenya short massage service (SMS) yang masuk ke ponselku dengan berbagai modus. Yang mengherankan sebagian pesan dengan jelas menyebutkan nama lengkapku di awal kalimat. Kok bisa? Sebagai orang yang nggak sembarangan membagi nomor ponsel kepada orang lain aku menjadi semakin was-was. Darimana mereka mendapatkan nomor ponselku? Atau jangan-jangan dari transaksi online yang dalam formulirnya aku mencantumkan nomor ponselku? Walaupun setiap pesan yang masuk langsung kublokir, ini tidak menghentikan pesan-pesan aneh terus berdatangan. Bahkan pernah beberapa kali aku mendapatkan email yang berasal dari lembaga yang layanannya memang kugunakan seperti bank, padahal update soal banking bisa dilakukan melalui ponsel. Utung saja aku bersikap skeptis alias berhati-hati. Kalau tidak mungkin dataku sudah dicuri. Hm, tapi soal SMS-SMS yang mengganggu itu apakah menjadi sebuah pertanda bahwa data pribadiku sudah dicuri? Duh, aku semakin merasa ngeri deh!

Jujur saja, meskipun aku sangat mengapresiasi kemajuan teknologi digital yang ajaib hingga merambah ke pembayaran, aku tetap was-was. Aku selalu dihantui kekhawatiran menjadi korban phishing/pengelabuan. 

"PHISHING" DALAM TRANSAKSI DIGITAL BUKAN MASALAH KALENG-KALENG! 
Phishing adalah aksi kejahatan di dunia maya yang memanfaatkan email untuk mengecoh ketelitian dan kewaspadaan masyarakat digital, dengan tujuan untuk mencuri data pribadi korban seperti password, username, hingga nomor kartu kredit. Biasanya, pelaku phishing akan mengirimkan email kepada korban seakan-akan email itu berasal dari lembaga yang layanannya digunakan korban seperti bank atau fintech. Modus umum yang dilakukan adalah dengan mengirimkan kode verifikasi atau link yang harus di buka oleh korban. Link yang dikirim ke email korban biasanya disisipkan program jahat seperti Trojan-Downlader.JS.Agent yang secara total mengancam keamanan komputer si penerima.

Anti-Phishing Working Group menyatakan bahwa setiap bulannya ada 100.000 laporan serangan phishing dan ribuan orang diantaranya masih saja menjadi korban. Aaron Higbee, seorang chief technology officer di sebuah perusahaan bernama PhisMe menyatakan bahwa para pelaku phishing pastilah orang-orang sangat cerdas dan menguasai psikologi pemasaran. Ketika kita paham bahwa membuka link dari pengirim tak dikenal menyimpan bahaya, maka mereka mengirim email dari pengirim yang seolah-olah teman kita atau bank tempat kita menyimpan uang sehingga kita tak berpikir ulang bahwa itu scam, dan karena permainan emosi itulah kita menjadi korban empuk mereka 
Yuk pelajari jenis-jenis kejahatan siber yang menyasar kegiatan digital kita. 

Kejahatan siber jenis phishing semakin menggila seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam aktivitas manusia. Pada Oktober 2019 perusahaan keamanan siber Kaspersky merilis laporan yang mengejutkan, bahwa dalam 6 bulan pertama 2019 telah ada 14 juta percobaan phishing di Asia Tenggara. Dari data tersebut, sebanyak 11 juta serangan menyasar Vietnam, Malaysia dan Indonesia. Angka korban phishing di Indonesia meningkat dari 10,719% pada 2018 menjadi 14,316% pada pertengahan 2019. Pihak Kaspersky menilai bahwa tingginya serangan phishing di Asia Tenggara karena dipengaruhi besarnya populasi penduduk muda alias millennial yang memiliki gaya hidup mobile. Penggunaan gadget yang tinggi tidak diiringi dengan pemahaman tentang pengelolaan keamanan siber untuk mendapatkan perlindungan virtual. 

Kasus yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah pemalsuan situs E-Commerce. Situs cyberthreat.id merilis sebuah temuan pada 19 November bahwa para penjahat siber baru-baru ini telah mendaftarkan 100.000 domain yang mirip dengan situs website resmi ritel besar. Hal ini merupakan serangan besar-besaran seiring dengan meningkatnya jumlah E-Commerce di seluruh dunia, sehingga penjahat hendak meraup untung berlipat dengan mencuri data pelanggan dan data keuangan. Bahkan situs web yang menggunakan HTTPS yang selama ini dianggap aman saja ternyata menjadi sasaran empuk untuk mencuri login sensitif pengguna. Bayangkan saja, salah satu E-Commerce top di Amerika Serikat bisa memiliki 45.900 domain yang mirip, disusul Inggris 13.848, Jerman 7.057, Australia 2.000 dan Perancis 1.569. Sementara di Indonesia, bukan hanya situs E-Commerce seperti Bukalapak yang pernah diserang dan rugi hingga Rp. 70.000, melainkan juga situs resmi milik pemerintah seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Selain itu, 'kematian' era globalisasi dan 'tumbuhnya' era digitalisasi harus dilakukan dengan melakukan digitalisasi sistem perbankan, mengingat banyaknya praktek shadow banking atau lembaga keuangan non-bank yang bertindak seolah bank. Tahu kan shadow banking apa? Itu lho fintech yang akhir-akhir ini menjadi tempat masyarakat melakukan peminjaman dana. Karena banyak masyarakat yang menjadi korban, harus dibuat regulasi untuk mengontrol perkembangan fintech agar tidak berbahaya bagi masyarakat. 

Jika kejahatan siber separah ini, artinya penggunaan uang elektronik dan dompet virtual nggak aman dong? Padahal masyarakat selalu dijanjikan tentang produktifitas, efektifitas dan kemananan bertransaksi dengan uang elektronik menggunakan dompet virtual. Terlebih, kita seperti sedang bergembira menyambut kemajuan peradaban modern sebagai cashless society, yang telah jauh melampaui masyarakat barter plus masyarakat zaman batu. Transaksi non tunai memang memiliki banyak kelebihan seperti terhindarnya penggunaan uang palsu, transaksi jadi efektif dan efisien, menurunnya anggaran untuk mencetak uang kertas, dan pemerintah bisa dengan mudah memantau tren penggunaan uang di masyarakat. Namun demikian, kita nggak boleh lengah terhadap kejahatan siber karena sangat merugikan.

Hal lain yang perlu kita bahas adalah tentang QR code dan keamanan sistemnya dari masing-masing penyedia layanan dompet virtual. QR code ini merupakan evolusi dari barcode atau code batang dengan kemampuan menyimpan data yang lebih besar. QR code ini dikembangkan di Jepang oleh Masahiro Hara dari Denso Corporation pada 1994, yang kini telah mendapatkan standarisasi internasional  dengan nomor ISO/IEC18004 dan standarisasi Jepang bernomor JIS-X-0510. Meski awalnya QR code ini lebih banyak digunakan di industri manufaktur, kini telah menjadi terminal pembayaran dalam transaksi keuangan. Sederhananya QR code payment ini adalah sistem pembayaran tanpa persentuhan langsung dengan alat pembayaran seperti uang, dan digantikan dengan melakukan scanning QR pada aplikasi seperti yang selama ini lazim kita lakukan melalui ponsel. QR Code payment ini sebenarnya merupakan terminal pembayaran yang mudah dan telah menghilangkan sejumlah infrastruktur dalam pembayaran sebagaimana jika menggunakan kartu yang membutuhkan alat penggesek.

Awalnya, QR payment dikembangkan oleh Tencent Holdings, pendiri WeChat di China, yang kemudian diadopsi oleh AliPay dari Alibaba dan dibawa ke Amerika oleh Evan Spiegel, pendiri SnapChat yang membeli QR Reader bagi pengguna Apple dari sebuah start-up bernama Scan. Spiegel kemudian mempersenjatai SnapChat dengan QR Code dan memperkenalkan Snapcode yang sangat populer pada 2015. Saking populernya, pihak Gedung Putih menggunakan Snapcode untuk mempermudah warga Amerika Serikat mengakses informasi dengan cara yang begitu lancar, nyaman dan modern. 

Ternyata, jika QR Code dipecah maka terdapat enam bagian utama pembentuk teknologi pemindai canggih tersebut, yaitu: 1) Position Markers, untuk mengidentifikasi di mana ujung kode batang tersebut: 2) Timing Patters, untuk mengidentifikasi posisi baris dan kolom:  3) Version Number, untuk mengidentifikasi penomeran dari kode: 4) Format, untuk mengidentifikasi tipe konten, seperti link atau teks: 5) Alignment Marker, untuk mengidentifikasi titik seimbang: dan 6) Data in Modules, untuk membantu pemindai mengekstraksi data yang disimpan QR Code. Wah, canggih sekali ya!   

Setelah QR Code Payment booming di China, Amerika Serikat dan India, kini kaum urban Indonesia juga sedang keranjingan melakukan transaksi dengan scanning QR Code. Di meja pembayaran/kasir restoran, lapak minuman, kafe, coffee shop, department store, hingga donasi sosial dan zakat sudah pakai QR Code. 

Kabar buruknya, scanning QR Code dalam pembayaran atau transfer online nggak dijamin aman lho. Karena secara teknis ada celah untuk penjahat mengganti atau memalsukan QR Code. Nah, jika kita memindai QR Code palsu ini maka secara otomatis kita akan masuk ke situs-situs yang melakukan eksploitasi data bahkan mengandung virus. Pengaman QR Code hanya PIN tanpa pengaman tambahan sehingga sangat lemah dan mudah dibobol. Praktek sabotase QR Code ini juga dianggap mudah dilakukan para penjahat mengingat bahwa mata manusia nggak bisa membedakan QR Code asli dan palsu. Kasus seperti in i pernah terjadi di China tahun 2017 silam, di mana penipuan QR Code telah merugikan konsumen senilai Rp. 188 miliar. Sabotase QR Code tersebut disebut-sebut karena sebaran virus dan malware sebanyak 23% yang tersebar di QR Code milik AliPay dan WeChatPay.  Euforia rakyat Cina dalam menggunakan QR Code untuk pembayaran dan transaksi keuangan online dipengaruhi oleh Alibaba dan Tencent Holdings yang sedang menggarap ekosistem cashless di China. Kesibukan kedua raksasa teknologi di China dalam proyek ambisius tersebut mendapat kecaman keras publik karena dianggap lalai memastikan keamanan pada layanan sistem pembayaran yang mereka miliki. 

Kasus-kasus inilah, terutama di China dengan kerugian teramat besar yang mendasari pemerintah Indonesia gerak cepat untuk membuat QR standar yang inklusif agar sistem pembayaran terintegrasi di satu sistem keamanan. 

AKHIRNYA, BANK INDONESIA MELUNCURKAN QR CODE STANDAR INDONESIA
Dalam rangka menjawab tantangan keamanan siber dalam transaksi digital, Bank Indonesia (BI) selaku Bank Sentral meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang berstandar internasional pada 17 Agustus 2019. Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur No. 21/18/PDAG/2019 Tentang Implementasi Standar Internasional QRIS untuk Pembayaran, maka setiap Penyedia Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) berbasis QR wajib menggunakan QRIS. Kebijakan ini menjadikan QRIS sebagai satu-satunya QR di Indonesia, sehingga PJSP yang menggunakan QR berbasis asing harus beralih dan wajib mengantongi izin QRIS paling lambat 31 Desember 2019. QRIS yang merupakan standar QR Code untuk pembayaran aplikasi uang elektronik, dompet elektronik dan mobil banking di Indonesia wajib digunakan PJSP mulai 1 Januari 2020. Sehingga, para PJSP yang masih menggunakan QR Code buatan asing akan ditertibkan.

QRIS mengusung semangat UNGGUL (Universal, GampanG,  Untung dan Langsung) yang bertujuan untuk mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM dan tujuan akhirnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia Maju. Apalagi kita akan menikmati bonus demografi pada 2030 dan menyongsong Indonesia Emas 2045. QRIS ini sendiri disusun oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dengan menggunakan standar internasional EMV co (yaitu lembaga yang menyusun standar internasional untuk QR Code sistem pembayaran) 

Implementasi transisi QRIS telah dilaksanakan sejak diluncurkan pada Agustus 2019 silam untuk merchant presented mode (MPM) yaitu gerai atau toko yang telah menggunakan QR untuk melakukan pemindaian QR Code. BI menilai standarisasi QR Code merupakan keharusan bagi Indonesia terutama ketika terjadi disrupsi sistem perekonomian digital. Selain itu, jika selama ini transaksi menggunakan QR Code hanya berlaku bagi produk tertentu. Misalnya Go-Pay hanya untuk membayar layanan dari Gojek, tapi tidak untuk layanan dari operator lain. Nah, dengan QRIS konsumen bisa mengakses layanan apa saja karena akan terkoneksi dengan berbagi perusahaan penyelenggara. Bahkan, QRIS sedang diupayakan bisa juga digunakan untuk melayani pembayaran digital di luar negeri sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh AliPay dan WeChatPay di China, serta PayTm dan BharatQR di India. Wah, pemerintah kita sekeren ini dalam memikirkan masa depan rakyatnya.

Lebih jauh lagi, pemerintah kan memiliki 3 strategi utama sistem pembayaran di era digital, yaitu: 1) Menetapkan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025: 2) Mendorong peningkatan elektronifikasi transaksi pembayaran; dan 3) Mendorong program persiapan online UMKM (on boarding UMKM) ke ekonomi digital. Nah, QRIS ini merupakan implementasi dari strategi pertama yaitu Visi Sistem Pembayaran 2025. Hal ini juga selaras dengan prediksi perkembangan ekonomi Asia Tenggara yang bakal tumbuh 3 kali lipat pada 2025 dengan valuasi USD 240 miliar. Dalam proyeksi tersebut, Indonesia telah dan akan tetap menjadi pasar Asia Tenggara dengan proporsi 40% dan akan terus bertumbuh. 

SUSAH SINYAL ADALAH KENDALA UTAMA PENERAPAN KRIS DI DAERAH
Hm, kirain cuma film yang "Susah Sinyal" ternyata penerapan QRIS juga di daerah-daerah dengan koneksi internet yang lambat bisa terhambat. Ya, namanya juga teknologi digital jelas butuh internet. Lalu, tantangan kedua terkait kecanggihan smartphone milik masyarakat. Ada yang level kecanggihannya dalam memindai secepat kilat, ada juga yang lamban dan susah. Nah, karena aku sudah mendapatkan banyak informasi mengenai QRIS. Maka aku main lagi ke restoran Korea Selatan dekat kosanku. Selain beli makanan favoritku, juga untuk menanyakan bagaimana pendapat mereka tentang QRIS. 

"Mas, udah tahu belum kalau BI meluncurkan QR standar buat sistem pembayaran?"
"Wah, apa itu Mbak?" tanya si Mas sembari membuat minuman pesananku.
"Memangnya resto ini nggak minat pakai pembayaran digital ya?"
"Wah, kalau itu tanya bos aja, Mbak. Saya mah apa kata Bos aja," jawabnya.
"Yahhh si Mas, kalau saya kurang uang kan nggak bisa ngutang. Kalau pakai dompet virtual kan gampang aja kalau saldonya kurang, tinggal transfer dari bank pakai M-banking."
"Yahhh gimana ya, Mbak, Bos saya kayaknya katrok deh hehehe," bisik si Mas. 
"Padahal per 1 Januari 2020 penggunaan QRIS sudah diwajibkan, lho. Masih mau pakai manual?"
"Nanti saya kasih tahu Bos deh, Mbak. Memangnya kemana cari informasinya?"
"Gampang, kan BI punya akun media sosial. Cek aja di sana," jawabku. 
"Oke deh, Mbak. Makasih ya buat informasinya."
"Sama-sama. #TransaksiLancarPakaiQRStandar!" pungkasku dan membawa minumanku. 

Hmm, kalau begini caranya sih rakyat jelata sepertiku nggak bisa memaksakan merchant harus menggunakan sistem transaksi manual atau digital. Sebab, yang mampu dan memiliki wewenang melakukan sosialisasi ya pemerintah. Kalau berbagi informasi seperti melalui tulisan ini sih oke lah, tapi kan aku nggak bisa mengukur ketersediaan orang untuk mengikuti program pemerintah yang bagus ini. Jadi, aku menambahkan bahwa kendala ketiga dari penerapan QRIS adalah belum meratanya sosialisasi di kalangan merchant agar #TransaksiLancarPakaiQRStandar dan semua berbahagia. 
Palapa Ring, mempersatukan bangsa secara digital dari barat sampai timur Indonesia 

Meski ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama, kita juga punya harapan. Pemerintah sedang mengupayakan pembangunan dan pengembangan infrastruktur digital demi memperlancar transaksi digital. Ada tiga hal yang harus dipenuhi agar transaksi digital berjalan dengan lancar, aman dan dinamis, yaitu: 1) koneksi internet yang lancar, murah dan merata di seluruh Indonesia; 2) meningkatnya literasi keuangan hingga 35% pada akhir 2019; dan 3) meningkatnya literasi digital. Agar ketiga hal tersebut terpenuhi, diperlukan proses edukasi yang berkesinambungan, terutama saat kita memasuki era jaringan 5G. Pemerintah telah melakukan perannya melalui Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Kerja-kerja berbagai pihak mulai menampakkan diri dengan terkoneksinya jaringan Palapa Ring sepanjang 36.000 km. Dengan jaringan tol langit Palapa Ring diharapkan seluruh wilayah Indonesia tidak ada yang merasa ditinggalkan dalam perkembangan teknologi, khususnya jaringan 
internet cepat dan murah. Indonesia Maju harus berjalan sesuai dengan perkembangan zaman. 

KESIMPULAN DAN HARAPAN YANG TAK PERNAH PADAM
Era digital yang ditandai dengan semakin massivenya transaksi online seperti pembayaran dan transakasi keuangan, membuat masyarakat manusia semakin menikmati euforia ekosistem cashless. Di tengah kesibukan yang tiada habisnya, terlebih di kota-kota mentropolitan, kita semakin dimanjakan dengan berbagai kemudahan dalam mengakses layanan seperti kendaraan, makanan pesan antar, transfer antar bank, hingga belanja online. Semua bisa dilakukan melalui ponsel pintar sembari bersantai bersama keluarga atau saat jam istirahat. Ponsel pintar kita merupakan benda ajaib abad ini dan yang diperlukan hanya QR Code, sebagai bentuk ajaib lain dari teknologi yang melakukan koding bukan saja angka, melainkan banyak informasi lainnya. Namun, pembayaran dengan scanning QR Code rawan sabotase seperti yang pernah terjadi di China yang kerugiannya sangat mencengangkan dan merugikan masyarakat serta iklim pembayaran digital. 

Dalam rangka melindungi Indonesia dari sabotase QR Code dan menyelamatkan ekonomi bangsa di ekosistem cashless ini, pada 17 Agustus 2019 Bank Indonesia meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai sistem pembayaran. Dengan QRIS, sistem pembayaran berbasis QR Code si seluruh Indonesia akan terintegrasi ke dalam satu sistem keamanan. Langkah maju ini diperkuat dengan pembangunan jaringan tol langit Palapa Ring dari wilayah barat hingga timur Indonesia untuk memberikan akses internet yang lancar, murah dan merata pada seluruh wilayah Indonesia. 

***
FesKaBI 2019

Dengan adanya QRIS hidup jadi lebih praktis dan manis. Karena satu QR untuk semua pembayaran. Transaksi lancar dengan QR Standar, hidup jadi santai kayak di pantai.

Tulisan ini aku ikut sertakan dalam "BANK INDONESIA BLOG AND VIDEO COMPETITION" ini diselenggarakan oleh BANK INDONESIA bekerjasama dengan PT. MEDIA TELEVISI INDONESIA alias Metro TV. Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Festival Edukasi Bank Indonesia (FesKaBI) 2019 dalam rangka mensosialisasikan QR Code Indonesia Standard (QRIS). Aku berharap, tulisan sederhanaku ini menjadi bagian dari upaya bersama BI, pemerintah, media, dan masyarakat luas dalam menyebarluaskan informasi mengenai QRIS, demi ekonomi Indonesia yang lebih baik. 

Depok, 20 November 2019
Bahan bacaan: 
https://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/SP_216219.aspx
https://www.wired.com/2017/03/phishing-scams-fool-even-tech-nerds-heres-avoid/
https://www.liputan6.com/tekno/read/4075499/14-juta-phishing-hantui-asia-tenggara-selama-paruh-pertama-2019
https://m.cyberthreat.id/read/3873/Hati-hati-Ada-E-Commerce-Palsu-Mirip-Website-Asli
https://m.cyberthreat.id/read/3879/Demo-Siber-dan-Dilema-Keamanan-Digital
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190308142700-83-375574/waspada-bahaya-mengintai-di-era-cashless-society
https://id.wikipedia.org/wiki/Kode_QR
https://en.wikipedia.org/wiki/QR_code_payment
https://tirto.id/qr-code-berawal-dari-kasir-menuju-digital-payment-cH3y
http://teknologibank.com/detailpost/pembayaran-dengan-qr-code
https://money.kompas.com/read/2019/08/22/201000126/bi--penyedia-jasa-sistem-pembayaran-berbasis-qr-wajib-gunakan-qris
http://koran-sindo.com/page/news/2019-05-28/0/0/ Pembayaran_Digital_Kian_ Dipermudah
https://republika.co.id/berita/pwzi1d383/melawan-praktik-emshadow-bankingem-dengan-integrasi-tekfinbank
https://infobrand.id/bank-sentral-bidik-ekonomi-digital-sebagai-sumber-pertumbuhan-baru.phtml
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181128150502-185-349939/peranan-qr-code-ancaman-keamanan-di-balik-kemudahan


2 comments:

  1. Tulisan yang sangat menarik, mudah dipahami, dan sangat informatif. Thank you!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih lho sudah membaca tulisan sederhana ini dan atas apresiasinya juga.

      Delete