Populer, Powerful sekaligus Kontroversial, Sebaiknya Ustadz Abdul Somad Memulai "Green Dakwah" untuk Menyelamatkan Bumi

Ilustrasi Ustadz Abdul Somad

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 25)


Saat kecil hingga remaja, duniaku dihibur oleh ceramah-ceramah KH Zainudin MZ sang "Dai Sejuta Ummat" yang terkenal dari Sabang sampai Merauke. Kaset ceramah beliau selalu diputar di masjid dekat rumahku sebagai penanda telah dekat waktu shalat. Sebagaimana orang lain, aku menggemari cara beliau berdakwah yang terkesan santai, berbumbu lelucon dan (paling penting) tidak berisi ujaran kebencian. Sebab, jika kebencian menjadi nilai utama dalam dakwah, maka Nabi Muhammad SAW dipastikan telah menebas leher pamannya sendiri, Abu Thalib yang hingga akhir hayatnya tidak pernah menyatakan kesediaannya menjadi Muslim dan hal itu membuat Nabi terpukul pun bersedih hati. 

Sayangnya, popularitas KH Zainudin MZ mulai memudar, terlebih saat beliau terjun ke dunia politik praktis. Ceramahnya nggak lagi disukai seperti sebelumnya, sebab banyak orang menganggap mereka yang menjadi politisi tidak akan pernah bisa bersikap netral demi menjaga kepentingan ummat, melainkan berpihak pada kepentingan penguasa partai politik. Saat namanya mulai redup di dunia dakwah, sang dai nggak perlu berpusing-pusing menghadapi hari tua, sebab Sang Maha Menggenggam telah memanggilnya pulang. Dan menurutku itu lebih baik, sebab jika beliau masih hidup pasti akan pusing dengan semakin eksisnya para juru dakwah yang menawarkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam dengan cara yang jauh dari sikap rahmat, dan cenderung memaksa, mengandung unsur kebencian dan menebar hoaks. 

Sosok KH. Zainudin MZ kini menjadi semacam romantisme saat mengenang masa remaja. Paska pembelajaran yang ceria dan santai bersama sang "Dai Sejuta Ummat" kita mendapat booming ustadz/ustadzah era digital yang kajian dakwahnya nggak lagi direkam dalam sebuah pita kaset, melainkan bisa streaming di sejumlah kanal media sosial seperti Facebook, Instagram dan Youtube. Materi dakwah mereka pun menyebar dengan cepat melalui berbagai kanal. Kalau para sahabat Nabi tiba-tiba bangkit dari kuburnya dan menyaksikan semua ini, pastinya mereka akan terbengong-bengong. Betapa mudahnya berdakwah di era 1400 tahun setelah kelahiran Islam. Mushaf Al-Quran yang suci nggak lagi tertulis di batu dan pelepah kurma, tapi di ponsel melalui aplikasi khusus. Bahkan, kalau kita butuh Ustadz/Ustadzah untuk mengisi kajian nggak perlu ngantri bikin perjanjian, sebab kini sudah ada aplikasi untuk mencari mereka sesuai kebutuhan hajat kita.  

Namun, dibalik euforia dakwah di era digital, tetap ada batu sandungan. Salah satu batu sandungan yang sering jadi kontroversi adalah materi ceramah yang disampaikan olah Ustadz Abdul Somad (UAS). Aku nggak bisa memastikan apakah kontroversi tersebut terjadi secara alami atau settingan manajemen yang mengurusi kegiatan UAS, agar nama UAS jadi lazim di pendengaran publik, orang semakin penasaran dan memintanya mengisi kajian, wallahu 'alam ya. Namun, pernyataan-pernyataan kontroversi yang mengarah pada informasi palsu dan ujaran kebencian sangat tidak selaras dengan pesan-pesan dalam Al-Qur'an maupun Hadist Nabi Muhammad yang menyarankan berdakwah dengan hikmah. 

Pernyataan-pernyataan UAS memang diberikan dalam kajian dakwah di lingkungan sendiri, alias di dalam masjid atau forum di mana beliau menjadi penceramah. Sepintas, hal ini memang tidak terkesan menyebarluaskan ujaran kebencian pada publik. Namun, tetap saja nggak etis memberi makan pikiran dan jiwa jamaah pengajian dengan kebencian pada pihak lain, terutama jika pernyataan-pernyataan tersebut tidak disertai dengan data dan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Berikut adalah rangkuman sejumlah hal kontroversial UAS yang dianggap sebagai ujaran kebencian: 

  • Pernyataan bahwa membeli kopi di kedai S****K sama dengan mendukung LGBT. (Lalu bagaimana dengan kedai S****K yang juga eksis di kota Mekkah dan dekat dengan Masjidil Haram? Jika kedai kopi tersebut sebegitu berbahaya, mengapa pemerintah Arab Saudi yang menjadi tolak ukur dunia Islam mengizinkannya beroperasi di Mekkah kota suci yang bahkan nggak boleh dimasuki oleh orang selain Muslim? 
  • Menyatakan bahwa "Orang Korea berzina kerjanya," ketika menjawab pernyataan jamaah tentang menonton film Korea. Bagaimana UAS membuktikan bahwa "semua" orang Korea berzina? Apakah UAS telah memastikan orang per orang bahwa orang Korea berzina? dan Korea yang dimaksud itu Korea yang mana, karena ada Korea Utara dan Korea Selatan. Tuduhan ini kejam sekali!
  • Pernyataan tentang lambang palang merah sebagai salib, dan menyarankan kepada jamaah untuk mempilok lambang palang merah dan menggantinya dengan lambang bulan sabit. Padahal, nggak semudah itu. Lambang palang merah (Red Cross) dan lambang bulan sabit (Red Crescent) adalah lambang dari dua organisasi kemanusiaan di bidang kemanusiaan yang berbeda. Kalau ambulan mau berlambang bulan sabit ya organisasi pemilik ambulan itu harus Red Crescent Indonesia. Nggak bisa dong kita pilok ambulan milik Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), karena itu sama dengan mencuri properti sebuah lembaga yang sah secara hukum beroperasi di negara Indonesia. 
  • Pernyataan tentang salib yang berisi jin kafir alias setan, yang bahkan menyinggung banyak hal termasuk salib dengan patung milik umat Kristen, bentuk Red Cross di ambulan dan rumah sakit. Bayangkan, kotak P3K aja ada lambang Red Cross tapi berwarna hijau. Kalau mau membayangkan lebih jauh, tiang jemuran saja bentuknya salib. Meski UAS mengklaim bahwa pernyataan tersebut terjadi dalam ceramah di dalam masjid, namun karena direkam dan diunggah di Youtube maka sampailah ceramahnya kepada bukan internal umat Islam dan menyinggung perasaan mereka umat Kristen. UAS menyatakan bahwa ia sedang menyampaikan ajaran Islam di rumah masjid dan nggak bisa mengendalikan jamaah untuk nggak merekam ceramahnya, apalagi menguggahnya di Youtube atau kanal media sosial lain sehingga menjadi konsumsi publik
  • Pernyataan UAS bahwa Allah berpesan melalui ijtima ulama bahwa Prabowo akan menjadi Presiden Indonesia dalam pemilu 2019. "Saya mimpi 5 kali ketemu dia, Prabowo....lima kali dia mimpi, sinyal dari Allah," UAS menirukan ucapan ulama tradisional yang memprediksi Prabowo akan jadi Presiden. "30 menit dia bicara empat mata dengan saya. Diakhir pertemuan dia bicara dengan saya, Prabowo. Jadi saya berpikir lama...kenapa mereka cerita ke saya? berarti saya harus sampaikan," UAS menirukan ucapan ulama tradisional yang lain atas prediksinya menjadi Presiden. UAS menyatakan mengikuti ijtima sejumlah ulama yang bisa melihat melalui mata batin untuk mendukung Prabowa sebagai Presiden. 
  • Pernyataan UAS bahwa permainan catur haram selain mengundang kontroversi, juga ditertawakan banyak pihak, hingga membandingkannya dengan hobi Pangeran Diponegoro yang bermain catur dengan sahabat perempuan yang dikaguminya. UAS menyatakan bahwa permainan catur dan dadu bisa jadi haram jika membuat pemainnya melalaikan waktu shalat, sebab menurut UAS masih banyak persoalan yang membutuhkan waktu, perhatian dan pemikiran serius. Kalau pola pikir UAS begini, maka punya HP dan laptop juga bisa haram lho. 

Materi-materi ceramah UAS yang bagus dan membangun, menjadi cacat dan meresahkan karena terlalu lantang menyatakan ujaran kebencian. Karena itu pula, UAS banyak ditolak datang ke berbagai kampus, lembaga dan daerah karena khawatir akan menambah kontroversi dan keresahan dalam masyarakat. UAS dianggap terlalu keras dalam menyatakan kebencian pada apa yang tidak menjadi bagian dari ajaran Islam, dan tidak aware bahwa apa yang dikatakannya direkam dan disebarluaskan ke publik. Karena perkara inilah, pernyataan-pernyataan UAS tidak hikmah dalam berdakwah. UAS dianggap tidak meneladani Nabi Muhammad terkait konsep dakwah dalam Islam sebagai kegiatan "mengajak" dan bukan kegiatan "menantang atau mengutarakan kebencian dengan terang-terangan." 
Bulan sabit dan bintang segi delapan dari kebudayaan Babilonia

Omong-omong soal simbol juga lumayan riskan membahasnya. Karena harus pakar simbologi yang menjelaskan ini. Simbol dalam peradaban manusia sangat panjang sekali sejarah dan ceritanya. Jika kita selama ini bangga menggunakan bulan sabit dan bintang sebagai simbol Islam yang banyak di pakai di atas kubah dan menara masjid-masjid, mungkin kita harus berpikir ulang. Karena banyak sekali bahan bacaan yang menyebutkan bahwa bulan identik dengan simbol kaum pagan Babilonia, pun bintang lima atau bintang delapan. Belum lagi penggunaan simbol dalam ilmu pengetahuan mulai dari matematika, fisika, kedokteran, dan sebagainya. Repot lah hidup kita kalau simbol ini itu haram karena blablabla, sebab saat Islam datang banyak dari simbol-simbol dari dunia padan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia. 

Bulan sabit dan bintang lima memang secara de facto menjadi simbol dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Tapi, jangan lupa di saat yang sama simbol ini juga digunakan oleh berbagai kebudayaan dan organisasi termasuk gereja-gereja di Eropa. Meski Turki Utsmani tidak menggunakan simbol bintang delapan tapi bintang lima, masalahnya bintang lima atau pentagram itu berasal dari kepercayaan pagan di Yunani dan Babilonia, dan sangat identik dengan Freemansonry dan Sigil of Baphomet. Meskipun kedua simbol itu telah diklaim sebagai emblem Turki utsmani, ini tidak berarti membuatnya sah milik umat Islam saja, karena peradaban lain masih menggunakannya sampai saat ini. Karena simbol ini berkaitan dengan penyembahan kepada Tuhan selain Allah (bahkan kepada setan dan Dajjal), maka mengapa nggak ada ulama dari dunia Islam yang melarang penggunaan simbol bulan sabit dan bintang lima ini dalam bangunan-bangunan milik umat Islam? Mari berpikir kritis. 
Bintang lima atau pentagram adalah simbol agama pagan dan sering digunakan dalam okultisme. 

Ketika UAS mengatakan simbol Red Cross di mobil ambulan (dan di fasilitas-fasilitas kesehatan) haram karena merupakan lambang salib sehingga harus dihapus, dan digantikan dengan simbol bulan sabit. Maka kita harus berpikir adil dengan menghapus semua lambang bintang dan bulan sabit dari seluruh masjid dan fasilitas Islam lainnya termasuk organisasi Red Crescent, karena bintang dan bulan sabit adalah simbol agama pagan dari Babilonia. Btw, kubah juga bukan berasal dari tradisi Islam lho, melainkan adaptasi dari budaya orang Yunani dan Sisilia di Italia. Kubah sudah banyak digunakan di Pantheon, Roma pada 27 SM dan Hagia Sophia pada 357 M, jauh sebelum Islam lahir.  Jadi, kalau kita mau bersih dari semua simbol yang bukan tradisi Islam, ya harus memulai hidup baru di pulau tak berpenghuni. 

Jadinya riskan kan kalau kita mau membahas hal ini panjang lebar karena bicara agama memang memiliki batas-batas yang terkadang sangat keras. Terlebih bicara simbologi kita harus mundur ke belakang, ke puluhan ribu tahun silam karena simbol nggak muncul tiba-tiba, tapi berproses seiring perkembangan peradaban manusia. Oleh karena itu, daripada UAS terus-menerus jadi kontroversi dan memancing perpecahan dalam masyarakat atau membuat masyarakat merasa benar/mendapat pembenar jika mengutarakan kebencian secara terbuka kepada mereka yang tidak memeluk Islam. Maka, aku secara pribadi mengajak UAS untuk melebarkan sayap dakwahnya "Green Dakwah" yang sangat potensial. 

MENGAPA SEBAIKNYA USTADZ ABDUL SOMAD MEMULAI "GREEN DAKWAH"? 
Dalam sejumlah ceramah UAS yang aku saksikan, memang banyak membahas akidah sebagai unsur utama dalam Islam. Tetapi di zaman setelah 1400 tahun setelah masa kelahiran Islam, apakah unsur akidah ini tidak memiliki pandangan baru, misal dalam konteks memahami praktik menyembah Tuhan selain dalam ibadah ritual seperti shalat? Selama ini aku agak terganggu dengan masalah-masalah lingkungan. Karena kaum agamawan hanya fokus bicara surga-neraka, dan sangat sedikit diantara mereka yang bicara soal bagaimana kita menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Apakah karena kita akan mati dan begitu percaya diri akan tinggal di surga, lantas kita lupa melaksanakan kewajiban sebagai penjaga bumi? Padahal tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang tentu saja tugasnya memakmurkan bumi. Nah, jika kita melihat sekeliling apakah bumi semakin makmur atau semakin hancur?

Melalui tulisan ini aku ingin kita semua mengingat akan Firman Allah dalam Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad 1.400 tahun yang lalu, bunyinya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah : 30)

Sebuah peristiwa mengejutkan seharusnya menampar kita semua. Seekor paus sperma terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi pada November 2018. Ia mati karena perutnya dipenuhi sampah plastik seberat 5.9 kg (1000 potongan plastik) yang terdiri dari botol, gelas plastik, tutup galon, pecahan piring plastik hingga potongan terpal. Sungguh benar sindiran Sang Pencipta dengan mengirim paus bernasib naas ini. Bayangkan, paus si hewan laut raksasa tumbang karena sampah plastik!  Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia,  supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Ruum:41)

Sejak kecil, kukira manusia di muka bumi diajarkan untuk membenci Iblis dan keturunannya, yaitu setan karena mereka durhaka dan menimbulkan kerusakan. Nah, sekarang saatnya kita bertanya apakah bumi yang sekarang kita tempati ini rusak karena Iblis dan para setan? Tidak. Yang merusak adalah, kita, si manusia. Bahkan hewan-hewan sejak zaman dulu kita kenal tidak pernah sekalipun menimbulkan kerusakan pada bumi meski sejengkal, malah jadi korban kayak si paus sperma. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki ambisi membangun ini itu dan merusak bentang alam, mengotori sungai hingga lautan, mencemari tanah, menggali lubang tambang tapi tidak menutupnya lagi dan sebagainya. Kita, yang setiap waktu mengaku beriman dan khusyuk beribadah mungkin lupa pada ayat diatas yang diturunkan 1400 tahun lalu sebagai sindiran pada manusia yang memang terbukti menciptakan kerusakan.

Terkait kerusakan di muka bumi, mungkin kita pernah mendengar setiap kali bencana alam seperti tsunami, banjir, longsor dan gempa bumi terjadi, maka yang pertama dituduh sebagai penyebabnya adalah mereka yang melakukan hubungan seksual di luar perzinahan (zina), korupsi, mencuri, begal, merampok, dan orang-orang yang tidak bersujud kepada Allah, termasuk kaum Ateis dan Agnostik. Tapi, saat bencana seperti banjir akibat sungai tersumbat sampah, longsor akibat penggundulan hutan, tanah terjeblos akibat rakusnya penggunaan air tanah, sungai-sungai rusak karena limbah pabrik, hewan-hewan laut yang tercekik sampah atau paus mati karena di perutnya banyak sampah; tidak seorangpun menuding bahwa bencana itu terjadi akibat kebodohan manusia yang nggak bisa mengelola sampahnya sendiri atas kegiatan konsumsi dan produksi. Dalam hal ini kita semua pendosa, bahkan para tokoh agama pun pendosa karena mereka juga penghasil sampah, lantas mengapa begitu percaya diri menyalahkan orang lain sebagai yang paling berdosa saat bencana terjadi, padahal kita semua adalah pendosa dengan dosa yang berbeda?

Mungkin, sekarang Iblis sedang tertawa-tawa melihat bumi yang hancur oleh manusia. 
Melihat dan merasakan bumi yang rusak ini, bagaimana kita bisa membela diri?

Membuang sampah plastik ke tanah, siring, selokan, sungai, danau dan lautan adalah salah satu dosa besar yang dilakukan berjamaah peradaban manusia modern paska revolusi industri. Berdasarkan laporan berjudul "Plastic waste inputs from land into the ocean" yang ditulis oleh 7 orang ilmuwan asal Australia dan Amerika Serikat menyebutkan bahwa ada sekitar 275 juta metric ton sampah plastik yang berhasil dihitung dan dikumpulkan dari wilayah pesisir 192 negara pada 2010. Mereka juga menghitung bahwa sampah plastik yang masuk ke lautan diperkirakan sekitar 4.8-12.7 juta ton setiap tahunnya. Plastik yang masuk ke lautan bisa berukuran besar dan berbentuk utuh, dan bisa juga berbentuk mikro plastik.

Laporan lain menyebutkan bahwa setiap menitnya, satu truk sampah plastik dibuang ke lautan dan para penyelam menemukan bahwa sampah plastik telah memasuki kedalaman 11 km. Selain membunuh ikan, penyu, paus dan hewan laut; serangan sampah plastik di laut juga meningkatkan kerusakan terumbu karang hingga 89%, yang merusak kulit koral dan menyebabkan infeksi pada koral. Hasil penemuan ilmuwan juga menunjukkan bahwa 79% kematian kura-kura laut disebabkan oleh sampah plastik. Jika pengelolaan sampah di seluruh dunia tidak dibenahi dan sampah plastik terus-menerus dibuang ke laut, maka pada 2050 sampah di lautan akan lebih banyak daripada ikan.

Namun, hasil penelitian lain menyebutkan bahwa jumlah sampah plastik di lautan jauh lebih mengerikan dari yang kita perkirakan. Jika kita lihat video disamping, maka kita bisa menyaksikan bahwa sampah plastik sudah sampai di dasar lautan. Celakanya, kalau sampah sudah sampai ke lautan, selain ia bisa masuk jauh ke kedalaman lautan, ia juga bisa berjalan-jalan keliling dunia dan mencemari lautan di planet bumi. Saking sulitnya menghitung jumlah plastik di lautan, dan terlebih bagaimana mengangkutnya kembali ke daratan, para ilmuwan bahkan bermimpi dibuatnya sebuah satelit yang bisa menghitung jumlah sampah plastik yang ada di lautan sehingga para relawan tahu kemana mengambil sampah tersebut dan membersihkan seantero lautan dari teror sampah plastik.

Satu pertanyaan penting: Apakah kita berpikir bahwa Allah akan memasukkan kita ke surga karena ibadah shalat, puasa, zakat dan sedekah; sementara kita nggak pernah sekalipun berusaha menyelamatkan bumi yang Allah titipkan dari kerusakan parah? Kapan kita mengangkat senjata untuk berjihad memerangi sampah plastik dari dapur kita sendiri yang merusak bumi? Kebiasaan kita yang menyepelekan soal sampah plastik dan tidak mengelolanya dengan benar adalah dosa berjamaah umat manusia. 

Dalam pandanganku, ketika manusia merusak bumi, seperti membuang sampah sembarangan sehingga menyiksa hewan-hewan di sungai dan lautan; maka manusia sedang melakukan pembangkangan terang-terangan! Lantas apa bedanya manusia dengan Iblis yang membangkang saat diminta sujud kepada Adam; jika kita membangkang memelihara bumi yang Allah titipkan? Karena masalah kerusakan lingkungan sudah massive terjadi di seantero bumi, maka para tokoh agama seperti UAS harus ambil peran. Tokoh agama jangan hanya ceramah di mimbar-mimbar tapi menyerahkan aksi di lapangan sepenuhnya kepada pemerintah, NGOs dan relawan. Justru, para tokoh agama harus menjadi teladan dan yang terdepan dalam melakukan penyelamatan bumi. Buktikan bahwa manusia nggak serendah pandangan Iblis!

Mari beranjak ke pembahasan selanjutnya, karena menyangkut hubungan berbahaya antara plastik dan isi piring kita...
Sampah plastik dibuang ke laut, terurai menjadi mikro plastik dan dimakan ikan, lalu ikannya dimakan manusia. Maka, manusia zaman sekarang makan mikro plastik. Apa nggak berbahaya tuh bagi tubuh kita? Sumber: tripundit.com

YAKIN NIH IKAN YANG MENGANDUNG MICRO-PLASTIC HALAL DAN THOYIB? 
Sebenarnya, masalah sampah plastik ini tidak hanya sekadar masalah si sampah plastik. Tapi juga mengancam sumber pangan kita yang ada di laut, yaitu ikan-ikan. Biasanya para ulama tuh ketat banget perihal halal-haram makanan dan minuman. Islam punya rambu-rambu ketat nih soal halal-haramnya bahkan disebutkan jenis-jenisnya. Tapi, dunia pada 1.400 tahun yang lalu jauh berbeda sama sekarang. Zaman Nabi mah boro-boro sampah plastik masuk ke laut, kan plastik memang belum ditemukan kala itu. Coba deh bayangkan kalau Nabi Muhammad menyaksikan ikan-ikan yang kita makan ternyata mengandung mikro plastik, masih percaya diri kah kita menyatakan ikan sebagai sumber pangan halal dan thoyib? 

Tantangan kita soal makanan bukan lagi tentang halal-haram, karena rambu-rambunya sudah jelas. Tapi kini soal apakah misalnya ikan yang kita makan mengandung mikro-plastik atau enggak? Pada Desember 2018 silam, peneliti Oseanografi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan bahwa ditemukan 10-20 partikel mikro-plastik dalam satu kilogram garam. Partikel mikro-plastik juga ditemukan pada ikan teri yang mencapai 0,25-1,5 partikel dalam setiap satu gram ikan teri tersebut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kandungan mikro-plastik di Indonesia nggak jauh beda dengan temuan di Samudera Hindia, di mana terdapat 30-90 partikel mikro-plastik dalam satu liter air. Wah, sangat mengerikan dan berbahaya, bukan? Bisa jadi dunia berakhir bukan karena perang akhir zaman, melainkan karena setiap makanan dan minuman yang kita konsumsi mengandung mikro plastik yang membahayakan kesehatan.

Mikro-plastik apaan sih? Itu lho potongan partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm dan nggak bisa dilihat dengan kasat mata, dan lebih kecil lagi hingga disebut nanoplastik. Mikro plastik terdiri dari dua jenis, yaitu: 1) mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang digunakan manusia seperti sabun mandi, pasta gigi, pembersih wajah, deterjen, kosmetik, hingga pakaian, dan aktivitas kita sehari-hari tanpa kita sadari telah berkontribusi menyumbang mikro-plastik ke sungai dan lautan; dan 2) mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Sampah plastik yang terurai ini bisa menjadi sebanyak 5.25 triliun serpihan plastik. Nah, 85% sampah plastik di lamat berbentuk mikroplastik. Di laut, mikroplastik hingga sekecil nanoplastik dimakan zoeplankton, lalu dimakan ikan kecil, dan ikan kecil dimakan ikan besar dan ikan besar dimakan manusia. Akhirnya sampah plastik yang dibuang manusia sampai juga kepada tubuh manusia (ini hukum sebab akibat yang tak terbantahkan ya. Semakin panjangnya rantai makanan, maka jumlah kandungan mikroplastik dalam ikan pun semakin besar. Perbuatan yang kita tebar akan kembali pada kita dan kupikir ini serupa balas dendam alam kepada manusia yang sudah melakukan kerusakan dan pencemaran) 

Dalam sebuah penelitian juga ditemukan bahwa mikro-plastik bisa masuk ke saluran peredaran darah kerang! WOW! Kalau dalam ikan nih, ternyata ikan di seluruh dunia sudah mengandung 25% mikro-plastik dalam tubuhnya. Dalam penemuan Dr. Chelsea Rochman misalnya ikan Silverside dari perairan indonesia malah ditemukan serpihan kain alias mikro-plastik yang berasal dari serat kain (mungkin pakaian atau apa berbahan nilon dan polyester). Terlebih hampir semua pakaian zaman modern ini berasal dari serta sintetis yang mengandung plastik, yang setiap kali dicuci mengeluarkan sekitar 2.000 serat plastik yang luruh terbawa air. Kata peneliti itu, hampir seluruh orang memakan ikan tersebut pula. Karena ukurannya sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, mikro-plastik ini dapat ditelan hewan-hewan seperti udang, cumi, ikan, atau organisme lain yang akhirnya sampai juga kepada manusia sebagai puncak rantai makanan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa mikro-plastik telah ditemukan dalam kotoran manusia, yang diduga berasal dari garam dan seafood. Sementara itu, efek mikro-plastik bagi kesehatan tubuh manusia masih dipelajari ilmuwan.

Perairan Indonesia dari Aceh hingga Papua juga mengandung mikro-plastik. Dari 19 titik yang menjadi sampel penelitian LIPI menyebutkan bahwa seluruh laut Indonesia mengandung mikro-plastik. Wilayah-wilayah dengan kandungan mikro-plastik tinggi biasanya di muara sungai, sebagai pertemuan antara sungai dan pantai, dan tempat menumpuknya sampah hasil bawaan aliran sungai dan yang dihempas ombak dari lautan lepas. Kegiatan manusia di sekitar sungai dan padatnya populasi di wilayah pesisir juga menjadi penyebab tingginya kandungan mikro-plastik menumpuk di muara sungai. Di perairan Indonesia, sebagian mikro-plastik juga berasal dari sampah Styrofoam. Ngeri sekali membayangkan sampah-sampah plastik itu terpecah kedalam ukuran sangat kecil sekecil virus. 

Garam mengandung mikro plastik
Ikan teri mengandung mikro plastik
Ikan laut jenis lain mengandung mikro plastik
Air juga mengandung mikro plastik
Jadi, selama ini kita sudah makan plastik? 

Sampah plastik adalah teror menakutkan abad ini
Bahaya mikroplastik di depan mata. Sumber: KOMPAS Cetak, Senin, 12 Juni 2017 (Reporter: Ahmad Arif)

Nah, bagaimana hal ini dalam sudut pandang agama? Apakah kita akan terbengong-bengong dan diam saja mengingat hal ini nggak dibahas dalam kitab suci? Agama Islam khususnya memberi syarat makanan dan minuman harus halal dan thoyib, artinya harus baik, tidak mengandung penyakit dan menyehatkan. Namun, apakah sumber makanan dan minuman yang mengandung mikro-plastik baik dan menyehatkan? Mengapa hal ini luput dari perhatian para ulama sehingga mimbar-mimbar dakwah tak pernah terdengar membicarakan hal ini? Padahal, ini bahaya di depan mata lho, di piring kita sendiri.   

LANGKAH "GREEN DAKWAH" UNTUK USTADZ ABDUL SOMAD
Tulisan ini tidak ditujukan untuk menghina apalagi merendahkan UAS sebagai ulama tanah air. Hanya saja, sebagai bagian dari masyarakat luas, aku sudah bosan dengan ceramah di mimbar-mimbar tentang manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi tapi kita miskin aksi dalam menyelamatkan bumi. Sebenarnya banyak sekali opsi yang bisa aku tawarkan kepada UAS dalam memulai gerakan "Green Dakwah" entah yang hijau/hutan dan wilayah dataran rendah, atau biru/sungai, laut dan samudera. Tapi, karena masalah plastik ini sudah benar-benar merusak kehidupan bawah laut, maka sebaiknya UAS berdakwah soal bagaimana aksi ummat Islam Indonesia dalam membersihkan Indonesia baik di darat maupun sungai dan laut dari sampah plastik. Aku sarankan agar UAS nggak kalah dengan gerakan Awkarin alias Karin Novilda, itu lho selebgram yang bikin kasih giveaway Macbook buat netizen yang mau membersihkan sampah plastik di lingkungannya. Akwarin bergerak nggak bawa-bawa ayat Al-Qur'an karena dia bukan pendakwah, tapi langkah dia mengagumkan. 
Awkarin dan Ekaceluler membuat Giveaway buat siapapun yang mau membersihkan lingkungan kotor. Nah, seorang anak muda bernama Gabriel yang memenangkan giveaway tersebut setelah membersihkan 155 tempat kotor di lingkungan tempat tinggalnya. 

Aku membayangkan Nabi Muhammad SAW bangkit dari kuburnya dan diperkenankan Allah berjalan-jalan ke seluruh dunia. Mungkin, yang akan terjadi adalah beliau menangis karena melihat kondisi bumi yang rusak parah. Mungkin para gunung akan mengadu karena dipangkas dan dibongkar demi tambang, para ikan di sungai dan lautan akan menangis karena dijejali sampah plastik, tanah menangis karena tercemar limbah berbahaya termasuk plastik, lautan pun akan menangis karena di dalam dirinya lebih banyak sampah plastik daripada ikan yang bisa dimakan. 

Saat ini seluruh dunia sedang dilanda wabah. Tapi, ini jenis wabah berbeda dan sangat sulit menyembuhkannya. Wabah ini tidak hanya menimpa manusia sebagaimana kolera yang bikin heboh di masa lampau. Wabah kali ini menimpa manusia, ikan, kura-kura, kuda laut, paus, lumba-lumba dan hewan lain di lautan. Juga di danau dan sungai, serta tanah. Wabah itu bernama plastik (the plague of plastic). Kita nggak bisa lagi bicara dengan gampang soal halal-haram sebuah produk pangan jika sebenarnya perut kita telah berisi mikro plastik dari ikan yang kita konsumsi. Tidak sadarkan kita akan hal itu? 

"Ah, itu kan tugasnya pemerintah dan ilmuwan yang mengurus soal persampahan negeri ini. Tugas ulama adalah berdakwah tentang ilmu agama," mungkin kita akan berseloroh demikian, seakan-akan pesan agama hanya soal ritual ibadah. 

Tidak! Tidak satupun makhluk di bumi selain manusia yang telah membuat bumi kotor, rusak dan hancur. Kita, manusia, adalah makhluk paling ambisius dan perusak. Itulah mengapa para Malaikat menolak penciptaan kita. Kerusakan yang kita timbulkan di bumi mungkin ditangisi oleh planet-planet di lain di jagat raya karena hanya bumi satu-satunya planet yang rusak akibat ulah tangan manusia, makhluk yang katanya paling cerdas, bijak dan unggul dibandingkan dengan makhluk lain. Karena kita semua adalah pengguna plastik, maka kita semua, tanpa kecuali, harus bertanggung jawab membersihkan lautan dari sampah plastik. Satu-satunya pihak yang berhak menolak tanggung jawab ini hanya orang Baduy Dalam, karena mereka bukan pengguna plastik dan mereka tinggal di kedalaman hutan. 

Karena "Green Dakwah" ini merupakan aksi nyata di lapangan, maka UAS harus melakukannya dengan sejumlah langkah. Aku berharap UAS menyudahi kebiasaan ceramah yang mengundang kontroversi, karena lama-lama orang muak dan males ngaji. Generasi kita yang sejauh 1.400 tahun dari masa Nabi Muhammad butuh teladan dan contoh nyata, bukan hanya ceramah berisi titah dan perintah ini itu. Berikut langkah yang UAS bisa lakukan dalam memulai "Green Dakwah" agar menjadi ulama terdepan dalam menyelamatkan bumi kita tercinta ini, khususnya Indonesia: 
  • Tentu saja yang pertama kali sebaiknya UAS lakukan adalah mempelajari hasil-hasil penelitian para ilmuwan terkait kerusakan lingkungan akibat sampah plastik
  • UAS bersama tim manajemen membuat rencana kerja, kira-kira di mana peran UAS sebagai ulama dalam menyelamatkan lingkungan. Apakah hanya bicara di mimbar-mimbar dakwah, atau kah turun ke lapangan membersihkan sampah di semua tempat yang UAS kunjungi setiap kali berdakwah.
  • Coba deh UAS keliling satu provinsi aja, misalnya Riau. UAS perhatikan sungai, danau, pantai dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bayangkan perasaan UAS saat melihat bumi yang Allah titipkan sudah rusak sedemikian rupa. Pastilah UAS menangis. Juga tentang orang-orang miskin yang mengais rezeki dari sampah, dan kadang-kadang memungut makanan dalam tumpukan sampah untuk mengganjal perut. 
  • Kalau ada waktu, bolehlah UAS melakukan ekspedisi menyurusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dari Jawa Barat sampai Jakarta. UAS pasti akan menangis karena Ciliwung itu dinobatkan sebagai salah satu dari 5 besar sungai paling tercemar di dunia. UAS juga bisa TPA Bantar Gebang. Lihatlah bagaimana sampah sudah menjadi begitu dahsyatnya memperburuk masalah lingkungan. 
  • UAS juga bisa bekerjasama dengan para relawan penyelam yang mengangkut sampah plastik dari lautan, atau membebaskan hewan-hewan laut dari jeratan sampah plastik. UAS pasti akan meleleh hatinya karena sedih menyaksikan makhluk Allah yang lemah bertarung nyawa karena kelalaian manusia mengurus sampah plastik. 
  • Jika pembelajaran di lapangan telah selesai, UAS bisa melakukan pertemuan dengan ulama tanah air agar isu lingkungan khususnya sampah plastik menjadi materi pada khutbah Jumat, menjadi bahan kajian dan diskusi, dan diajarkan sejak anak-anak kecil mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur'an. 
  • UAS juga bisa bekerja sama dengan sejumlah bank sampah, agar para jamaah di sekitar sebuah masjid membuang sampah plastik ke bank sampah terdekat. Dengan demikian fungsi masjid menjadi lebih luas dan masjid punya andil dalam menyelamatkan lingkungan dari bahaya pencemaran sampah plastik. 

Sekarang ini memang ada sejumlah ilmuwan yang membuat robot untuk menangkap sampah baik di sungai maupun di lautan. Namun, semua itu nggak akan pernah bisa menyelesaikan masalah persampahan jika 'kebiasaan' manusia dalam memandang remeh bahaya sampah plastik tidak diubah. Nah, tugas para ulama lah memberikan kesadaran dan pencerahan kepada masyarakat luas agar mengubah kebiasaan buruk terhadap sampah plastik ini. 
Gambar ikan terjerat sampah plastik ini semoga menyadarkan kita semua bahwa lautan dalam bahaya. Sumber: pewtrust.org

"Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.” 
(HR. Abu Dawud dan Timidzi)

 Mari sayangi seluruh makhluk di bumi dari bahaya sampah plastik.

Demikian tulisan sederhana ini, semoga sampai ke komputer UAS. Jika UAS berkenan membangun dialog terkait hal ini, aku siap mengumpulkan bahan-bahannya dan melakukan presentasi bersama sejumlah teman. Tujuannya, agar UAS bisa menentukan strategi dalam memulai "Green Dakwah" kepada jamaah UAS yang jumlahnya jutaan di seluruh Indonesia. Aku berharap, para ulama seperti UAS tidak hanya peduli pada manusia, tetapi juga pada seluruh penduduk bumi termasuk ikan-ikan di lautan yang kini sedang sengsara akibat sampah plastik. Sebab, para tokoh agama seperti UAS tidak punya privilege/keistimewan terhindar dari kewajiban menjaga bumi dari sampah plastik, karena aku yakin dapur rumah UAS pun menghasilkan sampah plastik dan mimbar-mimbar pengajian UAS pun menghasilkan plastik (kemasan minuman dan snack), dan mungkin sampah itu sampah ke lautan dan membunuh ratusan ikan atau penyu. Terima kasih, semoga bermanfaat. 


***

NOTE! Tulisan ini adalah sebuah gugatan! Sebagai anak muda yang membutuhkan teladan dari tokoh agama/ulama yang bicara atas nama ayat-ayat Sang Pencipta, aku menggugat ulama/tokoh agama yang abai terhadap krisis yang mencekik peradaban di bumi. Bukan tugasku untuk bicara sopan santun sembari membungkuk tunduk kepada ulama yang bahkan tidak peduli perasaan orang lain saat berdakwah. Kita sedang diteror masalah lingkungan dari delapan penjuru mata angin, dari gunung, sungai, danau, tanah, hingga lautan. Mengapa nggak ada ulama/tokoh agama yang panik, sebagaimana mereka panik saat terjadi kebakaran yang menghabiskan sebuah rumah atau tsunami yang menghancurkan desa-desa atau gempa yang mengubur sebuah kota? Mengapa ulama hanya bicara halal-haram tapi lupa makanan di piring mereka bisa jadi sudah mengandung racun karena kesalahan berjamaah akibat kelalaian mengurus lingkungan? Bayangkan, garam dan ikan dari perairan Indonesia itu sudah mengandung mikro plastik! Artinya kita selama ini kita sudah memakan mikro plastik? Sopan santun macam apa yang bisa mengimbangi perasan panik dalam menghadapi teror racun semacam ini? 

Bagi sebagian besar orang, tulisan ini TIDAK SOPAN dan MENGGANGGU. Betul, memang demikianlah fungsi tulisan ini. Aku mau para ulama/tokoh agama sadar bahwa ummat sepertiku bisa bertindak tidak sopan dan mengganggu jika tidak mendapat teladan yang baik. Melalui tulisan ini pula aku telah dengan gamblang menjelaskan, bahwa ulama/tokoh agama nggak punya privilege untuk terbebas dari bahaya akibat salah urus lingkungan. 

Aku marah! Aku marah pada ulama/tokoh agama yang lantang bicara hukum-hukum agama dari mimbar-mimbar dalam masjid-masjid yang indah, bersih dan wangi, tapi lupa menengok kenyataan di lapangan yang mengenaskan. Aku marah karena ulama/tokoh agama lantang bicara surga-neraka, tanpa merasakan sendiri bagaimana neraka dunia sedang menyiksa kita semua. Aku marah karena ulama/tokoh agama menjauh dari masalah-masalah lingkungan paling berat yang sedang dihadapi masyarakat dunia, yang belum pernah terjadi sebelumnya: sampah plastik. 

Jika aku dihujat dan dibenci karena tulisan ini, aku siap menerima. Tetapi aku akan mengadu kepada Allah, mengapa Dia tidak menegur para ulama/tokoh agama yang diam saja saat terjadi kerusakan di darat dan lautan akibat ulah manusia. Dan kerusakan di daratan dan lautan yang terjadi saat ini berbeda dengan 1.400 tahun silam saat Nabi Muhammad masih hidup. Salah satu ulah manusia abad ini adalah sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik sehingga mencemari daratan dan lautan dengan mengenaskan. Ulama/tokoh agama harus lantang bersuara dan bertindak atas teror abad modern ini. 

Baca juga: Beginilah Teror Mengerikan Sampah Plastik Menguasai Dunia

Aku tidak membenci UAS sebagai pribadi maupun sebagai ulama/tokoh agama bangsa ini. Justru, karena beliau menjadi kontroversi, aku berharap beliau mau memulai gerakan "Green Dakwah" untuk menyelamatkan bumi. Mengapa harus UAS? Karena UAS berasal dari Riau dan provinsi tersebut langganan kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya. Kupikir, UAS punya basis pengalaman buruk dikepung asap di lapangan yang bisa menjadi landasan dalam memulai gerakan "Green Dakwah" demi menyelamatkan Indonesia. Sebagai ulama/tokoh agama, aku tidak meragukan pemahaman UAS tentang perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW terkait kewajiban manusia memelihara dan memakmurkan bumi. 

Jika tulisan ini dianggap sebagai ekspresi kebencian personalku kepada UAS, tentu saja pembaca keliru. Berangkat dari judul, tulisan ini memang diawali oleh cerita-cerita kontroversial tentang UAS yang aku saksikan dari berbagai video yang sudah tersebar luas. Kontroversi ini menjadi titik balik yang menurutku sebaiknya menjadi pertimbangan UAS untuk memulai "Green Dakwah" karena sudah tidak relevan lagi 'membangun' kontroversi halal-haram ini-itu dalam masyarakat. Justru tulisan ini dan data-data didalamnya menjadi tantangan bagi UAS, untuk punya kemampuan mengharamkan 'masuknya/membuang sampah plastik ke tanah terbuka, sungai, danau, dan lautan' dan ini sangat relevan karena berpengaruh pada menu di piring UAS sendiri, dimulai dari garam. Beranikah ulama Indonesia melakukan pendobrakan ini? Beranikah ulama/tokoh agama Indonesia menyatakan 'sampah plastik' sebagai musuh bersama yang harus diperangi, sebagaimana memerangi penjajahan bangsa asing dan ideologi tertentu yang merusak nilai luhur bangsa? 
Mau makan ikan menggiurkan dan menyehatkan ini? Sumber: thepeoplecoop
Mengakhiri tulisan ini aku ingin mengajak pembaca merenungkan satu hal. Kukira kita yang percaya Tuhan dan mengimani para Nabi, juga percaya bahwa akan ada juru selamat di akhir zaman nanti. Dalam Islam mereka adalah Imam Mahdi dan Isa putra Maryam. Pernah nggak membayangkan, saat kedua manusia mulia tersebut dihadapkan pada menu makan siang berupa seafood, lantas didalam daging ikan, cumi, teri, gurita dan lainnya ternyata mengandung partikel mikro-plastik. Yakin nih, kita tega menjamu kekasih Allah dengan hidangan makanan beracun dan berbahaya bagi kesehatan? 

Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. 

Jakarta, 20 November 2019

Bahan bacaan:
https://www.idntimes.com/news/indonesia/lia-hutasoit/6-kontroversi-ustaz-abdul-somad-yang-bikin-geger-tanah-air/full
https://www.starbucks.com/store-locator?map=21.453367,39.76417,9z&place=Mecca,%20Saudi%20Arabia
https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/01/27/o1kl6l336-starbucks-dan-hipokrasi-arab-saudi
https://www.tripadvisor.com/Restaurant_Review-g293993-d11896095-Reviews-Starbucks-Mecca_Makkah_Province.html
https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43920100
https://www.youtube.com/watch?v=aoFmYg8vOus
https://www.youtube.com/watch?v=pe56bvq9c4c
https://www.youtube.com/watch?v=gY3CWZ1Aar0
https://en.wikipedia.org/wiki/International_Red_Cross_and_Red_Crescent_Movement
https://www.youtube.com/watch?v=Of7H-wLk3N0
https://www.youtube.com/watch?v=mVqqvj8m0B4
https://www.youtube.com/watch?v=nM6i0GKnodA
https://www.youtube.com/watch?v=rU45sgDvDG8
https://id.wikipedia.org/wiki/Kubah
https://en.wikipedia.org/wiki/Star_and_crescent
https://en.wikipedia.org/wiki/Pentagram
https://www.triplepundit.com/story/2018/our-plastic-problem-plastics-marine-life-and-beyond/11841
https://ocean.si.edu/conservation/pollution/laysan-albatrosses-plastic-problem-6
https://www.theplastictide.com/the-problem-main
https://cosmosmagazine.com/biology/plastic-smells-delicious-to-seabirds
https://science.sciencemag.org/content/347/6223/768
https://www.earthday.org/2018/04/05/fact-sheet-plastics-in-the-ocean/
https://www.nationalgeographic.org/article/ocean-trash-525-trillion-pieces-and-counting-big-questions-remain/
https://edition.cnn.com/2019/04/16/health/ocean-plastic-study-scn/index.html
https://nationalgeographic.grid.id/read/131249836/mengkhawatirkan-mikroplastik-ditemukan-dalam-garam-dan-ikan-di-indonesia?page=all
https://tekno.tempo.co/read/1155154/terungkap-ada-mikroplastik-di-ikan-teri-simak-risetnya/full&view=ok
https://kumparan.com/@kumparansains/mikroplastik-ancaman-tersembunyi-bagi-tubuh-dan-lingkungan
https://tirto.id/tak-menjaga-laut-manusia-akhirnya-memakan-plastik-cQte
https://theconversation.com/anda-memakan-plastik-mikro-dalam-cara-yang-tak-terbayangkan-100256
https://tirto.id/waspadai-mikroplastik-di-dalam-garam-laut-cNq9
https://www.cnnindonesia.com/longform/teknologi/20190929/pijar-terperangkap-gelombang-mikroplastik/index.html
https://oceanservice.noaa.gov/facts/microplastics.html


12 comments:

  1. Niat dan tujuan tulisan ini bagus, tapi berkesan "mengajari". Coba langsung tabayun sama UAS ungkapkan keresahanmu , n sebaiknya belajarlah agama lgs pada ulama ulama yang kamu suka bukan hanya belajar dari ungkapan, tulisan atau bacaan2 yg ditulis orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika rumahmu kebakaran dan ada anak kecil mengajarimu cara yang benar memadamkan api kamu akan bilang anak itu nggak sopan? Tulisan ini tulisan gugatan! Gugatan dari anak muda seperti saya kepada ulama/tokoh agama yang nggak bisa menjadi teladan tapi hobi menjadi kontroversi, padahal kita sedang dicekik masalah racun di makanan dan minuman kita. Saya menggugat agar ulama nggak main-main dengan kata-katanya, tapi memberi teladan sebaik-baiknya.

      Delete
  2. aku setuju dengan mbak, dan aku kira kita juga harus diajarkan bukan saja cara ibadah yang baik tapi dengan masalah yang lebih luas, karena yakinlah di Al Quran itu ada. Seperti yang mbak tulis, adakah penceramah yang berdakwah spt ini? Seperti masalah sampah yang sehari2 kita buang ya. dan slogan kebersihan sebagian dari iman itu jarang yang mempraktekannya dan jarang pendakwah yang menyeru untuk itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Aku mau ulama/tokoh agam bangsa ini menjadi yang terdepan dalam memerangi masalah ini. Karena setiap rumah tangga itu penghasil sampah plastik sehingga setiap orang mau Presiden, Ustadz, artis, bahkan anak kecil sekalipun wajib bertanggung jawab akan hal ini. Ini teror abad ini yang jelas belum pernah ada di zaman Nabi 1.400 tahun silam. Kupikir para ulama/tokoh agama harus duduk bersama dan mereka bikin gerakan riil untuk membebaskan bumi dari sampah plastik. Otomatis lah ummat mah akan mengikuti.

      Delete
  3. Masalah plastik memang menjadi momok paling populer saat ini, tapi saya mikir sendiri kok masih belum ketemu solusinya. Setiap hari saya beli gorengan dikasi plastik dan setelah gorengannya habis saya buang. Jika setiap hari seperti itu pasti ada pabrik plastik yang memproduksi 364 plastik dan ada 364 plastik yang say buang pula pertahun. Solusi paling bagus adalah ustad abdul somad memimpin gerakan nasional bakar pabrik plastik di indonesia. Menyerukan resolusi jihad bakar pabrik plastik. Demi mengumandangkan makanan halalan thoyiban tanpa mikroplastik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha, kok jadi bakar pabrik plastik? Sampah plastik kan bisa dikelola. Yang seharusnya diperketat aturan itu soal membuang sampah plastik karena tanah, sungai, dan lautan tercemar itu karena perilaku membuang sampah plastik secara sembarangan seakan-akan nggak bisa dikelola untuk dibuat produk lain.

      Delete
  4. Yang powerful utk hal ini ya Ulil Amri yaitu eksekutif... kenapa anda tidak arahkan hal ini kesana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa, kamu merasa tersinggung saya membuat tulisan gugatan untuk ulama? Ulil amri itu bekerja berdasarkan politik dan birokrasi, sementara ulama itu berbasis dakwah kepada kebaikan yang tanpa batas. Nabi Muhammad menjalankan dakwahnya sekaligus menjadi teladan, lantas mengapa tokoh agama zaman sekarang harus merasa punya privilege tidak memberikan teladan bahkan soal membersihkan lingkungan dari sampah? Sebelum negara Indonesia berdiri, bukankah dakwah Islam pertama-tama menekankan kesucian dan kebersihan? Lantas bagaimana dakwah tentang kesucian dan kebersihan bisa tercapai jika sungai-sungai, danau, bahkan lautan sebagai sumber pangan manusia sudah tercemar sampah plastik dan limbah lain? Kalau ulama nggak powerful dibandingkan dengan ulil amri dalam mengurusi masalah lingkungan, lantas ngapain selama ini Ulama ikut-ikutan dalam urusan politik?

      Coba deh buka lagi Al-Qur'an dan pelajari ayat-ayat yang bicara soal kerusakan di daratan dan lautan. Apakah kamu akan mengira sampah plastik yang mencemari lautan disebabkan oleh orang berzina, berjudi, dan mabok? Ya kagak lah. Itu simpel aja, disebabkan oleh manusia nggak paham ayat Tuhan tentang perintah menjaga bumi. Coba cari juga hadist Nabi yang melarang menebang pohon-pohon dalam peperangan dan anjuran menanam kurma meski esok hari kiamat? Kenapa coba Nabi berpesan demikian? karena kalua kita abai terhadap urusan lingkungan kita bakal kelaparan....

      Delete
  5. saya setuju sekali dengan pelibatan tokoh2 agama dalam upaya penyelamatan lingkungan ini. Karena di negara yang mengaku teis ini, sikap dan pandangan tokoh agama masih lebih jd panutan drpd hukum positif. Mengontekstualkan surga dan neraka tidak hanya di "masa depan" tapi juga di masa sekarang, yakni terkait kondisi lingkungan sangatlah niscaya. Sayang ya, memang jarang hal2 spt ini ditekankan. Selintas2 saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Kalau aku malah sangat berharap sekali para tokoh agama tuh sering-sering lah ceramah di pinggiran Ciliwung, TPA Bantar Gebang, sungai-sungai yang tercemar aneka jenis limbah, Kampung Muara, Jakarta Utara yang berada 1 meter dibawah permukaan laut, atau dimanapun tempat yang haus diurus, bukan hanya di masjid yang wangi, bersih dan sejuk. Sekalian ngajak masyarakat luas buat bersih-bersih bersama. Masa cuma ceramah tapi eksekusi diserahkan ke pihak lain. Nggak fair. Karena kita hidup bersama di bumi ini. Berak pun sama-sama tai yang bau. Dan semoga tulisan sederhana ini bisa membantu proses kesadaran bersama ini tumbuh.

      Delete
  6. Tulisan yg sangat bagus, keterusterangan dari seseorang yg juga merupakan keresahan dari banyak orang. Jika mereka para ustadz2 pop ini (mereka bukan ulama, mereka hanya artis dakwah yg mencari ketenaran dan kekayaan dari ayat2 Allah) benar2 paham perintah agamanya maka SDH selayaknya mereka mengerti dan menerima ajakan ini sbg wujud pelaksanaan fungsi dan tugas manusia saat diciptakan.

    ReplyDelete
  7. Tulisan yg sangat bagus, ayo buktikan bahwa penciptaan manusia sbg Khalifah di muka bumi ini tidaklah sia2, jgn hanya ribut dan berisik ingin mendirikan khilafah tp tugas sbg Khalifah yg berkewajiban menjaga dan memakmurkan bumi diabaikan. Untuk para ustadz2 pop, berhentilah jd hakim yg hanya memvonis ini haram itu halal, ini halal itu haram dan kofar kafir serta surga neraka karena semua itu TDK ada gunanya jika hidup kita TDK sedikitpun membawa manfaat bagi bumi ini.

    ReplyDelete