Perempuan ini Mengizinkan Suaminya Dimiliki Perempuan lain

Ilustrasi perempuan dalam perundungan. Sumber: bbc.co.uk


“Love is that condition in which the happiness 
of another person is essential to your own.”

-Robert A. Heinlein, in Stranger in a Strange Land-


Tahun 2018 lalu aku sempat liburan ke Bali selama dua minggu. Aku menginap di rumah seorang teman baru di Gianyar. Perempuan ini tinggi semampai, langsing, berkulit sawo matang, sepasang matanya sipit dan tajam, rambut hitamnya tergerai sampai ke pinggang. Saat aku tiba di depan pagar rumahnya, dia mengenakan kain dan kaos berwarna merah, menyambutku dengan senyumnya yang manis dengan gigi rapi berbentuk mungil, seperti jajaran biji mentimun. Dia memelukku bagai bertemu sahabat lama yang terpisah ruang dna waktu. Rumahnya kecil saja, terletak di sebuah perumahan tak jauh dari sungai yang dikelilingi hutan kecil. Rumah itu disewanya sejak setahun silam, saat ia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. Di rumah itu dia tinggal sendiri. Jika sedang tidak bekerja, dia akan bermain dengan anak-anak kecil di komplek untuk menjahitkan mereka pakaian Barbie, menggambar dan memberi makan kucing-kucing. 

Aku bukan tipe orang yang gampang akrab dengan orang baru, terlebih perkenalanku dengan perempuan ini bermula beberapa hari sebelum kedatanganku, melalui percakapan di WhatsApp pula. Dia adalah teman dari temanku. Rencanaku ke Bali sesungguhnya mau belajar tentang pertanian organik dari temanku, dan perempuan ini bekerja di kebun organik milik temanku, mengurus hal-hal terkait penginapan berkonsep rumah pohon. Setiap pagi kami berkendara ke Ubud dan mengobrol sepanjang perjalanan. Keakraban kami mengalir begitu saja, sebagai tanda bahwa kami sama-sama saling menerima kehadiran masing-masing dalam kehidupan kami. Sepulang dari kebun pukul 5 sore, kami akan keliling daerah wisata Ubud hanya untuk menyenangkan mata kami, seakan-akan kami turis dari negeri asing. Sebut saja namanya Diana. 

Liburan ke Bali bukan sekadar liburan. Aku sedang melarikan diri dari masalah percintaan yang sedang membuatku tak karuan. Saat itu aku sedang sangat mencintai dan mengasihi seorang lelaki, namun lelaki itu meninggalkanku untuk perempuan lain (sekarang dia sudah menikah dengan perempuan lain, selain perempuan lain pada tahun 2018 itu), dan aku sedang diinginkan oleh seorang lelaki lainnya untuk dijadikan istri kedua. Aku stress bukan kepalang. Cinta yang kuinginkan terlepas dari genggaman, sementara yang tidak kuinginkan mendekatiku dan menawarkan pernikahan. Saat itu aku kurus kering karena tidak nafsu makan dan pikiranku penuh dengan urusan cinta yang sangat membebani. 

Baca dulu: Lost in Bali for Happy and New Me

Sepuluh hari lamanya aku menginap di rumah mungil Diana. Biasanya malam hari sebelum tidur atau pagi hari menjelang sarapan, kami bercerita apa saja tentang kehidupan kami berdua. Entah mengapa kami begitu terbuka, menceritakan masalah kami masing-masing yang bahkan nggak pernah kuceritakan pada sahabat dekatku. Diana seorang penari, dan memang kulihat ia memajang pigura berisi satu halaman penuh berita khusus tentangnya dari sebuah Koran nasional. Diana berasal dari Jawa Tengah, tumbuh dalam keluarga amburadul, dengan ayah yang selingkuh di depan matanya saat ibunya sakit. Ia tinggal dengan kakek dengan nenek yang temperamental, pecemburu dan konvensional dalam beragama. Dia yang dari keluarga Muslim memutuskan pindah menjadi Katolik, dan tentu saja ia dibully. Saat ibunya meninggal, ayahnya tak peduli karena toh sudah ada istri baru. Selain itu, Diana punya trauma lain sebagai penyintas kekerasan seksual. 

Diana dewasa kemudian menikah dengan lelaki yang dicintainya dan mengadu nasib di Ibukota. Karena menginginkan kesuksesan yang lain, mereka pindah ke Bali. Tetapi entah sejak kapan kehidupan pernikahan Diana dan suaminya mulai goyah. Kipikir Diana mengalami kekerasan verbal dan psikologis dari suaminya. Lalu Diana mengetahui bahwa suaminya mulai dekat dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai dokter, dan perempuan itu teman mereka berdua. Alih-alih marah dan menghujat, Diana malah merelakan hubungan itu, sebab berprasangka baik bahwa mungkin suaminya akan lebih berbahagia jika menikah dengan perempuan lain, dan bukan dengan dirinya. 

Diana juga bercerita bahwa saat menemui Ibu mertuanya dengan maksud mengabarkan bahwa pernikahan mereka berakhir, ia sama sekali tidak mengatakan bahwa suaminya selingkuh. Diana hanya bilang kepada mertuanya bahwa mereka sudah tidak cocok lagi membangun kehidupan sebagai suami istri. Diana ingin membebaskan suaminya dari rumah tangga yang tidak bahagia, dan membebaskan dirinya sendiri dari perasaan bersalah. 

"Lha kok nggak jujur, kan mantan suami kamu yang selingkuh sama teman kalian?" tanyaku pedas. 
"Percuma, Ka. Seorang ibu akan mempercayai anak lelakinya lebih dari menantu perempuannya. Dia mengenal anaknya lebih dari aku mengenal anaknya," katanya dengan senyum penuh ketabahan. Duh, aku jadi geregetan deh!
"Tapi kan nanti Ibu mertua kamu menyangka kamu yang nggak bener sehingga anaknya lari dari kamu," kataku sengit. 
"Ya, itu bukan urusanku. Aku hanya menyelesaikan tugasku dengan baik, bukan untuk membeberkan keburukan suamiku dan merusak nama baiknya didepan ibunya sendiri," jawabnya bijak, sekaligus membingungkan bagiku. 

Anehnya, Diana pun nggak pernah melabrak perempuan yang jadi selingkuhan suaminya. Ia pernah bertemu perempuan itu dan justru berusaha bicara baik-baik padanya agar hubungan mereka lanjut sampai pernikahan. Diana berusaha memandang bahwa jodohnya dengan suaminya sudah selesai, dan mungkin kehidupan baru akan membuat semua pihak berbahagia. Maka, dalam rangka menghibur dirinya dia banyak bergaul dengan anak kecil yang jiwanya masih murni; minum air dari mata air di suatu tempat yang pernah kami kunjungi bersama; menari, bercengkerama dengan hewan-hewan; memberi makan anjing-anjing liar dan kelaparan dengan selalu membawa makanan anjing di tas; menjadi tour guide dan mengajak klien asingnya keliling Bali; menjahit dan yoga setiap pagi hari sebelum mandi dan sarapan. 

Oh ya, karena di Katolik yang pernah menjadi Muslim, dia tidak keberatan saat aku shalat di rumahnya. Kami juga memasak dan sarapan bersama. Dia juga tidak lupa memberiku nasehat untuk melepaskan gundah gulana yang mengikatku dengan kuat sehingga aku terlihat tidak bahagia. Di dalam perjalanan demi perjalanan kami menuju dan pulang kerja, dia mengajarkan aku cara mengenali pohon jantan dan pohon betina, dan bagaimana fungsi pepohonan dalam memberikan energi positif pada jiwa manusia. Dia juga mengaku bahwa sejak kecil dia bisa melihat hal-hal ghaib, karena saat dia sedih, sesosok makhluk ghaib selalu menemani dan menghiburnya, misalnya Dewi Durga dalam mitologi Hindu. 

Baca juga: Merebut Tafsir tentang Istri yang Menyembah Suami

Pertemuanku dengannya telah setahun berlalu. Sampai hari ini aku masih tidak mengerti mengapa ada seorang perempuan mengizinkan suaminya dimiliki perempuan lain; tanpa menghujat dan mengumbar kemarahan kepada sang suami dan perempuan selingkuhannya. Apakah kiranya mengakhiri sebuah pernikahan dengan cara demikian lebih menenangkan, menentramkan dan membahagiakan bagi masing-masing pihak? Bagiku, masih tetap tidak masuk akal. 

Satu hal yang aku tahu dari kami berdua, bahwa saat ini kami sama-sama melajang; belum lagi mampu menemukan seseorang untuk dicintai dan dikasihi, dan dipandang sebagai masa depan sampai maut memisahkan. 

Jakarta, 25 November 2019




6 comments:

  1. Ini kisah nyata kah?

    Keren bangett
    Sabarnya sudah dilevel paling tinggi

    Salut aku!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Kisah lainnya nggak aku beberkan, karena terlalu sedih. Kupikir aku salut sama dia karena nggak nekat mengakhiri hidupnya untuk semua beban beruntun yang menimpanya.

      Delete
  2. Sedih bacanya, tapi kemampuan beliau dalam mengelola emosinya. Ini yang sangat inspiratif.Semoga beliau sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga orang-orang baik yang hatinya disakiti mampu menjaga diri agar tidak menjadi orang yang menyakiti.

      Delete