Menagih Tanggung Jawab Kita Semua agar Monas dan Cagar Budaya lainnya di DKI Jakarta tidak Tenggelam pada 2050

Monas pada perayaan malam tahun baru 2017. Photo: Abdul Azis dari flickr.com


"Jakarta awalnya kota dagang, tak didesain jadi kota seperti sekarang. 
Posisinya berada di delta, rentan banjir karena tanahnya rendah."
-Najwa Shihab-


Selamat siang pembaca yang baik, apa kabar? Semoga kabar pembaca masih setegar Monumen Nasional (Monas) dalam menjalani hari-hari dengan karya dan kerja demi Indonesia yang lebih baik. Pada hari yang baik ini aku hendak mengawali tulisan sederhana ini dengan sebuah pertanyaan serius: Apakah pembaca pernah mendengar/membaca informasi bahwa para ilmuwan dunia memprediksi Jakarta dan tentu saja Monas akan tenggelam pada 2050 akibat naiknya permukaan air laut global sebagai dampak perubahan iklim? Juga pertanyaan ini: Apakah dipindahkannya ibukota negara ke Kalimantan hanya terkait masalah politis ataukah memang pemerintah sedang melaksanakan rekomendasi para ilmuwan dunia demi memperlambat tenggelamnya Jakarta

Berbagai kajian mengenai Jakarta sebagai megapolitan dunia yang paling cepat akan tenggelam

Prediksi bakal tenggelamnya Jakarta sekitar tahun 2050 bukan kaleng-kaleng. Hm, hanya 31 tahun lagi dari saat ini. Kondisi ini tidak hanya mendapat perhatian serius ilmuwan tanah air, melainkan ilmuwan dunia. Proses tenggelamnya Jakarta telah dimulai sejak tahun 1970an dan korban pertamanya adalah wilayah Jakarta Utara. Warga di Kampung Muara Baru, Penjaringan Jakarta Utara sudah mulai merasakan dampak dari proses tenggelamnya Jakarta. Setiap dua tahun sekali warga yang tinggal disana meninggikan rumah mereka setengah meter dan rata-rata mereka telah meninggikan rumah selama 4 kali, alias 2 meter selama 8 tahun kebelakang. Kampung Muara sendiri terletak 1 meter dibawah permukaan laut, yang keduanya dipisahkan tanggul yang bocor dengan rembesan yang membasahi jalanan. Sedangkan Kampung Muara Angke dan Muara Karang Pluit bernasib sama, yang posisinya 2-4 meter dibawah permukaan laut. 
Penurunan permukaan tanah di Jakarta sejak 1977. Sumber: ITB
Jakarta terancam tenggelam. Duh, ngeri yaaaaaaa


Lantas bagaimana bisa Monas diprediksi tenggelam? Nah, menurut pakar Sumber Daya Air Kementerian PUPR ketinggian plaza Monas dan permukaan laut di Priok adalah 2,2 meter. Sehingga jika 20 tahun kedepan tanah turun 2 meter maka plaza Monas akan tergenang. Jika penurunan tanah meningkat, maka Monas sampai Dukuh Atas akan tenggelam. Air laut naik pelan-pelan, 5-6 cm setiap tahunnya, mengikuti turunnya permukaan tanah. Tahun 2050 ada 2 skenario kemungkinan tepi laut Jakarta. Skenario optimistis ada di Harmoni dan skenario pesimistis ada di Semanggi. Duh, serem banget yaaaaaaa. 
Kondisi perkampungan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara yang mulai tenggelam
Puing-puing sebuah musholla di Muara Baru, Penjaringan sebagai saksi naiknya permukaan alir laut di Jakarta Utara

Para pakar kelautan dunia seperti John Englander, pakar kelautan dan pendiri International Sea Level Institute menyatakan bahwa Jakarta berada di urutan teratas dalam 10 daftar kota di dunia yang akan cepat tenggelam seperti Manila, Bangkok, Venesia, Shanghai, Ho Chi Minh dan lain-lain. Sebenarnya kota seperti Tokyo dan Venesia bisa tenggelam lebih cepat, namun pemerintahnya bertindak cepat dengan membuat kebijakan yang berkaitan dengan pembatasan ketat terhadap penggunaan air tanah. Sementara di Jakarta, 60% air yang digunakan warga Jakarta baik untuk keperluan rumah tangga, industri dan perusahaan berasal dari air tanah. Maka tak heran jika Jakarta menghadapi kondisi kenaikan level air laut tertinggi di dunia. Tanggul laut yang dibangun pemerintah hanya cara sementara menghentikan intrusi alir laut ke daratan. Namun, apakah selamanya Jakarta akan bergantung pada tanggul laut?
Studi terkait dampak lingkungan proyek Giant Sea Wall Jakarta dari Chiba University, Jepang. 

Berkaitan dengan tanggul laut, pemerintah memiliki mega proyek bernama Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksasa, sebuah proyek ambisius di pesisir utara Jakarta seharga Rp. 600 triliun. Pembangunan Giant Sea Wall ini merupakan proyek unggulan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah berlangsung sejak 2014 dan akan berlanjut hingga 2030. Oleh Pemda Jakarta proyek ini dikemas sebagai Jakarta Coastal Defense Strategy (JCDS) agar mendapatkan investasi dari dalam maupun luar negeri. Ia juga termasuk ke dalam proyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang dirancang oleh arsitektur firma Kuiper Compagnons dari Rotterdam, Belanda. 

Pembangunan Giant Sea Wall ini dimaksudkan untuk memperkuat dan meningkatkan tanggul penahan yang sudah ada sepanjang 30 km serta pembangunan 17 pulau buatan di Teluk Jakarta. Proyek ini akan mengubah wajah pesisir utara Jakarta menjadi semacam waterfront city atau kota pantai yang didalamnya akan terdiri dari kota-kota, perkantoran, perumahan, pusat bisnis, hingga area penghijauan pantai. Ke 17 pulau buatan ini kabarnya akan terintegrasi dengan waterfront city yang dilengkapi dengan jalan tol, rel kereta api, pelabuhan dan bandara serta bisa menampung hingga 2.5 juta orang. Giant Sea Wall yaitu 32 km memanjang dari Tangerang di Banten hingga Tanjung Priok di Jakarta Utara. 

Kini kita jadi punya pertanyaan baru: Apakah Giant Sea Wall merupakan solusi tepat yang bisa membebaskan Jakarta dari kemungkinan tenggelam? Pertanyaan ini membuat jantung berdebar-debar, bukan? Pertanyaan ini harus mendapatkan jawabannya secara ilmiah karena masalah lingkungan bisa dihitung secara ilmiah. 

Para pakar lingkungan dan kelautan Belanda yang sesungguhnya merekomendasikan Indonesia untuk membangun tanggul di Teluk Jakarta, agar Jakarta nggak tenggelam sebagaimana prediksi mereka. Maklum lah Belanda merupakan negara yang 20% wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan mereka asyik-asyik aja karena memang negara tulip tersebut membentengi diri dengan tanggul kuat dan canggih. Tapi, terkait Jakarta mereka tidak bisa menjanjikan bahwa pembangunan Giant Sea Wall akan menyelamatkan Jakarta dari ancaman tenggelam. Karena masalah utama pembangunan Jakarta bukan datang dari laut, melainkan dari lemahnya regulasi Pemda Jakarta terkait penggunaan air dalam tanah. Jika air tanah terus menerus disedot dengan rakus (too much) dan membabi buta (over-exploiting), pembangunan Giant Sea Wall yang percuma aja, Jakarta akan tetap tenggelam, karam dibawah lautan. 

Bagi para perantau sih gampang kalau Jakarta tenggelam, tinggal pulang kampung aja meski resikonya ya kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan. Tapi bagi warga asli Jakarta gimana? Mereka akan kehilangan kampung halamannya sekaligus seluruh kekayaan budaya yang merupakan warisan nenek moyang orang Jakarta, termasuk Monas. 

JIKA JAKARTA TENGGELAM, BAGAIMANA KITA MENYELAMATKAN MONAS? 
Monumen Nasional (Monas) merupakan Cagar Budaya Nasional yang terdaftar di Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan nomor registrasi RNCB.19930329.05.000755 dan SK Gubernur No. 475 tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Benda Cagar Budaya. Monas di mata rakyat Indonesia sesungguhnya bukan hanya benda cagar budaya, melainkan simbol Indonesia. Monas dibangun untuk mengenang perjuangan dan perlawanan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang. Puncak Monas merupakan lidah api yang dilapisi lembaran emas merupakan simbol atas semangat perjuangan yang menyala-nyala. Oleh karena itu, Monas sangat berharga bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Keberadaan Monas di Jakarta bukanlah produk pembangunan biasa. Sebab eksistensinya merupakan hasil perenungan panjang Presiden Soekarno yang ingin Indonesia memiliki bangunan menumental sebagaimana Perancis memiliki menara Eiffel. Kala itu, Soekarno ingin sekali mendirikan sebuah bangunan di Jakarta yang menjadi simbol kekalnya perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Terlebih kala itu ibukota negara kembali pindah dari Yogyakarya ke Jakarta. 

Karena Soekarno bingung bagaimana bentuk bangunan impiannya itu, maka digelarlah sayembara. Pada 17 September 1954 dibentuklah Panitia Tugu Nasional. Mereka menyampaikan kepada Soekarno bahwa Tugu Nasional akan dibangun dengan bentuk sederhana tapi penuh wibawa dan agung, dengan tinggi sekitar 45 m. Menanggapi rencana tersebut, Soekarno malah ingin Tugu Nasional dibangun dengan tinggi diatas 100 m, dengan puncaknya terbuat dari emas dan bagian bawahnya ada museum. Kemudian sayembara dibuka pada 17 September 1955. Sayangnya, tidak ada satupun rancangan peserta lomba yang memenuhi kriteria, meskipun sayembara kembali dibuka pada 10 Mei 1960. Karena kegagalan dalam sayembara, akhirnya Soekarno menunjuk langsung dua orang arsitek kenamaan kala itu yaitu Friedrich Silaban dan R.M Soedarsono untuk membuat rancangan Tugu Nasional.    

Hasil rancangan yang diinginkan Soekarno rupanya harus menelan anggaran sangat mahal, sementara kala itu keuangan negara sedang tidak sehat. Soekarno dikritik habis-habisan dan dituding menghamburkan uang negara untuk sesuatu yang tidak diperlukan kala itu. Padahal, Soekarno ingin membuat sesuatu yang menguatkan Indonesia sebagai negara baru agar rakyatnya bangga mengatakan "Aku Indonesia" setelah mempelajari sejarah perjuangan bangsanya di museum Tugu Nasional. Maka Soekarno bersumpah bahwa pembangunan Tugu Nasional tidak akan menggunakan sepeser pun uang negara, melainkan sumbangan masyarakat, swasta, hasil penjualan karcis bioskop, hingga sumbangan ekspor kopra. Karena Soekarno sadar bahwa sebuah bangsa nggak hanya butuh nasi dan pakaian, melainkan juga benda materil sebagai simbol kehebatan agar bangsa-bangsa lain memandang Indonesia dengan kekaguman tiada tara. 

Pembangunan Tugu Nasional dimulai tahun 12 Agustus 1961 dan dibuka untuk publik untuk pertama kalinya pada 12 Juli 1975, lima tahun setelah Soekarno meninggal dunia. Monas merupakan obelisk dengan cawan besar di bagian bawah yang didalamnya terdapat museum, serta cawan kecil di bagian puncak yang menopang nyala lampu perunggu seberat 14,5 ton yang dilapisi lembaran emas seberat 35 kg. Pada tahun 1995 lembaran emas Monas dilapis ulang hingga total beratnya mencapai 50 kg. Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas Monas merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha asal Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Sejak dibuka untuk umum pada 1975 hingga sekarang, tidak ada yang protes tentang Monas karena seluruh rakyat Indonesia membanggakannya. Siapapun warga negara Indonesia yang berasal dari luar Jakarta datang ke ibukota negara pasti akan menyempatkan diri berkunjung ke Monas. Photo-photo mereka di Monas menjadi pertanda bahwa mereka sudah sah memasuki ibukota Jakarta. 

Kini, Monas telah berusia 44 tahun. Ia tetap berdiri kokoh meski bangsa ini diwarnai baku hantam bahkan dalam proses pergantian kepemimpinan Indonesia dari era Soekarno hingga Jokowi, dan menjadi saksi perubahan kota Jakarta dari waktu ke waktu. Monas terus menerima pengunjung dan pengagumnya dari kondisi Jakarta yang ijo royo-royo hingga Jakarta yang panas, padat, macet dan penuh polusi. Bahkan, mungkin Monas akan legowo berdiri jika Jakarta terendam air laut kiriman dari Teluk Jakarta pada 2050. Jika Monas bisa berbicara, maka aku akan bertanya padanya: Hai Monas, bagaimana perasaanmu tentang prediksi sejumlah ilmuwan dunia bahwa kota Jakarta akan tenggelam pada 2050 dan kamu akan kena dampaknya juga. Museum dalam cawanmu mungkin akan jadi korban pertama dan dari dalam kuburnya Soekarno akan menangisi nasibmu? Jika itu terjadi, kamu akan meruntuhkan dirimu sendiri atau tetap tegak berdiri sebab air asin itu sangat kejam dalam menghancurkan benda material? 

Sebagai cagar budaya nasional, Monas perlu dirawat dengan sungguh-sungguh dan professional. Terdapat 3 tahapan dalam merawat Monas yaitu perawatan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Ketiga macam perawatan ini dijalankan oleh pihak-pihak yang berbeda berkaitan dengan kepentingan perawatan itu sendiri. 

1| Merawat Monas Jangka Pendek
Dalam kurun waktu mingguan, Monas dirawat setiap hari Senin. Perawatan dilakukan untuk pemeliharaan tugu, lift dan taman. Sebagaimana manusia, Monas juga perlu istirahat dan mendapatkan perawatan agar terjaga kebersihan, keindahan dan kualitas sarana dan prasarana yang ada didalamnya. Bukan apa-apa, Monas yang dikunjungi ribuan orang tentu mengalami beban berat, terutama misalnya lift yang membawa pengunjung naik-turun ke bagian cawan atas tempat pengunjung bisa meneropong Jakarta. Juga untuk memastikan lingkungan dalam dan luar Monas bersih sehingga pengunjung merasa aman, nyaman dan berbangga hati bisa menikmati warisan Presiden Soekarno untuk Indonesia. 

2| Merawat Monas Jangka Menengah
Sebuah perusahaan Jerman bernama Karcher telah dua kali membersihkan Monas, yaitu pada 1992 dan 2014. Pada Mei 2014, perusahaan yang telah memiliki pengalaman 'memandikan' monumen-monumen bersejarah di berbagai belahan dunia tersebut kembali bekerjasama dengan Pemda DKI untuk membersihkan Monas setelah 22 tahun lamanya enggak dimandikan dan udah kusam warnanya. Pihak Karcher mengatakan bahwa membersihkan Monas itu nggak boleh sembarangan, alias harus dilakukan dengan metode tertentu dan dilakukan oleh professional dengan jam terbang tinggi. Karcher mengatakan akan terus bekerjasama dengan Pemda DKI untuk membersihkan Monas secara berkala per 10 tahunan. Pembersihan Monas pada 2014 dilakukan oleh 20 orang teknisi di mana 17 teknisi berasal dari Indonesia dan 3 teknisi dari Jerman. Pembersihan "Karcher Clean Monas" dilakukan selama 2 minggu sejak 5-18 Mei 2014 secara maraton setiap harinya sejak pukul 08.00-18.00 WIB. 
Teknisi Karcher membersihkan Monas pada Mei 2014. Sumber: Karcher.com

Saat itu, pihak teknisi Karcher nggak sendirian membersihkan Monas karena sebanyak 500 orang warga juga ikut serta melalui kegiatan "Monas Fun Cleaning Day with Karcher." Kegiatan bersama masyarakat ini merupakan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Karcher sebagai anak perusahaan Karcher, Jerman. Pembersihan Monas dilakukan melalui 3 tahap. Tahan pertama seluruh bagian luar Monas dibersihkan dengan menggunakan produk dari Karcher yang menghasilkan air panas bertekanan tinggi yaitu High Pressure Washer seri HDS 6/14C. Tahap kedua, tim melakukan pengeringan sisa-sisa air pada body Monas dari sisa-sisa air kotor dengan menggunakan mesin sikat pengering yaitu Karcher Scrubber Dryer CB 50 Ep. Tahap ketiga yaitu pembersihan yang dilakukan teknisi berpengalaman dari Jerman dengan menggunakan alat seri HDS 12/18-4S yang menghasilkan air panas bertekanan rendah sehingga marmer bagian luar Monas tetap terjaga. 

3| Merawat Monas Jangka Panjang 
Menjelang usianya yang ke 50 tahun, Monas akan mendapat hadiah menarik yaitu revitalisasi besar-besaran. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bahkan telah melakukan lelang proyek revitalisasi Monas sebesar Rp. 150 miliar. Pemda DKI Jakarta bahkah melakukan Sayembara Desain Revitalisasi Kawasan Medan Merdeka dan Interior Tugu Monumen Nasional. Sayembara yang berlangsung akhir 2018 ini diikuti oleh 26 arsitek dan interior designer. Hasil karya pemenang akan diterapkan setelah dilakukan penyesuaian dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) dari Revitalisasi Monas. 

Mengapa Monas perlu direvitaliasi? Tentu saja karena Monas sebagai sebuah monumen ikonik bangsa harus menyajikan informasi dengan metode yang sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, diorama ala tahun 1970-1980an diubah menjadi 3D. Selain itu, Monas yang selama ini hanya berfungsi pada Sabtu dan Minggu akan dioptimalkan sehingga pada hari-hari biasa bisa dikunjungi dan kegiatan yang bisa dinikmati lebih beragam dari sebelumnya. 

Tapi, apakah seluruh upaya perawatan berlapis dan sangat hati-hati seperti aku uraikan diatas bisa menjanjikan sebuah keselamatan hakiki bagi Monas untuk tidak tenggelam pada 2050 akibat naiknya permukaan air laut di Teluk Jakarta? Karena berdasarkan data dari Badan Geologi, intrusi air laut dari Teluk Jakarta sudah masuk ke pemukiman warga di Jakarta Utara dan sampai ke Monas bagian utara. Intrusi adalah masuknya air laut ke pori-pori bauan yang mencemarkan air tanah. Jika intrusi air laut terus berlangsung dan semakin parah, maka akan berdampak serius pada lingkungan ekologi Jakarta. 

APA KONTRIBUSI KITA DALAM MERAWAT MONAS DALAM JANGKA PANJANG? 
Rasanya, tidak ada masalah fatal yang bisa mengganggu eksistensi Monas sebagai Cagar Budaya Nasional selain prediksi tenggelamnya Jakarta akibat naiknya permukaan air laut Teluk Jakarta. Jangankan memikirkan Monas masih eksis hingga 1000 tahun mendatang, justru saat ini banyak pihak sudah ketar-ketir karena intrusi air laut sudah menjilat bagian utara Monas. Diantara semua faktor yang memungkinkan Jakarta tenggelam, penurunan tanah tetap dipandang sebagai penyebab utama. Masalah penurunan tanah Jakarta ini dipicu oleh dua hal yang saling tarik-menarik satu sama lain, yaitu akibat penggunaan air tanah yang massive dan bertambahnya beban di permukaan tanah Jakarta. 

Jakarta adalah kota dagang bernama Batavia yang bahkan oleh Pemerintah Belanda tidak disiapkan menjadi pusat pemerintahan. Sebelum pihak Belanda melakukan tata kota Batavia, ia sudah dipukul mundur oleh pejuang kemerdekaan. Akibatnya, Batavia berkembang menjadi Jakarta, ibukota negara yang pembangunannya tanpa perencanaan matang. Kerakusan politisi dalam mengawal kebijakan pembangunan Jakarta yang cenderung memihak kepentingan pribadi alih-alih kepentingan kota telah membuat Jakarta menjadi sebuah tempat yang nggak jelas fungsinya apa. Ibukota negara, pusat pemerintahan dan pusat bisnis bercampur baur di Jakarta yang sempit dan rentan. Buruknya tata kota juga membuat masyarakat menggunakan air tanah untuk kepentingan rumah tangga dan industri, sehingga menimbulkan kekacauan di bagian aquifer, jauh di kedalaman tanah Jakarta. Mengerikan sekali nasib Jakarta ini, Bukan? 
Ancaman dari kedalaman tanah Jakarta

Berdasarkan berbagai kajian, hingga saat ini ada tiga usulan utama bagi Jakarta agar selamat dari tragedi tenggelam pada 2050, di mana cara-cara tersebut meski dilakukan pemerintah harus juga mendapat dukungan penuh masyarakat. 

  • Pembuatan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall yang sedang dalam tahap pengerjaan. Giant Sea Wall atau disebut juga sebagai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) ini sedang dalam pengerjaan. Proyek ini dimaksudkan untuk menahan masuknya air laut ke wilayah pemukiman Jakarta, sekaligus membagi beban populasi Jakarta, karena kota pantai yang sedang dibangun diperkirakan mampu menampung hingga 2.5 juta orang. Yah, mudah-mudahan saja proyek ini menjadi salah satu jawaban agar Jakarta nggak tenggelam dan Monas kesayangan kita semua, serta cagar budaya lainnya di Jakarta tetap aman. 
  • Memperketat peraturan mengenai penggunaan air tanah. Tingginya penggunaan air tanah di Jakarta menjadi sumber masalah penurunan permukaan tanah dan ini harus dihentikan. Sumur ilegal misalnya, angkanya mencapai 6.000 lebih tinggi dari sumur legal. Bahkan audit Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bahwa cakupan wilayah PDAM Jakarta hanya 30% (meski diakui Pemda Jakarta mencapai 62%). Sehingga masalah ini sepertinya dimulai dari birokrasi di pemerintahan DKI Jakarta yang korup. Penertiban yang dilakukan Pemda Jakarta sejak 2019 ini sebenarnya sudah lumayan terlambat, terlebih pelaku kejahatan atas air di Jakarta juga dilakukan pemilik gedung-gedung perkantoran, yang selain memalsukan izin pembuatan sumur, juga tidak membuat sumur resapan dan pengelolaan limbah domestik sebagaimana diatur dalam sejumlah Perda. Saat ini baru ada Keputusan Gubernur No. 279 tahun 2018 tentang Pengawasan Air Tanah. Namun, payung hukum untuk menyetop pengambilan air tanah secara total masih dalam persiapan, pengingat PDAM pun belum siap memenuhi 100% kebutuhan air bersih Jakarta. Tapi langkah ini, perlu terus dikawal dan diapresiasi.
  • Memperketat aturan mendirikan bangunan baru demi menyelamatkan ruang terbuka hijau. Wilayah Jakarta nyaris habis tertutup bangunan. Padahal UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mewajibkan sebuah wilayah memiliki RTH seluas 30% dari total luas wilayah. Dan RTH Jakarta hanya 10%saja! Meski rasanya sudah terlambat, namun Pemda Jakarta tetap berupaya memaksimalkan 10% RTH untuk membuat taman-taman hijau dan embung sebagai wilayah resapan air. Saat ini Jakarta memiliki 55 waduk, danau dan situ yang merupakan hasil revitalitasi selama bertahun-tahun sebagai salah satu wilayah untuk resapan air, khususnya saat musim penghujan datang.  

Apakah ketiga cara diatas dapat menyelamatkan Jakarta dan Monas dari tenggelam? Ya, jika masyarakat mau secara konsisten mengawal kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam menjalankan regulasi yang telah dibuat. Warga Jakarta atau bukan warga Jakarta yang sering beraktivitas di Jakarta, jangan hanya ongkang-ongkang kaki menikmati segala perubahan yang ada, melainkan harus berperan aktif dalam mengawal pelaksanaan berbagai kebijakan pemerintah. Jika ada pelanggaran maka bisa dilaporkan untuk dibenahi dan jika ada perbaikan bisa diapresiasi. Dan yeah jangan lupa didokumentasikan, karena masyarakat era digital harus mendokumentasikan perubahan-perubahan yang terjadi pada kotanya. Dengan demikian, menjaga Monas sebagai Cagar Budaya Nasional tidak dilihat dari kacamata jangka pendek atau sebatas lingkungan Monas saja. Melainkan dipandang dari pembangunan kota Jakarta 100-1000 tahun kedepan. 

Depok, 18 November 2019

Bahan Bacaan: 
https://nationalgeographic.grid.id/read/131915534/jakarta-diprediksi-tenggelam-pada-2050-bagaimana-mencegahnya?page=all
https://www.bbc.com/news/world-asia-44636934
https://www.downtoearth.org.in/news/climate-change/3-reasons-jakarta-is-the-fastest-sinking-city-in-the-world-61375
https://www.abc.net.au/news/2019-06-24/jakarta-is-running-out-of-time-to-stop-itself-sinking/11190928
https://www.channelnewsasia.com/news/asia/indonesia-jakarta-sinking-capital-move-neglect-coastal-flooding-12034874
https://kumparan.com/kumparannews/menanti-jakarta-tenggelam-1540778495356462472
https://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Nasional
http://liputanislam.com/analisis/giant-sea-wall-solusi-atau-sumber-masalah-baru/
https://today.line.me/id/pc/article/Cure+to+sinking+Jakarta-NoWBjG
https://id.wikipedia.org/wiki/Tanggul_Laut_Raksasa_Jakarta
https://docplayer.info/72352515-Berita-iagi-geolog-dan-reklamasi-jakarta-menyulap-lusi-menjadi-geowisata-blok-migas-habis-what-next-ikatan-ahli-geologi-indonesia.html
https://www.wired.com/story/jakarta-giant-sea-wall/
https://historia.id/urban/articles/jalan-panjang-mewujudkan-monumen-nasional-PKlkE
http://asosiasimuseumindonesia.org/gagasan/382-50-tahun-monumen-nasional-peran-posisi-dan-pengelolaannya.html
https://www.kaercher.com/int/inside-kaercher/company/media-information/media-information/346-kaercher-cleans-indonesian-national-monument.html
https://www.kaercher.com/id/inside-kaercher/sponsoring/cultural-sponsorship/monumen-nasional.html
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191111120855-199-447265/lipi-riset-jakarta-tenggelam-tahun-2050-bisa-jadi-kenyataan
https://tirto.id/pemprov-dki-segera-terbitkan-perda-larangan-penggunaan-air-tanah-cGdD
https://kolom.tempo.co/read/1078998/selamatkan-air-tanah-jakarta/full&view=ok



No comments:

Post a Comment