Melawan Hoaks tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Ilustrasi oleh Lisa Larson-Walker. Sumber: Thinkstock



Hai Pembaca yang baik, apa kabar? Apakah hari ini menyenangkan dan penuh inspirasi? Oh ya, ada kabar baik bahwa Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) akan disahkan DPR-RI pada bulan September 2019. Sayangnya, langkah maju ini dianggap sebagai 'aib' bagi sebagian kelompok yang masih saja menganggap RUU PKS ini pro zina, seks bebas dan LGBT. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan pelan dulu ah, dan  mari kita belajar lagi A-Z tentang RUU PKS ini agar tidak salah sangka dan termakan hoaks alias informasi palsu.

Aku sudah menulis beberapa artikel mengenai RUU PKS ini. Keseluruhan tulisan itu kumaksudkan untuk menghadang hoaks alias informasi palsu mengenai RUU PKS. Hal tersebut bermula dari diskusi panas di grup WA alumni SMP yang getol banget bilang "Tolak RUU PKS!" dan lain-lain. Trus, pas aku tanya "Udah baca draft RUU PKS dan naskah akademiknya?" mereka yang kencang menolak RUU PKS ini bilang belum. Lha, kalau belum baca dokumennya kok bisa lantang nolak? Kalau nggak tahu duduk perkaranya apa yang harus ditolak? Kecuali, kalau kita menolak karena ikut-ikutan lingkaran arisan, pertemanan, atau pengajian kita yang memang nolak karena diajarkan seseorang untuk menolak.

BACA DULU: Benarkah RUU PKS Legalkan Zina, Aborsi dan LGBT? 

But, please, setiap kita kan bisa membaca draft RUU PKS dan naskah akademiknya. Dokumennya bisa diunduh di situs DPR-RI. Baca dulu semuanya, bahkan semua dokumen hasil kajian banyak lembaga mengenai kebijakan tersebut sebelum bicara dengan lantang menolak atau mendukung. Don't be stupid citizen lah. Mau menolak atau menerima terserah, yang pasti miliki landasan pikir terlebih dahulu, jangan ikut-ikutan kata orang!

INI DIA SEJUMLAH HOAKS RUU PKS

Kebijakan publik memang tidak boleh diputuskan sepihak tanpa uji publik, agar warga negara Indonesia tanpa kecuali dapat memberi masukan. Namun, sangat disayangkan jika sebagai warga negara kita justru menggugat hasil kerja keras banyak pihak dengan informasi palsu alias hoaks. Setiap kita boleh kok mendebat draft RUU PKS ini dengan alasan berbasis agama, budaya, adat istiadat atau apapun. Tapi, harus berbasis ilmu, bukan hoaks. Karena, jika hoaks ini diaminkan oleh mereka yang malas membaca maka akibatnya sangat berbahaya bagi masyarakat banyak.
Sejumlah informasi hoaks tentang RUU PKS yang bertebaran di dunia maya. 

Hoaks tentang RUU PKS ini bertebaran di mana-mana, alias sangat mudah ditemukan di dunia maya. Bahkan kita bisa menemukannya di kanal media sosial seperti twitter, Instagram dan Facebook. Aku menemukan gambar-gambar diatas di sebuah akun twitter dengan pengikut lebih dari 80.000 orang. Bayangkan, jika 50% saja pengikutnya membagikan ulang informasi palsu tersebut, lalu diamini anggota keluarga, lingkaran pertemanan, rekan kerja, hingga lingkaran sosial. Wow!

Kenapa sih harus menggunakan hoaks untuk menentang kebijakan yang nggak sejalan dengan prinsip hidup kita? Apakah harus nih kita yang mengaku beragama ini menggunggat hal yang nggak kita sepakati dengan menebar hoaks alias informasi palsu? Memang apa untungnya menebarkan hoaks? 

PERSPEKTIF KORBAN

Mari coba berdiri di posisi korban kekerasan seksual, agar kita mengerti apa tujuan dibuatnya kebijakan ini. Korban di sini bisa merupakan anak lelaki, anak perempuan, lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Karena, korban kekerasan seksual tidak melulu perempuan, tapi lelaki juga. Pelakunya nggak selalu orang asing, sebab data yang dihimpun Komnas Perempuan selama 15 tahun justru menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku kekerasan seksual adalah anggota keluarga korban seperti ayah atau saudara laki-laki.

Sebagai lex specialist alias kebijakan khusus, RUU PKS ini memang tidak membahas segala hal tentang seksualitas warga negara, melainkan fokus pada "KEKERASAN SEKSUAL" sebab hal-hal seperti perzinahan, aborsi, LGBT dan hal lain yang dikhawatirkan itu sudah dibahas di kebijakan lain seperti KUHP, UU Perkawinan dan UU Kesehatan.

Yuk, turn back hoax tentang RUU PKS. 

Jakarta, 30 Oktober 2019

Bahan Bacaan: 
https://turnbackhoax.id/2019/02/05/salah-maimon-herawati-tolak-ruu-pro-zina/
https://fajrimuhammadin.staff.ugm.ac.id/2019/03/03/ruu-pks-dan-jalan-pancasila-republika-21-februari-2019/
https://magdalene.co/story/hoaks-dan-fitnah-hambat-pengesahan-ruu-pks
https://magdalene.co/story/ruu-pks-tidak-menyalahi-ajaran-islam
https://slate.com/human-interest/2017/12/of-five-qualities-associated-with-sexual-violence-the-classical-music-world-hits-four-of-them.html


No comments:

Post a Comment