Kritik Atas Kampanye #SawitBaik Ditengah Kepungan Karhutla 2019

Titik api kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 berdasarkan pantauan NASA Worldview


"Environment is no one's property to destroy. 
It's everyone's responsibility to protect."
-Mohith Agadi-


Suatu waktu dalam iklim politik yang panas, sejumlah Blogger yang kukenal ikut dalam kampanye #SawitBaik dan aku kecewa. Rasa kecewa ini bukan berasal dari kebencian pada sawit dan segala produk turunannnya, melainkan pada sikap yang tidak pas dengan krisis lingkungan yang sedang berlangsung, yaitu kebakaran hutan dan lahan yang sangat dahsyat di Sumatera dan Kalimantan. Saat warga di kedua wilayah terdampak sedang berjuang dengan napas satu-satu, mata perih dan penderitaan lainnya, di Jakarta ada kalangan terdidik yang asyik dan khidmat berbincang tentang #SawaitBaik?

Sejenak aku terdiam. Perasaan aneh, marah dan kecewa merasuki hatiku. Pihak yang melakukan kampanye #sawitbaik ini adalah sebuah lembaga negara. Akun Instagran @sawitbaik.id bahkan dengan jelas memberikan keterangan sebagai berikut: "kampanye pemerintah untuk memberikan informasi utuh tentang sawit Indonesia. Didukung oleh BDPD, Kemenko Perekonomian dan Kemenkominfo." Secara luas kampanye #sawitbaik ini bahkan melakukan sejumlah kegiatan seperti talkwhow milenial, lomba foto bersama sawit, lomba blog, hingga influencer meeting yang melibatkan komunitas blogger. 
Coba perhatikan waktunya: semua ada di September 2019 bertepatan dengan karhutla yang gila-gilaan itu

Coba perhatikan dengan cermat empat poster kegiatan dalam gambar diatas? Ada yang salah dengan ngobrol-ngobrol atau lomba blog tentang sawit? Nggak. Nggak ada yang salah kok kecuali satu hal aja: Momen. Kalau nyebrang jalan di momen yang salah aja bisa jadi korban tabrak lari, apalagi bicara kebaikan sawit pada momen karhutla. Terlebih di Riau pada September 2019 itu kondisi udara sudah dalam level BERBAHAYA! Orang mau napas aja susah dan gambling soal hidup dan mati, terutama bagi bayi-bayi, lha ini malah kampanye #sawitbaik secara massive.  

Apakah sawit sebagai komoditas alam jahat sehingga aku terang-terangan menunjukkan sikap tidak terima adanya kampanye #sawtbaik ini? Ya enggak lah. Yang jahat dari kampanye ini adalah momen yang bertepatan dengan peristiwa karhutla apalagi pengagasnya pemerintah yang seharusnya bijak dalam bikin program! Nggak masuk akal dan terlihat tolol aja. Sekarang aku tanya deh sama yang ikut kampanye: kalau ada anggota keluarga kalian yang mati gara-gara kena dampak karhutla 2019 seperti ISPA memangnya masih sanggup ikut kampanye #sawitbaik demi uang nggak seberapa itu? 

SEKELUMIT CERITA PASCA KARHUTLA
Mendekati akhir tahun 2014, aku berkunjung ke Kabupaten Siak di Riau sebagai mandat dari kantor tempatku bekerja. Itu pertama kalinya aku ke Riau dan melihat langsung seperti apa sih lahan gambut yang sering dilanda kebakaran hebat hampir setiap tahun. Lokasi yang aku dan timku tuju adalah sebuah kampung transmigrasi yang sebagian besar penduduknya orang Jawa dan komoditas mereka adalah sawit dan padi. Mereka sudah puluhan tahun membangun kampung yang awalnya hutan belantara. Tak heran jika diantara rimbun sawit, kulihat rumah-rumah megah yang akan sulit dimiliki pekerja kelas menengah Ibukota. Untuk memiliki rumah seperti itu, sebuah keluarga minimal harus punya 10 ha lahan sawit. Kalau hanya 1-2 ha ya rumahnya paling dari papan atau setengah papan dan setengah bata merah. Sumpah, aku merasa takjub sekaligus ingin tahu lebih banyak. 

Baca juga: Teguh Menjaga Hutan ala Masyarakat Sebadak Raya

Pada kunjungan itu, aku dan tim diajak ke lapangan. Tahun itu pernah ada kebakaran lahan dan warga sudah menanganinya. Kami diajak ke lokasi bekas kebakaran yang ditengah-tengahnya dibangun kanal yang biasa berfungsi untuk menyiram wilayah yang terbakar. Lahan yang terbakar sangat luas, dan berdiri di sana sangat terasa bahwa Jakarta yang megah seakan-akan hanya dongeng belaka. Hatiku bisa merasakan betapa jauhnya jarak kedekatan psikologis antara Jakarta dan lahan yang terbakar. Jarak yang jauh itu sama membingungkannya dengan berita-berita yang muncul setelah kebakaran terjadi: bahwa kebakaran hutan lahan disebabkan oleh peladang yang membakar lahan untuk membuka lahan baru, dan tidak sama sekali terkait dengan perusahaan. Warga miskin selalu pantas dipersalahkan, bukan? 

Waktu itu aku bersiap menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan warga. Aku tinggal atau live in di rumah seorang penduduk. Rumahnya berbentuk panggung dan terbuat dari papan, dengan kamar mandi terpisah di luar rumah. Kamar mandi tersebut berbentuk segi empat, berdinding plastik dan tanpa atap. Airnya merupakan air tadah hujan. Warga di wilayah tersebut harus memberi bergalon-galon air bersih isi ulang untuk minum dan memasak. Bayangkan, orang miskin harus hidup sesulit itu di negeri yang kaya raya. Dalam kesulitan yang berlapis di tanah yang sulit dikelola, mereka juga harus bersiaga penuh mengadapi konflik lahan dengan perusahaan yang kaya dan powerful

Kaum lelaki di wilayah itu, termasuk sang tuan rumah tempatku menginap dan berkegiatan, baru saja rehat dari kesibukan memadamkan lahan yang terbakar. Katanya, lahan yang terbakar itu milik warga yang diklaim perusahaan, dan konflik mereka cukup alot. Teknis yang biasa digunakan oleh perusahaan biasanya menyuruh pihak ketiga seperti preman bayaran untuk membakar lahan yang disengketakan, dan tuduhan dari kepolisian pun akan menyasar para petani. Mengapa petani seringkali jadi tertuduh dalam kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah sengketa? Jawabannya sederhana: karena mereka miskin, nggak sekolah dan nggak punya kekuasaan. Itulah sebabnya, para petani seringkali berjuang melawan hegemoni perusahaan melalui organisasi tani dan mereka berjaringan dengan banyak serikat tani di seluruh Indonesia. Hanya dengan cara itulah para petani menggalang kekuatan, seperti ratusan lidi yang diikat jadi sapu lidi. 

Kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Kalimantan selalu terjadi berulang-ulang, dan itu lahan gambut. Dalam konteks biodiversity, lahan gambut ini sangat kaya  dan memiliki fungsi yang baik dalam menutrisi tanaman atau pohon, termasuk menjaga keseimbangan iklim. Masalahnya, sekali lahan gambut ini dipantik api, si api akan sulit dipadamkan. Meski api di permukaan tanah sudah dipadamkan, tapi api terus membakar di kedalaman bumi. Itulah mengapa kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan, karena sumber api ada di bawah telapak kaki. Api terus masuk, membakar lapisan gambut di kedalaman tanah. Semakin dalam lapisan gambut, semakin sulit juga mencari tahu apakah api sudah padam atau belum. Perlu hujan badai untuk memadamkan api terselubung yang mengerikan ini. 
Penjelasan tentang lahan gambut dan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. 

Sekembalinya dari Riau, aku bertemu dengan seorang teman SMU yang bekerja di sebuah perusahaan pengelola produk sawit raksasa negeri ini. Grup ini punya konsesi lahan sawit yang sangat-sangat-sangat luas di negeri ini. Mereka juga punya bank dan produknya bisa dijumpai dengan mudah dimana-mana. Menara perkantorannya bisa dilihat dari kantorku di lantai 24. Kami bertemu di salah satu pusat perbelanjaan tertua negeri ini di kawasan Sudirman. Dia orang PR dan sempat bercerita tentang rekan-rekan kerjanya di bagian lapangan, khususnya tim pembongkar hutan untuk dijadikan lahan sawit baru. "Mereka sedih sih pas bongkar hutan buat jadi lahan sawit, tap mau gimana lagi soalnya kan mereka juga butuh pekerjaan," kata temanku tentang rekan kerjanya. Buah simalakama memang.

Nah, terkait sengketa lahan dan tumbang tindih perizinan lahan di Indonesia kita bisa mengaksesnya di situs-situs organisasi yang selama ini melakukan advokasi, atau bisa juga ke website Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Kukira, kita perlu sekali memahami kompleksnya masalah dalam dunia perkebunan-pertanian-pertambangan di tanah air, termasuk mencari tahu secara mendalam penyebab kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Kalimantan tahun 2019 ini. 
Sejumlah petugas berjibaku memadamkan api di sebuah lahan perkebunan sawit di Pekanbaru, Riau pada 7 September 2019. Sumber: trtworl.com

Kembali ke soal kampanye #SawitBaik beberapa waktu silam. Pernah nggak para Blogger yang ikut kampanye tersebut mempertanyakan terlebih dahulu mengapa pemerintah menggandeng perusahaan yang bergerak di pengolahan produk sawit harus melakukan kampanye #SawitBaik saat karhutla terjadi dan korban terus bertumbangan, bahkan diantaranya bayi-bayi? Memangnya nggak ada waktu lain untuk kampanye #SawitBaik yang lebih masuk akal dari sisi marketing bagi pemerintah dan perusahaan? Produk sawit memang baik karena kita menggunakannya sehari-hari mulai dari pasta gigi, sabun mandi, shampoo, bahan kosmetik hingga minyak goreng. Namun, yang menjadi masalah adalah ekspansi gila-gilaan perkebunan sawit yang merambah hutan alam hingga menyerobot lahan milik masyarakat. Ini sangat keterlaluan karena bukan cuma pemerintah yang butuh pemasukan bagi negara atau perusahaan yang butuh keuntungan dan memberi gaji karyawannya, tapi warga negara yang lain juga dan hewan-hewan di dalam hutan tropis. 

NURUL FITRIA DAN TENTANG KARHUTLA 2019
Apakah menanam sawit salah? Jelas nggak salah karena produk turunan sawit memang punya banyak manfaat. Yang salah dari setiap jenis produk entah sawit atau bukan adalah proses eksekusi kebijakan di lapangan. Kita punya tata ruang. Ruang bernama Indonesia harus ditata sedemikian rupa agar isinya tidak tumpang tindih. Dalam konteks tata ruang untuk konsesi perkebunan sawit misalnya, seambisius apapun bangsa ini ingin menjadi produsen sawit terbesar di dunia, kita nggak bisa melenyapkan hutan agar seluruhnya bisa ditanami sawit. Sebelum kita butuh produk turunan sawit, kita butuh udara untuk bernapas dan cadangan air bersih yang terkonsentrasi di kedalaman tanah yang diikat akar-akar pepohonan di hutan-hutan. Itulah mengapa, kampenye #SawitBaik dalam kondisi karhutla sangat melukai upaya banyak pihak yang memperjuangkan keberlangsungan lingkungan. Pembakaran hutan dan lahan dengan sengaja merupakan upaya murah meriah perusahaan dalam membongkar hutan alam untuk kelak ditanami sawit, dan tentu saja dalam memenangkan izin konsesi lahan. 

Dalam pantauan, biasanya dalam kurun waktu 5-6 bulan setelah karhutla, bibit-bibit sawit akan muncul di lahan bekas karhutla. Bibit sawit siapakah itu? Tentu saja bibit sawit milik perusahaan yang namanya akan muncul kemudian sebagai pemegang konsesi. Padahal seharusnya, lahan bekas karhutla direstorasi melalui reboisasi atau program penanaman kembali agar kembali fungsinya sebagai hutan. 

Akhir Oktober silam aku bertemu dengan seorang teman asal Riau. Dia bekerja di sebuah lembaga yang fokus melakukan advokasi kebijakan terkait lingkungan di provinsi yang langganan kebakaran hutan tersebut. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan yang pesertanya adalah perempuan-perempuan yang selalu berusaha melakukan perubahan sosial termasuk isu lingkungan. Kulihat disela-sela kegiatan, terutama saat istirahat malam tiba, Yaya sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. Usut-punya usut Yaya ini sedang menuntaskan deadline pekerjaan dari kantornya yang berkaitan dengan follow up isu karhutla 2019, termasuk mengawal janji pemerintah yang katanya akan menyeret perusahaan pembakar hutan. Yaya melakukan ini sebab tidak ingin kejadian naas yang menimpa keponakannya terulang pada anak-anak lain. Pada karhutla 2015, sepupu Yaya meninggal dunia karena ISPA akibat asap kebakaran hutan. 

KONTEMPLASI: BUKANKAH SEHARUSNYA KITA PANIK?
Saat kebakaran hutan melanda, yang terjadi bukan hanya soal api yang melahap segala sesuatu yang ada di dalam wilayah terdampak. Bayangkan ini, ketika api membakar dengan cepat dan merasuki seisi hutan bagai gelombang panas dari neraka, hewan-hewan terkejut kebingungan: rumah mereka terbakar. Mereka terbirit-birit melarikan diri kesana-kemari. Burung-burung sih enak bisa terbang, lha kalau bayi ular, bayi gajah, bagi kijang dan bayi-bayi binatang lainnya gimana mau menyelamatkan diri? Binatang-binatang ini bisa menyelamatkan diri kalau pi datang dari satu arah sehingga mereka bisa melarikan diri ke arah berlawanan. Tapi, jika api mengepung dari segala arah, tanpa sayap mereka otomatis terpanggang hidup-hidup. Yang lebih sedih, pohon-pohon adalah jenis makhluk hidup yang tidak bisa melarikan diri. Akar mereka yang berguna mengikat air dan tanah, justru menjadi simalakama. Akar pepohonan menahan diri mereka untuk tidak berlari sebagaimana hewan dan manusia, pasrah terpanggang dalam diam, dilahap api yang bersekutu dengan angin. 
Seorang petugas pemadam kebakaran tampak berjibaku memadamkan api 'didalam' tanah gambut, dikepung pemandangan hutan yang menjadi abu di Riau pada September 2019. Sumber: Wahyudi, dari https://www.channelnewsasia.com/
Kebakaran hutan dan lahan yang membawa kerugian di banyak sektor baik alam dan manusia 

Foto-foto di lokasi karhutla 2019 baik di Riau maupun Kalimantan menunjukkan bahwa banyak hewan terjebak dan mati terpanggang. Mungkin, mereka nggak signifikan dimata kita secara langsung karena bukan bagian dari keseharian kita. Mereka bukan bagian keluarga kita yang berharga. Kita tidak berbagi darah dan nasib dengan mereka. Sehingga, gampang sekali bagi sebagian dari kita melupakan mereka saat menjadi seorang campaigner #SawitBaik yang diselenggarakan oleh sebuah pemerintah dan perusahaan dengan konsesi sawit yang sangat luas di negeri ini. Kalau aku sih nggak akan sanggup tersenyum apalagi menulis soal kampanye kebaikan sawit dalam kondisi semacam ini. It's too much and ridiculous! 
Satwa yang terancam punah akibat kebakaran hutan dan lahan

Greta Thunberg, seorang anak remaja asal Swedia pernah menampar dunia lewat banyak sekali kata-katanya yang kecewa pada para pemimpin dunia. Secara garis besar dia mempertanyakan mengapa kita tenang-tenang saja menghadapi masalah-masalah lingkungan yang terjadi padahal perubahan iklim itu nyata dan bencana akibat salah urus lingkungan itu nyata? Mengapa kita nggak panik dengan akibat-akibat yang dirasakan sebagaimana kita jika rumah kita kebakaran, kebanjiran, rusak karena gempa dan sebagainya? Melalui tulisan ini aku pun bertanya mengapa kita nggak panik saat karhutla 2019 terjadi, dan anak-anak bayi menangis karena kesulitan bernapas hingga sebagiannya meninggal dunia dan malah asyik kampanye bahwa sawit itu baik? Pernah tidak kita bertanya mengapa sih kebakaran hutan yang selalu terjadi setiap tahun hampir dipastikan berkaitan dengan perkebunan sawit, tapi nyaris nggak pernah melanda perkebunan teh, tebu, akasia, atau komoditas lain? Tidakkah sebagai golongan terpelajar kita tergerak untuk berpikir kritis atas apa yang sebenarnya terjadi dan mempertanyakan 'sesuatu' dibaliknya? Mari bertanya dan berpikir, sebelum kemampuan itu hilang. 

BANTU NURUL FITRIA HUKUM PELAKU PEMBAKARAN HUTAN DI RIAU
Melalui tulisan ini pula aku ingin mengajak teman-teman pembaca untuk membantu temanku Yaya dalam mengawal janji pemerintah untuk menangkap, mengadili dan menghukum sejumlah perusahaan yang diduga merupakan dalang dibalik karhutla 2019 di Riau. Temanku ini membuat petisi di situs change.org yang meminta pemerintah, khususnya Presiden Jokowi dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menangkap, mengadili dan menghukum perusahaan pembakar hutan di Riau. Yaya berharap juga agar Polda Riau dan Polri segera melakukan penyelidikan atas hal ini. Yaya membuat petisi ini karena teringat pada sepupu mungilnya bernama Intan Syakila yang lahir pada Mei 2015. Intan adalah bayi mungil yang cantik dan menggemaskan. Sayangnya, Intan hanya bertahan 5 bulan saja di dunia. Intan meninggal dunia setelah mengalami batuk tak henti sebulan lamanya akibat pengaruh asap karhutla 2015 yang melanda Riau. Yaya tidak ingin peristiwa menyedihkan tersebut terus-menerus berulang dan merenggut nyawa bayi-bayi tidak berdosa seperti sepupunya. Yaya berharap hukum di negeri ini ditegakkan dengan semestinya. 
Petisi temanku Yaya di situs change.org Indonesia. Silakan tandatangani petisi ini demi Indonesia yang lebih baik. 

Jika pembaca ingin mendukung petisi Yaya silakan klik DISINI dan bantu Yaya mengawal janji pemerintah, Polda Riau dan Polri dalam menghukum perusahaan pembakar hutan di Riau. Dukungan publik bisa menjadi kekuatan dalam mendorong tegaknya hukum yang adil di tanah air. Aku berharap, kita semua mau bergandeng tangan untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan di tahun-tahun mendatang Indonesia bebas dari kebakaran hutan dan lahan. 

Jakarta, 16 November 2019

Bahan Bacaan: 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190924153029-20-433430/koalisi-indonesia-pemerintah-tahu-karhutla-terorganisasi
https://www.channelnewsasia.com/news/asia/death-toll-rises-as-millions-in-indonesia-suffer-from-raging-11902862
https://phys.org/news/2019-09-palm-oil-indonesia-raging-forest.html
https://www.trtworld.com/asia/surging-indonesia-forest-fires-further-stoke-global-warming-fears-29728
https://jakartaglobe.id/context/jokowi-ministers-travel-to-riau-to-coordinate-response-to-forest-fire-emergency
https://worldview.earthdata.nasa.gov/
https://katadata.co.id/berita/2019/09/17/sawitbaik-kampanye-kominfo-yang-dikecam-di-tengah-kabut-asap
https://tirto.id/saat-kabut-asap-pekat-pemerintah-malah-kampanye-sawit-baik-eig9




6 comments:

  1. langsung aja aku ke poin-poinnya ya mbak
    1. aku sepakat sama isi tulisan ini terutama mengenai momen kampanye yang buatku enggak banget.
    2. aku juga kecewa sama beberapa rekan blogger yang begitu masif kampanye sawit baik ini dan beberapa diantaranya malah seakan defensif ketika ada suara sumbang soal kampanye ini.
    3. masalah korporasi sawit ini memang maslaah kompleks yang melibatkan banyak kementrian dan badan-badan lain sejak zaman dahulu kala. sayangnya masalah dari tahun ke tahun yang aku ikuti dari dulu ya gitu-gitu aja. sepakat banget pemilik lahan yang gapunya modal besar jadi tumbal.
    4. saya agak pesimis tentang hukuman pelaku pembakaran, ya tau sendiri lah mbak. tapi petisinya udah aku tandatangani, paling tidak ada usaha.
    5. trims tulisannya dan tetap kritis

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah bersedia membaca dan berpikir kritis. Karena menurut saya, kemanusiaan harus dijunjung tinggi diatas pekerjaan yang kita miliki. Tanpa berbasis kemanusiaan, pekerjaan sehebat apapun percuma adanya.

      Delete
  2. Saya ngak tertarik ikut lombanya mbak. Rasanya aneh disaat berasap bicara #sawitbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, jadi Blogger harus bijak. Nggak asal ikut kegiatan dan ambil kerjaan. Jangan melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, apalagi yang kondisinya antara hidup dan mati.

      Delete
  3. Iya, dulu pas denger lomba-lomba di atas aku sempet mikir, 'lho, yang bener aja'. Untung nggak jadi ikut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bertindak manusiawi dan mengutamakan kemanusiaan harus diposisikan diatas kesombongan dan kebutuhan kita sebagai blogger. Tanpa blogger hidup akan berjalan. Tapi tanpa kemanusiaan hidup kita mengerikan.

      Delete