Jadilah Blogger Unik yang Tidak Seorangpun Bisa Menjadi Kamu

Menjadi Blogger unik itu menyenangkan lho. Sumber: thebalancesmb.com


Aku lupa apa yang memotivasiku menjadi seorang Blogger. Waktu itu tahun 2007, aku mulai magang di sebuah organisasi lingkungan hidup di daerah asalku, Lampung, sekalian melakukan penelitian untuk skipsiku di lokasi dampingan mereka. Aku memang punya komputer, hadiah dari ibuku, namun aku lebih sering ke warnet jika membutuhkan layanan internet. Maklum, waktu itu belum ngerti gimana pasang internet sendiri, dan masih zaman modem juga. Di kantor aku belum pegang inventaris berupa laptop, jadinya belum bisa leluasa belajar untuk mengakses internet lebih intens dari biasanya. Jadi, setiap pulang kantor aku mampir ke sebuah warnet tak jauh dari kosan dan jam 10 malam baru deh balik ke kosan.

Aku belajar blogging secara otodidak, berdasarkan artikel-artikel yang kutemukan via Google. Waktu itu mah bangga pisan sudah punya blog, meski kalau kuingat lagi aku merasa malu dengan blogku yang jelek dan nggak bermutu itu wkwkwk. Nama blog aku waktu itu adalah: menungguhujanreda.blogspot.com dan isinya hanya curhat tidak berfaedah. Btw, waktu itu aku belum tahu apa itu domain, SEO, dan sebagainya. Belum paham pula bagaimana membuat artikel yang benar. 

Baca dulu: Perempuan Ini Mengizinkan Suaminya Dimiliki Perempuan Lain

September 2010 aku pindah ke Jakarta. Waktu itu aku dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa International Fellowship Program (IFP) dari the Ford Foundation. Rencananya aku akan melanjutkan kuliah S2 di Belanda. Dari 50 peserta, ada seorang teman namanya Yusran Darmawan yang ternyata merupakan Blogger kawakan asal Buton, Sulawesi. Dengan latar belakang keilmuwan, budaya, dan jaringan yang kuat tulisan-tulisannya bernas dan blognya telah dibaca jutaan kali. Merasa blogku sangat tidak berfaedah, maka aku belajar lah sedikit-demi sedikit kepada bang Yusran, meski aku tahu kemampuanku menulis masih jauh panggang dari api jika hendak menyusul popularitas beliau. Terlebih lagi, artikel-artikel dalam blognya kelas berat, yang selalu membahas isu humaniora, sosial, politik, budaya, buku dan lain-lain. Saat itu, bang Yusran juga merupakan penulis Kompasiana yang moncer hingga diganjar Kompasianer of the Year 2013

Pertemuan dengan Bang Yusran memberiku sudut pandang baru dalam menjadi seorang Blogger, penulis, pencerita, peneliti atau apapun itu. Aku mulai belajar secara perlahan dan menemukan jati diriku dalam dunia blogging dan kepenulisan. Hingga kemudian mulai ramai para Blogger yang bergabung dalam sejumlah komunitas Blogger. Sesekali, aku meminta Bang Yusran mengomentari tulisanku. Beliau juga nggak pelit memberi apresiasi atas kemajuanku sebagai Blogger, misal saat aku konsisten merapikan template blog hingga menjadi seperti saat ini, yang jauh lebih baik dari template sebelumnya.  Setelah 11 tahun melalui pembelajaran otodidak sebagai Blogger, aku merasa bangga dengan pencapaianku dalam setiap fase-nya meski sempat diremehkan. Oh ya, aku belum pernah sekalipun mengikuti kelas yang blogging, soalnya aku suka ngantuk kalau di kelas dan biasanya aku mengurus blog malam hari sejak pukul 10 malam sampai pukul 2 pagi. 

"Kapan kamu nulis? Kamu bisa mulai dengan nulis di blog," tanyaku pada seorang teman, yang kupikir dia harus berlatih menulis karena orang berpendidikan yang nggak menulis akan hilang ditelan zaman. 
"Nanti saja lah kalau susah sukses. Sekarang mah apa yang akan diceritakan?" jawabnya.

Aku tercenung. Apakah sebuah artikel atau buku hanya bisa ditulis untuk menceritakan sebuah keberhasilan? Jika demikian, berapa lama kita harus menunggu keberhasilan itu dalam genggaman? Lagipula tidak semua orang di dunia ini butuh membaca cerita keberhasilan. Kadangkala, orang lebih suka membaca sebuah reportase yang mendalam, unik, dan terasa menggoda hasrat untuk menjadi bagian dari cerita. Seringkali, kita juga butuh membaca sesuatu yang ditulis hanya untuk mengaduk perasaan, membuat kita semangat saat terjatuh atau sebuah metode untuk menghilangkan kesedihan karena merasa gagal. Banyak juga orang menulis untuk menceritakan kehancuran dan kegagalan agar orang lain tidak menjadi korban dari masalah yang sama. Menulis bukanlah hasil, melainkan proses belajar yang panjang dan jatuh bangun.  
Menjadi Blogger itu butuh tanggung jawab juga

Jika mengacu pada prinsip Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian, sebuah proses panjang yang harus dijalani hari per hari, dalam senang dan susah, dalam bahagia dan sedih, dalam gembira dan putus asa, dalam keadaan aman hingga zaman perang. Contoh paling nyata dari proses adalah turunnya wahyu Tuhan bernama Al-Qur'an tidak dalam semalam, melainkan 22 tahun 22 bulan 22 hari. Jika Tuhan bicara kepada manusia melalui Nabi Muhammad selama itu, bagaimana kita bisa berharap menghasilkan sebuah "masterpiece" dalam waktu sebulan dua bulan? 

Begitu juga saat menjadi Blogger. Adalah perasaan yang biasa jika kita merasa iri dengan Blogger lain yang bukan hanya blognya yang kece, melainkan juga pola pikir sang Blogger, karya-karyanya hingga bagaimana ia memiliki manfaat dalam dunia literasi di tanah air. Seorang Blogger sebagaimana profesi menulis yang lain seumpama Jurnalis harus terus-menerus belajar; mengembangkan pertanyaan dalam proses menulis; berlatih bagaimana membuat tulisan yang sampai dengan tepat pada sasaran, atau bahkan memuat tulisan berbeda sehingga out of the box; berlatih mencari, menyaring dan menggunakan data pendukung tulisan hingga bisa menentukan sendiri apa 'spesialisasi' dalam menulis. 

"Niche blog kamu apa, Ika? Blog kamu mengalami banyak kemajuan," kata seorang teman.
"Hm, apa ya? Ingin kubilang lifestyle tapi nanti melibas tema-tema lifestyle di blog orang lain yang berbeda dengan yang kutulis."
"Nggak minat bikin kelas creative writing?" tanya teman yang lain. 
"Minat sih, tapi siapa yang mau belajar nulis rempong kayak aku?" 

Artikel di blog memang sebaiknya hanya satu tema saja, dan tidak campur aduk dengan tema lain. Karena dengan demikian akan sangat mudah mendapatkan pembaca setia dan traffic tinggi dan tetap. Dengan niche tertentu, kita juga bisa menjadi spesialis di bidang tertentu dan menjadi rujukan banyak orang terkait isu yang menjadi topik tulisan kita. Bonusnya, kita bisa menjadi narasumber atau speaker dalam isu-isu yang berkaitan dengan tema dalam blog kita. Kalau sudah begini kan bisa sekalian membangun nama besar sebagai pembicara, public speaker, pelatih hingga aktivis dari isu yang kita tulis di blog. 

Namun demikian, aku belum bisa menjadi Blogger ideal semacam itu, karena satu dan lain hal. Pertimbanganku adalah akan sangat repot jika aku membuat beberapa blog untuk menjadi rumah bagi beberapa tema dalam blog ini. Karenanya, aku memilih untuk mempersempit tema yang kubahas sehingga aku on track setiap kali punya ide untuk membuat artikel baru. Saat ini aku fokus dalam isu kemanusiaan, perempuan, lingkungan, kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Dalam satu artikel, biasanya aku mengaitkan dua hingga tiga isu untuk saling berjalin satu sama lain. Misal isu ekonomi dan lingkungan, atau perempuan dan ekonomi, atau perempuan dan kemanusiaan, atau kesehatan dan lingkungan. Sedangkan tema tentang review buku, review film, kontemplasi, traveling dan writing&blogging adalah camilan semata. 

Dalam menulis aku selalu serius. Aku nggak bisa memproduksi tulisan santai. Karena kupikir tugasku di dunia literasi bukan sebagai penghibur atau yang menerbitkan senyum pun tawa di wajah orang lain. Aku bertugas mengganggu kenyamanan, di mana isu-isu yang kubahas membawa pembacaku pada keinginan untuk belajar lebih jauh. Aku mencoba membuat semua tulisanku bermutu, dengan dukungan data yang melimpah dan dapat dipertanggung jawabkan. Aku mau, setelah membaca tulisanku, pembacaku akan membuat sebuah pertanyaan di kepalanya terkait isu yang kutulis, hingga keresahan itu menular dan kita terbiasa berpikir kritis atas keadaan yang terjadi di sekeliling kita. Bahkan, dalam mengikuti lomba blog sekalipun aku melakukan hal yang sama. Aku berusaha menunjukkan bahwa Blogger adalah para penulis yang cerdas. 

Aku bersyukur, di mana pengetahuanku tentang deep-writing tidak hanya kugunakan dalam tulisan akademis seperti membuat laporan dan jurnal, juga dalam tulisan populer seperti di blog ini. Aku mau pembacaku tidak meremehkan aku jika tulisanku unik, in-depth, dan berbasis data yang bisa dipertanggung jawabkan. Selama ini aku sering mendapat stigma yang nggak asyik alias kaleng-kaleng tentang kualitas tulisan Blogger, sehingga dengan tulisanku aku harus bisa mematahkan stigma itu. Aku nyaris selalu menyeratkan bahan bacaan yang kugunakan setiap kali memuat artikel. Bahan bacaan itu bisa dipandang sebagai pemanis, sekaligus bukti bahwa tulisanku bukan opini, melainkan racikan berbau akademis. 

Saat komunitas Blogger semakin berkembang, aku pun merasa bangga menjadi bagian dari mereka, meski aku tidak menabung tenagaku untuk membesarkan komunitas tersebut. Aku hanya anggota pasif yang kuharap artikel-artikelku menjadi butiran debu yang meramaikan dunia literasi tanah air dan bahwa peran Blogger dalam dunia literasi itu nyata adanya. Meskipun aku belum menemukan rekan Blogger dengan tema yang sangat ingin kubaca, setidaknya aku bangga bahwa sebagian besar Blogger yang meramaikan dunia literasi tanah air adalah perempuan. Lebih salut lagi karena banyak diantara mereka yang merupakan ibu dengan beberapa orang anak dan juga pekerja yang tangguh. Kupikir, mereka lebih hebat dariku dan energinya luar biasa melimpah untuk mengerjakan banyak tanggung jawab dan masih sempat juga menulis artikel untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa jadi Blogger produktif sekaligus berprestasi. 

Baca Juga: Sejumlah Alasan Mengapa Perempuan Harus Memimpin Perubahan Sosial

Omong-omong tentang Blogger unik, sebenarnya yang kumaksud adalah Blogger yang menulis tentang isu-isu tertentu yang sangat jarang dibicarakan. Misalnya isu politik lingkungan, keuangan dan anggaran, perempuan dan politik, hingga soal humaniora. Aku merindukan tema-tema demikian, untuk bisa terlepas dari artikel-artikel media mainstream dan mendapatkan perspektif yang berbeda. Aku ingin mengalami deep talk tentang isu-isu penting dalam bahasa seorang Blogger, bukan bahasa jurnalis apalagi pembaca berita. Dan aku selalu berharap mereka adalah rekan perempuan, sehingga para perempuan yang menjadi Blogger nggak melulu terjebak harus membahas tema lifestyle

Dalam konteks lifestyle misalnya, memang banyak Beauty Blogger atau Fashion Blogger yang menulis review produk-produk skincare dan kosmetik berbahan organik dan ramah lingkungan. Namun, sepengetahuanku, belum ada Blogger yang misalnya membahas hubungan antara sepotong kain dengan eksistensi pohon atau tanaman tertentu di suatu wilayah tertentu yang terganggu akibat rencana eksploitasi perusahaan tambang marmer (karena hal ini nyata adanya di Indonesia bagian timur sana). Atau tentang bahan-bahan dalam kosmetik tertentu yang ternyata dihasilkan dari kegiatan tambang yang mempekerjakan anak-anak dibawah umur atau perempuan miskin yang upahnya sangat rendah (ada tertentu untuk kosmetik dihasilkan dari pertambangan di Afrika yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur yang seharusnya sekolah). 

Atau para Food Blogger yang membahas menu seafood sekalian mengetengahkan isu tentang sampah plastik di lautan yang partikel mikro-plastik sebagai hasil penguraian sampah plastik bisa masuk ke pembuluh darah udang, kerang dan ikan, bahkan garam dan akhirnya masuk ke tubuh manusia karena manusia memang puncak rantai makanan. Atau para Blogger yang menjadi 'pengiklan' sebuah produk berbahan cokelat apakah juga membahas asal muasal si "biji" cokelat, karena banyak sekali kritik atas perkebunan cokelat yang mempekerjakan anak-anak dibawah umur dan salah satunya sebuah merk minuman cokelat ternama asal Eropa. Karena kupikir, sebagai agen literasi, para Food Blogger nggak hanya menyampaikan soal enak, halal atau murahnya suatu produk makanan. Melainkan juga aware dengan asal muasal bahan pangan, sampah soal isu perburuhan dalam proses produksi di makanan tersebut, sehingga artikel kita menjadi deep
Nilai seorang Blogger itu tinggi kalau tulisannya otentik dan bisa dipercaya

Mengapa sebaiknya jadi Blogger unik dan berbeda dari yang lain? Alasannya sederhana saja: ditengah tingginya arus informasi yang banyak disediakan Blogger, dengan menjadi unik maka kita akan dikenal dengan spesialisasi khusus tersebut di mana hanya kita yang bisa melakukannya (alias orang lain tidak bisa wkwkwkwk). Misalnya nih, ada rekan Blogger yang spesialisasinya adalah artikel untuk diikutsertakan dalam lomba blog. Ya, akhirnya dia terkenal sebagai blogger hunter yang sering memenangkan blog competition. Atau jika Blogger semacam bang Yusran Darmawan, maka bonus dari spesialisasinya adalah sering diajak melakukan penelitian oleh lembaga keren semacam UNDP untuk menulis buku. 

Don't take everything, don't write everything. Jangan mengambil peran untuk segala hal dan jangan menuliskan semua hal, karena jadinya blog kita akan tidak jelas sebagai blog apa dan orang akan bingung spesialisasi kita sebenarnya apa. Lagipula, jika kita menjadi Blogger dengan spesialisasi tertentu, maka kita bisa naik tangga ke bagian atas piramida di mana orang lain mungkin enggan naik ke sana. Kenapa kita nggak naik ke bagian teratas piramida itu, di mana hanya ada kita seorang di sana dan tak seorangpun mampu menulis sebagaimana kita menulis, atau mengambil sudut pandang sebagaimana yang kita lakukan? Kita mengambil spot itu bukan untuk membanggakan diri atau merasa lebih hebat dari orang lain. Melainkan mengambil tanggung jawab dan misi yang tidak diemban orang lain. 

Baca Juga: Tanggung Jawab Berat untuk Mereka Penyandang Nama Besar

So, diatas kelemahan, kekurangan dan ketidak tahuanku akan para Blogger keren tersebut (dan kupikir mereka eksis) aku berharap bahwa setiap pembacaku dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Aku selalu merasa terganggu jika ada orang yang mengatakan bahwa tulisan seorang Blogger nggak bisa dijadikan bahan pembelajaran, atau jelek, atau nggak bermutu atau nggak guna dibandingkan Vlog atau Video pendek. Aku berharap bahwa upayaku menghasilkan tulisan berkualitas untuk pembaca membuat kita semua sadar bahwa Blogger adalah bagian dari penggiat literasi, dan bahwa aku bisa memproduksi tulisan yang mencerdaskan dan bermanfaat bagi pembacaku yang budiman.


TAMBAHAN: HMM, GIMANA DENGAN SPONSORED POST
Selama ini sih tawaran sponsored post yang menyapa kebanyakan produk kesehatan (obat), kecantikan (kosmetik) dan hal-hal tentang kerumah tanggaan. Karena hal-hal tentang itu nggak ada dalam tema tulisan blog ini ya dengan sopan aku tolak. Aku bilang bahwa aku nggak menerima sponsored post yang nggak sesuai dengan tema blog aku. Beres deh, urusan. Aku kok sombong ya nolak rezeki yang menghampiri? Prinsipnya bukan sombong dan sok-sokan seakan-akan banyak uang, tapi lebih kepada ingin menjaga kemurnian isi dari blog ini untuk tidak terisi oleh sesuatu yang diluar tema. Buatku, menulis di blog ini merupakan ruang belajar, berbagi, terapi dan meditasi. Aku harus menjaga kebahagiaanku dalam menulis. 

Trus ada juga yang kontak buat kerjasama pasang artikel sponsored post sebuah website penyewaan buku. Pas aku tanya apa job-desc dan benefit buat aku, pihak penawar bilang blablablabla yang intinya kalau aku mereview website tersebut beserta layanannya, maka aku akan mendapatkan free fasilitas keanggotaan selama blablablabla trus aku akan blabablababla. Intinya aku menulis review untuk mengiklankan jasa mereka tapi agar aku mendapat benefit maka aku harus berusaha keras memasarkan review aku agar dapat point yang banyak. What the hell is that? No, aku bilang, aku nggak bersedia. Aku mau benefitnya dalam bentuk fee yang lumayan besar. Enak aja ngakalin benefit buat memeras pikiran, waktu dan energiku demi keuntungan bisnisnya sendiri. I want money because I love money more than bacot nggak jelas hehe. 

Lalu, sebaiknya menerima atau menolak sponsored post

Begini: sebelum menerima atau menolak, sebaiknya bicarakan dengan agen yang menawarkan kerjasama. Sponsored post itu kan sebenarnya iklan dan mereka menggaet Blogger sebanyak-banyaknya agar artikel buatan klien mereka muncul di banyak tempat dengan biaya iklan yang murah. Celakanya, sponsored post itu kan sering merusak ciri khas tulisan-tulisan kita, trus kita dapat bayaran kecil untuk mengiklankan artikel selamanya. Kecuali jika ada perjanjian dengan fee sekian maka masa tayang hanya seminggu, dan semakin lama masa tayang dalam blog maka fee seharusnya semakin mahal. Kupikir, Blogger harus meniru pola bisnis selebriti di mana semakin unik mereka maka semakin mahal fee yang mereka dapatkan atas jasa yang diberikan. Menurutku, sebagai Blogger kita harus menjual 'layanan' skills/keterampilan kita dengan harga pantas sebagai apresiasi atas diri kita sendiri, karya dan kerja kita. We deserve the best appreciation.  

WHY YOU WRITE?
Mengapa aku menulis? Untuk apa dan untuk siapa aku menulis? Apakah pesan dalam tulisan-tulisan di blog ini sampai kepada pembaca dengan baik dan benar? Mengapa aku terus menulis di blog ini dan tidak bertransformasi menjadi penulis besar yang namanya dibicarakan dimana-mana? Siapakah aku diantara ratusan blogger, terlebih para penulis dengan nama besar yang memiliki segunung jasa dalam mencerdaskan orang lain? 

Setiap kali aku ke toko buku dan melihat nama-nama penulisnya, aku bertanya kepada diriku sendiri: kapan seseorang akan terpaku melihat namaku dan buku yang kutulis di sebuah rak toko buku seperti Gramedia? Bisakah aku menjadi seperti Orhan Pamuk penulis kesayangku? Bisakah aku menjadi seperti atau melampaui J.K Rowling yang menjadi penulis perempuan terkaya dan paling berpengaruh di dunia? Lalu, setelah tahun demi tahun kulalui dalam proses pembelajaran panjang, akan menjadi apa dan tulisanku? 

Saat ini, jalan yang kulalui begitu sunyi. Tulisan-tulisanku tidak membawa Rupiah apalagi ketenaran. Ide, gagasan, kritik dan serangan atas kondisi sosial dalam tulisanku bukan sesuatu yang menarik siapapun untuk beriklan. Aku menikmati jalan ini, umpama sedang bercengkerama dengan alam liar yang tidak dilalui banyak orang. Aku selalu percaya, tulisan yang sangat personal, deep dan unik akan menemukan pembacanya sendiri; bahwa blog ini tidak akan pernah membuat pembacaku bosan; dan aku mau pembacaku menemukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka temukan di tulisan orang lain. Karena apa yang ada di dalam kepalaku, hanya tertuang disini. 

Jadi, untuk siapa aku menulis? Untuk kamu, pembacaku. Yaitu orang-orang yang ingin melawan kepongahan dunia dengan jujur pada dirinya sendiri, sebelum jujur kepada orang lain. Menulis dengan jujur merupakan obat penyembuh.. 

Jakarta, 28 November 2019

9 comments:

  1. Replies
    1. Sedalam lautan cinta kita semua kepada dunia blogging eaaaaa

      Delete
  2. Aku makin termotivasi untuk menulis artikel unik. Mau coba ah menggali potensi dan bakatku yang senang menulis dan membaca ini. Senang deh sama tulisan ini.. penyemangat diri... Bener sih, idealisme itu penting. Blog aku pun ceritanya berdasarkan pengalaman. Bangga dan bahagia ketika para pembaca blogku menerima manfaatnya. Satu hal, aku ga nerima produk buat kulit wajah dan badanku (suka ada aja yang japri hihihi) apalagi buat percobaan. Kalau tawaran traveling makan2, mau dong. Nyalon sesekali juga mau wkwkwkw 😊 TFS ya mbak Ika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini Mbak Nurul, dan semoga segera menemukan keunikan khas milik Mbak sendiri dalam menulis.

      Delete
  3. Salam kenal. Blog dengan niche yang unik/spesifik emang powerful mbak, lebih gampang dimonetasi dengan beragam cara. Saya nerapin itu buat jualan jasa dan hasilnya cakep meski visitor blog saya gak ada 100 per bulan.

    Kalo sponsored post saya gak gitu suka. Lebih suka nerima guest post gratis dengan konten yang bagus dan relevan ditukar dengan link ke blog si guest poster.

    ReplyDelete
  4. Mba Ika adalah salah satu blogger yang unik. Selalu berani bersuara dengan lantang, tajam menyayat untuk isu lingkungan dan perempuan.
    Sudah mirip lah sama idolanya. Saya juga suka baca tulisan bang Yusran.
    Bedanya, saya belum bisa menulis seperti itu.

    ReplyDelete
  5. Kayak biasa, dalem bgt penjelasannya. Sbg travel blogger,ini yg mulai aku lakukan skrg, memberi info lebih ttg suatu tempat wisata. Walau blm maksimal se gaknya biatnya udah ada.. Gak mudah jdi blogger unik, hatus konsisten!! Makasih mbak, artikelnya bikin desire nulis aku kesulut.

    ReplyDelete
  6. Terima kasih atas masukannya mba, saya blogger pemula yg belum terarah... Mohon bantuan dan motivasi juga mba.
    Salam kenal dari saya, Santi di duri Riau..

    ReplyDelete
  7. baca tulisan mba ini, lgs ngerasa kalo travel blogku dangkal banget.. aku blm pernah mencoba nulis yg isinya deep dan unik begitu. mungkin aku bakal pelajarin, supaya bisa menulis yg beda dari biasanya :). selama ini blog buatku hanya utk pelampiasan hobi, malah aku jg nolakin banyak sponsor pist yg dtg hanya krn ga sesuai tema ama blog dan aku memang ga tertarik cari duit di situ. bukan bidangku.. Tp blog, udh kayak anakku sendiri yg aku update rutin. tp memang blm bisa menjadi blog yg unik dibanding blog2 travel lain :)

    ReplyDelete