Ditemukannya Partikel Mikro-plastik dalam Plankton, Garam, Kerang dan Ikan Merupakan Pertanda Kiamat Pangan Dimulai dari Lautan

Partikel plastik yang ditemukan dari perut ikan laut. Sumber: ehp.niehs.edu


Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia,  supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 
(Al-Qur'an, surat Ar Ruum ayat 41)

Bumi yang bulat dipenuhi air dengan daratan menyembul sebagai benua-benua mungkin memang membuat iri planet lain di tata surya. Lautan yang dalam, luas dan misterius adalah rumah bagi segala sesuatu yang memerlukan keahlian khusus untuk memahaminya. Dari pegunungan tinggi dengan sungai-sungainya yang baik hati ia mendapat asupan segala sesuatu, mulai dari air tawar, kotoran binatang, hingga aneka jenis sampah. Lautan menerima segala sesuatu yang dikirimkan kepadanya dengan rendah hati, termasuk pujian akan ombaknya, pantainya, segala makanan didalamnya dan biru warna airnya. Lautan membuat bumi terlihat biru nan indah di mata planet Mars, Venus dan mungkin Jupiter sang tetangga. 

Kabarnya pada milyaran tahun silam para tetangga bumi di Tata Surya bergosip tentang begitu istimewanya ekosistem bumi sehingga diberi hadiah bernama manusia. Mars yang panas, Jupiter yang penuh racun dan Venus yang biasa saja mungkin merasa Tuhan nggak adil. Ya ampun, masa iya hanya bumi yang diberi manusia si makhluk istimewa. Seiring waktu, topik per-gosip-an si Tata Surya mulai berganti isu. Walaupun mungkin Mars merasa deg-degan karena manusia kok bisa sampai pada dirinya dan melakukan eksplorasi, Jupiter justru merasa bersyukur nggak diminati manusia sebagai bumi kedua. Soalnya, makhluk bernama manusia yang dulu bikin iri kini bikin mereka bersyukur. Sudah lama bumi menangis karena dirinya dirusak oleh si manusia. Kalau dulu sih hanya gunung-gunung yang dibongkar dan tanah-tanah dicemari. Tapi saat ini, gara-gara penemuan ajaib bernama plastik, lautan yang indah menjadi sasarannya. Bumi menangis karena penduduk lautan mulai jadi zombie gara-gara rantai makanan mendapat anggota batu bernama mikro-plastik.   

"Ya ampun, Bumi! Bikin meletus saja beberapa gunungmu supaya si manusia sadar bahwa kamu terluka. Habisi saja mereka semua, biar punah!" si Jupiter ketus sembari mengelus-elus tubuh gemuknya. 
"Sudah berapa banyak aku meledakkan gunung-gunungku yang cantik itu demi membela diriku? Yang terbaru kan Krakatau nan cantik aku buat luluh lantak," jawab Bumi dengan wajah masam. 
"Masalahnya apa sih dengan makhluk kecil bernama manusia itu? Kok rese amat!" Mars mulai naik pitam, soalnya benda-benda kiriman manusia dari bumi sudah sampah juga ke beberapa lokasi dalam dirinya, entah mau apa mereka. 
"Manusia kan merasa istimewa karena Tuhan kita menyayangi mereka. Jadi mereka sombong bukan kepalang! Bersihin sampah bekas makanan sendiri aja nggak bisa," keluh bumi semakin memelas. 
"Puk-puk-puk! Apakah kamu nggak diciptakan dengan sistem yang bisa me-reset dirimu sendiri agar kembali seperti keadaan semula, yang bersih, murni dan alami? Itu lho, sebelum kedatangan manusia?" tanya Venus sang bijak. 
"Bisa dong. Tapi kasihan manusia-manusia baik hati yang sudah bekerja keras menjagaku. Jika aku me-reset diriku makan bencana besar akan terjadi di mana-mana, dan mungkin aku akan memerah seketika dan menjadi semacam lautan darah. Kasihan juga para Nabi dan manusia pilihan Tuhan yang terlelap dalam kuburnya, bisa kualat aku!" jawab Bumi.
"Oh gitu ya?" para tetangga bumi di Tata Surya mengangguk bersama-sama, mengasihani bumi. 
"Lalu, apa masalah terbesarmu saat ini? Apakah rasanya sangat sakit?" tanya Venus. 
"Lihatlah lautku yang cantik. Ikan-ikan, penyu, hingga burung-burung mulai stress. Banyak yang menangis karena tubuh mereka penuh sampah plastik huhuhu. Ada juga yang lehernya terjerat sampai tubuhnya penyok nggak karuan. Lihatlah lantai samuderaku sudah mulai dipenuhi botol plastik berusia puluhan tahun huhuhu," sembari terisak, bumi menunjukkan lautnya dan hewan-hewan kecil yang menjerit-jerit kesakitan. Para tetangga Tata Surya ikut menangis karena bumi dalam kehancuran parah. Bumi semacam menderita kanker akibat virus jahat bernama manusia!
"Omong-omong, mengapa Tuhan kita diam saja menyaksikan kamu diperlakukan jahat oleh manusia yang mulia itu?" para tetangga Tata Surya berbisik-bisik penasaran, merasa keadilan harus ditegakkan di Tata Surya ini.
"Kata siapa Tuhan kita diam saja? Sembarangan kamu! Kerja Tuhan itu cerdas dan logis, lihat saja manusia sedang dihukum Tuhan dengan memakan mikro-plastik dari seafood yang mereka gemari itu hahaha. Nggak sadar mereka kalau sedang memakan racun," bumi tersenyum jahil, berharap manusia-manusia jahat punah karena perutnya dipenuhi plastik.   
Tidakkah pembaca sedih melihat singa laut yang menderita karena dicekik sampah plastik ini? Sumber: earthporn.com

Jadi nih ya, manusia di bumi perlu tahu, belajar dan memahami apa itu mikro-plastik yang kini jadi semacam teror pada lingkungan terutama lautan, sekaligus rantai makanan! Manusia yang merasa dirinya lebih mulia dari makhluk lain di seantero bumi harus sadar diri lah kalau sekarang alam sedang balas dendam atas perbuatan nyeleneh, bodoh, malas dan songong manusia pada bumi dan seisinya. Manusia membuang sampah plastik, ya dibalas alam dengan makanan mengandung mikro-plastik. Saat plankton, udang, ikan, cumi, kerang hingga garam mengandung partikel mikro-plastik; maka manusia pada akhirnya mengonsumsi mikro-plastik dalam jumlah yang lebih besar karena manusia kan makannya banyak dan rakus. Ini soal sebab akibat. Apa yang manusia tabur, itulah yang manusia tuai. Pembalasan yang adil, bukan? 

MEMAHAMI TEROR MIKRO PLASTIK DALAM RANTAI MAKANAN
Mikro-plastik apaan sih? Itu lho potongan partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm dan nggak bisa dilihat dengan kasat mata, dan lebih kecil lagi hingga disebut nano-plastik. Nah, nano-plastik sendiri ukurannya sangat kecil sehingga bisa masuk ke aliran darah hewan-hewan laut yang biasa kita makan dan mungkin akan masuk juga ke aliran darah manusia saat kita mengonsumsi garam atau seafood kegemaran kita. Kalau ini terjadi dan nano-plastik menumpuk dalam tubuh kita bukankah pelan-pelan akan menciptakan kehancuran dalam dunia manusia? Bisakah kita menyebut teror sampah plastik ini sebagai asal muasal kiamat pangan, karena lautan adalah sumber pangan manusia mulai dari garam, udang, kerang, cumi, gurita hingga ikan yang menyokong perekonomian dunia? Tidakkah kita merasa ngeri dan panik akan hal ini? 

Mikro-plastik terdiri dari dua jenis, yaitu: 1) mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang digunakan manusia seperti sabun mandi, pasta gigi, pembersih wajah, deterjen, kosmetik, hingga pakaian, dan aktivitas kita sehari-hari tanpa kita sadari telah berkontribusi menyumbang mikro-plastik ke sungai dan lautan; dan 2) mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Sampah plastik yang terurai ini bisa menjadi sebanyak 5.25 triliun serpihan plastik. Nah, 85% sampah plastik di lamat berbentuk mikro-plastik. Di laut, mikro-plastik hingga sekecil nano-plastik dimakan zooplankton, lalu dimakan ikan kecil, dan ikan kecil dimakan ikan besar dan ikan besar dimakan manusia. Akhirnya sampah plastik yang dibuang manusia sampai juga kepada tubuh manusia. Ini hukum sebab akibat yang tak terbantahkan. Semakin panjang rantai makanan di lautan, maka jumlah kandungan mikro-plastik dalam ikan pun semakin besar. Sehingga kandungan mikro-plastik yang masuk ke tubuh manusia juga akan semakin besar.  

Tantangan kita soal makanan bukan lagi soal sehat apa enggak, organik apa enggak, halal apa haram atau hasil curian atau hasil memasak sendiri. Tapi kini soal apakah misalnya ikan, udang, cumi, tuna, mackerel, gurita hingga kerang yang kita makan mengandung mikro-plastik atau enggak? Pada Desember 2018 silam, peneliti Oseanografi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan bahwa ditemukan 10-20 partikel mikro-plastik dalam satu kilogram garam. Partikel mikro-plastik juga ditemukan pada ikan teri yang mencapai 0,25-1,5 partikel dalam setiap satu gram ikan teri tersebut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kandungan mikro-plastik di Indonesia nggak jauh beda dengan temuan di Samudera Hindia, di mana terdapat 30-90 partikel mikro-plastik dalam satu liter air. Wah, sangat mengerikan dan berbahaya, bukan? Bisa jadi dunia berakhir bukan karena perang akhir zaman, melainkan karena setiap makanan dan minuman yang kita konsumsi mengandung mikro plastik yang membahayakan kesehatan.

Dalam sebuah penelitian juga ditemukan bahwa mikro-plastik bisa masuk ke saluran peredaran darah kerang! WOW! Kalau dalam ikan nih, ternyata ikan di seluruh dunia sudah mengandung 25% mikro-plastik dalam tubuhnya. Dalam penemuan Dr. Chelsea Rochman misalnya ikan silverside dari perairan indonesia malah ditemukan serpihan kain alias mikro-plastik yang berasal dari serat kain (mungkin pakaian atau apa berbahan nilon dan polyester). Terlebih hampir semua pakaian zaman modern ini berasal dari serta sintetis yang mengandung plastik, yang setiap kali dicuci mengeluarkan sekitar 2.000 serat plastik yang luruh terbawa air. Kata peneliti itu, hampir seluruh orang memakan ikan tersebut pula. Karena ukurannya sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, mikro-plastik ini dapat ditelan hewan-hewan seperti udang, cumi, ikan, atau organisme lain yang akhirnya sampai juga kepada manusia sebagai puncak rantai makanan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa mikro-plastik telah ditemukan dalam kotoran manusia, yang diduga berasal dari garam dan seafood. Sementara itu, efek mikro-plastik bagi kesehatan tubuh manusia masih dipelajari ilmuwan.

Perairan Indonesia dari Aceh hingga Papua juga mengandung mikro-plastik. Dari 19 titik yang menjadi sampel penelitian LIPI menyebutkan bahwa seluruh laut Indonesia mengandung mikro-plastik. Wilayah-wilayah dengan kandungan mikro-plastik tinggi biasanya di muara sungai, sebagai pertemuan antara sungai dan pantai, dan tempat menumpuknya sampah hasil bawaan aliran sungai dan yang dihempas ombak dari lautan lepas. Kegiatan manusia di sekitar sungai dan padatnya populasi di wilayah pesisir juga menjadi penyebab tingginya kandungan mikro-plastik menumpuk di muara sungai. Di perairan Indonesia, sebagian mikro-plastik juga berasal dari sampah Styrofoam. Ngeri sekali membayangkan sampah-sampah plastik itu terpecah kedalam ukuran sangat kecil sekecil virus dan bisa meracuni manusia karena kemampuannya memasuki aliran darah kita yang suci dan sensitif ini. Menyeramkan!

SOLUSI AGAR TIDAK TERJADI KIAMAT PANGAN DARI LAUTAN 
Sebuah laporan menyebutkan bahwa pada 2050 bobot sampah plastik di lautan akan lebih banyak daripada ikan dan bukankah ini ancaman serius pada ketersediaan sumber pangan? Selama ini, kita terlalu boros menggunakan "virgin plastic" dan enggan mengunakan plastik daur ulang sebagai hasil dari bisnis daur ulang sampah plastik. Peneliti Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa tahun 2050 itu selain jumlah plastik akan mengalahkan jumlah ikan, yang tak kalah menyeramkan adalah jumlah mikro-plastik akan mengalahkan jumlah plankton dan mengancam kehidupan laut dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Peperangan di lautan nggak pakai senjata apalagi bom atom, tapi sampah plastik yang terurai menjadi mikro-plastik hingga nano-plastik!

Nah, sebelum kita bicara soal bagaimana mencegah kiamat pangan dari lautan. Terlebih dahulu kita harus tahu fungsi lautan di bumi ini, agar penduduk bumi bernama manusia paham betul bagaimana menyelamatkan bumi demi kepentingan spesiesnya juga, agar bumi tidak rusak. Ada lima alasan penting mengapa kita wajib menjaga lautan: 
  • Lautan adalah pengatur suhu bumi. Hm, baru tahu ya? Lautan merupakan termostat atau pengatur suhu bumi. Cara kerjanya adalah ketika matahari memanaskan garis khatulistiwa (equator) sirkulasi di bumi lainnya akan tetap hangat. Contohnya, arus teluk bisa menghangatkan wilayah Eropa yang dingin 
  • Lautan adalah rumah bagi jutaan spesies. Sebagian besar bumi terdiri dari air, dan didalam air terkandung jutaan spesies yang mungkin nggak kita ketahui siapa mereka. Jika kita merusak lautan, maka kita ikut merusak jutaan spesies tersebut dan mungkin kerusakan itu mengancam bumi secara keseluruhan. 
  • Lautan membantu mengurangi kadar karbondioksida di atmosfer. Menurut ilmuwan, dalam kurun waktu 100 tahun terakhir kadar karbondioksida di bumi meningkat drastis. Nah, untuk menyerap karbondioksida tersebut bumi membutuhkan pepohonan di hutan-hutan tropis dan lautan. Pepohonan di bumi hanya mampu menyerap 1/3 karbondioksida, sehingga sisanya diserap lautan. Bayangkan jika lautan rusak, habislah kita!. 
  • Lautan sebagai sumber air. Manusia di bumi perlu tahu bahwa air yang kita gunakan sehari-hari merupakan siklus panjang hidrologi. Siklus ini dimulai dari menguapnya air di lautan, mengembun di awan dan menghasilkan hujan. Tanpa air manusia hanya bisa bertahan hidup tiga hari saja, maka bayangkan jika seluruh sumber air rusak, maka manusia juga yang rugi, bukan? 
  • Lautan mampu mengurangi potensi bencana alam. Kita mungkin pernah mengenal kata "pemanasan global" atau Global Warming. Nah, kondisi ini disebabkan oleh berkurangnya kemampuan bumi untuk menyerap karbondioksida yang terlepas ke atmosfer. Jika bumi semakin panas, maka es abadi di kutub utara dan selatan akan mencair dan menyebabkan meningkatnya permukaan air laut. Selain itu, jika suhu bumi meningkat akan ada lebih banyak air menguap ke udara, membentuk awan yang besar, dan membuat angin bertiup lebih kencang. Hal-hal itu bisa menyebabkan topan dan badai, dan bisa merisak kota-kota dan merugikan manusia. 


Mengetahui betapa besarnya fungsi lautan, maka manusia secara bersama-sama harus menjaganya, termasuk dari pencemaran sampah plastik. Nah, banyak sekali cara yang kita lakukan dalam mengurangi sampah plastik, termasuk agar sampah plastik tidak berakhir di lautan dan berubah wujud menjadi mikro-plastik. 

1| Kurangi atau Jangan gunakan "virgin plastic"
Virgin plastic adalah plastik yang baru saja diproduksi, biasanya berwarna bening. Semakin banyak kita menggunakan virgin plastic, maka semakin kita berkontribusi pada penggunaan bahan-bahan fosil dalam produksi plastik. Lagipula, karena plastik bisa digunakan berulang kali, alangkah baiknya kita menggunakan plastik berulang kali sebagaimana tujuan awal penciptaan plastik. Dengan demikian kita akan mengurangi kebiasaan menggunakan plastik baru. Contoh: saat kita berbelanja sebaiknya kita membawa tas belanja sendiri agar tidak mendapatkan kantong plastik baru dari penjual. Kita juga bisa menggunakan paket alat makan milik sendiri saat makan di restoran, sehingga kita tidak harus menggunakan alat makan dan minum menggunakan bahan plastik. Mari kurangi penggunaan plastik dalam kehidupan kita. Mari kita tempatkan plastik bukan sebagai kebutuhan sehingga kita akan melatih diri kita untuk tidak bergantung pada plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat kita belanja. 

2| Mendaur ulang sampah plastik dengan benar
Di seluruh dunia, baru 9% sampah plastik yang didaur ulang. Karena tingkat daur ulang yang rendah inilah, sampah plastik masih berujung di lautan dan merusak lingkungan kita.  Sebagai manusia yang baik, kukira kita pun harus berpartisipasi aktif dalam mendorong kegiatan daur ulang sampah plastik dan memastikan ada lokasi-lokasi daur ulang di dekat lingkungan kita. Hal paling gampang kita lakukan adalah menjadi anggota Bank Sampah dan menabung sampah plastik kita disana, agar dikelola dengan semestinya oleh para pengelola sampah. 

3| Ikut membersihkan sampah plastik
Saat ini sudah banyak sekali kegiatan-kegiatan membersihkan sampah plastik baik di lingkungan tempat tinggal, sungai, danau, hingga pantai. Nah, kita juga bisa bergabung dengan gerakan tersebut agar semakin banyak orang dan tenaga dalam menyelamatkan lingkungan dari pencemaran sampah plastik. Karena bekerja sama akan memudahkan dan meringankan kita dalam menyelesaikan masalah-masalah berat seperti memerangi sampah plastik. 

4| Mendukung kebijakan pelarangan plastik
Hidup dalam masyarakat modern yang terbiasa menggunakan plastik, mungkin kita akan merasa kesulitan jika plastik benar-benar dilarang dalam kehidupan. Pelarangan plastik yang dimaksud adalah penggunaan plastik sekali pakai, karena sesungguhnya plastik digunakan berkali-kali. Bahkan, jika kotor, plastik bisa dicuci dan digunakan kembali sebagai plastik bersih. Kita juga bisa mendorong gerakan ini dengan menggunakan wadah makanan dan minuman dari produk plastik tertentu yang bisa digunakan berulang-ulang. 

5| Tidak menggunakan produk yang mengandung "Microbeads"
Manusia di bumi harus tahu kalau microbeads itu ada dalam banyak produk yang biasa kita gunakan sehari-hari seperti pasta gigi, sabun pembersih wajah, sabun mandi hingga kosmetik. Microbeads ini akan langsung terbuang ke saluran pembuangan air dan berakhir di lautan dan berdampak buruk pada ekosistem lautan. Kita bisa mengurangi penggunaan produk yang mengandung microbeads ini dengan memperhatikan komposisi dalam kemasan produk. 

6| Ikut berkampanye tentang bahaya sampah plastik
Kita tidak boleh berpangku tangan dan berdiam diri dalam menghadapi teror sampah plastik sembari menunggu orang lain atau pemerintah yang melakukan perubahan. Kita harus membekali diri dengan informasi dan perkembangan terkini terkait. Kita tidak hanya harus memiliki keingintahuan dan kepedulian soal isu sampah plastik. Namun, kita juga bisa menjadi bagian dari solusi. Contohnya: kita bisa menjadi video creator yang memberikan kesadaran soal bahaya sampah plastik; mendirikan bank sampah dalam mengurangi polusi sampah plastik sekaligus melakukan daur ulang sampah plastik; membangun bisnis daur ulang sampah plastik; hingga mendorong kebijakan pemerintah soal pelarangan plastik pakai hingga program pengelolaan sampah plastik. 

7| Mendukung organisasi yang bekerja untuk mengurangi polusi sampah plastik, agar mereka bisa terus bekerja  
Ada banyak sekali organisasi non pemerintah yang bekerja untuk membersihkan bumi dari polusi sampah plastik. Organisasi itu membutuhkan dukungan publik dalam melakukan kerja-kerjanya. 

8| Terus mendorong pemerintah dalam membuat kebijakan pro-lingkungan dan mengontrol pelaksanaan kebijakan tersebut
Negara ini memiliki aturan dan pemerintah adalah pihak yang berwenang membuat dan mengontrol pelaksanaan aturan atau kebijakan yang dibuat, termasuk terkait pengelolaan sampah plastik. Nah, kita sebagai warga negara harus memiliki peran kuat dalam mendorong dilaksanakannya kebijakan-kebijakan pemerintah tentang lingkungan hidup, termasuk pengelolaan sampah plastik agar tidak sungai dan lautan. 

9| Membawa isu lingkungan ke dalam semua forum pendidikan hingga ceramah keagamaan
Orang sering salah mengerti soal tupoksi menjaga lingkungan hidup. Kita membebankan semuanya kepada negara karena katanya negara bekerja berbasis pajak rakyat. Padahal, warga negara tanpa kecuali harus ambil bagian dalam usaha ini karena toh warga negara juga yang selama ini membuat masalah-masalah ini muncul. Masa iya keputusan untuk membuang sampah ke sungai atau danau atau lautan harus memerlukan sebuah Undang-Undang alih-alih mendengarkan kata hati dan nasehat dari dalam pikiran kita sendiri bahwa perbuatan itu salah sekaligus merusak. 

BOYAN SLAT, BOS ROBOT PEMBERSIH SAMPAH DUNIA
Satu renungan untuk menutup tulisan ini: saat kita masih sibuk bertikai soal status halal atau haram sebongkah roti, soal pakaian yang mengundang birahi, soal keimanan orang lain yang mungkin berakhir di neraka, atau soal cadar dan celana cingkrang, dan menuduh negara-negara Barat menciptakan "Pemanasan Global; mereka, orang-orang Barat yang kita anggap kafir dan bahkan Ateis dan Agnostik calon penghuni neraka itu melakukan berbagai upaya menyelamatkan lautan dari sampah plastik. Saat kita sibuk bertikai soal status halal atau haram bermain catur atau game jenis lain, lelaki muda bernama Boyan Slat menjadi CEO sebuah perusahaan teknologi dan membangun banyak robot bernama "Interceptor 001" untuk membersihkan sungai dan lautan dari sampah plastik. Satu mesin ia kirim ke Jakarta untuk membersihkan Kali Cengkareng Drain, Jakarta barat. Robot ini juga membersihkan sungai di Malaysia dan Vietnam.

Boyan Slat dan team-nya The Ocean Cleanup beranggapan bahwa ada dua cara membersihkan bumi dari polusi sampah plastik, yaitu dengan membersihkan lautan dan menutup keran yang membawa sampah ke lautan yaitu sungai-sungai. Ia menggunakan istilah closing the tap atau menutup keran adalah sebagai upaya mencegah sampah dari sungai-sungai mengalir ke lautan. Karenanya diperlukan upaya untuk mengumpulkan sampah di sungai-sungai dengan sebuah robot yang menelan sampah-sampah sebelum dikumpulkan, dan diolah di tempat daur ulang sampah. Robot Interceptor 001 ini memiliki kemampuan mengumpulkan hingga 100 ton sampah sehari, dan bisa mengimbangi tingginya sampah Jakarta yang mencapai 7.700 ton per hari. Robot ini bekerja secara otomatis dan digerakkan oleh energi matahari sehingga tidak menghasilkan polusi baik polusi udara maupun suara.

Pemuda Belanda ini bertekad membersihkan 1.000 sungai paling tercemar di bumi dalam waktu 5 tahun saja (2019-2025). Boyan Slat membawa robotnya ke Indonesia karena pemuda itu tahu bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah nomor 2 terbanyak di dunia. Lihat kan, membersihkan sampah nggak bisa menggunakan doa, tapi pakai karya, kerja dan upaya cerdas. Sang Pencipta pastilah mengutus Boyan Slat dan memberinya ilmu pengetahuan sebagai penolong. Terberkatilah Boyan Slat dan siapapun yang berjuang membersihkan bumi dari sampah plastik. Kita memuja Sang Pencipta dengan doa-doa dari mulut kita, dengan ceramah kita, tapi Boyan Slat memujaNya dengan membersihkan bumi titipanNya.

Boyan Slat bilang robot yang dibuat perusahaanya memang sangat mahal, terlebih jika misinya adalah membersihkan 1.000 sungai paling tercemar di bumi dalam kurun waktu 5 tahun saja. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek mulia tersebut? Namun, jika kita semua membiarkan sampah plastik terus menerus mencemari sungai dan lautan, maka sesungguhnya kerugian kita lebih besar dari biaya membuat mesin tersebut. 

Baca juga: Penasaran, Kapan ya Ustadz Abdul Somad Memulai Green Dakwah?

Jika Boyan Slat dan tim di The Ocean Cleanup bekerja keras berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi demi menciptakan sebuah robot canggih dalam membersihkan sampah di sungai dan lautan. Masa iya kita masih nggak punya rasa malu dengan membuang sampah plastik sembarangan sehingga mencemari sungai dan lautan, dan menjadi racun bagi sumber pangan kita sendiri. Sudah selayaknya kita malu pada Boyan Slat dan pada mesin ciptaannya. 

Jakarta, 27 November 2019


Bahan bacaan: 

https://serc.carleton.edu/NAGTWorkshops/health/case_studies/plastics.html
http://earthporm.com/heartbreaking-photos-of-pollution/
https://ehp.niehs.nih.gov/doi/10.1289/ehp.123-a34
https://en.wikipedia.org/wiki/Microplastics
https://www.triplepundit.com/story/2018/our-plastic-problem-plastics-marine-life-and-beyond/11841
https://ocean.si.edu/conservation/pollution/laysan-albatrosses-plastic-problem-6
https://www.theplastictide.com/the-problem-main
https://cosmosmagazine.com/biology/plastic-smells-delicious-to-seabirds
https://science.sciencemag.org/content/347/6223/768
https://www.earthday.org/2018/04/05/fact-sheet-plastics-in-the-ocean/
https://www.nationalgeographic.org/article/ocean-trash-525-trillion-pieces-and-counting-big-questions-remain/
https://edition.cnn.com/2019/04/16/health/ocean-plastic-study-scn/index.html
https://nationalgeographic.grid.id/read/131249836/mengkhawatirkan-mikroplastik-ditemukan-dalam-garam-dan-ikan-di-indonesia?page=all
https://tekno.tempo.co/read/1155154/terungkap-ada-mikroplastik-di-ikan-teri-simak-risetnya/full&view=ok
https://kumparan.com/@kumparansains/mikroplastik-ancaman-tersembunyi-bagi-tubuh-dan-lingkungan
https://tirto.id/tak-menjaga-laut-manusia-akhirnya-memakan-plastik-cQte
https://theconversation.com/anda-memakan-plastik-mikro-dalam-cara-yang-tak-terbayangkan-100256
https://tirto.id/waspadai-mikroplastik-di-dalam-garam-laut-cNq9
https://www.cnnindonesia.com/longform/teknologi/20190929/pijar-terperangkap-gelombang-mikroplastik/index.html
https://oceanservice.noaa.gov/facts/microplastics.html

https://www.vice.com/id_id/article/kzvbyy/pada-2050-jumlah-plastik-di-lautan-akan-lebih-banyak-dibanding-ikan
https://tekno.tempo.co/read/1154622/lipi-sampah-plastik-melebihi-jumlah-ikan-pada-2050
https://regional.kompas.com/read/2019/07/20/17172881/menteri-susi-khawatir-laut-indonesia-lebih-banyak-sampah-plastik-daripada
https://sains.kompas.com/read/2019/09/24/180000623/5-alasan-mengapa-kita-wajib-menjaga-lautan?page=all
https://www.oceanicsociety.org/blog/1720/7-ways-to-reduce-ocean-plastic-pollution-today
https://www.thejakartapost.com/news/2019/11/01/plastic-interceptor-introduced-to-help-clean-jakarta-rivers.html
https://time.com/5711875/plastic-sea-rivers-ocean-cleanup/
https://sains.kompas.com/read/2019/11/01/124808223/interceptor-001-alat-canggih-pembersih-sampah-sungai-beroperasi-di-jakarta?page=all


2 comments:

  1. Ngeri sekali ya dampak sampah plastik ini, jadi ingat ada satu desa yang selalu membuang sampah di kali dan aliran kali itu akan sampai ke laut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeri banget, dan sayangnya hanya sedikit orang yang panik akan hal ini dibandingkan jika kita melakukan dosa yang lain. Padahal menurutku, merusak alam adalah dosa yang nyata kepada Tuhan, karena kita nggak amanah dalam menjaga titipanNya yaitu bumi.

      Delete