Apakah Bergabung di Komunitas Blogger Adalah Kewajiban?

Jadi Blogger itu asyik. Sumber: whaleshares.com



"If the book is true, it will find an audience that is meant to read it."
-Wally Lamb-


Aku cukup sering mendapat pertanyaan Blogger pemula soal apakah seseorang yang sedang memulai karir menulisnya sebagai blogger 'harus banget ya' gabung di komunitas Blogger. Aku jawab langsung ya: nggak wajib. Bergabung di komunitas Blogger itu opsi alias pilihan. Nggak ada seorangpun di dunia ini mewajibkan seorang Blogger bergabung di komunitas. Beda sama pekerja yang 'sangat direkomendasikan' bahkan 'wajib' gabung di serikat pekerja. Atau misalnya jurnalis yang 'sangat direkomndasikan' gabung di organisasi yang mewadahi para jurnalis, dan tentunya jurnalis juga harus gabung di serikat pekerja. Nah, kalaupun seorang Blogger bekerja sebagai freelancer atau konsultan lepas atau penulis lepas, mungkin bisa gabung di suatu organisasi atau asosiasi yang mewadahi para pekerja lepas untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja lepas agar nggak ditindas/diperas tenaga, waktu dan energinya oleh para pemberi kerja. 

Dari rekanku yang Blogger professional, Yusran Darmawan aku mengenal seseorang bernama Tom Pepinsky. Nah, Pak Tom ini merupakan seorang Professor dan dosen di bidang pemerintahan di Cornell University, Amerika Serikat. Sebagai akademisi cemerlang, Pak Tom ini memiliki sebuah website di tompepinsky.com yang memuat sejumlah informasi beliau seperti CV, karya ilmiah atau hasil riset, publikasi, jurusan yang diajar dan blog. Aku sering membaca blognya Pak Tom ini yang isinya banyak membahas masalah-masalah yang sedang populer di Asia Tenggara entah tentang terorisme, pemerintahan, pemilihan umum, ekonomi dan sebagainya. Meski punya blog dan aktif menulis untuk blognya, Pak Tom tentu tidak dikenal sebagai Blogger. Ia tetaplah seorang Professor, dosen, peneliti dan pakar di bidang pemerintahan. 

Lalu ada lagi Mark Manson. Meski ia mengawali karirnya di dunia internet sebagai blogger, tapi dia memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai author, thinker, dan life enthusiast. Padahal dunia juga tahu kalau dia seorang internet marketer. Meski demikian, Mark tetap memberikan kursus di bidang penulisan dan blogging kepada siapapun yang membutuhkan. 

Baca juga: Haruskah Setiap Hari Posting Tulisan di Blog?

Kemudian aku juga sempat mencandui sebuah blog cantik karya kakak beradik Emma dan Elsie, yaitu A Beautiful Mess. Mereka berdua mengelola satu blog tentang gaya hidup. Karena produk mereka laris manis akhirnya blog itu mereka kembangkan menjadi website dan kegiatan mereka menciptakan produk untuk konten blog kini dijual melalui perusahaan yang mereka dirikan. Dulu mereka menamakan diri mereka sebagai Blogger. Kini, mereka dengan bangga mengatakan sebagai pemilik dan pengelola sebuah perusahaan yang menebarkan kebahagiaan melalui barang-barang buatan rumah untuk mendukung homemade lifestyle. Sangat inspiratif dan menguntungkan, bukan? 

Sehingga, dari cerita-cerita diatas kita sebenarnya nggak harus memperkenalkan diri kita sebagai "Blogger" meski menulis di blog. Kita bisa saja memperkenalkan diri kita sebagai penulis, MC, public speaker, peneliti, dosen, jurnalis, dokter, konsultan kecantikan, Video creator, content creator, manager, dan sebagainya. Fell free ajaaaaaaaaa.

KEUNTUNGAN BERGABUNG DI KOMUNITAS BLOGGER
Back to pembahasan sebagai Blogger ya. Jadi, adalah hak kita mau bergabung atau enggak di komunitas Blogger. Nggak ada mandat dari negara apalagi PBB bahwa setiap Blogger harus tergabung di sebuah komunitas. Menurutku, komunitas adalah tempat saling mengenal, belajar dan wadah bagi Blogger untuk mengembangkan diri. Jujur aja, aku tergabung ke beberapa komunitas Blogger tapi belum pernah ikut gabung di kegiatan mereka. Aku baru aktif di dunia maya, misalnya dengan ikut meramaikan posting artikel di medsos berdasarkan tema-teman yang ditentukan setiap harinya, BW ke artikel orang, dan hal-hal sederhana lainnya. Mengapa demikian? Karena aku bekerja dan aku nggak punya banyak waktu luang untuk ikut di pertemuan-pertemuan komunitas Blogger. Meski demikian aku bersyukur masih bisa gabung di komunitas Blogger karena aku bisa berkenalan dengan banyak Blogger dan belajar banyak hal dari mereka. 

Baca juga: Blogger Unfaedah? Malu Atuh!

Sementara bagi Blogger pemula yang kebingungan mau belajar ke siapa tentang dunia blogging, sangat aku rekomendasikan bergabung di komunitas Blogger. Karena dengan demikian ia mendapat banyak guru entah di bidang penulisan, photography, editing, hingga menentukan tema yang pas untuk tulisan di blognya. Karena, kalau seorang Blogger menulis segala hal secara serampangan blognya menjadi tidak menarik. Bahkan, dewasa ini bergabung di komunitas Blogger juga bisa menjadi peluang mendapatkan pekerjaan, karena Komunitas Blogger biasanya banyak mendapatkan tawaran kerjasama baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. Tujuan mereka jelas, meningkatkan literasi publik terkait informasi atau produk tertentu. Tapi hei, jangan pula bergabung di Komunitas Blogger hanya demi mengincar pekerjaan tapi enggan berbagi pengetahuan ya. Jangan pernah jadi benalu yang mengganggu. 

SEJUMLAH KESALAHAN BLOGGER, JANGAN DITIRU!
Sebagian Blogger yang kebetulan follower media sosialnya banyak sering menyatakan bahwa mereka influencer. Walaupun sebenarnya agak sulit juga menguji seberapa influence-nya mereka bagi produk yang pernah mereka 'langitkan' di dunia maya. Tapinya, ada beberapa cerita memalukan tentang mereka yang mengaku influencer ini dan jangan ditiru ya, karena bisa merusak citra para pekerja lepas. Ini kan mengerikan sekaliiiiiiiii. 

Sesungguhnya setiap pekerjaan harus memiliki kontrak dan ada etika bekerja didalamnya yang harus dijunjung tinggi. Pernah misalnya ada sejumlah influencer yang merupakan "Bos" dari sejumlah logger pemula yang meminta fasilitas gratis ke sebuah hotel untuk sekian orang, dengan imbalan berupa review hotel dari A-Z. Padahal, kalau memang butuh pekerjaan dengan mereview hotel seharusnya sang influencer mengajukan proposal kerjasama. Dalam proposal tersebut dijelaskan apa job description mereka, produk apa aja yang akan mereka 'langitkan' di dunia maya, berapa pageviews yang mereka janjikan dan berapa besaran kerjasama tersebut. Hotel itu kan jual jasa dan pelayanan buat dapat uang, lha ini influencer kok minta job dengan nggak sopan. Akhirnya dia jadi gunjingan publik. 

Baca juga: Jakarta Diprediksi Tenggelam 2050! Kok Nggak Ada yang Panik? 

Atau ada juga Blogger yang selalu tampil dan ingin jadi nomor satu, meninggalkan kelompoknya. Seringkali ia disebut sebagai "Dia lagi, dia lagi. Nggak ada yang lain ya?" Bahkan pernah juga si pemimpin komunitas blogger ini melontarkan sebuah pernyataan bahwa kalau ada blogger luar daerah yang diundang suatu lembaga atau komunitas di daerahnya, maka harus izin komunitas blogger dia dulu. Hah? Yang bener aja? Sejak kapan komunitas Blogger punya jobdesc semacam Kesbangpol? Kalau berkunjung untuk memperpanjang tali silaturahim sih boleh banget. Namun, bukan berarti sebuah komunitas di suatu daerah menjadi semacam petugas bea cukai yang memeriksa apa kegiatan seorang blogger yang main ke daerahnya. It's riddiculus! Lebay! Komunitas blogger tuh bukan preman tukang palak, tapi ruang belajar. Camkan itu. 
Media sosial dan followernya. Sumber: socialmediaguide

Lalu, ada juga Blogger atau influencer yang ngemis follower di media sosial dengan tidak sopan. Misalnya: setelah follow akun kita, dia meminta follow back, dan kalau kita nggak follback dia maka dia langsung unfollow. Masalahnya nggak setiap orang punya kemampuan untuk menangkap informasi yang bejibun di unggahan di media sosial kita yang terkadang banyaknya nggak ketulungan. Orang juga memiliki keterbatasan waktu dalam mengakses informasi. Sehingga adalah wajar dan hak asasi setiap orang untuk hanya menjadi follower bagi akun-akun yang signifikan bagi kepentinganya mengakses informasi. Padahal, untuk saling follow ada banyak metode dan nggak harus memaksa. Kalau aku sih nggak akan pernah follow mereka yang memaksaku jadi follower akun mereka. Sebagai seorang pribadi, aku punya hak untuk menyaring informasi apa saja yang aku konsumsi. Di tengah arus informasi yang deras ini, aku masih ingin jadi manusia waras. 

Aku nggak suka fake people, termasuk mereka yang follow akun media sosial kita hanya demi menghilangkan perasaan nggak enak hati. Padahal sebenarnya dia nggak suka atau nggak butuh atau bahkan eneg dengan konten kita. Maka, kita harus sadar diri sih (dalam hal ini aku) buat nggak maksa orang lain to follow me. Sebab, segala sesuatu yang tambun dan ramai belum tentu sehat dan waras, bukan?

Memiliki puluhan ribu follower memang terlihat menyenangkan. Namun apakah itu organik? Kalau hasil membeli sih percuma aja. Karena kegunaan utama konten adalah untuk berbagi informasi dan pengetahuan dengan follower sebagai audience. Karenanya, aku tidak pernah berusaha 'menjual diri' demi menaikkan jumlah follower, karena sebenarnya aku sudah bahagia dengan feedback dari pembaca setia tulisan-tulisanku sejak bertahun-tahun silam. Jadi, kubiarkan akun media sosialku bekerja secara organik. Sama sekali tak ada paksaan untuk menjadi temanku, followerku, atau pembacaku. 

Yang paling parah ini, tukang nyontek konten orang. Itulah mengapa kita sebaiknya memiliki karakteristik khusus berkaitan dengan konten yang kita produksi untuk blog, sehingga kalau ada yang copy-paste tulisan kita langsung ketahuan. Bagaimanapun juga bikin konten itu susah dan untuk tulisan tertentu perlu riset sampai seminggu bahkan sebulan. 

***

"Kok kamu kayaknya lagi hobi mengkritik Blogger sih, Ka? Kamu kan Blogger juga."

"Nggak merasa punya beban ya bikin tulisan yang isinya kritik ke komunitas Blogger?"
"Hm, kamu nggak takut dikucilkan para Blogger bikin tulisan pedas melulu?"

Ini jawabanku: sebagai Blogger, penulis, atau profesi lain kita tuh harus punya kemampuan untuk memberi kritik, masukan dan bahkan kecaman pada diri sendiri. Mengapa? Supaya kita nggak besar kepala alias sombong. Kita harus punya waktu misalnya sebulan sekali memberikan kritik pada diri sendiri. Hal ini penting dilakukan sebelum kecaman datang dari luar. Kalau kecaman datang dari luar bisa jadi kita udah jadi bahan gunjingan. Nah, kalau udah jadi bahan gunjingan gimana cara kita memperbaiki nama baik yang usah rusak? Susah lo mengembalikan nama baik yang sudah hancur atau dihancurkan. 

Bahkan aku punya nasehat untuk teman-teman Blogger yang biasa ambil pekerjaan/job: don't take everything. Maksudnya, jangan ambil semua pekerjaan sehingga orang dengan mudah membaca kita sebagai pribadi yang nggak punya integritas atau nggak konsisten. Misalnya nih, suatu kali kita ambil pekerjaan yang punya tujuan mengkampanyekan kesadaran akan lingkungan yang bebas dari sampah an-organik, tapi eh di lain waktu kita ambil pekerjaan yang mempromosikan bahwa bahan-bahan pembungkus makanan an-organik itu aman kok. Ketika kita jadi seorang campaigner isu lingkungan, jangan pula jadi campaigner produk-produk yang nggak ramah lingkungan. Itu namanya nggak konsisten. Oke, memang betul kita butuh uang lebih dari yang dunia kira. Tapi, akan ditaruh di mana integritas kita? Kalau selama ini kita merasa berhak menuntut pemerintah untuk punya dan menjaga integritas dalam pekerjaan mereka, masa iya kita nggak boleh menuntut integritas atas pekerjaan kita sebagai Blogger, campaigner, content creator atau apalah. 

Demikian tulisan sederhana kali ini wahai pembacaku yang baik, semoga bermanfaat. Kita menulis, kita pembaca. 

Jakarta, 19 November 2019


No comments:

Post a Comment