Aman, Nyaman dan Selamat Bertransportasi Adalah Hak Semua Orang

Ilustrasi transportasi kereta dalam kota. Sumber: lrtjabodebek.com


"I see incredible opportunities for transportation 
to benefit from rapidly advancing automation, 
connectivity, and information technologies."
-Dan Lapinski-


Setiap kali mendengar kata transportasi, aku ingat Pak Habibie (alm). Aku masih SD kala Habibie sang Insinyur berhasil membuat pesawat terbang pertama untuk Indonesia. Namanya N25 Gatotkaca. Nama tersebut kami ketahui dari berita di televisi dan radio. Sebagai warga yang tumbuh di desa, rasanya momen tersebut sangat berharga. Ia abadi dalam ingatan dan angan. Belum sempat memang kurasakan sebagai penumpang di pesawat buatan Habibie, karena rencana besar itu terhambat krisis moneter yang tak kupahami pula. Nah, saat Habibie menangis karena proyek besarnya untuk Indonesia mangkrak, aku masih siswa SMP yang sama sekali tidak mengerti dampak buruk krisis ekonomi selain harga pangan di kampung kami di Sumberjaya semakin mahal, sehingga keluargaku harus berhemat. 

Orang desa sepertiku terbiasa kemana-mana berjalan kaki. Ke kebun kami yang berjarak 7 km saja berjalan kaki. Maka total perjalanan yang kutempuh jika ke kebun kopi kami di gunung adalah 14 km. Ke sekolah pun sejak SD-SMU aku berjalan kaki. Yah, kedua kaki si orang desa ini sudah sangat kuat dan tahan banting. Waktu itu, angkutan yang ada hanya ojek, bis (yang melintas saja jarang), dan angkutan perdesaan. Belasan tahun kemudian setelah masa itu aku jadi orang kota karena merantau di Bandar Lampung untuk kuliah, kemudian ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah dan bekerja. 

Tahun 2011 aku mendaftar S2 di Universitas Indonesia. Saat itu aku kos di Salemba, Jakarta. Dalam keadaan demam aku menuju kampus UI di Depok menggunakan kereta api yang kala itu masih beroperasi berdasarkan kasta. Karena ingin memiliki pengalaman menyeluruh dalam berkereta, aku memilih kereta kelas terendah (aku lupa namanya) dengan harga tiket Rp.1.500. Sialnya, turun dari kereta aku malah muntah-muntah hebat. Sumpah ini kereta terburuk yang pernah kutumpangi dan aku kapok! Bayangkan saja, kereta ini jorok dan banyak sampah, membuat aku pusing dan stress. Sehingga demam yang kualami naik level menjadi semacam culture shock! Untung saja, saat menjalani tes aku masih waras sehingga aku berhasil kuliah di UI, sekaligus menjadi saksi hidup atas perubahan besar-besaran moda transportasi kereta api dalam kota yang kemudian dikenal sebagai komuter atau commuter line. Ini kisah 8 tahun silam lho. 

Sejak 2011 aku tinggal dan kuliah di Depok, tapi sering melakukan perjalanan ke Jakarta, Tangerang, Bogor dan bekasi untuk urusan pekerjaan. Melihat kondisi jalanan yang macet dan pengendara yang semuanya mau menang sendiri di jalanan, maka aku memilih commuter line sebagai moda transportasi utama. Alasannya sangat mendasar dan sederhana, yang sangat berkaitan erat dengan kebutuhanku akan rasa aman, nyaman dan selamat selama berkendara. Meski berdesak-desakan bagai kerupuk dalam stoples, bepergian menggunakan komuter masih paling nyaman, dan tentu saja cepat karena bebas hambatan. Rasanya sedang mengalami euforia sebagai kaum dengan privilege tertentu karena rel kereta bebas macet macam di jalanan. Hal terpenting lainnya adalah: bebas dari polusi dan udara panas dong. 
Media Informasi tentang konektifitas komuter di Jadebotabek, di Stasiun Cikini, Jakarta. Photo: Mbak Petugas 

Nampaknya, selama lima tahun kebelakang (2015-2019) pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik tanah air. Sebagai pengguna setia commuter line aku menyaksikan segala perubahan secara besar-besaran dilakukan. Kereta yang dulunya memiliki kasta berdasarkan kepemilikan uang untuk membeli tiket kini diganti menjadi satu jenis saja dengan kualitas pelayanan yang sama prima bernama komuter; stasiun yang dulu acak-acakan dirapikan menjadi begitu modern, bersih, dan nyaman; ticketing dari kertas ke digital, bahkan kini sudah ada mesin otomatis untuk isi ulang tiket; dibuatnya penanda jalan untuk penyandang disabilitas dan penyediaan kursi roda bagi orang sakit; adanya pelayanan khusus untuk perempuan hamil, balita, anak-anak dan lansia di kursi khusus; adanya gerbong khusus perempuan sebagai respon sejumlah kasus pelecehan seksual antar penumpang; sebaran media informasi yang eye catching dan modern; serta petugas yang siap sedia memberikan bantuan jika dibutuhkan, termasuk layanan khusus kesehatan di setiap stasiun. Pelayanan teranyar adalah charging station gratis untuk ponsel konsumen. 
Salah satu bentuk kemajuan pelayanan publik di transportasi perkeretaapian Indonesia. 

Bentuk-bentuk pelayanan publik tersebut tentu saja merupakan bagian kecil dari tampilan standard operasional procedure (SOP) para petugas. Meski demikian aku menyaksikannya dengan bangga, bahwa dunia transportasi Indonesia akan mengalami kemajuan sebagaimana negara lain yang sudah maju. Kemajuan ini bukan hanya pada 'barang' berupa kereta api dan stasiunnya, melainkan juga pada perlakukan humanis dari petugas pada penumpang, dari penumpang pada petugas, atau antar penumpang dan antar petugas. Dengan demikian, rasa aman dan nyaman pun terjamin meski harus bepergian hingga puncak malam tiba. Misalnya, aku nggak takut lagi mengalami pelecehan seksual atau kecopetan. 
Aku di dalam commuter line jurusan Manggarai-Jatinegara pada libur lebaran 2019. Terlihat begitu aman, nyaman dan bersih, bukan? Moda transportasi ini kusukai karena bebas macet, panas dan polusi udara. Photo: Fifi Hutahuruk

Selain itu, beberapa stasiun transit seperti Manggarai dan Duri juga mengalami renovasi besar-besaran. Terlebih Stasiun Manggarai dan Duri juga menjadi lokasi transit kereta khusus yang menghubungkan stasiun dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Kenyamanan dan keamanan bertransportasi darat kini ditambah dengan konektifitas yang mengagumkan. Sehingga, kita nggak takut lagi terjebak macet jika hendak ke bandara. Bagaimanapun, konektifitas mumpuni dalam transportasi publik bisa membuat kita hemat waktu dan energi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 
Yuk gunakan transportasi massal seperti komuter/KRL

Nah, dalam rangka mengagumi dan menjajal perubahan-perubahan baik di bidang transportasi darat di area Jabodetabek, minggu depan aku dan seorang teman akan melakukan perjalanan khusus. Yaitu perjalanan menjajal semua moda transportasi modern yang menghubungkan area Jabodetabek. Rencananya kami akan menjajal MRT, menjajal beberapa rute busway demi menikmati sejumlah halte yang keren nan mentereng, hingga main ke stasiun transit yang masih dalam pembangunan untuk menjadi saksi mata perubahan signifikan pelayanan publik di bidang transportasi darat di Jabodetabek. 

Aku pun penasaran dengan MRT, termasuk bagaimana kondisi stasiun, pelayanan petugas dan hal-hal lain yang merupakan ciri modern dalam dunia transportasi. Pasalnya sehari-hari kebutuhan mobile-ku sebagai pekerja sudah terpenuhi oleh commuter line dan transportasi online, sehingga rasa penasaran soal MRT harus digenapi. Terlebih, aku dan temanku ingin mengujinya dalam konteks keamanan, kenyamanan dan keselamatan kami selama menggunakan transportasi tersebut. Sebagai pengguna komuter, aku ingin juga membandingkan kualitas moda transportasi unggulan Jakarta ini dengan KRL.  

VISI TRANSPORTASI INDONESIA MASA DEPAN
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat luas. Tidak semua wilayah dapat dijangkau dan dihubungkan dengan moda transportasi darat dan laut. Kondisi tersebutlah yang kemudian membuat Habibie muda bertekad membuat pesawat terbang untuk Indonesia. Tujuan Habibie hanya satu: menghubungkan antar pulau di seluruh Indonesia. Demi tujuan tersebut, Habibie menghabiskan masa mudanya dengan kuliah di Jermah hingga mendapat gelar Professor dan mengantongi puluhan paten dalam dunia kedirgantaraan. Mimpi Habibie yang sempat melangit sempat kandas gara-gara krisis moneter dan perusahaan pembuat pesawat terbang nasional bangkrut. 

Namun, karena mimpi tersebut adalah mimpi sebuah bangsa dan bukan milik Habibie seorang, maka mimpi tersebut terus berupaya digenapi. Mimpi Habibie sangat mahal harganya dibandingkan dengan mimpi membangun dan memajukan moda transportasi publik di darat maupun di laut. Akhirnya, pada 2012, Habibie mendirikan PT. Regio Aviasi Industri (RAI) bersama Ilham Habibie. Produk utama PT. RAI yang masih dalam tahap pengembangan adalah pesawat R80, jenis pesawat turbopob dengan kapasitas 80 penumpang. Pengembangan pesawat R80 ini merupakan salah satu prioritas program pembangunan nasional di bidang transportasi sesuai dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 tentang Proyek Strategis Nasional dalam kategori Program Industri Pesawat Terbang (Aircraft Industry Program). Melihat progress ini kita bisa bernapas lega, karena moda transportasi udara masa depan Indonesia sedang dikerjakan oleh tangan-tangan dingin penerus mimpi Habibie. Kabarnya, pesawat Habibie mengudara 2022.

Setelah merasa mimpi moda transportasi udara aman dalam pengerjaan pihak-pihak yang kompeten, kuajak pembaca kembali ke moda transportasi darat, yaitu kereta api dalam kota yang selama ini kugunakan dengan setia, KRL. Selain soal kecanggihan yang kabarnya akan menyerupai milik negara-negara maju macam di Singapura, Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Inggris; selayaknya kita juga melihat bagaimana sistem dan kebijakan transportasi di Indonesia mampu membawa perubahan 'kebiasaan' masyarakat Indonesia terkait keamanan, kenyamanan dan keselamatan bertransportasi.

Sebagai warga negara, kita berhak kok mempertanyakan apakah kehadiran moda transportasi modern semacam KRL, MRT dan LRT seiring sejalan dengan keamanan, kenyamanan dan keselamatan bertransportasi. Terlebih ketika Kementerian Perhubungan yang punya tanggung jawab penuh soal transportasi di tanah air diganjar penghargaan peringkat 3 lembaga negara paling berintegritas  berdasarkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2018 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun survei dilakukan terkait transportasi udara dan laut, dengan ini kita percaya bahwa transportasi darat sedang berproses untuk lebih baik dari sebelumnya. 
Wah, Kementerian Perhubungan keren ya

Sebagai negara hukum, Indonesia tentu tidak lupa membuat berbagai kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan bertransportasi karena menyangkut hidup banyak orang. Dalam sebuah forum bertajuk "Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Transportasi Darat dan Peraturan Menteri Lainnya Tahun 2017", Staf Ahli Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Perhubungan Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa tiga hal utama yang menjadi tolak ukur keberhasilan kinerja Kementerian Perhubungan adalah keselamatan, keamanan dan pelayanan publik. Pemenuhan ketiga hal tersebut sangat erat kaitannya dengan infrastruktur dan kebijakan yang dilaksanakan dengan konsisten.

Dalam konteks kinerja, Kementerian Perhubungan tentu tak bisa melepaskan diri dari visi pembangunan nasional yang disepakati dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam hal ini Kementerian Perhubungan memiliki visi, yaitu "Terwujudnya konektivitas nasional yang handal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah." Agar visi tersebut terwujud, Kemenhub melakukannya melalui 7 misi di mana misi yang hebat,yaitu:
  • 1. Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi dalam upaya peningkatan pelayanan jasa transportasi. Misi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan di sektor transportasi untuk menuju zero accident. Upaya yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas keselamatan dan keamanan, peningkatan kualitas SDM di bidang transportasi dan pembenahan regulasi terkait keselamatan dan keamanan dengan berbagai pihak terkait.
  • 2. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi untuk mendukung konektivitas antar wilayah. Misi ini bertujuan untuk menghubungkan wilayah-wilayah kota dan desa hingga pulau-pulau terluar Indonesia.  
  • 3. Meningkatkan kinerja pelayanan jasa transportasi. Hal ini berkaitan dengan anggaran untuk perawatan dan peremajaan armada, serta rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur.
  • 4. Meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana pelayanan transportasi. Misi ini bertujuan untuk memenuhi permintaan akan peningkatan pelayanan transportasi yang memadai dan mencukupi kebutuhan bangsa. 
  • 5. Meningkatkan peran daerah, BUMN dan swasta dalam penyediaan infrastruktur sektor transportasi. Peran stakeholders dimaksudkan sebagai gotong royong penyediaan infrastruktur mengingat keterbatasan anggaran negara. 
  • 6. Restrukturisasi dan reformasi di bidang peraturan, kelembagaan, Sumber Daya Manusia (SDM), dan pelaksanaan penegakan hukum secara konsisten. Hal ini terutama untuk memberikan akses kepada swasta untuk berperan dalam penyelenggaraan jasa transportasi. 
  • 7. Mewujudkan pengembangan transportasi dan teknologi transportasi yang ramah lingkungan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Misi ini dilakukan melalui penelitian dan pengembangan sehingga bisa menerapkan teknologi ramah lingkungan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Alat-alat keselamatan yang sering kulihat setiap kali naik komuter

Pencapaian visi dan misi Kementerian Perhubungan tersebut dipecah lagi dalam peta strategis dengan menggunakan pendekatan dan metode Balance Score Card (BCS), sehingga menghasilkan 4 persepsktif, yaitu: stakeholders perspective, customer perspective, Internal process perspective dan learn & growth perspective. Berikut adalah skema peta strategis Kementerian Perhubungan 2015-2019: 
Peta Startegis Kementerian Perhubungan Tahun 2015-2019. 

Nah, sekarang saatnya kita melihat apakah selama lima tahun tersebut Kementerian Perhubungan telah mencapai apa yang direncanakan? Secara tertulis, capaian tersebut bisa dibaca dan dipelajari dalam Laporan Kinerja Kementerian Perhubungan Tahun 2018. Datanya sangat lengkap, termasuk didalamnya Kemenhub LKIP 2018 (unduh DISINI). Disini, aku hanya akan membahas 3 hal saja yang berkaitan dengan tema tulisan ini, yaitu: 

1| Keamanan (rasa aman dalam perspektif customer)
Kualitas sarana dan prasarana moda transportasi adalah modal utama yang menjamin keselamatan bertransportasi. Sebagai transportasi massal, sepanjang 2017 saja KRL mengangkut 868.000 orang per hari atau sebanyak 315,8 juta penumpang yang dihitung berdasarkan penggunaan E-ticket. Pantas saja gerbong KRL selalu penuh bahkan harus berdesak-desakan. Pernah juga kurasakan gerbong KRL condong ke kiri atau kanan saking beratnya, sehingga penumpang pun secara otomatis terdorong ke arah yang miring dan menyebabkan ketakutan. Takut apa coba? Takut kereta terguling dan kami sebagai penumpang mati karena kehabisan napas saat berebut menyelamatkan tubuh masing-masing. 
Pencapaian hebat dalam penggunaan transportasi massal KRL. 

Meningkatnya jumlah pengguna layanan KRL ini tentu saja merupakan pencapaian dalam hal mengurangi kemacetan dan berkurangnya penggunaan kendaraan berbasis BBM yang mengancam iklim bumi. Tapi, bagaimana dengan faktor keamanan dalam konteks mengurangi resiko kecelakaan akibat kerusakan mesin atau human error? Soalnya beberapa kali terjadi masalah dengan gerbong kereta karena kondisinya sudah tua, atau anjlok sehingga menimbulkan masalah lain khususnya bagi penumpang. 

Ternyata perawatan kereta sangat rumit dan harus dilakukan secara berkala dan konsisten. Apakah kereta jenis moda transportasi yang manja? Hm, bukan itu sih alasannya. Karena kereta digunakan terus menerus, maka diperlukan 3 jenis perawatan, yaitu perawatan harian, bulanan dan tahunan. Perawatan harian dilakukan pada seluruh unit KRL yang berfokus pada fungsi elektrik dan kelengkapan KRL agar selalu berfungsi dengan selamat dan handal. Yang dicek misalnya lampu, klakson, wiper, suspensi, alat pengereman, kompresor udara, dan AC. Pengecekan dilakukan selama 45 menit oleh 2 orang di dalam dan di luar gerbong kereta. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan melihat perubahan yang terjadi karena kereta digunakan berkali-kali setiap harinya. 

Perawatan bulanan dilakukan dengan menyeluruh. Seperti pengecekan dan penggantian minyak pelumas, pembersihan kompresor, hingga perawatan karbon pantograf. Setelah personil melakukan perawatan, ada personil lain yang melakukan quality control untuk memastikan kualitas hasil perawatan. Sementara perawatan tahunan diakukan overhaul untuk melihat body kereta. Dalam overhaul, body kereta dipisahkan dari roda (bogie) kereta. Tim overhaul memeriksa semuanya hingga komponen terkecil. Nah, jika ada komponen rusak maka diganti dengan suku cadang baru. Perawatan overhaul ini memerlukan waktu 30 hari dan dilakukan di 2 bengkel besar yaitu Balai Yasa Manggarai dan Depo KRL Depok. Di Balai Yasa Manggarai ini ada 600 personel yang bekerja untuk melakukan perawatan kereta. Dan yang mengejutkan adalah, bahwa perawatan satu rangkaian kereta bisa menghabiskan dana puluhan juta rupiah. 
Petugas sedang melakukan pengecekan tahunan pada kereta di Balai Yasa Manggarai. Sumber: jpnn.com

Tahun 2019 ini, dilakukan peremajaan gerbong kereta KRL dengan mendatangkan 196 kereta sejak Januari. Peremajaan ini dilakukan untuk mengatasi gangguan operasional KRL dan mengotimalkan stand formasil 12 rangkaian yang akan berkembang dari 31 menjadi 36 unit rangkaian. Kabarnya, pada 2020 PT. KCI akan mendatangkan 96 unit. Dan semua unit tersebut diimpor dari Jepag karena PT. INKA memang belum memproduksi kereta jenis komuter. PT. KCI juga berusaha memensiunkan kereta secara bertahap karena sadar bahwa di masa depan kereta jenis lama tidak mungkin beroperasi lagi. 

Sementara itu, kabar dari MRT Jakarta lebih keren lagi. Karena menyadari bahwa keamanan adalah investasi terbesar dalam industri transportasi massal seperti kereta api, maka PT. MRT Jakarta melakukan pembelajaran dengan para pakar transportasi Jepang. Dari Jepang, pihak PT. MRT Jakarta belajar bahwa keunggulan yang harus ditonjolkan pertama kali dalam transportasi massal seperti MRT adalah keamanan. Aspek keamanan dalam sistem perkeretaapian meliputi stasiun, trek kereta, rangkaian kereta, tenaga listrik persinyalan, sistem IT, infrastrukstur dan pelayanan bisnis. Setiap pekerja juga dilatih untuk mengutamakan keselamatan atau safety first. Bahkan, tes untuk menguji tingkat kegugupan atau nervous masinis juga harus dilakukan. 

2| Keselamatan (dan aksesibilitas)
Ada budaya perusahaan yang terus dikembangkan dan ditingkatkan seperti pada PT. Kereta Komuter Indonesia yang mengurusi KRL. PT. KCI berkomitmen bersama untuk menciptakan lingkungan dan proses kerja yang aman dalam menjalankan misi perusahaan untuk memberikan layanan jasa transportasi yang mengedepankan keselamatan,keamanan dan kenyamanan serta terciptanya Zero Accident. Budaya perusahaan ini juga secara internal dikenal dengan GREAT yang bermakna integritas, profesionalitas, inovasi dan keselamatan. Sebagai konsumen, aku bisa merasakan semua ini sejak dari aplikasi yang kuunduh di ponselku, sehingga kita bisa memperhitungkan rencana perjalanan dengan tenang, tanpa takut telat dan terburu-buru. Karena terburu-buru seringkali berujung kecelakaan kecil. 
Budaya perusahaan PT. KCI
Peta Rute KRL Jadebotabel. Sumber: krl.co.id

Keselamatan juga dikendalikan melalui Sistem Informasi Penumpang (SIP) sejak 2014. SIP ini meliputi posisi KRL secara real time, informasi jadwal KRL, peta rute digital KRL dalam kereta, hingga keberadaan petugas di dalam gerbong. Kini, penumpang KRL nggak lagi khawatir akan keselamatannya. Perempuan hamil, anak-anak dan lansia dipastikan mendapat tempat duduk prioritas, hingga tidak ada lagi kasus pencopetan.  Selain itu, peningkatan kualitas sarana dan prasarana kereta juga telah menghilangkan penumpang liar yang 8 tahun lalu bertumpuk di atap KRL demi perjalanan gratis tapi berakibat pada kecelakaan dan kematian karena terjatuh atau tersengat arus listrik. Aku bangga sekali. 

3| Pelayanan publik (kenyamanan dalam perspektif customer)
Sebagai pengguna KRL yang setia, kurasakan betul bahwa pelayanan KRL ini meningkat setiap tahun. Transisi dari sistem tradisional ke digital memang memerlukan waktu dan para petugas begitu sabar melayani setiap pertanyaan, dan selalu siap sedia memberikan bantuan. Semua dibenahi secara terus menerus. Stasiun yang rapi, bersih, memiliki charging station dan wifi gratis merupakan ciri khas pelayanan publik top markotop di era digital. Toilet yang bersih dan ada musholla bagi yang membutuhkan. Diletakkan pula sejumlah vending machine yang menjual minuman untuk mereka yang kehausan. 
Kiri atas: vending machine untuk isi ulang tiket. Kanan atas: petugas yang melayani customer dalam menggunakan kartu E-ticket. Kiri bawah: CCTV dalam KRL sebagai Sistem Informasi Penumpang. Kanan bawah: gerbong khusus wanita. Sumber: krl.co.id
Informasi mengenai KRL dapat diakses melalui ponsel. Keren kan? Sumber: krl.co.id

Rasanya, aku bersyukur bisa menyaksikan dan merasakan hasil reformasi di bidang transportasi khususnya perkeretaapian. Puluhan tahun lamanya setelah merdeka, kita hanya gigit jari menyaksikan negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia telah maju dalam transportasi sementara Indonesia masih dirundung masalah yang sama selama 32 tahun yaitu KKN di berbagai sektor. Namun, rasanya airmata meleleh begitu saja saat menyaksikan bahwa upaya untuk berubah ini perlahan-lahan membuahkan hasil. Anak-anak negeri yang dulu lari ke negara lain karena sedih melihat kondisi bangsanya, justru kini kembali demi membangun bangsa. 

Indonesia Maju bukan mimpi di siang bolong. Indonesia Maju adalah tentang bagaimana kita semua bergandengan tangan membangun bangsa dengan potensi yang dimiliki dan karya yang hakiki (bahkan saat membuat tulisan ini aku menangis karena aku adalah salah satu konsumen yang menjadi saksi hidup perubahan besar sektor transportasi perkeretaapian tanah air. Aku menangis karena bangga bahwa Indonesia bukan hanya bisa, tapi lebih dari itu. Bahwa jika kita bebas dari KKN, kita menjalankan pemerintahan bersih, jika kita punya integritas dan profesional dalam bekerja, kita bisa mencapai banyak hal kurang dari 10 tahun. Ya Tuhan, kini aku nggak lagi merasa malu sebagai orang Indonesia. Aku sangat bangga sebagai manusia Indonesia)

Kementerian Perhubungan bersama para stakeholders seperti PT. KAI dan PT. KCI sebagai BUMN transportasi perkeretaapian telah menunjukkan bahwa selama 5 tahun sejak 2015-2019, bangsa kita telah mencapai kemajuan demi kemajuan yang membuat decak kagum. Keberhasilan ini tentu saja merupakan proses dinamis dari kerja banyak orang yang harus mendapat apresiasi, khususnya dari konsumen sepertiku. Terima kasih untuk segala perjuangan dan upaya hebat dalam membangun transportasi unggul untuk Indonesia maju.

APRESIASI REFORMASI BIROKRASI DI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
Ceritaku diatas tentang betapa telah banyak kemajuan dalam transportasi massal komuter, tentulah tak lepas dari reformasi hukum dan birokrasi di Kementerian Perhubungan. Sebab, semua perubahan itu tidak mungkin terjadi tanpa didahului oleh perubahan kebijakan peraturan perundang-undangan mulai dari Undang-Undang hingga Keputusan Menteri yang tidka tumpang tindih satu sama lain, hingga perubahan budaya kerja. PT. KAI dan PT. KCI adalah BUMN bidang infrastruktur yang bekerja secara teknis di lapangan. Namun pada dasarnya Kementerian Perhubungan telah mengawali perubahan tersebut melalui Road Map Reformasi Birokrasi Kemenhub tahun 2015-2019 (unduh DISINI). 

Reformasi birokrasi ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas, akuntabilitas dan produktifitas seluruh pekerja di Kementerian Perhubungan. Hal tersebut dapat terwujud jika: 1) birokrasi bersih dan bebas dari KKN; 2) peningkatan kualitas layanan publik; dan 3) peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja Kementerian Perhubungan. Sementara itu, arah kebijakan dan strategi Kementerian Perhubungan sepanjang 2015-2019 difokuskan pada 3 aspek, yaitu: keselamatan dan keamanan transportasi; pelayanan transportasi; dan kapasitas transportasi. Berikut adalah gambaran kemajuan pelaksanaan reformasi birokrasi di Kementerian perhubungan selama 2015-2019 yang turut berdampak pada kemajuan sektor transportasi kereta api yang saat ini publik rasakan dengan penuh kegembiraan: 

  • Penyederhanaan yang memperpendek proses layanan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya penerapan perizinan online di berbagai sektor transportasi dan terdapat contact center 151 yang menjadi kanal guna menampung dan menyelesaikan semua keluhan serta masukan dari masyarakat;
  • Keterbukaan informasi publik, Kementerian Perhubungan memperoleh peringkat ke-3 dari Ombudsman;
  • Pelaksanaan promosi jabatan secara terbuka untuk jabatan tinggi, madya, dan pratama;
  • Diimplementasikannya aturan disiplin/kode etik/kode perilaku instansi ke seluruh unit organisasi;
  • Dilakukannya pemutakhiran data pegawai secara berkelanjutan dalam sistem informasi pegawai;
  • Meningkatnya keterlibatan pimpinan dalam penyusunan renstra dan perjanjian kinerja serta kapasitas SDM yang menangani akuntabilitas kinerja; dan 
  • Implementasi kebijakan pengendalian gratifikasi, serta pengaduan masyarakat whistle blowing system (WBS) yang dapat diakses di website resmi Kementerian Perhubungan yaitu di dephub.go.id
  • Poin ini khusus tambahan dariku secara personal: yaitu penggunaan media sosial Kementerian Perhubungan baik di Facebook, Twitter dan Instagram yang kupikir selalu gerak cepat dalam memberikan edukasi dan informasi yang sederhana, eyecathing dan mudah dipahami masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa Kementerian Perhubungan bersedia menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat secara digital. 

Khusus di bidang transportasi perkeretaapian, pada 2015-2017 reformasi birokrasi ditunjukkan dengan adanya penyelesaian dan deregulasi sebanyak 10 peraturan perundang-undangan baik UU maupun Peraturan Menteri dan penerbitan 14 Peraturan/Keputusan Menteri. Pelaksanaan regulasi tersebut terbagi menjadi: 2 regulasi di bidang sarana dan prasarana perkeretaapian; 5 regulasi di bidang SDM perkeretaapian; 1 regulasi di bidang tatanan dan pembinaan perkeretaapian serta kelembagaan; 1 regulasi di bidang lalu lintas angkutan; dan 4 regulasi di bidang pentarifan angkutan. 

Seluruh informasi detail dan mendalam mengenai "Reviu Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Bidang Perkeretapian Tahun 2015-2019" bisa diunduh DISINI. Penjabaran dalam dokumen ini menggunakan pendekatan Balanced Score Card (BSC) atau Kartu Skor Berimbang sebagai pendekatan pengukuran kinerja untuk melihat kesesuaian sasaran/pencapaian sejalan dengan visi, misi dan strategi. Pendekatan BSC ini tidak hanya fokus pada masalah finansial organisasi, melainkan juga pada manusia. Pendekatan ini membantu memberikan pandangan yang lebih menyeluruh pada organisasi dalam bertindak sesuai dengan tujuan jangka panjangnya. 

Perubahan ini tentu saja patut diapresiasi dengan sungguh-sungguh, sebagai salah satu bagian dari keberhasilan pelaksanaan Nawacita pemerintahan Jokowi-JK untuk mengantarkan bangsa ini menuju pintu gerbang Indonesia Emas 2045. Sebagai salah satu masyarakat yang setia menggunakan komuter dan kereta api, aku secara personal mengucapkan terima kasih. Karena reformasi birokrasi di Kementerian Perhubungan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah memberi bukti meningkatnya keamanan, keselamatan, dan kenyamaman/pelayanan publik dalam bertransportasi massal. Kini, keamanan, keselamatan dan kenyamanan dalam bertransportasi dapat dinikmati semua orang dengan gembira. 

***

By the way, artikel sederhana ini aku dedikasikan untuk mengikuti dan meramaikan "Blogger Writing Competition 2019" yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Kompetisi ini bertema: Transportasi Unggul, Indonesia Maju. Fokus pembahasan pada kinerja berbagai pihak dalam meningkatkan kualitas dan layanan transportasi di tanah air dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.  Keren kan? Karena kita ingin Indonesia di masa modern ini menikmati keamanan, kenyamanan dan keselamatan salam bertransportasi baik di darat, laut maupun udara. 
Poster lomba dari Kemenhub ya

Jika pembaca ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kebiajakan terkait transportasi baik darat, laut dan udara; termasuk soal kemajuan pembangunan di bidang transportasi, bisa berkunjung ke situs Kementerian Perhubungan di dephub.go.id atau kepoin Instagramnya di @kemenhub151 yang sarat informasi dan edukasi terkait bertransportasi. Kita gunakan media digital untuk mengakses informasi yang dibutuhkan terkait transportasi di tanah air. Selain bisa memberikan kita edukasi dan literasi di bidang transportasi, kita juga bisa memantau kinerja lembaga negara dalam memberikan pelayanan terbaik bagi publik. Bagaimanapun juga mimpi tentang transportasi unggul untuk Indonesia maju harus dilakukan dengan bergandengan tangan, termasuk dukungan masyarakat dalam memberikan apresiasi dan feedback atas kinerja Kementerian Perhubungan. 

Lalu, jika publik ingin menilai kinerja Kementerian Perhubungan selama 5 tahun terakhir khusus di bidang perkeratapian, bisa membaca dokumen berjudul "Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Bidang Perkeretaapian tahun 2015-2019" (unduh DISINI). Dengan demikian, kita bisa membandingkan sejauh mana persentase ketercapaian antara rencana strategis yang tercantum dalam dokumen tersebut dengan kondisi di lapangan. Pembaca juga bisa membaca dokumen berjudul "Laporan Instansi Pemerintah (LKIP) Tahun 2018" (Unduh DISINI) untuk melihat capaian kinerja Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. 

Sedangkan jika ingin melihat rencana pembangunan transportasi perkeretapian di masa depan, pembaca bisa membaca dokumen berjudul "Review Rencana Induk Perkeratapian Nasional" (unduh DISINI). Dalam dokumen tersebut secara garis besar digambarkan mengenai 7 strategi pembangunan perkeratapian, yang salah satu strateginya adalah peningkatan keamanan dan keselamatan. Pemerintah telah berupaya meningkatkan keamanan dan keselamatan dari kasus-kasus seperti tabrakan antar kereta; tabrakan kereta dengan kendaraan lain; anjlog, terguling, banjir dan longsor serta kejadian lain. Peningkatan kualitas keamanan dan keselamatan ini setidaknya selama 9 tahun kebelakang terbukti mengalami kemajuan di mana data kejadian kecelakaan kereta api sebanyak 68 kejadian pada 2010 menjadi 21 kejadian pada 2017, dan korban sebanyak 276 orang pada 2010 menjadi 94 orang pada 2017. Pencapaian ini patut diapresiasi. 

Mimpi menuju Indonesia Maju itu perlu modal besar, sehingga seluruh warga negara harus berani mengawal dan memastikan program pembangunan berjalan tranparan dan akuntabel, khususnya dalam mewujudkan pemerintahan bersih (good governance) yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang menjadi musuh besar pembangunan bangsa. Terakhir, terima kasih Kementerian Perhubungan atas kinerja yang bertambah baik. Dan semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan kita mengenai keamanan, kenyamanan dan keselamatan dalam bertransportasi khususnya transportasi massal seperti kereta api, baik kereta api antar kota maupun dalam kota. 

Depok, 11 November 2019

Bahan Bacaan:
https://tirto.id/perbedaan-mrt-lrt-dan-krl-commuter-line-eciA
http://lrtjabodebek.com/laporan-kemajuan/
http://www.dephub.go.id/post/read/keselamatan,-keamanan-dan-pelayanan-transportasi-tetap-menjadi-prioritas-dalam-peraturan-perundang-undangan
http://www.dephub.go.id/post/read/keselamatan,-keamanan-dan-pelayanan-transportasi-tetap-menjadi-prioritas-dalam-peraturan-perundang-undangan
http://djka.dephub.go.id/uploads/201908/renstra2015-2019.pdf
http://djka.dephub.go.id/uploads/201907/RIPNAS_Siap_Cetak-dikompresi.pdf
http://djka.dephub.go.id/uploads/201909/LKIP_Ditjen_Perkeretaapian_2019_edt_cetak_2.pdf
http://hubla.dephub.go.id/publikasi/Statistik/LAPORAN%20KINERJA%20KEMENTERIAN%20PERHUBUNGAN%202018.pdf
https://www.jakartamrt.co.id/2017/12/11/tak-main-main-dengan-keamanan-kereta/
http://www.krl.co.id/page/6/
https://bisnis.tempo.co/read/1181167/4-tahun-terakhir-jumlah-penumpang-kereta-melonjak-145-juta-orang
https://elearning.kereta-api.co.id/elearning/course/index.php?categoryid=127
https://www.radarbogor.id/2019/04/07/pt-kci-beberkan-perawatan-krl-yang-tidak-mudah-satu-bengkel-di-bogor/
https://economy.okezone.com/read/2019/04/12/320/2042453/atasi-gangguan-krl-commuterline-kci-datangkan-196-gerbong-kereta-baru
https://news.detik.com/berita/d-1005316/melongok-bengkel-ka-balai-yasa-manggarai-menjelang-lebaran
http://ppid.dephub.go.id/files/datalitbang/LKIP_Badan_Litbang_TA._2018-compressed_compressed.pdf
http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/kepmen/2018/KP_336_TAHUN_2018.compressed_.pdf
http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/kepmen/2015/KP_724_Tahun_2015.pdf
http://djka.dephub.go.id/uploads/201907/REV_RENSTRA_KE-II_edt_01-07-2019.pdf


No comments:

Post a Comment