Zakat untuk Membebaskan Perempuan dari Jerat Kemiskinan

Ilustrasi perempuan dan anaknya. Sumber: elenikalorkoti.com

"Every literate woman is a victory over poverty"
-Ban Ki Moon-


Hidup adalah anugerah, begitulah para guru bijak berkata. Sebagai anugerah, hidup harus disyukuri dan dijalankan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Dalam menjalani hidup yang baik dan terhormat itu, masyarakat manusia menciptakan sistem yang mengatur banyak hal mulai dari urusan personal, keluarga, pendidikan, pernikahan, perdagangan, hukum, militer, pertanian, peternakan, teknologi, hingga seni dan budaya. Idealnya, semua usaha tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan bahagia bagi semua orang, tanpa kecuali. 

Sayangnya, kehidupan ideal semacam itu bagai panggang jauh dari api. Seiring bertambahnya jumlah manusia dan semakin sedikitnya sumber daya yang dapat dikelola, terjadi gap atau ketimpangan yang besar antara kelompok kaya dan miskin. Terlebih jika distribusi akses atas sumberdaya alam, modal, alat produksi dan pasar mengalami ketimpangan antara pihak yang kuat dengan yang lemah. Masalah ini bisa menjadi bertambah parah jika kelompok lemah dan miskin juga menjadi korban konflik, perang, bencana akibat kegagalan teknologi, hingga bencana alam yang massive seperti tsunami.
Peta kemiskinan dunia per Oktober 2018

Saat ini sebanyak 736 juta orang di seluruh dunia hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem dengan penghasilan dibawah USD 2 per hari (kurang dari Rp. 30.000). Sebanyak 294 juta orang(40%) ada di Asia sehingga menempatkan Asia sebagai wilayah termiskin tertinggi kedua setelah Afrika. Kemiskinan di benua Asia ini tidak merata di semua tempat, melainkan terkonsentrasi di negara-negara tertentu saja sehingga ketimpangan semakin nyata. Terdapat 8 faktor yang menyebabkan dan memperkuat kemiskinan di Asia yaitu populasi, keamanan pangan, kesehatan, pendidikan, administrasi dan pemerintahan yang korup, bencana alam, pengaruh resesi global dan diskriminasi sosial yang mengakar.  

Kemiskinan menjadi momok menakutkan bagi seluruh negara di dunia. Umpama penyakit menular, kemiskinan bisa membawa sebuah masyarakat dan bangsa kepada masalah lain yang tak kalah mengerikan seperti rendahnya angka harapan hidup bayi dan balita, tingginya kematian ibu melahirkan, tingginya penduduk dengan buta huruf, meningkatnya angka kriminalitas dan pengangguran, hingga mengancam perekenomian nasional akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia dan daya saing di pasar global. Kondisi-kondisi inilah yang membuat negara-negara di dunia bersepakat untuk bersama-sama memerangi kemiskinan melalui program Sustainable Development Goals (SGDs) di mana tujuan pertama SDGs adalah mengakhiri kemiskinan masyarakat global. Harapannya, kemiskinan global akan berakhir pada 2030.  

Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin dunia yang masih begitu tinggi, yatu 736 juta orang membuat rencana menurunkan angka kemiskinan global di 2030 terkesan melenceng dari rencana. Sumber: un.org

Terdapat banyak strategi yang dilakukan setiap benua dan negara dalam menghapuskan kemiskinan sesuai karakter masalah. Namun demikian, ada sejumlah aksi prioritas SDGs dalam menurunkan angka kemiskinan global, yaitu: 
  • Meningkatkan akses ke mata pencaharian berkelanjutan, peluang wirausaha dan sumber daya produktif;
  • Menyediakan akses universal ke layanan sosial dasar;
  • Secara progresif mengembangkan sistem perlindungan sosial untuk mendukung mereka yang tidak dapat mendukung diri mereka sendiri;
  • Memberdayakan orang yang hidup dalam kemiskinan dan organisasi mereka;
  • Mengatasi dampak kemiskinan yang tidak proporsional terhadap perempuan;
  • Bekerja dengan donor dan penerima yang berminat untuk mengalokasikan peningkatan porsi ODA (Official Development Assistance) atau bantuan pembangunan resmi untuk pengentasan kemiskinan; dan
  • Mengintensifkan kerja sama internasional untuk pengentasan kemiskinan.

Mengapa seluruh dunia memerangi kemiskinan dengan giat? Sebab kemiskinan itu menular secara kultural dan bisa dilanggengkan secara struktural (alias disengaja), dan keduanya sama-sama berbahaya. Secara kultural, keluarga miskin dan tidak berpendidikan akan mewariskan kemiskinan dan kebodohan serupa pada anak cucu mereka. Sementara secara struktural, distribusi sumber-sumber ekonomi yang tidak adil dalam sebuah masyarakat akan meminggirkan orang miskin atas hak pengelolaan sumber daya alam, serta akses terhadap modal, teknologi dan pasar. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan benar, maka kelompok kaya akan semakin kaya dan kelompok miskin akan semakin terjepit.
Perempuan miskin yang bekerja sebagai pemulung sampah membawa serta anaknya ke lokasi kerja. Sumber: dailymail.co.uk

Nah, dalam kelompok miskin ini ada sub kelompok yang paling rentan mengalami kemiskinan, yaitu perempuan. Kemiskinan perempuan ini bukan hal baru, karena telah terjadi sejak peradaban manusia dibangun dan berkembang. Karena dalam dunia modern perempuan masih saja menjadi pihak yang lebih miskin dari lelaki, maka wajar jika kita bertanya: mengapa perempuan begitu miskin? Mengapa jumlah perempuan miskin jauh lebih banyak dari lelaki? Apa dampak kemiskinan perempuan bagi masyarakat dan sebuah bangsa? Bagaimana kemiskinan perempuan diselesaikan? Apakah ada metode khusus menghapuskan kemiskinan perempuan?

Berdasarkan penelitian Oxfam, kemiskinan perempuan dipengaruhi oleh 3 hal mendasar yaitu: upah rendah, pekerjaan tanpa upah dan pekerjaan tidak dibayar sama sekali. Data dari seluruh dunia menunjukkan bahwa para pekerja perempuan dibayar 24% lebih rendah dari laki-laki. Selain itu, sekira 75% perempuan di negara berkembang bekerja di sektor informal yang tentu saja tidak memiliki kontrak kerja, akses kepada perlindungan sosial dan dibayar sangat rendah. Ada 600 juta perempuan yang menekuni pekerjaan tidak aman dan tidak pasti. Perempuan juga paling banyak melakukan pekerjaan perawatan anak dan itu tidak dibayar. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa perempuan melakukan pekerjaan 4 jam lebih banyak dari lelaki seumur hidupnya, namun dibayar rendah sehingga sangat sulit untuk keluar dari kemiskinan. 

PENGENTASAN KEMISKINAN PEREMPUAN INDONESIA
Kemiskinan perempuan merupakan masalah sosial yang berdampak ganda, yaitu melanggengkan kemiskinan anak. Hal ini sangat lumrah terjadi pada keluarga-keluarga dengan kepemimpinan perempuan yang lemah secara pendidikan, ekonomi dan perlindungan sosial. Dampak kemiskinan semacam ini bisa merembet kemana-mana, karena merupakan cikal bakal rendahnya kualitas sumber daya manusia yang disebabkan oleh kekurangan gizi, buruknya sanitasi, serta ketiadaan/sulitnya akses pada fasilitas kesehatan dan pendidikan. Kemiskinan itu diwariskan oleh keluarga secara turun temurun dan diperkuat oleh lemahnya solidaritas sosial serta perlindungan dari negara. 

Ada banyak faktor mengapa banyak perempuan Indonesia hidup dalam kemiskinan. Dalam konteks kerumahtanggaan, data Maret 2016 menunjukkan bahwa sebanyak 16,12% atau 1 juta penduduk miskin dipimpin oleh perempuan. Para perempuan yang memimpin rumah tangga dengan kapabilitas apa adanya ini berdampak pada tingginya kemiskinan anak yaitu 1.2 juta orang. Selain itu, rendahnya pendidikan perempuan menyebabkan rendahnya akses perempuan pada pekerjaan-pekerjaan dengan bayaran tinggi. Data juga menunjukkan bahwa di pasar kerja, kualitas pekerja perempuan lebih rendah dari lelaki sehingga upah yang diterima perempuan 30% lebih rendah dari laki-laki.

Hasil penelitian dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang dipublikasikan pada 2016 menyebutkan bahwa kemiskinan perempuan terkait dengan rendahnya pendidikan, kesenjangan pendapatan dan ketidaksetaraan peran berbasis gender. Dalam upaya memerangi kemiskinan perempuan, KemenPPPA menggunakan pendekatan sistem pemberdayaan perempuan yang berfokus pada empat hal yaitu kemiskinan, kekerasan, trafficking dan ketahanan keluarga. Strategi pemberdayaan perempuan dilakukan melalui Peningkatan Produktifitas Ekonomi Perempuan (PPEP) melalui berbagai kegiatan industri rumahan. Kegiatan PPEP ini menjadi bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan, perdagangan perempuan (trafficking) dan kekerasan, yang berujung pada ketahanan keluarga. 
Rich Picture penanggulangan kemiskinan perempuan di Indonesia oleh KemenPPPA

Tim studi KemenPPPA menggunakan Soft System Methodology dalam upaya penanggulangan kemiskinan perempuan Indonesia. Hasil kajian diekspresikan melalui Rich Picture, Root Definition dan Pusposively Action Map. Rich Picture menggambarkan keterkaitan berbagai lembaga seperti Bappenas, Kemenko PN TNP2K dan organisasi non pemerintah (NGOs) dalam menjalankan program Peningkatan Produktifitas Ekonomi Perempuan oleh KemenPPPA. Root Definition memberikan definisi atas fungsi KemenPPPA dalam menjalankan PPEP khususnys pembinaan industri rumahan dan kewirausahaan perempuan. Sementara untuk Purposively Action Plan merupakan langkah strategis dalam penanggulangan kemiskinan yang tujuan akhirnya adalah tingginya indeks ketahanan keluarga berbasis penguatan industri rumahan dan kewirausahaan perempuan. Aksi ini bersifat koordinatif lintas lembaga negara dan NGOs.
Purposively Action Plan KemenPPPA dalam penanggulangan kemiskinan di Indonesia

Sementara itu, dalam dokumen berjudul "Membumikan Keberpihakan: Inisiatif Daerah Menyiasati Kemiskinan" yang diterbitkan oleh TNP2K pada April 2019 menggambarkan bahwa ada tiga dimensi penting dalam memandang dan menanggulangi kemiskinan di Indonesia, yaitu: dimensi kesehatan, dimensi pendidikan dan dimensi standar kehidupan. 

  • Dimensi kesehatan tentu saja pertama-tama menyasar perempuan dan anak yang dilahirkannya agar tercukupi nutrisinya serta tersedianya akses ke fasilitas kesehatan dan sanitasi. Dimensi ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia yang sangat tinggi dan melampaui 'batas' yang ditetapkan dari WHO. Penyakit lain yang juga sangat diperhatikan adalah TBC yang lazimnya memang menghantui masyarakat miskin. 
  • Dimensi pendidikan dikaitkan juga peran serta banyak pihak dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap masuk ke pasar kerja. Terutama di era digital 4.0 ini setiap warga negara harus mampu menciptakan inovasi bagi terbangunnya usaha-usaha kreatif dan produktif. Falsafah yang dibangun adalah bahwa penggunaan teknologi berpihak pada upaya mengentaskan kemiskinan. 
  • Dimensi standar kehidupan  menyasar penduduk dari semua lapisan usia, mulai dari bayi hingga generasi tua. Upaya mengentaskan kemiskinan bukan saja membuat warga negara produktif mampu berdikari, melainkan juga ketika memasuki usia senja sudah terbebas dari kemiskinan. Dimensi ini juga mengikat soal pengarusutamaan gender, di mana lelaki dan perempuan harus mengambil peran prioritas dalam upaya keluar dari kemiskinan, alih-alih berpikir kolot seperti melarang perempuan bekerja atau membayar pekerja perempuan dengan upah lebih renda dari lelaki. Selanjutnya, program-program pengentasan kemiskinan disesuaikan dengan standar kehidupan daerah dan potensi yang sebaiknya dikembangkan dalam meningkatkan pekerjaan. 

Nah, ketiga dimensi ini bisa dicapai oleh setiap daerah, dengan sejumlah prasyarat, yaitu: 1) dukungan politik pemimpin daerah dalam misi penanggulangan kemiskinan: 2) ketepatan program dan efisiensi pengelolaan anggaran: 3) ketepatan sasaran penerima program: 4) sinergi antar program dari setiap dinas dan organisasi perangkat daerah terkait; dan 5) Komplementaritas antara program nasional dan daerah

ZAKAT UNTUK KESEJAHTERAAN PEREMPUAN
Dalam Islam, zakat merupakan salah satu dari lima Rukun Islam dan menunaikan zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Zakat merupakan kewajiban untuk menyisihkan sejumlah tertentu dari harta setiap Muslim dalam kurun waktu tertentu (nisab), yang didistribusikan kepada 8 golongan penerima zakat:  orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang yang berutang untuk jalan Allah, dan orang yang dalam perjalanan. Namun, dalam terminologinya secara umum, zakat juga dimaksudkan sebagai sebuah upaya mendistribusikan dan menstabilkan kondisi ekonomi masyarakat, termasuk kegiatan konsumsi. 

"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang yang berutang untuk jalan Allah, dan orang yang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana (QS at-Taubah:60)

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tujuan diwajibkannya zakat dalam Islam memiliki titik singgung dengan tujuan proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, di mana kemerdekaan diperjuangkan untuk menciptakan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pengelolaan zakat diatur dalam Undang-undang No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Nah, pengelolaan zakat ini secara resmi dilakukan oleh Badan Zakat Nasional (Baznas) sebagai lembaga amil zakat. Pengelolaan zakat masih terus dipelajari, termasuk melakukan studi banding kepada sejumlah negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Mesir, Malaysia dan lainnya. Di Indonesia, zakat masih diberlakukan sebagai pengurang pajak atau tax deductable, dan kemungkinan akan diubah menjadi tax credit. Jika zakat merupakan tax credit, maka pencatatan dan pelaporannya harus dimasukkan ke dalam APBN.  

Sejauh ini, zakat merupakan sumberdaya filantropi paling potensial dan dapat diandalkan di Indonesia, khususnya dalam membantu menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Pada 2019, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp. 217 triliun yang berasal dari 1% potensi penghimpunan zakat nasional. Potensi zakat terbesar yaitu perusahaan belum dioptimalkan. Zakat merupakan fondasi bagi upaya pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Zakat juga merupakan bentuk kasih sayang antar sesama manusia, di mana mereka yang memiliki kelimpahan rezeki membaginya untuk mereka yang berkekurangan. Maka, zakat disebut juga sebagai fondasi kesejahteraan bersama. Zakat tidak lagi dipandang secara konvensional hanya untuk kepentingan konsumtif. Kedepan, zakat harus mampu meningkatkan keterampilan dan sumber daya manusia, di mana penggunaan zakat diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif yang berkesinambungan dan mensejahterakan.

Dalam hubungannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), maka ada cara pandang baru dalam mengukur, memandu dan mengoptimalkan program-program pemberdayaan masyarakat berbasis zakat. Program pendayagunaan zakat oleh lembaga-lembaga penyalur zakat dianggap selaras dengan poin pertama dari 17 kerangka SDGs, yaitu mengentaskan kemiskinan global, khususnya kemiskinan perempuan. Dalam konteks ini, ada tiga asnaf yang disorot dalam relevansinya dengan SDGs, yaitu: orang fakir, orang miskin dan fi sabilillah. Berbasis pada Maqasid al Sharia perlindungan keyakinan, kehidupan, keturunan, akal dan kekayaan, maka ketersinggungan antara fungsi zakat dengan tujuan pertama SDGs sangat relevan. Perempuan miskin menjadi punya hal dobel sebagai pihak yang harus dibela dan dilindungi kehidupannya agar tidak lagi miskin. 

Perempuan miskin tentu masa masuk ke dalam kategori penerima zakat dan sesungguhnya mereka harus ditolong agar terbebas dari kemiskinan. Bagaimanapun juga kemiskinan bisa menjadi sumber bagi banyak masalah sosial dan kewajiban kita bersama untuk membantu para perempuan miskin lagi lemah ini untuk memperbaiki kualitas hidupnya dan menyenangkan hatinya, agar kita dan mereka bisa sama-sama bersyukur atas nikmat Allah.  Pengelolaan zakat dalam cara pandang untuk membebaskan perempuan dari jerat kemiskinan tentu menjadi semacam powerful force to preventing and reducing women poverty. Terlebih dalam Islam perempuan mendapat kedudukan mulia sehingga membebaskan perempuan dari jerat kemiskinan bisa jadi merupakan jalan jihad fi sabilillah
Lima tujuan mendasar (Maqasid al Sharia) antara zakat dan SDGs. Sumber: UNDP Indonesia

Baznas dan United Nation Development Program (UNDP) Indonesia telah bekerjasama dalam konteks inklusi zakat. Program ini sendiri akan menyediakan sistem perbankan tanpa cabang yang diharapkan mampu meningkatkan proses pengumpulan dan penyaluran zakat berbasis teknologi digital. Proses penyaluran zakat yang mudah dan akuntabel tentunya dapat membantu upaya pengentasan kemiskinan. 

Kedepan, kita harus memiliki cara pandang baru dalam mendayagunakan zakat khusus untuk kesejahteraan perempuan. Zakat untuk perempuan misalnya harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, karena berkaitan dengan kualitas anak-anak mereka. Terdapat setidaknya 4 manfaat besar jika kita berinvestasi pada perempuan melalui zakat: 

  • Keuntungan bersama: ketika perempuan mendapatkan pendidikan memadai serta kecukupan finansial untuk mampu memenuhi kebutuhan nutrisi pada tubuhnya, maka ia memberikan nutrisi yang mencukupi untuk anak-anak yang dilahirkannya. Investasi nutrisi ini bisa menghindarkan si anak dari masalah stunting.
  • Jalan keluar dari kemiskinan:  saat perempuan mendapatkan akses yang sama dengan lelaki terhadap pendidikan dan keterampilan, maka kita memberikan jalan kepadanya untuk keluar dari kemiskinan. Perempuan yang terdidik dan menguasai sejumlah keterampilan setidaknya memiliki posisi tawar dalam dunia kerja sehingga mereka tidak lagi dibayar dengan gaji lebih rendah dari lelaki. Bahkan, perempuan juga bisa memiliki usaha dan membangun perusahaan. Perempuan bisa menjadi simbol kebangkitan ekonomi sebuah bangsa. 
  • Kemerdekaan finansial. Jika perempuan memiliki penghasilan sendiri, maka ia memiliki kebebasan untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, informasi, sumber makanan dan hal lain yang dibutuhkan keluarganya. Hal ini penting mengingat banyak sekali rumah tangga yang dipimpin perempuan, tapa kehadiran lelaki karena satu dan lain hal seperti kematian, suami sakit menahun dan sebagainya. 
  • Memutus rantai kemiskinan. Data menyebutkan bahwa perempuan membelanjakan 90% penghasilan mereka untuk anak-anak, sementara lelaki membelanjakan 30-40% penghasilan mereka untuk anak-anak. Perempuan dengan penghasilan lebih rendah dari lelaki cenderung akan kehabisan uang karena semua telah terkuras untuk membiayai anak-anak. Sehingga, berinvestasi pada perempuan merupakan strategi yang sangat ideal dalam memutus rantai kemiskinan perempuan dan anak. 

Bagaimana cara kita berinvestasi pada perempuan melalui zakat dan apakah boleh zakat digunakan untuk investasi? MUI melalui Fatwa MUI No.4 tahun 2003 memperbolehkan zakat yang ditangguhkan untuk digunakan sebagai investasi dengan sejumlah persyaratan ketat, yaitu: 1) zakat boleh disalurkan untuk usaha yang dibenarkan oleh syariah dan peraturan yang berlaku; 2) zakat boleh diinvestasikan pada bidang-bidang yang memberikan kemaslahatan umat berdasarkan studi kelayakan; dan 3) pengelolaan dana zakat untuk investasi harus dibina dan diawasi oleh pihak yang kompeten. Dalam hal ini, dana zakat untuk investasi sebenarnya membantu keterbatasan dana pemerintah (fiscal constraints) dalam upaya penanggulangan kemiskinan perempuan. 
Zakat untuk kewirausahaan perempuan. Sumber: UNDP Indonesia

Karena dalam tulisan ini zakat tidak difokuskan untuk kepentingan konsumsi melainkan investasi, maka ada sejumlah investasi jangka panjang melalui zakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan perempuan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan perempuan:

  • Investasi pendidikan: pendayagunaan zakat sebagai investasi pertama-tama harus menyasar pendidikan perempuan. Investasi pendidikan dalam hal ini dibagi dua yaitu pendidikan formal dan informal. Untuk pendidikan formal, anak-anak dan remaja perempuan diharapkan bisa mengakses zakat untuk membiayai sekolah dan kuliah mereka. Atau setidaknya, dana zakat bisa mengantarkan anak-anak dan remaja perempuan dari keluarga miskin untuk menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMU/SMK/MA. Sementara untuk pendidikan informal, perempuan miskin bisa mengakses dana zakat untuk membiayai mereka mengikuti berbagai kursus keterampilan yang berpotensi mendorong lahirnya kegiatan ekonomi produktif oleh perempuan. 
  • Investasi usaha kreatif: pada dasarnya perempuan adalah manusia kreatif dan terampil, sehingga potensi ini harus didorong dengan akses kepada permodalan. Lembaga penyalur zakat harus mampu memberikan akses kepada para perempuan kreatif untuk menggunakan dana zakat sebagai modal usaha, sehingga modal itu akan berkembang dan memberikan perempuan jalan keluar dari kemiskinan. 
  • Investasi teknologi: di era digital, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai jalan untuk mendapatkan berbagai kemudahan seperti akses kepada pengetahuan, jaringan kerja hingga pasar. Perempuan dapat memanfaatkan teknologi untuk memudahkan urusan pekerjaan, mempelajari banyak keterampilan, bertemu dengan jaringan bisnis, membuat komunitas diskusi dan belajar, hingga memasarkan produk kreatif mereka. Khusus untuk teknologi digital yang terus mengalami perkembangan, diharapkan perempuan dari kelompok miskin memiliki akses seperti pelatihan penggunaan teknologi untuk mengakses pasar, atau bahkan untuk membuat suatu karya berbasis teknologi digital. Berinvestasi di ranah teknologi akan membangkitkan semangat perempuan miskin untuk terbebas dari jerat kemiskinan. 
  • Akses pada program pembangunan berbasis pemberdayaan perempuan: yang tak kalah penting dalam upaya membebaskan perempuan dari kemiskinan adalah memberinya akses kepada pendidikan, program pemberdayaan atau permodalan yang disediakan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Lembaga penyalur zakat bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam memberikan akses tersebut kepada perempuan miskin. Akses ini sangat mahal harganya dalam konteks pemerintahan bersih (good governance) karena berkaitan dengan birokrasi yang berkemungkinan terlibat KKN. Sehingga perempuan-perempuan miskin yang tidak berdaya itu memang harus didampingi dalam mengakses program pemerintah. Akses ini juga dapat dimaksudkan sebagai langkah koordinasi dengan lembaga-lembaga negara yang menyediakan program penanggulangan kemiskinan seperti KemenPPPA, TNP2K hingga Kementerian Sosial. 

Kemudian kita akan bertanya tentang bagaimana cara perempuan miskin mengakses dana zakat untuk berbagai investasi diatas? Di Indonesia sebenarnya sudah ada lembaga-lembaga yang memberikan pembiayaan berbunga rendah untuk kegiatan usaha produktif seperti program Microfinance Baznas. Program ini memiliki persyaratan yang cukup mudah dan bisa diakses siapa saja secara terbuka. Program investasi berbasis zakat bagi usaha kecil dan menengah yang juga mendapat acungan jempol adalah Baitul Mall wa Tanwil (BMT) yang digagas oleh Dompet Dhuafa. 
Seorang ibu mengajari anak lelakinya membaca. Sumber: TNP2K

Membebaskan perempuan dari jerat kemiskinan melalui zakat adalah tentang keperpihakan dan bentuk kasih sayang. Keberpihakan ini berkaitan erat dengan masa depan anak-anak sang perempuan, yang merupakan calon penerus bangsa. Anak-anak dari keluarga miskin, khususnya keluarga yang dipimpin perempuan miskin haruslah dipandang sebagai investasi. Dengan demikian, yang kita pikirkan bukan hanya bagaimana mereka terbebas dari jerat kemiskinan, melainkan membebaskan masa depan bangsa dari kemiskinan. 

Mengakhiri tulisan ini aku ingat pesan RA. Kartini di mana ia bermimpi bahwa perempuan  itu berpendidikan, cerdas dan baik hati. Semua kemampuan tersebut tak lain dan tak bukan dimaksudkan untuk menjadikan para ibu Indonesia sebagai Ibu yang cakap, cerdas dan baik yang mampu mewariskan kecerdasan tersebut kepada anak-anaknya. Dengan demikian, para ibu dan perempuan Indonesia bisa ambil bagian dalam membangun peradaban manusia yang cerdas dan cakap. Dalam bahasa modern kita menyebutnya sebagai investasi. Ya, berinvestasi pada perempuan melalui zakat.  

“Berilah pelajaran kepada anak-anak perempuan, dan dari sinilah peradaban bangsa dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas dan baik, maka mereka akan menyebarluaskan peradaban di antara bangsanya kepada anak-anak peradaban, dan kepandaian mereka akan diteruskan.” (RA. Kartini)

Festival Literasi zakat & wakaf 2019

Oh ya, tulisan ini secara khusus diiikutsertakan dalam kompetisi blog "Festival Literasi Zakat & Wakaf 2019" yang digagas oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Kegiatan #FLZW2019 ini merupakan sebuah rangkaian yang terdiri dari lomba essay untuk mahasiswa, lomba animasi, lomba blog dan zakat-wakaf goes to campus. Kegiatan berlangsung sejak Agustus 2019 dan akan berakhir pada malam puncak pada 6 November 2019, sekaligus penganugerahan kepada para pemenang kompetisi.

Dalam keterangan press conference pada 27 Agustus 2019 silam, pihak Ditjen Bimas Kementerian Agama menyatakan bahwa kegiatan ini memang menyasar millenial dan kelas menengah yang dianggap produktif secara ekonomi. Guna memanfaatkan bonus demografi dan potensi kaum millenial, maka proses edukasi terkait zakat dan wakaf harus sesuai dengan kebutuhan zaman, yang sesuai dengan dunia anak muda. Essay, animasi dan blog terkait zakat dan wakaf dianggap sebagai sarana untuk mengekspresikan pandangan generasi muda sekaligus memperkaya literasi mengenai zakat dan wakaf di Indonesia. Bersama gerakan zakat, Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera, insya Allah

Depok, 15 Oktober 2019
Bahan bacaan:
https://worldpoverty.io/
https://www.worldvision.org/sponsorship-news-stories/global-poverty-facts
https://sustainabledevelopment.un.org/topics/povertyeradication
https://borgenproject.org/causes-of-poverty-in-asia/
https://www.occupy.com/article/infographic-global-face-poverty#sthash.01NVI7wR.dpbs
https://en.wikipedia.org/wiki/Feminization_of_poverty
https://www.un.org/sustainabledevelopment/wp-content/uploads/2016/08/1.pdf
https://www.oxfam.org/en/even-it/why-majority-worlds-poor-are-women
https://www.nytimes.com/2019/09/11/opinion/why-are-poor-women-poor.html
https://tirto.id/bappenas-94-juta-penduduk-indonesia-masih-miskin-kronis-deyV
http://www.neraca.co.id/article/80385/zakat-perkuat-sdgs-indonesia
https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/kemenag-gelar-festival-literasi-zakat-dan-wakaf--2019
https://baznas.go.id/bmf
https://drive.google.com/file/d/1ZkeHwL8Wl6j1LeQdCx3OOAoo9Wu258Wz/view
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/02/23/p4m1gs409-kemenag-potensi-zakat-nasional-capai-rp-217-triliun
https://fiskal.kemenkeu.go.id/dw-konten-view.asp?id=20181005184436790351882
https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/39267/uu-no-23-tahun-2011
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/16/12/18/oidlu5313-bolehkah-dana-zakat-diinvestasikan
http://www.imz.or.id/new/events/2140/masyarakat-zakat-dan-geliat-khazanah-microfinance-islam-indonesia/
https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/32803-kajian-peran-perempuan-dalam.pdf
http://www.tnp2k.go.id/download/40454MEMBUMIKAN%20KEBERPIHAKAN%20Inisiatif%20Daerah%20Menyiasati%20Kemiskinan.pdf
https://www.bappenas.go.id/files/7213/8070/7102/Poverty_Reduction_Program_in_Indonesia.pdf
https://www.undp.org/content/dam/indonesia/2018/Doc/INS-Unlocking%20the%20Potential%20of%20Zakat%20and%20Other%20Forms%20of%20Islamic%20Finance%20to%20Achieve%20SDGs%20in%20Indonesia.pdf
https://www.undp.org/content/undp/en/home/blog/2018/zakat-for-the-sdgs.html
https://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2017/doc/INS-Zakat-Indonesian.pdf



10 comments:

  1. sekarang zakat semakin gampang bisa lewat marketplace :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul banget. Tapi yang harus mendapat perhatian serius juga bagaimana pendayagunaan zakat agar tepat sasaran dan bermanfaat dan pemberdayaan ekonomi ummat

      Delete
  2. makasih sahringnya, artikelnya lengkap , mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamudulillah, terima kasih Mbak sudah bersedia membaca

      Delete
  3. Keren dan lengkap ulasannya Ika

    Sukses ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Ibu atas apresiasinya bagi tulisan sederhana ini

      Delete
  4. Kalau dikelola secara optimal, peran zakat memang akan maksimal. Termasuk mampu mengentaskan kemiskinan. Tulisan yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget dan terima kasih atas apresiasinya.

      Delete
  5. Tulisanmu sangat pelik tapi nggiringnya alus banget, jadi ide yang disampaikan bisa terbaca dengan nyaman. Gak heran bisa juara 2 ya. Selamat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepelik kisah perempuan-perempuan dari kelompok rentan yang harus segera dibebaskan dari kemiskinan ya...

      Delete