Mimpi Sumringah dan Bungah di Tanah Garut, Zwitsers Van Java

Puncak Guha, Garut Selatan dilihat dari udara. Sumber: iki_andria

"Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat 
kalau dia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkannya dengan 
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat." 
-Soe Hok Gie-

"Dodol Garut" adalah hal pertama dan paling lama kuketahui tentang Garut, yaitu camilan manis yang memiliki kenangan manis. Biasanya, saat orang-orang pulang dari Jawa mereka membawa oleh-oleh dodol Garut. Aku menyukai dodol Garut karena rasanya tidak terlalu manis. Aku percaya bahwa terlalu banyak mengonsumsi sesuatu yang terlampau manis lama-lama bisa bikin menangis, seperti janji si dia yang tak berbuah manis (apa sih? Jadi ngelantur hehehe). 

Sebentar, sebelum cerita berlanjut menjadi lembar-lembar mimpi yang harus dirajut dengan cermat agar jadi kenyataan, ternyata Garut disebut juga dengan julukan lain lho. Konon, orang Eropa pada masa kolonial Belanda sering pelesir ke Garut, terlebih para tuan-tuan perkebunan yang ingin sejenak berlibur dari urusan pekerjaan. Mereka rela datang dari Eropa ke Batavia, lalu lanjut ke Garut menggunakan kereta. Kabarnya, mereka terpesona dengan pemandangan alam Garut yang indah bagai sepotong surga. Memandangi keindahan Garut membuat mereka teringat dengan keindahan Swiss sehingga spontan menyebutnya Zwitsers Van Java alias Swiss di tanah Jawa. Secara geografis, Garut yang dikelilingi pegunungan membuat udaranya sejuk sehingga kembali mendapat sebutan sebagai paradijs van het Oosten alias Surga dari Dunia Timur. Bahkan, dalam rangka menunjang pwriwisata Garut kala itu sebuah biro travel dan turisme Belanda bernama Nederlandsch Indische Hotelvereeniging atau The East Indian Traveling and Tourist Office (EITTO) membangun sarana dan prasarana penunjang seperti hotel, pesanggrahan, restoran, hingga obyek wisata. Kemudian, sejumlah keluarga Belanda seperti Van Horck ikut membangun bisnis perhotelan di Garut sejak 1880an. 

Bisnis pariwisata yang dikembangkan orang Eropa di Garut jelas menarik perhatian dunia. Bahkan, dari sekian banyak orang Eropa yang melakukan tetirah di Garut, salah satunya adalah Perdana Menteri Perancis, Georges Clamenceau pada akhir 1920an. Sementara itu komedian terkenal Hollywood asal Amerika Serikat yaitu Charlie Chaplin pernah berkunjung ke Garut dua kali, pada 1927 dan 1932. Chaplin menikmati keindahan kawah Papandayan, Situ Cangkuang dan Situ Bagendit sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Surabaya dan berlanjut ke Bali dengan kapal laut. Video kunjungan Chaplin ke Jawa dan Bali ini bisa disaksikan di situs Youtube Charlie Chaplin Official dalam sejumlah judul seperti "Charlie Chaplin in Java and Bali (1932) - Rare archival footage" yang ditayangkan ulang pada Juli 2019 silam. 

Tokoh kelas dunia lainnya yang pernah berkunjung ke Garut adalah D. Fock (Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1921-1926), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III  dari Belgia, Putri Astrid dari Swedia, hingga artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers. Selain itu, seorang penyair asal Chili bernama Pablo Neruda juga pernah berkunjung ke Garut dalam rangka bulan madu pada Desember 1930. Lelaki itu menikahi perempuan Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu bernama Marie Antoineta Agenaar. 
Suasana di alun-alut kota Garut pada tahun 1900an. Sumber: naratasgaroet.net

Garut yang membuat mata dan pikiran orang asing sering pula disebut sebagai Mooi Garoet alias Si Cantik Garut. Keadaan Garut beserta orang-orangnya dan alamnya kala itu digambarkan pula dalam sebuah novel berbahasa Arab berjudul "Fatat Garut" atau "Gadis Garut" yang ditulis jurnalis Arab bernama Sayyid Ahmad Abdullah Assegaff pada 1929. Roman ini selain berkisah tentang keindahan kota kecil Garut, juga perlawanan perempuan Sunda dalam kejamnya tradisi patriarki di mana ia dinikahkan paksa dengan lelaki penjajah sebagai ketundukan paksa pada kedua oangtuanya dan sistem sosial kala itu. Puluhan tahun setelah masa itu, Presiden Soekarno dalam kunjungannya ke Garut pada 8 Desember 1960 memberikan sebutan "Kota Intan". Pujian tersebut diberikan karena kota Garut saat ini bersih dan indah dalam kepemimpinan Bupati Garaha Widjaja Suria yang memimpin Garut dari 1959-1966. Konon di mata Soekarno, keindahan sungai Cimanuk yang memantulkan cahaya lampu pada malam hari serupa kilau intan yang memanjakan mata.   

Kini, Garut juga dikenal sebagai destinasi wisata yang lengkap dari hulu ke hilir, alias dari puncak gunung hingga bibir pantai. Garut memiliki semuanya, sehingga mendapat sebutan GURILAPS yang berarti GUnung, Rimba, Laut, Pantai dan Seni budaya. Sebelumnya kukira Garut itu sebuah wilayah yang dikelilingi pegunungan dengan alam yang khas. Eh, tahunya Garut punya pantai karena wilayah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Saat mendapati fakta ini dan mengeceknya sendiri via Google Maps aku merasa malu karena kurang gaul dan kurang piknik, sehingga terlambat tahu keindahan Garut (maafkan aku). Oh ya, sebagai destinasi wisata, maka sangat pas ketika kota dodol juga disematkan pada Garut karena camilan manis ini memang memberi ciri khas tersendiri tentang Garut. 

Baca juga: Pekarangan Ekologis, Solusi Kekinian Membangkitkan Minat Petani Muda

Meski telah 9 tahun berdomisili di pulau Jawa, aku pertama kalinya berkunjung ke Garut pada pertengahan 2017 silam. Waktu itu, aku menjadi relawan sebuah kegiatan keren bernama "Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air" di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di Kecamatan Tarogong Kidul. Teh Nissa, sang pengasuh pesantren merupakan sosok perempuan desa berpikiran maju yang turut berkontribusi membangun kampung halamannya melalui pesantren pertanian. Bersama suami, anak-anaknya dan santri-santrinya perempuan itu memberi warna baru tentang memaknai keimanan kepada Sang Pencipta dengan kegiatan memuliakan alam melalui praktek pertanian berkelanjutan. Konsep bertani yang digunakan adalah "Pekarangan Ekologis" di mana praktek pertanian dilakukan di pekarangan yang mengelilingi pesantren, cukup beberapa langkah dari rumah. 

"Bertani itu harus dimulai dengan konsep memuliakan alam, Mbak Ika." Ujar Teh Nissa.
"Bagaimana itu?" tanyaku.
"Pertama-tama, kita tidak memposisikan alam sebagai mesin penghasil produk pertanian. Kita harus memperlakukan alam sebagai sahabat karena toh kita bagian dari alam. Kita muliakan alam dengan tidak merusaknya dengan pupuk kimia, kita rawat tanah kita dengan memberinya nutrisi yang tepat, barulah setelah itu kita bisa menanam dan memetik hasilnya," lanjut ibu tiga anak ini sembari tersenyum. 
"Apakah artinya pesantren ini sudah berdaulat pangan?" aku semakin penasaran. 
"Ya, kami berusaha. Kami menanam dengan giat. Kalau mau makan tinggal petik. Merdeka rasanya bisa berdaulat pangan sejengkal dari rumah. Termasuk untuk acara Jambore ini kan bahan pangan berasal dari pesantren ini. Ternyata cukup."
Suasana di Pesantren Ath-Thaariq berlatar gunung Guntur di kejauhan. Sumber: Pesantren Ath-Thaariq

Lokasi Pesantren memang terletak di tengah-tengah areal luas pesawahan yang sebagian besarnya telah beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Luasnya kurang dari 1 ha tapi mampu menghidupi 30 orang anggota keluarga besar pesantren. Kerja-kerja pendidikan ekologi pesantren ini telah banyak didokumentasikan sejumlah stasiun televisi nasional dan telah dikenal banyak sekali komunitas hingga perguruan tinggi yang memiliki penghormatan khusus kepada pemuliaan pertanian berkelanjutan. Saat berdiri di tengah-tengah kebun yang penuh tanaman produktif ditemani emilir angin yang sangat dingin, kupandang dengan takjub gunung Guntur dan gunung Cikuray yang berdiri jumawa di kejauhan. 

***

"Mbak Ika, kapan main ke Pesantren lagi?" suatu hari The Nissa menyapaku via WA. Kami sempat membicarakan tentang rencana membuat pameran karya seni untuk mendukung pemuliaan terhadap alam. Waktu itu, kami berpikir untuk mendiskusikan rencana kami dengan Mbak Dewi Kartika, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan Aleta Baun aktivis perempuan dari NTT. Teh Nissa sendiri sangat ingin karya-karya seni berbasis benih yang dibuat santrinya bisa dinikmati banyak kalangan. Sementara aku berambisi ingin lukisanku bicara tentang penghormatan kepada alam dan perempuan. Sayangnya, takdir belum mempertemukan kami kembali karena kesibukan masing-masing. 

Di mataku Teh Nissa adalah mutiara tanah Garut. Bersama Ustadz Ibang sang suami ia berusaha mengembalikan salah satu permata Garut, yaitu warisan leluhur dalam memuliakan alam melalui pertanian berkelanjutan. Teh Nissa mengedepankan konsumsi pangan lokal sehingga komoditas yang ditanam di area pesantren berasal dari benih lokal yang ada di Garut. Teh Nissa sadar bahwa kehidupan modern dengan industri makanan telah membuat banyak orang desa semakin malas. Padahal sejatinya, bahan pangan suatu komunitas haruslah dipetik tak jauh dari rumahnya sendiri. Dengan cara itu pula, keseimbangan alam Garut akan terjaga karena warga menyayangi tanah nenek moyangnya. 

Kepalaku kemudian dipenuhi pertanyaan: seperti apakah keindahan dan kemakmuran Garut di masa lampau? Apakah warisan keindahan dan kemakmuran alam itu masih bisa disaksikan dan dinikmati sebagaimana pada 1932 pernah pula dikagumi pesohor Hollywood Charlie Chaplin? Aku jadi ingin melakukan perjalanan ke Garut, menapaki keindahan lokasi-lokasi plesiran yang dimaknai sebagai Swissnya pulau Jawa. Terlebih setelah Presiden Jokowi memerintahkan reaktivasi kereta api dari Stasiun Cibatu ke Stasiun Garut Kota, di mana jalur tersebut pernah sangat melegenda di masa lampau meski sempat vakum 4 dekade lamanya. Langkah ini seakan menjadi pertanda bahwa Garut telah siap menjadi lokasi plesiran kelas dunia sebagaimana zaman kolonial Belanda, kembali menyandang gelarnya sebagai Swiss van Java. 

Diakui atau tidak, pembangunan besar-besaran paska kemerdekaan pada 1945 telah mengubah bentang alam di seluruh Indonesia. Hutan ditebas untuk lokasi perkebunan dan transmigrasi; lembah-lembah dengan areal persawahan dijadikan bendungan; gunung-gunung dibongkar untuk diambil apa yang bisa diambil darinya entah batu, emas, tembaga, nikel, timah, pasir dan lainnya. Banyak sekali perubahan demi mengejar kemajuan, agar pencapaian ekonomi setara dengan negara-negara adikuasa. Lantas, bagaimana dengan Garut? Apakah pembangunan di Garut juga begitu massive sehingga menggusur keindahan dan kemegahan alam yang dulu dipuji turis dunia? 

Bicara pembangunan sebuah wilayah, tentu akan berkaitan dengan banyak hal mulai dari alam, manusia, metode hingga teknologi yang digunakan. Sebutan Swiss Van Java dan Mooi Garoet disematkan karena dahulu Garut memang memiliki suasana ideal sebagai lokasi rekreasi dan tetirah bagi mereka yang penat dengan pekerjaan atau butuh inspirasi. Pegunungan yang jumawa di kejauhan, danau yang tenang, sungai yang meliuk indah, dan langit yang biru mungkin menjadi gambaran bahwa Garut sejak dulu berpotensi sebagai destinasi wisata. Gambaran surga yang membuat decak kagum orang Eropa inilah yang menjadi modal awal pembangunan Garut yang memadukan aspek alam dan manusia. 
Peta Potensi Wisata Kabupaten Garut. Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut

Nah, jika aku mau plesiran ke Garut apa yang harus kunikmati setelah melakukan perjalanan jauh dan melelahkan dari Jakarta? Soalnya, agak ngeri juga membayangkan bagaimana suasana kota Garut paska banjir tempo hari. Jika suatu wilayah terkena  banjir bandang, maka bisa dipastikan wilayah hulu sungai sudah rusak parah sehingga kerusakan itu turut serta menghancurkan wilayah hilir. Sehingga setelah kupikir-pikir, alangkah menariknya jika aku menikmati keindahan Garut dimulai dari area pegunungan, lalu ke lembah dan mengakhiri perjalanan di pantai, menikmati angin dari laut selatan. 

Mengapa demikian? Karena bagiku, sebuah perjalanan bahkan berwisata bukan hanya sekedar momen untuk bersenang-senang. Melainkan untuk belajar kepada alam dan manusia di suatu wilayah, seperti tentang nilai-nilai kearifan lokal, falsafah hidup, hingga bagaimana warga mencintai tempat tinggalnya dengan merawatnya dari kerusakan. Selain itu, aku juga lebih suka berkunjung ke wilayah yang sedikit didatangi wisatawan agar bisa merasakan suasana otentik tanpa hiruk pikuk dan kebisingan yang menyebalkan. Selain itu, tentunya agar aku punya banyak waktu berinteraksi dengan masyarakat. 

Dari Cangkuang ke Sancang ke Sayang Heulang
Lain dulu lain sekarang, pun bagi kota kecil Garut. Indonesia modern membawa perubahan dalam banyak aspek, termasuk di sektor pariwisata. Jika pada masa kolonial Belanda kota kecil Garut menjadi tempat rekreasi orang Eropa, kini keindahan Garut bisa dinikmati oleh siapa saja. Namun demikian, apakah 'valuasi' ekonomi di sektor pariwisata Garut saat ini lebih baik dari 100 tahun silam? Atau apakah pembangunan banyak destinasi wisata di seantero Garut telah memberikan kesejahteraan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten ini? Kemudian, bagaimana soal keterkaitan antara keberlangsungan lingkungan hidup dengan usaha-usaha ekonomis dalam industri pariwisata di Garut? Terlebih, Kementerian Pariwisata bermaksud hendak menjadikan Garut destiniasi wisata kelas dunia. 

Setelah dipikir-pikir, jika aku memiliki kesempatan pelesiran ke Garut maka ada sejumlah lokasi yang sangat ingin kukunjungi. Pertama-tema destinasi wisata tersebut haruslah yang mampu memberikan informasi lengkap dan menyeluruh tentang sejarah Garut. Maka, pilihan pertamaku jatuh ke Pasar Wisata Digital Candi Cangkuang. Di sana aku akan belajar banyak sejak masa Hindu di Garut, Penyebaran Islam di Garut hingga Garut masa modern. 

Dalam siaran pers Kementerian Pariwisata pada 2 September 2019, Menteri Pariwisata Arief Yahya yang membuka Pasar Wisata Digital Candi Cangkuang menyebutkan bahwa sejumlah lokasi wisata unggulan garut akan direvitalisasi. Situ Cangkuang misalnya akan mendapatkan anggaran revitalisasi sebesar Rp. 7 miliar, sementara untuk Situ Bagendit sebesar Rp. 100 miliar dari Kementerian PUPR dan Rp 30 Miliar dari Pemda Jawa Barat. Revitalisasi diharapkan akan dimulai tahun 2024 sebagai upaya mempersiapkan kembali kota Garut sebagai destinasi wisata kelas dunia. 
Seorang petugas sedang menyapu di halaman Candi Cangkuang, Garut. Sumber: wonderfulimage.id
Situ Cangkuang yang indah dan memanjakan mata. Sumber: wonderfulmimage.id

Kawasan Candi dan Situ Cangkuang dipilih sebagai Pasar Wisata Digital di Garut oleh Menpar karena dianggap sebagai destinasi lengkap, yang mampu memikat wisatawan mancanegara khususnya millenial. Di kawasan Cangkuang ada Candi dari peradaban Hindu di tanah Pasundan, kampung Adat Pulo sebagai saksi sejarah penyebaran Islam di Garut, Situ Cangkuang sebagai representasi keindahan alam serta wisata kuliner khas Garut yang mampu memanjakan wisatawan. Maka, berkunjung ke lokasi ini memberikan kesenangan berlipat ganda (ini sangat asyik, bukan?) 

Selanjutnya, aku ingin sekali ke hutan dan pantai Sancang atau leuweung Sancang. Nah, Hutan Sancang ini merupakan cagar alam yang berstatus sebagai hutan konservasi kelas internasional seluas 2.913 ha di selatan Garut. Kabarnya, warga sekitar hutan menyebut hutan Sancang sebagai tempat Prabu Siliwangi menghilang entah ke mana. Hutan ini memiliki keanekaragaman hayati yang kaya seperti primata langka Owa Jawa, Rafflesia Patma, hingga kayu meranti. Owa Jawa merupakan satwa prioritas nasional karena nyaris punah. Informasi lain menyebutkan bahwa sejumlah macan tutul dan banteng menghuni hutan ini. Sementara itu di wilayah rendahnya merupakan kawasan hutan mangrove yang melindungi Garut dari terjangan ombak laut selatan. Hm, nyantai di pantai asyik juga. 
Owa Jawa. Sumber: nationalgeographic.grid.id
Mengunjungi Cagar Alam Leuweung Sancang ini tentu akan memberiku pengalaman berbeda dan berkaitan erat dengan flora dan fauna endemik Garut. Terlebih aku sangat penasaran sekali dengan primata Owa Jawa. Pengalaman melihat Owa Jawa di ketinggian pepohonan akan menjadi kabar baik bagi wisatawan kelas dunia yang mendambakan wisata alam liar yang khas. Dalam konteks pariwisata yang menarget millenial, tentu akan sangat baik jika mereka mau berkunjung ke cagar alam ini demi menghargai kekayaan alam di Tatar Pasundan, khususnya Garut. Pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam bukan hanya bertujuan memanjakan mata para petualang. Melainkan memantik kesadaran mengenai pentingnya manusia agar bersahabat dengan penghuni bumi lainnya baik hewan maupun tumbuhan, agar tidak semua tempat di muka bumi ditebas dan dilibas untuk dibangun menjadi kota-kota modern berisi hutan beton. 

Keberadaan Leuweng Sancang yang dijaga bersama oleh orang Garut dan wisatawan yang berkunjung bisa menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia dari Sang sampai Merauke betul-betul berupaya menjaga hutan-hutannya yang merupakan paru-paru dunia. Terlebih saat ini dunia ada dalam krisis iklim yang sangat parah. Kita juga akan mendapatkan asupan energi untuk menjaga warisan bagi generasi mendatang bahwa Leuweung Sancang dari hutan-hutannya di ketinggian hingga kawasan pantainya yang dipenuhi mangrove akan dijaga dengan baik. Penjagaan ini bukan saja melibatkan pemerintah melalui Dinas Kehutanan, atau warga sekitar, melainkan juga kontribusi dari wisatawan mancanegara yang melihat Leuweung Sancang sebagai Surga dari Timur. Kukira, keagungan Leuwenung Sancang mampu memberi makna lebih bagi Garut dari sekadar sebutan Swiss dari Jawa.
Salah satu area pantai Sayang Heulang yang tenang. Sumber: topijelajah.com

Selanjutnya, aku ingin melanjutkan perjalanan  ke Sayang Heulang. Kabarnya, suasana di pantai ini sangat cocok untuk menenangkan diri, bermain layang-layang, kemping, hingga menikmati sensasi matahari tenggelam. Nah, jika ingin berpuas diri di area pantai aku kan bisa melanjutkan penjelajahan ke arah barat. Sejajar dengan Sayang Heulang ada pantai-pantai lain yang tak kalah indahnya seperti pantai Sontolo, Manalusu, Cocalobak, Puncak Guha hingga Rancabuaya. Ahhh, bisa betah aku tinggal di selatah Garut yang indah. Karena bersama debur ombak dan belaian angin hatiku bisa sumringah, seakan lupa segala permasalahan dunia. Boleh kan berlama-lama di Garut? Oh ya, jika saja Charlie Chaplin masih hidup, pastilah dia mau juga berkunjung ke Garut untuk kesekian kalinya demi menikmati wilayah selatan nan indah. 

SEKEMBALINYA DARI GARUT LALU APA? 
Oke, anggap saja jelajah Garut dari utara ke selatan sudah selesai di lakukan. Lantas apa dampak yang kuberikan pada wilayah-wilayah yang kulalui beserta alam dan orang-orangnya? Adakah kedatanganku ke destinasi-destinasi wisata indah di Garut memberi makna selain dari sedikit sumbangsih pada perekonomian warga sekitar? Apa kontribusiku dalam upaya Garut menjadi destinasi wisata kelas dunia sebagaimana mimpi Kementerian Pariwisata dan mungkin seluruh masyarakat Garut, untuk mengembalikan kebanggaan masa lampau? Atau, aku hanya sekadar turis lokal yang haha hihi?  

Biasanya, ada sejumlah hal yang seringkali menarik perhatianku jika aku berkunjung ke suatu wilayah, khususnya yang berlabel destinasi wisata. Hal-hal ini seringkali dianggap remeh, tetapi sesungguhnya memberikan citra yang terang benderang mengenai karakter suatu wilayah dan orang-orangnya, serta bagaimana suatu destinasi wisata dikelola. Hal-hal itu adalah soal rasa aman, kebersihan lingkungan dan keramah tamahan orang-orangnya. Bagiku, ketiganya merupakan bagian terpenting dari pengelolaan suatu destinasi wisata sekaligus gambaran kualitas sumber daya manusianya. Sebab, ketiganya membutuhkan kesinambungan, kedisplinan dan kerelaan. 

Akhir-akhir ini, banyak sekali keluhan di hampir setiap destinasi wisata. Banyak penipuan dilakukan warga lokal untuk menjerat pengunjung, atau informasi mengenai penginapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ditambah lagi dengan sikap ogah-ogahan dalam menampilkan keindahan dan kebersihan lingkungan, dan ini dilakukan pengunjung yang diamini oleh sikap pengelola destinasi wisata yang kurang tegas. Bukan rahasia umum jika banyak sekali destinasi wisata yang dihujani oleh sampah pengunjungnya. Entah di pantai, gunung-gunung, bahkan lokasi ziarah. 

Rasanya tidak adil ketika seseorang berkunjung ke suatu wilayah demi menikmati keindahan, kemudian ia malah meninggalkan sampah di lokasi indah yang ia kunjungi. Terakhir adalah tentang sikap ramah tamah dan sopan santun yang rasa-rasanya mulai hilang. Padahal bisnis pariwisata adalah bisnis pelayanan atau service, di mana kenyamanan atas sikap orang-orang di suatu wilayah menjadi tolak ukur bagi valuasi suatu destinasi wisata. Kelelahan bekerja, iklim kerja yang tidak sehat, kurang penghargaan dari atasan dan lain sebagainya bisa menjadi pemicu. Namun, hal ini sebaiknya tidak terjadi di Garut jika hendak mengejar target sebagai destinasi wisata kelas dunia. Mooi Garut kukira bukan hanya tentang alamnya, melainkan juga orang-orangnya beserta karakteristik mereka yang lembut, ramah, sopan santun, jujur dan bersahabat. 
Yuk main ke Garut

Jika aku punya kesempatan berkunjung ke Garut dan berkunjung ke sejumlah lokasi sebagaimana telah kuceritakan dalam artikel ini, maka kontribusi yang bisa kulakukan selama di Garut adalah menjaga kebersihan dan berbagi ilmu. Dalam konteks menjaga kebersihan, aku tidak akan sungkan memungut sampah di lokasi-lokasi yang kukunjungi untuk dikumpulkan di tempat penampungan sampah. Jujur, aku manusia yang benci sifat jorok, terutama jika ia menyangkut aliran air, sungai, danau hingga hutan-hutan perawan. Kontrobusi ini kukira sangatlah mudah sederhana, bisa kulakukan secara mandiri tanpa perlu izin dari pemerintah setempat. Karena, makna Mooi Garoet yang kupahami sebagai pesan bahwa keindahan tidak akan pernah eksis tanpa kebersihan lingkungan. 

Soal berbagi ilmu adalah tentang bercengkerama dengan warga sekitar, sehingga terbangun interaksi yang membahagiakan antara pengunjung dengan warga lokal. Biasanya, saat berkunjung ke suatu wilayah, aku akan sangat suka mendengar cerita-cerita dari warga mengenai kisah kampung mereka dan hal-hal tentang hidup mereka seperti nilai-nilai, prinsip hidup hingga mimpi-mimpi.  Aku juga tidak akan segan berbagi ilmu yang kumiliki sesuai kebutuhan warga. Dengan demikian, kunjunganku ke suatu wilayah tidak sekadar numpang lewat, lalu hilang dari ingatan. Aku ingin seperti Charli Chaplin yang senantiasa diingat warga Garut sebagai salah satu pengunjung paling mengesankan. 

Terakhir, sebagai Blogger tentu saja aku akan menulis kisah perjalananku ke Garut. Aku akan menceritakan kepada dunia tentang lokasi yang kukunjungi, perasaanku saat berkunjung hingga hal-hal yang membuatku sumringah. Bahkan, bisa jadi aku akan menjadi orang ke sekian yang menulis roman tentang Gadis Garut atau Jajaka Garut versi modern. Aku akan mengatakan kepada dunia bahwa Garut yang sesungguhnya lebih dari sekadar sebutan Swiss Van Java siap menyambut pengujungnya dari berbagai belahan dunia, untuk rekreasi. Let's make Garut great again!

Jakarta, 11 Oktober 2019

Bahan Bacaan: 
https://visitgarut.garutkab.go.id/cdn/newspaper/discover_garut_edisi_1/files/assets/common/downloads/publication.pdf
https://kumparan.com/@kumparannews/garut-sang-penggoda-orang-eropa-di-awal-abad-20-1548234788154866442
https://naratasgaroet.net/2016/09/13/mooie-garoet-dalam-novel-gadis-garut-1929/
https://www.liputan6.com/regional/read/4075183/menanti-mentari-di-pinggir-jalur-legendaris-kereta-api-garut-beroperasi
https://www.garutkab.go.id/page/sejarah-singkat
https://kumparan.com/@kumparannews/jalur-cibatu-garut-mati-suri-karena-isu-pki-1548245611359802983
https://republika.co.id/berita/ncat6c17/garut-mooi-mooi
https://historia.id/politik/articles/charlie-chaplin-berkunjung-ke-garut-P94Yr
https://www.youtube.com/watch?v=fjHdPwAzgE8
https://tirto.id/sejarah-kecil-di-cibatu-dari-charlie-chaplin-hingga-pablo-neruda-deHU
https://naratasgaroet.net/2015/02/13/pedagang-kaki-lima-sekitar-aloen-aloen-garoet-doeloe/
http://www.kemenpar.go.id/post/siaran-pers-menpar-ingin-garut-jadi-destinasi-pariwisata-kelas-dunia
https://www.youtube.com/watch?v=NdQb4VGTxUY
Writingthon Jelajah Kota Garut bersama Bitread Publishing

No comments:

Post a Comment