Menyoal Drama Korea yang Katanya Haram dan Merusak Moral

Perempuan Korea Selatan dalam balutan pakaian tradisional yang disebut Hanbok.


"Saya ingin bertanya, apa hukumnya menggemari, menyukai Film Korea," sang Ustadz membacakan pertanyaan jamaah dalam selembar kertas, kemudian sesaat bengong melihat pertanyaan tersebut. Lalu terdengar suara jamaah menertawakan pertanyaan tersebut secara bersama-sama. Sang Ustadz terdiam cukup lama, sembari menahan senyum sebelum menjawab pertanyaan tersebut. 

"Orang Korea ini kafir! Tak bersunat! Tak mandi wajib! Berzina kerjanya! Jangan suka kepada orang kafir! Siapa yang suka kepada orang kafir maka dia bagian dari kafir itu. Condong hatinya kepada orang kafir. Maka tontonlah qari qari'ah. Cari di Youtube, qari'ah, banyak. Jangan lagi ditonton sinetron Korea-Korea itu. Rusak. Nanti pas mau sakaratul maut datang dia rame-rame. Apa yang selalu kita tengok, apa yang selalu kita dengar, itulah yang akan datang waktu kita sakaratul maut..." jawab Sang Ustadz panjang lebar, disertai dengan mimik wajah serius dan keras. 

Tertegun aku mendengar kata-kata penuh ujaran kebencian dari Sang Ustadz. Kata-kata ini: "Orang Korea ini kafir! Tak bersunat! Tak mandi wajib! Berzina kerjanya!" sangat tendensius dan melukai sebuah bangsa. Apa pasal? Karena di Korea Selatan sana juga banyak penduduknya yang Muslim, yang tidak berzina, yang mengusahakan makanan halal, yang membantu memudahkan urusan wisatawan dari negeri-negeri Muslim, yang merawat masjid mereka, yang memperjuangkan Islam meski sebagai minoritas. Kejam sekali sang Ustadz jika menyamaratakan penduduk sebuah bangsa pelaku zina semua. Di Korea juga banyak penganut Buddha yang boro-boro berzina, mereka mah menikah aja enggak, bahkan makan daging aja enggak. Lalu dengan bayi-bayi, anak-anak kecil dan remaja, orang-orang aseksual, dan para manula. Apakah kiranya mereka juga berzina seakan-akan kehidupan sebuah bangsa bukan penganut Islam adalah berzina. Masa iya tuduhan tendensius itu mau dialamatkan juga pada mereka tanpa kita riset terlebih dahulu. 

Siapa sang Ustadz? Kukira pembaca sudah tahu nama besar beliau dan sejumlah pernyataan kontroversialnya. Beliau memang pandai dan hafal banyak sekali hadits. Kajiannya akan ditaburi hadist dan pertanyaan jamaah akan dijawab dengan hadits. Masalahnya adalah, ada jeda waktu yang sangat panjang antara ketika hadits-hadits tersebut dikumpulkan oleh perawinya hingga masa yang kita jalani sekarang, Perbedaannya sangat jauh. Jika 14 abad silam orang hidup terpisah berdasarkan suku-suku, kerajaan-kerajaan yang saling memagari satu sama lain. Kini kita hidup tanpa batas. Segala sesuatu serba hasil kerjasama multinasional. Produk berbagai bangsa dan kebudayaan saling beradu di pasar internasional, keluar dari satu negara dan masuk ke satu negara yang lain. Apalagi cuma sekadar drama yang bisa diakses melalui internet. Jadi, setelah mendengar ceramah yang penuh kebencian tersebut aku menjadi ngeri kepada Ustadz tersebut. 

Sang Ustadz memang cerdas dalam teks, tapi buta dalam masalah psikologi sosial. Dia tidak mengerti bahwa di Korea Selatan sana, Islam sedang berkembang. Bahkan nilai-nilai Islam sudah masuk ke berbagai sendi kehidupan. Orang Korea mulai terbuka pada wisatawan Muslim dan restoran-restoran halal berdiri di banyak tempat, bahkan paket wisata halal mulai bermunculan. Karenanya, sang Ustadz tertinggal karena merasa dirinya selalu benar diatas bangsa lain. 

HAL-HAL EDUKATIF DAN MENGHIBUR DARI DRAMA KOREA
Sudah lebih dari 10 tahun aku menggemari drama dan film asal Korea Selatan. Tentu saja generasiku dicekoki keindahan drakor gara-gara serial "Jewel in the Palace" alias drama tentang masa-masak di istana Dinasti Joseon. Bintangnya kala itu seorang brand ambassador produk kecantikan, yang memang teramat sangat cantik. Drama tersebut secara garis besar menggambarkan bahwa di masa lampau orang Korea itu berpakaian sopan, berpenampilan rapi, bersih, dan budaya makan mereka tuh sehat. Drama tersebut menjadi hits di seluruh dunia dan menjadi salah satu tonggak kebangkitan Korean Wave, selain di musik dan reality show. Tidak ada yang salah dengan drama tersebut. 

Sebagai produk industri hiburan, drama atau film Korea itu terdiri dari banyak genre. Mulai dari historical, comedy, horror, thriller, documentary, adult, action, biography, classic, martial art, modern dan lain-lain. Kalau yang ditonton yang bergenre adult alias berbau porno, jelas itu merusak. Tapi apakah film atau drama dari genre lain juga merusak? Ye enggak lah. Film dan drakor itu ratusan judul yang bisa disaksikan secara streaming di berbagai website. Trus, per minggu biasanya ada aja drama baru yang rilis. Saking banyaknya, kita sebagai konsumen ya harus pandai memilih juga mana yang sebaiknya kita saksikan sebagai hiburan atau sarana mempelajari kebudayaan sebuah bangsa. 

Kalau aku biasanya menonton yang masuk ke genre historical, biography, documentary, comedy dan classic. Menurutku, yang historis dan classic lebih enak dipandang, dibandingkan dalam suasana modern. Terlebih kalau bicara soal arsitektur, kuliner, pakaian, tarian, atau nilai-nilai filosofis orang Korea pada masa lampau. Sementara untuk genre modern hanya beberapa saja yang kuntonton. Biasanya drama dengan episode pendek antara 16-20 atau film. Dan, sejauh ini imanku baik-baik saja kok. 

1| Orang Korea Selatan itu bangga akan bangsa dan budayanya
Korea Selatan itu bangsa yang kecil, nggak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia. Produk kebudayaan mereka juga sedikit dan banyak dipengaruhi China. Tapi, mereka mampu mengemas kekayaan yang sedikit itu seakan-akan begitu besar. Mereka seperti nggak kehabisan ide untuk menghibur dunia dengan film dan drama yang nggak pernah berhenti berproduksi. Bayangkan, satu serial drakor yang ceritanya sederhana bisa meledak loh di pasar internasional. Coba, negara mana yang mampu menyaingi? Kukira, Korea Selatan ini mampu mendepak pasar film India dan China yang dulu jadi kegemaran umat manusia. Sayangnya, negeri sebesar Indonesia kalau jauh dibandingkan si mungil negeri ginseng. 

Dalam drakor, ada banyak sekali cerita absurd dan remeh temeh layaknya sinetron Indonesia. Namun, yang membuat mereka menggemaskan dan dicintai penggemarnya di seluruh dunia adalah pengemasan (packgaing). Mereka total dalam sinematografi. Trus, dalam drakor tuh nggak ada yang namanya nasehat-nasehat berlebihan dari pemuka agama layaknya dalam sinetron Indonesia. Meskipun demikian, nilai-nilai agama dan budaya tetap ditampilkan sebagai fondasi kehidupan orang Korea. Jika nilai-nilai Islam tidak terlihat disana ya wajar karena Islam bukan agama mayoritas di negeri tersebut. 

2| Setiap drama menjual produk dan tema khusus
Satu hal yang aku kagumi dari drama Korea Selatan adalah kemampuan mereka konsisten menjual satu produk atau tema tertentu dalam setiap drama. Misalnya, drama berjudul "Jackpot atau The Royal Gambler" bicara tentang intelektualitas, strategi mengalahkan musuh, memenangkan pertarungan, membebaskan budak dari kerja paksa lewat judi. Atau drama "Fermentation Family" yang fokus bicara tentang jenis-jenis kimchi yang ada di Korea Selatan, mulai dari kimchi sawi, lobak, terong, timun, labu, daun bawang, hingga cara membuat, memasak dan menikmati si kimchi. Sementara dalam "Late Night Restaurant" khusus berkisah tentang orang-orang tertentu dengan kisah unik mereka, yang dihibur sang pemilik restoran dengan menu khas yang nggak akan pernah ditemukan di restoran lain. Kalau di drama "Royal Tailor" adalah teknik membuat pakaian yang indah dan membuat penggunanya merasa bahagia mengenakannya. 

3| Nasi dan Kimchi adalah makanan kebanggaan Korea Selatan
Dalam setiap judul sebuah drakor, selalu ada pesan bahwa nasi dan kimchi adalah ruh dalam kuliner orang Korea Selatan. Nasi diidentikan sebagai sumber gizi yang menghidupi orang Korea Selatan dalam menjalani hari-hari mereka, sementara kimchi sebagai lauk yang selalu ada di setiap meja. Kimchi adalah fermentasi sayuran yang merupakan produk pada masa paceklik akut di masa lampau. Bersama berjalannya waktu, kimchi justru menjadi signature bagi kuliner Korea Selatan dan dinobatkan sebagai salah satu makanan paling sehat di dunia. Kimchi juga menjadi semacam pertanda bahwa orang Korea selatan sangat memperhatikan dunia pertanian mereka. Kini, kita nggak perlu ke Korea Selatan untuk menikmati kimchi dalam berbagai menu. Karena Kimchi sudah dipasarkan hingga ke seluruh dunia. Kita bisa menjumpai Kimchi di rak-rak makanan fermentasi di pusat-pusat perbelanjaan di ranah air, atau bisa membelinya secara online, atau menikmatinya di restotan Korea Selatan. Bahkan, kita bisa lho membuat kimchi sendiri di rumah. Asyik, kan?

4| Korea Selatan menjadi leader dalam industri kosmetik dunia lho!
Memang nggak salah sih kalau setelah nonton drakor kita jadi terpapar kehendak mempercantik atau mempertampan diri. Soalnya, aktor dan aktris yang ditampilkan memang bening dan innocent bagai bidadari surga. Trus, teknik make up yang digunakan pesohor Korea Selatan itu nggak menor semacam make up dari negara-negara Amerika atau Timur Tengah. Para perempuan dan lelaki muda dipoles semuda, sebening dan seimut mungkin untuk menunjukkan kesan kalau orang Asia itu innocent dan baik hati. Penampilan para idols Korea Selatan ini mulai menjadi trendsetter di dunia, yang kemudian membawa kebangkitan ekonomi di industri kosmetik yang juga menciprati pebisnis Indonesia.


K-Beauty
Industri kecantikan Korea Selatan menempati rangking ke 8 secara global. Setelah meledaknya Korean Wave mulai dari musik, drama, film, reality show dan aneka jenis hiburan asal Korea Selatan, maka pelan-pelan warga dunia terobsesi dengan produk kecantikan asal negeri itu. K-Beauty, sebutan bagi standar kecantikan Korea Selatan, membuat perempuan dan lelaki membangun 'ambisi' untuk memiliki tampilan yang muda, glowing, ceria, dan bersih. Tak heran jika banyak produk kenamaan K-Beauty membanjiri pasar kosmetik tanah air. Coba lihat dimana-mana dijual produk skincare dan kosmetik asal Korea Selatan, baik secara online maupun offline. Alhasil, produk lokal harus berjuang sangat keras karena para millenial lebih suka menggunakan produk asal Korea Selatan. 


K-Beauty mulai menjadi perhatian dunia karena orang Korea Selatan terbuka pada inovasi, khususnya dalam bisnis kecantikan dunia. Selain itu, pemerintah dan korporasi dan masyarakat memberikan ruang bagi tumbuhnya brand-brand Indie untuk bersaing dengan brand ternama. Masing-masing brand berlomba menghasilkan produk yang membuat konsumen percaya bahwa produk mereka membuat orang makin cantik, sehat, muda dan penuh percaya diri. Setiap produk yang dihasilkan menjadi bagian dari proses edukasi kepada publik terkait skincare

Dan, perkembangan K-Beauty jika dikawinkan dengan media sosial melahirkan skincare-boom, di mana orang-orang sangat suka menampilkan diri mereka dengan penampilan yang baik dan menakjubkan dalam photo atau video, seakan-akan hendak menunjukkan bahwa skincare yang digunakan memberi dampak pada tingkat kebahagiaan hidup. K-Beauty juga memberikan arah baru pada pekerjaan-pekerjaan di zaman Industri 4.0 yaitu lahirnya para infuencer di bidang kecantikan atau sebut saja mereka sebagai beauty vlogger dan beauty blogger. 

Kebangkitan K-Beauty memberi pelajaran penting tentang merawat diri, kulit dan kecantikan. Kita juga belajar bahwa merawat kulit adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan kesehatan dan penampilan yang bak. Sementara make-up merupakan opsi dan tidak wajib bagi semua orang. 

PERKEMBANGAN ISLAM DI KOREA SELATAN
Islam bukan milik orang Arab, Indonesia atau Melayu. Islam adalah hak semua orang yang ingin memeluknya. Islam masuk ke Korea sejak abad ke 9 dan bisa diverifikasi melalui kedatangan pedagang dan navigator asal Persia dan Arab. Mereka kemudian menetap dan menikah dengan perempuan Korea Selatan dan mendirikan kampung-kampung Muslim. Di era penyatuan Tiga Kerajaan, terdapat banyak bukti perkembangan Islam melalui patung-patung khas Persia. Namun, perkembangan mereka terhambat karena secara geografis terisolasi dari dunia Islam di wilayah Barat. 

Perkembangan Islam di Korea pada masa lampau nggak lepas dari pengaruh komunitas Muslim Uighur dan kepentingan Mongol dalam menguasai dunia. Pada masa Goryeo, ada masjid berdiri di Gaeseong (kini wilayah Korea Utara). Sementara pada era Dinasti Joseon, pengaruh Islam mulai menguai melalui astronomi Cina-Islam yang bertahan hingga awal abad ke 19. Sayangnya, Islam kemudian lenyap dari Korea dan muncul kembali awal abad ke 20 saat sejumlah orang Korea bermukim di Manchuria dan melakukan kontak dengan orang Islam. Namun, Islam berkembang pesat di Korea paska Perang Korea karena bantuan Brigade Turki yang datang untuk membantu Korea selama perang. Islam juga diajarkan oleh orang Turki yang ditugaskan di Korea sebagai pasukan perdamaian PBB. 

Pada 1955 mereka mendirikan Korean Muslim Society dan mendirikan masjid pertama di negeri itu. Pada 1967, seiring bertambahnya jumlah Muslim di Korea maka organisasi itu berubah nama menjadi Korean Muslim Federation. Selanjutnya, perkembangan Islam di Korea Selatan banyak dibantu oleh Malaysia dan Arab Saudi. Komunitas Muslim di Korea Selatan yang jumlahnya nggak sampai 1% populasi ini berusaha membangun pusat pendidikan Islam, hingga lembaga sertifikat halal semacam MUInya Korea Selatan.
Masjid Allahu Akbar di kota Seoul berdiri tahun 1969. Kompleks ini selain terdiri dari masjid, juga merupakan Islamic Center di Korea Selatan. Di dalam kompleks ini ada kantor, ruang ibadah, dan sekolah Islam bernama Prince Sultan Islamic School. Sementara di sekitar masjid ada sejumlah resto halal dan supermarket yang menjual produk-produk untuk Muslim.  

Meski Islam masih menjadi agama minoritas, namun komunitas Muslim di Korea Selatan berusaha menyediakan sarana dan prasarana bagi komunitas Muslim. Kini, resto halal mudah dijumpai sehingga wisatawan dari negeri-negeri Muslim nggak pusing cari makanan halal saat ke Korea. Ada juga toko buku Muslim, supermarket yang menjual produk-produk halal hingga travel agency bagi wisatawan Muslim. Halal lifestyle mulai menggema di Korea Selatan. 
Ramen khas Korea Selatan yang udah dipastikan halal. Banyak dijual di supermarket


Kalau di Indonesia makanan-minuman halal merupakan hal lumrah, di Korea Selatan lain cerita. Sebagian besar bahan makanan dipastikan mengandung babi dan alkohol. Makanya, Muslim Korea juga berusaha menghadirkan produk-produk halal yang bisa dikonsumsi Muslim. Kalau pas ke Korea ya gampangnya harus cari resto yang jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai resto halal. Sementara kalau terkait makanan kemasan, ya harus dipastikan terdapat logo halal dari lembaga halal Korea Selatan yang telah diverifikasi MUI. Dipikir-pikir, pemerintah dan pebisnis Korea Selatan gerak cepat juga dalam melihat peluang pasar komunitas Muslim mengingat Muslim Korea tuh nggak sampai 1%. Walau prosesnya ribet menghasilkan produk halal, mereka berusaha menyediakannya. Bayangkan, populasi Muslim hanya 1%, tapi pemerintah dan perusahaan berusaha memberikan 'ruang' bagi produk-produk halal untuk tumbuh dan dinikmati warga Korea Selatan maupun orang asing yang membutuhkan produk halal saat berkunjung ke negeri tersebut. Sungguh toleran, bukan?  


REKOMENDASI DRAKOR YANG BERKUALITAS
Sebagaimana sinetron Indonesia, drama Korea juga banyak yang jelek. Tapi, kalau ada yang berkualitas ngapain nonton yang jelek, kan? Nah, sekarang aku mau merekomendasikan sejumlah drakor dan film Korea Selatan yang berkualitas. Menurutku, banyak sekali drama Korea Selatan ini yang lucu, menghibur dan menggemaskan, dan seringkali membuatku terhibur. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari karya para sines negeri kimchi tersebut yang bisa menjadi pelajaran hidup:
  • Kuliner: Fermentation Family, Let's Eat, Late Night Restaurant, 
  • Sejarah: Feng Shui, The King's Letter, Gabi, The Book of Correction, Queen Seon Duk, Queen for Seven Days, The Royal Gambler, Empress Ki, Moon Lover Scarlet Heart Ryo, Dong Yi, Hwarang, The Merchant, 
  • Kedokteran: Jewel in the Palace,
  • Fashion: Royal Tailor, 
  • Keluarga: Beautiful World, The Return of Superman, Ode to My Father, Chronicle of Blood Merchant, Parasite, Call Me Mother, 
  • Teknologi: Memoirs of the Alhambra, 
  • Iklim kerja: WWW,  VIP, Pegasus Market, 
  • Sekolah & Bullying: Beautiful World, Queen Classroom, School (2013 & 2015)

Film dan drama merupakan produk kebudayaan, sebagaimana makanan, pakaian, kosmetik, bahasa, arsitektur, seni, hingga ukuran-ukuran moral. Setiap bangsa memiliki akar budayanya masing-masing sesuai dengan sejarah kehidupan yang mereka alami. Maka sangat wajar jika setiap kebudayaan berbeda satu sama lain. Pun sangat bisa diterima jika kita menerima, menghayati bahkan mengagumi sebagian dari kebudayaan bangsa lain, sebagaimana kita menolak atau tidak menerima sebagian dari kebudayaan bangsa sendiri yang dianggap tidak sesuai. Dari orang Korea Selatan kita bisa belajar banyak hal seperti tentang disiplin, kerja keras, kekeluargaan, sikap pantang menyerah, kecintaan pada kuliner dan produk makanan lokal, inovasi di berbagai bidang termasuk teknologi dan kosmetik, dan masih banyak lagi. 

Karenanya, kita tidak berhak menghakimi budaya bangsa lain sebagai sesuatu yang merusak moral anak-anak bangsa, karena belum tentu produk budaya bangsa kita seluruhnya baik dan bermanfaat.  Diakui atau tidak, dalam banyak hal justru Korea Selatan jauh lebih maju ketimbang Indonesia, misalnya soal tata ruang, kebersihan dan etos kerja. 
Poster drama berjudul Moon Lover: Scarlet Heart Ryo yang diperankan IU, kisah nyata dikemas fiksi

Demikian tulisanku tentang drama asal Korea Selatan. Setelah membaca artikelnya, pembaca nggak serta merta ingin meninggalkan agama masing-masing kan? I just wanna tell that nggak semudah itu kita mengizinkan pikiran dan hati kita berprasangka buruk atas produk kebudayaan bangsa lain hanya karena berbeda dengan milik bangsa sendiri. Karena kalau kita mau jujur, banyak sekali tayangan di negeri ini yang amit-amit jeleknya dan merusak moral, jika kita percaya bahwa kekuatan moral diatas segalanya atas diri seorang manusia. Dan yeah, aku udah lama banget nggak nonton TV karena lebih suka nonton streaming di sejumlah website hehehe. TV dan tayangannya nggak bisa mengendalikan aku, tapi akulah yang bertanggung jawab mengendalikan diriku mau memberi makan diriku dengan tayangan seperti apa. 

Sebelum memandang produk budaya sebuah bangsa merusak atau tidak, kita perlu melihat fungsi sebilau pisau. Di dapur, pisau digunakan untuk memotong, mengupas, dan membelah aneka buah, sayuran dan ikan. Pisau menjadi benda yang sangat bermanfaat dalam memudahkan urusan manusia. Sementara jika si pisau dapur kita gunakan untuk menusuk tubuh orang, maka fungsi pisau itu menjadi jahat, meski sebenarnya yang jahat bukan si pisau melainkan si orang pemegang pisau dan niat di dalam kepalanya saat menggunakan pisau tersebut. 

Segala sesuatu di dunia ini memiliki dampak baik dan buruk, termasuk agama jika digunakan untuk kepentingan yang keliru. Oleh karena itu, sangat tidak pas jika ada seorang tokoh agama menuduh produk kebudayaan bangsa lain dengan cara pandang buruk tanpa melakukan riset. Itu adalah ujaran kebencian dan fitnah. Sangat disayangkan jika forum dakwah berisi ujaran kebencian dan fitnah. Karena dengan demikian, Islam tidak mencerminkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam dan aku berharap para Ustadz nggak lagi berpikir mereka bebas menghina bangsa lain demi dakwah. 

Jika kita ingin Islam diterima oleh dunia, termasuk orang Korea selatan, kita nggak boleh memaki produk kebudayaan mereka. Yang seharusnya kita lakukan adalah mendekati mereka agar mereka mau mempelajari Islam. Karena hanya dengan cara itu Islam bisa diterima. Muslim itu seharusnya merangkul, bukan memukul. 

Jakarta, 13 Oktober 2019

Bahan bacaan: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Korea
http://koreahalal.org/
http://www.koreaislam.org/en/seoul-kmf/
https://tirto.id/kontroversi-label-halal-pada-produk-makanan-korea-cq7l
https://www.export.gov/article?id=Korea-Cosmetics
https://graziadaily.co.uk/beauty-hair/hair/korean-beauty-products-good/

https://www.cnbc.com/2019/07/11/k-beauty-how-south-korea-took-over-skin-care.html
https://www.bbc.com/news/business-45820671

No comments:

Post a Comment