Menikmati 'ME TIME' Diantara Rindang Pepohonan di Cianjur, Jawa Barat

Aku dan pohon Karet Kebo di Saung Nini, Taman Bunga Nusantara, Cianjur, Jawa Barat. Photo: Pak Abidin


"Nature does not hurry, yet everything is accomplished."
-Lao Tzu-


Semakin dewasa, rasanya hidup semakin berat. Tersebab tantangan yang semakin menggunung dan mimpi-mimpi yang mengantri digenapi. Belum lagi deadline pekerjaan yang memaksa kita pasang badan untuk menyelesaikannya secara professional. Seluruh diri dan tubuh kita dipaksa bekerja keras, cepat dan ringkas layaknya mesin pembuat camilan di pabrik-pabrik. Kita berlari mengejar target demi target yang tak pernah selesai. Hingga akhirnya kita lupa menikmati waktu bercengkerama dengan diri sendiri atau minimal memberinya waktu untuk istirahat agar kembali mampu menjaga fokus. Hidup kita menjadi begitu terburu-buru, sampai lupa memperhatikan bertambahnya kerutan di wajah sendiri. Akankah kita terus-menerus menjalani hidup sedemikian menyiksa? 

Minggu lalu, aku mengikuti green camp yang diselenggarakan oleh change.org Indonesia di Cianjur, Jawa Barat. Tepatnya di sebuah tempat peristirahatan bernama Saung Nini, di dalam areal Taman Bunga Nusantara. Tempat tersebut memiliki halaman luas dipenuhi aneka pepohonan seperti cemara, pinus, karet kebo, dan pepohonan lain yang aku tidak tahu namanya. Tak lupa, hamparan rerumputan, bunga, serta tanaman obat dan buah. Aku disambut oleh rasa nyaman yang energinya masuk jauh ke dalam jiwaku, seperti memasuki sebuah dunia yang lama kutinggalkan arena urusan pekerjaan di dunia serba cepat ini. Aku terpana, terpesona dan segera aja mengagumi segala sesuatu yang ada didalamnya sebagai tempatku melakukan 'me time' selama beberapa hari.
Bermanja dengan sebatang pohon entah apa namanya. Photo: Pak Abidin

Pagi hari sebelum kegiatan dimulai, aku sudah mandi, rapi dan wangi, dan siap memulai petualangan. Aku berkeliling di halaman yang luas, seperti penjelajah kecil yang begitu penasaran dengan alam yang baru saja dimasukinya. Saat berkeliling, Aku ditemani Pak Abidin, salah seorang pekerja di Rumah Nini yang sudah bekerja sejak tahun 1980an. Selain menjelaskan tentang aneka tanaman dan pepohonan yang ada di areal Saung Nini, beliau juga membantuku mengambil gambar di lokasi-lokasi terbaik, seperti lumbung padi Tana Toraja dan Rumah Aceh, atau di dekat sejumlah pepohonan ikonik di lokasi tersebut. Maklum kan ya aku butuh modal buat posting di Instagram hehe. Dari Pak Abidin aku juga tahu bahwa rumah peristirahatan ini dibangun pemiliknnya dengan tujuan memanjakan mata dan jiwa para tamu yang haus akan pelukan dan kasih sayang alam, karena sejatinya manusia adalah bagian dari alam. 
Manjat pohon dulu ya dan aku bahagia karena ada bunganya berwarna pink. Photo: Linda

Diantara tumpukan berbagai macam masalah kehidupan dan kecamuk yang begitu sibuk di dalam kepala, aku mencoba berkomunikasi dengan elemen-elemen alam seperti pepohonan, bunga, rumput, bebatuan, burung-burung yang beterbangan dan tentu saja rerumputan. Aku berjalan ke belakang Rumah Aceh yang berfungsi sebagai Mushala dan menemukan kemuning yang tengah berbunga begitu lebat, juga bunga dari pohon lain yang aku tidak tahu namanya. Ada juga pohon jambu klutuk, kecombrang, belimbing dan tanaman lain yang tidak kuketahui namanya. Kutaksir, ada lebih dari 200 jenis tanaman, pohon, bunga dan herbal yang melingkupi Saung Nini, umpama taman kehidupan yang melingkupi sebuah sarang kecil tempat manusia berteduh dan berkembangbiak. 

Baca Juga: Perjalanan Mendebarkan Melihat Sumber Air Purba Berusia 1500 tahun

Dalam petualangan kecil ini ada rasa nyaman dan tenang yang menjalar di sekujur tubuh ketika aku sampai pada kesadaran bahwa aku  telah dipeluk oleh suasana yang aku rindukan. Rasanya seperti pulang ke rumah yang telah lama kutinggalkan. Begitu hangat dan nyaman, memanggil ingatan masa kecil yang memang begitu akrab dengan alam liar. Dengan cara ini pula aku memasuki kesadaran baru dalam memahami Tuhanku yang selama ini hanya digambarkan berdasarkan firmanNya melalui kitab suci. Kali ini dan semoga hingga masa depan, aku ingin lebih banyak mengenal Tuhanku melalui alam yang terkembang begitu menakjubkan, indah dan menenangkan jiwa. Alhamdulillah, alhamdulillah...
Diantara bunga-bunga indah. Photo: Pak Abidin

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari proses mindfulness, sebuah proses mengembalikan fokus kepada diri secara utuh. Terlebih materi-materi yang dibahas dalam kegiatan yang kuikuti lumayan berat dan menguras energi serta pikiran. Sehingga, aku harus sering-sering mendekatkan diriku dengan alam untuk menenangkan diri. Membicarakan masalah kebangsaan seringkali membuat emosi memuncak, marah dan kesal sedemikian rupa. Terutama ketika kita yang berjuang didalamnya memiliki masalah-masalah personal yang juga begitu berat untuk dijalani. Alam dan seisinya menjadi penyembuh yang ampuh. Maha Besar Allah, yang menciptakan segala sesuatu untuk membantu manusia kembali kepada dirinya setelah tersesat sedemikian rupa di tengah hiruk pikuk masalah-masalah duniawi yang tiada habisnya. 
Aku bertemu sebuah pohon entah apa namanya yang awalnya merupakan bonsai. Photo: Pak Abidin

Membicarakan alam seringkali terfokus pada hutan-hutan perawan dan pantai-pantai indah dengan ombak yang memukul pantai. Namun sejatinya alam melingkupi kita meski didalamnya hanya ada sebatang pohon saja. Kita harus menerimanya, memeluknya dan berterima kasih atas kehadiran mereka dalam kehidupan manusia.  


Menemukan diri sendiri dalam proses mindfulness ini bukan sekadar membantu melepaskan resah dan gelisah yang bertumpuk dalam jiwa dan kepala. Karena yang terpenting adalah bahwa sebagai manusia, aku tidak lupa atau memisahkan diriku dari alam raya yang merupakan rumahku. Aku tak beda dengan semut, kumbang, burung-burung, ayam dan hewan lain dalam hubungan saling ketergantungan dengan alam. Oleh karena itu, aku bersyukur dan berterima kasih telah mendapatkan kesempatan ini. Aku berjanji, aku akan semakin banyak meluangkan waktu untuk bersenda gurau dengan saudara seperjuanganku dalam kehidupan ini seperti pepohonan, rumput, bunga bahkan semut. Janji ini juga sebagai pintu 'keyakinan diri' untuk menjalani hidup dengan santai alias slowlifestyle

Bekasi, 31 Oktober 2019


No comments:

Post a Comment