SUPER 30: Kelas Matematika Anand Kumar untuk Siswa Miskin India




"Dibutuhkan seorang Raja untuk melatih calon Raja." 

-Raaj Purano dalam Mahabaratha-


Pada awalnya pendidikan di lakukan di istana-istana Raja dan di rumah-rumah kaum bangsawan. Guru-gurunya adalah para cendikiawan terbaik, dan seringkali sang Raja sendiri. Anak-anak lelaki dari kaum bangsawan seringkali bisa mendapat privilege untuk belajar dalam kelas bersama para pangeran, calon Raja masa depan. Putra Mahkota dan para pangeran diberi pendidikan terbaik untuk mempersiapkan mereka sebagai pemimpin masa depan. Sedangkan anak lelaki keluarga bangsawan diberi pendidikan untuk bisa menduduki posisi mentereng di kerajaan, seperti posisi Menteri. Katanya, pendidikan adalah hak premium untuk kaum premium. Sementara orang-orang selain dari dua golongan itu hanyalah buruh dan budak, tiada guna memberi pendidikan bagi mereka yang tidak memiliki masa depan dalam sistem sosial. 

Sistem sosial dalam peradaban manusia tidak sim salabim sebagai titah Sang Pencipta, melainkan sebagai kreasi manusia sesuai zamannya. Dua golongan teratas dari klasifikasi piramida sosial merupakan kelompok yang dilayani, tetapi juga mengaku sebagai representasi sebuah negeri. Sementara golongan lain di kaki mereka adalah pelayan mereka, yang bekerja di tanah-tanah mereka, mengurus rumah dan menyiapkan makan-minum mereka, hingga memberikan nyawa mereka dalam perang. Kelompok yang paling tertindas adalah kalangan budak yang biasa diperjualbelikan dan diperlakukan sangat tidak manusiawi. Rupa mereka sama manusia, tetapi keberadaan mereka umpama mesin yang bekerja sepanjang waktu untuk tuan yang telah membeli mereka dari pasar budak. 

Jarang sekali budak yang bisa merdeka. Sedihnya, dalam beberapa budaya dan masyarakat, bahkan bangsa, para budak tak akan pernah mendapat kehidupan yang baik, termasuk keturunan mereka. Sehingga, mereka harus hijrah ke negeri asing jika ingin mengubah nasib mereka. Salah satu bangsa yang hingga saat ini masih memperlakukan sistem sosial seperti itu adalah India di mana seseorang yang terlahir dari kasta Sudra tak akan pernah mendapat kehidupan yang baik, secerdas apapun otaknya.  

Orang-orang kaya dan terkaya memiliki ketakutan bahwa kekayaan akan meninggalkan mereka, sehingga dengan segala cara mereka menjaga kekayaan itu abadi dan tak habis hingga 7 turunan. Sementara orang-orang miskin sehari-harinya takut tak bisa makan, tak bisa bayar biaya pendidikan, takut rumah roboh atau tersapu banjir, atau lahan pertanian yang kecil diserbu hama, atau segala yang mereka miliki direbut orang kaya bahkan pemerintah. Ketakutan dari dua kalangan ini bisa ditengahi dengan pendidikan, di mana setiap kalangan dari status sosial masing-masing bisa memperjuangkan nasib mereka dengan fair meski sebenarnya nggak ada yang benar-benar fair dalam hidup ini. 

Tersebutlah Anand Kumar, seorang siswa brilian yang sangat jago matematika. Ia sering memenangi perlombaan yang membuat orang-orang seperti seperti Menteri Pendidikan kagum padanya. Dalam sebuah perlombaan Anand Kumar jadi juara pertama dan memenangkan hadiah berupa medali emas, dan mendapat puja-puji termasuk dari sang Menteri Pendidikan yang berjanji akan menolong Anand dalam hal pendidikannya. Kecintaan Anand Kumar pada metematika membuatnya bersemangat mengunjungi sebuah perpustakaan di kota demi menjawab soal-soal matematika dalam jurnal asing. Sayangnya, pada suatu hari ia kepergok pimpinan perpustakaan dan diusir karena Anand bukan anggota perpustakaan tersebut. Dalam kondisi kecewa karena di seseorang di institusi pendidikan mengusirnya, seorang petugas perpustakaan memberi tahun Anand Kumar bahwa Anand sebaiknya mengirimkan artikelnya ke sebuah koran agar mendapat kesempatan dimuat di jurnal asing. Anand Kumar berhasil bahkan mendapatkan undangan dari seorang Professor di Universitas Cambridge, Inggris untuk melanjutkan kuliah. 
Jualan roti aja deh demi menyambung hidup

Sayangnya, karena Anand Kumar ini orang dari keluarga sangat miskin, maka tak mungkin ia bisa ke Inggris dan kuliah disana. Ayahnya yang bekerja sebagai Pak Pos jelas tak mampu membiayai perjalanan Anand Kumar ke Inggris, meski ia telah berupaya dengan menjual barang-barang berharga miliknya. Sang ayah bahkan meninggal dunia karena serangan jantung setelah permintaan pendanaan bagi Anand Kumar ditolak Menteri Pendidikan yang pernah berjanji akan membantunya. Karena semua jalan untuk melanjutkan pendidikannya ke Inggris seakan buntu, Anand Kumar memilih melanjutkan hidup dengan membantu ibunya berjualan roti. 

Saat sedang berjualan roti, seseorang mengenali Anand Kumar dan menyayangkan kondisi buruk sang brilian. Maka ia mengajak Anand Kumar ke rumahnya dan berjanji akan memberinya pekerjaan yang dapat mengubah nasib Anand Kumar dan anak-anak cerdas seantero India. Bapak ini bernama Lallan Singh, pemilik bisnis kursus bernama "Excellence Coaching Centre" yang sesungguhnya merupakan pundi-pundi uang sang Menteri Pendidikan dalam rantai mafia bisnis pendidikan di India. Lallan menjadikan Anand Kumar sebagai maskot lembaga kursusnya dan menjual kejeniusan Anand Kumar untuk menarik siswa paling cerdas dari keluarga kaya raya untuk belajar di sana. Hidup Anand Kumar kembali punya makna dan kondisi ekonomi keluarganya mulai membaik. Anand Kumar mulai hanyut dalam kehidupan barunya dan lupa bahwa ia orang miskin, sehingga bersikap masa bodoh terhadap siswa miskin yang tidak mampu membayar biaya kursus. 
Hayo tebak Pak Guru lagi bikin apa? 

Anand Kumar tiba-tiba tersadar dari dunia baru yang telah membiusnya. Pekerjaan, uang dan nama besar telah membuatnya lupa apa yang seharusnya diperjuangkan orang miskin seperti dirinya. Dibantu adiknya, Anand Kumar memutuskan mendirikan lembaga kursus sendiri yang dikhususkan bagi siswa miskin, dan tentu saja gratis. Ia menjual semua barang yang bisa dijual untuk membeli sebuah bangunan tidak terpakai untuk dijadikan asrama sekaligus tempat belajar para siswanya. Sontak, seisi Bihar heboh dan para siswa miskin melarikan diri dari pekerjaan mereka masing-masing demi belajar pada Anand Kumar. Goal mereka adalah tembus Indian Institute of Technology (IIT), sebuah kampus paling tersohor seantero India dalam bidang teknologi. 
Mendorong murid berimajinasi dari rumus matematika

Saking miskinnya, meski seluruh uangnya telah digunakan untuk membeli bahan ajar ransum dan membenahi gedung, kelas Anand Kumar tentu saja masih sangat begitu buruk dan kumuh. Dia tidak bisa menampung siswa lebih dari 30 orang. Para siswa belajar, tinggal di asrama dan seluruh pembiayaan terbeban di pundak Anand Kumar. Dalam kondisi penuh derita ini, Anand mendapat ancaman dari Lallan dan Lallan mendapat aacaman dari Menteri Pendidikan karena bisnis 'mafia kursus pendidikan' mereka bubar gara-gara sang guru favorit bikin institusi sendiri. Anak-anak orang kaya nggak mau belajar kalau gurunya bukan Anand Kumar dan ancaman mereka bikin bisnis bangkrut. 

Meski demikian, Anand Kumar dan murid-muridnya tetap tegar menghadapi cobaan, hingga akhirnya seluruh siswa tersebut diterima di IIT. Pencapaian ini membuat kelas Anand Kumar dijuluki 'Super 30' karena kelas miskin tersebut memang super. 

INILAH SOSOK 'SUPER TEACHER' ANAND KUMAR 
Film "Super 30" ini memang diadaptasi dari kisah nyata seorang matematikawan jenius bernama Anand Kumar di Bihar, India. Setelah gagal kuliah gara-gara nggak punya uang dan kok nggak ada yang kasih beasiswa gitu, Anand Kumar memutuskan membuka kursus untuk 30 orang setiap tahunnya. Seluruh siswa dalam kelas 'Super 30' tersebut dididik secara khusus dan intensif untuk lolos ujian masuk IIT. Anand memberikan pendidikan gratis, tempat tinggal dan makanan gratis. Soalnya para muridnya merupakan murid-murid dari keluarga paling miskin di India yang boro-boro buat sekolah, buat makan aja keluarganya harus banting tulang sampai kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki. Kelas reguler Anand Kumar telah dimulai sejak 1992 dan kelas 'Super 30' dimulai tahun 2002. 
Anand Kumar di kelas bersama murid-muridnya. 

Kelas 'Super 30' inilah yang membuat Anand Kumar dan institusinya dikenal semakin luas.  Gara-gara ini pula ia semakin sering menerima ancaman pembunuhan karena dianggap merusak bisnis kursus yang dijalankan banyak sekali lembaga. Anand Kumar tidak menyerah dan ia membayar sejumlah bodyguard untuk mengawalnya kemana pun ia pergi. Saat sejumlah lembaga swasta dan pemerintah menawarkan kerjasama, Anand Kumar menolaknya dan memilih untuk terus mengelola sekolahnya secara independen. 

Anand Kumar sungguh keras kepala dalam membalas semua penolakan orang-orang kaya dan berkuasa saat ia membutuhkan bantuan. Kini, Anand justru menjadi penolong bagi hampir 60.000 siswa di kelas 'Super 30' dan ratusan ribu siswa di kelas reguler. Sungguh sebuah pengabdian yang gila-gilaan pada pendidikan dan kemanusiaan. 

Kisah Anand Kumar telah menyita perhatian dunia. Telah banyak pihak yang membuat film dokumenter atas kerja kerasnya dan ia mendapatkan banyak penghargaan bergengsi. 

Jakarta, 7 September 2019

Bahan Bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/Super_30_(film)
https://en.wikipedia.org/wiki/Anand_Kumar
https://www.rediff.com/getahead/report/achievers-never-imagined-my-son-would-come-this-far/20150618.htm
https://www.theglobeandmail.com/world/article-new-bollywood-production-super-30-celebrates-an-inspirational-math/
https://m.dailyhunt.in/news/bangladesh/english/inuth-epaper-inuth/anand+kumar+recounts+his+journey+on+the+making+of+super+30+with+hrithik+roshan-newsid-124603290


No comments:

Post a Comment