Saatnya Berani SPEAK UP Jika Mengalami Kekerasan Dalam Pacaran

Kita tidak boleh memberikan persetujuan atau consent pada kekerasan dalam bentuk apapun. Sumber: theconcordian


"Reporting an abuser isn't gossip. It's integrity."
-Jennifer Michelle Greenberg-



Beberapa waktu lalu, seorang perempuan muda yang kukenal melalui sebuah pameran seni tahun 2016 lalu membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Melalui postingan di akun Instagramnya dia mengaku telah dilecehkan secara fisik dan psikologis oleh seorang lelaki. Pengakuan tersebut membawa dua nama perempuan lain yang ternyata dilecehkan secara seksual oleh pelaku yang sama. Nah, pelaku yang berprofesi sebagai tukang tato seringkali melecehkan klien perempuan saat membuat tato di tubuh mereka. Icha, kusebut saja demikian nama perempuan itu, menyebutkan dengan jelas nama pelaku hingga membuat aku kepo tentang si pelaku. Sungguh sebuah keberanian yang pantas kuacungi jempol. 

Icha pernah memiliki hubungan khusus dengan si pelaku. Ya, mungkin pacaran. Dalam pengakuannya Icha mengaku telah berbulan-bulan melepaskan diri dari hubungan yang toxic dan masih dalam tahap menyembuhkan diri. Namun, selama proses penyembuhan, Icha bertemu dengan beberapa orang korban si pelaku. Mereka kemudian memutuskan untuk melaporkan kasus yang dialami ke pihak berwenang dan SPEAK UP! melalui media sosial. Keberanian speak up inilah yang kemudian memunculkan kenyataan pahit lain, bahwa sejumlah orang yang pernah menjadi korban pelaku mengontak Icha. 

Baca juga: Jihad Melawan Kekerasan Seksual Sejak Dalam Pikiran

Hal ini rupanya membuat si pelaku merasa nggak nyaman. Karena selain namanya sangat terpampang nyata dalam postingan Icha yang membuat ruang geraknya menyempit. Ia merasa bahwa pekerjaannya menjadi terganggu karena orang-orang jadi takut padanya. Melalui IG story di akun Instagram miliknya, si pelaku membuat pembelaan bahwa apa yang Icha dkk katakan tidak benar. Ia punya versi sendiri. Namun, Icha mengatakan ia dan korban lainnya menolak menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Icha dkk sudah memasukkan laporan dan bukti-bukti ke kepolisian, termasuk melakukan visum ke RS. Icha  ingin persoalan kekerasan fisik, psikologi dan seksual yang terjadi diselesaikan secara hukum. 

"sekarang aku benar-benar tahu rasanya
kenapa para korban perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan lebih memilih diam
karena kalian masih berpikir ini aib yang musti didekap sendirian
karena kalian masih bertanya mana bukti lengkapnya?
karena kalian akan berkata dengan ringan "lihat sisi lainnya!"

sekarang aku benar-benar tahu rasanya
kenapa para korban perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan lebih memilih diam
karena perempuan tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki, oleh manusia sekalipun
karena laki-laki boleh main hakim sendiri, boleh pukul-pukulan
boleh mabuk dan tetap aman
boleh ditato di selangkangan dan tetap aman
boleh mengumpat dan tetap aman
boleh pulang malam dan tetap aman
boleh kemanapun sendirian dan tetap aman
tapi, kapan perempuan boleh merasa aman? 

sekarang aku benar-benar tahu rasanya
kenapa para korban perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan lebih memilih diam
karena kalian akan bilang dengan ringan
"Oh...aku tidak menyangka."
"Oh...aku kenal pelaku, dia orang baik."
"Oh...kalian sama jahatnya dengan memberikan sanksi sosial."

sekarang aku benar-benar tahu rasanya
kenapa para korban perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan lebih memilih diam
karena untuk berani berbicara
kami harus mengorek trauma
dan mengelupas luka
dan pada akhirnya, entah kami "menang" atau "kalah"
kami akan merawat luka dan trauma ini sendirian
dan membawanya sampai kematian
dan kalian masih menyalahkan kami atas peristiwa 
yang tak pernah kami minta
kalian tidak tahu benar-benar rasanya
bahkan seujung debu di jari pun tidak." 
(Icha, 24 September 2019)

Sayangnya, ketika Icha berusaha menyembunyikan ketidaknyamanan atas apa yang dialaminya, masih saja ada sejumlah pihak yang memaksanya menceritakan kisahnya secara kronologis. Padahal, Icha berhak untuk tidak menceritakan kronologinya kepada pihak lain selain kepolisian untuk menangani kasusnya. Sehingga, Icha membuat sebuah tulisan sebagai bahan kontemplasi kita semua. Tulisan yang menyentuh dan memukul kesadaran kita. 

ANTISIPASI KEKERASAN OLEH PASANGAN
Setiap manusia adalah unik. Karenanya kita tidak pernah bisa menilai dengan benar karakter sesungguhnya seorang manusia. Ada sebuah falsafah di Jepang yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki 3 wajah. Wajah pertama adalah wajah yang ia tunjukkan kepada dunia; wajah kedua adalah yang hanya ditunjukkan kepada keluarga, pasangan dan kerabat; dan wajah ketiga adalah yang hanya ditunjukkan kepada dirinya saat sendirian. Sejatinya, setiap manusia berbohong kepada manusia lainnya tentang banyak hal. Tetapi, manusia tidak akan pernah mampu berbohong pada dirinya sendiri dan tak akan pernah bisa melarikan diri dari kecamuk pikirannya sendiri. Sehingga, kita tidak boleh memiliki harapan berlebihan bahwa setiap manusia akan memperlakukan kita sebaik kita memperlakukan mereka. 
Data kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2018

Kekerasan dalam pacaran bukan hal baru, karena data kekerasan yang terjadi antara pasangan yang pacaran angkanya sangat tinggi. Data yang dikumpulkan Komnas Perempuan sepanjang tahun 2018 menunjukkan bahwa angka kekerasan yang dilakukan pacar jauh lebih tinggi dari yang dilakukan pihak lain, baik di ruang privat maupun publik. Oleh karena itu, kasus yang menimpa Icha bukanlah hal baru. Meskipun keberanian Icha untuk speak up adalah hal yang sangat jarang dilakukan perempuan di negeri ini. Sebagai korban kekerasan dalam pacaran, aku juga mengalami hal serupa. Namun, karena rasa takut aku memilih untuk menulis alih-alih speak up dengan menyebutkan nama pelaku. 

Cinta dan kepercayaan kita pada seseorang seringkali membuat kita buta dan logika kita mendadak lumpuh. Sang pujaan mendadak menjadi pusat kehidupan yang seakan-akan kita nggak bisa hidup tanpanya. Bahkan, saat dia melakukan kekerasan pertamanya sebagai pasangan, kita memaafkannya karena percaya pada kekuatan cinta yang mampu mengubah iblis menjadi malaikat. Tapi, bagaimana jika sebenarnya orang yang jadi pasangan kita telah menjalani hubungan toxic dengan orang lain sebelum jadi kekasih kita? Bagaimana jika sebenarnya pasangan kita sedang menyembunyikan aib mengerikan dari masa lalunya yang sangat buruk dan membawanya dalam hubungan yang baru? 

Baca juga: Jika Menjadi Korban Pemerkosaan, Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Aku pernah mengalami ini setelah aku gagal melakukan penilaian selama 1.5 tahun, sebelum aku benar-benar masuk ke dalam hubungan yang mengerikan. Saat cinta sudah membuat mataku buta dan logikaku lumpuh, yang kulakukan adalah bertahan karena aku sangat mencintainya. Namun, cinta bukan jawaban. Cinta tidak pernah menjadi 'sesuatu' yang bisa menyelesaikan segala hal dalam kehidupan ini. Karenanya, kepada siapapun yang membaca tulisan ini, ingat sejumlah pesanku berikut ini agar kamu selamat dari hubungan toxic yang sangat menyakitkan dan merugikan:

  • Sebelum memulai sebuah hubungan, tetapkan tujuanmu dalam hubungan tersebut. Jangan pernah memulai hubungan untuk tujuan main-main, karena pada akhirnya kamu akan dipermainkan. Jika belum siap berhubungan dengan serius menuju suatu tujuan yang jelas di masa depan, lebih baik berteman saja. Karena pertemanan adalah cara mencintai yang paling aman. 
  • Sebelum memulai hubungan, cari tahu tentang hubungan calon kekasihmu di masa lalu. Ajak dia berdiskusi secara terbuka tentang konsep hubungan entah pertemanan, pacaran maupun pernikahan. Pancing dia untuk bercerita dengan sukarela tentang apa yang sangat dia hargai dari masa lalunya dan apa yang dia sesali, termasuk kebodohan yang pernah dia lakukan dalam hubungan tersebut. 
  • Sebelum memulai hubungan, ajak diskusi tentang apa yang kamu inginkan di masa depan dan apa yang sedang kamu lakukan saat ini, dan apa fungsi hubungan antara kalian berdua terkait masa depan. Jangan pernah menggantungkan hidupmu dan masa depanmu pada calon pasanganmu, karena hidupmu adalah tanggung jawabmu. 
  • Pastikan bahwa si dia merupakan orang dengan pemikiran terbuka, baik pada pengetahuan, inovasi dan kritik. Cek juga sudut pandangnya tentang perempuan seperti tentang pendidikan, karir, kegiatan sosial dan karya-karya perempuan. Pastikan kamu hanya pacaran dengan lelaki yang membuatmu semakin cerdas. 
  • Prioritaskan dirimu dan hidupmu, keluargamu dan pekerjaanmu, baru si dia. Jangan habiskan waktumu hanya untuk pacaran tapi lupa bekerja, mengembangkan diri dan berkumpul dengan keluarga. Pacaran jangan berlebihan. 
  • Bagaimana dengan seks? Seks hanya boleh dilakukan dengan consent alias persetujuan. Jika seks selama pacaran dilakukan dengan paksaan, maka itu namanya kekerasan seksual. Bahkan jika kamu memberikan consent atas hubungan seksual, pelajari dulu riwayat seksual pasangan kamu. Kalau perlu, minta dia melakukan tes darah untuk mengetahui apakah dia memiliki penyakit memulai seksual atau tidak. Seks harus dilakukan dengan persetujuan dan pengetahuan. Jika kamu ragu, sebaiknya tidak pernah melakukannya. 
  • Jika kamu sangat suka mengabadikan momen-momen bersama kekasihmu, maka jangan pernah mengabadikan momen yang berkaitan dengan urusan seksualitas. Jika kamu melakukannya (misalnya dengan memotret atau membuat video) maka rekaman tersebut bisa menjadi bahaya bagimu. Saat kalian putus, foto atau video bisa digunakan sebagai alat pemerasan atau hal lain yang merugikan kamu. Atau, jika foto dan video bocor ke pihak ketiga yang usil, kamu dan pasanganmu bisa dijerat pasal-pasal perzinahan dan pembuatan konten pornografi. Jadi, berhati-hatilah. Kasus yang menimpa selebriti A adalah contoh mudah untuk dipelajari. 
  • Beritahukan hubungan kalian pada sejumlah orang terpercaya misal adik, ayah, ibu, kakak atau sahabat. Orang-orang yang paling kita percaya adalah tempat kamu meminta masukan terkait hubungan kamu dengan pacar. Jangan simpan hubungan itu hanya berdua, karena bisa timbul kemungkinan kamu dijadikan selingkuhan. 
  • Jika kamu dan pasanganmu melakukan komunikasi dengan alat lain seperti WA, Email, Line atau lainnya, jangan pernah dihapus! Dokumentasikan dengan baik semua catatan komunikasi tersebut dan simpan di tempat yang aman, yang hanya diketahui olehmu seorang. Kita tidak pernah tahu bahwa dokumentasi tersebut bisa menolong kita saat harus SPEAK UP, khususnya jika kamu pernah mengalami kekerasan selama pacaran baik seksual, fisik dan psikologis. 

Samapi di poin ini mungkin Pembaca akan berpendapat sebaiknya anak muda nggak usah pacaran dan langsung menikah saja. Hm, nggak bisa gitu juga sih karena banyak juga kasus-kasus aneh yang dalami pasangan menikah tanpa pacaran. Pacaran bukan hal berbahaya jika memiliki tujuan yang jelas, sebab pernikahan pun jika tidak dipersiapkan dengan matang bisa jadi sangat membahayakan. Contohnya adalah para perempuan korban kekerasan oleh suaminya sendiri hingga mereka mengalami kematian. Bahkan, data tahun 2019 menyajikan pemandangan lebih mengerikan, bahwa rumah tidak lagi menjadi tempat yang akan dari bayi-bayi dari kekerasan seksual yang dilakukan ayah atau pamannya sendiri. 
Jangan sungkan melapor jika mengalami kekerasan

Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing dan takdir itu tidak pernah bisa dibebankan kepada orang lain. Termasuk soal menjaga hati dan diri dalam sebuah hubungan. Setiap orang adalah baik, dan setiap orang bisa jadi jahat. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang sebelum menjadi dirinya. Karenanya, berhati-hati adalah cara sederhana demi kebaikan bersama. Jika diperlukan, SPEAK UP! agar orang lain tidak menjadi korban pelaku yang sama. 

Reporting an abuser doesn't ruin their life. They did that themselves.
Reporting an abuser doesn't damage their reputation. It makes it more accurate.
Reporting an abuser doesn't hurt their family. It protects them from abuse.
Reporting an abuser isn't gossip. It's integrity. 
(Jennifer Michelle Greenberg)

Demikianlah ceritaku hari ini, menutup September 2019 dengan pembelajaran berharga tentang hubungan antar manusia. Aku percaya kita semua ingin hidup aman, nyaman, bahagia dan saling percaya satu sama lain. Semoga bermanfaat. 

Jakarta, 30 September 2019

No comments:

Post a Comment