Menghidupkan Kembali Habibie Bersama Pesawat R80

Pesawat Habibie


"Hidup matinya teknologi tergantung pada kebudayaan karena teknologi 
merupakan bagian dari kebudayaan suatu bangsa dan suatu masyarakat."

(Pidato Kebudayaan  B.J Habibie di Graha Bakti Budaya, TIM, November 1993)

Habibie telah meninggal dunia. Suka atau tidak suka kita semua harus menerima kenyataan tersebut. Meski Habibie sedang mengawal proses pengembangan pesawat impiannya, nampaknya ia memilih untuk mewariskan pekerjaan besar tersebut pada generasi saat ini. Dalam sebuah wawancara terkait pengembangan R80, Habibie pernah menyebutkan bahwa jika Indonesia gagal membuat R80 mengudara atau benar-benar membatalkan proyek ini, maka dikhawatirkan SDM Indonesia akan kembali ke tahun 1945. Maksudnya, percuma saja Indonesia punya banyak ahli, insinyur dan teknisi yang bisa membuat pesawat terbang tapi nggak punya proyek membuat si pesawat terbang.  

Baca dulu: Mimpi Pesawat Habibie dalam Kartun Adit & Sopo Jarwo

Soal teknologi, apalagi pesawat terbang aku mah mana ngerti. Tapi, memperbincangkan R80 bukan hanya soal kecanggihan teknologi pesawat terbang. Melainkan juga soal itikad baik sebuah bangsa, pemerintah dan rakyatnya yang bersama-sama mewujudkan mimpi bersama, yaitu memiliki pesawat terbang buatan anak negeri. Ini soal justifikasi bersama sebuah bangsa bahwa kita bisa lho buat pesawat sendiri untuk kepentingan sendiri. Pesawat R80 dan sejenisnya yang sedang dalam pengembangan bukan dibuat untuk bersaing dengan produsen pesawat canggih kelas dunia seperti Airbus punya Perancis dan Boeing punya Amerika Serikat. Melainkan Indonesia harus mampu membuat pesawat untuk kelas regional sebagai sarana penghubung antar pulau di Indonesia. Itu mimpi Habibie sebenarnya. 

PESAWAT ITU BERNAMA R80
Dalam sebuah wawancara, Ilham Habibie mengatakan bahwa pesawat rancangan PT. Regio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan proyek teranyar Habibie ini diberi nama R80. Maksudnya pesawat tersebut dirancang untuk kelas regional berpenumpang 80-92 orang. Sejak lama Habibie berpandangan bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat membutuhkan pesawat sebagai sarana transportasi yang menghubungkan antar pulau. Sehingga industri penerbangan merupakan industri strategis yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Dalam konteks bisnis, industri ini jelas akan sangat menguntungkan bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 



Sejarah mencatat bahwa pesawat buatan Habibie pernah mengudara dan digadang-gadang akan menjadi asal muasal kebangkitan industri penerbangan nasional. Pada 1995 pesawat N250 Gatotkaca mengangkasa di langit Bandung, disaksikan dengan jutaan pasang mata penuh kebanggaan rakyat Indonesia. Sayangnya, krisis moneter 1997-1998 harus membuat mimpi tersebut dibunuh, dengan alasan pos anggaran untuk pengembangan pesawat harus dialihkan ke pos-pos lain demi menjaga stabilitas nasional. Dalam sebuah wawancara, Habibie dengan suara bergetar mengatakan bahwa peristiwa pembunuhan dengan sengaja pada kebangkitan industri penerbangan tanah air pada 1997 tidak boleh terulang. Kali ini melalui proyek pengembangan R80 industri penerbangan Indonesia harus bangkit dan melesat di angkasa. Jika kali Indonesia gagal lagi, maka mungkin selamanya bangsa ini tidak akan pernah bisa membuat pesawatnya sendiri dan akan bergantung pada produk asing. Padahal, dalam konteks SDM bangsa kita punya kekuatan yang cukup untuk membuat pesawat sendiri. Pengerjaan pesawat R80 saja 100% ditangani oleh anak negeri.


Intinya, pesawat R80 ini sudah dirancang sejak lama, sudah pula dipesan banyak perusahaan maskapai penerbangan dalam negeri dan sedang dalam proses pengerjaan. Kabarnya, pesawat ini akan terbang pertama kali pada 2021-2022 dan akan diproduksi massal hingga 2045. Setidaknya, sudah ada 4 perusahaan maskapai penerbangan tanah air yang memesan R80 sebanyak 155 unit. Kukira, dalam iklim politik dan ekonomi yang cenderung stabil, harapan kita untuk berhasilnya proyek kebangsaan ini sangat besar. Kita, rakyat biasa, harus mampu menjadi justifikasi bagi pihak PT. RAI untuk menghidupkan kembali semangat Habibie melalui R80, di mana ini bukan semata-mata mewujudkan mimpi Habibie seorang. Kukira, hal ini juga merupakan bagian dari upaya bersama menuju Indonesia Emas 2045.

***


Sesaat setelah mendengar kabar Habibie meninggal dunia, secara marathon aku membaca, menonton dan mendengar segala informasi tentang beliau. Selain sumber informasi tentang Habibie memang melimpah ruah, juga sangat menarik. Gara-gara itu pula, secara marathon aku membuat tiga tulisan khusus yang kudedikasikan untuk mengenang Habibie dan jasa-jasanya untuk Indonesia. Karena, well, aku fans berat beliau sejak kecil lho. 

Baca juga: Meneropong Indonesia Sepeninggal Habibie

Dan tentu saja aku berkhayal, bahwa pada suatu hari nanti ada sebuah film tentang  Habibie yang berjudul "Mr. Crack" besutan sineas Jerman dan Indonesia, atau sekalian Hollywood. Film itu akan menceritakan penemuan Teori Habibie dari sudut pandang orang Jerman yang pernah mempekerjakan Habibie di sebuah perusahaan pembuat pesawat terbang, sebelum kembali ke Indonesia. Kayaknya bakal seru banget tuh filmnya. 

Jakarta, 15 September 2019

Bahan Bacaan: 
https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20190913/Habibie,-Gatotkaca,-dan-Krincingwesi/
https://www.youtube.com/watch?v=Myo77HECKuI
https://www.youtube.com/watch?v=UROHGtWy8QU
https://kumparan.com/@kumparanbisnis/melihat-spesifikasi-pesawat-r80



No comments:

Post a Comment