Meneropong Indonesia Sepeninggal Habibie

Habibie


“Saya janji akan membuatkanmu sebuah pesawat terbang.”
(Kata Habibie kepada Ainun di atas pesawat yang membawa mereka ke Aarchen, Jerman)


Kemarin, pada 11 September 2019 pukul 18.05 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Habibie menghembuskan napas terakhirnya. Sontak, seisi bangsa berduka. Lini media sosial dipenuhi dengan ungkapan duka cita atas kepulangan beliau ke pangkuan Sang Pencipta. Pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama 3 hari, ditandai dengan pemasangan bendera setengah tiang. Sepasang mataku memanas, dan aku mulai menangis. Rasanya sedih sekali lelaki baik ini meninggalkan negeri ini di saat mimpi tertingginya bagi Indonesia belum tercapai. Di dunia ini, Habibie hanya satu orang. Habibie yang hanya satu orang ini, yang diteladani seisi bangsa dan dunia, telah pergi. 

Kemana pun arah angin membawa kaki melangkah, Habibie adalah nama besar yang dibicarakan dimana-mana. Lelaki ini identik dengan kecerdasan, ilmu pengetahuan, kemajuan, kebijaksanaan, kesetiaan dan pembelaannya pada agama Islam. Mungkin bisa juga Ia disebut sebagai rahmat bagi semesta alam, yang kedudukannya sedikit lebih rendah dari para Nabi dan Rasul. Kehadirannya di bumi sebagai manusia Indonesia seakan-akan pertanda bahwa Tuhan sedang memberikan bangsa ini sebuah pelajaran maha penting tentang bagaimana menjadi manusia ideal. Meski tidak ada manusia sempurna, namun siapa mampu menyangkal bahwa Habibie adalah gambaran sempurna seorang manusia. Ia cerdas, tangkas, pekerja keras, jujur, bijak, banyak karya, kaya raya, setia pada pasangan, dan memiliki keluarga bahagia lagi sukses. Karya-karyanya diakui secara internasional dan ia satu-satunya manusia Indonesia yang teorinya diakui dunia, Teori Habibie. 

Baca juga: Pesan Habibie untuk Anak-Cucu Intelektualnya

Selain itu, Habibie juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi selama 20 tahun dan menjadi Presiden di masa paling genting negeri ini, menggantikan Presiden Soeharto yang dipaksa mundur oleh rakyat pada 22 Mei 1998. Ia mewarisi negeri yang kacau balau, dengan kerusuhan dan disintegrasi di seantero wilayah Indonesia. Namun, dalam pemerintahannya yang singkat, Habibie berhasil meletakkan fondasi demokrasi negeri ini. 

Salah satu kebijakan yang paling penting dan bermakna pada masa pemerintahan Habibie adalah UU Otonomi Daerah. Penerapan UU Otda ini membuat disintegrasi bangsa bisa diredam pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Para pakar menyakini, jika UU Otda tidak lahir saat itu, mungkin nasib Indonesia tak akan jauh beda dengan Uni Soviet dan Yugoslavia yang tercerai berai. 

Kebijakan-kebijakan politik Habibie juga memberikan arah baru bagi kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul yang ditandai dengan pencabutan larangan pendirian serikat buruh independen. Sebagai politisi, Habibie bahkan bersikap bijak dengan tidak mencalonkan diri dalam Pemilihan Umum tahun 1999 karena laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR, khususnya terkait lepasnya Provinsi Timor-Timur pada 30 Agustus 1999. Sejumlah pihak menganggap inilah dosa besar Habibie pada Indonesia. Meskipun sebagian pihak menganggap keputusan Habibie tepat. 

SEBAGAI MR. CRACK DAN PUNYA 46 PATEN
Anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie (Sulawesi) dan R.A Tuti Marini Puspowardojo (Yogyakarta) ini memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Kecerdasannya telah dikenali orang-orang sejak ia kecil, guru-guru di sekolahnya, hingga kemudian guru-gurunya di Jerman. Kecerdasan Habibie membuatnya mampu menyelesaikan program Doktor di bidang aviasi pada tahun 1965 dengan predikat cumlaude alias sempurna. Usai kuliah pada 1965, Habibie bekerja pada perusahaan bernama Hamburger Flugzeugbau (HFB) sebuah pabrik pesawat terbang yang berlokasi di Hamburg, Jerman. Pada tahun 1969, HFB berubah nama menjadi Messerschmitt–Boelkow–Blohm (MBB) dan kemudian memberi Habibie proyek besar yaitu menyertakan Habibie dalam penciptaan Airbus A 3008, sebuah pesawat ambisius buatan konsorsium Uni Eropa untuk mengalahkan Boeing buatan Amerika. 

Dalam proses pembuatan Airbus 3008 inilah, Teori Habibie atau crack propagation theory lahir. Crack propagation theory atau teori perambatan keretakan merupakan model matematika untuk memprediksi perilaku perambatan retak pada struktur pesawat hingga tingkat atom. Teori ini penting karena sebelum Habibie merintis karier di dunia aviasi, banyak kecelakaan pesawat yang terjadi akibat kegagalan struktural. Kegagalan struktural pada pesawat terjadi karena pada era 1950-an dan 1960-an, industri aviasi tengah gencar-gencarnya membuat pesawat yang semakin besar sekaligus semakin cepat. Semakin besar dan semakin cepat pesawat, kemudian muncullah kegagalan struktur yang terjadi karena setiap bahan memiliki kapasitas tertentu dalam hal kelelahan material (material fatigue). 

Temuan Habibie yang disebut Crack propagation theory ini dapat digunakan untuk menghitung dan memprediksi titik retak, hingga sebuah materi dapat diperkuat dengan lebih presisi. Teori Habibie berjasa besar dalam dunia aviasi karena turut menyelamatkan penciptaan Boeing 747 yang disebut-sebut sebagai Ratu Angkasa.

Penemuan Habibie ini membuatnya mendapat julukan sebagai Mr. Crack dan mengantarkannya pada penemuan-penemuan lain hingga mengantongi 46 hak paten, yang memberinya keuntungan intelektual dan finansial. Karya Habibie juga diakui lembaga International seperti Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Pada tahun 1967 Habibie mendapatkan penghargaan sebagai Profesor kehormatan (guru besar) di ITB (Institute Teknologi Bandung) dan penghargaan Edward Warner Award dan Theodore Van Karman Award.
Gambaran mengenai Teori Crack-Habibie


Pada 1973, Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina untuk menjemput Habibie pulang ke Indonesia. Habibie pun pulang dan pada 1976 ia ditunjuk memimpin Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (LIPNUR) yang kemudian namanya berubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan pada tahun 2000 namanya kembali berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia. Kemudian pada Maret 1978, Presiden Soeharto menunjuk Habibie menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi hingga tahun 1998. 

Bangsa Indonesia tentu masih ingat bahwa pada 1995, pesawat primadona buatan Habibie untuk Indonesia mengudara untuk pertama kalinya. Pesawat produk IPTN tersebut bernama N250 (Gatotkaca) yang merupakan pesawat turbo pertama yang menggunakan teknologi fly by wire. Sayangnya, rencana pengembangan pesawat komersial buatan anak negeri ini mandeg gara-gara krisis moneter pada 1997 yang melanda kawasan Asia dan diperparah dengan pecahnya Reformasi pada 1998. Kemandegan ini tentu membuat Habibie sedih, terutama ketika ia pernah berjanji pada  orangtuanya dan Ainun akan membuat pesawat untuk Indonesia.

ANAK EMAS ORDE BARU JADI BAPAK DEMOKRASI

Kepulangan Habibie ke Indonesia atas perintah Presiden Soeharto pada 1974 tentu menjadi pintu bagi terwujudnya mimpi-mimpi Mr. Crack. Sosoknya yang dikenal intelek, egosentris dan 'agak sombong' pada masa mudanya tersebut menjadi anak emas Orde Baru. Sejarah mencatat, bahwa Habibie pernah memegang banyak sekali jabatan penting dalam periode yang sama, seakan-akan manusia cerdas di tanah air ini hanya Habibie seorang. Dalam kegelapan politik ala Orde Baru, sekaligus kekuasaannya yang jumawa kala itu, Habibie tumbuh dan berkembang, layaknya Putra Mahkota. 

Usut punya usut, ternyata Soeharto telah mengenal Habibie sejak ia masih kecil. Rumah keluarga Habibie terletak tak jauh dari lokasi Soeharto bertugas saat masih menjabat sebagai Letnan Kolonel. Rumah keluarga Habibie dan markas Brigade Mataram tempat Soeharto bertugas hanya dipisahkan oleh jalan. Saat Ayah Habibie meninggal, Soeharto pula yang menutup kedua matanya. Mungkin, sejak saat itu pula Soeharto memperhatikan perkembangan Habibie, termasuk kejeniusannya. Sehingga keputusan Soeharto memanggil pulang Habibie dan menjadikannya sebagai masa depan Indonesia bukanlah keputusan tiba-tiba. Soeharto telah merencanakan segala sesuatunya. 

Saat kuliah di Jerman anak keempat dari delapan bersaudara yang telah menjadi yatim pada usia 14 tahun ini bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya. Bukan apa-apa, biaya hidup di Eropa sangat mahal, sementara Ibunya tak setiap waktu bisa mengirimkan uang karena banyaknya tanggungan. Habibie muda seringkali harus menahan lapar karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Ia juga seringkali hanya makan sebuah roti keras dengan segelas susu hangat atau sebuah apel untuk makan siang. Bahkan di tahun-tahun awal pernikahannya dengan Ainun, mereka hidup sangat irit. Ainun harus berhemat dengan ketat sampai-sampai tak mampu membelikan sepatu baru bagi Habibie yang sudah bolong. Mereka pun tak punya anggaran untuk membeli pakaian dan Ainun harus menjahit sendiri pakaian untuk mereka berdua. Hidup sebagai mahasiswa program doktoral tanpa pekerjaan membuat Habibie tidak memiliki penghasilan memadai. 

Kehidupan Habibie mulai membaik saat ia mulai berkarir di perusahaan bernama Hamburger Flugzeugbau (HFB) sebuah pabrik pesawat terbang yang berlokasi di Hamburg, Jerman. Pada tahun 1969, HFB berubah nama menjadi Messerschmitt–Boelkow–Blohm (MBB) dan kemudian memberi Habibie proyek besar yaitu menyertakan Habibie dalam penciptaan Airbus A 3008, sebuah pesawat ambisius buatan konsorsium Uni Eropa untuk mengalahkan Boeing buatan Amerika. Karir Habibie yang sedang naik daun di Eropa tidak membuatnya lupa pada mimpi besarnya untuk membangun Indonesia melalui industri pesawat terbang dan industri lainnya. Sehingga panggilan pulang dari Presiden Soeharto untuk berkarya di tanah air tidak disia-siakan Habibie. Kekecewaan orang Jerman karena kehilangan Habibie dari sisi mereka adalah kebanggaan lain bagi Indonesia, yang telah berhasil membawa pulang salah satu putra terbaiknya. 

Saat kembali ke Indonesia pada 1974, sesungguhnya Habibie masih menjabat sebagai Wakil Presiden/Direktur Teknologi Messerschmidt Boelkow Blohm (MBB), Hamburg, Jerman Barat. Di Indonesia, Habibie langsung didapuk sebagai Penasehat Direktur Utama Pertamina (1974-1978), kemudian menjabat Direktur Utama PT. IPTN (1976), Direktur Utama PT. PAL (1978) serta jabatan-jabatan lain di berbagai institusi. Habibie kemudian menjadi Menteri Riset dan Teknologi selama 20 tahun (1978-1998), Wakil Presiden (1998) dan Presiden (1998-1999). Setelah tidak lagi berkecimpung dalam politik, Habibie sempat kembali ke Jerman dan kemudian menetap di Indonesia setelah kematian Ainun pada 2010. Habibie menjadi penasehat presiden sejak era SBY hingga Jokowi. Pada 2015, Habibie mendirikan PT. RAI bersama Ilham Habibie. 
Warisan Habibie bagi demokrasi di Indonesia

Diantara banyak sumbangsih Habibie pada bangsa ini, khususnya di bidang teknologi dan kedirgantaraan. Banyak pihak menyatakan bahwa ketangguhan Habibie sebagai politisi terbukti saat menjabat sebagai Presiden di masa paling genting negeri ini. Kala itu, Habibie baru saja menjabat sebagai Wakil Presiden selama 2 bulan saat Presiden Soeharto dipaksa mundur oleh rakyat karena telah terlampau lama berkuasa. Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden sesuai amanat konstitusi dan membuktikan bahwa sebagai anak emas Orde Baru yang dianggap menikmati privilege dalam dunia Soeharto, ternyata Habibie mampu membuktikan kebijaksanannya sebagai politisi di saat krisis menggila. 

Kekuasaan Orde Baru bukanlah kekuasaan yang mulus, melainkan diperoleh melalui jalan darah setelah melucuti kekuasaan Soekarno dan loyalisnya. Tiga puluh dua tahun lamanya Indonesia hidup dalam politik yang gelap di mana kebebasan bersuara, berserikat dan berkumpul sangat dibatasi. Banyak sekali aktivis dan jurnalis yang kritis menentang sejumlah kebijakan Soeharto harus mendekam di penjara dan menjadi tahanan politik. Nah, pada masa Habibie para tahanan politik ini dibebaskan, karena Habibie beranggapan bahwa penjara adalah tempat bagi kriminal sementara tahanan politik bukanlah kriminal. Langkah ini tentu saja serupa pengkhianatan pada Soeharto yang telah membesarkannnya sebagai anak emas Orde Baru. Terlebih, Habibie menjabat sebagai Presiden saat Soeharto dikalahkan rakyat yang mengamuk bagai badai setelah 32 tahun terpaksa bungkam. Peristiwa ini tentu sangat menyakitkan bagi Soeharto. 

Di masa pemerintahannya yang singkat, Habibie berhasil meletakkan dasar kehidupan berdemokrasi yang mengubah wajah Indonesia. Dengan cara ini pula, gurita keluarga Cendana kehilangan jalan untuk kembali berkuasa. Iklim politik di negeri ini mulai membaik dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memegang jabatan penting di negeri ini; kegiatan diskusi menjamur; organisasi buruh independen bebas berdiri, bersuara dan memperjuangkan hak mereka; keterlibatan perempuan dalam politik mulai mendapat tempat; pemerataan pembangunan dari Sabang sampai Merauke mulai dijalankan; dan kehidupan sipil menjadi jauh lebih aman dengan dihapuskannya dwifungsi ABRI.  

WARISAN LAIN HABIBIE: THE HABIBIE CENTER DAN KOMNAS PEREMPUAN
Habibie punya banyak sekali warisan bagi bangsa ini. Selain kebijakan-kebijakannya selama menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998), Wakil Presiden (1998) dan Presiden (1998-1999), serta berbagai industri termasuk pesawat terbang yang kini dikembangkan Ilham Habibie. Dalam hal demokrasi Habibie mewariskan kita semua sebuah rumah belajar bernama The Habibie Center. Lembaga ini didirikan tahun 1998 sebagai salah satu upaya memajukan modernitas dan demokrasi di Indonesia. Kegiatan-kegiatan The Habibie Center berfokus pada 3 tema yaitu perdamaian dan pembangunan, politik dan pemerintahan, serta program studi ASEAN. Secara berkala, the Habibie Center juga memberikan Habibie Award perseorangan atau institusi yang memiliki jasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan, keadilan dan perdamaian. Informasi tentang The Habibie Center bisa dibaca DISINI

Jika The Habibie Center sangat lekat dengan Habibie dan keluarganya, termasuk keterlibatan Ilham Habibie didalamnya. Namun, ternyata Habibie adalah sosok dibalik berdirinya Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Penghormatan dan pembelaan Habibie pada perempuan tentu tak diragukan lagi, karena siapapun yang mengenalnya paham bagaimana cinta dan penghormatan Habibie pada dua perempuan paling penting dalam hidupnya, yaitu Ibunya (R.A Tuti Marini Puspowardojo) dan istrinya (Ainun). Pada 1998 pula Habibie meneken Kepres No. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, sebagai dasar hukum pendirian Komnas Perempuan. Nah, Komnas Perempuan ini merupakan satu dari tiga lembaga HAM nasional selain Komnas HAM dan KPAI. Pendirian Komnas Perempuan salah satunya berakar dari fakta lapangan terjadinya kekerasan seksual pada etnis Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998 di berbagai daerah di Indonesia. 

PESAWAT R80: MIMPI HABIBIE BAGI INDONESIA
Ambisi dan mimpi Habibie untuk membuat pesawat tidak pernah padam. Pada 2012, Habibie mendirikan PT. Regio Aviasi Industri (RAI) bersama Ilham Habibie. Produk utama PT. RAI yang masih dalam tahap pengembangan adalah pesawat R80, jenis pesawat turbopob dengan kapasitas 80 penumpang. Pengembangan pesawat R80 ini masuk ke dalam l (PSN) sesuai dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 tentang Proyek Strategis Nasional dalam kategori Program Industri Pesawat Terbang (Aircraft Industry Program)



Pengembangan pesawat R80 memerlukan dana sekitar USD 1.5 miliar (RP. 200 Milyar) sementara kebutuhan dana untuk pengembangan usaha adalah USD 1.6 Billion alias Rp. 20 Triliun dan pendanaan ini 55%nya diperoleh dari pendanaan dalam negeri melalui crowdfunding atau pendanaan publik, serta pendanaan dengan skema lain yang diupayakan BAPPENAS maupun investasi (dalam negeri dan asing). 
Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan saat mengunjungi stan pameran National Innovation Forum 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang

Nah, pendanaan publik melalui crowdfunding sendiri sebenarnya sama sekali tidak memiliki skema investasi, melainkan upaya gotong royong bangsa dalam kebangkitan industri pesawat tanah air. Turun tangan publik ini seperti mengulang semangat rakyat Aceh yang urunan membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah, pesawat pertama Indonesia. Pada 1948 Soekarno berhasil membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk membeli pesawat angkut pertama Rebuplik. Iuran mereka kala itu setara dengan harga 20 kg emas. Jika dulu orang Aceh iuran untuk membeli pesawat Asing untuk Indonesia, maka kini seluruh warga negara Indonesia urunan untuk membuat pesawat buatan anak negeri melalui PT. RAI. Sungguh pencapaian bangsa yang sangat membanggakan, bukan? 
Mimpi Habibie untuk Indonesia. Pertama mengudara pada 2025

Per 12 September 2019, iuran publik untuk pembuatan pesawat R80 melalui situs kitabisa.com sudah mencapai Rp. 9.262.172.897 (sembilan milyar sekian....) alias USD 1 juta dari sekitar 25.000 orang donatur. Jumlah ini memang masih sangat jauh dari kebutuhan sebenarnya yaitu Rp. 200 miliar. Semoga saja, investasi dari berbagai pihak bisa memberikan kepastian pendanaan pesawat R80. Semangat ini merupakan penanda zaman, di mana Indonesia memasuki era yang pernah diupayakan Presiden Soeharto dan Habibie. Kita akan sangat bangga jika putra bangsa mampu memproduksi pesawat sendiri dan pesawat buatan anak negeri itu mengangkasa di langit Indonesia. 

NASIB R80 SEPENINGGAL HABIBIE
Pernah nggak Pembaca membayangkan, di tahun 2024 atau 2025 nanti pesawat R80 terbang di langit Indonesia? Pernah tidak membayangkan jika kita menjadi penumpangnya yang pertama? Kalau aku sih bakal nangis bombay. Aku membayangkan tahun 2025 nanti aku sudah menikah dan memiliki balita, dan akan kutunjukkan kepada anakku pesawat itu sebagai karya tercanggih Indonesia modern yang mimpinya dibangun saat Habibie masih kecil di pare-pare, Sulawesi. 

Bagaimanapun juga, sebuah negara berkembang yang sedang tertatih-tatih menjadi negara maju punya pesawat sendiri itu sebuah pencapaian luar biasa. Dilihat dari kecangggihan teknologi dan mahalnya biaya pembuatan pesawat ini membuktikan bahwa bangsa kita memang harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa menduduki posisi sebagai negara maju, dan memiliki dana cukup untuk memproduksi pesawat terbang sendiri. Lantas, kita akan sama-sama berteriak gembira bahwa inilah Pesawat Habibie dan secara bersama-sama akan berterima kasih pada Habibie atas jasanya bagi bangsa Indonesia. Kita akan bergantian memeluk Habibie karena mencintainya. 

Baca juga: Cinta Sejati Habibie dan Ainun

Sayangnya, dalam upaya mengembangkan pesawat R80, Habibie meninggal dunia. Kegembiraan kita pada tahun 2025 nanti tidak akan disaksikan Habibie. Lelaki mungil bermata jenaka dari Sulawesi itu bahkan tidak akan duduk di kokpit pesawat impiannya. Meski demikian, semangat Habibie akan menyala di hati setiap anak negeri. Para insinyur di PT. RAI akan terus bekerja mewujudkan mimpi bangsa ini, dan rakyat akan terus iuran untuk mendanai pengembangan pesawat R80. Kita percaya, pesawat buatan Indonesia akan mengudara dengan perkasa!
Selamat bertemu Sang Pencipta dan kekasih sejatimu, Ibu Ainun

Kematian sejatinya bukan kehilangan dan ketiadaan. Kematian adalah sebuah fase perjalanan hidup manusia dari kehidupan di bumi menuju dimensi lain. Melalui kematian, Habibie dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Sepeninggal Habibie, dengan izin Allah kelak pada 2025 pesawat R80 akan mengudara di langit Indonesia. Bismillah...


***

Demikianlah tulisan panjang tentang Habibie sang Mr. Crack kebanggaan Indonesia. Aku percaya bahwa kita semua mencintai, mengagumi dan meneladani Habibie. Meski sempat merasa bahwa berita kematian Habibie sebagai hoaks, akhirnya aku bisa menerimanya meski harus menangis di pojokan kamar. Kepergian orang-orang baik dari negeri ini memang seringkali menciptakan kekosongan sesaat di dalam hati, seakan-akan mereka bagian dari darah dan daging kita sendiri. Saat tulisan ini sampai di bagian ini, aku baru menyaksikan kartun tentang Habibie yang dibuat tim MD Animation (MD Enternainment). Meski raganya telah kembali ke haribaan ibu pertiwi, semangat Habibie akan terus hidup bersama bangsa Indonesia dan pesawat R80 akan benar-benar mengudara di langit dunia. Selamat jalan Mr. Crack....

Jakarta, 13 September 2019


Bahan Bacaan: 
https://tirto.id/bj-habibie-ia-yang-hidup-di-antara-cinta-dan-ambisi-teknologi-ehVF
https://id.wikipedia.org/wiki/B._J._Habibie
https://www.idntimes.com/news/indonesia/dwi-agustiar/5-hal-tentang-bj-habibie-yang-layak-kamu-kenang/full
https://tirto.id/bagaimana-bj-habibie-dan-teori-crack-selamatkan-industri-dirgantara-ehWT
https://en.wikipedia.org/wiki/Hamburger_Flugzeugbau
https://en.wikipedia.org/wiki/Boeing_747
https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sutowo
https://id.wikipedia.org/wiki/N-250
https://regio-aviasi.co.id/
https://kitabisa.com/campaign/pesawatr80
https://inet.detik.com/cyberlife/d-4703198/netizen-kian-semangat-wujudkan-pesawat-r80-impian-bj-habibie
https://katadata.co.id/berita/2019/09/12/ini-pesawat-karya-bj-habibie-mr-crack-dunia-penerbangan
https://kppip.go.id/en/national-strategic-projects/
https://historia.id/politik/articles/menelusuri-leluhur-bj-habibie-vx2Mo
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190912132112-20-429889/buah-pikiran-habibie-soal-demokrasi-di-habibie-center
https://tirto.id/bj-habibie-presiden-peralihan-peletak-dasar-demokrasi-indonesia-ehVD
https://www.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/10-potret-sepak-terjang-habibie-mengenang-bapak-demokrasi-indonesia
https://tekno.tempo.co/read/1246854/5-warisan-bj-habibie-dari-bppt-gatotkaca-sampai-teori-crack
https://id.wikipedia.org/wiki/Anugerah_Habibie
https://www.youtube.com/watch?v=OrvUJoz_-IQ
https://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Nasional_Anti_Kekerasan_terhadap_Perempuan
https://tirto.id/mengenang-habibie-mengenang-pembela-perempuan-ehYr
https://www.femina.co.id/Trending-Topic/warisan-bj-habibie-bagi-wanita-indonesia



1 comment:

  1. Pemaparan dan pendapat yang hebat. Semoga tulisan anda jadi sumbang asih bagi pembaca

    ReplyDelete