Menagih Janji DPR RI untuk Mengesahkan RUU PKS Secepatnya

Menuntut DPR segera mensahkan RUU PKS menjadi undang-undang. Sumber: instagram @jaringanmuda

Sejak tanggal 17 September 2019 secara serempak  di seluruh Indonesia dilakukan aksi turun ke jalan untuk mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual oleh DPR RI. Draft awal RUU PKS sudah dibahas di DPR sejak 2014 dan sejak 2016 bolak-balik masuk Prolegnas. Tapi, sampai September 2019 belum juga disahkan menjadi undang-undang. Pembahasan yang terlampau alot ini seakan-akan menunjukkan bahwa wakil rakyat di DPR nggak punya itikad baik dan niat serius membuat payung hukum pagi perlindungan warga negara dari kekerasan seksual. 

Padahal, sepanjang tahun 2014-2018 terdapat lebih dari 20.000 korban kekerasan seksual. Sejumlah kasus bahkan sangat sadis dan mengerikan. Apa angka tersebut kurang wah bagi anggota DPR untuk mengesahkan kebijakan tersebut sehingga bisa segera disusul oleh kebijakan lain yang lebih strategis dalam pelaksanaan UU PKS?  







Nah, jika pembaca mengalami kekerasan seksual atau melihat kasus kekerasan seksual, silakan kontak nomor didalam gambar di bawah. Sembari menunggu DPR mengesahkan RUU PKS ini, sebagai warga negara yang bertanggung jawab kita harus senantiasa membantu korban kekerasan seksual mendapatkan pertolongan, perlindungan hukum dan keadilan. Kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Selain waspada dengan menjaga diri dalam pergaulan sehari-hari, kita juga harus kritis dan meminta hak kita sebagai warga negara terkait perlindungan hukum. 

Aku memang tidak ikut turun ke jalan dalam aksi ini, meskipun diadakan di depan gedung DPR RI di Senayan, Jakarta, sebab ku sedang sakit. Namun, aku mengikuti perkembangan dan memberikan sumbangsihku yang lain. Sebagai penyintas kekerasan seksual (meski bukan korban pemerkosaan) aku tahu aku harus menjadi bagian yang menyuarakan hak seluruh warga negara Indonesia untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan seksual. Tulisan-tulisanku yang bertema kekerasan seksual bisa dibaca dalam blog ini. 

Jakarta, 18 September 2019


No comments:

Post a Comment