Ketika Pelajar dan Mahasiswa Melawan Kebijakan Kontroversial

Mahasiswa melawan "Abuse of Power" negara melalui sejumlah kebijakan kontroversial. Sumber: Instagram @deanrsyah.e


"Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. 
Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.
-Soe Hok Gie-

Nampaknya, September 2019 menjadi momen kebangkitan perlawanan kaum muda setelah Reformasi 1998. Awalnya dimulai dari gerakan-gerakan kecil, diskusi-diskusi ringan di ruang-ruang kelas, seminar-seminar dan forum-forum ilmiah, juga perlawanan di dunia digital melalui meme, ilustrasi, foto dan video. Kaum muda yang disebut juga sebagai generasi Z alias si millenials yang selama ini dianggap konsumtif, apatis, dan suka hura-hura ini ternyata memiliki perhatian besar pada permasalahan bangsa. Ya, secara serentak mereka turun ke jalan, mengepung kantor dewan yang terhormat. 

Sebenarnya, mahasiswa secara berkala turun ke jalan, menyuarakan aspirasi mengenai kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Banyak sekali kebijakan kontroversial yang pemerintah keluarkan yang mengancam nasib warga negara yang powerless. Sepanjang tahun 2019, mahasiswa bersama masyarakat bolak-balik turun ke jalan entah untuk isu agraria, pendidikan, lingkungan, hingga aksi bertajuk 212 yang sangat politis sekaligus fenomenal itu. 

#FridayClimateStrike | 20 September
Di seluruh dunia, September adalah bulan perlawanan terhadap isu perubahan iklim yang diinisiasi remaja perempuan asal Swedia bernama Greta Thunberg pada Agustus 2018. Pada 20 September 2019 secara serentak, para pelajar di 163 negara, termasuk Indonesia melakukan long march menuju pusat-pusat pemerintahan demi menyuarakan isu darurat iklim. 

Baca Juga: Bersama Greta Thunberg Tantang Pemimpin Dunia Tangani Krisis Iklim

Di Indonesia, aksi ini dilakukan serentak di Jakarta dan 18 kota yaitu Banda Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu dan Kupang. Aksi serentak ini menuntut pemerintah Indonesia melakukan 2 hal, yaitu: 1) agar pemerintah mendengarkan para ilmuwan dan menyatakan darurat iklim; dan 2) pemerintah meningkatkan ambisi penurunan emisi gas rumah kaca semaksimal mungkin, serta melakukannya dengan tegas, konsisten dan segera.  Aksi para pelajar dan mahasiswa ini didukung oleh sejumlah lembaga yang selama ini memang fokus bergerak dalam isu lingkungan dan kemanusiaan seperti Greenpeace, UNICEF, Amnesty International dan puluhan lembaga lain. 
Ribuan orang melakukan long march menuju Balai Kota, Taman Aspirasi dan Istana Negara pada 20 September 2019  sebagai bagian dari gerakan #FridayForFuture dan SchoolStrikeForClimate yang juga dilakukan di 162 negara. Sumber: kompas.com

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan internasional #FridayForFuture dan #SchoolStrikeForClimate yang telah berlangsung sejak 8 September 2018 di sejumlah negara di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Anak muda, seperti pelajar dan mahasiswa merupakan generasi masa depan yang akan mengambil alih kepemimpinan dunia. Namun, bagaimana mungkin mereka akan menjadi pemimpin bagi warga dunia jika tempat hidup mereka saat ini sudah terasa tidak aman, penuh polusi, penuh bencana akibat krisis iklim dan seperti berada dalam harapan palsu. Orang tua, sebagaimana politisi dan pemerintah selalu menekankan agar pelajar dan mahasiswa melakukan tugas mereka belajar, agar kelak bisa mengambil alih pekerjaan berat di masa depan. Sayangnya, bagaimana bisa kita membicarakan masa depan yang sejahtera dan aman sementara saat ini bernafas susah karena polusi, air bersih sulit diperoleh karena pencemaran lingkungan yang akut dan banyak harapan palsu lainnya yang membuat kaum muda marah. 

#MahasiswaBergerak | 23-24 September 2019
Poster-poster undangan aksi di sejumlah wilayah Indonesia bertebaran di media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Undangan itu secara umum berisi kabar bahwa Aliansi Mahasiswa Indonesia secara serempak dari Sabang sampai Merauke, akan melakukan aksi di depan gedung DPR RI dan DPRD setiap kota. Termasuk juga himbauan untuk mengosongkan ruang kelas dan kampus di hari yang ditentukan, karena sudah waktunya mahasiswa melakukan 'tugas lapangan' sebagai penjaga amanat Reformasi 1998. 

Himbauan ini diamini sekaligus ditolak. Sejumlah kampus, termasuk para dosen mengizinkan mahasiswa mereka melakukan aksi. Sementara kampus lainnya justru mengeluarkan maklumat yang menyatakan bahwa agar mahasiswanya tidak ikut turun ke jalan mengingat aksi tersebut berkemungkinan besar ditunggangi pihak-pihak yang hendak menggulingkan Presiden Jokowi sebelum dilantik pada periode kedua pemerintahannya. Bahkan, sejumlah tokoh nyinyir dan menganggap bahwa aksi mahasiswa ini percuma. Ah, rupanya mereka lupa bahwa apa yang dialami Indonesia hari ini juga hasil mereka turun ke jalan pada Reformasi 1998, sebuah aksi massa yang parah. 
Ketika kebijakan kontroversial negara mencekik rakyatnya sendiri. Sumber: Instagram @risathebi

Pada 23 September, pusat gerakan ada di Jl. Gejayan, Yogyakarta di mana mahasiswa dan masyarakat digerakkan oleh tagar #GejayanMemanggil yang menjadi pengingat apa yang terjadi pada 1998 di lokasi yang sama. Banyak sekali pendapat nyinyir tentang #GejayanMemanggil ini, seakan-akan mereka yang akan turun ke jalan sebagai kelompok mahasiswa bego yang ditunggangi penumpang gelap yang hendak mengacau pemerintahan yang sah. Padahal sebenarnya, aksi ini didukung penuh oleh masyarakat luas karena sejumlah kebijakan kontroversial yang hendak disahkan DPR memang membuat rakyat merasa dikebiri, mulai dari urusan ranjang hingga ayam peliharaan. 
Mahasiswa melawan "Abuse of Power" negara melalui sejumlah kebijakan kontroversial. Sumber: Instagram @deanrsyah.e
Mahasiswa melawan "Abuse of Power" negara melalui sejumlah kebijakan kontroversial. Sumber: Instagram @deanrsyah.e

Pada 24 September, aksi serentak mahasiswa memberikan kejutan bukan saja pada Indonesia, juga pada dunia. Semua dibuat berdecak kagum oleh semangat perlawanan sekaligus cara menyampaikan aspirasi yang renyah, lucu, menggemaskan sekaligus keras. Di setiap titik kumpul yang telah ditentukan, para mahasiswa dari berbagai kampus melakukan aksi dengan tertib dan damai. Tagar #MahasiswaBergerak menjadi trending dan mereka mendapat dukungan dari masyarakat luas. Bahkan, dana yang digunakan untuk mendukung kelancaran aksi ini dikumpulkan melalui sistem patungan. Jika #GejayanMemanggil menggunakan aplikasi OVO untuk mengumpulkan dana, maka aksi #SenayanMemanggil menggunakan aplikasi kitabisa.com yang sudah teruji. 

Aksi besar-besaran mahasiswa yang mendapat dukungan publik secara luas ini mematahkan prasangka sejumlah pihak, termasuk akademisi bahwa mereka ditunggangi pihak-pihak yang hendak melakukan makar pada pemerintah. Kujamin deh, kampus-kampus dan para akademisi yang mengeluarkan surat edaran yang melarang mahasiswanya ikut aksi akan menyesal dan merasa malu. Bagaimana pun juga, di era digital ini kita bisa dengan mudah membaca siapa dibalik siapa dalam sebuah gerakan massa dan informasinya dapat diakses secara terbuka, kapan saja dan dari mana saja. 

#STMMelawan | 25 September 
Hal yang unik dari gerakan #MahasiswaBergerak ini mengundang partisipasi pelajar untuk ikut serta. Alasannya mereka ingin memberi dukungan pada para mahasiswa. Meski secara keilmuwan mereka nggak paham secara menyeluruh mengenai kebijakan kontroversial yang tengah digugat mahasiswa, namun mereka memiliki pemahaman sederhana bahwa mereka ingin ambil bagian dalam melawan pemerintah yang membuat kebijakan aneh. 

Pelajar STM melalui yang berkoordinasi melalui tagar #STMMelawan menarik perhatian dunia dan gerakan mereka menjadi trending. Terutama ketika di lapangan aksi-aksi berani mereka mengundang decak kagum. Misalnya, ketika para mahasiswa menggunakan bis sebagai saran transportasi dari kampus masing-masing ke Senayan, pelajar STM ini malah menumpang truk, hingga mobil angkutan kendaraan yang super panjang itu.  Para pelajar yang berkoordinasi melalui media sosial dan tidak mendapat izin melakukan aksi dari pihak berwenang, memang akhirnya diamankan polisi. Bagaimanapun juga, mereka dianggap belum cukup umur untuk turun ke jalan sebagaimana mahasiswa (hahahaha). 
Anak STM mengguncang dunia!

Orang-orang juga mencari celah yang menyudutkan mereka atas ketidakpahaman akan isu yang digaungkan terkait sejumlah RUU Kontroversial. Ya wajar lah namanya juga anak STM, memangnya di sekolah mereka belajar kebijakan? Justru yang menarik adalah pengakuan mereka yang belajar otodidak dan tentu saja dari informasi yang berseliweran di media sosial. Rupanya, meski pemahaman mereka nggak mumpuni, mereka hendak menunjukkan kepada pemerintah dan dunia bahwa para pelajar Indonesia peduli dengan urusan bangsa dan pemerintahan. Seharusnya, keterlibatan para pelajar dalam aksi massa ini memberi kita kesadaran bahwa ternyata generasi muda Indonesia saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Dengan bantuan teknologi, para pelajar lebih mudah dan merdeka dalam mengakses informasi, sehingga nggak melulu dicekoki informasi sepihak dari generasi tua. 

Bahasa Perlawanan Generasi Z
Generasi tua adalah mereka yang telah duduk manis di zona nyaman, dengan jabatan mentereng di pemerintahan dan partai, kekayaan melimpah dan kekuasaan yang seakan-akan abadi. Sebagian dari mereka adalah aktivis mahasiswa yang pada Reformasi 1998 merupakan tokoh-tokoh kunci tubangnya kekuasaan rezim Orde Baru yang mengerikan. Mereka yang menggaungkan "Mosi Tidak Percaya" kepada DPR dan MPR kala itu. Meski 20 tahun kemudian, merekalah yang diberi "Mosi Tidak Percaya" oleh generasi yang lahir pada 1998. Benar kata orang bijak, kejahatan tidak pernah berubah, hanya berganti wajah. Uang, kekuasaan dan jabatan terbukti melenakan para Pahlawan Reformasi 1998. 

Jarak 20 tahun antara Reformasi 1998 dan September 2019 bukan saja memberikan sudut pandang yang berbeda jauh dalam konteks isu yang diperjuangkan. Melainkan juga mengenai cara-cara menyampaikan aspirasi. Terlebih, aksi massa di zaman ini dengan mudah dikoordinasikan dan dipantau melalui media sosial, terutama Twitter. Para mahasiswa dan pelajar nggak peduli meski mereka sejumlah pihak menganggap upaya mereka nggak serta merta akan membuat DPR takluk. Yang mereka ingin tunjukkan justru kehendak warga negara, khususnya kaum muda, untuk ikut serta memberi aspirasi terkait sejumlah kebijakan kontroversial. Bagaimanapun juga, kaum muda bisa mencium bahwa kebijakan-kebijakan tersebut akan mengancam kehidupan mereka mulai dari ranah privat, ranah publik hingga kemerdekaan berpikir. 
Asyik! Tuhan bersama mahasiswa yang turun ke jalan. Sumber: Instagram @firasnabilah
Asyik! Tuhan bersama mahasiswa yang turun ke jalan. Sumber: Instagram @firasnabilah
Oh, ternyata KPK juga lemah ya. Sumber: Instagram @puspahapsary

Secara pribadi, aku salut lah dengan upaya para mahasiswa dan pelajar dalam aksi kali ini. Sebagai mantan demonstran, bisa melihat mereka berusaha keras membuat aksi berjalan damai dan tanpa kekerasan. Kalau mereka digebuk polisi, ya mereka memang wajib melawan, masa diam saja saat dibuat bonyok. Selain itu, poster-poster yang mereka bawa dalam menyuarakan aspirasi juga cenderung lucu, renyah dan menghibur. Intinya: para kaum muda terpelajar ini meski males banget berpanas-panasan, mereka ikhlas turun ke jalan karena melihat kondisi darurat. Mereka mengkritik pemerintah untuk membuat kebijakan yang benar-benar pro rakyat, bukan mengebiri kehidupan rakyat mulai dari urusan ranjang, ayam peliharaan, jam malam hingga urusan ketetanggaan. Terakhir, kaum muda ini ingin agar DPR sebagai lembaga legilatif transparan dalam urusan membuat atau merevisi sebuah kebijakan, bukan main kucing-kucingan. 

Aksi lanjutan: 26 September 2019 dan aku siap memantau dibalik layar dan keyboard. 

Demikian tulisanku kali ini. Semoga menjadi bagian dari sejarah tanah air dalam memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada keadilan, kemanusiaan dan kepentingan rakyat. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita dan generasi mendatang. 

Jakarta, 25 September 2019

Bahan Bacaan: 
https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/3778/aksi-climate-strike-alarm-untuk-atasi-krisis-iklim/
https://waranimedia.com/anak-stm-ungguli-tagar-diperkosa-negara/


1 comment:

  1. Turunnya para mahasiswa hingga anak STM ke jalan bener2 bikin merinding.. Salut juga sama mereka semua.. Sy yakin banyak masyarakat menitipkan harap meski tak semua ikut bersuara.. Salam kenal :)

    ReplyDelete