Jika Menjadi Korban Pemerkosaan, Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Melawan penindasan selalu punya banyak cara


Tulisan kali ini dimulai dari pertanyaan dalam judul: 
"Jika menjadi korban pemerkosaan, apa yang akan kamu lakukan?" 

Opsi jawaban: 
1. Diam dan menyimpan rapat-rapat aib ini untuk diri sendiri
2. Melaporkan pada pihak berwenang
3. Menikah dengan si pemerkosa
4. Bunuh diri daripada menanggung malu
5. Membunuh si pemerkosa

Nah, opsi jawaban mana yang akan kamu pilih? 

Oke, sebenarnya ini merupakan kegelisahanku setelah mengalami banyak diskusi dan debat dengan sejumlah orang yang menolak pengesahan RUU PKS. Biasanya, yang banyak menentangku debat bodoh adalah simpatisan sebuah partai yang sangat kencang menolak pengesahan RUU PKS. Aku tuh kesal aja, sebagai manusia secara pribadi yang bisa jadi mengalami musibah sebagai korban kekerasan seksual, mengapa dalam proses berpikir pun harus manut pada sebuah partai? Mengapa setiap orang tidak mulai berpikir sebagai dirinya sendiri yang membutuhkan rasa aman hidup di negara ini? Tanpa menjadi simpatisan sebuah partai, kita nggak akan kehilangan diri kita sebagai manusia kok. 

Kalau misalnya diskusi dengan masyarakat biasa yang nggak mengenyam pendidikan dan memiliki kesulitan mengakses informasi, aku bisa maklum dengan sikap penolakan mereka tanpa proses membaca. Namun, kalau yang melakukannya adalah orang terpelajar (bahkan lulusan S2) dan punya akses kepada informasi, ya namanya kebangetan. Yang salah bukan siapa-siapa, melainkan dirinya sendiri yang membiarkan kebodohan menggelayutinya. Aku terang-terangan mengatakan demikian karena sangat tidak masuk akal seorang berpendidikan ikut-ikutan mendukung atau menolak suatu kebijakan tanpa disertai proses membaca sumber informasi yang sangat mudah diakses. Ini zaman digital. Informasi bisa diakses kurang dari 5 menit. Bahan bacaan mengenai kebijakan-kebijakan yang sedang dibahas di DPR RI berserakan di berbagai website dan bisa diunduh secara gratis! Masa gitu doang nggak ngerti dan harus aku bego-begoin dulu biar sadar hehehe. 
Data yang mengerikan ini masih nggak bikin sadar juga? 

Oke, bayangkan begini kasusnya: kamu sedang berhadapan dengan orang yang berniat memerkosa kamu, dan kamu memilih berlari sekencang mungkin. Tapi akhirnya kamu ambruk dan si penjahat menyeretmu ke tempat sepi. Di sana dia menampar wajahmu berkali-kali. Kamu meronta-ronta hingga kehabisan tenaga. Lalu so penjahat merobek pakaianmu dan melakukan aksinya, memerkosamu. Kamu nggak bisa lagi melawan karena seluruh tubuhmu sudah lemah dan secara metal kamu udah down karena merasa terhina. Lalu kamu pingsan. Saat terbangun, si penjahat udah nggak ada dan kamu menghadapi kenyataan bahwa kamu udah jadi korban pemerkosaan. Kamu menangis, menjerit, memukul-mukul tubuhmu sendiri dan bingung harus melakukan apa. Ingat, kalau kamu perempuan subur, penetrasi paksa penis si penjahat ke vaginamu bisa menyebabkan kamu hamil. Seketika itu juga kamu menganggap hidupmu hancur. Mengerikan, bukan? 

Dengan tertatih dan sekujur tubuh merasa nyeri, kamu pulang ke rumah. Kamu mandi dan membersihkan diri. Keesokan harinya kamu memutuskan untuk melapor ke polisi dan mengatakan kamu telah diperkosa. Polisi yang melihat kamu dalam keadaan rapi tentu nggak akan percaya dan meminta bukti. Salah satunya visum dari dokter. Sayangnya, karena kamu diperkosa dalam keadaan tidak melakukan perlawanan, maka kemungkinan besar hasil visum menyatakan kamu enggak diperkosa, melainkan melakukan hubungan seksual suka sama suka. Kamu nggak punya bukti bahwa kamu diperkosa, lantas bagaimana kamu mencari keadilan? Dan beneran aja, sebulan kemudian kamu hamil. Daripada menanggung aib lanjutan hamil diluar nikah, kami memilih mengakhiri hidupmu. Pada akhirnya, siapa yang akan peduli padamu? 

Dari kasus ini, ada sejumlah pelajaran penting yang harus kamu ketahui yang biasanya menjadi kelemahan sebagian besar korban kekerasan seksual, yaitu: 

  • Kamu tidak mempersenjatai dirimu sendiri dan panik sehingga mudah ditaklukkan
  • Kamu tidak belajar bela diri sehingga kalah setelah ditampar dan diseret
  • Kamu nggak ngerti prosedur melaporkan kasus pemerkosaan sehingga tanpa sengaja kamu menghilangkan semua bukti yang ada. 
  • Kamu melaporkan kasus ini sendirian, tanpa didampingi seseorang atau perwakilan lembaga yang punya kemampuan mengadvokasi korban kekerasan seksual. 
  • Kamu memilih menyerah dan menganggap dirimu kotor, padahal yang kotor ya si pelaku. 
  • Saat kamu mengakhiri hidupmu, maka saksi hidup kejahatan di pelaku otomatis raib. Bisa jadi, saat kamu menghembuskan napas terakhir, si pelaku sedang melakukan kejahatan serupa pada korban lainnya. 
  • Tidak akan pernah ada orang yang mengerti keadaanmu dan kebutuhanmu, apalagi memberi bantuan pada masalahmu, jika kamu diam dan tidak bersuara atas apa yang kamu alami. Speak up is a must!

Contoh kasus ini sangat sederhana, karena banyak sekali kisah pemerkosaan yang sadis yang tak terbayangkan pernah dilakukan manusia. Jika menginginkan seks, seseorang bisa melakukannya dengan pasangannya, bukan dengan memerkosa. Karena memerkosa bukan urusan seks, melainkan penghinaan pada tubuh dan eksistensi perempuan. Berikut ini aku sediakan tulisan-tulisan sederhana sebagai bahan belajar terkait isu kekerasan seksual (data lengkap): 

Memang tidak semua orang menjadi korban kekerasan seksual. Meskipun demikian, angkanya selalu meningkat setiap tahun. Sayangnya, korban kekerasan seksual seringkali mengalami victim blaming atau dipersalahkan sebagai penyebab pemerkosaan. Bahkan, tak jarang korban pemerkosaan diharuskan menikahi pemerkosanya demi menjaga nama baik keluarga korban dan pelaku. Sudah lah diperkosa, harus pula menghabiskan sisa hidup dengan pemerkosa. Edan!

Mari saling tolong menolong, khususnya menolong diri sendiri dari menelan mentah-mentah informasi palsu terkait RUU PKS. Kamu mendukung atau nenolak pengesahan RUU PKS, lengkapilan dahulu dirimu dengan proses membaca dan belajar. Jangan malas membaca. Tubuhmu adalah tanggung jawabmu. Jika kamu lemah, maka kita berhak meminta negara menyediakan perlindungan maksimal agar terhindar dari kejamnya kekerasan seksual. Bersuaralah. Jangan diam!

Jakarta, 25 September 2019


2 comments:

  1. saya termasuk hati2 ketika gelombang penolakan RUU Pks ini sampai di demo, di grup WA, dan semua sosial media membahas peristiwa demo, sampai ada follower ig saya minta ngebahas demo mahasiswa terkait RUU ini, saya tolak dgn halus krn ngerasa blum tahu detail apa yang diperdebatkan dalam RUU ini, yang ada gelombang penolakan2 tanpa tahu maksud dibuatnya RUU ini, beberapa akhirnya saya baca2 tulisan yang saya anggap cukup fair jelasin. saya pikir tujuan dibuat RUU ini tetap baik, ada payung hukum yang akan melindungi perempuan,apalagi ketika ada yang menjelaskan ttg pemerkosaan suami, saya baru paham. dan kasus sprtt pemaksaan ini sudah terjadi byk. Korban2 pemerkosaan apalag, kalo dibawah umur:( saya aja ga bs ngebayangin gmn nasip mereka, atau dipaksa nikahin pemerkosanya..Naudzubillah...
    nice share mba:) slm knl

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gelombang penolakan ini digawangi sebuah partai dan organisais kemahasiswaan yang jadi afiliasinya, wajar lah jika bombastis. Tapi kita juga harus jeli seperti melihat ke sudut pandang lain mengapa Fraksi dari partai lain yang juga Islami dan organisasi lain yang Islami kok mendukung pengesahan RUU PKS? Saya kira, sebagai warga negara kita harus juga melihat dari sudut pandang korban, keluarga korban dan para aktivis yang melakukan advokasi kasus kekerasan seksual. Kalau masalahnya berbasis "judul" lantas mengapa DPR nggak menyibukkan diri mencari solusinya, eh malah merangsek UU lain dalam sekejap. Ajaib, bukan?

      Delete