Greta Thunberg Tantang Pemimpin Dunia Tangani Perubahan Iklim Melalui Gerakan #FridayForFuture dan #SchoolStrikeForClimate

Pada 20 Agustus 2018, Greta Thunberg mogok sekolah untuk melakukan aksi di depan gedung parlemen Swedia di kota Stockholm sebagai upaya mendorong kepedulian publik terhadap perubahan iklim. Sumber: independent.co.uk



“I want to feel safe. How can I feel safe when I know 
we are in the greatest crisis in human history?”
-Greta Thunberg- 


Tahun 2018 silam, seorang remaja perempuan bernama Greta Thunberg bolos sekolah dan protes di depan gedung parlemen Swedia terkait isu perubahan iklim. Ia duduk di emper gedung parlemen dengan modal sebuah poster bertuliskan "skolsrtejk for klimatet" atau "school strike for the climate" atau "mogok sekolah untuk iklim." Greta melakukan aksinya sendirian setiap hari selama 3 minggu sampai Swedish General Election atau pemilihan anggota legislatif pada 9 September 2018. Aksi ini juga berkaitan dengan rendahnya tanggung jawab pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim, khususnya setelah peristiwa gelombang panas yang melanda Eropa dan kebakaran yang melanda sejumlah lokasi di Swedia. Bencana ini sendiri merupakan dampak lanjutan dari musim panas terpanas di Eropa sepanjang 262 tahun. 

Greta masih berusia 15 tahun, murid sekolah menengah dan duduk sendirian membawa pesan singkat namun menampar dunia. Foto Greta yang ikonik pun menyebar ke seluruh dunia dan menarik perhatian kalangan muda untuk turun tangan, memperjuangkan tempat hidup mereka di masa depan. Kepada para pihak-pihak yang penasaran atas aksinya, ia berkata "I am doing this because you adults are shitting on my future," sebagai kritik pada anggota parlemen yang dalam pandangannya bertanggung jawab pada 'jenis' masa depan bumi tempat Greta dan generasi tumbuh dan kelak akan mengambil alih kepemimpinan dunia. Greta percaya bahwa anggota parlemen dipilih warga karena dianggap mampu membawa perubahan melalui kebijakan-kebijakan yang mereka buat. 

Dalam berbagai sumber diceritakan bahwa kesadaran Greta tentang perubahan iklim nggak muncul tiba-tiba. Ia mulai mendapatkan kesadaran itu sejak berusia 8 tahun dan menantang kedua orangtuanya untuk mengubah gaya hidup keluarga mereka agar lebih sehat. Greta ingin melihat harapan tentang masa depan yang lebih baik dimulai dari keluarganya sendiri. Kisah ini pun dimuat dalam sebuah buku yang ditulis oleh kedua orangtua Greta, yang berjudul "Scenes from the Heart" yang terbit pada pada 2018. Pada Mei 2019, Greta menerbitkan sebuah buku berjudul "No One Is Too Small to Make Difference" yang berisi 11 pidato tentang perubahan iklim dan pemanasan global. 

"Adults keep saying: we owe it to the young people to give them hope. But I don't want your hope; I don't want you to be hopeful. I want you to panic, I want you to feel the fear I feel every day. And then I want you to act; I want you to act as if you would in a crisis. I want you to act as if the house was on fire, because it is." 
(Cuplikan Pidato berjudul "Our House is on Fire" pada World Economic Forum, Januari 2019)

Dari berbagai forum yang dihadirinya, ada sebuah pidato Greta yang paling terkenal dan menampar pada World Economic Forum di Davos, pada Januari 2019 silam. Pidato itu berjudul "Our House is on Fire" atau bisa dimaknai bahwa "Rumah kita Terbakar." Greta mengkritik orang-orang dewasa yang terus menerus mengatakan berutang pada generasi muda dalam hal memberi mereka harapan atas masa depan yang lebih baik. Greta mengatakan bahwa dia (dan generasinya) tidak membutuhkan sekadar harapan. Greta ingin orang-orang dewasa merasa panik dan ketakutan sebagaimana yang ia rasakan. Sehingga orang-orang dewasa bertindak seakan-akan diri mereka ada di tengah krisis, seakan-akan mereka ada dalam rumah yang terbakar. Ya, terbakar dan takut dalam krisis iklim yang mematikan.  

Sejak aksinya pada Agustus 2018, Greta menjadi ikon baru dalam isu-isu perubahan iklim dan pemanasan global. Selain ia kerap didapuk sebagai pembicara di forum-forum internasional, ia juga menginspirasi jutaan anak muda lainnya di seluruh dunia untuk bersuara secara massive dalam gerakan bernama FridayForFuture. Sejak 8 September 2018, Greta memutuskan untuk melakukan aksi protesnya setiap hari Jumat. Keputusan Greta akhirnya menginspirasi anak-anak sekolah di seluruh dunia untuk melakukan gerakan yang sama. Tagar #FridayForFuture dan #SchoolStrikeForClimate menjadi trending sehingga gerakan ini terus bertumbuh. Pada Desember 2018, anak-anak sekolah dari 270 kota di Australia, Austria, Belgia, Kanada, Belanda, Jerman, Finlandia, Denmark, Jepang, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat turut serta dalam menyuarakan perubahan iklim. Mereka tak peduli meski sejumlah pihak seperti Menteri Pendidikan dan Kepala Sekolah menyarankan mereka untuk rajin belajar di sekolah alih-alih menjadi aktivis muda. 
Ribuan siswa di Sidney turun ke jalan dalam #SchoolStrikeForClimate. Sumber: dailymail.co.uk
Ribuan siswa di Thailand turun ke jalan dalam #SchoolStrikeForClimate. Sumber: dailymail.co.uk
Ribuan siswa dan orangtuanya di Australia turun ke jalan dalam #SchoolStrikeForClimate. Sumber: dailymail.co.uk
Ribuan siswa di Washington DC turun ke jalan dalam #SchoolStrikeForClimate. Sumber: dailymail.co.uk

Gerakan ini terus bertumbuh dan mulai melibatkan para ilmuwan yang memang memiliki pemahaman ilmiah terkait kondisi iklim dunia. Pada Januari 2019, sebanyak 3.400 ilmuwan dan akademisi menandatangani sebuah surat terbuka yang berisi dukungan gerakan  #SchoolStrikeForClimate di Belgia. Gerakan ini juga kemudian didukung oleh 340 orang ilmuwan di Belanda, peneliti di Finlandia dan 26.00 ilmuwan dan akademisi di Jerman. Pada April 2019, sebanyak 3.000 ilmuwan dari seluruh dunia juga menandatangi surat dukungan sebagai justifikasi apa yang anak-anak sekolah itu lakukan. Kemudian pada Juni 2019, sebanyak 1000 orang tenaga kesehatan professional di Inggris mendukung gerakan #SchoolStrike khususnya yang berkaitan dengan masalah ekologi yang dianggap mendekati kepunahan. 

Greta Thunberg dan gerakannya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masalah perubahan iklim berhak dibicarakan oleh siapa saja, termasuk anak-anak sekolah karena memang berdampak luas hingga menimpa bayi-bayi. Contoh teranyar yang dialami Indonesia adalah kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan yang menelan banyak korban dari kalangan manusia, hewan dan tumbuhan. Hutan dan habitatnya habis menjadi abu dan anak-anak kecil meregang nyawa karena kesulitan bernapas. Apa yang dialami Swedia pada 2018 dan Indonesia pada 2019 memberi kita kesadaran terkait ketakutan dan kemarahan Greta Thunberg soal masa depan yang akan didiami generasi muda. Sangat wajar jika anak-anak semuda Greta menggugat para politisi dan pemimpin di negaranya dan di seluruh dunia terkait penanganan masalah perubahan iklim yang sangat lambat serta terkesan tidak serius. 

Bagaimana pengaruh gerakan #FridayForFuture dan #SchoolStrikeForClimate di Indonesia? Apakah pesan-pesan Greta dan jutaan siswa di seluruh dunia sampai ke Indonesia dan disambut dengan semangat yang sama? 

Sayangnya, meski Indonesia merupakan negara penghasil emisi terbesar ke-4 di dunia, gerakan #FridayForFuture dan #SchoolStrikeForClimate nampaknya tidak populer, dan mungkin kurang menarik perhatian. Terdapat sejumlah aksi yang dilakukan, namun spektrumnya tidak meluas dan tidak sebesar yang dilakukan para siswa di berbagai belahan dunia. Pada Maret 2019, sejumlah pelajar melakukan aksi turun ke jalan karena terpanggil oleh gerakan #SchoolStrikeForClimate dan belajar tentang isu perubahan iklim secara otodidak. Para siswa melakukan aksinya di depan Balai Kota, Jakarta.  
Ribuan orang melakukan long march menuju Balai Kota, Taman Aspirasi dan Istana Negara pada 20 September 2019  sebagai bagian dari gerakan #FridayForFuture dan SchoolStrikeForClimate yang juga dilakukan di 162 negara. Sumber: kompas.com

Pada September ini ternyata ada juga kabar baik. Pada 20 September 2019, ribuan massa melakukan long march menuju Balai Kota, Taman Aspirasi dan Istana Negara dalam menyuarakan masalah perubahan iklim. Di Indonesia, gerakan serupa berlangsung di 12 kota lain dan bertepatan dengan kasus kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah di Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu di seluruh dunia, aksi mendesak pemimpin dunia gerak cepat terhadap perubahan iklim dilakukan di 163 negara. Dengan demikian, aku percaya bahwa para siswa dan remaja di Indonesia turut ambil bagian dari gerakan internasional ini, dan gerakan-gerakan lainnya akan terus berlangsung demi bumi yang lebih baik.

Dari seorang Greta yang melawan sendirian, kini seluruh dunia bersamanya. Gerakan ini efektif karena diinisiasi dan ditumbuhkan oleh kaum muda yang merasa sangat berkepentingan mendapatkan masa depan yang lebih baik dari yang mereka jalani saat ini. Anak-anak sekolah, tentu tak akan sendirian turun ke jalan karena mereka masih anak-anak secara hukum, melainkan akan mengajak serta kedua orangtuanya atau walinya untuk mendampingi mereka. Inilah yang membuat gerakan ini begitu berkesan dan memiliki kekuatan untuk mengubah arah kebijakan pemimpin dunia terkait perubahan iklim. 
Greta Thunberg, pemimpin muda yang membangun kesadaran dunia

Greta hanyalah remaja biasa dari Swedia yang punya mimpi hidup aman dan damai di bumi bersama keluarga dan teman-temannya. Kesadaran Greta  mendesak para pemimpin dunia gercep dalam menangani perubahan iklim bisa jadi merupakan 'tanda' dari Sang Pencipta bahwa saatnya kaum muda naik ke panggung kepemimpinan dunia. Jika para pemimpin di seluruh dunia abai terhadap dampak dari pembangunan tidak ramah lingkungan, maka yang akan menanggung akibatnya adalah generasi masa depan yang saat ini masih merupakan remaja dan anak-anak. Greta bukanlah pahlawan dalam krisis iklim dunia. Melainkan seseorang yang 'menabuh' tanda bahaya agar warga dunia bangkit bersama dan melawan kehendak busuk siapapun yang menghancurkan bumi. Percayalah, gerakan ini akan terus berlipat ganda!

Jakarta, 24 September 2019

Bahan Bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Greta_Thunberg
https://www.independent.co.uk/environment/climate-change/greta-thunberg-trump-glare-united-nations-climate-change-a9117476.html
https://www.teenvogue.com/story/inspiring-greta-thunberg-quotes-climate-strike-protest
https://www.greenmatters.com/p/best-quotes-from-greta-thunbergs-speech-to-the-house-of-parliament
https://en.wikipedia.org/wiki/No_One_Is_Too_Small_to_Make_a_Difference
https://www.fridaysforfuture.org/about
https://www.youtube.com/watch?v=H2QxFM9y0tY
https://www.instagram.com/fridaysforfuture/
https://www.instagram.com/fridaysforfuture.indonesia/
https://en.wikipedia.org/wiki/School_strike_for_climate
https://www.irishtimes.com/news/ireland/irish-news/fridays-for-future-climate-change-protests-1.3827430
https://www.dailymail.co.uk/news/article-7484909/Millions-streets-Global-Climate-Strike.html
https://www.idntimes.com/news/indonesia/margith-juita-damanik/pelajar-prakarsai-friday-for-future-indonesia-pelajar/full
https://www.thejakartapost.com/news/2019/09/21/indonesian-cities-join-global-climate-strike.html
https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/3778/aksi-climate-strike-alarm-untuk-atasi-krisis-iklim/
https://time.com/5682404/global-climate-strike/


3 comments:

  1. Mbk, makasih sudah mengingatkan ttg sosok greta, generasi muda yg luar biasa. Semoga semangat greta menular ke negeri ini aamiin.

    ReplyDelete
  2. Keren banget ya dari 1 orang menjadi ribuan orang yang peduli, semoga makin luas kepeduliannya dan bukan cuma ikut-ikutan biar keren. Makasih infonya jugaa

    ReplyDelete
  3. Gils keren banget seusia dia udah berani menyuarakan pendapat se-lantang itu sehingga menghidupkan kesadaran orang lain.

    Sementara aku disini masih kembang kuncup tiap nyuruh temen "BAWA BOTOL SENDIRI JANGAN BELI AIR KEMASAN SETIAP HARI"

    ReplyDelete