DEATH ZONE, CLEANING MOUNT EVEREST: Kisah Para Pendaki yang Mencintai Gunung Everest dengan Membersihkannya dari Sampah

Karsang Namgyal Sherpa, lelaki Nepal yang memimpin gerakan membersihkan puncak Everest

Everest, nama bagi puncak tertinggi di bumi. Disebut juga Sagarmatha (Peak of Heaven) dalam bahasa Nepal dan Sansakerta, Comolungma (Goddess Mother of the World atau Goddess of the Valley) dalam bahasa Tibet, serta Zululangma-Feng/Chung-mu-lang Feng/Qomolangma Feng dalam bahasa China. Everest merupakan puncak tertinggi Pegunungan Himalaya yang mencakup wilayah Nepal, Tibet dan China. Tingginya 8.850 meter diatas permukaan laut dan diselimuti salju abadi. Keanggunan Everest membuatnya menjadi idola para pendaki dari seluruh dunia. Menaklukkan Everest merupakan mimpi tertinggi para pendaki. Setiap orang terkesima dan ingin memeluk Everest, bahkan memujanya.

Hingga tahun 1852, Everest belum diketahui keberadaannya. Ketika Pemerintah India melakukan survey yang pada 1830-1843 Everest ditemukan dan diberi nama Peak XV. Untuk mengenang jasa surveyor Inggris untuk India bernama Sir George Everest, pada tahun 1865 Peak XV diganti menjadi Everest. Hingga 2017, sebanyak 7.600 orang dari seluruh dunia telah sampai ke puncak dan  lebih dari 300 orang diantaranya kehilangan nyawa dengan berbagai sebab. Mayat mereka abadi dalam pelukan selimut salju Everest, seakan-akan sedang tidur lelap dalam pelukan seorang dewi.  
Foto Mount Everest dari udara. Sumber: National Geographic
Everest dan kisahnya. Sumber: Himalayan Database

Pada 29 Mei 1953, seorang lelaki Inggris bernama Edmund Hillary dan Tenzing Norgay seorang lelaki dari etnis Sherpa sampai di puncak gunung Everest untuk pertama kalinya. Pendakian tersebut dilakukan ala militer karena Hillary sendiri merupakan seorang tentara Inggris. Pendakian mereka lumayan heboh karena melibatkan 350 porters, 20 Sherpas dan beberapa ton ransum untuk mendukung ke 10 pendaki. Keberhasilan para pendaki awal dalam menaklukkan Everest membuat para pendaki di seluruh dunia ikut menjadikannya sebagai tujuan tertinggi kegiatan pendakian mereka. Mereka yang berniat mendaki Everest harus berlatih keras dan dipastikan telah menaklukkan puncak-puncak gunung lainnya di bumi sebagai latihan. Sebab, bagaimanapun juga Everest sangat mematikan, siap mencekik. 


Pendakian yang berat bukan saja menyebabkan lebih dari 300 pendaki meninggal dunia, juga mereka yang harus diamputasi sebagian anggota tubuhnya karena pembusukan. Dampak terburuk lainnya adalah tumpukan sampah yang ditinggalkan para pendaki kurang ajar mulai dari tenda, tabung oksigen, kemasan makanan hingga taik. Kondisi Everest yang dinodai sampah para pendaki ini membuat para kelompok pendaki elit dari Nepal melakukan sebuah gerakan sosial, yaitu mendaki Everest hingga ke area Death Zone di ketinggian 4000 meter untuk membersihkan sampah. Everest yang bagi warga lokal dianggap sebagai seorang Dewi merupakan sumber air bersih bagi sekitar 1.3 juta orang yang tinggal di desa-desa di kaki Pegunungan Himalaya. Sebagai masyarakat manusia yang hidupnya bergantung pada Everest, kelompok pendaki elit tersebut terketuk hatinya untuk membersihkan Everest dari sampah. Karena dengan cara itulah mereka menghargai bumi yang telah memberi banyak hal pada manusia. 

Death Zone: Cleaning Mount Everest merupakan film dokumenter atas proyek para pendaki elit Nepal dalam membersihkan Everest. Proyek mulia tersebut dipimpin oleh Karsang Namgyal Sherpa, seorang lelaki dari desa Sherpa di Shim Kharka, yang memulai karir sebagai pemandu para pendaki saat merantau ke Kathmandu, Nepal. Sebelum menjadi pemandu elit para pendaki (Sirdar), awalnya ia bekerja sebagai porter dan juru masak. Ia telah berulang kali mendaki Everest, dan setiap kali mendaki kemarahannya selalu bertambah karena tumpukan sampah yang ditinggalkan para pendaki. Sebagai orang kampung, ia merasa heran bahwa bagaimana mungkin para pendaki yang mengaku sebagai pecinta alam meninggalkan sampah mereka di Everest. 
Tumpukan sampah kaleng hasil pemilahan yang siap dikemas ke dalam karung. 
Tim pendaki memasukkan sampah kaleng kemasan makanan ke karung untuk dibawa turun dari Everest.
Namgyal Sherpa, pemimpin pendaki elit lokal dari Nepal yang memimpin pembersihan Everest

Pada 2010, Namgyal menginisiasi proyek ini. Tujuannya adalah untuk membawa pulang dua pendaki yang terjebak di ketinggian 8000 meter saat mereka meninggal dunia. Juga untuk membersihkan Everest dari sampah para pendaki yang telah ada sejak tahun 1953. Namgyal berpikir bahwa jika area Pegunungan Himalaya bersih, maka masyarakat lokal dapat mengakses air bersih dan terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar. Dengan demikian maka masyarakat tidak akan sakit karena lingkungan mereka bersih. Proyek tersebut selain berhasil memulangkan 2 jenazah, juga membawa turun sekitar 2 ton sampah. Nah, sampah-sampah yang ditarik dari puncak Everest, ditampung di sebuah pusat daur ulang sampah sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh siapapun yang membutuhkan. 

Bagiku, film ini sungguh membuat terharu. Jika orang-orang dari seluruh dunia mendaki Everest untuk unjuk gigi kemampuan mereka sebagai pendaki, yang gilanya meninggalnya sampah yang mengotori kebersihan sang dewi. Namgyal dan timnya justru mendaki Everest untuk membersihkannya, karena mereka sadar bahwa mereka merupakan penjaga Everest. Aku sedih banget pas melihat mereka berjalan berhati-hati sambil memanggul karung-karung sampah yang berat untuk dibawa turun ke camp. Termasuk saat mereka menggusur dua orang mayat pendaki, membungkusnya dengan pembungkus mayat dan memandangi helikopter yang membawa kedua jenazah tersebut keluar dari Everest. 
Namgyal dan tim siap membawa turun nyaris 2 ton sampah dari puncak Everest. Sumber: Bloomberg

Proyek mereka, yang sebenarnya juga menantang nyawa mereka sendiri, merupakan sebuah kampanye pada dunia internasional bahwa diperlukan kebijakan baru dalam pendakian ke Everest. Para Sherpa bukanlah buruh apalagi budak, yang keberadaan mereka bukan untuk membersihkan perbuatan tidak bertanggung jawab para pendaki. Alur pikirnya sederhana saja. Jika para pendaki dari seluruh dunia tidak membawa turun sampah-sampah mereka, maka sama saja dengan mengorbankan para Sherpa atau tim pendaki elit ini. Meskipun mereka orang-orang yang sangat terlatih, tetap saja mendaki untuk membersihkan sampah di Everest sangat berbahaya. Mereka bisa kehabisan oksigen, tergelincir lalu jatuh, atau bahkan terkena longsoran salju. 

Pada Mei 2013, Namgyal Sherpa meninggal dunia saat menuruni Everest dalam pendakian lainnya pada usia 40 tahun, yang juga untuk membersihkan puncak dunia dari sampah bawaan manusia. Sejak 1995, Namgyal telah 9 kali sampai di puncak Everest dan meninggal dalam pelukan Everest, Dewi yang dikagumi dan dijaganya. Semoga saja, gerakan yang dilakukan Namgyal dan timnya membuka mata para pendaki di seluruh dunia, bahwa mendaki gunung itu harus dengan niat bersih, bukan mengotorinya. Apa yang dibawa naik, maka harus dibawa turun. Itulah etika pecinta alam. 

Jakarta, 20 Agustus 2019

Bahan Bacaan: 
https://www.ondramanice.ch/death-zone-cleaning-mount-everest-episode-1/
https://www.nationalgeographic.com/adventure/features/everest/sir-edmund-hillary-tenzing-norgay-1953/
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_people_who_died_climbing_Mount_Everest
https://www.nationalgeographic.com/adventure/2019/06/mount-everest-aerial-north-side-drone-photography/
https://www.britannica.com/place/Mount-Everest/The-height-of-Everest
https://crcmeltonlibrary.weebly.com/mt-everest.html
https://medium.com/@wingermailer/the-story-of-a-hero-namgyal-sherpa-e421c88412f0
https://web.facebook.com/dzmovie/
https://www.news.com.au/travel/travel-updates/incidents/mount-everest-is-covered-in-garbage-and-dead-bodies-report/news-story/40ef4a8e5d5b29b71b2744cac5877ad7
https://twitter.com/everesttoday/status/986105751323242496

1 comment: