SHADOW: Film Ciamik Tentang The Art of Winning

Shadow. Sumber: wellgousa.com

Di masa lampau, kerajaan Pei kehilangan kota penting bernama Jingzhou dalam peperangan melawan kerajaan Yang. Kehilangan besar ini gara-gara jenderal Ziyu kalah dalam duel melawan jenderal yang tak terkalahkan dari kerajaan Yang, yaitu jenderal Yang Chan. Kekalahan jenderal Ziyu membuat kesehatannya menurun. Selama masa penyembuhan, ia melatih seorang pemuda bernama Jingzhou untuk menjadi bayangannya. Jing yang sangat mirip dengan Ziyu harus bertindak sebagai sang jenderal. Bahkan, Ziyu membuat Jing memiliki segala kemampuannya mulai dari memainkan berbagai alat musik hingga taktik memenangkan sebuah peperangan.


Dalam memuluskan rencananya, Ziyu bahkan menggunakan istrinya sendiri, yaitu Xiao Ai untuk berpura-pura menjalani pernikahan bahagia dengan Ziyu palsu. Ziyu berjanji, jika Jing mampu mengalahkan jenderal Yang dalam duel dan memimpin pasukan untuk menghabisi tentara kerajaan Yang, maka ia akan dibebaskan untuk menjadi dirinya sendiri dan bisa menemui ibunya di kota Jingzhou. Dalam misi rahasia tersebut, Jingzhou yang sebenarnya sudah tidak tahan menjalankan peran sebagai 'bayangan' jenderal Ziyu memilih bertahan karena tumbuh cinta dan kasih sayang kepada istri Ziyu. Terlebih ketika Xiao Ai mengajari Jing teknik bela diri menggunakan konsep feminin (yin) dengan payung sebagai alatnya. Xiao Ai yang bertahun-tahun menjalani hidup dengan Jing mulai merasa kasihan pada lelaki itu, dan yeah mulai timbul perasaan cinta kepadanya. Xiao Ai sangat tahu bahwa hidup Jing dalam bahaya. Jika Jing berhasil mengalahkan kerajaan Yang, maka Jing akan mati di tangan Ziyu yang memang mengincar tahta Raja.
Seni bertarung yang indah ala Ziyu dan Jingzhou. Sumber: wellgousa.com

Sang Raja yang pecundang sebenarnya tahu bahwa Jing adalah 'sang bayangan' dari jenderal Ziyu. Namun demikian, ia tak hendak menggunakan si Ziyu palsu untuk kembali berperang. Kekalahan teranyar Ziyu membuat sang Raja menghina sang jenderal dengan melepaskan jabatannya, sehingga status sang jenderal menjadi rakyat biasa. Sang Raja hendak menilai sejauh mana kecerdikan Ziyu dalam memainkan perannya dari balik gua. 
Jingzhou dan Xiao Ai berlatih bersama menggunakan payung sebagai senjata. Sumber: wellgousa.com

Sebagai raja ia menginginkan perdamaian. Sayangnya, utusan yang ia kirim membawa kabar buruk, bahwa perdamaian mungkin dicapai bila puteri Qingping dinikahkan dengan anak anak jenderal Yang sebagai selir. Alih-alih berperang untuk melindungi martabat adiknya sendiri, sang Raja malah menerima tawaran perdamaian tersebut. Hal ini membuat puteri Qingping berang dan bergabung dengan pasukan khusus di bawah pimpinan Tian. Dan ketika pada suatu hari Xiao Ai dan Jing tidur bersama, yang membuat Ziyu berang, ia bersekutu dengan Tian untuk melatih pasukannya. 


Kelak, pasukan tersebut digunakan sebagai support system untuk mengalahkan tentara Yang ketika Jing berduel dengan jenderal Yang.  Ziyu berjanji akan menjadikan Tian sebagai jenderal jika Jing berhasil memenangkan perang dan ia mendapatkan tahta. Ziyu yang mulai menua karena luka-luka akibat perang berambisi menjadi Raja. 


Di hari duel tiba, Jing mendatangi perbatasan dengan menggunakan perahu yang dibangun dari bambu. Dari permukaan sungai, perahu tersebut nampak seperti sebuah rakit. Meski sebenarnya, perahu tersebut memiliki lambung yang berisikan pasukan khusus yang siap memasuki wilayah Jingzhou dengan menyelam melalui sungai. Taktik demikian membuat Jing terlihat melawan pasukan Yang seorang diri, padahal saat duel antara jenderal Yang dan Jin berlangsung, pasukan khusus juga sedang menyerbu kota. Dalam pasukan ini ikut serta puteri Qingping. Ia memiliki misinya sendiri, yaitu membunuh Yang Ping yang telah menghinanya dengan melamarnya untuk menjadi seorang selir. Sayangnya, meski jenderal Yang dan pasukannya berhasil dikalahkan, puteri Qingping juga meninggal dunia. 


Pada suatu hari di hall istana, Raja mengadakan perjamuan untuk mengucapkan terima kasih atas kemenangan jenderal Ziyu mengalahkan pasukan kerajaan Yang. Namun, ia tidak terima bahwa adiknya harus menjadi korban sehingga ia membunuh tangan kanannya sendiri yang ia ketahui merupakan mata-mata kerajaan Yang. Di saat yang sama, ia juga mengirim pasukan rahasia untuk menghabisi jenderal Ziyu di tempat persembunyiannya. Sang Raja hendak membalaskan dendam Jing dan Xiao Ai dengan membawakan mereka hadiah istimewa, yaitu kepala jenderal Ziyu. 


Ironisnya, kotak itu kosong dan jenderal Ziyu berhasil membunuh raja dengan pedangnya. Di saat ia hendak menghabisi Jing yang dianggap telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna, Ziyu mati di tangan Jing. Kematian Ziyu menjelaskan bahwa sang jenderal mati di tangan harimau yang dibesarkannya sendiri. Namanya senjata makan tuan, bukan? 


THE COLORS, THE BEAUTY

Buatku, film besutan sutradara kawakan Zhang Yimau ini sangat indah. Sejak film dibuka, nampak sekali keindahan yang anggun, tenang dan agung, meski dikemas dalam hitam-putih, bagai simbol Ying dan Yang saja. Keindahan terdapat di segala hal dan di semua penjuru, mulai dari pakaian yang kainnya diwarnai dengan teknis khusus; ornamen-ornamen yang meski hitam putih tetapi sangatlah anggun; hall istana; alat musik; hingga area kerajaan yang dipagari gunung-gunung batu nan tinggi serta sungai yang dalam. Awan nan tebal seakan menjadi penghalang abadi bumi dan matahari. 
Simbol Yin dan Yang. Sumber: wellgousa.com

Warna tenggelam seperti dihanyutkan oleh hujan yang mengguyur terus menerus dan sinar matahari yang tidak bisa menembus ketebalan awan yang menggantung diatas kerajaan. Satu-satunya warna lain yang berbeda adalah perahu bambu yang berwarna cokelat hangat, seakan-akan ketika mengering selama proses pembuatan kapal, bambu-bambu tersebut tidak ingin kehilangan jati dirinya. Juga merah darah, hijau hutan bambu dan warna tubuh manusia. 


THE FEMININ TOUCH, THE WINNER

Dalam banyak kisah peperangan atau duel, yang tentu saja disajikan dalam banyak film, kita selalu dicekoki dengan keperkasaan sang lelaki pemenang. Para jenderal atau prajurit selalu digambarkan memiliki tubuh kekar hasil latihan keras bertahun-tahun lamanya; dilengkapi dengan baju zirah dari besi dan pedang legendaris yang haus darah. 

Namun, film ini justru menekankan sentuhan perempuan, the feminin touch. Hal tersebut ditunjukkan dengan keluwesan Xiao Ai saat melawan senjata Ziyu dengan payungnya. Keputusan Ziyu untuk melatih Jing dengan teknik Xiao Ai membuat Tian melatih pasukannya dengan teknik feminin milik Xiao Ai dan mengganti senjata utama yaitu pedang dengan payung dari besi. Gerakan Xiao Ai dan payung besi lah yang membuat Jing dan pasukannya memenangkan perang, dan mengalahkan jenderal Yang. The feminin touch dalam duel maupun perang digambarkan sebagai langkah-langkah luwes, di mana untuk menaklukkan lawan yang maskulin diperlukan kelembutan yang mematikan. 

Cinta selalu menjadi sentuhan yang menghidupkan. Sumber: hollywoodreporter.com
The feminin touch. Sumber: bttwo.com

Pada akhirnya, Xiao Ai, yang digunakan suaminya sendiri dalam mengincar tahta raja yang memenangkan semuanya. Tekniknya berhasil menghabisi pasukan musuh, sekaligus ambisi suaminya sendiri yang memperalat orang lain untuk mendapatkan tahta. Akhir film memberi gambaran pada penonton, bahwa masa depan kerajaan Pei ada di tangan Xiao Ai. 

Demikianlah bahasan film berjudul "Shadow" yang menurutku indah dan elegan ini. Film ini seakan berpesan dengan begitu terang benderang, bahwa the owner of the feminine touch is the winner and she is a woman. Bahwa untuk memenangkan pertarungan jenis apapun dalam hidup ini, bergurulah pada perempuan. Sebab seorang perempuan selalu memiliki strategi khusus dalam memenangkan segala pertarungan. Bahkan, cinta, kelembutan dan sikap diamnya adalah senjata. 


Jakarta, 17 Agustus 2019



No comments:

Post a Comment