Petualangan Matara dan Manusia Laut

Mata dan Manusia Laut


Petualangan Matara si anak Jakarta sampai juga di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Mamanya Matara (yang sejak buku pertama nggak disebutkan siapa namanya) tertarik untuk melakukan studi lapangan tentang orang-orang Bajo, yang ciri unik mereka sebagai "manusia laut" pernah diliput secara khusus dan cerita tentang mereka diterbitkan The New York Times. Mengetahui keberadaan para "Aquaman" sesungguhnya ada di tanah airnya sendiri, Mamanya Matara tentu berambisi untuk bertemu dengan mereka dan membuat sebuah tulisan. 

Dan sampailah Matara dan mamanya di Kabupaten Wakatobi dan kemudian menyeberang ke Kaledupa menggunakan speedboat. Kaledupa adalah sebuah kecamatan dan merupakan sebuah pulau. Karena ternyata Mamanya Matara tidak tahu bahwa orang-orang Kaledupa sedang mempersiapkan sebuah hajatan besar yang bernama Karia, mereka tidak mendapatkan tempat untuk menginap. Akhirnya, seorang perempuan baik hati yang berprofesi sebagai pedagang mempersilakan ibu dan anak itu menginap di rumahnya, bersama dengan dua orang pedagang balon dari Makassar.

Karia atau pesta/kemeriahan merupakan puncak dari Festival Barata Kadelupa yang biasa diselenggarakan pada bulan September setiap tahunnya. Karia merupakan penanda masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, yang diikuti oleh anak-anak dan remaja yang belum menikah dari penjuru Kaledupa. Peserta akan menggunakan pakaian adat yang meriah, di mana peserta perempuan akan diantar dari rumah masing-masing ke lokasi Karia sementara peserta lelaki diantara dari masjid ke lokasi Karia. Pada Karia juga ada proses penjajakan sebelum perjodohan remaja putra dan putri dilakukan.

Karia membuat lapangan Kaledupa sangat ramai. Termasuk pada penjual makanan, minuman dan mainan. Cuaca panas membuat Matara sibuk membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dan minuman yang dia suka, sementara Mamanya sibuk melakukan observasi untuk bahan tulisan. Dalam keramaian ini Matara bertemu dengan bocah kurus bernama Bambulo dan petualangan lain dalam hidup Matara dimulai.

Bambulo merupakan orang Sama, sebuah pulau lain di Kepulauan Wakatobi. Orang sama mengatakan dirinya orang laut, sementara orang Kaledupa disebut orang darat. Bambulo dengan bangga mengatakan kepada Matara bahwa sebagai orang Sama, maka ia merupakan orang laut. Sementara Matara mengatakan bahwa manusia itu makhluk darat walaupun bisa berenang. Buktinya, walau Bambulo mengaku orang laut toh ia punya rumah di darat, diatas pulau, bukan di dalam lautan. Perbedaan pendapat keduanya membuat kedua bocah yang baru kenal ini sibuk bertengkar. Hingga akhirnya Bambulo mengajak Matara ke rumahnya di pulau Sama untuk membuktikan bahwa benar orang Sama itu manusia laut, bukan orang darat seperti yang lain. Matara setuju ikut menyeberang bersama Bambulo ke pulau Sama menggunakan sampan, tanpa terlebih dahulu bicara pada mamanya. Yeahhh, anak kecil sering begitu memang hahaha. 

"Kita semua makhluk darat, orang darat," kata Matara.
"Orang Sama adalah orang laut. Kami bukan orang darat. Kami tak bisa hidup di darat. Kami hanya bisa hidup di laut!"  
"Orang Sama adalah keturunan orang laut. Kami hidup di laut dari dulu hingga sekarang. Di lautan kami tak akan mati. Di darat kami bisa mati." kata Bambulo lagi. 

Sebagai orang Sama, Bambulo bahkan mengajak Matara untuk menuju Atol, sebuah lokasi khusus di tengah laut tempat orang Sama menangkap ikan. Bocah itu hendak membuktikan pada Matara bahwa di Atol ada hiu dan lumba-lumba.

Sebenarnya saat itu sedang bulan purnama dan orang-orang Sama memiliki aturan tidak menangkap ikan saat bulan purnama, karena ikan-ikan sedang bertelur. Lagipula, biasanya Bambulo pergi ke Atol bersama ayahnya, dengan menggunakan Bodi, dan bukan sampan kecil seperti yang digunakannya bersama Matara. Bambulo sebenarnya takut melanggar pantangan orang Sama karena khawatir akan membuat marah penunggu lautan. Namun, ia berjanji pada diri sendiri bahwa tujuannya ke Atol bukan untuk menangkap ikan, melainkan untuk sekadar menunjukkan pada Matara si anak Jakarta, bahwa orang Sama adalah manusia laut dan bukan manusia darat, dan bahwa Atol merupakan tempat indah dan menyenangkan bagi orang Sama, para keturunan manusia laut. 

Kedua bocah ini bagai orang hilang, terapung dalam ayunan gelombang laut, hanya bermodal sampan kecil milik Bambulo dan keyakinan bahwa mereka akan segera kembali setelah melihat Atol. Sementara di Kaledupa, Mamanya Matara kebingungan mencari anak perempuannya yang hilang. Ia khawatir Matara diculik. Meski warga Kaledupa dan Polisi mengatakan bahwa pulau ini sangat aman dan tidak mungkin ada penculikan, Mamanya Matara tetap sedih tidak perhatian pada anaknya sendiri karena tenggelam dengan kemeriahan Karia yang menyedot seluruh perhatiannya sebagai penulis. 

Bambulo dan Matara sebenarnya telah mendapatkan peringatan dari laut agar mereka tidak melanjutkan perjalanan ke Atol. Peristiwa pertama adalah ketika sampan mereka terbalik karena dijilati ombak tinggi. Peringatan kedua diberikan oleh lumba-lumba, yang oleh orang Sama disebut sebagai lummu. Nah, Bambulo ini punya keistimewaaan bicara dengan lummu sehingga ia mejelaskan kepada para lumba-lumba itu bahwa ia ke Atol hanya sebentar saja dan bukan untuk menangkap ikan sebagaimana biasa. Bambulo si manusia laut paham kok soal larangan menangkap ikan saat purnama. 

Saat tiba di Atol, Bambulo berpikir untuk menanak nasi dengan persediaan beras yang ada di gubuk. Ia juga akan menangkap beberapa ekor ikan hanya sekadar untuk makan malam berdua dengan Matara. Maka ia memilih untuk menangkap ikan jenis kakatua. Ikan jenis itu tidak banyak mengeluarkan darah dan enak dimakan mentah. Sayangnya, saat Bambulo membersihkan si ikan kakatua mengeluarkan banyak darah sampai-sampai di mata Bambulo lautan pun berubah semerah darah. Dengan cepat Bambulo melemparkan ikan-ikan itu ke lautan dan petaka pun bisa dihindari. 

Setelah peristiwa aneh dengan ikan kakatua, serangan lain terjadi. Kini ombak besar menerjang gubuk di Atol yang membuat kedua bocah terlempar ke laut. Bahkan dalam kondisi yang sangat menakutkan bagi Matara, mereka diserang pasukan ubur-ubur. Dengan kedua matanya, Matara menyaksikan bagaimana luwesnya Bambulo menggunakan tombaknya di kedalaman laut untuk menghalang pasukan ubur-ubur yang menyerang mereka. Mereka selamat dan bisa naik ke Atol untuk istirahat sebelum pulang. Sayangnya, di pagi hari yang cerah air laut surut sangat jauh dan tak lama kemudian menerjang apapun yang dilaluinya. Matara dan Bambulo terlempar kembali ke laut, mereka digulung masuk ke kedalaman laut. Sementara gelombang yang kejam itu menerjang Kaledupa sebagai tsunami yang melahap habis semua bangunan dan membuat  Karia bubar. Saat berita tentang Tsunami di Kaledupa mengejutkan Indonesia dan dunia, Matara dan Bambulo sedang sibuk dengan petulangan bawah laut yang menakjubkan. 

Saat orang-orang darat di Kaledupa sibuk melakukan recovery paska bencana tsunami, Matara dan Bambulo terlempar ke Masalembo. Sebuah lokasi yang disebut-sebut memiliki bahaya seperti Segitiga Bermuda di Amerika. Di Masalembo itu Matara dan Bambulo diserang gurita raksasa yang marah karena kedua bocah melanggar pantangan Dewa Laut. Pantangan yang dilanggar menyebabkan tsunami, yang berakibat pada hilangnya telur-telur si gurita. Sebagai seorang ibu, wajarlah jika gurita marah. Namun sayangnya, bukan hanya si gurita yang marah, makhluk laut yang lain pun marah karena telur-telur mereka habis tersapu gelombang. Termasuk ikan-ikan dan landak laut. 

Di Masalembo, kedua bocah bertemu dengan makhluk-makhluk laut aneh. Seperti kapten kapal, perempuan yang dipanggil Mama Lia, bocah bernama Aldio, hingga sejumlah makhluk yang merupakan percampuran antara manusia dengan makhluk laut. Misalnya ada bocah lelaki berkepala manusia tapi bertubuh gurita; ada gadis kecil setengah manusia dan setengah ikan; ada juga bocah dengan tubuh percampuran penuh antara manusia dan tubuh ikan terbang. Katanya, mareka adalah makhluk-makhluk yang lahir di lautan, di Masalembo. Mereka adalah anak keturunan Manusia dan Dewa Laut. Selain itu, Masalembo juga menyimpan rahasia dari dunia manusia, seperti kapal-kapal karam pada masa lampau, salah satunya Tampomas. Kapal bekas yang tenggelam. 

Tiba-tiba pada suatu siang, Matara dan Bambulo sudah terapung di lautan dan keadaan pingsan. Mereka diselamatkan kapal kecil yang mengangkut barang dagangan dari Malaysia. Saat keduanya telah pulih dan mulai menyaksikan hal-hal aneh di kapal yang ternyata mengangkut bahan pembuat bom ikan dari negeri seberang, termasuk korupsi para petugas patroli, Matara dan Bambulo belum tahu informasi bahwa Kaledupa porak-poranda oleh tsunami. Mereka juga tidak akan menyangka bahwa akan ditangkap polisi karena dikira sebagai anak dari pegawai di kapal yang menyelundupkan barang berbahaya, hingga keduanya harus melarikan diri dari kantor polisi dan menyeberang ke Kaledupa. Saat keduanya tiba di Kaledupa, kedua bocah berpisah demi mencari keluarga masing-masing di tengah keadaan pulau hancur lebur. 

ORANG BAJO SI MANUSIA LAUT 
Kisah orang yang bisa berjalan di dalam lautan tanpa tabung oksigen nyata adanya. Mereka itu orang Bajo/Bajau. Orang Bajo ini menjalani hidup sea nomadic dan dikenal sebagai "gipsi laut". Di kepulauan Wakatobi, orang Bajo mendirikan perkampungan mereka sendiri di tengah laut. Orang Bajo sudah akrab dengan laut sejak lahir ke dunia. Mereka dikenal sebagai manusia laut. Mereka berjalan di dalam lautan sebagaimana manusia berjalan di darat. Mereka memiliki keahlian memanah ikan atau spearfishing di dalam laut. 

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa orang Bajo merupakan pengembara di lautan sejak ribuan tahun lalu dan mereka bertahan hidup dengan menombak ikan di dalam lautan. Mereka bisa ditemui di Sulawesi, Indonesia dan mereka tinggal di Wakatobi sejak tahun 1600an. Orang Bajo juga bisa ditemukan di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, mereka juga dapat ditemui di beberapa wilayah di Malaysia dan Filipina. Kemampuan mereka menyelam sungguh luar biasa, hingga ke kedalam 60 meter dan sanggup menahan nafas sampai 12 menit. 
Orang Bajo menangkap gurita
Rumah orang Bajo di lautan. Sumber: superadventure.co.id
Seorang anak Bajo yang tersenyum sembari duduk di ujung sampan. Sumber: travelingyuk.com

Keunikan mereka membuat para peneliti takjub. Dr. Melissa Ilardo, merupakan salah satu peneliti yang melakukan penelitian terhadap anatomi tubuh orang Bajo. Bersama peneliti lainnya, ia menemukan fakta bahwa ukuran limpa orang Bajo 50% lebih besar dari orang-orang pada umumnya. Fakta tersebut juga ditemukan pada orang Bajo yang tidak berprofesi sebagai penyelam, karena kemungkinan faktor gen. Evolusi pada tubuh manusia sungguh nyata adanya. 

ORANG BAJO DAN EVOLUSI TUBUH MANUSIA
Kukira setiap kita pertama kali mengenal tentang Teori Evolusi yang dikemukakan Charles Darwin di bangku sekolah. Namun, teori ini ditolak karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Meski demikian, para ilmuwan tidak berhenti mencari tahu dan melakukan penelitian pada tubuh manusia, entah teori evolusi ini benar-benar nyata adanya atau memang tidak ada sebagaimana yang agama ajarkan bahwa manusia ya manusia. 

Temuan para peneliti tentang evolusi limpa orang Bajo yang mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan beradaptasi dengan lingkungan, dengan tujuan untuk bertahan hidup hanyalah bukti teranyar bahwa evolusi pada tubuh manusia benar-benar terjadi. Dalam penelitian lainnya seperti para cattle-herding di Afrika Timur dan bagian utara Eropa tubuh manusia mengalami mutasi yang membantu mereka mencerna susu saat dewasa. Peneliti juga menemukan perbedaan yang signifikan mengenai kadar hemoglobin pada tubuh orang yang tinggal di dataran tinggi Tibet dan Ethiopia. Adaptasi pada tubuh manusia yang tinggal di dataran tinggi disebabkan oleh rendahnya kadar oksigen. Hal tersebut juga berlaku pada orang Andes yang tinggal di dataran tinggi Andes, Amerika. 
Orang Tibet atau Tibetan. Sumber: macheflea.com
Perempuan Andes atau Andean, Amerika Tengah. Sumber: andeanahats.com
Perempuan Ethiopia, dari etnis Dorze, dataran tinggi Gamo. Sumber: theatlasofhumanity

Orang Bajo, Andes, Tibet, Ethiopia dan komunitas lain yang tinggal di wilayah-wilayah ekstrem, atau yang harus bertahan hidup dalam kondisi ekstrem menunjukkan bahwa alam melakukan seleksi. Bagaimanapun juga, manusia adalah bagian dari alam dan mungkin manusia adalah alam itu sendiri. Proses seleksi alam pada tubuh sebagian manusia selama ribuan tahun lamanya memungkinkan terjadinya body remodeling sebagai upaya tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi ekstrem. Seleksi menunjukkan hasil yang berbeda sesuai dengan kebutuhan adaptasi manusia terhadap lingkungan tertentu. 

Penelitian tentang orang-orang yang tubuhnya telah mengalami seleksi alam tersebut seakan menunjukkan pada kita bahwa hidup ini sungguh suatu bahan belajar yang menakjubkan. Kita yang seringkali berpandangan dengan cara pandang di mana kita hidup saat ini dapat kembali belajar dan merenung, bahwa cara bertahan hidup pada kondisi lingkungan tertentu bisa berdampak hebat pada tubuh manusia. Kondisi itu tentu saja menarik untuk kita melihat jauh ke belakang, ke ribuan hingga ratusan ribu tahun silam, mengenai bagaimana nenek moyang manusia menjalani hidupnya sehingga mewariskan gen yang berbeda kepada kita, manusia yang hidup abad ini. 

AJAK ANAK ANDA MEMBACA PETUALANGAN MATARA
"Mata dan Manusia Laut" ini adalah buku ketiga dari seri "Mata Menjelajahi Nusantara" karya Okky Madasari. Meski buku-buku tersebut merupakan proyek pertama Okky Madasari dalam menulis buku anak, tapi aku patut berterima kasih dan berbangga. Cerita-cerita dalam bukunya memberikan kita sebuah pemahaman bahwa anak-anak, seperti seusia Matara dan Bambulo (dibawah 15 tahun) harus mampu menjadi bagian dari sebuah nilai dalam masyarakat di mana mereka tinggal. Bahwa anak-anak harus memiliki keterlibatan dalam setiap jengkal kehidupan, bukan hanya bermain. 


Sebagaimana kedua buku sebelumnya, petualangan Matara dan teman-teman barunya bukan semata main-main. Melainkan sebuah upaya menyingkap rahasia kehidupan di nusantara. Okky dengan cerdik menyampaikan masalah-masalah orang dewasa dalam dunia anak-anak, seperti soal pencemaran laut oleh sampah, memudarnya kearifan lokal karena ambisi pembangunan yang tidak ramah lingkungan; hingga nyaris punahnya suku-suku tertentu akibat alih fungsi lahan entah untuk danau, perumahan, pasar hingga bangunan-bangunan modern untuk fungsi berbeda. 

Melalui berbagai percakapan dan petualangan khas anak kecil, Okky menyampaikan pesan-pesan berat tentang isu pembangunan, lingkungan, kemanusiaan, korupsi dan sebagainya. Sehingga, menurutku buku ini sangat baik jika dibaca oleh anak-anak Indonesia. Dengan membaca buku-buku ini, anak Indonesia bisa diajak berbicara dengan cara berbeda dalam melihat diri mereka, kehidupan di sekitar mereka dan masa depan mereka sebagai pewaris Indonesia. 

Terima kasih Okky Madasari, telah mencipta karya berkualitas bagi anak Indonesia!

Jakarta, 18 Agustus 2019

Bahan Bacaan: 
https://www.nytimes.com/2018/04/19/science/bajau-evolution-ocean-diving.html
https://www.nytimes.com/2013/05/30/science/mountain-populations-offer-clues-to-human-evolution.html?module=inline
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3334582/
https://academic.oup.com/icb/article/46/1/18/661204
https://www.atlasofhumanity.com/ethiopia
https://allthatsinteresting.com/bajau-people
http://www.wakatobikab.go.id/newsview/569/festival.barata.kaledupa.2018.di.wakatobi.pesta.budaya.yang.besar.di.pulau.kaledupa.wakatobi.html
https://festival-indonesia.id/festival/Festival-Barata-Kaledupa-2017
https://www.superadventure.co.id/news/4687/bertemu-para-manusia-laut-wakatobi/
https://travelingyuk.com/suku-bajau-manusia-ikan-indonesia/96571/
https://pesona.travel/keajaiban/1461/kampung-bajo-wakatobi-rumah-orang-laut
https://www.mongabay.co.id/2017/04/05/suku-bajo-simbol-eksistensi-warga-pesisir-yang-semakin-terpuruk/

4 comments:

  1. Isi bukunya lebih banyak tulisan atau gambar mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih banyak tulisan sih. Tapi nggak membosankan kok, lagian kan sasarannya anal-anak usia SMP, jadi gambar hanya diperlukan sebagai pemanis aja. Bahasanya sederhana dan seru kok.

      Delete