PARASITE: Gambaran Mengerikan Kesenjangan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Modern Korea Selatan

Sebagai Tuan dan Nyonya Park. Sumber: hollywoodreporter.com

“Jika aku kaya, aku juga akan jadi orang yang baik banget. Uang adalah setrika, yang menghaluskan segala problem yang berkerut.” 

Choong-Sook dalam Parasite-

Parasit merupakan organisme yang hidup pada atau di dalam makhluk hidup lain, dengan menyadap sumber makanannya, tanpa memberi bantuan atau manfaat lain padanya, misalnya cacing di dalam perut dan protozoa plasmodium di dalam darah (oke tulisan pembuka ini diambil dari Wikipedia).  

Tapi film "Parasite" besutan sutradara Boong Joon-ho nggak bicara tentang parasit dalam tubuh, tapi dalam jiwa manusia. Sederhananya, film ini secara ekstrem membuat dua kelompok manusia dalam sebuah masyarakat, si super kaya versus si super miskin, bertemu dalam satu lapangan tempur kehidupan. Jika zaman dahulu manusia dibedakan berdasarkan kasta mereka sejak lahir (sebagaimana masih berlaku di India), kini manusia saling merebut posisi tertinggi dalam masyarakat melalui kekuasaan dan kepemilikan kekayaan. Semakin kaya ya artinya berkuasa, dan semakin miskin maka engkau budak.

Karakter dalam film menyedihkan ini digambarkan melalui dua keluarga. Yang satu keluarga elit alias konglomerat (Chaebol), sementara keluarga lainnya adalah keluarga kelas buruh rendahan. Kedua keluarga merupakan jenis keluarga inti dengan anggota berupa ayah, ibu dan dua orang anak. Keluarga kaya ini terdiri atas Tuan Park dan Nyonya Yeon-kyo (Nyonya Park), dengan dua anak mereka bernama Park Da-hye dan Park Da-song. Sedangkan keluarga miskin terdiri atas Pak Kim Ki-taek dan Bu Choong-sook, serta kedua anak mereka Ki-woo dan Ki-jung. 

BACA DULU: Para Chaebol Korea Selatan

Keluarga Tuan Park dan Nyonya Park ini semacam mimpi yang diidamkan nyaris semua orang di dunia. Mereka ini golongan masyarakat kelas 1 di Korea Selatan. Tuan Park merupakan seorang CEO sebuah firma IT, sementara Nyonya Park sendiri merupakan jenis perempuan cantik, glamor, polos, energik dan ramah. Mereka tinggal di sebuah mansion yang dibangun seorang arsitek ternama. Sebuah mansion bergaya modern, minimalis, dan prestigious yang berlokasi di bagian tertinggi kota dengan halaman luas nan hijau, udara yang sejuk dan langit biru sebagai atap. 

Sementara keluarga Pak Kim Ki-taek dan Ibu Choong-sook tinggal di sebuah basement di wilayah bagian renda kota. Keluarga tersebut bekerja serabutan. Apapun jenis pekerjaan yang ada bisa mereka kerjakan, seperti menjadi tukang lipat kardus pizza. Rumah mereka lembab, sempit, acak-acakan, dan bau. Karena posisi rumahnya lebih rendah dari jalanan bahkan selokan, mereka seringkali harus terkena debu, paparan asap penumpas serangga, hingga air kencing pemabuk yang pipis sembarangan. Hidup mereka sungguh menyedihkan dan tak ada manusia yang bermimpi punya hidup demikian. 
Keluarga Ki dengan pekerjaan sebagai tukang lipat kardus pizza. Sumber: polygon.com
Rumah keluarga Kim juga lebih rendah dari WC, dan itu spot terbaik dalam mendapatkan wifi gratisan. Sumber: polygon.com

Kedua keluarga yang tidak saling mengenal itu berubah karena Min-hyuk, temannya Ki-woo menawarkan pekerjaannya sebagai guru privat Bahasa Inggris Park Da-hye kepada Ki-woo karena ia harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. Kata "rekomendasi Min" menjadi senjata bagi Ki-woo untuk masuk ke keluarga Park, meski sebelumnya harus membuat ijazah palsu. Ki-woo yang lumayan ragu diterima dengan ramah oleh Nyonya Park, yang ternyata sangat ramah, terbuka dan supel. Rupanya, teknis mengajar Ki-woo mengesankan baik bagi Park De-hye maupun Nyonya Park. 

Dan gara-gara itu pula, si nyonya rumah ini curhat tentang anak bungsunya yang dianggap memiliki kemampuan spesial, dan itu tergambar melalui lukisan-lukisan yang dihasilkannya. Maka dari itu, penipuan tahap dua berlanjut. Ki-woo merekomendasikan seseorang bernama Jessica yang tak lain adalah Ki-jung untuk menjadi tutor melukis Park Da-song. Tentu saja Ki-jung membuat ijazah dan cerita palsu setelah browsing dari internet, dan juga memalsukan hubungan keluarga mereka kepada Nyonya Park. Keduanya pun sukses menjadi tutor berkelas bagi anak keluarga elit Korea Selatan tersebut (yang menurutku agak bodoh juga sih). 

Penipuan berantai keluarga Kim pun berlanjut ke tahap ketiga, yaitu membuat sopir Tuan Park dipecat demi memasukkan Pak Kim sebagai sopir baru. Metode menjijikkan ini dilakukan oleh Ki-jung yang hanya dengan melepaskan celana dalamnya di mobil Tuan Park membuat sang sopir dipecat atas tuduhan melakukan tindakan asusila pada Ki-jung. Keberhasilan atas penipuan tahap tiga ini dilanjutkan dengan penipuan penutup yaitu memanipulasi kondisi kesehatan pembantu Tuan Park demi memasukkan Ibu Choong-sook menjadi pengurus rumah alias asisten rumah tangga. Penipuan ini berhasil hanya dengan melakukan manipulasi atas kondisi kesehatan sang pembantu yang ternyata alergi terhadap buah plum. Tuan Pak dan Nyonya Park yang sangat perfeksionis dalam urusan kesehatan dan kebersihan pun memecat sang pembantu yang usia tinggalnya di rumah kaya tersebut justru lebih lama dari sang majikan. Oh, sungguh menyedihkan. 

Oke, seluruh anggota keluarga Kim sudah memasuki rumah keluarga Park dan mencicipi rasanya hidup sebagai orang elit Korea Selatan, meski statusnya sebagai pekerja. Sayangnya, mereka belum puas dalam melakukan aksi penipuan tersebut dan sangat tidak bisa dipercaya. Saat keluarga Park pergi untuk kemping disela-sela cuti khusus Tuan Park, keluarga Kim berniat menguasai rumah megah tersebut dengan bersantai bersama, ditemani makanan dan minuman keluarga majikan, sembari bermimpi bahwa kelak mereka akan memiliki rumah tersebut. Salah satu mimpi yang diaminkan adalah Ki-woo menikahi Park Da-hye, karena sesungguhnya sebagai tutor dan murid mereka sudah pacaran. 

Khayalan keluarga Kim tiba-tiba buyar saat sang pembantu meminta izin masuk untuk mengambil barangnya yang tertinggal di gudang. Kedatangan sang ex-PRT tersebut justru menyingkap rahasia terpendam rumah keluarga Park selama 4 tahun lamanya. Rumah tersebut ternyata memiliki bunker bawah tanah yang sengaja dibangun sang arsitek sebagai tempat perlindungan manakala terjadi bencana atau perang. Pintu masuk bunker tersebut ada di belakang lemari kaca tempat menyimpan berbagai jenis stoples kaca berisi acar. Di dalam bunker, ternyata ada seorang lelaki yang tak lain merupakan suami ex-PRT, yang bersembunyi dari kejaran rentenir karena dia tak sanggup membayar utang. Kenyataan pahit tersebut berujung perkelahian, karena akhirnya sang ex-PRT tahu bahwa keluarga Kim telah melakukan penipuan berantai pada keluarga Park dalam rangka merebut pekerjaan. 

Dalam perkelahian antar dua keluarga yang sama-sama dalam kondisi terancam identitasnya, keluara Kim memenangkan pertarungan sementara. Mereka berhasil melumpuhkan bahkan mengunci sepasang suami PRT di dalam bunker. Saat mereka baru saja bernapas lega, tiba-tiba Nyonya Park menelepon bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang, hanya 8 menit jaraknya. Kegiatan kemping dibatalkan karena hujan deras dan ia sangat membutuhkan makan ramen panas. Maka 8 menit adalah waktu yang sangat singkat bagi keluarga penipu untuk membereskan kekacauan di rumah sang majikan, hingga akhirnya mereka harus bersembunyi di bawah meja yang sangat besar. 

Saat itu hujan hebat. Namun, karena rumah mewah keluarga Park ada di bukit yang tinggi, maka efeknya tidak terasa. Dari ruang tengah, hujan justru nampak romantis bagi suami istri Park untuk bercinta di sofa sembari mengawasi anak bungsu mereka yang berkemah di lapangan, menggunakan tenda Indian yang dibeli dari Amerika. Saat sepasang suami istri Park sudah terlelap, barulah keluarga Kim bisa keluar dari rumah. Jarak antara rumah keluarga Park dan keluarga Kim sangat jauh dan kondisi hujan deras. Dan naasnya, saat tiba lokasi rumah mereka terendam banjir karena hujan deras dan kiriman air dari wilayah tinggi. Scene ini sungguh paling menyedihkan, terutama ketika Ki-jung harus menyelamatkan sejumlah uang dan rokok miliknya dari tempat persembunyian di dekat toilet yang taiknya muncrat kemana-mana. Rumah busuk mereka terendam sehingga harus mengungsi bersama ratusan warga korban banjir lainnya. 

Keesokan pagi, saat mereka terbangun di tengah ratusan pengungsi yang sedih atas nasib mereka, tiba-tiba Nyonya Park menelepon bahwa keluarganya memutuskan untuk membuat pesta ulang tahun bagi si bungsu Park Da-song. Pesta akan dilakukan di halaman. Karena itu, ia meminta Pak Ki untuk mengantarnya berbelanja bahan makanan dan akan membayarnya dengan uang lembur. Ia juga meminta Ki-jung menjadi bidadari dalam prosesi mengantarkan kue ulang tahun pada Park Da-song, yang mengalami trauma terkait kue ulang tahun. Dan tentu saja Park Da-hye meminta Ki-woo datang agar mereka bisa puas berpacaran saat orang lain sibuk merayakan pesta. 

Dalam keramaian pesta, penghuni bunker bisa membebaskan dirinya dan hendak membalas dendam pada keluarga Kim yang telah membunuh istrinya. Ia keluar dari bunker dengan wajar rusak penuh luka dengan membawa sebuah pisau. Saat keluar, ia bertemu dengan Ki-woo yang berniat membunuhnya dengan senjata sebuah batu. Naas, Ki-woo berhasil ditaklukkan dengan pendarahan di kepala akibat ditimpuk batu. Si manusia bunker berjalan cepat ke halaman, ke kerumunan pesta, lalu dengan cepat menusuk jantung Ki-Jung dan membuat Park Da-soong pingsan. 

Pak Kim sebagai orangtua Ki-jung jelas kaget melihat puteri cantiknya sekarat ditikam pisau, sementara Tuan Park cemas dengan nasib Park Da-Soong yang pingsan gara-gara melihat si manusia bunker. Pak Park meminta kunci mobil pada Pak Ki karena harus segera melarikan Da-soong ke rumah sakit, tanpa peduli pada nasib Ki-Jung. Rupanya kunci mobil yang dilempar jatuh ke tanah berumput hijau, tertimpa tubuh manusia bunker. Saat meraba-raba kunci mobil Tuan Park menurut hidungnya karena tidak tahan dengan aroma tubuh si manusia bunker. Hal ini menyebabkan Pak Kim murka karena sebelumnya Pak Park juga pernah menghina aroma tubuhnya yang serupa aroma lobak busuk. Tanpa ampun, Pak Kim mengambil pisau dari tangan manusia bunker dan menusuk jantung Tuan Park. Tragis dan menyedihkan sekali. 

SIAPAKAH YANG SEBENARNYA PARASIT? 
Di permukaan, dengan mudah kita menudingkan tangan pada sepasang suami istri ex-PRT dan keluarga Kim sebagai parasit di keluarga Park. Namun, berdasarkan sejumlah review film ini sesungguhnya tengah menyajikan potret kesenjangan sosial dan ekonomi masyarakat Korea Selatan. Pesan dalam film disampaikan dengan santai dan penuh lelucon, seakan-akan begitulah warga miskin Korea Selatan menjalani hidup mereka. Bahkan keluarga Park yang perfeksionis pun digambarkan agak sedikit bodoh karena masuk dalam jebakan penipuan keluarga Kim melalui fitnah dan hoaks terstruktur. Satu-satunya yang mencurigai terjadi sesuatu adalah si bocah Park Da-soong yang mampu mengenai aroma tubuh seluruh pekerja baru di rumah megah orangtuanya. Park Da-hye sang remaja yang dimabuk cinta justru tersumbat penciumannya, karena ia disajikan sangat menikmati saat-saat bermesraan dengan Ki-woo, yang tubuhnya juga bau lobak busuk. 

Apakah benar orang miskin aroma tubuhnya seperti bau lobak busuk? Aroma tubuh keluarga Kim terkesan seperti bau lobak busuk bukan karena mereka nggak pernah mandi atau memakai sabun tertentu atau deterjen tertentu, melainkan berasal dari kelembapan udara di rumah basement mereka. Di lain waktu, Pak Park juga menyampaikan bahwa ada perbedaan antara orang kaya yang selalu bepergian dengan kendaraan pribadi dengan masyarakat umum yang menggunakan kendaraan umum, yaitu aroma tubuh. Ya, aroma tubuh ini terkesan sepele. Tetapi sebenarnya menunjukkan kelas sosial dan kondisi ekonomi seseorang di Korea Selatan, dan mungkin juga di seluruh penjuru dunia.
Nyonya Park yang polos  Sumber: indiewire.com

Tragedi yang menimpa dua keluarga dari latar belakang berbeda ini sebenarnya bukan disengaja. Melainkan dari kesempatan yang disodorkan oleh kepolosan dan kebaikan hati Nyonya Park. Maklum, hidup Nyonya Park selalu mudah dan elegan, sehingga ia tidak punya kesempatan untuk mencium aroma kejahilan keluarga Kim. Sebab, selama 4 tahun lamanya ia pun tak mampu mencium kehadiran seseorang di dalam bunker yang menumpang makan-minum di rumah mereka, dan mungkin keluarga Park sama sekali nggak tahu kalau rumah yang mereka tinggali memiliki bunker. Nyonya Park sangat sangat sibuk memastikan rumahnya selalu bersih dan rapi; anjing-anjing mahalnya diberi makanan berbeda yang juga mahal; taman selalu segar dan hijau; dan tidak boleh ada kesalahan yang bisa menimbulkan kemarahan Tuan Park yang sempurna. Apakah demikian tipikal para Nyonya konglomerat Korea Selatan? 

BACA JUGA: Parasite Wangi Boong Joon-ho

"Parasite" hanya menyajikan sedikit saja gambaran atas kesenjangan di Korea Selatan. Karena sesungguhnya kehidupan di negara yang sedang naik daun tersebut nggak seindah yang dilihat para penggemar K-Drama di layar kaca. Bahkan, menurut OECD Life Index, Korea Selatan merupakan negara dengan peringkat terendah kebahagiaan warganya. Ada banyak hal yang membuat hidup di Korea Selatan terasa sangat berat. Misalnya, musim dingin di Korea Selatan sangat menyiksa, meski nggak separah di Russia. Musim dingin di Korea Selatan juga diperparah dengan semburan debu kuning dari gurun-gurun di Mongol, badai dan angin kencang. Hidup orang Korea Selatan juga tidak pernah bisa bersantai. Mereka selalu berjalan cepat-cepat atau berlari kesana-kemari seakan-akan harus mencapai suatu target yang membuat hidup penuh tekanan. Belum lagi soal bullying yang sangat umum baik di sekolah maupun kampus. Bullying bahkan sangat lumrah dilakukan oleh mereka yang berasal dari keluarga kaya pada keluarga miskin. 

Hal lain adalah soal standar kecantikan dan akademik yang nggak realistis. Orang Korea Selatan dituntut tampan dan cantik, agar bisa mendapatkan perlakuan baik. Para pelajar dan mahasiswa Korea Selatan juga dituntut terus belajar, belajar dan belajar dan dilarang pulang ke rumah dibawah jam 10 malam. Sehingga orang Korea Selatan juga hidup hanya untuk memenangkan kompetisi, dan lupa belajar untuk kepentingan diri sendiri. 

Sementara itu, meski Korea Selatan merupakan negara modern dan maju, namun kesenjangan ekonomi dan sosial sangat terasa. Pendapatan warganya sangat jomplang, yang mengakibatkan orang-orang miskin tidak memiliki kekuasaan bahkan dalam menyatakan pendapat. Trus, gara-gara konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan nggak pernah berhenti, semua lelaki Korsel diwajibkan menjalani Wajib Militer selama 18 bulan. Hal ini membuat banyak pemuda Korsel stress dan memilih meninggalkan Korea Selatan demi menghindari wajib militer. Semua masalah itu membuat mereka stress banget. 

Ketimpangan di Korea Selatan juga bisa dipelajari dari lagu-lagu satire yang dibawakan oleh musisi Psy, seperti yang berjudul "Gangnam Style" yang mendunia. Gangnam merupakan sebuah lokasi di selatan kota Seoul, yang dihuni 1% warga Korea Selatan. Jika zaman kerajaan pusat kekuasaan dan ekonomi ada di wilayah utara, maka kini ada di Gangnam, di wilayah selatan sungai Han. Ia adalah surga di mana kaum elit Korea Selatan mengendalikan segalanya tentang negara itu. Bayangkan, biaya rata-rata 1 unit apartemen di Gangnam adalah US$ 716 ribu, yang butuh 18 tahun bagi warga biasa untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Gangnam memang sebuah wilayah yang kecil, namun disana merupakan percampuran antara iri, ambisi, keinginan dan kebencian. Dan Gangnam Style adalah satire dari bentuk ketidakpuasan. 

Demikianlah review aku tentang film "Parasite" yang mengenaskan itu. Semoga bermanfaat. 

Jakarta, 18 Agustus 2019

Bahan Bacaan: 
https://www.hollywoodreporter.com/review/parasite-review-1212755
https://www.polygon.com/2019/5/25/18637592/parasite-review-bong-joon-ho-cannes-2019
https://tirto.id/parasite-tragikomedi-kesenjangan-sosial-yang-nyaris-sempurna-ec42
https://www.abc.net.au/news/2019-06-26/parasite-film-review-bong-joon-ho-korean-tragicomedy/11241462
https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/grace/kalau-kamu-masih-anggap-kehidupan-di-korea-seindah-k-drama-kamu-salah-besar/full
https://seleb.tempo.co/read/439469/gangnam-style-satire-ketimpangan-sosial-di-korsel/full&view=ok
https://tirto.id/mengenal-chaebol-konglomerasi-raksasa-ala-korea-selatan-eek5
https://indoprogress.com/2019/07/parasit-wangi-bong-joon-ho%EF%BB%BF/
https://en.wikipedia.org/wiki/Chaebol
https://www.gfmag.com/global-data/economic-data/wealth-distribution-income-inequality


No comments:

Post a Comment