Mau Liburan ke Bali Gratis? Yuk Gabung aja di Danone Blogger Academy 2019

Senyum bahagia. Foto oleh: Andri Mastriyanto

"I can shake everything as I write; 
my sorrows disappear, my courage is reborn."

-Anne Frank- 

Halo, salam kenal. Aku adalah Wijatnika Ika dan merupakan peserta Danone Blogger Academy 2018 (DBA 2018). Waktu itu aku tahu tentang info mengenai pendaftaran DBA 2018 karena memang suka kepo informasi lomba blog. Meski aku bukan blogger yang fokus menulis isu kesehatan dan lingkungan, akhirnya aku memberanikan diri mendaftar. Aku memilih mendaftarkan satu artikel terbaik yang pernah kutulis, dan kupikir masuk ke kategori isu kesehatan dan lingkungan. Kucoba ingat-ingat kembali artikel apa yang kusubmit waktu aku, tak mampu lagi aku mengingatnya. Namun kepastian yang hakiki tahun lalu adalah bahwa aku termasuk ke dalam 20 peserta DBA 2018. Alhamdulillah, rezeki anak soleha eaaaa.
Jadi peserta DBA 2018 adalah hadiah terindah tahun lalu

Kegiatan DBA 2018 sendiri terdiri atas kelas offline, kelas online dan kunjungan lapangan. Kelas offline dilaksanakan di dua tempat berbeda dalam kurun waktu berbeda. Kelas offline pertama dilaksanakan di Jakarta, di Danone Academy. Di kelas ini kami belajar tentang air, gizi, lingkungan hidup, stunting, fotografi, vlogging, dan menulis dengan teknik story telling. Kelas offline kedua dilakukan di Surakarta, Jawa Tengah, di mana kami mempresentasikan calon tulisan final kami dihadapan mentor dan asisten mentor. 

Nah, mentor kami adalah bang Pepih Nugraha, seorang jurnalis kawakan. Sementara asisten mentornya adalah Mbak Nur dan Mas Yakob, dari Kompasiana. Melalui bantuan Mentor dan Asisten Mentor, tulisan masing-masing kami akan diterbitkan di akun Kompasiana (dan dilombakan dong) dan dikompilasi menjadi sebuah buku. Sementara kegiatan kunjungan lapangan dilakukan di pabrik PT. Tirta Investama (Aqua) dan PT. Sari Husada yang merupakan anak perusahaan Danone. 
Aku bersama 19 peserta DBA 2018 lain saat menjalani kelas offline di Danone Academy di Jakarta. Foto: Kompasiana

Sebagai orang introvert yang tidak terlalu suka mengikuti kegiatan-kegiatan dengan orang yang begitu ramai, aku tidak terlalu banyak kenal para blogger di area Jadeboatebek. terlebih ada dua peserta yang merupakan Kompasianer of the Year tahun 2012 dan 2016. Jadi, ketika kelas dimulai, aku tak mengenal satupun ke 19 peserta DBA 2018. Meskipun aku tahu bahwa beberapa orang diantara mereka saling mengenal satu sama lain. Namun, karena tabiat para blogger adalah ramah dan suka dengan suasana baru, kami sama sekali tidak mengalami kecanggungan. Suasana belajar begitu hangat, cair, nyaman dan menyenangkan. Terlebih kami sering dibuat heboh oleh kegiatan ice breaker atau lomba medsos yang berhadiah sejumlah uang (kan lumayan ya buat jajan)

KELAS TERBAIK PLUS GURU TERBAIK
Adalah sebuah anugerah ketika aku menjadi bagian dari DBA 2018. Sebagai seorang blogger dan penulis yang masih harus belajar, pembelajaran di kelas DBA 2018 sangat membantuku membenahi sudut pandangku dalam menulis. Menjadi Blogger bukanlah menjadi seorang penulis asal-asalan, karena bagaimanapun juga tulisan seorang Blogger akan dibaca publik lintas wilayah. Seorang Blogger memiliki tanggung jawab memberikan informasi yang benar kepada pembaca sebagai penulis lain. Sehingga, kelas DBA 2018 ini benar-benar memberiku arahan bagaimana menjadi seorang Blogger yang tulisannya bisa dipertanggung jawabkan. 

BACA DULU: Danone Blogger Academy 2018, Paket Komplit Kelas Blogging Persembahan Danone dan Kompasiana

Kelas DBA 2018 bertema "Nutrisi Menyeluruh Untuk Hidup Berkelanjutan" di mana tema ini mengikat berbagai isu mulai dari air, gizi, hingga kesehatan lingkungan. Sebagai lajang, aku benar-benar mendapatkan pencerahan mengenai gizi manusia yang ternyata di mulai dari tubuh seorang perempuan, bahkan sebelum si perempuan menikah dan menjalani program kehamilan. Kehidupan seorang manusia ditentukan oleh yang disebut sebagai "Periode Emas" atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

Nah, periode 1.000 HPK ini dimulai sejak perempuan mengalami konsepsi di rahimnya hingga anak yang dilahirkannya berusia 2 tahun [KLIK DISINI: 1.000 Hari Pertama Kehidupan]. Periode emas 1.000 HPK ini merupakan penentu nasib seorang manusia, dan berhasil atau gagalnya periode ini ditentukan oleh pemahaman orangtua dan lingkungan, khususnya perempuan sebagai calon ibu. Misalnya nih, sebelum menikah dan hamil, perempuan harus dalam kondisi sehat dan bebas dari anemia dan sejumlah penyakit lain yang bisa mengganggu transfer nutrisi kepada janin dalam kandungan. 

Kesehatan ibu dan anak secara lebih luas ternyata dipengaruhi oleh kesehatan lingkungan, termasuk soal akses pada air bersih, sanitasi dan lain-lain. Dalam kelas DBA ini kami juga belajar mengenai tata air dan pengaruhnya pada kesehatan lingkungan bersama seorang pakar bernama Dr. Ir. Nana Mulyana Arifwijaya, seorang dosen dari Institut Pertanian Bogor yang juga merupakan pakar di bidang konservasi tanah dan air, integrasi pengelolaan sumber daya air, pengelolaan daerah aliran sungai, hidrologi hutan, SWAT model dan modeling spasial. Silakan [KLIK DISINI: Merawat Air Sebagai Sumber Kehidupan] untuk mengetahui segala hal tentang air bagi kehidupan berkelanjutan

Karena seorang Blogger adalah penulis multi-talenta, di mana ia harus juga mampu menguasai teknik pengambilan foto dan editing foto, dan teknik pembuatan-editing video, maka kami juga dibekali dengan materi tentang fotografi dan vlogging. Guru kami di kelas fotografi adalah Arbain Rambey, seorang fotografer senior yang sudah malang melintang di dunia fotografi. Memahami dasar fotografi sangat membantu seorang Blogger dalam membuat tulisannya hidup sekaligus memberikan informasi menyeluruh mengenai tema yang ditulis, terlebih jika tulisan menceritakan tentang suatu kejadian nyata. 

Story telling, adalah materi yang menurutku sangat istimewa dari kelas DBA 2018. Karena dalam menulis, seorang blogger harus mampu memikat pembaca dengan menggunakan teknik menulis yang baik. Sebagai penulis, seorang blogger harus mampu menghadirkan tulisan renyah, ringan, mengalir, santai dan mudah dimengerti pembaca, meskipun tema yang dibahas dalam tulisan merupakan tema berat misalnya isu kesehatan yang tentunya harus juga menghadirkan data. Kelas menulis dengan story telling bertajuk "Menulis Kisah Kesehatan Dengan Bertutur" ini diampu oleh Wisnu Nugroho, Editor in Chief Kompas.com

Well, seluruh pembelajaran di kelas memang sangat padat namun menyenangkan. Terlebih dengan narasumber berkelas yang tidak semua orang Indonesia punya kesempatan emas belajar bersama mereka. Sebagai hasil pembelajaran bersama mereka, pembaca bisa menemukan bahwa aku telah melakukan berbagai perbaikan untuk bloggku di www.wijatnikaika.id khususnya dalam tulisan-tulisanku yang lebih kaya data dan tidak mengandung informasi palsu, terlebih ujaran kebencian. Kesadaran untuk menjadi bagian dari upaya melawan hoaks dan ujaran kebencian membuatku bertekad, bahwa hasil pembelajaran di DBA 2018 harus menjadi blogger dan penulis berintegritas. 

KE KLATEN, MELIHAT SUMUR PURBA BERUSIA 1.500 TAHUN
Oke, mari bicara tentang kunjungan lapangan ke Klaten. Perjalanan ke Klaten ini dilakukan sehari penuh ke beberapa lokasi dimulai dari kunjungan ke PT. Sari Husada, PT. Tirta Investama (pabrik Aqua Klaten) dan sejumlah desa dampingan PT. Tirta Investama untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahan AMDK paling besar di Indonesia ini. 
Salah satu spot di pabrik Aqua di Klaten, Jawa Tengah

Di pabrik Aqua ini kami bertemu dengan sejumlah orang dari manajemen untuk berbagi informasi tentang kegiatan pabrik tersebut, terutama terkait pengelolaan sumber daya air yang menjadi bahan baku produk mereka yaitu Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan brand Aqua. Oh ya, pada sesi ini aku bertemu dengan seorang seniorku ketika bekerja di sebuah NGO Lingkungan Hidup di Lampung. Beliau merasa senang aku menjadi bagian dari DBA 2018 dan menyarankan aku mempelajari sebanyak mungkin hal-hal terkait isu lingkungan dan pemanfaatan sumber daya air. 

Kegiatan kami dilanjutkan dengan memasuki pabrik di mana kami mendapatkan gambaran langsung mengenai pengolahan dan pengemasan setiap botol air Aqua. Pabrik tersebut sangat steril dan ya kami tidak diperbolehkan mendokumentasikan isinya. Namun, ingatan tentang isi pabrik itu masih melekat di kepalaku dan kubagi kepada pembaca bagian luar pabrik saja ya. 
Praktek mencuci tangan dengan baik dan benar di Taman Kehati Aqua. Foto: Kompasiana
Sebagian peserta DBA 2018 saat mendapat penjelasan dari pihak Aqua di depan bangunan yang disebut Rumah Sumber

Nah, kunjungan paling berkesan adalah saat kami dibawa ke Taman Kehati milik Aqua, di mana di taman ini ditumbuhkan beragam jenis tumbuhan dan pohon yang nyaris punah karena erupsi merapi. Di Taman Kehati ini juga terdapat beberapa Rumah Sumber di mana di dalamnya terdapat sumur purba yang menjadi bahan baku produk PT. Tirta Investama. 

"Apakah warga sekitar boleh masuk ke area ini?" tanyaku. 

"Oh tidak boleh. Karena ini area khusus yang digunakan untuk menjaga agar sumber air kita terjaga dan aman. Kita upayakan wilayah ini steril, hanya dimasuki oleh petugas yang bekerja saja," ujarnya.

Kami diajak masuk ke Rumah Sumber 1. Didalamnya ada sebuah tabung yang mirip dengan tabung untuk memerah susu sapi, yang bentuknya sangat besar dan sangat dingin. Saat penutup tabung dibuka, mataku dapat melihat air bergolak dibawah lapisan kaca tebal. Ya, itulah ternyata sumber air yang berasal dari kedalaman bumi. Sumber air inilah yang menjadi bahan baku ADMK yang diproduksi PT. Tirta Investama (Aqua) Klaten dengan merk Aqua dalam bentuk botolan maupun galon, juga merk Mizone. Air itu bergolak, menggodaku untuk terus memandanginya dengan ketakjuban yang tak usai. Rasanya, sukmaku tersedot masuk, menari bersama air yang bergolak, menjadi bumi.  

Setelah berpuas menyaksikan air yang bergolak dari dalam bumi dalam sumur yang dilindungi sedemikian rupa, tim dari Aqua memberikan penjelasan mengenai status air yang menjadi bahan baku bisnis Aqua. Kami bergerak menuju sumber informasi lain, yaitu sebuah peta berbingkai di dinding putih, berisi informasi tentang akuifer timur Merapi yang melingkupi wilayah Klaten, hasil penelitian kerjasama Danone dan Universitas Gajah Mada. Peta itu menggambarkan bahwa jauh di kedalaman bumi, ada lapisan yang menyimpan air purba yang usianya mencapai 1.500an tahun. Air itu tersimpan lama disana setelah melalui perjalanan panjang dari wilayah Merapi sampai ke area paling landai. 

"Nah, kawasan berwarna biru ini merupakan wilayah yang paling banyak mengandung air dan sumber air Aqua ada disini," tunjuk si Mas pada wilayah biru di peta. Tenggorokanku tercekat seketika saat menyadari bahwa kini aku berdiri diatas tanah yang serupa harta karun paling diburu. Kulihat beberapa tanda berbentuk bulat berwarna biru muda dalam bagian peta berwarna biru agak tua, yang menunjukkan keberadaan rumah rumah sumber tempat aku dan teman-temanku berdiri. Ya, kami berdiri diatas tanah berkelimpahan air.


"Pantes ya airnya enak. Ternyata usianya sudah 1500an tahun," ujar temanku, Lutfiah dengan mimik wajah serius bercampur ketakjuban yang tak dapat dijelaskan kata-kata. 
"Iya. Ini sumber air yang sangat berharga," ujar si Mas sembari tersenyum bijaksana.
"Terima kasih ya Mas untuk informasinya," ujar seseorang diantara kami, sebelum keluar Rumah Sumber 1 yang sangat istimewa ini. Dengan perasaan bahagia, kusambut kembali gelimang cahaya matahari di Taman Kehati Aqua Klaten dengan pepohonan yang menari, ikut merasakan kegembiraan  peserta #DanoneBloggerAcademy2018 yang meluap-luap.

Sebuah kolam yang bening di samping pagar pembatas lokasi Taman Kehati dan pemukiman warga. Kolam tersebut dimanfaatkan warga sekitar untuk berenang dan berendam

Tak jauh dari Rumah Sumber Air 1 yang telah kami kunjungi dan pelajari dengan kekaguman melangit bagai melihat pangeran tampan, aku mendekati pagar pembatas di mana beberapa orang warga sedang asyik bermain-main di kolam yang sangat jernih. Sepertinya mereka begitu bahagia dapat menikmati dinginnya air kolam di tengah musim kemarau yang membakar. Aku tersenyum iri melihat kegembiraan mereka yang sederhana.  

"Hai, Mbak dan Mas. Ini air dari Aqua atau ada mata air?" tanyaku setengah berteriak.
"Wah, kalau ini ada mata air didalam sini, Mbak!" ujar seorang lelaki yang asyik berendam. 
"Airnya dingin banget nggak?" tanyaku lagi, penasaran. Juga ingin berendam didalamnya. Melihat kolam yang jernih dan segar di hari yang sangat panas membuatku terpikat ikut bersenang-senang dengan warga. 
"Wah, ini dingin sekali, Mbak. Sini kalau mau mandi," teriak seorang perempuan, seolah mengerti kegelisan yang kurasakan karena tak mampu menikmati kesegaran air kolam seperti mereka. 


MENERBITKAN BUKU
Setelah melewati seluruh tahapan pembelajaran dan jalan-jalan di DBA 2018, akhirnya tibalah masa wisuda dan launching buku karya kami semua. Masa wisuda dan launching buku dilaksanakan di dua tempat dan momen berbeda. Nah, tiga orang rekan kami bernama Andri Mastriyanto, Pringadi Adi Surya dan Nurul Innayah menjadi pemenang kategori best story telling. Yup, karya mereka memang bagus terutama Innayah yang berhasil memberi nilai tambah pada tulisannya dengan video yang sebagiannya diambil dari udara oleh drone, karena Innayah memang pilot drone. 

BACA DISINI: Gizi Penopang Negeri, Buku Karya Peserta Danone Blogger Academy 

Buku tersebut berjudul "Gizi Penopang Negeri: Karya 40 Danone Blogger Academy" di mana buku ini ditulis oleh 80 orang peserta DBA 2017 dan DBA 2018. Buku ini sendiri merupakan karyaku ke ke 5 dan aku bangga buku ini terbit dan namaku tertulis didalamnya dengan indah dan membanggakan. Buku ini adalah hasil dari sebuah proses pembelajaran, disela-sela aktivitas utama kami semua sebagai pekerja di berbagai sektor. 
Aku bersama para Asisten Mentor DBA 2018 dalam acara launching buku kami. Foto koleksi pribadi
Aku dan buku kelimaku. Maafkan wajahku yang berminyak ya. Foto oleh Ani Berta. 
Tulisanku bisa dibaca di halaman 128 ya. 

Kuberi tahu padamu, bahwa menjadi penulis itu istimewa. Ia bisa bekerja di mana saja, kapan saja, bahkan meski pekerjaan utamanya adalah karyawan di sebuah perusahaan atau instansi milik negara. Menulis membutuhkan keberanian dan usaha keras, terutama jika kita menulis tentang tema-tema tertentu yang diharuskan menyajikan data, seperti isu kesehatan. Dan semoga, siapapun yang beruntung menjadi peserta DBA 2019 akan semakin tumbuh menjadi blogger-blogger hebat yang memajukan dunia literasi tanah air. 

MAU IKUT DBA 2019 DI BALI? 
Tahun 2019 ini DBA kembali dibuka dan kabarnya seluruh kegiatan akan dilakukan di Bali. Sebagai peserta DBA 2019 aku merasa sangat iri kepada calon peserta DBA 2019 karena bagaimanapun juga Bali adalah destinasi wisata impian semua orang. Dengan menjadi peserta DBA 2019, otomatis sekalian berwisata ke Bali. Sungguh, sekali mendayung dua kesenangan terlampaui! Ya Tuhan, aku juga ingin ikut ke Bali bersama peserta DBA 2019. 
Kenapa sih harus bergabung di DBA 2019? Sumber: Kompasiana

Oh ya, jika pembaca ingin menjadi peserta DBA 2019, buruan mendaftar. Jangan lupa daftarkan tulisan terbaik sesuai tema DBA 2019 ya. Karena seleksi peserta tahun ini sangat ketat, di mana hanya akan dipilih 10 orang peserta saja yang berhak mengikuti DBA 2019. 

Setiap Blogger memiliki kesempatan yang sama mendapatkan kursi DBA 2019 dan belajar dari pakar terbaik. Caranya gampang saja. Silakan buka link pendaftaran berikut ini dan daftarkan dirimu serta sumbut artikelmu sesuai tema ya. Trus, jangan lupa sebutkan namaku sebagai pemberi rekomendasi keikutsertaan kamu dalam DBA 2019. 


[KLIK DISISI: PENDAFTARAN DANONE BLOGGER ACADEMY 2019]


Nah, saat melakukan pendaftaran dan menemukan bagian "Dari mana Anda mengetahui informasi tentang Danone Blogger Academy 3?" maka sebaiknya kamu mengatakan mengetahuinya dariku, yaitu alumni DBA 2 bernama Wijatnika Ika. Mengapa? Agar aku dan kamu sama-sama bertemu di Bali. 

Saat kamu mendaftar di DBA 2019, jangan lupa sebutkan namaku ya

Sebagai peserta DBA 2018, aku sangat merekomendasikan akademi menulis ini karena terbukti banyak membantuku dalam melakukan berbagai perubahan mendasar dalam menulis. Di era digital ini kita semua tahu bahwa informasi palsu (hoaks) dan ujaran kebencian begitu mudah ditemui. Oleh karena itu, sebagai Blogger kita wajib berjuang menjadi pegiat literasi yang menulis untuk menginformasikan kebenaran dan kebaikan. Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian dan semoga tulisan-tulisan kita menjadi saksi abadi, bahwa kita berjuang untuk kehidupan yang lebih baik melalui tulisan. Sampai jumpa di Bali!

Eh, memangnya aku bakal ke Bali ya? 


Hm, jadi begini. Tulisan ini kubuat sebagai tiket masuk untuk mengikuti DBA 2019. Kami para alumni DBA 2018 dan 2018 ditantang untuk memperjuangkan tiket masuk itu, dan tentu saja bukan untuk leyeh-leyeh. Melainkan untuk berpartisipasi memberikan keahlian terbaik kami kepada para peserta DBA 2019. Kalua misalnya aku terpilih nih, tugasku justru berat karena harus membantu pihak Danone dan Kompasiana di 3 periode penting DBA 2019, yaitu: masa persiapan, masa akademi dan pasca pengumuman pemenangan akademi.  Sepertinya penyelenggara akan menjadikan pemenang sebagai asisten di segala kegiatan DBA 2019. 


Selain itu, kami harus melainkan peran berikut ini: 1) berperan sebagai rekan diskusi DBA 2019; 2) membagikan setidaknya satu soft skill yang bersangkutan dengan blogging kepada peserta; dan 3) berpartisipasi aktif membantu mentor dan asisten mentor. Wuahhhhh banyak sekali tugasnya ya. Impian bersantai buyar sudah hahaha. 


"Menulis adalah sebuah keberanian." 
-Pramoedya Ananta Toer-

Baiklah, jika aku diberikan kesempatan untuk menjadi alumni DBA 2018 yang diajak ke Bali dalam pembelajaran bersama peserta DBA 2019, maka aku akan membagikan satu soft skill terbaikku kepada peserta, tentu saja tentang menulis dengan teknik bertutur. Aku memang bukan yang terbaik dalam teknik bertutur jika dibandingkan dengan ketiga rekanku yang menjadi pemenang dalam kompetisi menulis di DBA 2018. Tapi aku berjanji bahwa menulis dengan teknik bertutur ala aku sangat khas, unik dan tentu saja otentik. 

Pembaca, dukung dan doakan aku dipilih ikut ke Bali ya akan aku bisa belajar bersama peserta DBA 2019. Karena goal utamaku adalah: mendapatkan ilmu yang sama dengan yang diperoleh peserta DBA 2019 demi meningkatkan keterampilanku dalam menulis. Akhir kata, sampai jumpa di Pulau Dewata!


Jakarta, 10 Agustus 2019

No comments:

Post a Comment