Forest Debussy, Kisah Menyembuhkan Diri di Kedalaman Hutan

Forest Debussy. Sumber: taiwancinema.com

"Nature in all its vastness truthfully reflected 
in my sincere though feeble soul" 

-Claude Debussy-


Seorang ibu membawa anak perempuannya untuk menyepi ke kedalaman hutan. Si anak perempuan mengalami trauma karena suami dan anaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sang Ibu juga punya alasan lain terkait keluarga mereka dan mungkin terkait harta benda sehingga memilih bersembunyi di kedalaman hutan. 

Hutan merupakan keindahan yang liar, keras dan misterius. Begitulah film ini dibuka melalui seorang sang anak perempuan yang tengah terlelap diantara bebatuan besar, rerumputan, semilir angin dan binatang-binatang kecil yang sibuk menjalankan kehidupan. Tiba-tiba bahu sang anak perempuan ditepuk oleh seseorang, entah siapa. Sang anak perempuan terbangun dan mulai mengikuti suara-suara yang memanggilnya. Ia terus berjalan dan berlari kecil, jauh ke kedalam hutan bambu sembari berkali-kali memanggil "Baby..." hingga ia sampai pada kenyataan bahwa ia sedang bermimpi. Angin berhembus, misterius. Sebuah pembuka yang menakutkan bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam keramaian kota. 
Bertahan hidup di kedalaman hutan. Sumber: goldenhorse.org.tw

Tidak dijelaskan bagaimana Ibu dan anak ini kok tiba di hutan, sedangkan mereka manusia kota dan jelas orang kaya. Realitas bahwa mereka orang kota tergambar dari cara mereka membuat tempat bernaung, cuma bermodal terpal dan matras. Barang-barang yang mereka bawa dalam carrier ukuran 60 kg mungkin hanya pakaian, selimut dan bahan makanan. Saat malam tiba, mereka tidur gitu aja dan saat hujan tiba mereka dalam kondisi kedinginan yang mengenaskan. Sang anak nampaknya benar-benar depresi, sementara sang ibu cukup semangat dalam menjalani hari-hari mereka di hutan yang sepi. Saat persediaan makanan habis, mereka mencari dedaunan dan pakis hutan, dan memancing ikan. 

Sang ibu mengajari anaknya memilih jenis dedaunan atau pakis atau jamur yang bisa dimakan. Ia mengatakan bahwa meski dia hidup di kota sekian tahun lamanya, namun tidak melupakan pelajaran dari Ibunya (nenek si anak) terkait teknik bertahan hidup. Si anak hanya menurut dan terkesan sangat rapuh sehingga sepenuhnya bergantung pada ibunya. 
Sang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya. Sumber: taiwancinema.com 

Sepanjang film, ada flasback berupa ingatan si anak perempuan tentang latar belakangnya, bahwa ia seorang pianis, ia memiliki suami dan seorang anak lelaki, ide suaminya yang ditentangnya soal hendak mendirikan sebuah tempat pertunjukan seni di wilayah konservasi, dan hal-hal lain. Film ini sangat sedikit informasi dan sangattttttttt lambat. Seingatku, ini film terlambat yang pernah kutonton. Sungguh baik dalam menguji kesabaran. 
Tinggal di gua dalam kondisi kelaparan yang mengenaskan. Sumber: taiwancinema.com
Saat sang ibu begitu khawatir ketika sang anak demam. Sumber: taiwancinema.com

Ada satu masa, anak dan ibu ini pindah lokasi ke sebuah gua karena mereka harus lari dari kejaran polisi hutan yang sedang berpatroli. Tinggal di dalam gua membuat mereka merasa lebih aman, dan lebih hangat. Tetapi juga mereka benar-benar kehabisan makanan. Dalam proses mencari kayu bakar, sang ibu dipatok ular dan sekarat. Saat ditemukan, sang anak berusaha menghalau penyebaran racun dan berusaha membawa ibunya kembali ke gua dengan menggendongnya. Sayangnya, haru mulai gelap dan si anak tersasar. Dalam perjalanan yang menyedihkan itu sang ibu meninggal dan si anak mereka benar-benar merana. Di malam gelap, tanpa cahaya bulan sedikitpun, dia terduduk pasrah pada alam. Ia menyerahkan dirinya dan hidupnya dengan mencoba menggantung diri. Sayangnya, dia malah terjatuh. Ia pun gagal mati. 

Dan film ini selesai begitu saja, tanpa solusi. Si anak sendiri dan entah apa yang dipikirkannya. 

Oke, film ini terasa sangat membosankan. Namun demikian, selain menguji kesabaran penonton, ternyata film ini juga menyuguhkan semacam 'bantuan' untuk bertahan hidup dan menemukan diri sendiri. Manusia, dengan segala hal dalam hidupnya seringkali berusaha melarikan diri bukan hanya dari masalah, tantangan, juga dari dirinya sendiri. Kupikir ide seorang ibu membawa anaknya yang stress ke kedalaman hutan ada bagusnya, untuk mengembalikan manusia kepada habitat sesungguhnya sebelum banyak tempat di bumi menjadi kota-kota yang sibuk, padat dan bising. 

Dalam pencarian itu pula, digambarkan perjuangan sang anak yang telah sebatang kara di kedalaman hutan untuk melawan niat sebuah korporasi yang 'menjual' hutan yang tersisa di Taiwan. Pada suatu perjalanan yang membawanya ke sebuah ketinggian, ia melihat sebuah plang yang menyatakan bahwa wilayah tersebut di jual. Padahal sejauh mata memandang, wilayah tersebut adalah hutan yang murni. Maka si anak menggunakan tubuhnya untuk merubuhkan plang tersebut dan membakar kayunya di gua. Mungkin, ini pesan sebenarnya film membosankan tapi berkesan ini. 

Btw, film ini terinspirasi dari seorang komposer berkebangsaan Perancis bernama Claude Debussy yang karya-karyanya terinspirasi dari alam. Dan memang, soundtrack film ini banyak sekali memperdengarkan musik dari piano. Lokasi syuting film ini di hutan Alisyan, Chiyai dan dibiayai oleh Kementerian Kebudayaan Taiwan. 
  
Jakarta, 16 Agustus 2019

No comments:

Post a Comment