Cantik itu Luka, Mahal dan Rasis

Liza Soberano, model peranakan Amerika-Filipina yang dinobatkan sebagai perempuan paling cantik nomor 3 di dunia versi Wonderlist dalam "Top 20 Most Beautiful Faces in the World 2019" Sumber: brightside.me


"Beauty is grace and confidence. I've learned to accept and appreciate what nature gave me."

-Lindsay Lohan-

Suatu sore saat main Instagram, aku menemukan satu postingan yang berasal dari screenshoot seseorang di dunia Facebook. Keterangan dalam screenshoot tersebut kurang lebih menyatakan bahwa ada seorang lelaki dengan gaji bulanan Rp. 1.5 juta mau menambah istri, tapi syaratnya istrinya harus cantik, muda dan bening. Sontak saja aku tertawa terbahak-bahak. Ya ampun! Hari gini masih aja ada lelaki bodoh yang punya mimpi super bodoh soal pernikahan kedua dengan syarat bejibun sementara dirinya adalah jenis warga negara dengan penghasilan ngenes. Menjalani hidup lajang di gunung sekalipun uang segitu mana cukup untuk satu bulan, lha ini mau nambah istri yang bening bagai bidadari pula. Dia kira harga perawatan kecantikan semurah harga gorengan apa?

Atau mungkin kita pernah mendengar kata-kata yang diucapkan lelaki bahwa mereka tidak suka perempuan dengan make up dan lebih menyukai perempuan cantik alami. Tapi well, pas pacaran atau nikah dia ya maunya sama perempuan cantik hasil perawatan. Atau ada perempuan yang dinikahi karena selagi muda dia memang cantik alami, namun karena suaminya nggak memberi anggaran perawatan berselang tahun dia jadi nggak cantik lagi. Lalu si suami meminta izin untuk menikah lagi dengan alasan ibadah, padahal sejatinya dia butuh perempuan baru yang lebih segar, muda dan cantik yang menarik perhatiannya secara seksual. Hidup memang rumit. Tapi urusan kecantikan lebih complicated. 

CANTIK ITU LUKA
Ada banyak kisah tentang kecantikan yang berakhir luka bahkan kematian, khususnya pada perempuan. Karena eh ada lho lelaki yang terlahir dengan wajah cantik. Dalam novel berjudul "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan, diceritakan seorang perempuan peranakan Belanda bernama Dewi Ayu yang kecantikannya menyebabkan dia dipaksa menjadi pelacur saat penjajahan Jepang. Karena di cantik dan mampu merawat kecantikannya, dia menjadi pelacur kesayangan dan selama hidupnya telah tidur dengan ratusan lelaki bahkan setelah masa kemerdekaan. Dari kegiatan melacurnya, dia melahirkan empat orang anak perempuan. Tiga anak pertama sangat cantik dan bernasib tragis karena kecantikan mereka. Bahkan anak keempatnya yang buruk rupa bagai genderuwo bernasib tak kalah tragis karena menjadi korban pelampiasan hasrat seksual sepupunya sendiri yang melarikan diri dari kecantikan yang menyedihkan. Cantik atau buruk rupa sama saja, selama perempuan memiliki vagina maka ia akan tetap dilukai. 

Dalam novel itu pula dikisahkan tentang seorang puteri bernama Rengganis yang kecantikannya bahkan membuat ayahnya birahi kepadanya dan ibunya hendak membunuhnya karena cemburu. Kecantikannya menyebabkan peperangan dan banjir darah. Hingga ia harus melarikan diri dari istana yang membesarkannya dan mengawini seekor anjing sebagai sumpahnya untuk menyelamatkan orang-orang dari kematian akibat memperebutkan dirinya karena kecantikannya yang mematikan. 

Kisah lain tentang kecantikan juga mengingatkan kita pada legenda gunung Tangkuban Perahu yang berasal dari gagalnya upaya Sangkuriang menjalankan syarat untuk menikahi ibunya sendiri yang muda dan cantik, yaitu Dayang Sumbi. Bahkan di era kemerdekaan, ada seorang perempuan berdarah biru bernama Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani  atau Gusti Nurul yang kecantikannya mampu memikat hati lelaki sekelas Soekarno, Sultan Hamengkubowono IX, Sutan Sjahrir, dan GPH Djatikusumo.  Gusti Nurul digilai bahkan dikagumi orang Eropa karena dianggap sebagai lambang kecantikan timur. Pernikahannya dengan seorang tentara bernama Raden Mas Sujarso Surjosurarso pada tahun 1954 membuat para pelamarnya yang merupakan lelaki kelas A bangsa ini gigit jari dan mungkin patah hati akut. 
Anak-anak perempuan di China yang menjalani tradisi Food Binding pada 1930an. Sumber: reddit.com

Kisah kecantikan yang menyebabkan luka bahkan berakhir pada penderitaan hingga kematian tragis juga banyak terdengar dari seluruh dunia, sejak masa lampau. Salah satu yang paling terkenal adalah standar kecantikan bernama "Lotus Feet" alias Kaki Teratai. Jadi, pada masa Dinasti Xia dan Dinasti Song di China pada abad 19 (disebutkan juga pada masa dinasti Tang), ada standar kecantikan tertentu di mana para lelaki menyukai telapak kaki perempuan yang imut dan mungil karena hal tersebut dianggap mampu melejitkan hasrat seksual mereka. Sayangnya, nggak semua perempuan kan berkaki imut sehingga muncullah budaya mengikat kaki atau foot binding yang diterapkan pada anak-anak perempuan berusia 5-8 tahun. Kedua kaki di anak diikat dengan metode tertentu untuk menekan pertumbuhan sehingga kaki tetap imut. Padahal sebenarnya yang terjadi bukan menekan pertumbuhan, melainkan bentuk tulang kaki jadi melengkung. Mereka beranggapan bahwa semakin mungil kaki seorang perempuan maka semakin cantik dirinya dan semakin mampu meningkatkan hasrat seksual suami. Tradisi foot binding ini kemudian dilarang pada masa Dinasti Qing hingga sekarang.

BACA JUGA: Menghormati Vagina dan Pemiliknya

Belum lagi tradisi dari berbagai suku di belahan dunia lain yang tak kalah mengerikan. Seperti perempuan dipaksa makan agar bertubuh gemuk sebelum menikah di Mauritania; perempuan yang diarak dan dipukuli sebelum menikah sebagai tanda siap memasuki pernikahan; perempuan yang lehernya dipasangi cincin tertentu agar menjadi panjang; perempuan yang payudaranya dirusak dengan ditekan oleh batu panas agar tidak tumbuh; perempuan yang bibirnya dibuat selebar mungkin menggunakan alat tertentu agar terlihat cantik dan sebagainya. Untuk apa semua itu? Satu saja tujuannya: memuaskan hasrat seksual lelaki, kebanggaan lelaki yang menikahi si perempuan dan harga di perempuan.
Membuat bibir super dower ala perempuan Afrika. Sumber: IDNtimes

Praktek-praktek kecantikan ini yang dibuat-buat dan mengerikan, melulu ditujukan untuk menyenangkan lelaki secara seksualitas. Perempuan dipaksa berkaki mungil, bertubuh gemuk, berleher sangat panjang, berbibir sangat lebar atau berdada mungil  semata-mata demi memuaskan pandangan mata dan kepuasan seksual lelaki. Apa yang selayaknya ada dan tumbuh secara natural dalam diri perempuan sebagai manusia dipaksa berubah dengan cara menyakitkan bertahun-tahun lamanya. Semua tidak peduli apakah si perempuan menangis, kesakitan, mual-mual, merasa dihina dan direndahkan. Tak ada yang peduli pada perempuan dengan tubuhnya yang diotak-atik sedemikian rupa demi standar kecantikan aneh dan melukai tidak saja tubuh, juga pikiran dan hatinya. 

CANTIK ITU MAHAL
Diakui atau tidak, kita seringkali terpesona oleh standar kecantikan ala Puteri Indonesia atau Miss Universe. Tapi syaratnya harus alami. Well, bagaimana medeskripsikan kecantikan alami dalam sudut pandang kecantikan yang sudah dipoles bahkan oleh make up? Bayangkan, seorang perempuan dikatakan cantik jika memiliki ciri-ciri berikut ini: tubuh langsing, tinggi semampai, kulit kuning langsat, alis umpama bulan sabit, hidung mungil mancung, mata belo, wajah mungil bagai telur, rambut hitam lebat selembut sutra, dan kulit mulus bagai porselen. Intinya, seorang perempuan itu disebut cantik jika ia memiliki kualitas serupa bidadari. Dan, bagaiamana setiap perempuan terlahir dengan keharusan memiliki kecantikan yang demikian sebab orangtuanya aja beda-beda? 

Cantik yang secara fisik harus begini-begitu tentu nggak bisa dimiliki seluruh perempuan. Betul memang banyak perempuan yang lahir dengan kecantikan sempurna sehingga nggak dipoles pun dia sudah merupakan bidadari. Namun sayangnya, tidak semua perempuan lahir dengan fisik demikian karena ya kita kan lahir dari orangtua yang berbeda penampilan pula dengan orangtua si bidadari. Ada perempuan lahir dengan rahang kotak, maka dia arus operasi agar rahangnya jadi oval. Ada perempuan lahir dengan mata super sipit sehingga harus operasi agar matanya belo. Ada perempuan lahir dengan hidung super pesek, harus operasi agar hidung mancung. Dan kisah-kisah lain dalam upaya perempuan mengubah penampilan fisiknya. Belum lagi jika ditambah perawatan berupa skin care, make up, spa dsb. 

Kecantikan adalah tentang rupa diri dan ia harus dirawat dengan penuh cinta. Perempuan yang terlahir dengan kecantikan hakiki bagai bidadari boleh lah sombong, karena ya mereka nggak harus melakukan ini-itu misalnya demi alis berbaris rapi, gigi mungil bagai biji mentimun atau mengecilkan ukuran lengan, paha dan betis. Perawatan kecantikan multiguna hanya akan dilakukan oleh mereka yang peduli bahwa cantik bukan hanya soal fisik, melainkan soal kesehatan, kecerdasan hingga kebaikan hati. Kecantikan pertama-tama harus dijaga melalui ketenangan hati dan pikiran dan itu sangat sulit. Ada banyak sekali urusan kehidupan yang membuat perempuan mengalami stress, cemas, takut, insomnia hingga depresi. Asal muasal dari masalah-masalah tersebut bisa soal hubungan keluarga, masalah anak dan pasangan, masalah keuangan-pendidikan-pekerjaan dan banyak lagi. Jelas semua itu bisa mengganggu kecantikan karena stress misalnya bisa memicu jerawat, kurang tidur dan hilangnya nafsu makan. 

Hal kedua soal kecantikan adalah kecerdasan. Karena telah diakui dunia bahwa perempuan cerdas pastilah cantik dan perempuan cantik belum tentu cerdas. Kecerdasan seorang perempuan mampu membuatnya membawa diri dengan baik dalam kehidupan, entah sebagai dirinya sendiri, anggota sebuah keluarga, anggota masyarakat atau pemimpin sebuah bangsa. Perempuan cerdas selalu mengagumkan karena kecantikan yang dia miliki tidak hanya sebatas fisik yang bisa rontok dimakan zaman bahkan tragedi. Kecantikan yang berpadu kecerdasan sangat indah karena ia menguatkan kemanusiaan dengan karya. Sehingga ketika karyanya membuat orang lain bahagia, maka ia mendapat berkah. 

Barulah tiba saatnya kita bicara kecantikan fisik dan rasanya ini yang paling menyita perhatian. Karena kisah Puteri Rengganis, Gusti Nurul, para perempuan China yang kakinya diikat, para perempuan Mauritania yang digemukkan secara paksa, para perempuan yang memanjangkan lehernya dan tradisi lainnya adalah tentang kecantikan fisik. Kecantikan ini bisa dilihat, diraba dan bahkan diatur sedemikian rupa sesuai kehendak masyarakat banyak yang punya konsensus soal kecantikan tertentu. 

Cantik itu mahal. Demi mendapatkan tubuh yang sehat dan cantik kita memerlukan asupan makanan bernutrisi tinggi dan itu mahal. Perempuan yang mampu menikmati makanan sehat dengan gizi seimbang secara fisik akan lebih cantik dibandingkan perempuan yang kekurangan gizi atau yang hobi makan makanan junk food secara terus menerus. Perempuan yang rajin makan buah dan sayur akan lebih sehat dan cantik dibandingkan perempuan yang tidak bisa makan buah dan sayur karena harganya mahal. Perempuan yang mendapat asupan zat besi yang cukup akan lebih cantik dari perempuan yang mengalami anemia. Bahkan perempuan yang memiliki akses pada air bersih akan lebih cantik dibandingkan perempuan yang kesulitan akses pada air bersih dan sering mengalami dehidrasi. Cantik bagaimanapun juga berkaitan dengan asupan makanan bergizi dan minum cukup agar tidak dehidrasi, karena tubuh yang dehidrasi rentan sakit. 

Perawatan kecantikan fisik menjadi semakin mahal manakala sang perempuan dengan sedikit uang ingin mendapatkan perawatan maksimal. Kalau bagi perempuan kaya sih apa yang mahal dari sudut pandang perempuan miskin ya nggak mahal. Misalnya begini, agar bisa tampil memukau dengan kulit sebening kristal dan selembut sutra seperti aktris Korea Selatan Song Hye Kyo setidaknya kita harus menggunakan paket skin care dari brand Sulwhasoo. Dari belasan produk untuk satu rangkaian skin care dari brand premium ini misalnya ada produk yang disebut First Care Activating Serum ukuran 120 ml dengan harga Rp. 2.100.000 (prediksi pemakaian 4 bulan, yang berarti Rp. 525.000 per bulannya). Bahkan untuk krim mata harganya Rp. 3.500.000 yang nyaris setara UM DKI Jakarta! Bayangkanlah kalau kita harus beli 1 rangkaian skin care yang harganya selangit itu demi mendapatkan kecantikan ala bidadari. Minamal kita harus berpenghasilan Rp. 25 juta sebulan, karena anggaran untuk membeli skin care tidak boleh lebih besar dari anggaran utama seperti makan-minum bergizi, dan anggaran basic lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan rumah.
Harga varian produk skin care Sulwhasoo dalam USD. Tinggal dikalikan 1 US$ x Rp. 14.000. Sumber: us.sulwhasoo.com

Atau jika ingin mengukur standar kecantikan ala pesohor tanah air seperti Dian Sastro, Raisa, Maudy Ayunda, Luna Maya atau yang lainnya; maka pertama-tama kita harus memperhatikan apa yang mereka makan. Kecantikan fisik adalah tentang nutrisi terbaik yang menjadi darah, daging dan otot dalam diri kita si manusia. Apa yang kita makan, itulah diri kita. Hal selanjutnya adalah soal pola hidup, karena makanan sehat dan bergizi saja tidak cukup jika gaya hidup kita tidak sehat, misalnya kurang tidur, jarang berolahraga, sering menghabiskan waktu di dalam ruangan, stress dan lain sebagainya. Baru terakhir beranjak ke parawatan fisik entah skin care atau melalui perawatan di klinik kecantikan professional. Modalnya? Ya uang dong dan mahal pula. Karena beauty requires budget.

Di era sekarang, di mana manusia sudah akan memasukkan robot dalam tubuhnya, kecantikan mengalami revolusi yang lain. Kecantikan bukan saja merupakan sebuah standar untuk mengukur diri seorang perempuan, juga bisnis global yang sangat menggiurkan. Kini para perempuan dibuat teramat bingung dalam menentukan produk kecantikan apa yang sebaiknya digunakan (dan dibeli) karena sangat beragam dan semuanya menjanjikan hasil yang aduhai, seakan-akan dengan menggunakan produk-produk tersebut setiap perempuan akan berubah menjadi secantik bidadari dari kahyangan. 
Pertumbuhan Industri Kecantikan nasional per 2018

Tren dan standar kecantikan telah mengubah perempuan. Mereka ingin menjadi seperti para perempuan idola, yang terus menerus dipuji kecantikannya. Bukan yang dihina dan direndahkan karena wajahnya jelek, tubuhnya gembrot, kulitnya kusam dan kasar, rambutnya lepek, dan senyumnya tidak semanis purnama. Orang boleh bilang mereka mengagumi perempuan dengan kecantikan alami, tapi faktanya banyak perempuan ditinggalkan kekasihnya atau suaminya karena mereka tidak cantik secara fisik. Banyak lelaki meninggalkan istrinya yang biasa-biasa saja demi perempuan lain yang lebih muda dan cantik. Para suami bahkan membeli jasa pelacur nan cantik dengan harga tinggi, sebab seorang suami yang cukup dengan kecantikan istrinya tidak akan pernah mencari perempuan lain entah rekan kerja atau pelacur sekalipun. Bohong besar jika lelaki mengatakan dia lebih menyukai perempuan dengan kecantikan alami, karena sebenarnya lelaki menginginkan perempuan tercantik dan tunduk pada dirinya, bagai budak pada majikannya. 

Karenanya, semakin banyak perempuan berusaha sekuat tenaga mempercantik diri. Perempuan merubah bentuk alisnya agar sempurna melalui sulam alis dengan harga antara Rp. 1-3 juta per sekali pasang dan harus diperbaharui per 2-3 tahun; perempuan melakukan perawatan PRP untuk mengencangkan dan menghaluskan kulit dengan harga Rp. 1 juta per 1 kali perawatan dengan minimal 3 kali perawatan; perempuan perempuan melakukan waxing untuk menghilangkan bulu-bulu di tubuh entah di ketiak, betis hingga vagina; perempuan melakukan suntik botox untuk anti aging; hingga operasi plastik untuk 'merenovasi' bagian tubuh tertentu yang dianggap kurang ideal. Bahkan, ada perempuan yang melakukan perawatan khusus di area vagina agar perawan kembali yang biayanya mencapai puluhan juta rupiah. Keseluruhan perawatan tersebut menyakitkan dan mahal. 

Mungkin kita bertanya, lantas mengapa perempuan rela melakukannya? Karena perempuan paling benci dibilang jelek alias tidak cantik, sebagaimana lelaki akan merasa rendah diri dibilang loyo alias tidak jantan. Perempuan merawat dirinya demi disayangi dan dicintai, demi kekasihnya atau suaminya tidak berpaling pada perempuan lain. Sebab setiap perempuan yang ditinggalkan kekasihnya atau suaminya demi perempuan lain akan merasa frustasi dan rendah diri, seakan-akan dia ditinggalkan karena tidak cantik. Demi tetap cantik dan menjaga kesetiaan pasangannya, perempuan rela melakukan apa saja bahkan menghabiskan uang banyak. Sehingga tak heran jika bisnis kecantikan melaju kencang, melampaui bisnis makanan dan pakaian. 

Perawatan kecantikan yang mahal ini seringkali menyisakan kisah pilu. Banyak perempuan yang sangat cantik, muda dan segar di masa lajangnya berubah menjadi perempuan loyo dan kumuh setelah menikah. Masalahnya tentu saja uang. Merawat keluarga, terutama anak-anak membutuhkan energi penuh selama 24 jam dan perempuan cenderung akan menghabiskan seluruh waktunya untuk keluarganya, hingga lupa pada dirinya. Saat suaminya berpaling pada perempuan lain yang lebih muda dan segar, barulah si perempuan menyesal dia tidak menjaga dirinya dan merawat kecantikannya. Bagaimanapun juga, tidak setiap lelaki siap menjadi pasangan setia dan selalu menuntut istrinya secantik bidadari walau dia sendiri buruk rupa lagi miskin harta. 

Cinta membutuhkan kecantikan dan kecantikan membutuhkan uang. 
Begitulah kiranya hal-hal dalam kehidupan perempuan. 

CANTIK ITU RASIS
Percaya atau tidak, diakui atau tidak, diterima atau tidak bahwa sudut pandang kecantikan cenderung rasis. Misalnya orang Korea yang berkulit terang merasa jijik dengan orang Asia Tenggara yang berkulit cokelat; orang keturunan Arab tidak menyukai keturunan China dan menyebut mereka si sipit; dan banyak kasus lainnya. Bahkan di Indonesia, standar kecantikan masih berkiblat ke putri-putri keraton Jawa di mana perempuan harus bertubuh kuning langsat, berwajah oval, berambut hitam lurus, bicara lemah lembut dan cenderung penurut. Meskipun sejarah banyak menceritakan sejumlah perempuan Jawa yang justru suka membangkang dan memberontak budayanya sendiri yang dianggap merendahkan perempuan. Standar kecantikan yang Jawa ini bisa kita saksikan dalam kontes-kontes kecantikan, dimana tubuh perempuan dinilai melalui balutan kebaya. Rasanya belum pernah ada kontes kecantikan yang menggunakan pakaian asal Sumatera sebagai pakaian utama di panggung-panggung kontes kecantikan. 
Kecantikan otentik lintas bangsa. Sumber: the Atlas of Beauty

Di level internasional lebih parah lagi di mana standar kecantikan mengacu pada mereka yang berkulit terang. Sehingga jika sebuah majalah mode menampilkan model asal Afrika yang berkulit gelap, maka fotonya akan diedit menjadi sedikit terang dan tentu saja hal tersebut membuat orang Afrika berang. Belum lagi standar lain soal tinggi badan, bentuk bokong, bentuk payudara, bentuk dan warna rambut, hingga bentuk alis dan mata. Rasanya, jika dihadapkan pada standar kecantikan ala industri kecantikan, maka sebagian besar perempuan di bumi adalah genderuwo karena tidak masuk dalam kategori cantik. 

SILA BACA: Bersyukur Atas Nikmat Cantik

Kecantikan yang rasis dan tidak otentik ini mengetuk hati seorang perempuan Rumania bernama Mihaela Noroc untuk mendokumentasikan kecantikan otentik perempuan di seluruh dunia. Ia melakukannya melalui proyek yang dinamai "The Atlas of Beauty" dan mendapat pujian luas secara internasional. Menikmati karya-karya Mihaela Noroc membuatku sadar bahwa Sang Pencipta sungguh Maha Indah, yang dapat kita saksikan melalui beragam kecantikan para perempuan di seluruh dunia melalui kamera Mihaela Noroc ini. Proyek "The Atlas of Beauty" telah mengantarkan banyak orang pada gerbang kesadaran bahwa cantik itu harus diterima sebagai perbedaan antara perempuan yang satu dengan perempuan yang lain entah bentuk rahangnya, warna kulitnya, matanya, aliasnya, rambutnya, berat badannya, tingginya, senyumnya dan segala hal yang melekat pada diri perempuan itu sebagai keajaiban penciptaan. 

CANTIK ITU KITA SEMUA
Setiap perempuan terlahir cantik. Namun, kecantikan setiap diri tentu saja berbeda, unik, khas dan otentik. Kita tidak akan pernah bisa membandingkan kecantikan khas orang Jawa versus Inggris, atau orang Jepang versus Thailand, atau Yahudi versus Mori. Struktur tubuh seseorang adalah warisan dari leluhur dan setiap bayi perempuan yang lahir sama sekali tidak mampu menentukan apakah dia akan secantik seorang ratu atau seburuk seorang gembel. Karena pada akhirnya, kecantikan sepanjang si perempuan hidup adalah tentang bagaimana ia merawatnya. Kecantikan hakiki adalah tentang bagaimana kita mencintai tubuh dan diri kita sendiri, dan merawatnya sebaik mungkin sebagaimana kita merawat orang-orang yang kita cintai. 

Terlahir teramat cantik bisa menyebabkan luka dan upaya merawat kecantikan bisa menguras tabungan. Tetapi, satu hal yang pasti, saat kita bercermin telanjang dan melihat seluruh pantulan diri, kita akan tersenyum dan memuji betapa cantiknya kita, ciptaan Tuhan bernama perempuan. Karena Tuhan mengatakan bahwa kecantikan pada diri perempuan adalah gambaran kecantikan pada wujudNya.

"Bapaknya ganteng kok anaknya jelek." Suatu kali seorang perempuan muda berkata demikian frontalnya terhadapku, saat aku bertamu ke rumahnya dalam membantu sepupu tertuaku mengurus pernikahannya, dan saat itu aku baru masuk kelas 1 SMA.  

Ya, ucapan jujur orang tersebut terasa menyakitkan bagiku, si remaja SMA waktu itu. terlebih yang mengatakannya adalah seorang perempuan muda, teman sepupu tertuaku, yang kecantikannya memang aduhai, sebab dia mirip artis Jihan Fahira. Sebagai anak dari orangtua bercerai, tidak ada yang peduli pada penampilanku karena ayahku sibuk mencari uang. Ayahku memang terkenal tampan dan mengapa aku tidak mewarisi jejak kecantikan wajah cari ayahku itu bukan urusanku, tapi urusan Tuhan yang menciptakanku.

Tidak semua perempuan lahir dengan kecantikan tertentu sehingga memang harus rajin melakukan perawatan. Dan khusus untukku, karena aku dirawat ayah sejak kedua orangtuaku berpisah, maka tidak ada yang membantuku memperhatikan urusan kecantikan. Sampai usia 25 aku nggak terlalu menaruh perhatian pada urusan kecantikan. Waktu itu yang jadi fokus perhatianku adalah yang penting aku nggak kusam, nggak bau dan nggak jerawatan. Karena kulit wajahku tipe kombinasi, jadi gampang sekali berjerawat. Jangankan berada di luar ruangan yang penuh debu yang bisa bikin jerawat banyak, bangun tidur aja bisa numbuh jerawat. Kesel banget. 

Karena ayahku sibuk cari uang dan tiada ibu yang memperhatikanku, terlebih soal kecantikan, aku bahkan harus menanggung beberapa akibatnya bertahun-tahun kemudian. Misalnya, aku mengalami kelebihan gigi sehingga harus melakukan perawatan menggunakan kawat gigi. Kata dokter, rahangku kecil tapi harus menampung kelebihan 4 buah gigi sehingga harus disingkirkan. Karena orangtuaku tidak perhatian, di masa dewasa kau arus merohoh kocek sangat lumayan untu perawatan gigi, dengan pembayaran awal Rp. 10 juta, ditambah bulanan Rp. 250.000. Padahal, kalau kedua orangtua perhatian padaku, tak akan aku keluar uang segini banyak dan bisa kutabung untuk urusan lain. Belum lagi soal kulit di mana aku terlambat menyadari penggunaan suncsreen

Dan terkait skincare, sumpah sulit sekali menemukan yang cocok untuk kondisi kulitku, terlebih kulitku sensitif dan aku punya alergi. Sebagai manusia dengan kecantikan yang biasa, tentulah saat memilih skincare kita berkiblat pada perempuan yang jadi brand ambassador sebuah produk skin care. Misalnya nih kalau ingin bening dan halal, bisa pakai produk dari Wardah di mana semua tahu kalau para BA Wardah itu cantik-cantiknya kebangetan. Sayangnya, hanya beberapa saja produk wardah yang cocok untuk kulitku. Dan tentu saja aku juga kepincut produk asal Korea Selatan seperti Innisfree dan Laneige, yang BAnya bintang-bintang korea tercantik. Semua perempuan, sebagaimana aku pasti kemakan iklan dan ya aku mencoba produk-produk tersebut yang harganya ampunnnnnnnn banget mahalnya. 

But, meskipun mahal, perempuan memang harus investasi di skincare karena itulah makanan kulit dari luar. Nggak semua perempuan harus menggunakan make up, tapi wajib merawat kulit dengan skincare sebagaimana wajib makan-makanan sehat lagi bergizi setiap hari. Cleopatra yang hidup di zaman di mana udara masih alami alam merawat kecantikan dirinya gila-gilaan, apalagi perempuan zaman sekarang yang hidup di zaman penuh polusi, di mana lupa pakai suncreen aja bisa bikin kulit kusam. 

BACA JUGA: Cantik Total Ala Nyai Ontosoroh

Dan setelah dewasa aku baru memahami bahwa struktur tulang wajahku diwarisi dari ayahku sementara lainnya dari ibuku. Sehingga tentu saja wajahku merupakan perpaduan wajah kedua orangtuaku, dan itu bukan urusanku. Karena urusanku selama hidup adalah merawat diriku dan kecantikan unik yang harus kusyukuri dan kurawat dengan penuh cinta. 

Mari bersyukur pada Tuhan atas nikmat cantik. 

*** kembali ke kisah di lelaki yang mau poligami dengan syarat calon istri yang bening sebagai pembuka tulisan ini, aku sih menyarankan kaum lelaki untuk berpikir realistis. Nggak udah kebanyakan gaya mau punya istri kedua sebening bidadari kalau penghasilan aja masih jauh dibawah UMR. Ada banyak cara beribadah, nggak hanya di satu pintu bernama poligami. Lagian poligami bukan ibadah wajib, ia adalah ibadah yang disunnahkan dilakukan kepada lelaki dengan kualitas tertentu. Ibadah yang utama adalah bekerja dan memperbaiki kualitas hidup agar kita nggak jadi beban orang lain, sebab orang lain punya beban hidupnya masing-masing. Tugas hidup adakah hidup dengan baik. 

Bahan Bacaan: 
https://historyplex.com/chinese-foot-binding
https://www.ancient.eu/Foot-Binding/
https://www.brilio.net/cewek/ini-asal-mula-standar-kecantikan-bagi-wanita-indonesia-170731i.html
https://www.popbela.com/career/working-life/aditya-octaviana/standar-kecantikan-dari-seluruh-dunia/full
https://www.wonderslist.com/most-beautiful-faces/
https://kumparan.com/berita-heboh/7-mitos-kecantikan-zaman-dahulu-yang-dianggap-aneh-saat-ini-1541065151525633881
https://www.idntimes.com/life/women/bayu/definisi-cantik-dari-berbagai-negara/full

2 comments:

  1. dulu pernah semept sebel dg oarng cantik, habsi kesempatan saya diambil oleh orang cantik padahal dari hitungan nilai , kemampuan sy lebih darinya. Tapi sekarang mah , cuek saja, semua ada rejekinya masing2 dan tetap percaya diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo aku bukan sebel, tapi iri hahaha. Well, setelah bertemu dengan website berjudul The Atlas of Beauty dan The Atlas of Humanity, aku jadi lebih bisa menerima keadaan diri dan mulai memahami bahwa perbedaan antara manusia itu logis karena merupakan cerita panjang kawin campur antar berbagai ras di dunia.

      Delete