Bumi Manusia: Dulu Dihajar, Kini Berkibar di Layar Lebar

Ilustrasi "Bumi Manusia" oleh Chuan Ming Ong

Aku membaca keempat buku dalam Tetralogi Pulau Buru pada Agustus 2017 disela-sela membantu sahabatku melakukan penelitian untuk Disertasinya. Ya, setelah seharian keliling kampung-kampung di sekitar perkebunan tebu, malamnya aku membaca satu persatu buku tersebut, maraton selama 28 hari. Bagaimanapun juga, berkeliling di sekitar perkebunan tebu dan membaca kisah manusia yang berkaitan dengan perkebunan tebu sangat menarik. Tebu itu manis bagi kalangan atas, tapi pahit bagi kalangan bawah. Berkaitan dengan tebu pula, pada tahun yang lampau sekira 2013 atau 2014, aku diajak sejumlah aktivis melakukan kunjungan ke satu wilayah enclave, yang dikelilingi hamparan perkebunan tebu terluas dan terkaya di provinsi Lampung. Produk dari perkebunan tersebut sangat dikenal masyarakat Indonesia.

"Seratus tahun pun kaum buruh perkebunan tebu ini bekerja, bahkan bekerja bersama anak cucunya, mereka nggak akan pernah kaya," ujar seorang teman. Aku termenung saja mendengar pernyataan tersebut. 

Saat itu kami melintasi blok yang sedang dibersihkan oleh para buruh yang penampilannya sungguh pilu. Ada beberapa orang buruh di sana, laki-laki dan perempuan, serta beberapa bocah berumur dibawah 10 tahun. Kemiskinan itu menular, sebagaimana penyakit. Jika orangtua miskin, kemungkinan benar si anak cucu ikutan miskin. Hanya mereka yang sanggup melarikan diri dari kemiskinan orangtuanya yang akan sanggup mengubah hidup. Maka benar ujaran kawanku itu, para buruh perkebunan yang kami lewati tersebut akan selamanya terjerat dalam kemiskinan jika mereka tidak melarikan diri dari kepungan manisnya tebu dan pahitnya kebodohan. Sebab kebodohan dan kemiskinan biasanya setali tiga uang, dan keduanya harus dicerai beraikan agar si manusia yang terbelit olehnya bisa menentukan nasibnya sendiri. 

Baca juga: Merayakan Pemikiran Pramodeya Bersama "Bumi Manusia"

Manisnya tebu dalam kisah "Bumi Manusia" tak lepas dari alasan lelaki bernama Sastrotomo yang menjual anak perempuannya sendiri kepada seorang Belanda bernama Herman Mellema, untuk menjadi gundik. Sastrotomo tak puas bekerja sebagai mandor, dan ia mengincar jabatan juru hitung. Diantara manisnya tebu, lelaki itu melihat manisnya uang dan kehormatan jika ia naik jabatan. Maka korban pertama dari mimpinya yang rakus itu adalah anak perempuannya sendiri. Maka Sanikem dijual seharga 15 Gulden. Perjalanan Sanikem belia meninggalkan rumah ayahnya ke rumah majikannya membawa kita pada rumitnya hidup dalam percampuran sistem feodal pribumi dan aturan bangsa penjajah. 


Dalam "Bumi Manusia", perempuan muda Sanikem yang dijual ayahnya sendiri tersebut memendam dendam kesumat dengan giat belajar kepada sang tuan dan melepaskan hubungan kekerabatan dengan keluarganya, terutama ayahnya. Ia pun harus bergelut dengan nasibnya sebagai seorang Nyai yang mendapat pandangan buruk masyarakat. Sanikem dan kisah kaum buruh inilah sebenarnya yang menjadi ruh dari "Bumi Manusia" di mana orang Jawa ketika itu bukan hanya berjuang melawan Belanda sebagai penjajah. Melainkan juga melawan bangsanya sendiri para bangsawan dan tuan tanah. 

KETIKA NEGARA MENGHAJAR "BUMI MANUSIA"
Kita tentu ingat kisah Nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja yang berkuasa karena dianggap menentang kekuasaannya. Bagi penguasa dan sistem di negerinya, Ibrahim dianggap bahaya karena memicu rakyat mempertanyakan hal-hal terkait Tuhan beserta kekuasaannya yang absolut, padahal raja yang berkuasa waktu itu adalah tangan Tuhan di mana kata-katanya adalah hukum. Karena Ibrahim berbahaya makanya ia harus dibakar, agar menjadi pelajaran bagi rakyat untuk tidak melawan kekuasaan dan para penguasa. 

Para penguasa yang takut kekuasaannya runtuh rupanya tidak hanya membakar manusia, tapi juga buku-buku. Banyak sekali kisah pembakaran buku dari negeri-negeri di dunia. Salah satunya ya buku "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer di negeri bernama Indonesia. Mengapa "Bumi Manusia" harus dibakar? Apakah ia mengandung ajakan untuk melawan penguasa atau mengajarkan hal-hal sesat? Bagaimana sebuah buku bisa begitu berbahaya, hingga membuat penguasa memenjarakan penulisnya dan melarang bukunya beredar di pasaran? 
Buku-buku dalam Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. 

Nah, buku "Bumi Manusia" yang merupakan buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru ditulis di dalam penjara. Saat itu, Pramoedya Ananta Toer/Pram diasingkan ke pulau Buru selama 10 tahun dari 1969-1979. Meski Pemerintah Soeharto melarang keras peredaran tulisan-tulisan Pram keluar dari penjara, namun Pram dan rekannya justru mendirikan penerbitan Hasta Mitra. Pada 1980 buku "Bumi Manusia" terbit, disusul "Anak Semua Bangsa" pada 1981. Dalam waktu 6 bulan, keduanya laris manis hingga dicetak ulang hingga 3 kali. Kehebohan tersebut membuat geram rezim Orde Baru. Maka, demi memadamkan semangat perlawanan ala Pram dan rekan-rekannya, pemerintah melalui Kejaksaan Agung RI melarang peredaran kedua buku tersebut. Bahkan, Maxwell Lane, staff Kedutaan Australia di Jakarta dipulangkan ke negaranya gara-gara menerjemahkan "Bumi Manusia" ke dalam Bahasa Inggris. Dari 20.000 eksemplar buku yang telah beredar, Kejaksaan Agung hanya mampu "mengamankan" sebanyak 972 eksemplar saja. Ngeri-ngeri sedap gitu deh pokoknya. 

Pramoedya diasingkan ke pulau Buru karena penulis asal Blora, Jawa Tengah tersebut dituduh menyebarkan aliran "kiri" karena pernah bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nah, Lekra ini dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Meskipun pada kenyataannya Lekra tidak pernah berafiliasi dengan PKI, label tersebut terlanjur menguat di kepala pemerintah. Pasalnya, sejak peristiwa berdarah pada September 1965, PKI menjadi partai terlarang di Indonesia. Pelarangan tersebut diresmikan melalui TAP MPRS Nomor. 25 tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Pramoedya merasa dikriminalisasi oleh penguasa Orde Baru dan ia membalaskan dendamnya dengan terus menulis dan tulisannya dibaca semakin banyak orang. 

"BUMI MANUSIA" BAGI GENERASI MILLENNIAL 
Pada awalnya, banyak yang ragu dengan kemampuan sutradara Hanung Bramantyo dalam menerjemahkan kisah "Bumi Manusia" ke layar lebar. Mengingat buku setebal 500 halaman tersebut harus di compressed untuk bisa masuk ke frame berdurasi 180 menit/3 jam saja. Meski banyak pihak ragu bahwa film ini akan memuaskan sebagaimana novelnya, pihak lainnya menyatakan bahwa bahasa buku dan film memang berbeda. Film dan buku adalah dua dunia berbeda. Jika dengan membaca buku makan imajinasi kita bebas menafsirkan isi buku sesuai dengan pemahaman dan pengalaman hidup kita. Maka, film justru menyajikan gambaran yang harus diterima para penontonnya sesuai frame yang tersedia. 
Penduduk "Bumi Manusia" 

Setelah menyaksikan sendiri "Bumi Manusia" di bioskop, aku baru bisa menerima kenyataan bahwa benar kita nggak bisa menyamakan apa yang tergambar di film dengan buku. Jika "Bumi Manusia" adalah film yang bukan diadaptasi dari buku, maka aku akan menyatakan ini film terbaik Hanung Bramantyo yang pernah kusaksikan. Namun, karena imajinasiku telah dicekoki gambaran liarku sendiri tentang "Bumi Manusia" versi buku, maka aku merasakan bahwa film ini tidak berkesan. Film ini tidak sedang mengadaptasi "Bumi Manusia" versi buku, yang saking kerasnya kecaman sang buku pada sistem sosial membuat bukunya dilarang beredar. Terutama peran Iqbaal Ramadhan yang rasanya begitu terburu-buru dalam menjalankan perannya sebagai Minke. Iqbaal tidak bermain dengan luwes dan tatapan matanya tidak memberikan chemistry sebagai Minke. Dalam "Bumi Manusia", sosok Iqbaal bagai tokoh Dilan versi Abad ke 19. 

"Bumi Manusia" dalam frame karya Hanung Bramantyo ini berkutat di kehidupan keluarga Mellema, dan melepaskan dari proses pembelajaran Minke pada banyak orang tentang masalah sosial yang terjadi. Banyak scene yang menurutku nggak perlu ada dalam film ini karena mengganggu ide cerita sehingga hal penting lainnya nggak kebagian tempat. Peran para tokoh lain yang memberikan sumbangsih besar pada pemikiran Minke dinihilkan oleh melulu soal Nyai Ontosoroh dan Annelies, dan segala hal tentang keluarga mereka. 

Namun, terlepas dari perbedaan "rasa" dalam memahami "Bumi Manusia" versi buku dan film, setidaknya bangsa ini punya sebuah jembatan pemahaman antara perjuangan generasi dahulu dan kini. Bagaimana pun juga, generasi masa kini (seusia aku dan Iqbaal) lahir dan hidup dalam keadaan serba mudah, suatu keadaan Indonesia yang telah banyak berubah dari masa Pram berjuang melalui tulisan-tulisannya. Tokoh muda seperti Budiman Sudjatmiko menyebutkan bahwa film ini disebut jembatan antar generasi, karena kita nggak bisa memaksakan generasi millenial untuk membaca buku-buku Pram yang cenderung berat. Menyajikan "Bumi Manusia" dalam film pada 2019 seperti menyajikan kopi racikan modern kesukaan anak muda masa kini. Ya sudahlah...

Jakarta, 17 Agustus 2019

Bahan Bacaan: 
https://tirto.id/bumi-manusia-novel-sejarah-karya-pramoedya-yang-dilarang-orde-baru-
https://nasional.kompas.com/read/2016/05/10/20442411/TAP.MPRS.Nomor.25.Tahun.1966.Belum.Dicabut.Pemerintah.Larang.Semua.Hal.Berbau.Komunis.
https://alif.id/read/m-azwan-anas/pembakaran-buku-dan-akibatnya-b212165p/


No comments:

Post a Comment