Ballad From Tibet: Tentang Nyanyian Surga di Kaki Himalaya

Pemeran Droma dalam "Ballad From Tibet" yang memukau. Sumber: reelabilities.org


Tibetan azalea, your radiance is eternal like the sun
White Tibetan hada, flowing eternal like the Yangtze river
Under the snow-covered mountains, we all keep warm together
On the Tibetan plateau, our dream is touch to heaven

Di dataran tinggi Tibet,  seorang bocah berusia 10 tahun bernama Thupten mengalami kebutaan parsial. Mata kirinya telah benar-benar buta, sementara mata kananyabisa diselamatkan melalui operasi, meski kemungkinannya hanya 50%. Ibu Thupten sudah berkonsultasi dengan dokter dan Thupten harus menjalani operasi secepat mungkin jika tidak ingin mengalami kebutaan total. Dikecam rasa khawatir tak bisa melihat dunia untuk terakhir kalinya, ia memutuskan untuk melakukan petualangan bersama ketiga temannya yaitu Droma, Kelsang dan Sonam. Nah, ketiga bocah ini sudah buta total sehingga keputusan mereka untuk menjelajah dunia dari Lhasa ke Shenzhen di bagian tenggara China. 

Mereka ini sehari-hari belajar di sekolah khusus untuk anak-anak yang mengalami kebutaan alias tuna netra. Sekolah tersebut tentu saja menggunakan segala hal yang memberikan kemudahan orang-orang tuna netra untuk membaca. Mereka memiliki mesin tik, peta, ponsel, piano, bahkan laptop khusus untuk tuna netra. Sekolah itu diajar oleh seorang guru tuna netra juga bernama Nymda. 

Keempat bocah buta tersebut setuju untuk melakukan petualangan dari Lhasa ke Shenzhen dengan alasan berbeda. Thupten ingin melihat dunia untuk terakhir kalinya sebelum kedua matanya benar-benar buta; Droma ingin membuktikan kepada neneknya bahwa ia bisa menyanyi dan bukan hanya menenun kain saja; Sonam si tukang urut sedang bosan dengan pekerjaannya, sementara Kelsang yang paling muda berpikir bahwa petualangan mereka akan menyenangkan, sebab dalam ingatannya jarak antara Lhasa dan Shenzhen di peta hanya sejauh panjang lengannya saja. Mereka bertekad untuk ikut audisi pencarian bakat di Shenzhen dan dikenal masyarakat luas melalui layar televisi. 

Demi  mengamankan ransum dalam perjalanan, mereka memanen satu pohon buah pear (meski sayangnya disini nggak diceritakan apakah mereka membawa uang tabungan atau tidak). Buah pear berwarna hijau segar seperti yang sering kubeli di pusat perbelanjaan. Dan mereka panen satu karung buah pear buat ransum di perjalanan. Tapi aku heran, kok mereka nggak bawa wadah minum ya????
Empat sekawan berpapasan dengan sekawanan kambing. Sumber: tiff.net

Berhubung Thupten masih bisa melihat dengan satu mata, maka ia menjadi penunjuk jalan. Awalnya mereka keluar dari desa dengan mengendarai becak motor, alat transportasi milik ibunya Thupten. Tapi, karena di jalan mereka hampir bertabrakan dengan sebuah truk, kendaraan mungil mereka pun terjungkal, sehingga mereka harus berjalan kaki. Dengan polosnya, keempat anak yang tidak tahu dunia luar ini mengandalkan informasi dari Google maps di ponsel milik Sonam. Oh ya, ponsel milik Sonam ini adalah ponsel khusus untuk para tuna netra sehingga dioperasikan melalui suara. Trus ya namanya juga bocah, mereka sering galau. Sebentar bertekad melanjutkan perjalanan, sebentar kemudian ingin pulang aja wkwkwkwk. Terlebih ketika mereka nyasar, masuk ke stepa di mana seorang gembala sedang menunggui puluhan hewan pesta rumput dengan khidmat. 
Empat sekawan nyari tumpangan ke Lhasa. Sumber: tiff.net
Empat sekawan numpang pasukan Moge ke Lhasa. Sumber: tiff.net

Karena ini film, maka harus ada keajaiban. Maka keajaiban itu bernama serombongan lelaki yang mengendarai Harley Davidson. Akhirnya mereka menumpang, minta diantarkan ke Lhasa. Pas nyampe Lhasa eh mereka ketemu Pak Guru Nymda yang nyuruh mereka pulang, karena Thupten harus segera dioperasi. Padahal perjuangan mereka untuk sampai di Lhasa nggak mudah lho. Lagian mereka udah janjian dengan Asisten Direktur yang akan membawa mereka terbang ke Shenzhen. Dan voillaaaa itu pertama kalinya si empat sekawan ini naik pesawat, terbang ke Shenzhen di timur matahari. 

Singkat cerita, dengan sedikit drama, akhirnya mereka tampil dong di panggung pencarian bakat Shenzhen. Droma, Kelsang, Sonam dan Pak Guru Nymda menyanyi dan memainkan musik bersama. Sementara Thupten tengah menjalani operasi mata. Suara Droma sangat indah dan khas, dan syair dalam lagunya sangat memikat, mengingatkan penonton akan keindahan alam Tibet yang keras sekaligus anggun. Mereka pun mendapat pujian dari seisi negeri, terutama orang-orang di kampung halaman yang menyaksikan penampilan mereka di televisi. Lalu, mereka pulang deh ke kampung halaman dengan dipandu Thupten yang mata kanannya kembali pulih. Film berakhir dengan happy ending

KEINDAHAN TIBET, PUNCAK DUNIA
"Ballad From Tibet" adalah film tentang anak-anak, namun dikemas indah dan sama sekali jauh dari kesan kekanakan. Aku salut dengan kru yang mampu mengarahkan para pemain sehingga akting mereka berjalan natural, meski di beberapa sisi terlihat bahwa orang-orang Tibet itu polos banget, dan respon mata mereka pada kamera kayak melihat sesuatu yang asing, tapi dinikmati dengan malu-malu. Cantik. 

Btw, katanya film ini mulai digarap sejak 2013 lho. Kru film harus menjalani perjuangan keras dalam mengambil gambar di wilayah terpencil Tibet, dan termasuk mengarahkan warga desa untuk jadi figuran. Dalam film nampak sekali kalau warga memang gugup saat berperan sebagai figuran alias cameo. Pandangan mata mereka terlihat polos, dan beberapa terlihat bingung. Meski demikian, kepolosan mereka justru menunjukkan kemurnian diri mereka sebagai komunitas yang tinggal di wilayah paling keras di bumi. Kabarnya, penduduk yang jadi pemeran figuran menolak fee atas keterlibatan mereka dalam pembuatan film lho. Entah apa alasannya. Mungkin mereka merasa senang aja kali ya kalau kisah kehidupan mereka dibuat film dan ditonton seluruh dunia. 

Menonton film ini seperti diajak berjalan-jalan ke Tibet melalui lensa kameramen. Bagaimanapun, suasana pedesaan di lembah-lembah diantara gunung-gunung batu itu terasa begitu kuat mencengkeram, seakan memanggil hatiku untuk memuji alam ciptaan Tuhan. Ini mengingatkanku akan film berjudul "Wolf Totem" yang berlatar di stepa Mongolia di masa Revolusi Kebudayaan China, antara 1966-1976.

BACA JUGA: Wolf Totem, Filosofi Kepemimpinan Ala Serigala Mongolia

Tibet yang berlokasi di pegunungan Himalaya sangat terlihat jelas sebagai lokasi yang keras, berangin, berbatu, dingin dan jauh dari modernitas. Terlebih kampung halaman keempat bocah yang berjarak sekian-sekian kilometer ke Lhasa, ibukota Tibet, lokasi di mana Dalai Lama tinggal. Baju-baju mereka tebal, kulit mereka kering seperti mengelupas, gigi mereka sebagian rusak sejak muda mungkin karena terlalu sering makan daging yang dikeringkan, dan dalam sebuah scene empat sekawan menyeberangi jembatan gantung, banyak bangkai kambing tersangkut dong di jembatan. Hm, mungkin mereka hewan gembala yang tersapu banjir bandang dan tidak mampu menyelamatkan diri. 

Film ini sebenarnya diambil dari kisah nyata, di mana 9 anak dari dataran tinggi Tibet mengikuti audisi China's Got Talent pada 2010 bersama guru mereka. Tokoh dalam film seperti empat sekawan Droma, Thupten, Sonam dan Kelsang adalah sosok nyata. Termasuk guru mereka Pak Nymda. Anak-anak tersebut tampil dengan menyanyikan lagu dari puncak dunia untuk menunjukkan bahwa manusia yang buta juga punya keterampilan layaknya manusia lain, tidak melulu menjadi tukang pijat atau penenun. Mereka seolah hendak menunjukkan pada dunia bahwa suara indah mereka sebagai anugerah Tuhan. 

Di akhir film, ditunjukkan scene-scene ketika pada 2010 ke 9 anak ini mengikuti audisi. Penampilan mereka membuat para juri, kru dan penonton di studio menangis. Tentu saja mereka menangis karena terharu bahwa anak-anak yang dianggap dikutuk tersebut dapat menyanyikan lagu dengan begitu indahnya, di mana syairnya merupakan gambaran keindahan kampung mereka, di puncak dunia. 

KATARAK DI DESA-DESA PUNCAK DUNIA
Sejak awal film, ada sebuah pertanyaan bergelayut di kepala: mengapa banyak anak buta di kampungnya si empat sekawan itu? Usut punya usut ternyata katarak memang banyak ditemui di masyarakat yang tinggal di dataran tinggi semacam Tibet, karena mereka mendapat paparan sinar ultraviolet lebih banyak. Nah, film ini sendiri dimaksudkan untuk membuka mata masyarakat Tibet sendiri yang sudah sejak lama percaya bahwa kebutaan merupakan semacam kutukan dari Sang Pencipta atau kepercayaan bahwa kebutaan tersebut sebagai gambaran buruknya kehidupan seseorang di kehidupan sebelumnya, sehingga banyak masyarakat yang buta mengalami diskriminasi hingga ditelantarkan. 

Berdasarkan sebuah survei, sebanyak 80% atau 1.2 juta orang penduduk Tibet tinggal di wilayah terpencil, sebagai sebuah tempat paling tinggi dan paling keras di dunia. Mereka juga masih menjalani kehidupan semi-nomadic, atau semi berpindah karena sebagian telah menjadi petani dengan kehidupan menetap. Dari banyaknya kasus katarak, hasil penelitian sementara menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah paparan tinggi sinar ultraviolet. Soalnya, orang dengan mata normal bisa mengalami katarak. 

Karena tingginya kasus kebutaan yang disebabkan oleh katarak (47% pada 2002), para dokter sampai membuat proyek khusus bernama Himalayan Cataract Project (HCP) pada 1994 yang melibatkan kerjasama berbagai pihak dari sejumlah negara di pegunungan Himalaya yaitu Tibet, Nepal, Pakistan, Bhutan, China, India dan Sikkim. Proyek ini banyak membantu penduduk yang mengalami kebutaan oleh banyak sebab, dan tentu penyebab terbesar adalah katarak. 
Waspada Katarak

Nah, gara-gara nonton film ini aku jadi belajar deh tentang Katarak. Trus, aku juga jadi buru-buru ambil cermin dan melihat kedua mataku dan alhamdulillah baik-baik saja. Mataku memang rabun jauh sih, tapi insya Allah bisa disembuhkan.  Oke, kita jaga selalu kesehatan ya, terutama mata agar terhindar dari katarak dan kebutaan, karena hilangnya penglihatan bikin dunia jadi gelap. 

Oh ya, film ini sangat direkomendasikan ditonton bersama lho baik di rumah maupun sekolah. Banyak pembelajaran berharga yang bisa diperoleh mulai dari semangat menjalani hidup, optimisme, persahabatan, semangat belajar, pikiran terbuka, sikap ramah dan suka menolong, tidak malu bertanya, percaya diri, gembira, dan punya mimpi. Hal lain yang tak kalah penting adalah untuk tidak memandang rendah mereka yang mengalami masalah kebutaan, apalagi mengutuknya atau menelantarkannya. Sebab, jika suatu penyakit bisa diobati, justru kita harus bekerja keras untuk mengupayakannya. 

Jakarta, 16 Agustus 2019

Bahan Bacaan: 
https://dunia.tempo.co/read/235162/dokter-nepal-ini-bagai-dewa-warga-miskin-penderita-katarak/full&view=ok
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1920571/
https://en.wikipedia.org/wiki/Himalayan_Cataract_Project
http://ourfrontcover.com/homepageposts/ballad-tibet-beautiful-film/


No comments:

Post a Comment