Nyai Ontosoroh, Si Jantung Hati "Bumi Manusia"

Ilustrasi Nyai Ontosoroh. Sumber: @flamecroowz



"Di dalam perjuangan, perempuan akan dikorbankan paling dulu, tapi paling akhir dibebaskan.” 

-Nawal El Saadawi- 


Keributan mengenai pembuatan film "Bumi Manusia" oleh sutradara Hanung Bramantyo reda sudah. Bulan depan, tepatnya 15 Agustus 2019 kita bisa menyaksikannya di bioskop di seluruh Indonesia. Mereka yang pro dan kontra bahwa cerita dalam roman "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer tidak pas difilmkan oleh Hanung, bisa membuktikannya. Film yang kabarnya berdurasi 3 jam tersebut tentu menjadi babak baru dalam perjuangan kata-kata Pram (panggilan untuk Pramoedya) menentang segala jenis penindasan. Kekhawatiran apakah aktor Iqbaal Ramadhan mampu memerankan tokoh Minke akan terjawab pada hari itu. Sekarang ini, ya sah-sah saja jika merasa penasaran.

Oke, nggak perlu khawatir tentang kisah penuh dari Minke dalam keempat buku Tetralogi Pulau Buru. Film yang diadaptasi dari buku pertama berjudul "Bumi Manusia" memang berkisah tentang percintaan Minke dan Annelies dalam konteks keduanya memperjuangkan kebebasan sebagai manusia baik itu sebagai pribumi maupun Indo (hasil pernikahan lelaki Belanda dan perempuan pribumi Hindia Belanda). Tentang identitas seorang manusia di tanah kelahirannya yang bernama Jawa. 

"Kalau aku sih lebih khawatir Ine nggak pas memerankan Nyai Ontosoroh," seloroh seorang teman saat mengomentari tulisanku yang berjudul Film "Bumi Manusia" dan "Perburuan" Adalah Tentang Merayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Nah, betul banget! Mengapa semua orang seakan lupa untuk menilai cocok atau tidaknya aktris She Ine Febriyanti dalam memerankan Nyai Ontosoroh? Pasalnya, para pengagum Nyai Ontosoroh kepalang kepincut dengan Happy Salma yang dianggap pas memerankan sosok perempuan hebat tersebut dalam sebuah pementasan dengan apik. Kerisauan ini sama persis dengan pertanyaan apakah Mawar bisa memerankan tokoh Annelies dengan baik, sebab di pikiran sejumlah orang tokoh Annelies si Bunga Penutup Abad yang manja lagi rapuh ini sudah lekat dengan sosok Chelsea Islan. 

Para pecinta Pram cuma ribut soal siapa yang pas atau tidak pas memerankan tokoh Minke. Padahal sejatinya jantung dari Tetralogi Pulau Buru tersebut adalah sosok perempuan keras hati bernama Nyai Ontosoroh. Perempuan yang mendapat sebutan "Nyai" tersebut merupakan sosok mentor bagi Minke dalam menyuarakan kegelisahannya melihat masalah sosial dan kebangsaan di Jawa kala itu. Nyai Ontosoroh pula yang mendorong Minke untuk terus menulis, menikahkannya dengan Annelies puteri kesayangannya, dan setelah kematian Annelies bahkan sang Nyai membiayai sekolah Minke di Batavia. 
Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer

Tetralogi Pulau Buru terdiri dari 4 buku, di mana masing-masing buku memberi titik tekan khas dalam menceritakan kisah tokoh-tokoh dan peristiwa yang terjadi kepada masing-masing tokoh. Serta penanda zaman di era kebangkitan nasional yang digawangi para priyayi terdidik dan menginginkan perubahan sosial atas bangsanya. 

Jilid 1| Bumi Manusia, adalah kisah awal pertemuan Minke dengan Nyai Ontosoroh dan Annelies. Ini adalah fase di mana kita mengenal karakter tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia dan peran mereka dalam kehidupan Minke, terutama sekali asal muasal kisah Nyai Ontosoroh yang semula bernama Sanikem yang dijual ayahnya kepada lelaki Belanda untuk menjadi gundik alias Nyai. Kisah dalam Bumi Manusia ditutup dengan kematian Herman Mellema, Pengadilan atas hak asuh Annelies Mellema dan kematian Annelies karena depresi di kampung halaman ayahnya. Ini adalah kisah tentang perjuangan yang heroik sekaligus kekalahan, dari relasi kuasa yang memang tidak seimbang antara perempuan pribumi (Nyai Ontosoroh) melawan lelaki Belanda (Maurits Mellema).  

Jilid 2| Anak Semua Bangsa, adalah tentang hak milik yang direprentasikan atas lahan dan hak asuh anak. Kekalahan Nyai Ontosoroh dan Minke atas Annelies di pengadilan Belanda berbuntut panjang, yaitu dirampasnya perkebunan dan pabrik susu Boederij Buitenzorg yang telah dikelola Nyai Ontosoroh selama 20 tahun oleh Ir. Maurits Mellema. Lelaki itu tak lain merupakan anak Herman Mellema dan istri sahnya, yang ternyata merupakan pahlawan perang Belanda dalam melawan Inggris di Afrika Selatan. 

Setelah kehilangan Annelies, perkebunan dan pabrik susu, ia juga harus kehilangan anak sulungnya yaitu Robert Mellema yang mati karena sipilis di Los Angeles, Amerika serikat. Setelah kehilangan segalanya, Nyai Ontosoroh pindah ke pondokan bambu dan memulai usaha barunya di bidang rempah-rempah bermodal tabungannya selama 20 tahun, dibantu Panji Darman. 

Jilid 3| Jejak Langkah, adalah tentang kebangkitan, cinta yang baru dan kehilangan yang lain. Dalam buku ini dikisahkan Minke kembali belajar di STOVIA yang kemudian dikeluarkan dan beasiswanya dicabut karena menulis resep untuk mengobati Ang San Mei. Kekasihnya ini rupanya aktivis pergerakan dari Tingkok yang menyelundup ke Hindia Belanda. Setelah menikahi Ang San Mei dan berharap hidup bahagia, rupanya Minke harus kembali kehilangan sebab istrinya meninggal karena sakit. Meski demikian, suasana duka tak menyurutkan langkahnya untuk terus menyuarakan keadilan. 

Ia pun kemudian kembali menikah dengan seorang Puteri Raja Maluku bernama Prinses Van Kasurita. Sayangnya, gara-gara Medan Prijaji menerbitkan tulisan Marko yang mengkritik ulah seorang pejabat Belanda yang melayat ke Rembang karena kematian suami Kartini dalam rombongan sangat besar, Minke harus mengalami kerugian besar. Seluruh perusahannya ditutup, rumahnya disita dan rekening bank miliknya dibekukan. Ia juga harus berpisah dengan istrinya karena diasingkan ke Ambon.  

Jilid 4| Rumah Kaca, adalah jilid terakhir yang diceritakan menggunakan sudut pandang Aku (dengan tokohnya bernama Pangemanann). Lelaki asal Manado itu merupakan seorang Ajun Komisaris yang bertugas mengawasi gerak-gerik Minke dan kemudian menangkapnya. Sebagai pejabat kolonial dia bertugas mengawasi gerak-gerak pemuda pergerakan seperti Minke. Tokoh Pangemanann ini yang mengantarkan Minke ke pembuangannya, lalu menjemputnya, serta menguburkannya dalam kesunyian. 

Dalam buku ini kita mendapati bahwa tokoh Pangemanann ini amat stress dalam menjalankan tugasnya, di mana terdapat perang batin yang tarik menarik antara menjadi petugas kolonial yang berprestasi atau berpihak pada perjuangan para pemuda pergerakan. Pangemanann yang stress sering mabuk-mabukan yang membuat istrinya meninggalkannya dengan membawa serta dua anak mereka ke Perancis. 

Tetralogi Pulau Buru adalah tentang perlawanan dan kehilangan. Dalam memperjuangkan kebebasan, Minke harus menghadapi kematian. Dalam tegak berdiri melawan ketidak adilan Nyai Ontosoroh harus kehilangan keluarga kecilnya, menantunya dan perusahaannya. Ia bahkan harus pindah ke Paris demi bisa hidup lega. Sementara Pangemanann kehilangan jati dirinya dan keluarganya demi menjalankan tugasnya sebagai polisi kolonial. Ya, relasi kuasa antara penjajah dan jajahan memang menyedihkan. Meskipun kita berjuang sebagai untuk menjadi manusia bebas, terutama bebas berpihak pada kebenaran dan keadilan, kekuatan subyektif sang penjajah sungguh sulit dilawan. 

Kali ini, marilah kita membahas secara khusus tentang si Jantung Hati dari karya besar Pramoedya Ananta Toer (dan semoga Pram damai dalam istirahat panjangnya). 

SANIKEM: MENGUBAH DERITA JADI SENJATA 
Diceritakan bahwa perempuan ini bernama asli Sanikem. Ayahnya adalah bernama Sastrotomo, seorang priyayi Jawa yang bekerja sebagai juru tulis di pabrik gula Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam usahanya menjadi juru bayar, tentu saja agar kedudukan sosial dan ekonominya meningkat, Sastrotomo menyuap seorang hartawan Belanda bernama Herman Mellema dengan menjual puterinya sendiri yang bernama Sanikem seharga 25 gulden. 

Saat itu Sanikem berusia 14 tahun. Ia tak mampu melawan kuasa sang ayah maupun tuan Herman Mellema untuk menolak dijual. Bahkan, meski sang ibu menangis hebat, nasibnya tidak berubah. Ia telah menjadi barang jualan ayahnya sendiri demi sebuah jabatan di perusahaan gula. Kegilaan dang ayah dan uang 25 gulden telah merenggut hidupnya, menceburkannya ke dalam dunia pergundikan. 

Herman Mellena membawa Sanikem ke rumahnya di Wonokromo. Meski ia terpaut usia lumayan jauh dengan Sanikem, nampaknya lelaki Belanda tersebut sangat menyayangi gadis muda itu. Dalam "Bumi Manusia" Nyai Ontosoroh mengaku bahwa saat ia datang ke istana Tuan Herman Mellena di Perusahaan Pertanian Buitenzorg, sang Tuan sangat menyayanginya dan menimang tubuh mungilnya bagai boneka. 

Sang Tuan juga mengajarinya tentang kebersihan tubuh ala orang Eropa dan mulai mengajarinya membaca, berhitung, serta berbahasa Belanda dan Melayu. Sanikem muda mulai belajar banyak hal, dan yeah tentu saja melayani Herman Mellema dalam urusan ranjang sebab untuk tujuan itulah sang tuan membelinya dari Sastrotomo. Sebagai Nyai dan milik Herman Mellema, ia melahirkan dua anak, sepasang lelaki dan perempuan yaitu Robert Mellema dan Annelies Mellema. 

Sebagai seorang Nyai yang martabatnya rendah di mata masyarakat, Sanikem menyadari betul bahwa ia tak bisa menggantungkan nasib pada siapapun, termasuk sang tuan. Maka, ia menjadikan hari-harinya untuk belajar banyak hal kepada Herman Mellema terutama dalam membantunya mengurus perusahaan dengan lahan pertanian yang luas dan ternak sapi yang banyak jumlahnya, dan pabrik susunya. Ia kemudian fasih berbahasa Belanda dan Melayu, serta piawai dalam urusan perkantoran seperti pembukuan, marketing, administrasi dan surat menyurat. 

Ia juga dididik untuk menjalani berbagai tata krama ala perempuan Barat dalam hal menata rumah, memasak, hingga berperilaku dengan etika kesopanan ala Eropa. Sanikem si perempuan Jawa yang lugu telah lenyap seiring waktu. Perempuan muda itu menjadi sosok lain yaitu Nyai Ontosoroh. Perempuan berpengetahuan dan berwawasan luas daripada perempuan kebanyakan kala itu. 

Ia bahkan melatih Annelies untuk mempelajari apa yang dipelajarinya dan menjadikan puterinya sebagai asistennya dalam menjalankan usahanya. Di tangannya, Perusahaan Buitenzorg berkembang pesat. Perusahaan itu telah dalam kendali Nyai Ontosoroh dan tidak mengalami kemunduran sedikitpun meskipun Herman Mellema mulai menunjukkan sifat hilang akal yang dalam buku diceritakan karena dicekoki alkohol plus racun dan pelacur di sebuah lokalisasi milik seorang Tionghoa. 

Nyai Ontosoroh tidak ambil pusing dengan kondisi Herman Mellema yang mulai gila, karena ia memilih melihat masa depannya dan kedua anaknya, dan Buitenzorg yang bisa saja collapse karena satu dan lain hal. Ia memilih terus mengelola perusahaan dan menabung untuk berjaga-jaga. Sampai disini, kita bisa melihat bahwa Sanikem alias Nyai Ontosoroh merupakan jenis perempuan yang berusaha mengubah kelemahan diri menjadi kekuatan dan peluang demi masa depan yang lebih baik. 

Ia juga hendak menunjukkan pada masyarakat yang memandangnya hina, bahwa seorang Sanikem yang menjadi gundik lelaki Belanda karena dijual ayahnya sendiri bukanlah perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk dapur, sumur dan kasur. Melainkan untuk menjadi terhormat karena kecerdasan dan kemampuannya menjadi tuan bagi hidupnya sendiri. 

NYAI: HINAAN, BEBAN GANDA DAN KEKERASAN
Pada masa itu, tahun 1920an, perempuan Jawa adalah milik ayahnya atau suaminya. Jadi, Sanikem muda tidak kuasa melawan ketika sang ayah menjualnya kepada orang asing seharga 25 gulden saja. Di mata ayahnya, sang perempuan muda tak lebih dari sekadar benda bernyawa yang mungkin setara dengan sekarung gula atau setandan pisang. Sanikem yang dijual ayahnya sendiri untuk menjadi gundik lelaki Belanda (penjajah) merupakan gambaran marginalisasi dan subordinasi perempuan dalam kuasa lelaki. 

Dikeluarkan secara hina dari rumah keluarganya sebagai gadis muda yang dijual, Sanikem masuk kepada penderitaan lain. Meski tuan Herman Mellema menyayanginya dan mengajarinya banyak hal, Sanikem tetaplah seorang gundik. Statusnya sebagai seorang Nyai membuatnya disetarakan sebagai pelacur yang menjual tubuhnya demi uang. Ia memang tumbuh sebagai perempuan dewasa yang cantik, anggun, memakai pakaian terbaik dan tinggal di rumah paling megah kala itu. 

Sebagai seorang Nyai, ia tetap dipandang rendah dan hina, sebagai pemuas hasrat seksual Herman Mellema yang istri sahnya ada di Belanda sana. Bahkan, ketika ia memikul tanggung jawab ganda sebagai Nyai dan ibu dalam urusan domestik, ia pun harus menjalankan perusahaan agar tetap berkembang sebab Herman Mellema mulai gila, tetap saja orang-orang mengira bahwa ia hanya ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaan Sang Tuan setelah memberinya layanan seksual. Kecerdasannya, wawasannya, keterampilannya, penampilalnya yang anggun dan perilaku yang sangat tidak tercela, Nyai Ontosoroh ini tidak pernah mendapatkan posisi terhormat di masyarakat. 

Nyai adalah sebutan lain bagi perempuan pribumi yang menjadi gundik, selir atau wanita piaraan para pejabat atau serdadu lelaki Belanda. Keberadaan Nyai sepenuhnya untuk urusan seksual dan status sosial lelaki Belanda yang bertugas tanpa membawa serta istrinya. Secara ekonomis, posisi Nyai jauh lebih tinggi dibawah para perempuan bangsawan tapi sangat rendah secara moral. Mereka yang menjadi Nyai bisa berasal dari salah satu pelayan perempuan, gadis pribumi yang dicarikan oleh Jongos atas permintaan sang Tuan, atau hasil sang Tuan membeli sang gadis dari ayah atau suaminya. 

Sebenarnya, praktek pergundikan ini sangat dilarang oleh Gereja dan para lelaki Belanda melakukannya diam-diam. Bagaimanapun, kehadiran Nyai lebih menguntungkan dibandingkan dengan mendatangkan istri-istri mereka dari Eropa dan terhindarnya mereka dari penyakit kelamin jika harus membayar jasa pelacur. Nyai adalah objek seksual sang Tuan, sehingga mereka tidak memiliki hak bahkan atas tubuhnya sendiri. Bahkan, jika ia memiliki anak dari sang Tuan, Nyai tidak berhak atas hal asuh sang anak sekalipun sang Tuan meninggal dunia. Jika diusir pun seorang Nyai tak bisa menolak takdir. 

Parahnya lagi, anak hasil pergundikan ini tidak diakui secara sah oleh hukum Belanda sehingga mereka tidak terdaftar secara sah dan nama ayah mereka di belakang nama mereka ditulis secara terbalik. Status mereka tidak jelas; tidak sebagai Eropa dan tidak juga sebagai pribumi. Hal ini bahkan diceritakan dalam Tetralogi Pula Buru melalui tokoh Panji Darman. 

Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, seakan Pram hendak menggambarkan kepada kita semua tentang derita para perempuan pribumi dalam sistem feodal dan dalam penjajahan asing. Nyai Ontosoroh adalah contoh perubahan status perempuan merdeka menjadi gundik lelaki penjajah karena dijual orangtuanya sendiri. Nyai Ontosoroh juga dipertemukan dengan beberapa tokoh seperti Panji Darman yang merupakan anak dari seorang Nyai yang berjuang mendapatkan pengakuan dari pengadilan Belanda serta berhak menggunakan nama ayahnya pada nama belakangnya. 

NYAI ONTOSOROH: CERMIN PERLAWANAN PEREMPUAN JAWA
Ada satu hal menarik dalam Tetralogi Buru ini, bahwa Nyai Ontosoroh dinyatakan sezaman dengan Kartini yang diceritakan sebagai sosok gadis cerdas di Jepara yang sangat ingin Minke temui. Sebagai lelaki muda dari kalangan ningrat yang melawan adat istiadatnya sendiri, Minke terkagum-kagum pada sosok Nyai Ontosoroh dan Kartini si gadis cerdas dari Jepara. 
“Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan."
Di kala sebagian besar perempuan tunduk pada lelaki yang menjadi pemiliknya, entah sebagai suami, ayah atau tuan si perempuan,  kehadiran Nyai Ontosoroh dalam kehidupan Minke memberinya harapan pada rasa putus asa atas ketertinggalan saudara sebangsanya si orang Jawa dibandingkan orang Eropa di penjajah. Minke muda terkagum-kagum pada sosok Nyai Ontosoroh. 

Pertama, relasi kuasa ayah vs anak perempuan (Sastrotomo vs Sanikem). Bahwa Sanikem muda yang dijual ayahnya melawan kehinaan yang ditimpakan atasnya dengan memutuskan hubungan dengan keluarganya secara total. Ia menjadikan nasibnya sebagai gundik tuan Herman Mellema sebagai langkah baru dalam menjalani hidupnya yang berbeda dari perempuan Jawa kebanyakan. 
"Aku harus buktikan kepada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku, Aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, meskipun hanya sebagai Nyai. Sekarang Sanikem sudah mati, yang ada hanyalah Nyai Ontosoroh.”
Ia memutuskan menerima pembelajaran yang diberikan Herman Mellema dengan tekun. Ia belajar bahasa Belanda dan Melayu; ia belajar urusan perkantoran mulai dari administrasi, manajemen, marketing hingga urusan keuangan; ia belajar tata krama ala perempuan terdidik Eropa dan dengan demikian, ia memiliki wawasan paling cemerlang diantara perempuan lain kala itu. 

“Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu tuan, sudah aku usir.”
“Jangan,” cegah Tuan (maksudnya Herman Mellema).
“Lebih baik pergi dari sini daripada menemuinya.”
“Kalau pergi, bagaimana aku? Bagaimana sapi-sapi itu? Tak ada yang bisa mengurusnya.”
“Banyak orang bisa disewa buat mengurusnya.”
“Sapi-sapi itu hanya mengenal kau.”

Percakapan diatas adalah tentang suatu waktu sang Ayah bertamu ke Wonokromo, Nyai Ontosoroh enggan menemuinya. Ia berkata pada Herman Mellema bahwa ia telah membuang ayahnya di hari ketika ia masuk ke Buitenzorg, sehingga daripada harus menemui sang ayah ia lebih baik pergi saja, dan kata-katanya membuat sang Tuan gusar khawatir perusahaannya bakal bangkrut. Dengan demikian, ia benar-benar menghapus jejak Sanikem si perempuan lemah dan menggunakan identitas baru sebagai Nyai Ontosoroh yang kuat, tegar dan tersohor. 

Kedua, relasi kuasa lelaki penjajah/sang tuan (Herman Mellema)  vs perempuan pribumi/gundik (Sanikem). Saat Herman Mellema mulai hilang akal (karena pengaruh alkohol beracun dan pelacur), Nyai Ontosoroh tidak menangisi nasib dan berdiam diri. Ia mengurus perusahaan dengan manajemen yang baik, bahkan menabung sebagian hartanya sebagai bentuk berjaga-jaga jikalau terjadi suatu kekacauan. Ia mengurus rumah tangganya dengan baik dan membesarkan kedua anaknya dengan keras dan penuh disiplin. 
“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana: Biar pengelihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan Pengetahuanmu tentang manusia takkan bisa kemput”
Ia menolak ikut menjadi gila seperti Herman Mellema dan memilih berdiri diatas masalah yang mulai merundung keluarga kecilnya. Ia juga tetap berdiri tegak sebagai perempuan keras hati dalam menghadapi siapa pun yang merendahkan martabatnya hanya karena ia seorang gundik. Rasa cinta dan kasih sayangnya kepada dirinya sendiri serta keluarga kecilnya membuat Nyai Ontosoroh dikenal sebagai perempuan yang merdeka finansial. 

Dengan uangnya itu, ia bahkan bisa mendirikan sebuah perusahaan rempah-rempah yang dijalankan Panji Darman, rekan sekolah Minke yang kemudian dipercaya sebagai pelindung Annelies dalam perjalanannya ke Belanda. 

Ketiga, relasi kuasa antara hak lelaki penjajah (Maurist Mellema) vs perempuan pribumi (Sanikem). Saat Herman Mellema meninggal hidup Nyai Ontosoroh mencapai titik paling kelam. Selain karena anak dari pernikahan sah Herman Mellema menuntut hak waris atas seluruh harta ayahnya, ia juga hendak mengambil alih pengasuhan Annelies. Dalam hukum Belanda kala itu, sebagai seorang gundik, Nyai Ontosoroh tidak memiliki hak asuh atas Annelies dan tidak berhak atas kekayaan Herman Mellema walaupun pada kenyataannya kekayaan itu hasil kerja keras sang Nyai dan Annelies. 

Sebagai Ibu, Nyai Ontosoroh berusaha tegar dan meyakinkan Minke yang saat itu telah menjadi menantunya, bahwa kasusnya menjadi penanda keberanian seorang pribumi melawan hukum si kulit putih (Belanda). Ia telah mengandung, melahirkan dan membesarkan Annelies Mellema. Maka Nyai Ontosoroh berusaha sekuat tenaga melawan pengadilan Belanda dalam mendapatkan hak asuh anak perempuannya, meski akhirnya dia dikalahkan. Annelies Mellema dipisahkan paksa dari ibu yang mengandungnya dan suami yang menikahinya secara sah menurut hukum Islam. 

Keempat, relasi kuasa antara pribumi (diwakili Minke) versus Hindia Belanda dan elit Jawa. Nyai Ontosoroh yang berjuang sendirian dalam membela dirinya, keluarga kecilnya dan perusahaan Buitenzorg seakan menemukan rekan seperjuangan saat Minke memasuki rumahnya. Terutama ketika Minke banyak menceritakan kehendaknya untuk bersuara dengan menulis. 
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Relasi antara Nyai Ontosoroh dan Minke bukanlah sekadar mertua dan menantu biasa, melainkan mentor dan murid, juga peluru dan senapan, kata-kata dan pena. Melalui tulisan-tulisan Minke yang kritis lagi cadas, sang Nyai Ontosoroh menantang dunia. 

Kelima, perempuan tidak hidup untuk berkalang lelaki alias tidah untuk menjadi objek seksual lelaki. Nyai Ontosoroh mungkin sedikit mencintai Herman Mellema, atau tidak sama sekali. Dalam "Bumi Manusia" diceritakan bahwa meski Herman Mellema sang tuan telah hilang akal dan menghabiskan waktu di rumah pelacuran, sang Nyai tidak lantas membalas dendam dengan mencari lelaki lain untuk menjadi kekasih hatinya. 
“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.”
Padahal kalau dipikir-pikir, dengan kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya, kemudaan yang menggoda dan kekayaan yang dimilikinya ia bisa memikat lelaki mana saja untuk dijadikan kekasih atau selingkuhan. Bahkan ketika Jean Marais di seniman teman Minke mulai mendekatinya, ia bersikap tak acuh. Meski setelah ia kalah di pengadilan Belanda dan Minke melanjutkan sekolah, ia menerima pinangan Jean Maris dan mereka memulai hidup baru di Paris. 

SANIKEM=NYAI ONTOSOROH: PESAN FEMINIS PRAM?
Pembaca, Sanikem alias Nyai Ontosoroh memang tokoh fiktif rekaan Pramoedya Ananta Toer. Meski demikian, banyak yang percaya bahwa sosoknya terinspirasi dari kisah nyata. Sebagaimana tokoh Minke yang seakan menceritakan ulang kisah Raden Mas Djokomono Tirto Adhie Soerjo (T.A.S) pendiri surat kabar Medan Prijaji yang kini kita kenal sebagai Bapak Pers Nasional. Tokoh Nyai Ontosoroh ini ibarat jantung dalam perjalanan hidup Minke hingga kematiannya yang sepi dan putus asa. 

Pembaca karya-karya Pram pastilah sudah paham bahwa tokoh-tokoh Pram sangat kuat dalam menunjukkan perlawanan perempuan Jawa. Dalam Tetralogi Buru, tokoh Nyai Ontosoroh dan Annelies adalah sepasang Ibu dan Anak yang berjuang mendapatkan haknya atas kehidupan yang baik lagi terhormat. Tetralogi Pulau Buru yang ditulis pada 1981-1988 ini menceritakan kisah zaman pergerakan kebangkitan nasionalisme di Hindia Belanda (sebelum menjadi Indonesia) selama 20 tahun (1898-1918), tepatnya pada masa peralihan dari abad 19 ke abad 20. Di mana cerita dimulai tahun 1990 saat Raden Mas Minke lahir. 
Citra Perempuan dalam karya Pramoedya Ananta Toer

Mengapa kusebut Nyai Ontosoroh sebagai jantung hati dari Tetralogi Pulau Buru? Karena dalam keempat buku diceritakan bagaimana peran sang Nyai dalam perjuangan Minke sejak ia memasuki rumahnya di Wonokromo hingga menjelang kematiannya yang sepi. Dalam dunia Minke ada dua ibu yang memberikan nasehat yang bertolak belakang, yaitu ibu kandungnya yang dipanggilnya Bunda dan Nyai Ontosoroh sang mertua yang disebutnya Mama. 

Sang Bunda yang merupakan perempuan priyayi Jawa selalu menasehati Minke untuk sadar diri tentang "tempat" seseorang dalam keluarga dan masyarakatnya. Bahwa kedudukan pembesar, priyayi, petani, perempuan, laki-laki, suami, istri, orangtua dan anak adalah demi keseimbangan kehidupan sosial. Sedangkan Nyai Ontosoroh yang memilih melepaskan identitasnya sebagai perempuan Jawa yang penurut dan memutuskan ikatan dengan keluarga yang telah menjualnya. Sang Nyai menyadari bahwa dengan kekuasaan dan kekayaan hasil kerja kerasnya ia akan mendapatkan martabatnya. 

Pandangan Nyai Ontosoroh ini mengisyaratkan tentang kekuatan modal dan kemajuan ekonomi dalam upaya mendukung pergerakan. Juga, bahwa perempuan harus memiliki kendali atas modal dan finansial agar ia tidak dipandang rendahan dan selalu menurut pada lelaki yang selama ini memang berkuasa penuh atas aset keluarga. 
“Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus” ungkap Ibu Minke. “Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda.” Jawabnya
Kedua perempuan ini hidup dan menantang dunia dengan sudut pandang dan kebijaksanaannya masing-masing. Karenanya, keduanya memberi warna yang khas pada langkah Minke dalam menyuarakan masalah sosial di Hindia Belanda melalui tulisan-tulisannya, hingga melalui koran yang didirikannya yaitu Medan Prijaji yang sengaja diterbitkan dalam bahasa Melayu agar dapat dibaca seluruh orang di Hindia Belanda. 

BACA JUGA: Mengenal Pramoedya Ananta Toer

Nyai Ontosoroh dan tokoh perempuan lain dalam Tetralogi Pulau Buru merupakan gambaran yang jelas bahwa pergerakan kebangkitan sebuah bangsa harus dimulai dari memuliakan perempuan. Terutama membebaskan perempuan dari dominasi lelaki, dari merangkak-bersujud di kaki lelaki; dari objek seksualitas lelaki dan dari semua jenis penindasan yang menistakan kehormatannya sebagai seorang manusia. Dalam memuliakan perempuan dan mengangkat derajatnya, kaum lelaki harus berdiri di barisan terdepan, meskipun kehilangan harta benda dan nyawa menjadi taruhannya. 

Tulisan ini aku tutup dengan sebuah pertanyaan: akankah aktris Sha Ine Febriyanti berhasil memerankan tokoh Nyai Ontosoroh dengan baik? 

Surabaya, 23 Juli 2019

Bahan Bacaan: 
https://geotimes.co.id/opini/nyai-ontosoroh-dalam-kesusastraan-poskolonial/
https://womantalk.com/news-update/articles/seperti-kartini-4-sikap-mandiri-nyai-ontosoroh-ini-patut-diteladani-D6olk
https://id.wikipedia.org/wiki/Poskolonialisme_Roman_Bumi_Manusia
https://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/
https://www.hipwee.com/feature/belajar-jadi-jomblo-idealis-a-la-nyai-ontosoroh/
https://tirto.id/bukan-hanya-minke-ensiklopedi-karakter-bumi-manusia-cLsc
https://www.terakota.id/citra-perempuan-dalam-karya-pramoedya-ananta-toer/
https://id.wikipedia.org/wiki/Nyai
https://historia.id/politik/articles/nyai-tak-pernah-diakui-PRylA
https://tirto.id/nasib-tragis-para-nyai-dan-gundik-zaman-kolonial-cQhH
https://www.salihara.org/en/kalam/back-issues/detail/kekuasaan-gender-dan-hubungan-produksi-perspektif-tetralogi-pulau-buru
https://www.mldspot.com/hobby/3-buku-fenomenal-pramoedya-ananta-toer
https://mapcorner.wg.ugm.ac.id/2017/09/jejak-langkah-indonesia-hadir-di-bumi-manusia-pramoedya-embrio-kebangsaan/
https://imgrumweb.com/post/BrwFkOEl7SS


Penduduk "Bumi Manusia"
Penduduk "Bumi Manusia" 


4 comments:

  1. Perempuan cerdas dan tangguh. Ia pun sabar dan ikhlas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul. Nyai Ontosoroh cerdas karena bersedia memberikan dirinya peluang untuk memanfaatkan situasi yang ada menjadi penolong baginya.

      Delete
  2. ini film yg bakal aku tonton sih :). aku memang blm baca buku2 pramoedya.. zaman sekolah, pas disuruh baca buku2 sastra, lbh milih membaca tulisan nh dini, marah roesli, merari siregar, tulis sutan sati.. nth kenapa dulu ga tertarik baca pramoedya. Agak nyesel skr :D.

    Tapi kalo nanti filmnya bisa bikin aku suka dengan ceritanya, pasti bakal cari buku2 nyaa. dari sinobsis yg mba ceritain, udh penasaran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini menceritakan kisah dalam 4 buku dong. Dan saya harap sih mbak menyesal memilih nonton filmnya dulu dibanding baca bukunya dulu karena saat membaca bukunya mbak kan membandingkan isi bukunya dengan filmnya, dan mbak akan membayangkan tokoh-tokoh dalam buku serupa tokoh-tokoh dalam film. Intinya mbak akan menyesal hehe

      Delete