Film "Bumi Manusia" dan "Perburuan" Adalah Tentang Merayakan Pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Salah satu adegan dalam film "Bumi Manusia". Sumber: brilio.net



"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil 
sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan," 


-Pramodeya Ananta Toer-


Kemarin, 4 Juli 2019 trailer film "Bumi Manusia" karya sutradara Hanung Bramantyo dan "Perburuan" yang disutradarai oleh Richard Oh sama-sama resmi diluncurkan ke publik. Kabarnya, kedua film yang diadaptasi dari karya mendiang Pramoedya Ananta Toer tersebut akan tayang di bioskop pada 15 Agustus mendatang. Tepatnya, 2 hari menjelang perayaan HUT RI ke 74 tahun. 

Karya-karya Pram bukan karya sembarangan. Melainkan karya adilihung dalam ranah sastra di tanah air. Terlebih, proses penulisan dilakukan manakala Pram menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam penjara. Karya-karyanya juga sarat makna, dan sangat tajam mengkritik berbagai masalah sosial dalam masyarakat Indonesia. Buku-bukunya pernah dilarang oleh rezim Orde Baru sehingga orang harus sembunyi-sembunyi dalam membacanya, seakan-akan membaca buku sama berdosa dengan mencuri. 

BACA DULU: Teruntuk Iqbaal, Jangan Kau Hinakan Minke "Bumi Manusia" dengan Peran Picisan

Oleh karena itu, ketika sutradara Hanung Bramantyo mengumumkan akan membuat film "Bumi Manusia" banyak pembaca Pram yang marah-marah, karena Hanung sudah lama dikenal sebagai sutradara yang merusak sejarah seorang tokoh demi karya picisan. Oke, itu pendapat sebagian orang. Karena memang, akan sangat sedih jika film Bumi Manusia digarap sembarangan sehingga tidak sesuai dengan pesan dalam buku, melainkan hanya soal cinta-cintaan tokoh Minke dan Annelies. 

Namun, sebagian pihak menganggap bahwa terlepas dari cara Hanung mengemas film "Bumi Manusia" kita tetap harus berbangga bahwa di masa sekarang karya Pram bebas dibaca siapa saja, bahkan bebas untuk diadaptasi ke layar kaca. Sudah saatnya generasi sekarang menikmati kebebasan membaca buku atau menikmati film kritis karya anak bangsa. Juga untuk menunjukkan pada dunia bahwa kondisi politik Indonesia sudah jauh lebih baik sejak Reformasi pecah pada 1998 yang akhirnya menggulingkan  Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun sejak 1966-1998. 

Berbeda dengan "Bumi Manusia", film "Perburuan" yang juga diadaptasi dari karya Pram tidak mendapat banyak cibiran dan keraguan sebelum proses syuting dilakukan. Tahun lalu, keheboan soal rencana pembuatan film "Bumi Manusia" sempat membuat Prof. Ariel Haryanto turun tangan dengan meramaikan jagat Twitter. Ah, pokoknya ramai sekali berbagai cibiran, keraguan, kritik hingga sumpah serapah yang ditujukan pada Hanung Bramantyo hingga aktor muda Iqbaal Ramadhan yang dianggap nggak cocok memerankan tokoh Minke, kesayangan semua pembaca fanatik Pram. 
Salah satu adegan dalam film "Perburuan" besutan Richard Oh. Sumber: liputan6.com

"Perburuan" adalah kisah yang sama sekali berbeda dengan "Bumi Manusia" sehingga ekspektasi pembaca terhadap kedua film juga agak berbeda. "Perburuan" adalah tentang melawan Jepang hingga penjajah itu angkat kaki dari Jawa setelah dikalahkan Sekutu. Musuh yang dilawan adalah si Saudara Tua Asia yang tentaranya banyak sekali menyiksa jajahannya dengan perilaku tidak manusiawi seperti pemerkosaan kepada para perempuan. 

Pram memiliki pembaca fanatik yang sangat idealis dalam menerjemahkan pemikiran Pram, sehingga salah tafsir atas karya Pram apalagi melalui media film akan membuat sutradara, pemain, produser hingga kru menjadi bulan-bulanan kemarahan. 

Kemarin Aku sudah menyaksikan trailer film "Bumi Manusia" dan "Perburuan" melalui Youtube. Lumayan deg-degan juga sih khawatir jika nanti filmya nggak seapik trailernya. Sebagaimana para pembaca Pram yang lain, ekspekatasiku sangat tinggi pada film ini. Bumi Manusia adalah kisah yang sangat pelik, sekaligus dalam mengenai seorang lelaki muda yang melihat bangsanya dari sudut pandang berbeda. 

Sehingga sama sekali bukan soal cinta-cintaan anak muda, meski kisah antara Annelies dan Minke mengambil porsi 2/3 cerita dalam roman "Bumi Manusia". Memang, kekhawatiran para pembaca Pram adalah jika Hanung Bramantyo menitikberatkan urusan cinta tokoh Minke dan Annelies alih-alih inti perjuangan seorang muda dalam memajukan bangsanya yang jauh tertinggal dari orang Eropa. 

Dalam rangka memikat hati generasi millenial, memang kisah cinta Annelies dan Minke menarik untuk dijadikan porsi terbesar dalam film. Terlebih dalam soal menarik minat mereka untuk membaca karya-karya Pram. Namun demikian, "Bumi Manusia" lebih dari sekadar kisah antara dua manusia muda tersebut. "Bumi Manusia" adalah buku pertama dari tetralogi Pulau Buru, yang menjadi kunci pembuka pada perjuangan-perjuangan Minke dalam menyuarakan perlawanan baik kepada penjajahan Eropa maupun ketimpangan sosial masyarakat Nusantara kala itu, khususnya di Jawa. 

BACA JUGA: Kata Prof. Ariel Heryanto tentang Film "Bumi Manusia" 

Sementara pada "Perburuan" nampaknya eskpektasinya lumayan tidak terlampau tinggi, sehingga para pembaca Pram tidak terlalu meributkankannya. Beberapa review cenderung menyatakan bahwa terdapat kepuasan tertentu pada film ini, termasuk aktor yang dipilih memainkan peran 'Hardo' si tokoh yang diburu. 

Oke, soal ekspektasi, kita semua deg-degan dan penasaran akan kualitas kedua film. Namun, tim "Bumi Manusia" dan "Perburuan" telah berusaha melakukan yang terbaik untuk menerjemahkan karya sastra Pram ke dalam bentuk film. Semua pihak berusaha menjalankan perannya dalam merayakan karya-karya Pram agar selalu dinikmati dunia. Kini, saatnya kita sebagai pembaca dan penonton merayakan karya-karya Pram dalam bentuk yang berbeda, sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangannya dalam khazanah sastra tanah air, dan dalam mencintai Indonesia. 

Jakarta, 6 Juli 2019

6 comments

  1. Perburuan yang main Adipati Dolken? Aku lihat sekilas trailernya Bumi Manusia akting Iqbal oke. Tapi aku belum baca bukunya sih. Hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca bukunya dulu geh biar nyambung sama filmnya. Karena kalau nonton filmnya dulu baru baca buku ceritanya, nanti ekspektasinya kebalik dan bakal sakit hati eaaa

      Delete
  2. aku pernah baca novelnya Bumi Manusia itu. berat kali yaaa... bahasanya sulit dipahami, nyastra banget deh. jadi suka nggak kebayang gitu gimana caranya bikin novel itu jadi film yang apik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya cara berbahasa orang zaman itu beda sama zaman sekarang, makanya sulit kita pahami. Tapi aku menyelesaikan 4 buku tetralogi buru plus 1 buku lainnya hanya 28 hari loh karena seru hehehe

      Delete
  3. setelah nonton trailer bumi manusia, saya mengharapkan filmnya sebagus trailernya, karena jujur saja, saya sendiri ga pernah baca bukunya langsung, kalimat yang paling saya ingat di trailer itu kata-kata ibu Minke " Kita adalah orang pertama yang melawan pengadilan kulit putih"

    tampak jelas disini sepertinya 'perjuangan kemerdekaan' bagian yang paling disoroti, tp entahlah, kita tunggu saja nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sabda, aku sarankan sih baca bukunya dulu. Bukunya ini 500an halaman dan dipres menjadi 3 jam dalam film. Cerita dalam buku sangat padat dan banyak sekali percakapan yang isinya sangat berbobot. Isinya bukan melulu soal kisah cinta Minke dan Annelies, melainkan hal kompleks dalam kehidupan orang Jawa kala itu, mulai dari ketidaksembangan dalam struktur sosial, relasi kuasa orangtua-anak dan lelaki-perempuan, anak perempuan yang dijual untuk jadi gundik Belanda, para buruh perkebunan tebu, pelacuran yang melibatkan orang China dan Jepang, dan masih banyak lagi. Termasuk diskusi-diskusi Minke dengan teman-teman Belandanya menyoal kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.

      Delete

follow me on instagram

My Books

# # #