Bagi Hartono Lokodjoyo, Bertani Adalah Pekerjaan Paling Nikmat dan Menguntungkan

Hartono Lokodjoyo, saat menanam bibit lettuce


Aku adalah anak petani yang tidak menjadi petani. Bukan menolak menjadi petani sih. Masalahnya adalah sejak kecil aku dididik untuk tidak menjadi petani. Alhasil, ikutan ngoret rumput 5 menit aja telapak tangan langsung kapalan. Kebayang kan bagaimana kalau aku jadi petani sungguhan dengan lahan 1 ha dan dikerjakan sendiri?

Belasan tahun kemudian, kok aku malah tertarik menjadi petani ya. Tapi eh, aku nggak punya lahan apalagi tanah warisan. Bagaimana jadinya mau bertani jika lahan saja tidak punya, bukan? Karena ruhnya petani adalah tanah. Mana ada kan petani hidup tanpa tanah.


Omong-omong soal petani dan dunia pertanian nih, meski kita sudah ada di zaman menuju Society 5.0 profesi petani masih dianggap rendahan. Bahkan beberapa tahun silam seorang pejabat negara pernah dengan bangga mengatakan bahwa menurunnya jumlah petani adalah pertanda baik bagi ekonomi bangsa. Padahal di lapangan, menurunnya jumlah petani bukan berarti rakyat semakin sejahtera karena misalnya menjadi buruh di pabrik-pabrik. Melainkan karena terjadi banyak sekali penggusuran dan alih fungsi lahan pertanian menjadi kegunaan non pertanian seperti perumahan, pabrik hingga fasilitas publik seperti jalan tol dan bandara. Dalam kondisi massivenya alih fungsi lahan pertanian, ya wajar lah jika para petani angkat pacul dan jadi pengangguran, karena tempat bekerja petani kan memang lahan pertanian, tiada lain.

Nah, karena lahan pertanian berkurang maka terjadilah kekurangan pasokan bahan pangan sehingga harus impor dari negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand. Trus kita hanya bisa teriak-teriak tolak impor dan lain sebagainya tanpa melihat masalah sesungguhnya di dunia pertanian tanah air. Hal inilah yang kemudian memicu kemunculan petani-petani muda dengan segala inovasi dalam memajukan kembali dunia pertanian. Sebab, sulit lho mengajak anak muda lulusan kampus-kampus bonafit untuk jadi petani. "Idih, masa sarjana jadi petani?" begitu kata sebagian besar orang, karena mereka mengira Sarjana Pertanian enggak berhak jadi petani.

Perkembangan gerakan petani muda dengan konsep pertanian yang maju dan intensif membuatku semakin tertarik mencari tahu petani-petani keren tanah air yang bisa membangkitkan semangatku untuk menjadi petani, walau sampai tulisan ini dibuat aku masih belum punya lahan apalagi diberi tanah warisan (wkwkwkwk).


PETANI NYENTRIK DARI BALI
Suatu waktu, aku berkenalan dengan serang petani bernama Hartono Lokodjoyo di Facebook. Dalam tulisan itu aku sebut saja beliau sebagai Mas Har. Aku mengikuti status-statusnya yang sederhana, terutama cerita tentang lahan pertaniannya yang bernama Hars Garden dengan 3 unit rumah pohon yang selalu full booking. Awalnya aku merasa Mas Har ini sesumbar alias sombong bahwa sebagai petani dari lahan sewaan dia bisa liburan keliling dunia bersama istrinya.


Setelah banyak menjalin komunikasi, akhirnya Mas Har mengundangku untuk belajar di kebunnya yang terletak di Ubud, Bali. Berangkatlah aku ke sana dan berhasil belajar selama 10 hari sampai kulitku gosong macam arang untuk membakar sate kambing hehe. 


Lokasi Hars Garden ini dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Lokasinya nggak jauh dari Anan Ashram dan Bali Swing yang terkenal itu. Dan tentu saja Hars Garden ini berlokasi di areal persawahan luas khas Ubud sehingga tidak nampak seperti sebuah perkebunan yang luas. Benar saja, yang disebut Hars Garden itu hanya sepetak lahan sawah yang disulap menjadi kebun sayur dan herbal organik. Sementara rumah pohon dibangun di lokasi hutan kecil di bagian belakang kebun.


Kedatanganku disambut Mas Har yang baru saja mengantar tamu untuk check in ke salah satu rumah pohon. Mas Har ini lelaki mungil dengan tinggi kurang dari 170 cm, berambut gimbal hingga melewati pantat, berkulit cokelat gelap karena terbakar matahari, kurus dan sangat ndeso. Terlebih saat itu Mas Har hanya mengenakan kaos oblong dan celana selutut yang sudah kusam karena sering terkena lumpur dan tanah. 

Saat kami mengobrol, seekor anjing berlari dan mendekat Mas Har seakan hendak bermanja. Katanya, anjing itu sangat akrab dengan Mas Har seakan-akan Mas Har ini tuannya, padahal bukan. Bertiga dengan si anjing, kami menuju saung untuk berteduh. Kami kemudian mengobrol banyak mengenai rencana pembelajaranku selama 10 hari. 
"Saya ini dari keluarga miskin di Sragen, Jawa Tengah. Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil. Saya punya dua orang adik, yang adik satunya hasil dari pernikahan Ibu saya dan suaminya yang sekarang. Hidup saya ini susah dari kecil. Bahkan sampai usia saya 33 tahun rumah Ibu saya itu yang paling jelek di kampung. Saya juga sering lari terbirit-birit kalau lihat mantan pacar saya, karena saya malu jadi petani," Mas Har, begitulah aku menyapanya, menceritakan kisah hidupnya. Cerita yang sebenarnya telah dia tulis di beberapa status di akun Facebooknya. 

"Meskipun miskin ya saya ini tukang khayal. Setiap mau tidur saya mengkhayal seperti mau punya mobil Honda Jazz, mau punya rumah bagus, mau jalan-jalan ke luar negeri, mau mudah mencari uang. Bahkan saya pernah bercita-cita punya istri orang luar negeri, karena dalam khayalan saya, saya akan bekerja sebagai pemandu wisata dan saya berkenalan dengan calon istri saya karena saya seorang pemandu wisata. Selain itu saya juga kutu buku. Saya sangat suka membaca," katanya. 

"Berbagai jenis pekerjaan sudah saya jalani. Mulai dari jadi musisi di kampung saya, pengamen jalanan di bus-bus dan kereta, pekerja pabrik tahu di Jakarta, perambah hutan di Kalimantan, akuntan atau kerani di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan, menyanyi di kafe-kafe milik teman saya, tukang gembala sapi, sampai gardener panggilan. Sudah saya lakoni semua itu," ujarnya sembari memindahkan bibit tanaman ke dalam 'polybag' buatannya sendiri. 

"Saya itu dulu perokok berat. Gaji saya sebagai Gardener itu 1.5 juta. Akhir bulan hanya tersisa 500ribu. Waktu itu umur saya 29 tahun dan saya berpikir mau jadi apa saya kalau uang hasil bekerja habis untuk rokok. Akhirnya saya putuskan berhenti merokok dan uang 1 juta itu saya tabung. Saya bukan tabungan di BRI. Setelah 5 bulan saya punya tabungan 5 juta dan mulai menyewa lahan untuk membuat kebun milik saya sendiri. Itulah cikal bakal Har's Garden yang bisa kamu lihat sekarang," ujarnya dengan mata berbinar.

Aku manggut-manggut, merasa bahwa jalan hidupku jauhhhhhhhh lebih mudah dibandingan lelaki nyentrik ini. Kami tertawa bersama ketika sampai pada cerita bahwa uang hasil bekerja sebagai penebang kayu di Kalimantan habis untuk berobat karena ia terkena malaria. Atau ketika uang hasil kerjanya yang ia taruh dengan hati-hati di dompet hilang karena dompetnya terjatuh entah di mana, sampai-sampai ia merasa malu ketika bertemu ibunya, ternyata nggak punya uang sepeserpun hasil merantau ke tanah Borneo. 

"Mungkin, jalan hidup saya harus sekeras itu agar saya naik level sebagai manusia," katanya, seakan sedang menghitung pencapaian demi pencapaian dalam hidupnya, juga menertawakan kesulitan tak teratasi di masa silam. 

"Saya ini hanya lulusan SMP karena keluarga saya miskin. Tapi ilmu bertani saya sudah banyak, baik dari praktek langsung maupun dari membaca buku-buku pertanian. Saya bertani bukan berdasarkan teori, tapi praktek langsung di lapangan. Ya, bisalah saya disebut praktisi. Karena saya kutu buku, saya senang membaca buku tentang pertanian meskipun seringkali begitu rumit untuk saya pahami. Karenanya saya mau orang belajar cara bertani organik seperti saya, yang mudah dan murah, tapi hasilnya melimpah. kalau saya sedang jlan-jalan bersama istri saya, tidak akan ada yang menyangka saya petani dan cuma lulusan SMP. Nih, gimbal saya ini branding saya sebagai petani," katanya. 

Aku tersenyum, merasa kagum dengan kegigihannya berjuang untuk hidup yang lebih baik, melampaui pencapaian banyak orang lulusan kampus ternama sepertiku buahahahaha. 

"Awal-awal saya buka kebun sendiri, saya sukses menanam apa saja. Tapi masalahnya adalah pemasaran. Saya sudah berhasil di mengelola tanah dan tanaman, tapi saya gagal memasarkan produk saya. Sampai capek sekali saya. Pagi sampai siang saya bekerja sebagai gardener di sebuah kafe, lalu siang sampai sore saya bekerja di kebun sendiri, lalu sore sampai malam saya memasarkan produk saya. Ya tidak laku. Sampai akhirnya saya berpikir untuk merubah cara saya menjual. Keuntungan saya sekarang adalah pembeli produk kebun saya orang asing yang sangat peduli dengan kesehatan makanan mereka, makanya produk kebun Hars Garden ini laris dan menguntungkan bagi saya," katanya mantap.

Ya, beberapa kali aku menyaksikan Mas Har melayani sejumlah pembeli, yang sebagian besar berkewarganegaraan asing yang langsung datang ke kebun. Dari cara mereka berinteraksi, sepertinya mereka selalu senang dapat berbelanja pangan organik langsung di kebun organik, dan bisa berdiskusi tentang pertanian organik dengan pemiliknya langsung. Bahkan pernah ada seorang konsumennya yang orang asing merasa cemburu dengan kehidupan Mas Hartono. 
"Saya sudah bertemu dengan banyak orang kaya dan sukses, tapi saya tidak cemburu dengan mereka, kekayaan mereka dan kehidupan mereka. Saya justru cemburu dengan kamu dan kehidupanmu yang tenang, apa adanya dan bersahabat dengan alam,kata si lelaki. 

Oh ya, saat si lelaki pengunjung itu datang ke kebun, dia sampai membuka sendalnya dan berjalan kesana-kemari nyeker seperti sang empunya kebun. Mereka bahkan melihat-lihat lokasi rumah pohon yang sangat teduh dan menenangkan.

"Saya itu kan sempat membuka Gardening Class, biayanya 600 ribu per orang. Siswanya ya orang asing. Saya suka sekali kalau sedang Gardening Class. Dari seluruh jenis pekerjaan yang pernah saya jalani,bertani adalah pekerjaan yang paling saya nikmati. Makanya saya itu kalau sibuk di kebun sambil mendengarkan musik campursari, cocok sekali, membuat saya benar-benar senang dan menikmati pekerjaan saya," tutupnya. 

Merasa pekerjaannya hari itu telah rampung, lelaki yang sehari-hari terlihat nyaman terbakar matahari ini mencuci kakinya dengan air pancuran dari siring, dan menuju rumah pohonnya di mana Mbak Ryoko, istrinya menunggu. Mbak Ryoko ini orang Jepang, wisatawan asing yang membeli sayuran di Hars Garden dan kemudian menjadi istri Mas Har setelah 2 tahun pacaran. Khayalan Mas Har memiliki istri orang asing terkabul sudah.

Beberapa jenis pangan produk Hars Garden

Saat itu matahari perlahan menuju ke Barat, terhalang rimbun pepohonan. Kebun sudah terlihat segar setelah disiram oleh Mas Har sebelum kami berpisah. Bersama Kak Puput (pekerja di Hars Garden) Aku mulai menyisir kebun, memanen sejumlah sayuran dan herbal untuk kubuat menu makan malam,  menikmati tomat segar yang pecah di mulutku. Ah, rasanya begitu menyenangkan mendapatkan kesempatan menikmati langsung aneka pangan sehat dan bergizi di Hars Garden.  

Sepuluh hari pembelajaranku di Hars Garden berlalu. Saat aku membuka mata di hari ke 11 di Ubud, Mas Har dan Istrinya dalam perjalanan ke bandara. Mereka berdua akan jalan-jalan keliling sejumlah negara di Asia untuk merayakan ulang tahun Mas Har ke 39 tahun. Rencananya, mereka akan jalan-jalan selama sebulan lamanya layaknya pasangan pengantin baru yang berbulan madu (sedap nian ya hidupnya). 

Gila! Petani dengan lahan sewaan kurang dari 1 ha bisa jalan-jalan keliling Asia selama sebulan hanya untuk merayakan ulang tahun? Kok bisa sih? 

TITIK BALIK KEHIDUPAN HARTONO
Jadi, Mas Har ini lahir dari keluarga amat miskin di Sragen, Jawa Tengah. Selain itu ayahnya meninggal dunia selagi ia masih bocah kecil. Meski sang Ibu menikah lagi, namun suami sang Ibu ternyata bukan tipe lelaki pekerja keras sehingga kehadiran kepala keluarga baru tidak memberi pengaruh signifikan pada kondisi ekonomi. Keadaan ekonomi yang sangat lemah itulah yang juga membuat Mas Har hanya bisa lulus SMP. Saat teman-teman sekolahnya melanjutkan ke SMU kemudian kuliah, Mas Har kerja serabutan dan membantu keluarganya bekerja di lahan pertanian mereka yang kecil. 

Hidup Mas Har muda sangat keras. Ia pun menjajal berbagai profesi demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia pernah bekerja sebagai penyanyi campursari kelas kampung yang mengisi panggung-panggung pesta pernikahan; menjadi pekerja di sebuah pabrik tahu di kawasan Palmerah, Jakarta; menjadi pengamen; menjadi perambah hutan di pedalaman kalimantan sampai hampir mati karena terserang malaria; menjadi buruh di perkebunan sawit hingga naik kelas menjadi kerani dan mulai belajar untuk korupsi; hingga bersentuhan dengan dunia narkoba. 

Suatu waktu, saat ia telah kembali lagi ke Sragen ia mendapat sebuah tawaran menggiurkan dari seseorang di Bali. Ada sebuah pekerjaan di mana ia dan kawan-kawannya hanya perlu menggembala puluhan ekor sapi di lahan yang luas dengan sistem bagi hasil. Dalam kalkulasi Mas Har, hidupnya akan berubah dan ia akan kaya raya dalam dua tahun. Sayangnya, semua khayalannya tidak menjadi kenyataan. 

Kemudian ia bekerja di sebuah kafe sebagai gardener dengan gaji Rp. 1,5 juta per bulan. Sebagai bujangan yang hidupnya tidak tertata, gaji bulanannya selalu habis tanpa sisa. Dari gaji tersebut hanya Rp. 500ribu yang dia alokasikan sebagai biaya hidup dan Rp. 1 juta ia habiskan hanya untuk rokok. Di titik inilah dia mendapatkan kesadaran baru tentang hidupnya dan masa depannya. 

Saat itu usianya 29 tahun dan ia membuat perubahan besar-besaran dalam hidupnya (sebut saja revolusi). Ia berhenti total merokok sehingga bisa menabung Rp. 1 juta per bulan. Ia membuka tabungan pertamanya di sebuah Bank dan setelah 5 bulan menabung ia mendapatkan modal untuk menyewa lahan dan memulai usaha mandirinya sebagai petani. 

Namun, diperlukan ilmu dan pengalaman mumpuni  untuk menjadi petani cerdas. Sebagaimana diceritakan diatas, sebagai petani ia telah menguasai teknik penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan hasil pertaniannya. Namun, dia belum menguasai teknik memasarkan hasil pertanian dari kebun miliknya sendiri. Percuma kan jika produk pertanian kita kualitas prima tapi nggak ada yang beli? 

Dengan pembelajaran yang tekun dan sikap rendah hati dalam berguru kepada banyak orang, kini Mas Har bisa menjual produk pertanian organiknya dengan dua cara saja. Pertama, menjalin kerjasama dengan konsumen seperti kafe untuk menjadi pembeli reguler produk pertanian miliknya. Kedua, menjual langsung kepada konsumen asing yang kemudian menjadi pelanggannya. 

Selanjutnya, ia menggunakan ketertarikan wisatawan asing pada praktek pertanian yang dilakukannya, Mas Har juga membuka Gardening Class dengan bayaran fantastis. Setiap orang yang ingin belajar menjadi petani, harus belajar di kebunnya langsung mulai dari pemilihan bibit, penyemaian, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga pasca panen. 

Apakah masuk akal dengan lahan pertanian sepetak sawah ia bisa disebut petani sukses yang bisa jalan-jalan keliling Indonesia dan sejumlah negara? Oh, tunggu dulu. Mas Har ini rupanya cerdas. Pada 2017, sepulang dari kunjungan ke sebuah lokasi syuting milik rekan istrinya, ia membangun tiga unit rumah pohon. Satu unit dijadikan tempat tinggalnya dan dua unit lainnya disewakan kepada wisatawan asing melalui situs www.airbnb.com dan inilah sumber pundi-pundi rupiah Mas Har yang sesungguhnya. 

Jika pembaca mencari penginapan bernama Hars Garden Tree Houses di situs Air BNB, maka rumah pohon tersebut dipastikan full booking hingga beberapa bulan kedepan. Dengan pelayanan yang prima kepada tamu, ketulusan dalam bekerja, dan sikap rendah hati dalam bersahabat dengan alam, Mas Har memanggil rezekinya untuk datang. Terlebih, para tamu sangat menyukai makanan yang disuguhkan Mas Har, yang berasal dari kebunnya sehingga terasa segar, sehat dan membahagiakan ketika dikonsumsi. 

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Mas Har mengelola bisnisnya, sebagai petani. Saat seorang atau sepasang tamu datang ke Hars Garden, ia langsung menyambutnya, sesibuk apapun ia bekerja di lahan pertaniannya. Ia akan memanggul ransel tamu perempuan dan memimpin para tamu menuju rumah pohon yang akan mereka inapi. 

Pada pagi hari saat sarapan tiba, Mas Har memasak sendiri menu sarapan untuk para tamunya, dibantu asistennya. Secara konsisten Mas Har menyuguhkan segelas air kelapa muda, segelas kopi, sepiring aneka buah segar dan sepiring salad. 

Salah buatan Mas Har ini berbeda dengan salad yang biasa kita temui di restoran, karena dia dibuat dari puluhan jenis sayuran dan herbal yang dipetik langsung dari Hars Garden. Setiap satu piring salad akan berisi beberapa potong sumber karbohidrat dan protein nabati yang berasal dari tempe goreng atau singkong goreng atau ubi goreng, ditambah serta puluhan jenis sayuran, herbal dan bunga. 

Saat para tamu sarapan, Mas Har akan mendampingi mereka dan bercerita mengenai filosofi Hars Garden, seperti sebagai kampanye dalam #BaliNotForSale di mana bisnis pariwisata Bali telah mengancam keberlangsungan lingkungan hidup pulau dewata tersebut. Para tamu memberi apresiasi kepada langkah kecil Mas Har dan mereka merekomendasikan kepada teman-temanya untuk menginap di rumah pohon Hars Garden. Demikianlah nilai-nilai baik tersebut berlipat ganda, menyebar, mendatangkan persahabatan lintas negara dan tentunya keuntungan material yang melimpah. 

PARADOKS PERTANIAN INDONESIA
Mas Har pernah merasa sangat alu menjadi petani. Bahkan ia pernah lari terbirit-birit ketika mantan pacarnya melewati lahan pertanian keluarganya di Sragen. Bukan apa-apa memang, menjadi petani miskin adalah bukti bahwa keluarganya tidak mampu secara finansial. Jangankan membangun rumah mewah berbahan semen atau membeli mobil, membayar biaya sekolah SMU saja tidak mampu. 

Mas Har mengaku bahwa hingga usianya 33 tahun, rumah keluarganya di Sragen adalah yang paling jelek. Karena itulah, ia bertekad untuk menjadi petani dengan cara bertani yang cerdas sehingga lahan pertaniannya bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan ia memiliki kehidupan yang baik. Ia hendak menebus kemiskinan akut yang membuahkan rasa malu di mata manusia lain dengan menjadi petani sukses, agar derajatnya sama tinggi dengan para eksekutif muda di Jakarta yang kaya raya dan memiliki aset menggiurkan. 

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, bahwa sepanjang 2010-2017, jumlah petani Indonesia menurun dengan persentase 1,1% per tahun. Jika pada 2010 jumlah petani Indonesia adalah 42,8 juta jiwa, maka penurunan menyebabkan jumlahnya menjadi 39, 7 juta jiwa pada 2017. Lalu, bagaimana selanjutnya nasib petani tanah air ini? 

Hal ini juga menjadi pertanian Mas Har, terutama ketika ia melihat bahwa kampanye #BaliNotForSale tidak realistis dalam menjawab tantangan zaman, seperti tingginya alih fungsi lahan persawahan di Bali menjadi villa dan hotel. 
"Orang asing dalang ke Bali, terutama Ubud ini kan ingin melihat sawah-sawah yang indah bagai permadani di kaki langit. Saat mereka tiba di Bali kok ya sudah berubah dan sawah-sawah yang indah sudah berubah menjadi hotel atau villa atau bangunan lain yang menggunakan semen, yang tidak ramah lingkungan," ujar Mas Har saat menunjukkan kondisi persawahan di sekitar Hars Garden yang mulai beralih fungsi. 

"Belum lagi kan budaya orang bali yang misalnya suka menyabung ayam, sampai-sampai harus menjual lahan pertanian demi membayar utang gara-gara kalah judi. Ini kan namanya warga asli Bali sendiri yang kehilangan lahannya. Pemerintah Bali ini tidak melihat ini sebagai masalah karena bagi mereka sabung ayam ya budaya Bali. Padahal kalau budaya merusak yang dihapuskan saja," katanya lagi. 
Hartono saat mengurus bibit lettuce
Teknik penyiraman tanaman ala Hartono. 
Hartono melakukan penyiangan tanaman kale.
Hartono saat berbincang dengan pembeli yang datang ke Hara Garden.
Hartono saat hendak memulai gardening class di Hars Garden

Mas Har berpendapat bahwa pola pikir petani dan industri pariwisata di Bali harus berubah. Tentu saja bukan demi kebaikan orang asing, melainkan orang Bali sendiri dan petaninya. Misalnya, Mas Har mengusulkan bahwa setiap petani membangun satu saja rumah pohon di lahan sawah atau kebunnya. Pembangunan rumah pohon tidak menghilangkan habitat asli si pohon tumbuh, melainkan mengintegrasikan hunian ramah lingkungan dengan alam apa adanya. Integrasi rumah pohon usaha pertanian ini mendatangkan dua keuntungan sekaligus, yaitu dari usaha sektor jasa dan produk pangan. 

Mas Har sadar bahwa untuk konsumsi skala besar, konsep pertanian yang dijalankannya tidak bisa menjawabnya. Namun, menurutnya ada sisi lain di dunia pertanian yang harus dibenahi dan hal tersebut bisa menjadi kesempatan emas bagi siapa saja yang memang memiliki itikad baik mengubah wajah pertanian tanah air. 

"Saya terbuka bagi siapa saja yang mau belajar kepada saya tentang pertanian organik atau tentang mengelola bisnis rumah pohon saya. Tapi ya datang ke sini, ke kebun saya, ke Hars Garden ini. Saya tidak mau lah mengajar pertanian tapi di kelas. Belajar pertanian itu di lahan pertanian," katanya sembari menunjuk lahan pertanian mungilnya. 

BERAPA PENGHASILAN HARTONO? 
Tentu saja pembaca penasaran dengan bagian ini, bukan? Jika dua unit rumah pohon full booking selama sebulan penuh dan pembeli sayuran datang secara berkesinambungan ke Harg Garden, ditambah dengan gardening class maka penghasilan kotor Mas Har sekitar Rp. 60 juta per bulan. Di mana Rp. 40 juta berasal dari sewa rumah pohon dan Rp. 20 juta dari hasil penjualan produk Hars Garden, Gardening Class dan kelas-kelas lain yang berkaitan dengan usaha pertanian organik Hars Garden. 

Dengan gaya hidup minimalis, Har dan istrinya Ryoko jarang sekali berbelanja. Karena toh sebagian besar kebutuhan hidup mereka sudah tersedia di kebun. Karenanya, sebagian besar penghasilan mereka tentu masuk ke pos investasi dan tabungan. Maka tidak heran jika saat ini Mas Har sedang mempersiapkan New Hars Garden di Sumba dan siap keliling negara-negara lain di dunia. 
Hartono bersama salah seorang tamunya, berfoto dengan latar rumah pohon yang menjadi tempat tinggalnya bersama istrinya. Sumber: Hartono Lokodjoyo

"Mengapa Mas Har nggak bikin banyak rumah pohon, misalnya 10 unit? Kan bisa jadi kaya raya nih," tanyaku penasaran, melihat peluang yang sangat besar di depan matanya. 

"Bisa. Saya bisa bangun rumah pohon seperti ini atau lebih baik dari ini sebanyak yang saya mau. Saya juga bisa kaya raya, kan? Tapi kan masalahnya nanti waktu saya untuk menikmati hidup jadi berkurang karena harus sibuk mengurusi bisnis. Istri saya itu kalau hari Minggu maunya saya antar jalan-jalan," jawabnya dengan sederhana. 
"Bukan saya tidak bisa, tapi saya tidak melakukannya. Biarlah orang lain saja yang melakukannya, biar semakin banyak rumah pohon seperti ini dimana-mana. Karena menurut saya hal paling sulit dalam hidup ini adalah mengendalikan keinginan. Saya ini sudah berkelimpahan dan merasa cukup," lanjutnya.

Baginya, pencapaiannya saat ini sudah cukup bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Mas Har justru ingin agar konsep bisnisnya dalam bertani diadaptasi oleh sebanyak mungkin petani di tanah air. 

PERSONAL BRANDING SEORANG PETANI
Kita tahu sama tahu lah kalau rata-rata penampilan luar petani itu kotor, kulit kusam terbakar matahari dan bau lumpur. Karenanya, wajar sekali jika banyak generasi muda khususnya generasi millenial Indonesia enggan menjadi petani. Masa iya udah berlatih bergaya perlente dan wangi ala esksekutif muda, harus menjadi kusam dan bau lumpur. Mana ada anak millenial yang mau berpenampilan demikian, bukan? 

"Saya ini mengapa gimbal begini salah satunya ya untuk menunjukkan bahwa petani itu bisa punya penampilan seperti saya, yang tidak terlihat seperti petani," Mas Har memegangi rambut gimbalnya yang telah dirawatnya selama 10 tahun. 
Hartono dan Ryoko saat melakukan sesi pemotretan di lombok. Sumber: Hartono Lokodjoyo
Hartono dan Ryoko saat jalan-jalan ke Turki

Ya, lelaki mungil ini sedang menyatakan tentang personal branding seorang petani cerdas dan sukses. Bahwasanya petani nggak harus berpenampilan kucel, melainkan bisa gaul juga. Karena menurutnya, dengan penampilannya yang demikian, banyak wisatawan asing yang penasaran dengan kisah hidupnya dan prinsip-prinsipnya dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan serta selaras dengan alam.

Ia juga menunjukkan kepadaku jam di pergelangan tangannya, sebuah jam mahal yang dipastikan tidak bisa dibeli sebagian besar petani di tanah air. Jam tangan itu seperti hendak menunjukkan bahwa sebagai petani dengan lahan sewaan, ia bisa membeli barang-barang mewah yang sebenarnya hanya bisa dibeli kelas atas tanah air alias crazy rich

Hidup Mas Har ini sangat santai. Setiap hari, sekitar pukul 9 pagi, setelah melayani dan mengobrol dengan para tamu ia mulai mengurus kebunnya. Selama 10 hari aku menyaksikan sendiri caranya mengelola kebun organiknya dengan metode yang unik. Pada pukul 4 sore ia berhenti bekerja dan mandi. Waktu sore dinikmatinya dengan bersantai di beranda rumah pohon bersama istrinya. Kadang ia bernyanyi, mengenang masa-masa ketika ia bekerja sebagai penyanyi campursari. Sementara hari Minggu ia khususkan untuk jalan-jalan sekitar Bali bersama istrinya. 


"Bertani adalah pekerjaan yang paling saya nikmati," pungkasnya.

Ia kemudian merogoh ponselnya dan mulai membersihkan rumput-rumput di bedengan tanaman kale sembari mendengarkan lagu campusari. Aku turut serta membersihkan rumput-rumput sembari bertanya lagi tentang banyak hal. 


Oh, inikah rasanya menjadi petani yang menikmati pekerjaannya dan berbahagia dengan hidupnya?

Nah, Pembaca, apakah kisah Mas Har menginspirasi Anda untuk menjadi petani sukses dengan lahan kecil? Jika Anda liburan ke Bali jangan lupa berkunjung ke Hars Garden di Ubud ya. Lokasinya nggak jauh kok dari Bali Swing dan Anand Ashram. Kujamin deh, sehari saja bertemu, mengobrol dan belajar dengan beliau akan memberi pengalaman spiritual yang unik dalam mensyukuri nikmat hidup di Indonesia yang gemah ripah loh jinawi

Jakarta, 17 Juli 2019

2 comments:

  1. Wah tulisan yang menarik, saya menikmati bacanya mbak.
    Salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Zaki, terima kasih sudah membaca dan menikmati membaca tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan memberi inspirasi ya

      Delete