The Japanese Wife: Ketika Kesetiaan dan Cinta Dipertaruhkan Oleh Jarak, Uang dan Waktu

The Japanese Wife

Dua manusia dari dua wilayah berbeda ditakdirkan berkomunikasi melalui surat, sebagai sahabat pena. Keduanya tipe manusia introvert yang susah berbaur dengan orang di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka berdua sama-sama merasa ganjil jika bertemu teman baru. Namun, komunikasi melalui surat membuat mereka sama-sama nyaman dan merasakan kedekatan berbeda. 

Kedekatan emosional diantara keduanya semakin intens seiring semakin seringnya surat-surat datang kepada satu dan lainnya, berisi cerita tentang keseharian, disertai hadiah-hadiah yang unik dari dua bangsa berbeda.

Kedua orang itu adalah lelaki India yang tradisional bernama Snehamoy  Chatterjee, seorang guru sebuah sekolah menengah di Bengali dan Miyage, seorang perempuan Jepang yang sehari-hari menjalankan usaha keluarga dari rumah. Snehamoy  ditinggal mati kedua orangtuanya dan sejak kecil diasuh oleh bibinya dari pihak ibu. Sementara Miyage tinggal dengan ibunya yang sakit-sakitan setelah ayahnya meninggal dunia. Selama bertahun-tahun keduanya saling berkirim surat dan hadiah. 

Seisi kampung bahkan tahu bahwa Snehamoy  memiliki teman orang Jepang karena penduduk desa sering kedapatan harus membantu mengangkut satu kardus besar kiriman Miyage yang isinya macam-macam, khas hal-hal tentang Jepang mulai dari layang-layang, boneka, album foto Miyage, kamera, rajutan dan sebagainya. 

Pada suatu hari, ada seorang janda muda, Shandya dan anak lelakinya yang tinggal di rumah bibinya Snehamoy . Si bibi sih berharap bahwa Snehamoy  mau menikahi perempuan itu, yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Ia juga kasihan pada si anak kecil yang membutuhkan figur ayah. Snehamoy  gundah gulana dan ia berkirim surat pada Miyage, menceritakan keadaannya. Miyage kemudian mengajukan diri untuk menjadi istrinya. Setelah berpikir panjang akhirnya Snehamoy  setuju. 

Tapi, cara nikahnya gimana? Secara keduanya berbeda jarak yang jauh. Snehamoy  yang hanya seorang guru matematika tentu tidak punya banyak uang. Jika seluruh uang miliknya ditotal hanya ada USD 100 dan sangat tidak cukup untuk pergi ke Jepang. Sementara Miyage tidak mungkin berangkat ke India karena harus menjaga ibunya yang sakit. 

Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah melalui surat dan melakukan ceremony di tempat masing-masing sesuai adat masing-masing. Pernikahan mereka diikat oleh sebuah cincin yang dikirim Miyage dari Jepang dan Snehamoy mengirimkan gelang khas pengantin perempuan Bengali untuk Miyage. Sungguh pernikahan yang lucu dan menggemaskan. 

Tak terasa waktu telah berjalan selama 15 tahun lamanya. Sebagai suami istri mereka hanya bisa surat-suratan dan saling berkirim hadiah. Keadaan Snehamoy gitu-gitu aja karena lelaki culun ini nggak punya penghasilan lain selain dari kegiatan mengajar, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Sementara Miyage yang ditinggalkan ibunya ke alam baka mulai sakit-sakitan. Ia berjanji akan berkunjung ke India jika kondisi kesehatannya membaik. Di waktu yang sama, Snehamoy yang merupakan lelaki normal mengalami masalah lain dengan urusan seksualnya yang tidak terpenuhi. 

Ia bisa saja melakukan hubungan seksual dengan si janda karena tampaknya perempuan muda itu diam-diam menyukainya dan berharap jadi istrinya. Namun, Snehamoy memilih setia dan hanya ingin melakukannya dengan Miyage. Untuk menghibur dirinya ia sering pergi menyendiri dan ke danau dan melakukan onani di perahu. Atau kadang berolahraga dengan keras agar ia mendapat pengalih perhatian. 

Pernikahan aneh mereka telah berlangsung selama 17 tahun, tapi mereka tak pernah mampu menaklukkan rintangan untuk bertemu satu sama lain. Penyakit Miyage semakin parah dan ia didiadnosis menderita kanker sehingga kondisi kesehatannya terus menurun. Sebagai suami yang bertanggung jawab, Snehamoy berusaha mencari obat terbaik bagi Miyage dengan menemui seluruh dokter, tabib, dukun di India. 

Ia mengirimkan obar itu kepada Miyage, meski orang-orang mencemoohnya karena dunia kedokteran Jepang jauh lebih canggih dari India. Snehamoy tidak peduli apa kata orang. Ia hanya mau membantu istri yang belum pernah ditemuinya itu sembuh agar mereka bisa bersama. 

Snehamoy mati-matian mencari obat untuk Miyage, dalam hujan dan panas, hingga akhirnya dia tumbang karena terkena pneumonia parah hingga merenggut nyawanya. Miyage si janda Snehamoy datang ke India tak lama setelah melakukan kemoterapi, sebagai pesakitan. Ia mengenakan saree warna putih yang biasa digunakan para janda dalam budaya India, dengan rambut plontos akibat kemoterapi. 

Sedih banget. Dua-duanya mati sebelum bertemu. 

Dari semua film tentang cinta yang pernah aku tonton, film ini benar-benar ketawa-ketiwi pada awalnya, kemudian bikin sedih sampai nangis pada akhirnya. Terutama ketika dengan apik ditunjukkan kondisi keduanya yang merupakan keluarga miskin versi negaranya masing-masing sehingga nggak bisa beli tiket pesawat yang mahal. 

Bahkan, untuk surat-suratan saja mereka harus melakukan kerja tambahan karena biayanya yang semakin mahal. Ditambah lagi bahasa Inggris keduanya yang nggak bagus-bagus amat sehingga ketika mereka berkomunikasi via telepon malah bikin salah paham karena masalah bahasa. 

Oh ya mareka telponan via wartel lho (entah zaman apa dan tahun berapa yang diceritakan dalam, kok gini-gini amat susahnya hidup si tokoh dalam film). Dan kalau mau kirim email nggak bisa, karena nggak ada yang punya komputer apalagi internet, plus nggak ada juga yang punya warnet. 

By the way, pas awal-awal film aku menebak bahwa Miyage akan ke India dan menjalani hidup sebagai istri seorang lelaki India. Jadi, ramalanku adalah bahwa sebagai perempuan Jepang ia akan menghadapi culture shock, terutama saat menghadapi Bibinya Snehamoy yang cerewet. 

Terlebih keluarga Snehamoy adalah keluarga miskin yang semiskin-miskinnya orang Jepang dipastikan kondisi toiletnya jauh lebih baik dari orang miskin di India. Tapi, tebakanku keliru. Jalan cerita sangat nggak terduga. 

637 surat;
4 telepon internasional;
17 tahun pernikahan;
Tapi, keduanya tidak pernah bertemu.

Well, inti dari film ini adalah tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran. Ya, kesabaran dalam mencintai dan bersetia pada kekasih, suami atau istri. Juga mengajarkan kepada kita bahwa seks tidak menjadi faktor utama dalam sebuah hubungan dan dalam pernikahan. 

BACA JUGA: Benarkah RUU PKS Pro Zina dan LGBT? 

Setiap pasangan memiliki ujian cintanya masing-masing dan hanya mereka yang cintanya sejati lah yang mampu bersetia pada pasangannya dalam keadaan apapun, selama apapun waktu mengikat mereka. 

Akhir kata: sebagaimana iman cinta juga perlu diuji, bukan?  

Depok, 11 Juni 2019

4 comments:

  1. Bisa gitu ya. Nikah selama 17 tahun tapi nggak pernah tatap muka sekali pun. Padahal kan nikah bukan cuma untuk mengikat satu sama lain aja, tapi juga ada interaksi yang diharapkan bisa menghasilkan keturunan juga.

    Kasihan sih suaminya, sampai harus begitu di perahu. Istrinya juga mungkin merasakan hal yang sama, meski nggak diceritakan di film.

    Aneh bener dah ya. Btw, ini kisah nyata kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah, yang menarik dari film ini adalah ide ceritanya. Awal-awal sih bisa bikin ketawa-ketiwi karena lucu. Lama-lama kok jadi ngenes dan sedih begitu.

      Delete
  2. Sedih banget, walau cuma baca tulisan mbaknya huhuhu

    ReplyDelete