Tentang Presiden Jokowi dan Dua Anak Lelakinya

Kaesang Pangarep membawa belanjaan pisang di Pasar Gede, Solo. Sumber foto: Twit Opini

Hari ini ada yang bikin aku tertawa terbahak-bahak saat melihat sejumlah foto kedua anak lelaki Joko Widodo di sejumlah media sosial. Ceritanya keluarga Presiden Jokowi sedang mudik ke Solo dan belanja di Pasar Gede untuk menyambangi rakyatnya. Sebagaimana kebiasaan Jokowi dan Iriana saat berkunjung ke pasar tradisional adalah membeli bahan pangan di pasar tersebut. 

Nah, yang unik dari kegiatan berbelanja kali ini adalah ketika sepasang suami istri panutan ini membeli beberapa sisir buah pisang. Pisang-pisang yang sudah dibeli tersebut kemudian dibawa oleh kedua anak lelaki mereka yaitu Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming Raka. Foto-foto saat mereka membawa pisang bertaburan di media sosial dan mendapat tanggapan dari netizen, tentu saja dengan komentar kocak yang mengocok perut. Mereka berdua benar-benar menjadi hiburan di hari terakhir cuti bersama. 

Oke, anggap saja itu pencitraan. Karena pencitraan memang penting bagi tokoh politik manapun di muka bumi untuk mendapat simpati rakyat, sekaligus menunjukkan bahwa keluarga mereka harmonis. Pencitraan hal-hal baik dari keluarga kepala negara juga penting sebagai cara menunjukkan kepada dunia bahwa negara sebesar Indonesia ternyata dipimpin oleh sosok yang juga mampu menjaga harmoni kehidupan keluarganya. Terlepas dari keadaan sebenarnya yang terjadi dalam keluarga mereka. 
Dua anak lelaki Presiden Jokowi membawa belanjaan pisang. Sungguh bahan gosip yang menyenangkan. Fakta ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap rendah hati pada orangtua meski telah sukses membangun kerajaan bisnis.

Dibalik segala hal politis dari kehidupan politik Jokowi beserta keluarganya, yang berlangsung dibalik lensa kamera para jurnalis, kupikir sebagai warga negara Indonesia aku tetap harus mampu memberikan apresiasi atas keluarga ini. Setidaknya, kita dipertontonkan sikap berbeda bagaimana anak seorang kepala negara pada periode kepemimpinan Jokowi, dibandingkan dengan kepemimpinan rezim sebelumnya. 

Sebagai rakyat biasa yang muak pada sikap aji mumpung para anak pejabat dalam memperkaya diri sendiri, sikap Kaesang dan Gibran sebagai anak lelaki nomor satu di negeri ini merupakan angin segar tersendiri. Dulu, selama puluhan tahun lamanya, kita dipertontonkan bagaimana para anak presiden eksis karena mendompleng kekuasaan orangtuanya, menjadikan kekuasaan sebagai batu loncatan bagi diri mereka sendiri meraih kuasa. Tak heran jika anak politisi jadi politisi, anak pemimpin partai kelak jadi pemimpin partai juga, sehingga partai politik tak lagi jadi alat kritik bagi kekuasaan melainkan kekuasaan itu sendiri yang bisa diwariskan kepada anak cucu di pimpinan partai politik. 

"Halah! Jokowi kan cuma petugas partai!" begitu ujar para pembenci lelaki kerempeng ini. 

Tapi setelah dipikir-pikir kita akan bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan ini: Memangnya siapa sih kepala negara di dunia ini yang bukan petugas partai? Untuk semua negara yang kepala negaranya dipilih melalui pemilihan umum yang sebelumnya disaring oleh partai politik dan koalisi sejumlah partai politik, maka kepala negara adalah petugas partai politik. Negara adidaya Amerika saja kan kepala negaranya adalah petugas partai politik. Sebab, bagaimana mungkin seseorang menjadi kepala sebuah negara tanpa setuju untuk menjalankan platform dari partai politik yang mengusungnya? 

Mungkin di dunia ini hanya Kim Jong Un sajalah orangnya yang bukan petugas partai, sebab segala sesuatu di negara Korea Utara adalah miliknya seorang. 

Dengan cara itu, banyak sekali kader-kader partai yang mumpuni tersingkir dengan sendirinya demi memberikan jalan bagi anak si penguasa untuk berkuasa sebagaimana orangtuanya berkuasa. Tak heran memang jika kita dapati orang-orang cerdas semakin malas bergabung dengan partai politik manakala popularitas mereka akan tergencet popularitas si anak penguasa yang alat kuasanya telah disediakan oleh orangtuanya. Seolah ada semacam hukum alam yang menyatakan bahwa anak penguasa akan jadi penguasa tanpa ia perlu bekerja keras yang mempertaruhkan nyawanya sendiri. 

Menjadi Kaesang dan Gibran mungkin memang tidak mudah. Banyak sekali cibiran ditujukan kepada mereka berdua karena dianggap melakukan pencitraan yang tidak etis dalam meraih simpati publik. Sebab toh, mereka punya semua daya dukung yang dapat digunakan jika ingin membangun jalan bagi singgasana kekuasaan mereka di masa kini dan masa depan. Bahkan disebutkan bahwa jualan martabak atau nuget pisang hanyalah kamuflase, sebab keduanya dipastikan memiliki jabatan penting di perusahaan milik Jokowi yang bergerak di balik layar untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah yang tidak mampu dibayangkan rakyat jelata yang penghasilannya begitu receh. 

Kalau aku jadi anak Jokowi, aku akan gunakan semua daya dukung untuk memuluskan jalanku menuju mimpi-mimpiku. Misalnya, aku akan membangun yayasan, museum, pusat pendidikan dan tower. Akan kugunakan popularitasku untuk bekerjasama dengan banyak pihak demi memuluskan tujuan-tujuan muliaku sehingga di masa depan aku bisa dikenal sebagai seorang philanthropist ternama sekaligus pebisnis sukses. Sayang sih, karena aku hanya rakyat biasa dan bukan puteri presiden hahahaha. 

Back to tentang Jokowi dan kedua anak lelakinya, dan para jurnalis yang berhasil mengabadikan mereka dalam suasana yang membuat aku tertawa terpingkal-pingkal. Aku mau berterima kasih bahwa hari Minggu yang menyenangkan ini ditutup dengan harapan bahwa komoditas pisang di seluruh pelosok Indonesia akan naik daun dan menjadi komoditas ekspor yang membangkitkan perekonomian bangsa. 

Pembacaku, selamat kembali menjalankan aktivitas dengan senang hati. Tentunya setelah menikmati libur panjang dengan hidangan keluarga besar masing-masing. Semoga paska merayakan Idul Fitri tahun ini, ada semacam semangat baru dalam menjalani hari-hari kedepan agar lebih produktif, efektif, membahagiakan, menyenangkan dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. 

Tulisanku kali ini memang receh. Namun, tulisan receh ini kurasa jauh lebih baik daripada semua jenis tulisan yang bersifat hoaks dan memecah belah bangsa. Karena sejatinya, hal-hal receh seringkali menjadi sumber kegembiraan dan sumber inspirasi dalam dunia literasi. Dan sekali lagi, pencitraan itu penting untuk melawan segala bentuk ujaran kebencian, agar hari-hari kita diisi dengan konten gosip yang menyenangkan. Mari bergosip dengan konten yang mencerdaskan dan menyenangkan. 

Depok, 9 Juni 2019

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram