Pentingnya Asupan MPASI yang Tepat dan Berkualitas Dalam Mendukung Tumbuh Kembang Optimal Anak

Bayi makan dengan gembira. Sumber: www.goodtoknow.co.uk


"A baby is God's opinion that the world should go on"
-Carl Sandburg-

Anak adalah anugerah yang indah dan menghibur hati. Ia bukan saja sumber kebahagiaan bagi pasangan orangtua yang akan melanjutkan garis keturunan keluarga, juga menjadi aset berharga sebuah bangsa. Bahkan, tak jarang tokoh dunia menyebutkan bahwa bayi-bayi yang lahir di zaman ini merupakan pertanda bahwa Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada manusia untuk melanjutkan kehidupan.


Namun, merawat anak tidaklah mudah. Terlebih jika orangtua tidak memahami hak-hak mendasar anak sejak ia masih dalam kandungan. Calon anak yang disebut juga janin harus dirawat sejak sebelum ia dibentuk di rahim ibu, dimulai dengan terpenuhinya asupan gizi ibu yang sedang melakukan program kehamilan. Mengapa harus demikian? Karena sel telur yang terus membelah diri sejak masa konsepsi mengambil sari makanan dari tubuh ibu untuk mendukung perkembangan dirinya di dalam rahim. Terlebih perkembangan selanjutnya yang sangat membutuhkan perhatian serius: masa kehamilan 9 bulan lamanya dan hingga usia 2 tahun setelah bayi dilahirkan (1.000 Hari Pertama Kehidupan)

Nah, agar pembaca tidak bingung mengenai apa yang dimaksud 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sebaiknya membaca artikel berikut, sebelum melanjutkan membaca artikel ini:

Baca juga: Tentang A-Z 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Penentu Nasib Seorang Manusia

Oke, setelah menjalani masa pertumbuhan selama 9 bulan di rahim ibu, si janin siap dilahirkan ke dunia dan ia harus menjalani hidup dengan metode baru. Maka lahir lah ia ke dunia dan kita memanggilnya bayi. Kita manusia dewasa menyambut kelahirannya dengan gembira. Lalu, si bayi yang biasa makan dengan mengambil sari makanan di tubuh ibu tentu akan kelaparan saat telah dilahirkan dan dia tetap harus makan. Meski masih harus mengambil nutrisi dari tubuh ibu, namun kali ini si bayi harus berlatih makan dengan cara lain yaitu menyusu. 
Bayi menyusu. Sumber: www.todaysparent.com

Kita sudah tahu sama tahu lah ya bahwa 6 bulan pertama setelah dilahirkan, si bayi hanya boleh mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) karena organ-organ pencernaan dalam tubuhnya belum berfungsi secara optimal untuk makan-makanan manusia dewasa. Setelah menjalani ASI Eksklusif, bayi diperbolehkan untuk mengenal makanan untuk usianya yaitu Makanan Pendamping ASI atau MPASI.


Meskipun disebut sebagai 'makanan' bukan berarti bayi boleh makan sembarangan atau mengonsumsi apa saja yang dimakan oleh manusia dewasa seperti sate ayam, lodeh, sambal terasi atau ikan bakar. Setiap kita pernah berpengalaman menjadi bayi dan ya harus ada proses yang dilalui sebelum manusia kecil ini diperbolehkan mengonsumsi makanan keluarga. Oleh karena itu, para bayi dilatih mengenal makanan melalui MPASI. Ya memang makanan untuk mendampingi ASI sebagai makanan utama, karena setiap bayi sebaiknya mengonsumsi ASI hingga usia 2 tahun untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Sebagai lajang yang tentu saja akan menikah dan menjadi calon ibu, aku kembali belajar mengenai ilmu gizi khususnya tentang Healthy Eating Habit. Pada 22 Mei 2019 kemarin, bersama para blogger kesehatan dan jurnalis, aku menghadiri kegiatan bertajuk "Membangun Kebiasaan Makan yang Baik (Healthy Eating Habit) Sejak Dini untuk Dukung Tumbuh Kembang Optimal Anak." Kegiatan keren ini menghadirkan Dr. Frieda Handayani, SpA(k), dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolic. Bagi calon ibu sepertiku, acara ini sangat mencerahkan dan bermanfaat.  

ATURAN WHO TENTANG MPASI

Memberikan MPASI tidak boleh sembarangan, karena bisa membahayakan hidup bayi. Setiap orangtua di dunia harus merujuk pada panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang MPASI. Melalui Department of Nutrition for Health and Development, WHO telah menerbitkan panduan yang disebut Complementary Feeding alias MPASI, yaitu makanan yang diberikan kepada bayi untuk memenuhi asupan gizi selain yang diperoleh dari ASI.

MPASI sendiri ada dua tipe. Pertama, makanan khusus untuk MPASI seperti bubur bayi atau menu rumahan MPASI yang dicampur ASI. Tipe ini diberikan untuk bayi berusia 6 bulan-1 tahun. Kedua, beberapa jenis bahan pangan rumahan yang diolah menjadi MPASI, yang teksturnya halus agar bisa dikonsumsi bayi. Misalnya, sayur campuran kentang, brokoli dan daging ikan yang dihaluskan, agar bentuknya menyerupai bubur bayi. Tipe ini diberikan pada bayi berusia diatas 1 tahun.


Mengapa bayi membutuhkan MPASI? Mengapa bayi tidak fokus saja menyusu?


Ternyata, dalam proses tumbuh kembangnya bayi memerlukan sejumlah nutrisi yang tidak bisa dipenuhi oleh ASI. Oleh ahli gizi ini disebut dengan energy gap (kesenjangan energi) dan iron gap (kesenjangan zat besi). Pada energy gap misalnya, bahwa bayi yang semakin aktif bergerak membutuhkan lebih banyak energi. Selisih kebutuhan energi yang diperlukan bayi dengan yang mampu disediakan ASI, harus dipenuhi oleh MPASI. Jika selisih kebutuhan energi ini tidak terpenuhi, bayi bisa kekurangan gizi. 

Ilustrasi energy gap antara energi yang dibutuhkan bayi dengan energi yang disediakan oleh ASI pada bayi berusia 0-23 bulan. Sumber: www.mpasi.org
Ilustrasi selisih zat besi atau iron gap antara kebutuhan bayi dengan yang disediakan ASI, pada bayi berusia 0-23 bulan. Sumber: www.mpasi.org

Juga dengan iron gap. Ilustrasinya hampir sama dengan energy gap, hanya saja iron gap ini selisihnya sangat besar untuk bisa dicukupi oleh ASI. Iron gap ini biasanya semakin meningkat saat bayi berusia diatas 6 bulan. Sehingga bayi harus mendapatkan asupan zat besi dari protein hewani melalui MPASI. Bahkan, dokter spesialis anak seringkali memberikan penambahan suplemen zat besi kepada bayi-bayi yang berusia diatas 6 bulan, agar kebutuhan zat besi anak terpenuhi dengan optimal. 


SYARAT MPASI YANG HARUS DIPENUHI

Karena bayi masih rentan terhadap bakteri, kuman dan sebagainya yang dapat menyebabkan ia mudah sakit. Maka, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian MPASI, yaitu: 
  • Diberikan tepat waktu (tidak terlalu dini dan tidak terlambat)
  • Cukup nutrisi dan energi, yang disebut juga mengandung 4 bintang yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan serat. 
  • Higienis baik saat penyiapan, pemberian hingga penyimpanan 
  • Tepat cara pemberian dan takarannya, termasuk jadwal yang disiplin setiap harinya
Syarat pemberian MPASI bagi bayi. 

Hal krusial lain yang harus diperhatikan adalah soal waktu pemberian MPASI. Tidak boleh terlalu dini atau terlalu lambat, melainkan dilihat dari kondisi bayi sebagai akibat dari ketidakcukupan atau kecukupan nutrisi yang diterima bayi. Jika terlalu dini memberikan MPASI yang belum dibutuhkan bayi, maka bisa berbahaya bagi organ pencernaannya. Dan jika pemberian MPASI terlambat, maka bisa berdampak kurangnya asupan nutrisi pada bayi yang berakibat pada terhambatnya tumbuh kembangnya. Namun, rata-rata bayi mulai diberikan MPASI pada usia 4-6 bulan setelah dilahirkan.
Panduan MPASI untuk bayi usia 6-12 bulan

Pemberian MPASI ini, terutama menu-menu yang dibuat harus diperhatikan dengan benar. Dan sebaiknya dikonsultasikan dengan bidan dan dokter spesialis anak atau dokter ahli gizi. Karena, di zaman digital ini banyak sekali informasi palsu alias hoaks tentang kesehatan, termasuk mengenai MPASI. Bahkan banyak bertebaran tulisan-tulisan atau foto yang menampilkan resep MPASI yang keliru alias tidak sesuai pedoman yang diberikan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan. Jika para orangtua asal percaya pada informasi yang tidak benar mengenai MPASI ini, dapat membahayakan bayi. 


DOs AND DON'Ts SAAT MEMULAI MPASI

Fase menyusu kemudian mulai belajar mengenal makanan tentu saja akan membuat bayi kesulitan dan belajar keras, termasuk mengenali rasa dan tekstur yang sama sekali berbeda dengan ASI. Misalnya bayi akan melepehkan makanan tertentu dalam proses pengenalan tekstur dan rasa, atau berlama-lama saat memainkan makanan di mulutnya, atau menolak makan sama sekali.

Kondisi ini merupakan tantangan bagi para orangtua, sehingga harus sabar menghadapi si bayi dan terus disiplin memberikan MPASI sesuai dengan panduan. Orangtua juga harus mampu membaca bahasa tubuh bayi untuk mengetahui apakah dia menyukai makanannya, atau sedang mempelajarinya, atau tidak menyukainya sama sekali. Orangtua juga sebisa mungkin memberikan MPASI pada waktu dan jam yang sama setiap harinya, agar anak terbiasa disiplin soal waktu makan. Dan yang terpenting, orangtua jangan memaksa anak makan jika dia tidak menginginkannya, dan harus memberinya waktu untuk melanjutkan makan sampai ia menghabiskan makanannya.


Hm, ternyata seru sekaligus menantang ya proses memberikan MPASI pada bayi. Sebagai calon Ibu aku belajar banyak pada sesi diskusi dengan Dr. Frieda Handayani, SpA(k) kali ini. Healthy Eating Habit memang harus dimulai sejak si anak masih bayi agar asupan gizi yang cukup dapat membantunya tumbuh kembang optimal sebagai anak yang sehat. Dan aku berjanji akan memulai semua itu dengan memberikan asupan gizi yang cukup bagi tubuhku, agar saat menikah kelak tubuhku sudah siap menjadi ibu. 


Depok, 10 Juni 2019
Bahan Bacaan: 

https://www.mpasi.org/artikel/panduan-mpasi-who
https://www.mpasi.org/artikel/kapan-sebaiknya-bayi-diberikan-mpasi


No comments:

Post a Comment