Kerusuhan 22 Mei 2019 dan Upaya Jahat Memecah Belah Persatuan Bangsa Indonesia

Suasana mencekam unjuk rasa di depan kantor Bawaslu pada 22 Mei 2019. Sumber: katadata

"The ballot is stronger than the bullet"

-Abraham Lincoln-

Ada sesuatu yang lucu sekaligus mengenaskan dari Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, khususnya tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pemilu tahun 2019 ini kan diikuti oleh calon dari 20 partai politik, termasuk diantaranya 4 partai politik lokal dari Aceh. Ada sebanyak 7.968  calon anggota legislatif (Caleg) dari 20 partai tersebut yang bertarung memperebutkan kursi legislatif, baik untuk DPR RI hingga DPRD Kabupaten/Kota. Caleg sebanyak itu terbagi menjadi 4.774 caleg laki-laki dan 3.194 caleg perempuan. Mereka semua bertarung di 80 daerah pemilihan (dapil). Mereka yang bertarung ini memperebutkan suara dari sebanyak 192.828.520 orang warga negara Indonesia yang namanya sah sebagai DPT.  Namun, entah bagaimana fokus kita diarahkan hanya pada empat orang sosok yang bertarung sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden.

Sesungguhnya pertarungan keempat tokoh tersebut bukanlah bertarungan 4 individu, melainkan pertarungan koalisi partai politik yang mengusung mereka. Dan yeah, tokoh yang dielu-elukan masing-masing pihak tak beda dengan Pemilu 2014 yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Begitulah politik, Prabowo yang menjagokan Jokowi sebagai calon Gubernur Jakarta kini malah bertarung melawan macan yang dididiknya sendiri. Gara-gara pertarungan dua tokoh inilah, pemilu 2019 menjadi tidak menarik bagiku. Karena munculnya nama mereka merupakan keputusan elit partai politik yang mengusung mereka, bukan semata-mata kehendak rakyat banyak. Akhirnya, rakyat hanya menjadi penonton adu gulat para tokoh politik dan dipaksa memilih diantara mereka berdua atas nama demokrasi. 

BACA JUGA:  Pemilu 2019 Serta Sejumlah Pelajaran Tentang Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Suasana kampanye begitu panas dan tidak nyaman. Linimasa media sosial penuh dengan pertarungan pendukung kedua kubu pasangan Capres dan Cawapres, dan menenggelamkan upaya kampanye para peserta pemilu lain yang jumlahnya ribuan orang di seluruh wilayah Indonesia. Para Cebong (sebutan bagi pendukung Jokowi) dan Kampret (sebutan bagi pendukung Prabowo) saling serang dengan berbagai cara. Mulai dari menyerang prestasi masing-masing calon hingga masalah pribadi seperti soal keluarga dan lokasi shalat Jumat. Sungguh, masa kampanye ini sangat menyebalkan dan menegangkan!

Diantara para pendukung yang bekerja cerdas dalam meninggikan calonnya dan menjatuhkan jagoan lawan, banyak juga para pendukung bodoh yang menjatuhkan jagoan lawan dengan menyebar hoaks dan ujaran kebencian. Yah, apa boleh buat, akhirnya mereka diciduk pihak berwenang. 
Profil Capres-Cawapres di Pemilu 2019

Suasana menjadi semakin tidak terkendali manakala perhitungan suara melalui metode Quick Count yang dilakukan sejumlah lembaga survei keluar. Pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin lebih unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Parahnya, Prabowo mengulang perbuatannya tahun 2014 lalu dengan mengklaim kemenangan di pihaknya dalam sebuah konferensi pers. Klaim kemenangan tersebut bukan berbasis Quick Count, melainkan berdasarkan perhitungan tim internal. Kan bikin kesel!

Keganjilan ini diperparah dengan pernyataan akan dilakukannya aksi People Power pada 22 Mei 2019 jika hasil hitung manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, alih-alih Prabowo-Sandi. Gara-gara pernyataan tokoh yang sembrono soal People Power, banyak warga negara yang bodoh melakukan tindakan makar yang mengancam keamanan Jokowi yang statusnya merupakan kepala negara dan kepala pemerintahan yang sah dengan terang-terangan di muka publik. 

Dan kerusuhan 22 Mei pun terjadi!

Massa pendukung Prabowo-Sandi yang tidak puas dengan hasil perhitungan suara KPU turun ke jalan. Bisa ditebak bahwa turunnya mereka menunjukkan kekuatan kelompok sektarian, yang sebagian besar merupakan umat Islam. Bayangkan, di hari puasa yang panas mereka mengepung jalanan sehingga menutup pintu masuk ke kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dan jika kita jeli memperhatikan, banyak diantara para perusuh ini membawa nama-nama Tuhan seakan-akan apa yang mereka lakukan merupakan kehendak Tuhan. Seakan-akan membela Prabowo-Sandi merupakan sebuah perang membela keputusan Tuhan yang tidak dipatuhi pihak lain. Seakan-akan mereka sedang berjihad di peperangan besar layaknya perang Badar di masa hidup Nabi Muhammad SAW. 
Massa berkumpul di depan kantor Bawaslu pada 22 Mei 2019. Sumber: Katadata

Ah, perang Badar gundulmu! Ini cuma pemilu, bukan perang! Pemilu merupakan pertarungan para elit politik agar kekuasaan mereka tetap stabil, dan bukan perang untuk membela agama sebagaimana di zaman Nabi Muhammad. Sungguh murah sekali iman umat Islam Indonesia jika digunakan sebagai tameng membela seseorang yang haus kuasa. Membela Prabowo bukan membela Islam!
Temuan Dibalik Kerusuhan 22 Mei 2019

Yang bikin kesal adalah massa berbuat beringas sendirian, sebab Prabowo dan Sandi entah di mana rimbanya saat aksi ini berlangsung. Bahkan, massa begitu beringasnya melempari aparat yang berjaga dengan batu-batu yang entah diperoleh dari mana. Bayangkan, di Jakarta yang hutan beton ini di mana sih lokasi yang punya koleksi batu-batu kali sedemikian banyak untuk digunakan sebagai senjata melempari aparat? Bisa dipastikan bahwa batu-batu tersebut impor dari wilayah di luar Jakarta. 

Korban berjatuhan. Darah mereka tumpah karena kerusuhan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Nyawa sebagian mereka melayang, untuk membela sesuatu yang bisa jadi sebenarnya sama sekali tidak membela mereka sebagai warga negara Indonesia. Stabilitas nasional di Jakarta terganggu. Banyak kegiatan penting terganggu. Banyak fasilitas publik rusak dan kecemasan menggema di langit Jakarta. Menjadikan anggota keluarga di rumah was-was dengan nasib mereka yang ada di jalanan, baik sebagai pengunjuk rasa maupun sebagai pihak keamanan yang berjaga, maupun para jurnalis yang mengabadikan momen ini sebagai bagian dari catatan sejarah bangsa Indonesia. 
Unjuk rasa berujung rusuh

Rakyat banyak yang menonton kondisi ini via televisi atau youtube juga paham bahwa kerusuhan ini benar-benar memalukan Indonesia dan mencoreng nama Prabowo-Sandi sebagai tokoh nasional dan pengecut! Belum lagi ganasnya provokasi para pihak yang menunggang di kerusuhan ini demi keuntungan kelompok mereka sendiri yang ingin mengancurkan Indonesia. 

INGIN MENGULANG MEI 1998? 
Mungkin, kerusuhan 22 Mei ini merupakan sebuah momentum bagi sebagian pihak untuk mengulang kerusuhan Mei 1998. Sayangnya, mereka salah perhitungan. Mei  1998 adalah akumulasi dari kemarahan rakyat Indonesia atas kekejaman penguasa rezim Orde Baru selama 32 tahun lamanya. Kala itu rakyat sudah muak dan secara serempak memaksa Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya. Sementara kerusuhan Mei 2019 terjadi karena ketidakpuasan Prabowo karena dua kali kalah dalam Pemilihan Presiden. Isunya berbeda bagai langit dan bumi, dan sama sekali bukan jihad membela Islam.
Kerusuhan Mei 1998

Sebenarnya aku tuh merasa sedih banget atas kejadian ini. Meskipun kita berusaha menolaknya, dipastikan memang ada pihak-pihak yang menunggangi massa pendukung Prabowo-Sandi demi merusak Indonesia. Mungkin mereka teroris yang ingin meluluh lantakkan Indonesia bagai mereka menghancurkan Suriah dan negara-negara lain yang menjadi korban kekejaman para teroris. Sangat tak elok jika pesta demokrasi menjadi lautan darah demi kepentingan mereka yang menghendaki kehancuran Indonesia diatas kebodohan rakyat Indonesia sendiri yang mudah terbakar emosinya karena hoaks. 

BACA JUGA: Yang Meregang Nyawa di Jalan Demokrasi

Wahai para elit dan penguasa, tolonglah jangan melulu membodohi rakyat Indonesia demi kepentingan Anda yang ujung-ujungnya uang dan jabatan. Darah rakyat yang tumpah ke bumi terlalu mahal untuk dijadikan jalan menuju singgasana kekuasaan Anda, yang pada akhirnya Anda sendirilah yang akan menikmatinya. Hidup ini sudah sulit, jangan lagi dipersulit dengan sikap ambisius Anda terhadap kekuasaan. Jangan pula mendompleng massa dengan membawa-bawa nama Tuhan untuk Anda meraih kekuasaan. Jangan pernah membuat rakyat menjual imannya dengan harga murah dengan menyenangkan Anda. Jadilah patriot jika Anda ingin dikenal sebagai tokoh yang baik. 
Persatuan Indonesia. Sumber: sukita

Wahai saudaraku sebangsa dan setanah air, rakyat Indonesia: mari jadikan pesta demokrasi 2019 dan kerusuhan 22 Mei 2019 ini sebagai pelajaran penting bagi kita semua dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada banyak jalan jihad yang begitu mulia, alih-alih menggunakan kata 'jihad' untuk memuluskan jalan sejumlah elit politik untuk berkuasa. Jihad tidak semurahan itu, kali. Hidup yang keras ini dengan segala dinamikanya adalah ladang jihad yang subur, maka berjihadlah dengan keterampilan dan kemampuan kita masing-masing. Jangan pernah mengorbankan kedamaian hidup di negeri ini demi ambisi sekelompok orang. Mari kembali eratkan tali persaudaraan demi Indonesia yang lebih baik, sebuah negeri yang kita wariskan kepada anak cucu kita di masa depan. 

Percayalah, Allah menjadi saksi atas segala upaya kita. 
Jangan sebut nama Allah untuk kekuasaan yang murah. 

Depok, 1 Juni 2019


No comments:

Post a Comment