Blogger Unfaedah, Malu Atuh!

Alat seorang Blogger. Sumber gambar: blibli.com

"Mbak, aku juga pengen punya blog," ujar seorang teman yang baru kukenal beberapa bulan silam. 
"Ya udah buatlah blog," kataku. 
"Mbak bisa ajari aku buat blog?" tanyanya kemudian.
"Hm, wani piro?" tanyaku bercanda.
"Emang ngajarin bikin blog bayar ya?"
"Ya kalau nggak bayar waktu dan tenaga terbuang habis dong," kataku. 
"Yahhh, kukira bisa gratis," katanya sedih. 
"Kan setiap orang kerja. Blogger juga kerja kali. Makanya waktu seorang blogger juga mahal kayak wakunya Presiden," kataku lagi. 
"Trus harus gimana?"
"Kamu minta jasa temanku aja yang biasa buatin blog. Nanti kamu dibuatkan template dan sebagainya, trus kamu tinggal bayar aja jasanya dia,"
"Berapa?" tanyanya lagi.
"Sekitar 350-500 ribu gitu deh," jawabku.
"Wah, mahal juga ya. Aku nggak ada uang," katanya lagi.
"Ya udah, belajar aja otodidak. Cari informasinya lewat Google,"
"Gitu ya."
"Iya. Aku aja otodidak sejak 2007," kataku lagi. 
"Ya udah, aku belajar sendiri aja," putusnya. 
"Siip!" Pungkasku. 

Di tahun 2019 yang canggih ini kalau masih ada orang menganggap remeh waktu dan energi orang lain, sungguh keterlaluan. Bukan maksud mata duitan dan segala hal diukur oleh uang. Namun, hal-hal berkaitan dengan keterampilan haruslah diasah. Tak jarang kita harus membayar dengan uang untuk mengikuti kelas-kelas keterampilan agar menjadi mahir, termasuk menjadi blogger professional. Menjadi blogger nggak semudah menulis status di Facebook atau bikin cuitan di Twitter. Ada etika tersendiri dan keterampilan tertentu yang harus dikuasai. Sebab, inti menjadi blogger adalah menyampaikan informasi melalui tulisan yang disertai foto, dokumen, infografis, data bahkan video. 

Aku menjadi blogger dengan belajar secara otodidak. Tahun 2007 aku memulai pembelajanku di warnet, setiap kali pulang kerja. Berjam-jam lamanya aku duduk guna mempelajari bagaimana mengelola blogku. Aku menggunakan Google untuk mencari artikel-artikel yang memberi pengetahuan teknis tentang cara mengoptimalkan blogku. Dan yah, waktu itu tulisanku masih asal-asalan dan template yang kugunakan masih jelek jika dibandingkan dengan seleraku sekarang. 

BACA JUGA: Blogger Sebagai Sosial Media Buzzer 

Tahun 2010 blogku terkunci dan aku nggak bisa menambil alih akunku. Meski blog itu jelek tapi kan hasil perjuanganku belajar mandiri selama 3 tahun! Akhirnya aku membuat blog baru dan belajar lagi dengan giat. Untuk menemukan pembanding yang kukira dapat melibas blogku, aku rajin blogwalking ke blog milik blogger-blogger beken. Mulai dong aku merasa rendah diri karena blog mereka bagus mulai dari template hingga konten. Maka, aku terus berbenah diri dalam menulis. 

Blog yang saat ini dinikmati pembaca merupakan template kesekian yang telah kau uji coba. Aku tidak pernah menggunakan jasa orang lain untuk mengurus blogku. Tidak pernah juga mengikuti kelas blogging. Semua kukerjakan dengan mandiri berbasis artikel-artikel teknis yang kutemukan melalui mesin pencari Google. Semuanya kubenahi pelan-pelan. Terutama tulisan-tulisan lawas yang aku merasa malu sekali saat membacanya ulang, karena begitu jelek dan unfaedah bagi publik. 

Proses perbaikan blog ini belum selesai. Masih banyak tulisan lawas yang belum kuedit ulang. Meski hingga hari ini aku telah menghapus sekitar 250 tulisan lawas di blog ini yang kuanggap sangat memalukan dan tidak bermanfaat bagi pembaca. Terutama setelah aku menjadi Danone Blogger Academy 2018 kemarin, di mana kesadaran untuk menjadi blogger yang berfaedah bagi masyarakat semakin menguat. Khususnya, dalam membangun dunia literasi yang sehat dan kaya data, guna menjadi bagian kaum yang memerangi konten berisi informasi palsu (hoaks) ujaran kebencian dan hal negatif lainnya. Sebagai blogger, aku merasa punya tanggung jawab besar dalam dunia literasi di zaman digital ini. 

JADI BLOGGER APA? 
Setiap blogger berhak menulis tema apa saja dalam blognya, selagi konten yang ia buat bermanfaat bagi publik. Bisa fokus ke tema travelling, kuliner, kecantikan, fesyen, pendidikan, buku, politik, feminisme, dan sebagainya. Bahkan ada nih seorang teman blogger yang blognya khusus berisi tulisan-tulisan yang dia ikut sertakan dalam lomba blog atau blog competition. Blogger seperti ini bisa disebut juga sebagai blogger hunter karena kerjanya berburu lomba blog, mengolah materi lomba blog dan memenangkannya. Tujuan dia melakukan itu karena uang, mempercantik portofolio atau mengasah kemampuan menjadi juara dalam tulis menulis, semua sah-sah saja. 

Apalagi nih di zaman sekarang mah mau jadi blogger gampang banget. Ada banyak komunitas blogger yang biasa mengadakan kelas blogging yang biasa mendatangkan ahli di bidang tulis-menulis maupun teknis blogging seperti pakar Search Engine Optimization (SEO) dan sebagainya. Makanya blogger-blogger baru bisa belajar dengan cepat, serta ada pihak yang mengarahkan untuk menentukan jenis konten yang akan diproduksi. Sehingga konten nggak campur aduk macam gado-gado. 

BACA JUGA: Danone Blogger Academy 2018, Paket Komplit Kelas Blogging dari Danone dan Kompasiana

Menjadi blogger adalah menjadi bagian dari penggerak literasi, terutama di zaman digital ini.  Disaat banyak anak muda kepincut menjadi youtuber atau vlogger yang memang menghasilkan banyak uang dibandingkan kerja kantoran. Menjadi blogger memiliki tantangan tersendiri. Tantangan paling besar dalam menjadi blogger adalah menulis dengan gara bercerita (story telling), konten alias tulisan yang renyah dan ramah ala feature, dan tentu saja harus ditunjang oleh data yang akurat dan teruji yang berasal dari sumber terpercaya. Selain itu, template blog kita harus eye catching alias ramah di mata pembaca baik untuk yang membaca melalui PC, laptop, tablet hingga ponsel. 

Pernah seorang teman mengatakan bahwa blogku jelek. Trus dia juga bilang bahwa blog itu masa lalu, karena media sosial masa depan akan dikuasai semacam Twitter yang tulisannya ringkas. Sayangnya, anggapan dia keliru. Karena di zaman ini blog akan terus naik daun dan para blogger justru semakin kebanjiran job baik dari lembaga pemerintah maupun swasta: sebagai pengiklan. 

Mengapa para blogger kebanjiran job? Memang apa bagusnya jadi blogger? 

Coba cari informasi tertentu di mesin pencari Google, seperti tentang skincare atau hotel. Dipastikan artikel-artikel yang muncul sebagian besar berasal blog. Mengapa blog? Karena hanya blogger lah penulis yang mau bersusah payah memberikan informasi detail mengenai sesuatu yang tidak akan pernah mampu dilakukan oleh jurnalis, youtuber, vlogger bahkan penulis buku sekalipun. Para beauty blogger misalnya, mereka akan memberikan review jenis-jenis skincare atau kosmetik yang mereka gunakan dengan detail, dilengkapi foto bagikan video before-after pemakaian produk yang diceritakan dalam tulisannya. 

Dengan keterampilan demikian, siapa coba yang nggak tertarik menjadikan blogger sebagai rekanan untuk mengiklankan sebuah produk? Makanya, semakin banyak saja perusahaan yang menggandeng komunitas blogger atau langsung kepada si blogger untuk melakukan review atas produk dan jasa mereka. Para travel blogger juga sering kebanjiran job untuk melakukan review hotel, atau resto, atau lokasi wisata tertentu. Dan mereka mendapatkan uang untuk itu, meskipun tentu saja jumlahnya jauh lebih kecil daripada jika si perusahaan membayar seorang selebriti untuk melakukan pekerjaan yang sama. 

Dan tentu saja masa depan para blogger makin cerah karena banyak sekali pihak yang membutuhkan blogger untuk memasyarakatkan pesan-pesan yang hendak mereka sampaikan pada masyarakat. Pada 2018 lalu aku mengikuti dia kegiatan menulis untuk blogger dengan dua jenis kegiatan berbeda. Saat menjadi peserta Writingthon Puspiptek, maka aku dan sejumlah blogger dilatih untuk menulis artikel yang berkaitan dengan teknologi, sehingga masyarakat lebih mengenal teknologi karya anak bangsa. 
Buku para peserta Danone Blogger Academy 2017 dan 2018
Tulisanku di buku karya Danone Blogger Academy 2017 dan 2018

Sementara saat menjadi Danone Blogger Academy 2018 aku dan sejumlah blogger dilatih membuat konten terkait kesehatan yang materinya banyak sekali mulai ari air, sampah, plastik, ilmu gizi, dan sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut sesungguhnya memiliki kepentingan agar pesan-pesan organisasinya sampai ke publik melalui tulisan dengan konten yang ringan, renyah dan detail dengan data yang akurat serta dapat dipertanggung jawabkan. 

PLEASE, JANGAN JADI BLOGGER UNFAEDAH!
Menjadi blogger adalah menciptakan konten yang berfaedah bagi masyarakat. Sayangnya, ada blogger yang kemana-mana berkoar-koar dirinya seorang blogger, tapi pas aku cek blognya kok tulisan-tulisannya nggak mencerminkan dia seorang blogger yang produktif. Terlebih jika blogger tersebut pernah terpilih untuk mengikuti akademi-akademi menulis khusus blogger. Soalnya, meski kalem begini aku suka diam-diam blogwalking ke blog-blog tertentu. Aku suka kecewa jika ternyata isi blog yang kukunjungi receh semata dan seperti tidak ada usaha untuk membuat konten yang lebih banyak. 

Khususnya nih untuk blogger-blogger yang pernah terpilih untuk mengikuti karantina menulis untuk blogger. Karena sebagai peserta kita sering dibuat bangga bahwa kita dipilih dari ratusan pendaftar. Tapi pas aku cek satu-satu blog si seperti terpilih, beberapa blog justru menunjukkan bahwa dia bukan blogger produktif, cenderung pemalas dan nggak layak dipilih. Bahkan, paska kegiatan ia tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam memproduksi konten. Padahal, terpilihnya seseorang adalah karena dia dianggap mampu memproduksi konten yang lebih baik dan lebih banyak dari sebelumnya.

Jenis blogger unfaedah lain adalah yang suka copy-paste tulisan orang yang kemudian diakuinya sebagai tulisannya sendiri. Padahal sejatinya, membuat konten blog itu sebuah kerja keras. Bisa berjam-jam bahkan seharian, tergantung seberapa lama riset yang harus dilakukan, tak lupa juga proses editing bahasa yang bisa memusingkan. Konten yang ditulis tidak boleh sembarangan karena bisa menyesatkan banyak orang. Terlebih jika konten tersebut berisi informasi tentang kesehatan, gizi, produk makanan atau skincare dan sebagainya yang berpengaruh pada hajat hidup pembaca. 

BACA JUGA: Cerita Dari Writingthon Puspiptek 2018

Ada juga jenis blogger yang nggak mau usaha. Misalnya malas memperbaharui template agar nyaman bagi pembaca, malas mengedit foto sebagai mendukung tulisan, hingga memasang banyak iklan yang membuat pusing pembaca. Blogger yang seperti ini kan membuat blogger yang bersungguh-sungguh jadi tercoreng namanya. Dikira semua yang namanya blogger itu asal-asalan dan tulisannya nggak berkualitas. Betul memang bahwa blog tidak boleh dijadikan referensi akademis. Tapi, diakui atau tidak masyarakat umum menjadikan artikel para blogger sebagai referensi untuk banyak hal. Sehingga, seorang blogger memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan konten yang berfaedah.

Nah, karena aku akan merasa sangat malu jika menjadi seorang blogger yang tidak berfaedah. Aku selalu berusaha memperbaiki caraku menulis, mengedit foto serta menyertakan data pendukung tulisanku, yang tentu saja berasal dari pihak ketiga. Saat ini, aku masih dalam proses mengedit sejumlah tulisan lawas yang belum tertangani. Juga menantang diriku sendiri untuk memproduksi konten yang bermanfaat bagi pembaca. Sebab, aku percaya menjadi blogger merupakan salah satu upaya dalam jihad literasi.

Depok, 9 Juni 2019

16 comments:

  1. Makasih Mba :) Bermanfaat sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali telah membaca, dan terlebih jika tulisan sederhana saya bermanfaat

      Delete
  2. #tos

    mari terus bebenah, menjadi blogger yang berfaedah :)

    ReplyDelete
  3. Setuju paka banget!
    Ayo kita jadi blogger yang menebar manfaat, minimal setelah membaca postingan kita, fans eh pembaca bisa bawa oleh-oleh ya, mba.
    Meski sedikit, no problemo, yang penting ada, betul?

    Duh, jadi ingat konten lawas akutu.
    Sebaiknya harus seperti mba Ika nih, di "refresh" lagi ya.
    Kalau "delete" bisa-bisa jadi broken link error not found 404 ya, mba

    annarosanna(dot)com



    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pas aku bersihin blog ini sumpah selain capek bangat karena harus cek satu-satu tulisannya, juga ketawa-ketawa malu gitu membaca tulisan sendiri yang lawas dan nampaknya tiada guna bagi pembaca wkwkwk

      Delete
  4. "meski kalem begini aku suka diam-diam blogwalking ke blog-blog tertentu"

    Berarti harus hati-hati nih mulai sekarang kalau update postingan 😁

    Ulasannya menarik, ada beberapa typo but it's fine.

    Memang beberapa kali cerita-cerita blogger itu jadi bahan pertimbangan saya sebelum ambil keputusan.

    Satu yang paling saya ingat ketika hendak memutuskan untuk hidup hanya bertiga tanpa PRT/ART. Pengalaman-pengalaman dan tips pasangan lain yang mereka bagikan via blog membuat saya dan istri mantap memutuskan nggak pakai ART lagi.

    Memang sejauh yang saya temui, ada macam-macam blogger. Mostly kawan-kawan blogger yang membagikan pengalaman mereka di suatu hal. Menarik sih membaca dan belajar dari pengalaman mereka. Walaupun tanpa referensi apapun (lah wong based on pengalaman pribadi).

    Soal iklan, aku lihat nggak ada iklan di blognya mbak Ika ini. Memang nggak tertarik pasang ya?

    Keep up the good work ya mbak. It's nice to read your posts.

    😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mengulas dengan panjang lebar hehe

      Delete
  5. Aduh aku jadi inget, jaman sebelum mudeng ngeblog aku suka posting hal-hal unfaedah, thn 2017 aku mulai serius ngeblog dan postingan2 lawas aku hapus sambil senyum2 sendiri, kok dulu aku alay gini ya hahaha.
    Yuk terus berkaya dan jadi blogger yg berfaedah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, pengalaman kita sama dong dalam menertawakan tulisan sendiri

      Delete
  6. Mbak bahasan tentang ini bagus banget!! Jadi skalian jadi bahan kajian ulang ke blog sndiri. Udah berfaedah blm ya, udah enak dilihat blm ya takutnya malah orang yg buka blog saya malah jd sakit mata dll ehehhehe. Terima kasih Mbak saya suka tulisan Mbak ini :) Sukses selalu ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya nih mbak, aku belajar dari pengalaman sendiri sebagai Blogger hehe. Kasihan pembaca kalau template kita nggak eye catching dan artikel kita nggak berfaedah bagi hidup mereka

      Delete
  7. Tuuuuuuu kan aku jadi takut sehabis baca artikel mbak ini 😣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kok bisa? Apakah artikel ini menakutkan?

      Delete
  8. Terima kasih kak buat "tamparannya" :)

    ReplyDelete