Scaling Up Women Entrepreneurs Bersama Investing in Women dan Katadata Forum

Bersama para perempuan hebat


“Gender lens investing is incorporating 
a gender analysis into a financial analysis 
in order to get better decisions.”

-Criterion Institute-

Terlahir sebagai manusia berjenis kelamin perempuan adalah tugas kehidupan yang tidak bisa dipungkiri. Itulah yang telah Tuhan pilihkan untukku dalam menjalankan tugasku dalam kehidupan ini. Namun, karena Firman Tuhan ditafsirkan atas sudut pandang lelaki, jadinya kehidupan perempuan dari dulu sampai sekarang nyaris selalu ada dibawah lelaki. Aku merasakan ketimpangan itu sejak kecil. Padahal, Firman Tuhan yang kuyakini yaitu Al-Quran menyebutkan bahwa perempuan dan lelaki memiliki tugas, hak dan kewajiban yang sama di mata Tuhan. Yang membedakan, hanya secuil hal. Sisanya sama. 

Cara pandang yang berat sebelah, dan cenderung menjadikan lelaki lebih berkuasa atas perempuan membuat sebagian besar perempuan di dunia tertinggal dalam banyak hal dari lelaki. Budaya yang dibangun atas sudut pandang lelaki telah memenjara perempuan untuk hanya berkutat dalam urusan domestik (rumah) sepanjang hidupnya. Sementara lelaki dengan begitu bangga bekerjasama dengan kaumnya membangun peradaban manusia sesuai kehendak mereka. Kondisi inilah yang menyebabkan perempuan terbelakang dan tertinggal baik di bidang pendidikan, ekonomi, hingga politik. 

Tekanan demi tekanan pada dunia perempuan yang dilakukan oleh kaum lelaki membuat muntab. Perlawanan mulai dilakukan meski tidak mudah. Banyak sekali korbannya. Namun, pengorbanan untuk hal-hal baik tidak pernah sia-sia. Aku yang tumbuh di abad 21 bisa merasakan berbagai manfaat dan kemajuan yang telah diperjuangkan para pejuang perempuan jauh sebelumku. Salah satu perjuangan yang terus dilakukan adalah bagaimana perempuan mampu mandiri dan merdeka finansial melalui jalan kewirausahaan. Dengan latar belakang beragam, kaum perempuan mulai bangga menunjukkan dirinya ketika membangun usaha berbasis keterampilan yang dikuasainya. 

Perjuangan kaum perempuan di seluruh dunia, yang menuntut untuk memiliki kesempatan yang sama dengan lelaki dalam mengembangkan diri dan mendapat pengakuan atas kemampuannya juga berkembang mekar di Indonesia. Banyak program mulai digalakkan untuk membantu kaum perempuan bangkit dan menolong dirinya sendiri dan kaumnya untuk menjalani hidup dengan bangga dan penuh makna. Termasuk banyak sekali program yang dibuat oleh kerjasama antara pemerintah, swasta, hingga NGOs untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya para wirausahawati alias women entrepreneur

Mungkin Pembaca bertanya-tanya: memangnya harus ya perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan lelaki, sebab toh jika telah menikah perempuan akan menjadi tanggungan lelaki hingga akhir hayatnya? Bukankah begitu nyaman sebagai perempuan dalam dunia lelaki? 

Begini: jika pernyataan diatas berlaku bagi seluruh perempuan di dunia, maka kita tidak akan pernah menyaksikan kesengsaraan berlapis-lapis di dunia perempuan. Dari seluruh penjuru mata angin, kita selalu mendapat kabar tentang para perempuan yang tidak diperbolehkan mendapatkan pendidikan; tentang perempuan yang meninggal saat melahirkan karena sulitnya akses pada layanan kesehatan; tentang perempuan dari keluarga miskin yang dijual keluarganya sendiri melalui pernikahan atau industri seks; tentang perempuan yang tidak paham tentang pembatasan kelahiran sehingga memiliki banyak sekali anak padahal kondisi finansial keluarga begitu buruk; tentang perempuan tanpa akses pada informasi yang menjadi korban penularan penyakit menular seksual oleh suami mereka; tentang perempuan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga karena tidak memiliki pekerjaan; tentang perempuan yang terjebak pernikahan abusive tapi tidak mampu keluar karena tidak memiliki sumber penghasilan; tentang perempuan di pengungsian dengan masalahnya sendiri. 

Dunia perempuan begitu kompleks. Terutama ketika memasuki dunia pernikahan dan pernikahan itu abusive, yang tentu saja tidak bahagia, yang memunculkan masalah baru, yang berdampak luas termasuk pada anak-anak yang dilahirkan. Jika perempuan terdidik dan memiliki keterampilan, ia bisa membebaskan dirinya dan kaumnya karena tidak lagi memiliki ketakutan soal finansial. 

Namun, upaya menjadikan perempuan mandiri bahkan merdeka finansial tidaklah mudah. Jika kaum lelaki telah ribuan tahun menjadi penguasa di berbagai sektor, perempuan belumlah dua abad melakukan lompatan-lompatan untuk bisa setara dengan lelaki. Diperlukan upaya keras dan sangat keras untuk bisa maju sebagaimana lelaki maju. Sehingga, berbagai jenis pembelajaran perlu dilakukan guna memberikan stimulus pada perempuan untuk terus berjuang. Dan tentu saja memberikan pemahaman kepada semua pihak bahwa perempuan dan lelaki memiliki hak yang sama untuk maju. 

Karena aku juga sedang belajar menjadi seorang women entrepreneurs, maka pada Maret 2019 aku menghadiri acara yang bertajuk "Scaling up Women Entrepreneurs" yang diselenggarakan atas kerjasama Katadata Forum dan Investing in Women, sebuah inisiatif Pemerintah Australia dalam membantu pada perempuan di kawasan Asia Tenggara untuk maju, terampil, dan berdaya saing dalam kerja serta karya. Termasuk dalam mempromosikan dan meningkatkan perekonomian perempuan. 

KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM EKONOMI
Sebenarnya sudah sejak lama sekali kaum perempuan memiliki kontribusi dalam perekonomian keluarga, komunitas hingga negara. Jika kita perhatikan perempuan dana level komunitas di mana kita tinggal, maka akan kita dapati mereka terlibat dalam berbagai jenis pekerjaan mulai dari petani, nelayan, penjual di pasar, penjaja makanan keliling, tukang kredit, tukang pijak, dukun bayi, bidan, perias pengantin dan sebagainya. Namun sayangnya, peran perempuan dalam kegiatan ekonomi tidak pernah dihitung walaupun bisa jadi pendapatannya lebih besar dari pendapatan suami atau ayah mereka yang disebut-sebut sebagai pencari nafkah keluarga. Disinilah sedihnya, usaha perempuan tidak dihargai.
Kontribusi Perempuan dalam UMKM

Padahal, menurut data yang dihimpun oleh katadata.co.id kontribusi wirausaha perempuan di Indonesia menyumbang hingga 60% produk domestik bruto (PDB). Jumlah perempuan wirausaha di Indonesia mencapai 12,7 juta orang pada 2017 dan naik menjadi 14,3 juta orang pada 2018. Sementara itu jumlah serapan tenaga kerja pada sektor Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) mencapai 116, 73 orang.
Jalan Terjal Perempuan Jadi Pengusaha
  
Dengan kontribusi sedemikian hebatnya bagi perekonomian bangsa, ternyata para wirausaha perempuan masih mengalami kendala untuk scaling up bisnis mereka. Pertama, banyak perempuan masih minim pengetahuan dalam berwirausaha. Kedua, sulitnya mengakses permodalan. Ketiga, masih kurangnya rasa percaya diri perempuan dalam memulai usaha sehingga usaha mereka tidak berkembang. Serta halangan-halangan lain yang begitu kompleks dan kadang tidak masuk akal, seperti tidak didukung keluarga. 

INKUBASI BISNIS BAGI WIRAUSAHA PEREMPUAN
Dalam forum ini, pihak penyelenggara menghadirkan sejumlah pihak baik para wirausaha perempuan yang sukses membangun bisnisnya, pakar keuangan dari start-up bidang fintech, hingga lembaga inkubasi bisnis. Bagi orang sepertiku, adanya lembaga inkubasi bisnis tentulah sangat membantu karena keterbatasanku dalam pengetahuan berbisnis, dan terutama soal percaya diri bahwa produk yang kubuat akan disukai pasar. Yup, aku harus menyelesaikan masalahku dalam bisnis ini. 

Lembaga inkubasi bisnis tersebut adalah Instellar Indonesia. Mbak Dian Wulandari sebagai Co-Founder Instellar menyakinkan bahwa lembaganya bisa membantu para wirausaha perempuan untuk scaling up bisnisnya karena mereka menyediakan kelas-kelas gratis bagi mereka yang mendaftarkan diri untuk mau belajar. Sejak berdiri, lembaga ini telah membantu para pegiat wirausaha untuk scaling up bisnis mereka.
Beberapa usaha yang menjalani inkubasi di Instellar Indonesia. Informasinya dapat diakses di instellar.id 

Hadir juga perwakilan lembaga fintech yang menjelaskan bagaimana para wirausaha perempuan dapat mengakses permodalan untuk scaling up bisnis mereka, yaitu Patamar Capital yang diwakili oleh Dondi Hananto dari kantor wilayah Indonesia. Patamar Capital merupakan social venture yang berbasis di San Francisco, California dengan kantor wilayah di India, Indonesia, dan Vietnam. Target pasarnya sendiri adalah Indonesia, India, Filipina dan Vietnam. Wilayah-wilayah ini menjadi target karena memiliki populasi muda diatas 2 juta jiwa, dengan penetrasi smartphone diatas 50%, dan merupakan wilayah dengan potensi tinggi dalam pengembangan berbagai talenta wirausaha. 
Patamar Capital bisa dipelajari di patamar.com

Lembaga ini memiliki sudut pandang khusus terkait perempuan dan wirausaha perempuan, seperti soal sudut pandang tentang status perempuan dalam masyarakat; produk dan layanan yang menguntungkan perempuan; perempuan pemimpin bisnis dan kesetaraan gender di tempat kerja. Di Indonesia, Patamar Capital telah membantu pendanaan sebuah usaha bernama Big Tree Farms yang berlokasi di Bali. Perusahaan ini bekerjasama dengan 14.000 petani kecil yang mengembangkan berbagai produk organik seperti Coconut Sugars, Coco Aminos dan Coconut Nectar. 
Belajar dan bertemu orang-orang hebat di bidangnya masing-masing
Suasana kegiatan yang menginspirasi

Aku senang sekali mendapatkan kesempatan belajar di kegiatan ini. Aku mengetahui banyak hal baru, bertemu perempuan-perempuan hebat, dan tentu saja kembali memikiran bagaimana mengembangkan usahaku yang masih sangat kecil, dan sejujurnya masih kukerjakan berdasarkan mood. Ya, aku hanya perlu percaya diri bahwa aku bisa dan harus memberi semangat kepada diriku sendiri untuk terus belajar dan berusaha sampai aku bisa membuktikan bahwa kerja kerasku membuahkan hasil. 

Depok, 29 Mei 2019

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram