Menikmati Pangan Bijak Nan Lezat Bersama Chef Ragil Imam Wibowo di Nusa Indonesian Gastronomy

Bersama Chef Ragil Imam Wibowo, pemilik Nusa Indonesian Gastronomy. Foto oleh: Lutfi Retno


"There is no sincere love than the love of food"

-George Bernard Shaw-

Hai Pembaca, sudah mendengar mengenai kampanye "Pangan Bijak Nusantara"? Itu lho, sebuah kampanye yang dilakukan oleh konsorsium Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terdiri dari WWF-Indonesia, Hivos, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK), Non Timber Forest Product-Exchange programme (NTFP-EP) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Kampanye ini resmi diluncurkan pada 22 Mei 2019 yang bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Program ini sendiri didukung oleh skema pendanaan dari Switch Asia, Uni Eropa. 

Kampanye ini sendiri dilakukan melalui sebuah diskusi eksklusif di Nusa Indonesian Gastronomy milik Chef Ragil Imam Wibowo di kawasan Kemang. Tahu dong siapa chef Ragil dengan program "Makan Besar" Trans7 yang terkenal itu? Dalam kampanye "Pangan Bijak Nusantara" ini ada 7 contoh produk pangan khas keanegakaragamn hatai Indonesia yang dipromosikan seperti beras Adan dari Krayan, Kalimantan Utara; garam Krosok asal Rembang, Jawa Tengah; minyak kelapa murni asal Nias, Sumatera Utara; gula semut aren asal Kolaka, Sulawesi Tenggara; madu hutan Danau Sentarum, Kalimantan Barat; kopi Toraja dari Sulawesi Selatan; dan sagu asal Sungai Tohor, Riau.
Produk pangan lokal berbasis keanekaragaman hayati Indonesia
Produk pangan lokal berbasis keanekaragaman hayati Indonesia
Produk pangan lokal berbasis keanekaragaman hayati Indonesia

Di kegiatan ini juga dihadirkan sejumlah bentuk pangan olahan hasil masyarakat dampingan NGO yang tergabung dalam konsorsium tersebut. Ada beras, jewawut, sorgum, VCO, gula semut, ikan kering, mie sagu, kopi, keripik, garam, gula cair, madu dan keripik sagu. Semua terasa begitu kaya, meski kemasan berbagai produk tersebut masih sangat sederhana khas masyarakat di wilayah terpencil. 
Kata Kunci Pangan Bijak Nusantara

Jadi nih, kampanye Pangan Bijak Nusantara ini merupakan bagian dari strategi proyek Local Harvest yang diinisiasi untuk meningkatkan pemahaman dan permintaan konsumen terhadap produk pangan lokal, adil, sehat dan lestari. Keempat kunci ini harus sama-sama mendapat posisi sama penting dalam sistem pangan kita, karena sifatnya yang sehat, berasal dari lokasi sekitar tempat kita tinggal, diproduksi secara adil dan lestari memiliki dampak yang luar biasa pada kesinambungan keanekaragaman hayati di Indonesia. So, buat makan nih kita nggak perlu repot-repot nyari pangan impor. 

SEPIRING PANGAN BIJAK OLAHAN CHEF RAGIL
Well, the best part of this agenda adalah menikmati masakan khas Nusa Indonesian Gastronomy yang diadopsi dari makanan tradisional 9 provinsi di tanah air. Terhidang berbagai macam camilan untuk menu pembuka, mie lethek, hingga menu utama yang sangat memikat. Pertama-tama aku menikmati bubur jewawut. Nah, sebagai orang Indonesia yang sudah lama mengenal jewawut, baru kali ini aku makan makanan dari olahan jewawut. Semangkuk kecil Bubur Jewawut enak, terlebih ada potongan pisang kepok rebus didalamnya dan segumpal es krim. Lezatnya rasa nusantara, alhamdulillah
Ini dia tampilan Jewawut mentah dan semangkuk bubur Jewawut ala Nusa Indonesian Gastronomy

Selanjutnya aku beralih ke menu utama. Karena gusi rahang kanan atas sedang sakit, aku hanya bisa makan sedikit saja dan menghindari makanan dengan tekstur keras. Saat aku sedang memotret menu Kohu-Kohu khas Sulawesi, Pak Azuardi sang Manajer resto menghampiriku. Ia menunjuk menu kedua yang tampak sangat biasa namun istimewa. 

"Ini jamurnya nih yang mahal dan istimewa," ujarnya. 
"Yang bener, Pak?" tanyaku penasaran. Aku mengambil sesendok menu bernama "Udang Kulat Pelawan Bangka" yang memang berisi udang, jamur dan kentang mini. 
"Jamur ini hanya tumbuh di Bangka. Tumbuhnya di pohon Pelawan yang sudah tumbang. Musiman juga. Tumbuh hanya musim hujan yang disertai petir, tapi besoknya harus ada sinar matahari," tambah Pak Azuardi yang membuatku melongo. 
"Special icon Nusa Indonesian Gastronomy ya jamur ini. Kita keringkan dulu," tambahnya.
"Wah, Pak! Omong-omong kalau langka begini harganya berapa per kilogram?" tanyaku. 
"Yah, kalau lagi langka bisa sampai 2-3 juta per kilo. Kemarin aja karena sudah langka langsung diambil aja sama Chef Ragil dari rekanan di Bangka," pungkasnya. 
Menu nan lezat dari jamur langka khas Bangka, Indonesia

Dan yah, aku tuh jadi sedih banget karena gusi lagi bermasalah aku nggak bisa menikmati citarasa masakan dengan baik. Setelah mengisi piringku dengan Tumis Bunga Pepaya, satu tusuk sate dan sesendok sayur daun kelor dari menu bebek, aku menikmati makananku sembari mengobrol dengan Pak Azuardi, yang sabar menjawab pertanyaan-pertanyaanku. 
Aneka menu khas Nusantara yang diracik khas ala Nusa Indonesian Gastronomy

"Kalau bebek ini resep aslinya kan dimasak didalam bambu, trus rempahnya dimasukkan gitu. Kalau di kita ya menyesuaikan saja," jelas Pak Azuardi.
"Hm, trus kenapa sayurnya pakai daun kelor?" tanyaku penasaran sembari mengunyah daging bebek. 
"Kalau itu sih fleksibel aja, karena kan kita tahu daun kelor banyak sekali manfaatnya."

Setelah puas menikmati menu utama dengan citarasa Nusantara yang kembali diracik seara khusus oleh Chef Ragil dan timnya, aku beralih ke menu lainnya. Menu itu bernama "Mie Lethek" khas Bantul, Yogyakarta. Namun kali ini sudah mengalami modifikasi karena menggunakan mie sagu, sebagai salah satu bentuk diversifikasi pangan Nusantara agar kita tidak mengalami ketergantungan pada mie berbahan gandum impor. Untuk proteinnya ada suiran ayam dan ikan cakalang asap, dan aku memilih ikan cakalang asap.  Perpaduan yang tidak biasa memang, tetapi lezat memikat. 
Mie Sagu sebagai kekayaan pangan khas Indonesia
Mie Lethek dengan mie dari pati sagu dan suiran ikan Cakalang asap dari Makassar.

"Ini ikan cakalang asap dari Makassar," terang Pak Azuardi tak bosan-bosannya menjawab pertanyaanku. 
"Apakah mereka mengasapinya dengan kayu khsusus, atau misalnya pakai serabut atau batok kelapa?" tanyaku lagi. Maklum, kadangkala aku tuh orangnya suka penasaran. 
"Ah enggak. Yang penting itu jangan bersentuhan dengan api. Cukup diasapi selama 3 hari," pungkasnya kepadaku dan seorang peserta lain yang penasaran dengan si ikan Cakalang asap. 

Dan di lidahku, menu Mie Lethek sari sagu yang dipadukan dengan daging Cakalang asap ini sungguh memikat. Sederhana tapi lezat memikat sampai ke hati. Aku membayangkan jika mie berbahan sagu kelak merajai pasar mi Indonesia yang selama ini masih berbahan gandum, dan mungkin akan mengalahkan ketenaran dan kelezatan mie dari ubi manis asal Korea Selatan. 
Kohu-Kohu Ikan Asap khas Indonesia Timur
Ngantri sepiring bubur beku

Finally aku mau bilang bahwa ternyata pas banget kampanye Pangan Bijak Nusantara ini diselenggarakan di Nusa Indonesian Gastronomy. Karena Chef Ragil memang dikenal sebagai seorang yang lumayan idealis terkait pangan yang dihadirkan di restorannya ini. 

"Chef ini sering riset ke berbagai wilayah. Selalu ada menu baru yang kami hadirkan setiap kali beliau pulang dari perjalanan riset," terang Pak Azuardi.
"Kalau ke Lampung udah pernah belum, Pak?" tanyaku. 
"Wah Lampung kaya ya kulinernya?"
"Iya, Pak. Kuliner Lampung itu kaya dan khas. Hanya saja kurang populer. Masih kalah sama masakan Padang," kataku bercanda. 
"Wah kalau begitu Mbak bisa ajak Chef Ragil untuk ke Lampung, agar beliau melakukan riset masakan tradisional di Lampung dan membawanya ke Nusa," ungkapnya. 
"Siap, Pak," kataku sembari menghabiskan menu di piringku. 
Diantara undangan yang hadir, ada Chef Juna Rorimpandey lho. Hayo tebak yang mana...

By the way, di acara in ada Chef Juna Rorimpandey lho. Perawakan beliau yang tinggi dan atletis itu makin tampak menawan ketika mengenakan setelah celana bahan dan batik lengan panjang berwarna hijau pupus. Chef yang katanya akan segera menikahi kekasihnya ini nampak lebih ganteng dan berwibawa dibandingkan kalau kita melihatnya melalui layar televisi. 

BONUS: JAMUR KULAT PELAWAN DARI BANGKA
Pembaca penasaran kan bagaimana bentuk jamur Kulat Pelawan yang hanya tumbuh di pohon Pelawan yang hanya ada di Bangka? Setelah berselancar di internet, akhirnya bertemulah aku dengan si jamur berwarna merah dan mungil yang disebut sebagai "Indonesian Truffle" ini. 

BACA JUGA: Beras Sagu dan Mimpi Kedaulatan Pangan

Dalam bahasa Bangka, "Kulat" berarti jamur dan "Pelawan" merupakan pohon Pelawan. Jadi penamaan Kulat Pelawan ini berasal dari jamur yang tumbuh di pohon Pelawan. Pohon Pelawan sendiri hanya tumbuh di Bangka dengan ciri khas tertentu, yaitu kulit pohonnya yang terkelupas memang berwarna merah. Warna kulit pohon Pelawan inilah yang membuatnya mudah diidentifikasi diantara rimbunnya aneka pepohonan di hutan. Katanya nih, pohon Pelawan ini sebagai primadona hutan di Bangka lho.
Kulat Pelawan kering. Sumber: Femina

Masyarakat di pulau Bangka sendiri menggantungkan hidupnya dari hutan, di mana mereka bisa memanen madu hutan dari pohon Pelawan atau memanen Kulat Pelawan. Uniknya, Kulat Pelawan ini hanya tumbuh di 2 waktu saya, yaitu pada akhir bulan Maret dan pertengahan September. Selain itu ada prasyarat khusus untuk mendukung pertumbuhan jamur termahal di Indoensia ini. Yaitu setidaknya harus ada kemarau selama 3 bulan lamanya, kemudian disusul hujan seminggu lamanya yang disertai petir, lalu langit terang dengan sinar matahari yang hangat setelahnya. 
Pohon Pelawan. Sumber: fornews.co

Saat mulai tumbuh hingga dipanen, para perimba hanya menunggu waktu 3-4 hari saja. Mereka juga biasa mengeringkan jamur ini agar awet dan bisa dijual sebagai sumber pendapatan keluarga. Dan karena langka, harga jamur ini sangat tinggi. Oleh karena itu aku sangat bersyukur bisa menikmati menu berbahan jamur ini di Nusa Indonesian Gastronomy. Setelah ini, mungkin aku akan menjadwalkan traveling ke Bangka pada akhir Maret atau pertengahan September saat musim panen si Kulat Pelawan. 

Depok, 23 Mei 2019



2 comments: