Mata dan Rahasia Pulau Gapi

Cover buku yang imut

Oke, ini buku kedua dari trilogi Matara. Petualangan bocah perempuan asal Jakarta yang berusia 12 tahun tersebut berlanjut. Kalau sebelumnya di Tanah Melus di perbatasan Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur ia mengalami sepaket petualangan menakjubkan tentang identitas bangsa-bangsa yang mengasingkan diri dari dunia luar. Kali ini petualangan Matara lebih heboh lagi. Karena melibatkan sejumlah binatang dengan kemampuan aneh dari masa lampau. 


BACA DULU INI: Petualangan Matara di Tanah Melus


Setelah kembali dari liburan yang menegangkan dan pengalaman di Tanah Melus, bocah perempuan ini kembali menjalani kehidupan normal sebagai warga Jakarta. Nah, diceritakan Matara sudah lulus SD dan akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Tentu saja, baik Matara maupun kedua orangtuanya berharap Matara diterima di sekolah favorit. Dengan demikian, Mata akan memperoleh pendidikan dan lingkungan sekolah terbaik demi membangun masa depan cemerlang. Dengan nilai ujian yang memuaskan, maka keluarga Matara yakin bahwa putri semata wayang mereka bakal diterima di SMP No. 1 di Jakarta.  
Dan, Matara yang cerdas itu tidak diterima! 


Ibunya yang perfectionist dan cerewet itu tentu saja sangat kaget mengetahui puterinya yang cerdas tidak diterima di sekolah favorit idaman warga Jakarta itu. Baginya, sangat tidak masuk akal jika Matara tidak lolos, sementara teman-teman sekolahnya yang nilainya dibawah Matra diterima. Hal ini tentu saja membuat Matara merasa malu karena ternyata kecerdasannya selama ini tidak mampu membawanya masuk ke sekolah favorit. Matara mengurung diri karena frustasi. Sementara kedua orangtuanya marah-marah atas kejadian ini, menganggap bahwa hal tersebut sungguh tidak masuk akal. 


Ayah Matara yang menjadi pengangguran setelah perusahaan media tempatnya bekerja selama 20 tahun itu gulung tikar. Tapi, kini ia membawa kabar gembira. Sebuah hotel telah memberinya pekerjaan sebagai Manajer di hotel baru yang akan mereka bangun di sebuah pulau di wilayah timur Indonesia. Di Pulau Gapi lokasinya. Satu dari sejumlah kepulauan di Provinsi Maluku Utara. Nah, Pulau Gapi ini posisinya berhadapan dengan Pulau Maitara dan Pulai Tidore. Pulau Gapi sendiri merupakan salah satu pulau ikonik karena terdapat di uang dengan nominal Rp. 1.000. Matara mulai merasa senang, karena ternyata ia akan tinggal di pulau yang diabadikan dalam selembar uang.

Keluarga kecil yang memulai kehidupan baru di Pulau Gapi

Di Pulau Gapi, keluarga Matara menempati sebuah rumah tua khas Eropa yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Kehidupan baru ini mengubah banyak hal. Sebab, meski ia merasa takjub dengan pemandangan sekitar pulau, ia tak lagi bisa mengabarkannya kepada dunia melalui media sosialnya, karena sejak gagal masuk sekolah favorit ia dihukum tidak boleh memegang HP dan mengakses internet. 


Kehidupan baru dimulai. Sang Ayah mulai bekerja sebagai manajer hotel, sang Ibu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru tunggal bagi Matara. Sementara Matara harus menjalani homeschooling dengan jadwal yang ketat. Rumah menjadi sekolah dan Ibu menjadi satu-satunya guru. Termasuk jadwal mengaji dengan guru panggilan selama 2 jam setiap harinya, bersama Pak Zul. Sang Mama berambisi bahwa Matara akan menjadi anak perempuan yang cerdas dan tidak bisa dibodohi, dan ia menjejali Matara dengan berbagai pelajaran dan kewajiban membaca. Matara tidak punya teman dan tidak bebas bermain di luar rumah. Lama-kelamaan bocah itu stress dengan sistem pendidikan buatan Ibunya sendiri sehingga ia mulai ngambek dan mengurung diri di kamar.

Molu, kucing hitam ajaib

Pada suatu subuh, saat kedua orangtuanya masih terlelep, Matara memutuskan untuk kabur demi bisa berjalan-jalan di luar rumah. Ia hanya ingin keluar rumah dan libur dari sekolah ciptaan ibunya. Ia menuju pelabuhan dan bertemu beberapa orang bocah sebaya dengannya, yang ia kira bisa menjadi temannya bermain. Tapi kedua bocah nampaknya tidak berminat menjadi temannya. Dalam kesedihan itu tanpa diduga, Matara malah mendapat teman baru seekor kucing hitam. Anehnya, kucing itu bisa bicara dalam bahasa manusia sehingga membuat Matara agak sedikit takut. Molu, kucing berbulu hitam dan berparas imut itu memperkenalkan dirinya. Matara yang takut kini menjadi takjub, bahwa dirinya bisa berkomunikasi dengan seekor kucing. 


Molu dengan sukarela menceritakan siapa dirinya di masa lalu, ratusan tahun lalu. (jadi, Molu ini semacam kucing imortal yang telah menjalani kehidupan ratusan tahun, namun tetap imut) Tentang majikannya seorang Portugis hingga Ilmuwan Belanda yang tinggal di rumah yang saat ini ditempati oleh keluarga Matara. Termasuk suka duka kehidupan pulau yang ia saksikan. Ia juga menceritakan Gama, anjing milik Sultan yang sangat setia dan mati dalam perjalanan menjaga pusaka warisan Kesultanan Ternate yang nyaris hancur di tangan penjajah Belanda dan Jepang. Molu sama sekali tidak sadar bahwa anjing Gama tekah bereinkarnasi menjadi seekor laba-laba beracun penjaga benteng, sebagaimana Adao dan Faida yang berubah menjadi sepasang buaya yang menjaga pusaka Sultan di Danau Tolire. 

Ilmuwan culas yang berbuat curang demi ilmu pengetahuan

Matara dan Molu telah tiba di benteng peninggalan Portugis yang sudah porak-poranda dari bentuk aslinya, namun wajib di jaga karena merupakan benda sejarah dan pusaka Kesultanan. Disanalah akhirnya si laba-laba memperkenalkan dirinya kepada Molu dan Matara dengan membuat jaring bertuliskan nama keduanya. Singkat cerita, mereka menjadi tiga sekawan. Matara bahkan biasa merasakan petualangan menakjubkan masuk ke sebuah lubang di mana, pada masa silam, Molu dan Gama bersembunyi dari kejaran perusak benteng. Namun, karena Matara adalah manusia biasa dan seringkali emosional, ia malah menangis ketakutan dan tentu saja kelaparan. Ia ingat kedua orangtuanya yang kemungkinan besar akan mencarinya sembari menangis meraung-raung. 

Ayah Matara diserang si laba-laba beracun

Pada suatu hari, ada sekumpulan orang yang hendak merubuhkan benteng. Ternyata mereka orang hotel. Salah satunya adalah Ayah Matara. Si laba-laba yang terbiasa menyerang musuh-musuhnya dengan racun mematikan, juga menyerang Ayah Matara. Hal tersebut membuat Matara menangis dan takut kehilangan Ayahnya. Namun, kejadian itu justru membuat pihak hotel semakin beringas. Mereka berusaha membasmi serangga apa saja dengan menyemprotkan racun serangga. Bahkan mereka juga membawa polisi untuk mengamankan situasi. Hal ini membuat si laba-laba semakin marah dan menyerang banyak orang sehingga mereka bertumbangan. Matara yang menyaksikan semua itu sangat sedih. 


Manajemen hotel tidak mau mengalah dan meneruskan pekerjaan meski korban terus berjatuhan. Matara, Molu dan Laba-laba harus mencari solusi agar tidak ada korban lagi. Mereka memutuskan untuk menemui Sultan. Karena hanya Sultan yang mampu menghentikan rencana pembangunan hotel di tanah pusaka Kesultanan. Namun, karena istana di jaga ketat, hanya si Laba-laba saja yang bisa memasuki Istana dan menemui Sultan, sementara Matara dan Molu menunggu di luar pagar tembok istana.

Matara dan dua sahabatnya yang ajaib

Nah, pada saat itulah, keluarga Matara menemukan gadis itu dan membawanya pulang. Ibunya bersumpah bahwa makhluk halus telah menculik puterinya dan membuatnya kelimpungan mencarinya. Matara sang kesayangan. Mendapati wajah ibunya bengkak karena menangis sepanjang waktu, Matara hanya diam dan tidak menceritakan pengalamannya bersama dua sahabat barunya yang ajaib. Meski, pada akhirnya Matara memberanikan diri bicara bahwa pekerjaan sang ayah telah merusak rumah si laba-laba sehingga hewan beracun itu marah dan menyerang pada pekerja. 


BACA JUGA: Perempuan Hebat dan Perkasa dari Hutan Hujan Papua


Setelah merajut rumah bertuliskan "BENTENG PUSAKA" untuk menyadarkan sang Sultan, akhirnya pemimpin Kesultanan ini pun sadar bahwa selama ini ia telah lupa diri untuk menjaga pusaka warisan leluhurnya, dan malah memberikan izin kepada pengembang mall dan perhotelan untuk merusak benteng-benteng demi pembangunan yang tidak diperlukan. Karen itu, Sultan mengambil tanggung jawab dengan menghentikan semua izin pembangunan hotel dan mall si seluruh pulau. 


REFLEKSI

Petualangan Matara kali ini pada awalnya cukup membingungkan, dibandingkan buku pertama yang lumayan masuk akal. Karena di buku ini yang menjadi peran sentral dalam cerita sesungguhnya di Kucing Molu. Dan ya, aku juga akan langsung terbirit-birit kalau bertemu dengan kucing imortal dan bisa bicara bahasa manusia. Yah, karena itu sesuatu yang nyaris nggak mungkin kecuali dalam cerita Nabi Sulaiman. 

Namun, ini adalah teknik bercerita. Di mana kepada anak-anak kecil dan remaja, dongeng dan keajaiban sangat dibutuhkan sebagai sarana mempelajari kehidupan. Yang tentu saja berbeda dengan alur pikir orang dewasa. Buku ini sebenarnya hendak menyampaikan pesan tentang kontradiksi antara konsep pembangunan berkelanjutan dan keserakahan pemilik modal dalam melakukan ekspansi bisnis mereka, meski harus merusak benda-benda budaya seperti benteng. 


Oh ya, untuk menghayati cerita dan buku ini, pembaca juga bisa mempelajari lebih lanjut mengenai Kesultanan Ternate atau yang disebut juga Kingdom of Gapi, dengan membuka link berikut ini, yang berisi keterangan tentang Kesultanan Ternate: 


Kingdom of Gapi

Kesultanan Ternate
Kedaton Kesultanan Ternate
Kesultanan Ternate dan Tidore
Sejarah Kesultanan Ternate 

Dengan teknik bercerita ala remaja, dan dongeng tentu saja, tujuan penulisan buku ini dapat dipahami berbagai kalangan. Karena diakui atau tidak, saat ini Indonesia mengalami kerusakan parah soal lingkungan. Banyak pengembang bisnis, seperti hotel dan mall dibangun di lokasi-lokasi budaya sehingga warisan leluhur itu harus dihancurkan demi kehadiran bangunan baru yang tujuan utamanya adalah bisnis. Novel ini adalah kritik halus atas berbagai praktek pembangunan tang tidak ramah lingkungan dan tidak ramah budaya yang selama ini terjadi di Indonesia.


Berikut adalah gambar dari situs-situs yang disebutkan dalam novel ini: 
Danau Tolire. Sumber: pesonatravel
Benteng Tolukko. Apakah ini benteng yang diceritakan dalam buku ini? Sumber: indonesiakaya.com

Bagaimana? Jadi ingin berkunjung ke Ternate kan? 
Jangan lupa ajak aku ya. 

Depok, 8 Mei 2019


No comments:

Post a Comment