Engaging Character for Your Novel: Cerita Ngabuburead di Storial Roadshow 2019 Bersama Storial.co

Foto dulu dong sebelum kegiatan dimulai. Foto oleh: tim storial.co

Hari Sabtu, tanggal 25 Mei kemarin aku menghadiri acara #StorialRoadShow2019 yang diselenggarakan oleh Storial.co yaitu sebuah platform menulis online yang sedang naik daun. Kegiatannya bertempat di Conclave Simatupang, dan agak-agak repot menuju kesana karena jarak dari stasiun kereta api terdekat lumayan jauh, yaitu 3.8 km by GoJek. Bayangkanlah, sudah dandan cantik, wangi dan segar demi tampil fresh di acara yang hanya berlangsung selama 2 jam menjelang buka puasa tersebut, segala wangi, segar dan cantik itu terhapus sudah oleh polusi sepanjang perjalanan.

Well, aku lagi suntuk dan benar-benar stuck dalam soal tulis menulis fiksi. Aku datang karena membutuhkan pencerahan. Dan benar saja, aku datang di kegiatan yang tepat dan bertemu coach yang tepat pula. Sebab, salah satu founder Storial.co yaitu Briliant Yotonenga, yang merupakan satu dari dua penulis buku berjudul "Rahasia Salinem" ini memberikan sebuah kejutan tentang beauty inside setiap penulis yang seringkali nggak penulis sadari atau sengaja nggak penulis kembangkan. 
Nih dia acaranya

Jadi, si Mas Briliant ini seperti sedang menghujam jantungku saja. Sebab, aku merasa sangat tersindir dengan kata-katanya yang kurang lebih mengatakan bahwa sebagian besar penulis potensial itu nggak percaya diri sama karyanya, sehingga nggak juga menghasilkan karya. Hm, mungkin lebih tepatnya mereka yang punya potensi bagus dalam dunia tulis menulis itu takut karyanya nggak sempurna saat diluncurkan ke publik dan bikin sakit hari saat karyanya nggak ada yang baca. Aku banget ini haha. 
Peserta #StorialRoadShow2019 yang kelaparan menjelang buka puasa hehehe

Nah, setelah si Mas Briliant ini menyelesaikan sesinya, masuklah Mbak Windry Ramadhina, seorang arsitek yang juga penulis 11 novel. Dan karena aku bukan pembaca novel dalam negeri kecuali karya beberapa satrawan, aku sama sekali nggak ngeh siapa si mbak Windry ini. But, ketika beliau mulai bercerita tentang bagaimana engaging character for our novel barulah aku ngerti kalau nih orang jam terbangnya udah tinggi. Da aku mah apa tuh. Jadi merasa bersalah sama naskah yang mangkrak di laptop. Puluhan judul, semua tersendat di tengah jalan bagai proyek yang kehabisan dana akibat korupsi. 
Mbak Windry dan ilmu hebatnya dalam menulis. 

Mbak Windry menerangkan secara detail bagaimana kita sebaiknya memulai cerita dalam novel kita. Dan hal paling krusial tentu saja menentukan si tokoh dari A-Z. Tokoh-tokoh dalam sebuah cerita harus dibuat Riwayat Hidupnya, sebelum cerita dimulai dari halaman pertama. Hal ini dilakukan untuk membantu penulis lancar dalam proses menulis, nggak kebingungan jika terjadi perubahan karakter si tokoh dalam cerita karena memang telah memiliki rambu-rambunya. Dan yang paling penting, si tokoh dapat menceritakan dirinya sendiri, sehingga di penulis nggak terbawa alias tenggelam menjadi bagian dari karakter si tokoh yang diceritakan. 

Nah, kalau soal karakter ini sudah selesai, kita juga harus menentukan kerangka cerita sehingga walaupun kita tahu ending ceritanya apa, proses menulis masih bisa dikontrol. Jadinya si penulis nggak akan dipengaruhi oleh moody, karena memang telah ada rambu-rambu yang akan menjaga alur cerita agar tidak menyimpang seperti kisah cintaku dan dia yang bubar dipersimpangan jalan ketika dia menghilang. 

Oke, secara garis besar terdapat 3 hal penting yang harus seorang penulis fiksi miliki terkait tulisannya, jika memang niat jadi penulis dan ingin menghasilkan karya: 

  1. Percaya diri bahwa kita punya potensi luar biasa sebagai penulis. Maka menulislah
  2. Kuasai ilmu menulis paling basic, misal membentuk karakter tokoh hingga membuat plot. 
  3. Menulis, menulis dan teruslah menulis. 

Tiga hal sederhana ini sangat penting untuk dilakukan secara konsisten, disiplin dan sabar bagi setiap penulis, khususnya penulis fiksi. Seorang penulis harus mengenali karakter tokoh-tokoh dalam tulisannya, memahami bagaimana cerita berlangsung dan membiarkan si tokoh bekerja menyelesaikan ceritanya. Tugas menulis bukan untuk menjadi si tokoh, melainkan menuliskan apa yang tokoh inginkan dalam ceritanya. Simpel kan? 
Foto dulu dong bareng founder Storial.co hehe. Lumayan lah walau fotonya buram. Foot oleh: tim Storial.co

Alhamdulillah, akhirnya bisa pulang dengan membawa serta ilmu yang sangat penting. Bahkan setelah sempat mengobrol dengan Mbak Lia, aku jadi semangat untuk membuat rencana perbaikan naskah-naskahku satu persatu. Harus sabar dan dimulai dari satu naskah baru ke naskah lainnya, agar ada karya yang bisa diterbitkan. 

Depok, 27 Mei 2019


0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram

My Books

# # #