BEAUTIFUL WORLD: Drama Hits Tentang Dampak Bullying di Sekolah dan Parenting Style Yang Salah

Beautiful World. Sumber: AsianWiki


"A happy family is but an earlier heaven"

-George Bernard Shaw-

Pada suatu malam ketika terjadi gerhana bulan yang sangat indah, seorang siswa SMP Sea Middle School terjatuh dari atap sekolah. Ia mengalami pendarahan hebat di kepala bagian belakang. Ia pertama kali ditemukan penjaga sekolah. Masa kritisnya telah berlalu. Namun, tim medis yang menanganinya menyatakan remaja itu mengalami mati otak dan dalam keadaan koma. Hanya keajaiban yang membuatnya bisa membuka mata dan kembali menjalani hidup normal. 

Anak yang terjatuh itu bernama Park Seon Ho (Nam Da Reum) siswa kelas 3 sebuah SMP swasta yang lumayan terkenal. Ayahnya Park Moon Jin (Park Hee Soon) merupakan guru sekolah SMA dan Ibunya Kang In Ha (Choo Ja Hyun) merupakan pemilik sebuah toko bakery keluarga. Ia merupakan sulung dari dua bersaudara. Adiknya yang jutek bernama Park Soo Ho (Kim Kwan Hee). Keluarga sederhana ini tinggal di sebuah apartemen di pusat kota Seoul dan menjalani kehidupan yang bahagia. 

Sebagai orangtua dari sebuah keluarga kecil bahagia, In Ha dan Moon Jin jelas kaget bukan kepalang mengetahui putera sulungnya bisa terjatuh dari atap sekolah pada pukul 9 malam. Saat mereka melakukan verifikasi, pihak sekolah menyatakan bahwa hal tersebut merupakan peristiwa bunuh diri. Pihak sekolah meyakinkan orangtua Seon Ho bahwa anak mereka merasa tertekan dengan nilai-nilai sekolahnya. Hal demikian memang lumrah adanya di banyak sekolah di dunia dan menjadi salah satu isu yang sangat krusial di Korea Selatan. 
Dua dari pemeran utama drama "Beautiful World" yang bermain apik. Sumber: kpopmap.com

Namun, sebagai orangtua yang sangat paham anak-anaknya. In Ha dan Moon Jin menolak jika anak mereka melakukan bunuh diri. Mereka memastikan bahwa kehidupan keluarga mereka baik-baik saja dan sama sekali tidak ada hal yang mengindikasikan bahwa anak mereka memiliki masalah serius yang menyebabkannya melakukan bunuh diri. Pihak sekolah memiliki kepentingan untuk menjaga nama baik sekolah dan yayasan, sekaligus meredam protes dari orangtua murid, terlebih publik atas manajemen sekolah yang dianggap tidak becus mengurus murid-murid mereka. 

Keluarga Seon Ho tidak terima dengan perlakuan pihak sekolah sebelum polisi melakukan investigasi dan sekolah melakukan tugasnya untuk membuktikan kebenaran dibalik kejadian tersebut. Selain Seon Ho tidak meninggalkan catatan apapun yang menyatakan ia hendak melakukan bunuh diri, dua barang milik Seon Ho yaitu ponsel dan buku diary milik Seon Ho hilang. Termasuk kejanggalan mengenai rusaknya CCTV di sekolah tersebut pada hari kejadian. Keluarganya meyakini bahwa ada orang lain yang mengetahui peristiwa tersebut dan memilih menyembunyikan fakta yang sebenarnya. 

Drama sebanyak 16 episode ini sangat emosional. Bikin geregetan! Dengan mengunakan alur maju-mundur, sebagai penonton aku dibuat menebak-nebak kejadian sebenarnya. Terutama ketika 4 siswa teman sekelas dan teman sepermainan Seon Ho saling bertemu dan membicarakan video permainan dalam ponsel mereka masing-masing, yang ternyata merupakan rekaman dari bullying yang dialami Seon Ho. Saat seseorang tak dikenal mengirimkan video tersebut pada orangtua Seon Ho, makin stress dong mereka mengetahui bahwa ternyata selama ini anak mereka mengalami bullying. Sayangnya, pihak sekolah kekeuh menyatakan bahwa video yang membuktikan adanya bullying tersebut bukanlah bullying, melainkan sebuah rekaman permainan khas ala anak-anak SMP. 

Dari keempat teman Seon Ho yang terlibat dalam bullying tersebut, terpecah menjadi dua kongsi. Pihak pertama memilih menutupinya dan menyatakan bahwa itu hanya permainan sehingga mereka tak perlu mengaku bahwa mereka melakukan bullying kepada komite sekolah. Sementara anak yang lain merasa bersalah karena permainan yang mereka lakukan sebenarnya merupakan bullying, meski ia tidak tahu apa yang menyebabkan Seon Ho terjatuh dari atap gedung. 
Tokoh Eun Joo dan In Ha, dua orang ibu yang melindungi anaknya dengan cara berbeda. Sumber: hancinema.net

Nah, dalam adegan-adegan flash back muncullah satu scene di mana Seo Eun Joo (Cho Yeo Jeong) sedang menuju sekolah guna mencari anaknya Oh Joon Seok (Seo Dong Hyun) yang belum pulang sekolah padahal haru sudah sangat malam. Saat ia menuju halaman sekolah, ia mendapati sosok Seon Ho yang terkapar penuh darah. Ia lalu menelepon ponsel Joon Seok dan ternyata anaknya ada di atap sekolah. Sebagai ibu, Eun Joo berlari ke atap sekolah dan mendapati puteranya sedang menangis ketakutan. Ia lalu menyuruh Joon Seok menunggunya di mobil, manakala ia membuat keadaan seolah-olah Seon Ho melakukan bunuh diri demi melindungi puteranya sendiri. Saat ia kembali, sang penjaga sekolah memergokinya. Karena ia ingin melindungi anaknya, ia berlutut di kaki sang penjaga sekolah dan membayarnya dengan dengan sebanyak apapun uang yang dia minta agar ia segera memanggil ambulan dan menyatakan kepada polisi bahwa Seon Ho melakukan bunuh diri. 

Sampai disini aku kesel banget dong! Seo Eun Joo yang merupakan istri dari direktur yayasan Oh Jin Pyo (Oh Man Seok) tidak peduli pada nyawa Seon Ho demi melindungi puteranya. Padahal Eun Joo sendiri merupakan teman sekolah In Ha ketika SMA, dan anak mereka merupakan sahabat dekat. Eun Joo yang menjalani pernikahan tidak bahagia semakin stress selama menjaga rahasia ini. Terlebih ia mendapati bahwa suaminya selalu mencekoki Joon Seok bahwa sebagai orang kaya, mereka bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan uang. Jin Pyo juga membuat Joon Seok merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi, sebab sejak muda ia harus berpikir layaknya kalangan atas yang memiliki privilege untuk mengendalikan 90% orang yang hidup atas kehendak kalangan atas. 

Ditengah segala kebingungan, kekacauan dan kebohongan yang berlipat ganda, Joon Seok semakin bingung atas apa yang terjadi. Di satu sisi ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Seon Ho. Sementara di sisi lain ia diharuskan bertindak sebagaimana ayahnya bertindak. Keadaan Joon Seok semakin terpuruk manakala Park Soo Hoo membuat sebuah petisi online tentang kejadian yang dialami Seon Ho dan seorang jurnalis senior membuat geger publik Korea Selatan dengan berita yang dibuatnya tentang kejadian yang menimpa Seon Ho. Hingga pada suatu malam, penjaga sekolah mati karena ditabrak orang suruhan Jin Pyo untuk menghilangkan jejak. 

Sementara orangtua Seon Ho mati-matian melakukan investigasi mandiri untuk mendapatkan berbagai bukti bahwa anak mereka tidak melakukan bunuh diri, melainkan korban bullying di sekolah. Mereka menolak disuap, bahkan harus tabah menghadapi berbagai cacian dan hinaan di media sosial karena dianggap mendramatisasi kasus anak mereka demi mendapatkan sejumlah uang dari yayasan. Bahkan, salah seorang orangtua murid menuduh Seon Ho telah melakukan pelecehan seksual kepada anak mereka Jung Da Hee (Park Ji Hoo) yang merupakan teman sekelas Seon Ho. Wuah, kebayang dong kasusnya makin runyam sementara Seon Ho belum sadar juga dari koma. 

Dan, setelah geregetan dengan segala kerunyaman selama 15 episode yang padat dan bikin deg-degan, ternyata inilah ending drama ini: 

  1. Seon Ho enggak bunuh diri, melainkan terjatuh saat berkelahi dengan Joon Seok
  2. Mereka berkelahi gara-gara Joon Seok mengaku bahwa dialah yang memerkosa Da Hee
  3. Seon Ho suka sama De Haa, tapi De Haa sukanya sama Joon Seok, dan Jook Sook cuma main-main aja sama De Haa dan gara-gara itulah De Haa jadi korban perkosaan
  4. Yang memerkosa De Haa bukan Joon Sook, tapi ayah Joon Seok
  5. Persabahatan antara anak-anak sekolah itu kembali terjalin

Seon Ho kembali ke sekolah. Oh Pil Jyo alias ayah Joon Seok dipenjara dan bercerai dengan Eun Joo. Wakil Kepala Sekolah dipecat. Joon Seok dan Eun Joo pindah ke wilayah pedesaan, agar kehidupan Joon Seok membaik. Keluarga Mon Jin punya keluarga baru yaitu murid di sekolah tempatnya mengajar dan teman sekelas Seon Ho. Hidup mereka kembali berjalan dengan lebih bahagia. Dah, gitu aja akhirnya. 

PEMBELAJARAN BERHARGA
Drama ini memberikan sejumlah pembelajaran berharga untuk kita praktek-kan baik sebagai seorang anak, adik, kakak, teman, siswa, guru, orangtua, atasan, bawahan, polisi, penjaga sekolah, direktur yayasan, kepala sekolah, guru, dokter, perawat, penjual bunga hingga jurnalis.  Hidup ini bukan milik sendiri dan sangat tidak mungkin dijalani sendiri. Kita memerlukan orang lain dan dalam berhubungan dengan orang lain kita harus mengikuti sejumlah etika yang disepakati dalam sebuah kelompok masyarakat. 

1. Memilih Pasangan Hidup
Dalam drama ini dihadirkan profil beberapa keluarga, mulai dari keluarga kaya raya yang tidak bahagia; keluarga sederhana yang sangat bahagia; keluarga sederhana yang kehilangan figur ayah; mereka yang kehilangan keluarga dan sebagainya. Drama ini dengan gamblang memberikan contoh bagaimana sebuah keluarga bahagia dikelola meski mereka dalam keadaan paling sulit sekalipun. 
Tokoh In Ha yang berperan sebagai istri yang baik, Ibu yang penyayang, dan anggota masyarakat yang baik. Sumber: idntimes.com

Memilih pasangan hidup yang tepat mungkin menjadi salah satu nasehat drama ini. Misalnya nih, In Ha dan Moon Jin merupakan pasangan yang saling mendukung satu sama lain, terutama ketika mereka dalam keadaan sangat sulit. Sementara pasangan Jin Pyo dan Eun Joo terlihat sangat tidak bahagia, terutama ketika Jin Pyo menjadikan istrinya sendiri sebagai objek dan ia menggunakan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan istrinya, anaknya, hingga orang-orang yang bekerja padanya. Bahkan, Jin Pyo begitu tega memerkosa rekan sekelas anaknya sendiri. 

2. Menjadi Orangtua
Menjadi orangtua merupakan tugas seumur hidup dan itu tidaklah mudah. Dalam drama ini terlihat jelas bagaimana para orangtua bisa melakukan hal paling nekad demi melindungi anaknya, bahkan melindunginya ketika ia melakukan kejahatan dan mendorong mereka untuk berbohong demi menyelamatkan diri sendiri. Bahkan tak jarang orangtua harus menyuap, membayar penjahat, hingga berlaku tidak adik kepada orang lain hanya demi menyelamatkan anaknya dari hukum meskipun si anak bersalah. Tentu saja ini bukan contoh yang baik dan cenderung membahayakan si anak. 
Tokoh Eun Joo, digambarkan sebagai istri yang sedih, dan Ibu yang mau melakukan apa saja demi melindungi anaknya meski itu merugikan orang lain, termasuk menyuap dan berbohong. Sumber: idntimes.com

Menjadi orangtua juga merupakan momen yang membahagiakan karena sesungguhnya anak merupakan anugerah tak terhingga. Para orangtua akan melakukan apa saja demi menunjukkan cintanya kepada anak-anak mereka, memenuhi kebutuhan makan-minum hingga biaya pendidikan, melindungi mereka dari segala bahaya, hingga memberikan kasih sayang terbaik agar anak-anak merasa bahagia. 

3. Menjadi Pendidik
Nah, menjadi pendidik di sebuah lembaga pendidikan juga nggak mudah. Terlebih jika lembaga pendidikan tersebut merupakan sebuah lembaga swasta yang didirikan semata-mata demi tujuan bisnis. Idealisme tentang dunia pendidikan dan apa gunanya pendidikan kadangkala tidak mendapat tempat semestinya, jika para pengelola lembaga pendidikan tersebut dapat dikalahkan oleh uang dan kekuasaan. Drama ini menunjukan bagaimana sih sebenarnya sifat seorang pendidik yang baik, seorang penjilat dan mereka yang berusaha menjadi mediator diantara orang berwatak baik versus mereka yang berwatak buruk. 

4. Menjadi Pemimpin
Ya, menjadi pemimpin tidaklah mudah. Menjadi pemimpin adalah tentang citra diri dan lembaga yang dipimpin, tentang kebijaksanaan menghadapi dinamika kehidupan lembaga yang dipimpin, tentang bagaimana menghargai orang lain berikut profesinya, dan tentang mengelola kekuasaan dan kekayaan dengan baik. Karena menjadi pemimpin itu tidak mudah, maka seringkali banyak ujian dan rintangan dalam menjalaninya. 

Drama ini menunjukkan bagaimana seorang Direktur yayasan pendidikan tampak begitu angkuh dalam menjalankan jabatannya, terbiasa menyelesaikan berbagai masalah dengan uang, mengancam mereka yang bekerja dengannya, hingga melakukan korupsi. Di sisi lain juga menunjukkan bagaimana mereka yang berusaha menjilat atasan demi mengincar jabatan dan abai terhadap tugas yang diembannya, dan cenderung menyalahkan orang lain atas kejadian buruk yang menimpa institusi tempatnya bekerja. 

5. Menjadi Teman
Remaja cenderung bingung dalam menjalani hidup. Terlalu banyak nilai yang dijejalkan kepada mereka. Seringkali nilai-nilai itu berbenturan satu sama lain. Ya, anak-anak seringkali diajarkan untuk berbuat baik, bersikap jujur, berkata benar, dermawan, berbuat baik kepada siapa saja dan hal-hal baik lainnya. Namun, disaat bersamaan mereka juga dihadapkan pada fakta tentang orangtua yang tidak akur, ayah yang korupsi, ibu yang stress, orangtua pemabuk dan tukang suap, dan sebagainya. 

Anak-anak yang biasanya begitu akur bermain dan belajar, bisa saja menjadi musuh manakala dihadapkan pada kondisi yang belum mampu mereka tanggung pada level usia tertentu. Mereka bisa jadi seorang pembohong, membully teman sendiri, melarikan diri dari tanggung jawab, takut berkata jujur dan asal mengikuti perintah orang dewasa karena mereka sendiri tidak memiliki kekuasaan atas dirinya secara penuh. 

All in all, drama ini sangat keren. Plot ceritanya sangat dalam, tegas, padat, memikat sekaligus bikin geregetan.  Sebagai sebuah drama pendek yang dikemas dengan serius, sangat layak direkomendasikan untuk menjadi tontonan di sekolah-sekolah di Indonesia. Berbagai pembelajaran berharga dalam drama ini mungkin dapat membantu membuka mata orangtua, para pendidik hingga para siswa tentang dampak perundungan alias bullying, hingga parenting style yang keliru. 

Depok, 26 Mei 2019


No comments:

Post a Comment